Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Bag 61 : Mengungkit masa lalu



...~Tidak perlu berusaha untuk melupakan, kenangan punya cara sendiri untuk menghilang~...


"Aydan.."


Aydan menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang ia lihat barusan lalu berbalik dan beranjak keluar dari rumah Arsyila.


"Aydaaan".


Panggil Arsyila dan hendak mengejar Aydan namun dengan cekatan Razan menarik pergelangan tangan Arsyila membuat Arsyila ingin protes.


"Jangan di kejar..."


"Kenapa? aku takut Aydan salah faham".


"Lo akan semakin sakit hati nanti, gue tau lo gk bisa di bentak dan Aydan sekarang dalam mood yang buruk". Razan mencoba memperingati.


"Tap-".


"Dengerin gw Syil".


Arsyila mengehela nafas panjang lalu mengangguk lesu.


"Ayok ke ruang tamu kita obatin luka lo".


"Hm".


Disisi lain


"Arrghhh!".


Aydan menendang meja kursi yang ada di kelasnya hingga membuat seisi kelas menjadi ricuh.


Aydan kenapa wee??


Tuh anak kayak orang kesurupan


Dan banyak lagi bisik-bisik para murid yang yang ikut menonton aksi dari Aydan.


"Razan bang*at!".


Teriak Aydan sambil memporak porandakan benda di depannya.


"Temen lo kenapa tuh! halangin njir ntar guru BK kesini".


Ujar Geo pada Devan yang sedang asyik membaca buku. Devan lalu menatap Geo dan mengendikkan bahu tak acuh.


Tak jauh berbeda dengan Alzam yang sedang duduk di atas meja ikut menonton aksi Aydan sambil mengemut permen lolipopnya.


Dan benar saja tak berselang lama pak Malik datang ke kelas Aydan bersama segelintir murid yang melapor tadi.


"Aydan hentikan!".


Teriak pak Malik namun Aydan sama sekali tak menggubrisnya. Ia malah mengumpat dengan terus menyebut nama Razan. Meja dan kursi habis dilempar Aydan membuat nyali pak Malik menciut takut-takut jika ia yang malah nanti akan menjadi sasaran Aydan.


Devan yang sudah bosan melihat tingkah Aydan pun berdiri lalu mengajak Alzam untuk menghentikannya.


"Zam".


Devan memberi kode lalu Alzam pun ikut berdiri.


"Semuanya bisa tolong keluar sebentar gk?!".


Pinta Devan dengan berteriak. Murid-Murid yang masih berdiri di depan papan tulis pun keluar dari kelas tersebut termasuk pak Malik.


Alzam lalu menutup pintu kelas itu hingga tak ada satupun siswa yang dapat mendengar perbincangan mereka nantinya walaupun ada sebagian murid yang mengintai dari luar jendela karna ruangan kelas itu kedap suara.


Devan lalu mendekat ke arah Aydan dan melayangkan sebuah bogeman mentah ke pipi tirus milik Aydan dari arah kanan.


"Anj*!".


Emosi Aydan semakin menggebu lalu membalas pukulan Devan. Jadilah mereka saling baku hantam. Mungkin siapapun yang melihat mereka saat ini akan mengira bahwa mereka sedang berkelahi namun sebenarnya ini adalah cara Devan untuk meredakan emosi Aydan agar Aydan bisa menumpahkan segala amarahnya walaupun ia harus mengorbankan tubuhnya dihantam oleh sahabatnya itu.


Alzam yang sejak tadi berdiri seperti seorang juri pun menghentikan aksi mereka dengan menjauhkan Devan saat melihat sudut bibir Devan mengeluarkan darah segar.


Aydan lalu beringsut mundur dan duduk bersandar di tembok belakang dengan nafas terengah-engah.


"Lo gk papa?". Tanya Alzam pada Devan.


Devan menggeleng.


"Gk papa". Ujar Devan lalu menepuk bahu tegap Alzam. Devanpun mendudukkan dirinya di kursi lalu mengalihkan pandangannya pada Aydan yang sedang mengacak rambutnya frustasi.


"Lo kenapa? Arsyila?". Tanya Devan menebak.


