Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Bag 18 : KONFLIK



"Kak Razan aku boleh nebeng gk pleaseeee".


Mohon Arsyila sampai menyipitkan matanya.


Razan mengangguk mengerti melihat Aydan yang hanya diam menatap Arsyila dengan wajah yang sulit diartikan.


"Ya udah masuk".


Suruh Razan pada Arsyila walaupun dirinya sudah seperti tempat pelarian. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Aydan.


Arsyila yang mendapat izin langsung masuk ke dalam mobil Razan di jok belakang yang tak terkunci.


"Lah ngapa jadi tatap-tatapan?".


Heran Arsyila ketika melihat arah luar.


Arsyila memokuskan pandangannya pada Aydan yang memancarkan aura permusuhan pada Razan. Namun ada kilatan kecewa dalam tatapannya yang mungkin ditujukan untuk Arsyila.


Maaf dan..Sebenarnya gue gk tega ninggalin lo kayak gini..Apalagi lo udah rela nungguin gw gue juga gk tau kenapa gue sakit hati denger omongan lo tadii" Ujar Arsyila membatin.


Razan memutuskan kontak matanya lalu menyusul Arsyila masuk kedalam meninggalkan Aydan sendiri diluar.


"Kenapa dibelakang?".


Tanya Razan pada Arsyila yang masih menatap Aydan sampai dia menaiki motornya.


"Arsyil-


Razan menengok kebelakang.


Pantes aja -batin Razann kemudian kembali menghadap depan.


TIN TIN


Razan membunyikan klaksonnya karna kesal, Arsyila melonjak kaget dibuatnya.


"Orangnya udah pergi Syil..Mau liatin bayangannya ampe ketelep tanah?" Sinis Razan.


"Apa sih Kaaak?!?? ya tinggal jalan aja apa susahnya cobaaaak" Arsyila ikut kesal.


"Emang lo pikir gue sopir lo apa?! sini di depan". pinta Razan.


"Sini aja..Lebih nyaman".


Sahut Arsyila sambil bersidekap dada.


"Bener-benerr lo yaa".


Razan menatap kesal Arsyila dari kaca atas mobilnya yang sedang duduk santai seperti seorang penumpang.


"Apa liat-liat??! suka baru tau rasa!".


Sindir Arsyila ke-Pedean ikut melirik kaca spion yang berhadapan lurus dengannya tersebut.


"Bodo amat!" Ketus Razan.


"Gue bingung deh kenapa tiap ketemu lo itu selalu berantem??".


"Gue juga lebih bigung kenapa tiap ketemu kk Razaan bawaaanya pengen ngegaaaas terus".


Sahut Arsyila mengikuti gaya Razan.


"Dah ah males debat" Razan akhirnya mengalah.


"Lah si-


"Lo maju atau kita gk jalan!" Potong Razan finish.


"Ishhh gk! tinggal jalan aja susah".


"Maju atau gue nih yang majuin".


Razan lalu menoleh kebelakang menatap Arsyila dengan tatapan mengancam..


"Ih ya udah iyaaa".


Arsyila kemudian maju kedepan disamping Razan.


"Dari tadi kek".


Ujar Razan lalu menyalakan mobilnya


sedangkan Arsyila hanya menghela nafas lelah tidak ingin berdebat lagi.


Sudah hampir setengah perjalanan mereka berada didalam mobil namun suasananya cukup hening sepanjang perjalanan..Tidak ada yang membuka suara.


"Syill lo gk bosen diem trus?".


Tanya Razan tiba-tiba membelah kesunyian.


"Ngantuk kak".


Sahut Arsyila pura-pura memejamkan mata dengan suara yang dibuat lemas seperti orang mengantuk.


"Ngomong kek! sepi nih".


"Mau berantem lagi?".


"Terserah deh..Atau lo nyanyi aja kan suara lo bagus". Untuk pertama kalinya Razan memuji Arsyila.


"Kak Razan tau dari mana?".


Arsyila membuka matanya malas menolehkan kepalanya menghadap Razan.


"Kan lo udah ikut lomba Tilawah..Ya pasti surara lo bagus atau jangan-jangaaan....Lo lipsing yaa?" Tuduh Razan.


"Ngacok!.


"Kak Razan kalo ngomong pedes banget yak? kalah-kalah Boncabey".


"Level berapa?"


"Seratooos!"


Sahut Arsyila ngejoss.


