Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Bag 62 : Depression



...Saya tidak menangis karena merasa semuanya tidak layak, saya menangis hanya karena merasa hancur oleh kebenaran siapa diri saya sebenarnya."...


...~Arsyila Audhiva Janea...


...-...


...Happy Reading💓🔥...


...******...


Drrrt Drrrt


Suara deringan ponsel memenuhi ruangan yang sepi itu bertepatan dengan Arsyila yang baru saja menuntaskan kewajibannya yaitu shalat Ashar.


Dengan segera Arsyila meraih ponselnya dan melihat kontak "Nenek💓" memenuhi layar ponselnya.


"Halo Arsyila lagi dimana?".


Sapa neneknya langsung saat panggilan sudah terhubung.


"Di rumah nek..Ada apa??".


Hati Arsyila berdetak tak karuan, ia sangat takut jika mendapat panggilan dari orang yang menjaga Adhira di rumah sakit ..Fikirannya seringkali traveling kemana-mana.


"Ndak..Ini nenek cuma ngabarin kamu kalo Adhira udah siuman tadi jam 3".


Alhamdulillah ya allah...Ku kira..


Arsyila bernafas lega ternyata ia terlalu overthingking padahal ia akan mendapat berita baik.


"Alhamdulillah nek, Arsyila turut seneng dengernya".


"Iya, kamu gk ada niatan liat Adhira? tadi dia nyariin kamu".


Hati Arsyila terenyuk mendengar pengakuan neneknya itu, rasa bersalah pun semakin menjangkiti hati Arsyila.


"Syila tadinya emang mau kesana nek anterin makanan buat ntar malem".


Biasanya Arsyila akan memasak sore-sore karna tidak mungkin ia mengantarkan makanan malam-malam kerumah sakit dengan naik taksi walau seringkali Devan dan alzam menawarkan tumpangan namun Arsyila menolak dengan cara halus karna menurutnya itu hanya memberatkan orang lain so ia memilih naik taksi sendirian kadang pula berjalan kaki itung-itung sekalian joging.


"Oh ya sudah nenek tunggu".


"Mmm tapi nek..."


"Tapi apa?".


"Bu'de sama cicitnya ada di sana gk?".


Terdengar tawa neneknya dari seberang sana. Neneknya tahu betul hubungan Arsyila dengan keluarganya yang lain terlebih kerabat dari pihak Ayahnya kecuali pakde nya yang sedang merantau di kalimantan. Untungnya Hera berbaik hati dan tidak pernah menceritakan pada keluarganya bahwa Arsyila yang mencelakai Adhira karna ia tak ingin orang lain beranggapan yang tidak baik pada putrinya cukup dia sendiri yang tau yaa walaupun itu tidak benar.


"Arsyila..Arsyila mana mungkin nenek minta kamu ke sini kalo ada mereka..Mereka pada pulang, malam ini mereka gk nginep".


"Ooo hehe...Iya nek".


"Ya sudah..Cepetan ke sini, oh ya! jangana lupa bawa air hangat ya soalnya air di termos udah habis".


"Okey nek, siap laksanakan! hehe".


"Hadeh..Ya sudah nenek tutup dulu ya telponnya, belum sholat ashar".


"Baik nek".


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussaalam warohmatulloh".


Tut


Sambungan pun terputus.


"Huh".


Arsyila menghela nafas panjang lalu segera bersiap-siap ke rumah sakit untuk menjumpai Adhira. Mulai sekarang ia berjanji untuk tidak berlaku buruk lagi pada adiknya itu.


________


Keesokan paginya Arsyila kembali sekolah seperti biasa. Saat sedang berjalan melewati koridor ia tak sengaja melihat Aydan yang sedang duduk berbincang bersama siswi dari kelas IPS dilihat dari garis di lengan seragamnya yang berwarna merah sebagai lambang untuk jurusan IPS sedangkan IPA berwarna biru dan Agama berwarna Hijau.


Gk biasanya Aydan mau ngobrol sama cewek


-Batin Arsyila.