"Jangan diem aja lo kek batu, masalah gk bakal selesai kalo lo pendem sendiri". Alzam ikut nimbrung.


"Arsyila pelukan sama Razan".


Jawab Aydan lemas. Devan dan Alzam yang mendengar itu sedikit terkejut.


"Pelukan?". Beo Devan. Tentu ia tak percaya semudah itu sekalipun sahabatnya sendiri yang mengatakan itu.


"Iya. Tadi gue ke rumah Arsyila, dan pas gue masuk gue berpapasan sama ibuk-ibuk tapi mukanya kayak panik gitu. Dan pas gue tanya dia bilang Arsyila lagi sama cowok. Gue kaget dan langsung jalan ke dapur dan ternyata, gue liat dengan mata kepala gue sendiri kalo Razan dan Arsyila lagi pelukan. ARRRRGH BANGS*".


Aydan menghantam tembok yang ada disampingnya.


"Gk mungkin". Alzam geleng-geleng kepala.


Berbeda dengan Devan yang malah tersenyum miring.


"Ngapain lo kerumah Arsyila? bukannya lo gk perduli sama dia?". Bukannya membalas cerita Aydan, Devan malah mengintrogasinya.


"Maksud lo?". Tanya Aydan.


"Bukannya dari kemarin-marin lo gk pernah mau diajak ketemu Arsyila? padahal lo lagi baikan. Kenapa? lo udah bosen?".


"Panik kan lo sekarang liat Arsyila udah di ambil alih sama Razan". Alzam ikut-ikutan.


Dari kemarin ia juga sangat kesal dengan Aydan, apalagi melihat perubahan sikap Aydan akhir-akhir ini seperti ada hal yang disembunyikan. Bahkan sikapnya pada Arsyila juga perlahan terlihat berbeda. Satu waktu Alzam pernah melihat Aydan yang mengabaikan Arsyila dan memilih sibuk bermain game di ponselnya membuat Alzam mulai merasa aneh.


Aydan terdiam. Dalam hati ia membenarkan sindiran kedua sahabatnya.


"Lo sebenarnya kenapa si Dan? akhir-akhir ini lo keliatan beda. Lo kalo udah bosen sama Arsyila..Lebih baik lo lepasin. Biarin dia sama orang yang bisa bikin dia bahagia daripada sama lo tapi selalu lo cuekin. Gue yang liat aja enek tau gk".


Ujar Devan lagi mengeluarkan unek-uneknya.


"Gk! Gue gk akan lepasin Arsyila".


Balas Aydan dengan nafas yang menggebu lalu berdiri menatap tajam Devan.


"Terus? lo bakal biarin dia menderita ketika tau lo masih nyimpen perasaan sama mantan lo itu?!". Alzam melirik sinis Aydan.


Aydan terkejut. Melihat raut wajah Aydan yang berubah membuat Devan terkekeh sinis.


"Heh. Lo kira kita berdua gk tau kalo tiap pulang sekolah lo mampir dulu ke sekolah sebelah cuma untuk liat mantan lo itu pulang sekolah?? dan lo bilang ke Arsyila lagi latihan basket? jahat banget lo Dan, sumpah". Devan geleng-geleng kepala.


"Ka-Kalian.." Aydan semakin dibuat kaget. Bagaimana bisa kedua sahabatnya tau? padahal ia selalu menunggu mereka pulang sekolah terlebih dahulu.


"Iya. Kaget kan lo..Dari awal gue sama Devan udah curiga sama lo Dan sampai akhirnya kita nunggu lo pulang sekolah dan ngikutin mobil lo dari belakang. Lo kira kita bakal sebodoh itu buat percaya kalo tiap pulang sekolah lo selalu mampir ke toilet? cuihh".


Aydan menghela nafas panjang lalu mendirikan kursi yang menungging karna terlempar olehnya tadi dan duduk di atasnya.


"Van..Zam gue minta maaf karna udah ngecewain kalian berdua, tapi gue jujur dari hati gue yang paling dalam kalo gue masih sayang sama Arsyila sekalipun gue sering cuekin dia. Ya! gue akui gue pernah ngerasa jenuh sama hubungan gue sama dia dan itu sebabnya gue ngasih jarak biar gue bisa ngerasain hal yang sama seperti sebelumnya".