"HAHAHAHAHA"


Razan tertawa lepas melihat wajah kesal Arsyila.


ya ampunn gusti nih muka pengen gue taboook untung aja anak pemilik sekolah kalo gk udah gue ajak nabrak Trotoar dari tadi -


Arsyila membatin melihat wajah Razan yang asyik menertawakannya.


Tuh kan baru saja mulai bicara sudah mulai bertengkar lagi ya ampuuuuunšŸ¤¦šŸ»


"Mau bunuh diri sama-sama nih?" Goda Razan.


"Haaa?" Arsyila menganga.


"Kak Razan cenayang yaaa?" Tebak Arsyila.


"Iyaa makanya hati-hati kalo deket gw".


Sombong Razan.


"Astaghfirullah serem banget iiih merinding".


Arsyila memperagakan gaya kedinginan dengan mengusap-usap kedua lengannya.


"Nyenyenye".


"Perasaan itu gaya cewek deh". Sahut Arsyila.


"Emang didunia ini cuma cewek yang bebas berbahasaa??".


"Aissshhh" Arsyila menatap malas Razan.


"Eh eh kk Razan rumah aku kelewatan!".


Ujar Arsyila ketika melihat jalan yang dilewati Razan melewati jalan menuju rumahnya yang harusnya masuk gang.


"Lah kenapa gk ngomong dari tadiiii astaga".


"Kak Razan siiih".


"Lah kok gw???".


"Terserah pokoknya puter balik! masuk gank dikit disana ada rumah tingkat 2 Itu rumah aku". Jelas Arsyila.


"Nggih mbak".


Sahut Razan rada-rada sopan bak sopir dan memutar balik stir mobilnya.


Tak lama mereka pun sampai didepan gerbang rumah Arsyila.


"Thanks kk Razan".


Arsyila mengembangkan senyum sok manis.


"Iya well'come". Jawab Razan ikut menyipitkan matanya mengikuti drama Arsyila.


"Gk mampir?".


"Gk. Besok aja pas udah siap ngelamar" Sahut Razan random.


"Iuw PD banget..Nggk bakal aku bukain pintu wlee".


Arsyila mengejek Razan kemudian segera keluar dari mobil sport warna merah tersebut.


Berbeda lagi kalau yang mengatakan hal itu adalah Aydan pasti pipinya sudah semerah tomat.


"Ya ampuun gemes bangeet".


Ujara Razan tanpa sadar sambil melihat Arsyila yang berlari masuk ke dalam rumahnya tanpa menoleh kembali ke arahnya.


*******


Di sisi lain...


Prang Praaangg


Begitulah sekiranya bunyi benda-benda yang terlempar hingga jatuh berserakan dilantai.


"Aydan!" Teriak mama farah menghampiri Aydan yang terlihat kacau dikamarnya.


"Kamu kenapa ha?".


Farah memeluk tubuh tegap Aydan yang sudah bergetar menahan tangis dan amarah yang bercampur menjadi satu.


"Arsyila ma hiks".


Akhirnya Aydan mengeluarkan tangisnya yang sudah ia pendam sejak tadi. Begitulah jika bersama Farah, Aydan akan cepat melunak layaknya bayi.


"Arsyila kenapa?".


Tanya Farah sambil mengelus lembut punggung lebar Aydan.


"Dia lebih milih Razan depen aku aaa ma". Aydan merengek.


"Razan siapa?".


"Anak kepala sekolah".


"Emang Kamu udah apain dia trus sampe milih Razan?".


"Aku cuma ngajak Arsyila jalanin hubungan tanpa status dulu..Apa aku salah ngomong gitu?".


Tanya Aydan dalam dekapan Farah dengan tangisnya yang sudah mereda.


"Ya ampun sayaang..Pantes aja Arsyila gitu, cewek itu butuh kepastian bukan cuma asupan gombal tiap hari! hadeeeh".


Farah juga perempuan jadi dia juga pasti tau apa yang dirasakan Arsyila dekat tanpa adanya pengakuan.


"Aydan gk yakin maa Arsyila terima".


"Emang Arsyila minta kamu buat jadi pacar? kan tinggal akuin aja biar plong! jadinya ntar Arsyila bakal ngerti kalau kamu cemburu.. Kalau kayak gini kan ngambang".


Jelas Farah yang merupakan mantan suhu dibidang percintaan.


"Yaa kan Aydan gk tauu ma".


"Emang sama Ti-


"Jangan sebut ma..Aydan masih berusaha lupain dia".


