Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Bag 53 : Apa aku salah?



...Happy Reading💓🔥...


...-...


...Perbandingan itu selalu ada selama masih ada lebihnya :)...


...*****...


Sudah hampir satu jam Arsyila menunggu Aydan di parkiran namun batang hidung Aydan tak terlihat sedikitpun. Rencananya hari ini mereka akan pulang bersama seperti biasa namun karna Aydan ada kelas basket jadi mau tak mau Arsyila harus menunggu Aydan selesai bermain.


"Duh kok Aydan lama banget sih".


Gerutu Arsyila sambil menendang-nendang kecil batu kerikil dibawahanya.


Tak lama kemudian suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah Arsyila hingga membuatnya refleks menoleh.


"Yaaah padahal tadinya mau di kagetin".


Keluh seseorang yang tak lain adalah Aydan yang baru selesai bermain basket.


"Gimana mau kaget, langkah kaki kamu aja gresek-gresek gitu". Cibir Arsyila.


"Hahahaha..Kamu nunggunya lama ya?".


"Hm lumayan kaki aku udah jemuran nih".


Sahut Arsyila seraya bangun dari duduknya.


"Maaf ya, abisnya tadi lawan aku kelas IPA 2 mereka lumayan jago".


"Nggk papa, kamu kenapa gk ganti baju?".


Tanya Arsyila melihat Aydan yang masih mengenakan baju basketnya bahkan sisa keringat di dahinya pun masih menetes.


"Aku tadi cepet-cepet kesini..Takut buat kamu nunggu ntar diculik orang gimana??".


"Hush dasar!..Eh bentar".


Arsyila mengeluarkan handuk kecil dari dalam tas Exsportnya lalu tanpa aba-aba ia mendekatkan handuk kecil itu ke sekitar dahi Aydan yang masih basah.


Aydan yang mendapat perlakuan seperti itu sedikit terkejut, bahkan Aydan bisa melihat wajah cantik Arsyila dari jarak yang sangat dekat. Senang? baper? tentu saja! namun tunguu.. Ada sesuatu yang mengganjal di hati Aydan, semakin ia memperhatikan Arsyila justru semakin lekat wajah orang yang ada di masa lalunya terbayang.


Aydan tak ingin ini berlangsung lama, ia tidak boleh seperti ini menyimpan dua nama dalam satu hati..Aydan jadi merasa bersalah pada Arsyila. Ia lalu menghentikan pergerakan tangan Arsyila, tatapan mereka sempat bertemu namun Aydan hanya memberikan senyum lalu perlahan menurunkan tangan Arsyila.


"Mm maaf aku lancang".


Ucap Arsyila sekedar untuk mengurangi rasa groginya lalu memundurkan tubuhnya agar tak terlalu dekat dengan Aydan yang ada hanya akan membuat jantungnya berpindah alam🙃. Aydan menggeleng.


"Gk kok, aku seneng kamu gituin..Ya udah pulang yuk".


Ajak Aydan lalu membukakan Arsyila pintu mobil.


Kok respon Aydan gk kayak biasanya?


-Batin Arsyila, harusnya yang ia lihat adalah respon Aydan yang heboh jingkrak-jingkrak seperti ekspetasinya namun nyatanya Aydan hanya memberikan senyuman tanpa ada ungkapan yang lain.


"Syil? kok ngelamun". Tanya Aydan melihat Arsyila yang malah diam tak bergeming dari tempat berdirinya.


"Eh..Hehe".


Arsyila terasadar lalu segera masuk ke dalam mobil.


Sudah lima menit di perjalanan namun tak ada satupun dari mereka yang membuka suara membuat suasana di mobil kali ini terasa berbeda. Arsyila yang merasa canggung dan Aydan yang terlihat fokus menyetir namun pikirannya entah kemana.


Drrrt Drttt Drrrt


Deringan ponsel yang tak lain berasal dari ponsel Aydan memecah keheningan diantara mereka.


"Syil angkatin".


Pinta Aydan, Arsyila sudah terbiasa melihat isi ponsel Aydan begitupun sebaliknya Aydan bahkan bertukar ponsel pun mungkin sudah bosan apalagi ini, hanya sekedar mengangkat panggilan. Sudah tidak ada lagi rahasia diantara mereka, mungkin:)


Tertera kontak "Momsky" dikontaknya Aydan, dengan gerak cepat ibu jari Arsyila menggulir tombol hijau itu hingga telponnya tersambung.