"Ngejauh? dan bikin lo kebablasan?". Sinis Devan.


"Maafin gw...Harusnya kalian juga ngerti kalo gw gk mungkin secepet itu lupain dia, kalian tau sendiri gue orangnya kayak gimana".


"Gue sangat faham sama lo, itu sebabnya gue lebih setuju liat Razan yang ada di samping Arsyila". Balas Devan.


Nah sekarang kalian tau kan kenapa Devan dan Alzam sama sekali tak menghentikan Razan mendekati Arsyila walaupun mereka tau Aydan sangat possesive jika apapun yang bersangkutan dengan Razan dan Arsyila.


"Kok lo ngomong gitu si? lo sahabat gue apa bukan ha?".


"Gue sahabat lo Dan, tapi dilain sisi gue gk mau liat lo nyakitin Arsyila".


"Dari awal gue juga udah ragu sama lo Dan karna gw tau lo gk mungkin secepat itu bakal mau deket sama cewek apalagi dari pertama ketemu Arsyila lo lansung suka tapi pas gw liat lo tulus sama dia apalagi keposesiffan lo itu gw jadi yakin kalo lo emang bener suka sama dia..Tapi ternyata gue salah, gue kecewa sama lo Dan ".


Aydan menggeleng cepat. Hatinya menolak perkataan Alzam tadi.


"Gk. Lo salah Zam..Gue emang suka sama Arsyila bahkan dari pertama liat dia, gue gk tau kenapa, saat kejadian itu gue langsung tertarik sama dia. Gue gk ada maksud sama sekali buat mainin dia atau jadiin dia pelampiasan. Sorry kalo udah ngecewain kalian gue juga sebenarnya masih bingung sama perasaan gue sendiri".


Aydan menunduk sambil memijat pangkal kepalanya yang terasa pening.


Devan mencoba mengerti walau dalam hatinya ia masih tak terima dengan perlakuan Aydan pada Arsyila. Karna selain sahabat ia juga sudah menganggap Arsyila seperti adiknya sendiri jadi wajar jika ia berlebihan saat Aydan menyandingkan Arsyila dengan masa lalunya itu.


"Sejak kapan lo tau dia sekolah disana? bukannya orang tuanya bawa dia keluar negri?".


"Gue gk tau. Yang jelas gue liat dia waktu hari ke-4 tanding basket. Awalnya gue udah lupain dia tapi kenapa pas ngeliat dia perasaan gue...Gue minta maaf".


"Oo jadi itu sebabnya lo nyuekin Arsyila waktu itu?? dan jangan bilang penyebab lo ngamuk gk jelas karena lo ngeliat mantan lo itu punya pacar baru??".


Devan mencoba menebak. Ya! Sebelum Aydan bertengkar dengan Arsyila hingga mabuk di apartemennya ia juga sebelumnya pernah memporak-porandakan seisi kamarnya tanpa sebab hingga vas bunga mahal yang dibelikan Farah pun menjadi objek mengamuknya bahkan ponselnya pun ikut kena banting itulah mengapa saat ditanya Arsyila alasan dirinya tiba-tiba tidak ada kabar ia beralasan ponselnya rusak.


Mengenai pacar baru yang disebutkan Devan..Ia tahu karna waktu membuntuti Aydan bersama Alzam ia melihat mantan terkasih Aydan itu berjalan keluar gerbang sekolahnya bersama laki-laki tampan tapi anehnya mengapa Aydan masih setia memantau mantannya itu padahal jelas-jelas dia sudah memiliki pasangan baru begitupun dengan Aydan yang sudah memilik Arsyila. Dasar tidak tau bersyukur😏


"Lo tau jawabannya".


Aydan semakin menunduk. Devan yang mendengar jawaban Aydan menggeram, kedua tangannya sudah terkepal.


"Terus ngapain lo masih ngarep Dan, padahal lo tau sendiri dia udah punya?".