Aydan menatap Farah memohon agar tidak menyebut nama mantan terindah nya itu:(


"Lah belum move on ternyata".


"Itu alasan aku belum mau nyatain ini sama Arsyila ma..Aku suka sama Arsyila aku pengen milikin dia tapi aku belum bisa lupain dia".


Jelas Aydan mengutarakan apa yang ia rasa.


memang benar ya laki-laki itu bisa menampung dua orang sekaligus dalam satu hati


-batin Farah mengingat mantannya dulu dan ternyata itu kejadian pada putranya sendiri.


"Kamu harus bisa nentuin pilihan kamu sendiri sayang..Jangan serakah".


Ujar Farah sembari mengelus pelan surai hitam milik Aydan.


"Ya udah mama tinggal dulu..Kamu jangan lupa turun makan".


Pesan Farah kemudian pergi meninggalkan Aydan yang yang terlihat sedang berfikir tak lupa Farah menutup pelan pintu berwarna coklat tersebut.


_________


Keesokan harinya disekolah


Arsyila berjalan santai dilorong sekolahnya tanpa dikawal oleh siapapun disamping nya.


"Pagi Arsyila". Sapa Vino salah satu siswa jurusan IPS.


Arsyila hanya membalasnya dengan senyuman kecil dia sudah tidak sedingin dulu pada orang lain.


"Aw dada gw nyilu".


Lebay Vino ketika Arsyila sudah melewatinya dan mengambil pose pura-pura terjatuh sambil memegang posisi dadanya bak orang tertembak panah.


"Alay lo suw" ledek salah seorang temannya yang bernama Pian.


Sedangkan Arsyila lanjut berjalan ke kelasnya sesekali merespon sapaan murid lain yang menyapanya.


Namun langkahnya terhenti ketika melihat Aydan yang berada didepan kelasnya bersama..


"Tapi Dan"


"Lo kasih aja"


Paksa Aydan pada Nia.


Itu kayak surat -Batin Arsyila melihat Aydan dari kejauhan yang sedang memberikan lipatan kertas pada Nia dengan pita merah berbentuk love sebagai talinya.


"Kenapa Aydan kasih Nia surat?" Gumam Arsyila melanjutkan langkahnya kebetulan sekali aydan menengok ke arahnya dan segera pergi membuat Arsyila semakin curiga.


Arsyila sudah tiba didepan pintu kelasnya dan dengan gerak cepat Nia menyembunyikan surat tersebut.


Tanpa bertanya Arsyila langsung nyelonong masuk ke dalam kelas.


Jika kalian tanya Arsyila cemburu atau tidak ya pasti jawabannya cemburu, semua badannya bahkan terasa gerah padahal yang panas hanya di dalam.


Namun Arsyila sangat pandai menutupinya.


Arsyila kemudian duduk disusul Nia yang mengekorinya tak memperdulikan tatapan segelintir murid yang sudah tiba dikelas itu.


Tanpa rasa bersalah Nia malah membuka surat tersebut depan Arsyila dan merobeknya setelah membaca sendiri.


"Kenapa lo robek?".


Tanya Arsyila sepontan bahkan gaya bahasanya juga ikut berubah.


"Nggak penting". Jawab Nia acuh.


"Ciee dikasih surat".


Ujar Rehan ketika sengaja melewati meja mereka berdua bersama genk luknutnya yang juga sudah tiba disekolah.


"Hahay nikung gk tuh".


Ledek Intan berbeda jalur. Sebenarnya Intan setuju saja dengan Arsyila daripada Nia tapi Intan hanya tidak suka dengan Arsyila yang berbicara dingin dengannya waktu lalu.


"Ya wajar lah mungkin dia capek ngejer jadi pindah hati wkwk" Ledek Rani.


"Cih".


Sania menatap benci pada Nia tapi senang juga melihat Arsyila seperti ini.


"Syiil..Gu-gue bisa jelasin".


Ujar Nia terbata-bata pada Arsyila yang sama sekali tidak menghiraukannya bahkan orang-orang tadi.


Tet tet tet


Bel masuk kelas berbunyi.


Karna hari ini hari senin para murid Cakranegara diwajibkan untuk mengikuti APEL di lapangan.


Arsyila bangkit dari duduknya acuh tanpa merespon penjelasan Nia dan berjalan keluar kelas menuju lapangan.


Tidak seperti biasa Arsyila yang selalu menampakkan senyuman kini kembali dingin tak tersentuh bahkan auranya sangat berbeda.