"Halo Assalamu'alaikum, Aydan".


Suara Farah dari seberang sana. Arsyila menoleh ke arah Aydan.


"Jawab aja".


Balas Aydan sambil fokus menyetir.


"Wa'alaikumussaalam tante..Ini Arsyila, Aydannya lagi nyetir". Jawab Arsyila jujur.


"Eh calon mantuu..Pas banget tadinya tante juga mau cariin kamu loh makanya telpon Aydan".


Arsyila baper sendiri mendengar panggilan yang diberikan Farah.


"Emang ada apa tan? tumben cariin Arsyila hehe".


"Iya nih..Tante kangen sama kamu, udah lama Syila gk main ke rumah tante tadinya tante mau suruh Aydan bawa Syila kesini. Tante mau buat kue coklat kesukaan kamu loh".


"Wiih pasti enak....Mau tan Syila mauu".


Balas Arsyila antusias.


"Berarti mau ya main kerumah?".


"Mmm insya allah tan..Tapi Syila izin sama bunda dulu ya".


"Okey..Tante tunggu ya"


"Siap tante".


"Ya udah kalo gitu tante tutup telponnya dulu ya, bye calon mantu".


"Bye-bye tante mer..Eh tantee".


Arsyila ikut kegirangan lalu segera mengakhiri panggilannya mendahului Farah karna salting. Aydan yang melihat tingkah Arsyila pun hanya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa gk di lanjutin?". Tanya Aydan yang sejak tadi menyimak obrolan Arsyila dan mamanya.


"Lanjutin apa".


Arsyila pura-pura tak tahu.


"Itu looh...Bilang tante -mertua-".


Aydan menekan kalimat terakhirnya


"Darimana cobak kamu tau aku bakalan ngomong gitu".


"Gk usah ngeles..Kita udah lama deket Syil, ngapain masih malu-malu gitu".


"Ck terserah kamu".


"Hahaha".


"Dan, kata tante aku disuruh main-main ke rumah kamu..Kita langsung aja ke sana yaa".


Ujar Arsyila antusias.


"Ganti baju seragam dulu ya, kan belum izin juga sama bunda".


"Hehe iyaya berarti Kamu tunggu aku dirumah ya abis tu kerumah kamu".


"Iya, sekalian ngizinin kamu sama tante biar kesannya lebih sopan".


"Menantu idaman bunda nih hahaha".


Suasana di mobil kembali hangat tak seperti tadi, berterima kasihlah pada parah👏🏻👀


"Iya dong pastii tapi maksud aku bukan izinin kamu main ke rumah".


"Lah terus??".


"Izinin kamu netep di rumah".


"Ha? maksudnya?".


Arsyila masih ngelag, setelah beberapa detik berfikir ia baru faham lantas melebarkan matanya dan dengan refleks memukul kecil lengan Aydan.


"Ish kamu tu yaaa".


"Ahahaha kamu mukulnya dilengan tapi tembusnya ke atii..Adu duh sakit".


"Dah lah males di gombalin muluk". Arsyila pura-pura merajuk.


"Wkwkwk gk papa yang jarang-jarang loh aku kek gini".


"Jarang-Jarang pala kau!".


"Wkwkkwkwk".


Tawa Aydan mendengar kalimat kesal Arsyila di tambah lagi wajahnya yang dibuat cemberut.


__________


"Assalamu'alaikum".


Ujar Arsyila dan Aydan bersamaan saat sudah tiba di rumah besar milik Herman dan Farah, Aydan gk di ajak😏. Dengan Arsyila yang sudah mengenakan pakaian santai dan Aydan yang masih memakai pakaian basket.


"Syil, kamu susul mama aja ya mungkin mama di dapur. Aku mau mandi dulu, panas". Keluh Aydan.


"Iya, cepet sana..Bauk".


Arsyila menutup hidungnya.


"Nih nih bauk".