Alzam tak habis pikir dengan sahabatnya itu.


"Seandainya gue bisa ngatur hati, gue juga gk mau terjebak dalam kondisi seperti ini". Aydan terlihat pasrah.


"Huh!". Alzam membuang nafas nya kasar. Ia lalu mendekat ke arah Aydan dan duduk disampingnya.


"Gini Dan..Hati emang bukan lo yang atur tapi kalo lo sendiri gk ada niatan buat lupain dia lo bakal tetep tersiksa sama perasaan lo sendiri. Gue yakin Dan lo bisa mikir dewasa, dan sekarang pilihan ada di tangan lo. Lo jangan egois untuk mempertahankan dua-duanya di hati lo. Lo harus bisa milih salah satu diantara mereka. Lepas Arsyila atau kejar Tiara".


Yup! nama mantan Aydan adalah "Tiara".


"Jangan sampai lo kehilangan orang yang bener-bener sayang sama lo hanya karna orang yang belum pasti lo gapai lagi".


Nasihat Devan lalu beranjak keluar.


"Gue yakin lo bakal bijak dalam memilih. Gue cabut".


Ujar Alzam lalu menepuk dua kali pundak tegap Aydan dan mengikuti Devan keluar.


Aydan termenung sesaat mendengar saran kedua sahabatnya. Ia kembali mengingat Arsyila, perasaan menyesal dan kesal pada dirinya sendiri pun muncul namun beberapa saat setelahnya ia kembali mengingat moment dimana Arsyila memeluk Razan membuat hatinya dipenuhi rasa sesak.


"Arrrgh".


Aydan kembali menghantam benda-benda yang ada di hadapannya.


_____________


"Awwsh sakiit".


Ringis Arsyila saat Razan tak sengaja menekan telapak tangannya dengan kompresan air dingin.


"Hehe maaf..Nih lo rendem dulu lima menit baru gue lilitin perban biar tangan lo gk asal nyentuh benda".


"Aku kira kk Razan bakal pakein betadine".


Ujar Arsyila sambil melakukan perintah Razan.


"Gk usah..Ntar kalo tangan lo bernanah baru gue pakein betadine".


Arsyila melototkan matanya.


"Ish! kak Razan kok doanya yang nggak-nggak si, kalo beneran bernanah gimana?"..."yang repot juga aku sendiri". Arsyila melanjutkan kalimatnya dengan menggerutu.


"Gk doong..Gue siap kok rawat lo tiap hari asalkan tangan lo bernanah dulu".


Razan menaik turunkan alisnya menggoda Arsyila membuat Arsyila semakin kesal.


"Iii bukan rawat yang ada tapi nyiksa!".


Sinis Arsyila sambil mencubit lengan kekar Razan.


"Awwsh sakit tau..Cubitan lo pedes banget". Keluh Razan.


"Wleee rasain". Arsyila mengejek.


Tiba-Tiba suara deringan ponsel milik Razan mengalihkan atensi mereka berdua.


"Halo, ada apa pak?".


Tanya Razan tanpa basa-basi saat mengangkat panggilan telponnya yang tak lain berasal dari pak Malik.


"Kamu lagi dimana Zan??".


Razan menengok sebentar ke arah Arsyila yang sedang menatapnya bingung.


"Mm lagi ada urusan di luar..Ada hal penting apa pak? kenapa suara bapak panik gitu?".


"Jadi gini nak Razan tadi Aydan ngamuk dikelasnya sambil nyebut nama kamu, lebih baik kamu cepetan balik kesekolah daripada gedung sekolah ini hancur nantinya".


Ujar pak Malik lebuyy.


"Baik pak sebentar lagi urusan saya akan selesai dan segera kembali kesekolah".


"Iya sudah..Saya cuma menyampaikan itu saja kalau begitu bapak tutup telponnya dulu ya".


"Iya pak".


Tut


Panggilan pun terputus.


"Siapa?".


Tanya Arsyila menuntaskan kebingungannya.


"Pak Malik, dia minta gw balik ke sekolah".


"Hm". Wajah Arsyila mendadak lesu.


"Kenapa??". Razan terkekeh melihat perubahan wajah Arsyila.