Jika di tanya cemburu apa tidak. Ya jelas jawabannya cemburu. Wanita mana yang suka melihat kekasihnya duduk berdua bersama wanita lain?? .


Tapi untuk saat ini Arsyila tak ingin mempermasalahkan itu..Ia juga sadar mungkin kesalahan fahaman kemarin yang membuat Aydan sampai berbuat seperti ini dengan tujuan membalas perlakuan Arsyila. Jadi Arsyila tak terlalu memperdulikannya.


Ia lalu berjalan mendekat ke arah dua orang yang sedang bercanda tawa itu.


"Aydan.."


Panggil Arsyila saat sudah tiba di hadapan mereka hingga keduanya menoleh secara bersamaan.


Gadis yang tak lain bernama Wenda itu nampak terkejut melihat kedatangan Arsyila, berbeda dengan Aydan yang terlihat biasa saja.


"Mmm Dan, gu-gue balik kelas dulu ya".


Ujar Wenda agak gugup. Aydan hanya mengangguk dengan wajah datar.


"Syil".. Wenda menyapa Arsyila sekilas lalu segera pergi dari hadapan Arsyila dan Aydan.


Aydan lalu mengalihkan atensinya pada Arsyila yang tengah diam menatapnya dan ikut berdiri.


"Ngapain lo temuin gue?".


Tanya Aydan judes ditambah wajahnya yang memancarkan aura dingin sangat berbeda dari Aydan yang biasanya.


Arsyila sudah tau jikalau sikap Aydan akan begini, jadi ia sudah menyiapkan mentalnya sebelum bertemu dengan Aydan karna ia sudah bertekad untuk menyelesaikan masalahnya dengan Aydan secepatnya walaupun ia harus di hadapi dengan sisi toxic Aydan ini.


"Dan..A-Aku.."


"Jangan di sini".


Ucap Aydan datar lalu mengajak Arsyila ke tempat yang agak sepi karna sejak Arsyila ke lorong IPA tadi, banyak para murid yang langsung berkumpul untuk menonton drama mereka, kebanyakan mereka mengira Arsyila akan mengamuk dan memarahi Aydan karna kepergok berduaan dengan Wenda namun justru sebaliknya. Arsyila hanya diam membuat para netizen yang disana kecewa.


Kini mereka berdua sudah berada di taman belakang yang agak sepi karna kebanyakan siswa/i menghabiskan waktu bermain mereka di sekitar kelas sambil menunggu bel masuk yang akan berbunyi.


"Mau ngomong apa lo tadi?".


Tanya Aydan lalu mengeluarkan Vape rasa anggur dari dalam saku celananya. Arsyila sedikit terkejut, setaunya Aydan tidak pernah mau berteman dengan asap. Tidak tau saja Arsyila jika Aydan perokok high class.


"A-Aydan kamu...Ngerokok?".


"Kenapa? gk suka?".


Tanya Aydan ketus lalu menyandarkan sebelah kakinya ke belakang kursi panjang taman sambil menghisap Vape yang dipegangnya dan meniup asapnya ke wajah Arsyila seolah Arsyila wanita yang tak patut dihargai.


"Ukhuk"


Arsyila terbatuk lalu mengipasi dempulan asap tersebut agar menjauh dari wajahnya. Walau aroma anggur itu harum namun bagi Arsyila apapun yang berbau asap ia tetap anti.


"Aydan!".


Arsyila sudah tidak tahan lagi lalu merebut Vape itu dari tangan Aydan dan melemparnya kasar ke atas rerumputan taman.


Aydan terkekeh sinis.


"Bukannya ini yang mau lo liat dari gue?? gue yang brengsek..Hm".


Aydan hendak mencolek dagu Arsyila namun Arsyila segera menepisnya. Ini bukanlah Aydan yang ia kenal, orang yang saat ini ada dihadapannya sangat menakutkan bahkan terlihat seperti orang yang sedang berada di bawah pengaruh alkohol.


"Kamu kenapa si Dann??? ha?! sikap kamu beda!".