Aydan mengangkat kedua ketiaknnya tanpa rasa malu lagipula ketiaknya mulus kok:) aydan kan putih and kinclong 😊


"Iiii Aydan jorok!". Arsyila menjauhkan wajahnya.


"Ada apa ribut-ribut...Ehh menantu mama udah dateng".


Aydan yang mendengar suara Farah langsung menurunkan kedua tangannya lalu berlari menuju kamarnya salah tingkah.


"Hadehh punya anak cowok gk ada waras-waras nya maklumin ya Syil Aydan memang gk tau malu".


Ujar Farah yang sempat melihat aksi putranya sambil berjalan mendekat ke arah Arsyila.


"Hehe iya tan".


Balas Arsyila lalu menyalami tangan Hera.


"Oh Iya, tante udah masukin kuenya ke freezer tunggu dingin dulu ya baru kita makan sama-sama".


"Oh tante udah bikin? kirain mau buat sekarang".


Heran Arsyila Karna biasanya kalau Arsyila bermain ke rumah Aydan, Farah akan mengajak Arsyila membuat kue..Dia sangat suka membuat kue, apalagi mengetahui Arsyila sangat suka yang varian coklat ia jadi berinisiatif membuatkannya secara khusus.


"Gk dong..Tante bikin yang spesial buat kamu".


Gk anak gk emak suka banget bikin orang baper


-Arsyila membatin.


Ditengah asyiknya berbincang tiba-tiba suara anak kecil mengalihkan atensi mereka berdua yang tak lain adalah "Ailin" adik perempuan Aydan yang sudah menginjak kelas 2 SD.


"Eh anak mama, udah pulang ternyata".


Farah memeluk tubuh mungil Ailin yang masih mengenakan seragam sekolah.


Lah Aydan punya adik?


Bingung Arsyila setaunya waktu ia kemari dia tidak pernah melihat Ailin.


"Eh ada kk Araaa..Kak Araaaa".


Antusias Ailin lalu memeluk tubuh Arsyila, Arsyila makin di buat bingung. Ini yang ditakutkan oleh Farah jika Arsyila kesini lalu Ailin akan menganggap Arsyila "Ara" panggilan yang diberikan Ailin pada gadis masa lalu yang pernah bersama kakaknya.


"Ara?". Bingung Arsyila.


Farah diam..Tak tahu harus menjawab apa, apa mungkin Arsyila harus tahu yang sebenarnya siapa "Ara"? namun apakah Arsyila akan tetap mau di samping Aydan?. Farah bingung.


Beruntung, ditengah kebingungan mereka Aydan datang dengan sudah menggunakan baju kaos dan celana selutut. Gerah.


Aydan pun tak kalah terkejut melihat Ailin yang masih memeluk sambil mendongak menatap Arsyila yang menatap bingung Ailin.


Aduhh kok Ailin bisa pulang ke sini dulu siih pasti mama lupa


-Batin Aydan setengah panik.


Farah memberikan kode ke arah Aydan dan untungnya Aydan punya banyak akal.


Aydan lalu mendekati Ailin dan berjongkok menyamakan tingginya dengan Ailin.


"Ailin ke kamar dulu ya ganti baju nanti baru main sama kk Ara nya".


Ailin yang mendengar itu kegirangan lalu segera berlari ke kamarnya untuk ganti baju sesuai perintah Aydan.


"Dan Ara siapa? aku?". Tanya Arsyila ragu-ragu.


"Iya kan Ara nama depan kamu Arsyila, jadi Ar-nya diambil, dia kan masih kecil nggak bisa kalau bilang Ars lidahnya keseleo gitu".


Aydan beralasan membuat Farah bisa bernapas lega.


"Oh gitu kok aku baru tahu kamu punya adik".


"Dia biasanya pulang sekolah ke rumah nenek dulu atau kadang nginep soalnya dia lebih betah di sana dan jarak sekolahnya deket".


Aydan berbohong lagi.


"Ooo tapi kok dia bisa kenal aku?".


"Kan aku sering nyeritain kamu bukan sama mama aja, satu keluarga juga udah tahu siapa kamu".


"Ya udah Arsyila..Bantu tante di dapur yuk buat kue varian yang lain". Farah mengambil alih perhatian Arsyila.


"Yuuk". Arsyila kegirangan.