"Sepi".


"Bilang aja lo gk mau di tinggalin sama gue".


Ucap Razan kepedean.


"Ck. Gr banget sii".


"Terus? kenapa muka lo loyo-loyo gitu?".


"Hm udah tiga hari aku diem dirumah sendirian tanpa kerjain apa-apa...Cuma baca novel, curhat dibuku..Kadang aku mikir kenapa aku harus jadi manusia nyata, aku pengen jadi manusia fiksi yang punya keluarga sempurna dan berakhir bahagia..Kayak Nea".


Razan terkejut mendengar nama yang disebutkan Arsyila. Begitupun dengan Arsyila yang baru tersadar dengan ucapannya. Razan hendak bertanya namun Arsyila lebih dulu menjawab kebingungannya.


"Oh ya! Nea! aku pernah denger kk Razan nanyain nama itu deh. Iya kan?". Ujar Arsyila antusias.


Razan mengangguk semangat.


"Iya, lo inget???".


"Huh! mungkin yang kk Razan maksud Nea lain..Sayangnya Nea yang aku sebutin tadi karakter fiksi, cuma karangan manusia".


Raut wajah Razan nampak kecewa, Arsyila yang melihat itu menyipitkan kedua matanya.


"Kok muka kk Razan jadi lesu gitu..Mm emang Nea itu siapa si?".


Tanya Arsyila penasaran. Namun Razan hanya diam sambil menatap lurus ke arah depan.


Sampai sekarang gue masih yakin kalo Nea itu lo Syil..Tapi kenapa lo bertingkah seolah-olah asing sama nama itu.


"Mantan kk Razan ya?".


Arsyila menebak namun Razan hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Hm terus siapa dong..Kok aku penasaran si, cantik gk??".


"Cantiik, banget".


"Mmmm".


Seperti ada yang mengganjal di hati Arsyila mendengar Razan memuji gadis lain dihadapannya, kenapa perasaanya menjadi aneh begini?.


"Tapi cantikan lo". Ujar Razan lagi.


"Iya kah??". Wajah Arsyila langsung berbinar-binar.


"Iya kalo diliat dari lubang sedotan".


Ujar Razan dengan tidak berdosanya lalu terkekeh. Wajah Arsyila langsung berubah suram.


"Dah lah! balik ke sekolah sana.. Bikin badmood aja".


Arsyila menatap kesal ke arah Razan.


"Serius nii? tadi ngulur-ngulur waktu biar gue gk jadi pergi ". Razan mengejek.


"Dih gk usah kepedean! sana-sana keluar".


Arsyila mendorong-dorong tubuh Razan menuju pintu utama.


"Segitunya..Padahal kan gue cuma bercanda".


"Bodo amat! mau serius kek, becanda. Gk perduli".


"Ok deh kalo lo emang mau liat gue pergi..Tapi gk papa kan lo di rumah sendirian?".


"Gk". Jawab Arsyila judes.


"Beneran?".


"Ck iya! cepetan sana baliiik ntar pak Malik nyariin".


"Iyaya kalo gitu gue balik byeee".


Arsyila hanya menatap datar punggung Razan yang sudah berbalik namun belum sempat melangkah Razan kembali menghadap Arsyila membuat alis Arsyila terangkat sebelah.


"Kenapa?". Tanya Arsyila sambil bersidekap dada.


"Mm cepet balik ke sekolah ya..Gue kangen berantem sama lo".


Ujra Razan dan mengelus sekilas kepala Arsyila sambil cengiran.


Arsyila hanya diam menatap tingkah random Razan. Mengapa sikap Razan ini membuatnya teringat sesuatu? tapi apa?? Arsyila sangat sulit mengingatnya dan mengapa pula hatinya seketika menghangat...Tidak! Arsyila tidak boleh baper.


"Huh!".


Arsyila menghela nafasnya saat punggung Razan sudah mulai menjauh dari pandangannya lalu menutup kembali pintu rumahnya.


...*****...


...Tiara sudah mulai bermunculan apakah yang akan terjadi selanjutnya???😮...


...See you next time🔥💓😌...