"LO YANG KENAPAA!! DAN YA! LO YANG BUAT GUE KEK GINI!!".


Emosi Aydan meluap begitu saja membuat Arsyila terkejut dengan bentakannya itu.


"Aydan..Apa yang kamu liat kemarin cuman salah faham".


Arsyila mencoba menjelaskan.


"Salah Faham???? jelas-jelas gue liat pake mata kepala gue sendiri kalo lo meluk Razan. Dan itu lo anggep salah faham?? ha?!".


"Aydan..Itu gk seburuk yang ada di pikiran kamu.. Aku-


"Ooo okey! fine.. Gue kasih kesempatan buat lo jelasin biar pikiran buruk gue ini gk over! ayook jelasin". Aydan memotong ucapan Arsyila.


Arsyila diam, ia bingung harus menjelaskan apa..Dia sendiri tidak tahu mengapa tiba-tiba ia bisa memeluk Razan. Mungkin karna terlanjur emosi dan haru membuatnya tak bisa berfikir jernih hingga tidak sadar dengan apa yang ia lakukan.


"Diem kan lo??". Aydan terkekeh sinis.


"Lo gk tau kan mau nyari alasan apa? haha".."Awalnya gue mikir kalo lo itu satu-satunya cewek paling alim di sekolah ini. Tapi ternyata..Gue salah. Lo gk ada bedanya sama cewek di luar sana. MU-RA-HAN".


Ujar Aydan lalu pergi meninggalkan Arsyila sendirian di taman itu.


Hati Arsyila bagai terasa di tusuk sembilu mendengar satu kata yang lolos begitu saja dari mulut Aydan. Ia memandang kepergian Aydan dengan perasaan yang entah..Sangat sulit ia artikan. Ia merasa menjadi wanita yang paling hina saat itu juga.


Sebutan buruk apalagi yang tak pernah ia dengar?? bukan hanya dari keluarga namun saat ini Aydan..Orang yang sangat ia cintai pun mengatakan hal yang membuat mentalnya semakin rusak.


Tanpa terasa air mata sudah mengalir deras dari pelupuk mata Arsyila, air mata yang entah sudah kesekian kalinya. Dan saat ini alasannya keluar karna Aydan, ini bahkan lebih menyakitkan daripada menangis karna masalah yang ia biasa hadapi sebelumnya.


Arsyila mengusap kasar air matanya sambil mendudukkan dirinya di kursi panjang taman menumpahkan tangis yang tak kunjung reda.


Jika tidak ingat mati itu dosa, mungkin Arsyila sudah menyerah dengan hidupnya saat ini.


"Kenapa hidup gue selalu gagal dalam segala hal!!!! kenapaa?!! ya allah".


Arsyila mengerang frustasi.


Bukan hanya keluarga, prestasi, bahkan percintaan pun ia selalu gagal dan merasa tidak beruntung..Diantara banyaknya manusia kenapa harus dia???


Pandangan Arsyila tak sengaja jatuh pada sebuah batu dengan bentuk lancip pada bagian ujungnya. Tanpa pikir panjang Arsyila mengambil batu tersebut.


Sepertinya akal Arsyila sudah benar-benar tidak berfungsi untuk saat ini hingga batu lancip itu terlihat seperti obat di matanya.


"Arsyilaaa!!!".


Teriak Devan saat melihat Arsyila yang hendak menusuk kulit tangannya menggunakan ujung batu tersebut lalu berlari ke arah Arsyila diikuti Alzam yang juga ikut berlari dibelakangnya.


"Lo gilaaa Syil!".


Devan tak sengaja membentak. Ia sangat syok dengan tindakan Arsyila tadi.


"Kenapa kamu marahin aku Vann...Hiks".


Arsyila kembali menangis membuatnya terlihat seperti pasien RSJ.


"Ma-Maaf Syil..Gue gk sengaja, maafin gue".


Devan merasa bersalah, ia lupa kalau Arsyila tak bisa dikasari apalagi dibentak.


"Kalian semua jahaaat.."