"Kue rasa taro ya ma". Pinta Aydan.


Arsyila dan Farah saling pandang.


"Emang ada ya Tan?". Tanya Arsyila menatap Farah.


"Udaah..Jangan di dengerin dia emang suka kambuh".


Ujar Farah menistai putranya sambil merangkul Arsyila untuk mengajaknya ke dapur.


"Tan kita mau buat kue apa?".


Tanya Arsyila saat melihat Farah mengeluarkan bahan-bahan baru untuk membuat kue varian berbeda.


"Sekarang tante ajarin..Eh jangan panggil tante panggil mama aja ya tante lebih suka kalo kamu panggil mama, mama mertua juga boleh".


"hihihi iya tan- eh mm-ma.."


Arsyila terlihat kaku.


"Haha gk papa nanti juga terbiasa. Mama udah anggep kamu sama Aydan anak sendiri". Balas Farah sambil fokus menuangkan tepung ke dalam wadah plastik.


"Loh. Bukannya Aydan emang anak kandung ya?".


"Eh?! haha iyaya mama lupa".


Arsyila yang melihat reaksi Farah hanya bisa geleng-geleng kepala sambil ikut tertawa.


Tak butuh waktu lama sekitaran 30 menitan mereka sudah selesai membuat kue dengan tiga varian berbeda.


"Ma ini kue nya Syila taruh di kulkas ya?".


Arsyila berfikir dulu sebelum mengajukan pertanyaan agar tak salah panggil.


"Iya, kamu taruh aja, mama mau bersihin bekas buat kuenya dulu". Sahut Farah yang sedang mengelap sisa kotoran yang ada di sekitar kompor. Arsyila menurut, ia langsung berjalan menuju kulkas untuk mendinginkan kue buatannya dan juga Farah.


"Udah ma".


"Kamu duluan aja ke ruang tamu, nanti mama nyusul".


"Oh iya ma".


Arsyila pun berjalan menuju ruang tamu, disana sudah ada Devan dan Alzam yang entah kapan datangnya sedang bermain PS bersama sedangkan Aydan hanya menonton ditemani..


"Kak Syiilaaa".


Sambut Ailin yang sedang duduk di samping Aydan lalu berlari dengan kegirangan ke arah Arsyila yang berwajah bingung.


Lah bukannya Ailin gk bisa nyebut nama aku?


-Batin Arsyila keheranan lalu setelahnya menormalkan raut wajahnya dan menyambut Ailin dengan baik. Arsyila tak ambil pusing, ia malah ikut berjongkok menyamakan tingginya dengan Ailin.


"Hye Ailin". Arsyila membuka pembicaraan.


"Kak Syila kok makin cantik aja".


Arsyila makin dibuat bingung, bukannya ini kali pertama Arsyila bertemu Ailin?.


"Iya dong muka asli sama yang difoto jelas beda dong, kak Syilanya cantik kan".


Aydan datang dari balik punggung Ailin, lalu menggendongnya. Arsyila mengerti, mungkin saja kan yang dimaksud Ailin wajah Arsyila yang lebih cantik di asli? tak menutup kemungkinan Aydan pernah memperlihatkan fotonya pada Ailin jadi saat ini Arsyila hanya bisa berfikir positif.


"Kak Syilaa..Ailin juga mau cantik".


Ujar Ailin dengan wajah yang menggemaskan. Arsyila terkekeh kecil mendengar permintaan polos Ailin.


"Kan Ailin udah cantik".


"Tapi maunya kayak kak Syilaa".


"Hihi sini kak Syila gendong".


"Gk mau, Ailin berat".


Ailin malu-malu.


"Kok bisa si kamu punya adik seimuut ini".


Ujar Arsyila pada Aydan sambil mencubit pelan pipi gembul Ailin.


"Hahaha iya dong kayak kk nya". Aydan membanggakan diri.


"Ish abang mah buluk". Cibir Ailin.


"Eeh adek durhaka kamu yaa". Aydan menggelitik tubuh mungil Ailin yang ada dalam gendongannya.


"Ahahahah abang udaah".


Arsyila yang melihat keseruan itu ikut merasa senang, ia makin yakin kalau Aydan adalah orang yang tepat untuk menjadi pilihannya dilihat dari bagaimana ia memperlakukan Ailin, abang idaman😌.