"Arsyila?".


Sapa Razan yang baru keluar dari ruangan Osis dan tak sengaja bertemu dengannya, Arsyila hanya diam dengan tatapannya yang lurus ke depan.


"Lo kok kayak mayat hidup gini gk mau berantem nih?".


Tanya Razan memancing agar Arsyila berbicara namun Arsyila sama sekali tidak mengeluarkan suara.


Hingga mereka tiba dilapangan dan Razan berhenti di pinggir lapangan untuk mengambil posisi karna ia akan menjadi pemimpin Upacara seperti biasa.


Razan hanya melihat Arsyila sampai dia memasuki barisan ditengah-tengah temannya menjauhi area putra.


"Lo suka dia?".


Tanya Aldo menepuk sebelah pundak Razan yang sejak tadi ikut mengamati arah pandang Razan..BTW Aldo bertugas menjadi pengibar bendera jadi dia mengambil posisi berdiri di dekat Razan sebelum Upacara dimulai.


"Dia itu dekat tapi jauh buat digapai karna ruang yang dia punya sudah ditempati orang lain".


Ujar Razan namun pandangannya masih tertuju pada Arsyila yang hanya menatap kosong ke arah depan.


"Kejar Bro! hatinya masih labil bisa berubah kapan aja, sebelum jalur kuning melengkung lo masih berhak".


Kini Aldo berbicara serius kemudian menepuk pundak Razan dua kali dan kembali ke posisinya karna Upacara akan segera dimulai.


Razan tersenyum kecil mendengar perkataan Aldo, bagaikan mendapat semangat baru untuknya mengejar harapan.


Ia kemudian mulai memimpin Upacara.


_________


"Nah Lo Van!"


Ujar Alzam ketika botol Sprite yang ia putar mengarah mengahadap Devan.


Iya. Sekarang Alzam,Devan dan Aydan sedang bermain Truth Or Dare.


"Truth".


Jawab Devan tanpa ragu.


"Gue gueee biar gue yang nanya".


Antusias Aydan dan diangguki dua sahabatnya.


"Siapa yang lo mimpiin pas mimpi basah!".


Tanya Aydan tanpa ada saring-saringnya.


"Lahh kok jadi private gituuu gk! gue gk mau apa cobak yang lain! yang lain" Protes Devan.


"Lo gk boleh nolak Van harus terima!"


tambah Alzam.


"Ya! kalo gk gue kasih tantangan cium buk Devi mau?!".


Tantang Aydan menyebut salah satu guru Bahasa Inggrisnya yang lumayan Montok.


"Oke-oke".


Ujar Devan mengalah mana sudi dia mempermalukan dirinya didepan semua orang dengan mencium guru favorite Jurusan IPA tersebut.


"Apa cepett!" Desak Alzam.


"Mimpi nunggang kuda itu doang!".


Jawab Devan jujur.


"Whaaat??? cuma nunggang kuda? gk percaya gue" Balas Aydan.


"Eh lu kira mimpi basah tu cuma sama manusia doang haaa? lo aja kali tuh otak mesum!" Sindir Devan.


"Ya udah deh lanjut aja..Gk seru!". Ujar Alzam Finish.


Alzam kemudian memutar botol tersebut dan berhenti tepat di depan Aydan.


"Nah! Matiii loh".


Devan tersenyum smrik.


"Dare!".


Ujar Aydan..Dia sudah menebak akal busuk teman-temannya jika dia menjawab Truth pasti mereka akan bertanya beruntun.


"Okey tantangan lo adalah....."


"Gue yang kasih tantangan Zam! kan lo tadi udah". Protes Devan pada Alzam kemudian membisikkan ide buruknya.


Alzam mengangguk antusias.


"Bisikin apa lo berdua?!" Tanya Aydan.


"Tantangan lo Dan! siap gk?"..


Ujar Devan menarik turunkan alisnya.


"Ayok ah cepet..Lama!"


Devan pun menyebut tantangannya.


"Hah?! gk! gila aja lo" Protes Aydan.


"Tadi gue liat Arsyila sama Razan jalan berdua ke lapangan" Kompor Alzam.


"Nah lo bisa gunain tantangan ini buat buktiin kalo Arsyila suka sama lo apa gk..Gimana?" Tawar Devan.


Aydan menimbang-nimbang sebentar..Ada bagusnya juga ide ini pikirnya.


"Oke!".