Arsyila menangis tersedu-sedu sambil mengelap-elap air matanya dengan lengannya yang terbalut seragam persis seperti bocil yang lagi mewek.


"Syil..Sorry tadi Devan kelepasan, dia syok liat lo yang hampir nyelakain diri sendiri".


Kini Alzam yang mencoba menjelaskan.


"Arrrghh!!!".


Arsyila mengerang. Kepalanya tiba-tiba berdenyut, jantungnya pun berdetak tak seirama.


"Lo kenapa Syill???".


Devan mulai panik begitupun dengan Alzam.


"Van!! gimana ni! panggil PMR cepet!".


"Lo aja! panggil Chika!!".


"Arrgh...Ss-Sakit".


Arsyila menekan dadanya yang terasa sangat nyeri.


"Tunggu Syil, lo tahan sebentar"..


Panik Alzam lalu berlari ke dalam gedung sekolah untuk memanggil anggota PMR.


"Syil lo kenapa?? jangan buat gue panik". Devan sudah keringat dingin.


"Vannn..."


Bruk


Arsyila jatuh pingsan.


"ARSYILAA".


Teriak Devan lalu menepuk-nepuk pipi Arsyila bertepatan dengan itu Alzam datang bersama Chika dan Devan serta Razan dan Aldo pun ikut. Kebetulan tadi Alzam bertemu mereka ber-4 sedang ngerumpi di koridor dan hendak keruangan OSIS yang dekat dengan kawasan taman.


"Arsyila kenapa Vannn".


Razan terlihat panik.


"Udah bang! jangan banyak tanya Dulu, kita bawa dia ke rumah sakit".


Ujar Devan lalu diangguki Razan.


Tanpa aba-aba Razan membopong tubuh Arsyila.


"Gue aja biar cepet". Ujar Razan lalu membawa Arsyila pergi.


"Ayok Zam!". Devan menarik Alzam dan mengikuti Razan yang setengah berlari dari belakang begitupun dengan Aldo, Chika dan Deva.


Semua mata memandang ke arah Razan yang membopong Arsyila dengan tergipuh-gipuh di koridor. Tak jauh berbeda dengan Alzam, Devan, Chika dkk yang menguasai jalan di belakang Razan dengan wajah panik.


Lah itu Arsyila kenapaa???


Heboh para siswa/i yang melihat itu.


Bukannya tadi Arsyila pergi sama Aydan ya kok ???


Mereka saling bertanya-tanya.


Tak lama Razan dkk sudah tiba di rumah sakit besar dengan nama RS. ARVAQIE rumah sakit paling mahal dengan fasilitas terlengkap di Jakarta.


"SUSTEEERR!!!".


Teriak Razan memenuhi koridor yang sepi itu hingga para perawat yang ada di sana panik dan segera membawa brangkar dorong mendekat ke arah mereka. Razan pun segera memindahkan Arsyila ke atas brangkar tersebut.


Razan mengikuti perputaran roda brangkar tersebut dengan perasaan takut dan khawatir yang bercampur menjadi satu.


"Mohon tunggu di luar, kami akan segera memeriksa pasien".


Ujar Dokter dengan nametage Andika Saputra lalu masuk dan menutup pintu.


"Chik.. Kok Dokternya ganteng siih". Bisik Dheva memuji Dokter tampan yang baru berumur sekitar 25 tahun itu.


Pletak


Chika menjitak dahi mulus Dheva.


"Orang lagi panik sempet-sempetnya lo ya".


Sindir Chika.


"Hehe". Dheva balas cengiran.


Berbeda dengan Razan yang kini sedang mondar mandir di depan pintu ruangan tersebut sambil menggigit ujung kukunya, ia nampak khawatir.


"Van! kok bisa Arsyila kayak gini??".


Tanya Razan meminta penjelasan.


"Gue juga gk tau bang, tadi gue sempet liat Arsyila sama Aydan di depan pintu pas gue lagi ngerjain PR".


"Terus??". Razan menghentikan aksi mondar mandirnya.