"Abang turunin Aiiliin geli Ahahha".


"Dan udah..Kasian Ailin ntar batuk".


"Haha iyaya".


Aydan lalu menurunkan Ailin dari gendongnya. Ailin pun langsung bersembunyi di balik tubuh Arsyila dan memeluk kaki Arsyila dari belakang.


"Wlee abang jelek".


"Eh sini kamuu, berani ya sama abang".


Aydan mencoba menjangkau tubuh Ailin namun terhalang oleh Arsyila.


"Asyik ya mainnya".


Farah datang dari arah dapur.


"Mamaa".


Ailin berlari ke arah Farah berpindah tempat untuk bersembunyi. Aydan meletakkan ke dua tangannya di pinggang pura-pura garang.


"Ailin kesenengan ya main sama kak Syila nya".


Ujar Farah lalu meraih tangan Ailin dan mengajaknya duduk di sofa ruang tamu di dekat Devan dan Alzam yang sedang bermain PS di bawah.


"Seneng..Tapi Abang ganggu". Adu Ailin.


"Haha sini, main sama kak Syila lagi".


Ujar Arsyila yang sudah duduk di samping Farah sedangkan Aydan mengambil stik PS untuk ikut bermain bersama kedua sahabatnya.


Ailin yang mendengar ajakan Arsyila pun kegirangan lalu berpindah tempat di pangkuan Arsyila.


"Kak Syila pulangnya nantiian yaa, temenin Ailin main..Abisnya temennya abang cowok semuaa!".


Ailin terlihat kesal. Bagaimana tidak? yang menghuni rumah Aydan hanya Devan dan Alzam kadang pula teman kelasnya yang cowok hanya sekedar numpang bermain PS saja.


"Iyaya dedek bawel".


Arsyila mencubit kecil hidung Ailin, Farah yang melihat kedekatan mereka diam-diam tersenyum.


_________


Tak terasa waktu bermain bersama Ailin di rumah Aydan pun cukup lama hingga Arsyila memutuskan untuk pulang karna waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore dengan membawa kue coklat yang dibuatkan Farah sebagai bekalnya pulang.


"Makasih ya Dan, kamu hati-hati di jalan..Jangan lupa salamin sama Ailin".


Ujar Arsyila saat hendak keluar dari mobil Aydan.


"Iya, Ntar aku salamin..Jangan lupa kabarin kalo udah nyampe kamar".


"Siap komandan!".


Arsyila membentuk tanda hormat dengan tangannya. Aydan tersenyum melihat itu lalu mengelus sebentar kepala Arsyila.


"Ya udah gih sana masuk".


"Assalamu'alaikum".


Arsyila tersenyum lalu keluar dari mobil Aydan.


"Dadah hati-hati di jalan".


Arsyila melambaikan tangannya saat mobil Aydan sudah mulai melaju ke depan. Arsyila pun berbalik dan berjalan masuk ke dalam kawasan pekarangan rumahnya.


Namun sepertinya ada yang berbeda, dari kejauhan Arsyila dapat melihat banyak sandal yang berjajar di depan teras rumah seperti...Ada tamu.


Arsyila memperlambat jalannya, sebenarnya ia tak terlalu suka dengan kedatangan orang lain di rumahnya karna ia terbiasa dengan keheningan. Apalagi harus duduk canggung di samping mereka oh tidak! lebih baik ia tidur di kamar saja.


"Assalamu'alaikum".


Arsyila melangkah masuk dan melihat wajah-wajah tak asing di pandangannya yang tak lain adalah keluarga jauhnya. Ada bibik, bu'de beserta dua anak perempuannya yaitu Rahel yang terlihat tak jauh berbeda dengan umur Arsyila saat ini dan Helen yang seumuran dengan Adhira.


"Eeh Arsyila, udah kemana? haduuh sini-sini lama gk liat kamu".


Sambut bibinya yang bernama "Tina" saat melihat kedatangan Arsyila.


"Makin cantik ya sekarang, tinggi juga dikasih makan apa anaknya Ra". Bu'de Sarah sedikit bergurau.


Makan ****** ya nasilah!


-Batin Arsyila yang tak sekali, dua kali dia mendengar kalimat itu terlontar untuknya dari banyak mulut.


"Sini kak duduk".


Ajak Helen sepupunya yang terkesan ramah dimata keluarganya namun tidak di mata Arsyila, mengapa? kita lihat saja nanti.


"Eh kamu bawa apa tuh Syil?".


Rahel memberi kode.


"Ini kue..Kalian mau?". Sejujurnya Arsyila tak ridha menawarkan namun bagaimana ia bisa menolak? bisa di cap yang tidak-tidak ia nantinya.


"Mau doong". Rahel kegirangan.


"Ish Rahel jaga sikap". Bu'de Sarah menepis tangan Rahel yang hendak menggapai kresek plastik yang dipegang Arsyila.


"Gk papa tan..Bentar ya aku ambil piring".


"Gk usah kk, biar aku aja".


Sahut Adhira yang sejak tadi memperhatikan tingkah kedua sepupunya lalu bangkit dan menuju dapur.


"Adhira ramah ya anaknya". Bik Tina bicara.


"Pinter juga loh Tin, kemarin dia sempet dapet juara Olimpiade, iya kan Ra?". Sambut Bu'de Sarah mungkin saja kan Helen yang memberitahu karna kan dia satu sekolah dengan Adhira.


"Alhamdulillah..Anak-anak saya tidak ada yang mengecewakan".


Balas Hera, ketahuilan tidak ada orang tua yang ingin anaknya di jelek-jelekkan walaupun Arsyila sendiri merasa ia sudah banyak mengecewakan bundanya. Namun di depan orang lain Hera tak pernah menjelekkan Arsyila ataupun menyebut Adhira lebih darinya. Ingat! di hadapan orang lain.


Arsyila hanya diam, tak ingin menanggapi lagipula ia memang tak pantas di banggakan. Bukan begitu?


"Tapi kok muka Aryila sama Adhira gk mirip ya". Biasalah basa-basi tante-tante.


"Iyaya kalo Arsyila lebih mirip ayahnya".


Beruntung, tak lama Adhira sudah datang dengan membawa tiga buah piring kosong.


"Adhira, kamu potong aja ya kuenya kk banyak kerjaan di kamar".


Ujar Arsyila yang tak sanggup melihat aksi mereka selanjutnya, tentu saja dengan membanding-bandingkan Arsyila dan Adhira. Sangat mudah di tebak.


"Syila ke atas dulu ya, Bund..Bu'de, bik".


Lalu Arsyila menatap sekilas kedua sepupunya dan beranjak menaiki tangga menuju kamarnya.


"Bukan begitu sikap yang baik kalo ada tamu". Cibir Bu'de Sarah.


"Iya..Arsyila sama Adhira emang jauh beda".


Rahel ikut-ikutan. Entah apa yang membuat mereka tak menyukai Arsyila namun satu yang Arsyila tau perbandingan itu mesti ada jikalau sudah lebih dari kata "tunggal".


Arsyila sempat mendengar namun ia tak terlalu menghiraukan, sudah biasa baginya dicemo'oh seperti itu hingga saat dirinya sudah tiba di depan pintu kamar, lalu..


Daar


Pintu di tutupnya keras sudah jelas bahwa Arsyila terlanjur emosi.


"Astaghfirullah".


Hera terkejut sambil mengelus pelan dadanya.


"Itu anak harusnya diperingatin Hera, masak iya alumni pondok pesantren gitu". Cibir Bu'de sarah.


"Iya. Helen, Rahel, Adhira saja yang bukan pondok pesantren ahlaknya bagus". Bik Tina ikut-ikutan mengompori. Nyinggung ahlak gk tuh.


Hera yang mendengar keluhan lebih tepatnya hinaan mereka pun hanya bisa menghela nafas, mau membela pun perbuatan Arsyila tadi memang salah.


"Iya, nanti saya peringati dia...Ayok di makan kue nya".


Kue orang pun di makan namun kata-kata menyakitkan masih berbekas dihati sang pemilik kue:) Semoga keselek😏


...******...


BTW Ada yang kangen Razan gk si? Razannya di umpetin dulu yaa byebye😘


See you next Chapter💓🔥