"Pas gue nengok lagi mereka berdua udah gk ada, ya gue ngajak Alzam buat samperin mereka. Gk tau juga firasat gue dari tadi udah gk enak karna Aydan masih marahan sama Arsyila, kalian tau sendiri Aydan kalo cemburu gimana sedangkan Arsyila hatinya sensitif.


"Cemburu?? lo tau kejadian di rumah Arsyila waktu itu?". Tanya Razan keheranan, dia juga sudah menebak kalau hal ini akan terjadi.


Devan mengangguk.


"Tapi gue gk yakin kalo Arsyila kayak gitu. Lo bisa jelasin gk bang?. Alzam ikut nimbrung.


"Kejadian apa?? kalian ngomongin apa si?". Bingung Aldo.


"Huh". Razan menghela nafas panjang lalu mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya dari awal secara detail. Cerita Devan pun digantikan dengan cerita singkat dari Razan.


^..............^


"Terus bang??? kok lo bisa..."


"Pelukan?". Razan menebak kata yang sungkan diucapkan Alzam.


Dheva, Chika dan Aldo terkejut mendengar itu.


"Pelukan?!". Beo mereka bertiga.


"Ck. Dengerin dulu biar gk salah faham.."


"Waktu itu Arsyila pergi ke dapur buat ambil escream tapi baliknya lama banget, perasaan gue udah mulai gk enak sampai akhirnya ya gue inisiatif buat samperin dan ternyata kalian tau apa yang hampir dilakuin Arsyila??".


Mereka berlima menggeleng.


"Apa bang??". Tanya Alzam penasaran.


"Dia hampir nyiram ibuk-ibuk itu pakek air panas".


Mereka yang mendengar itu terkejut begitupun dengan Chika yang spontan menutup mulutnya.


"Gue juga gk tau permasalahan sebelumnya apa, tapi yang gue liat mukanya Arsyila udah merah banget kayak ada amarah yang dia tahan".


Razan diam sejenak untuk mengambil nafas panjang mengingat kejadian itu membuat hatinya ikut sakit.


"Untung gw sampe tepat waktu, kalian bayangin aja seandainya gue gk ada disana".


"Terus Zan??...Seru njir kek cerita novel".


Aldo sempat-sempatnya bercanda.


Plak


Dheva menggeplak lengan kanan Aldo.


"Sssut! orang lagi serius". Bisik Dheva. Memang dasar geng gesrek😒


"Hm terus gue langsung buang tuh cerek ke lantai dan itu dijadiin kesempatan buat tuh ibuk-ibuk lari keluar..Nah disana! Arsyila tiba-tiba nangis, gue yang liatnya jadi gk tega tapi gue juga bingung harus ngapain. Tiba-tiba aja Arsyila yang duluan meluk gue. Gue yakin waktu itu Arsyila terlalu emosi sampe gk sadar kalo dia kelepasan kayak gitu...Untung aja bukan pisau yang dia ambil jadi pelampiasan".


Razan menjelaskan panjang lebar.


Devan mengangguk mengerti. Sekarang ia faham satu hal.


"Pantes tadi Arsyila hampir nyelakain diri sendiri".


Razan yang mendengar itu sedikit Syok begitupun dengan Aldo dkk.


"Maksud lo??". Tanya Razan.


"Iya, tadi waktu kita masih nyari mereka, kita nemuin Arsyila di taman lagi megang batu dan hampir mau nusuk tangannya pake batu lancip itu".


"Zan..Kok gue takut ya Arsyila kenapa-napa, lo gk lupa kan kalo dia juga punya trauma?". Bisik Chika saat mendekat ke arah Razan.


Razan teringat lalu menghembuskan nafasnya kasar.


"Gue gk bakal maafin diri gue sendiri kalo Arsyila sampai kenapa-napa".


Ujar Razan dengan wajah khawatir.


...*****...


Hallo bestoot dan para pacar Virtualnya Author tetap semangat yah bacanya.. BTW dapet salam dari Aydan..Mau jadi masa lalunya gk?😁😂