
Part ini panjang..Sebagai tanda maaf karna telat Up.
...Happy Reading💓🔥...
...*****...
Jam menunjukkan pukul 5:12 menit.
Setelah melaksanakan shalat subuh tadi Intan dan Arsyila tidak kembali tidur melainkan bersiap-siap untuk melihat keindahan sunrise dipinggir pantai pada pagi ini. Bukan hanya mereka saja melainkan banyak daripada siswa dan siswi yang juga tak ingin melewatkan momen emas ini.
Arsyila dan Intan keluar bersamaan dari tenda dengan menggunakan hoodie couple berwarna hitam dan celana serta jilbab sport dengan warna senada sedangkan Intan yang tidak berhijab mengikat rambut sepinggangnya sehingga menambah kesan elegan pada dirinya tak lupa menentang sepatu berwarna putih serupa dengan milik Arsyila sehingga kali ini mereka benar-benar terlihat seperti bestie sejati:).
"Ayok Tan". Ajak Arsyila yang terlebih dahulu berdiri setelah mengikat tali sepatunya.
"Yuk!". Girang Intan lalu menyusul Arsyila berdiri.
"Tunggu!". Rehan yang baru keluar dari tenda pun segera berlari kecil ke arah mereka yang sudah akan melangkah. Arsyila dan Intan terpaksa berbalik hadap karna mendengar seruan itu.
"Ada apa Han?". Tanya Arsyila penasaran.
"Mmm gu-gue boleh ikut kalian gk?". Intan menatap ragu-ragu ke arah mereka berdua.
Arsyila yang mendengar permintaan Rehan pun tersenyum simpul lalu mengangguk pelan.
"Ayok! boleh kok, gk ada yang keberatan". Jawab Arsyila dengan raut senang. Berbeda dengan Intan yang hanya menatap Rehan dengan wajah datar.
"Gess mau pada kemanaa??". Tanya Arlina yang terlihat sudah rapi dengan pakaian santainya, terlihat Putri dan Dewi' juga berjalan di belakangnya. Intan yang melihat kedatangan Arlina sedikit berdecak.
"Mau liat sunrise, ikut?". Arsyila menawarkan.
"Waaah seru juga tuh, gue mau dong ikutan". Ujar Arlina tanpa ada kecanggungan sedikitpun. Padahal sedari kemarin ia selalu mencari gara-gara dengan Arsyila namun sekarang seolah tak pernah terjadi apa-apa.
"Ya udah..Kita sama-sama aja, kan lebih seru kalo rame". Ujar Arsyila sambil tersenyum.
"Kalo gue sama Putri kayaknya mau gabung sama temen kelas Agama II deh, kita duluan ya". Beritahu Dewi' dengan ramah lalu pergi dari hadapan mereka setelah mendapat anggukan.
"Yuk Syil". Intan menarik tangan Arsyila lalu berjalan menyusuri pinggiran pantai yang terlihat mendamaikan dengan Arlina dan Rehan yang mengekori mereka dari belakang.
"Kita duduk di sana aja yuk Syil". Ajak Arlina menunjuk tempat yang agak sepi karna kebanyakan murid berkumpul di area yang sama. Arsyila hanya mengangguk lalu mengikuti arah berjalannya Arlina bersama yang lainnya.
Intan awalnya ragu, karna tumben Arlina mau beramah tamah dengan Arsyila namun ia tetap berusaha berfikir positif dan segera menepis firasat buruk yang tiba-tiba menghinggapi hatinya itu.
Sepanjang jalan mereka melewati banyak siswa dan siswi yang duduk di pinggiran sambil menanti sunrise tiba. Ada yang duduk berdua alias berpacaran dan adapula yang duduk berbestian.
"Han..Kira-Kira rencanya Sania bakal berhasil gk si?". Bisik Arlina yang sudah berpindah posisi menjadi belakang dan kini berjalan di samping Rehan.
"Gk tau..Gue harap sih nggak". Balas Rehan.
"Ish kok nggak sih?? apa jangan-jangan...Lo-".
"Gue gk mihak siapa-siapa..Tapi kalo sampai ketahuan kan kita juga yang bakal kena". Jawab Rehan menebak jalan pikir Arlina.
"Kan Sania licik...Gue yakin rencana kali ini pasti berhasil!". Arlina tersenyum Devil membuat Rehan bergidik ngeri.
Amit-Amit gue punya sahabat modelan mereka.
-Batin Rehan.
"Kita duduk di sini aja Tan".
Tunjuk Arsyila pada pasir yang terlihat cocok di matanya untuk diduduki. Mereka berempat lalu duduk berjejer di sana dengan Arsyila dan Rehan di paling pinggir serta Arlina dan Intan di tengah-tengah sembari menunggu matahari pagi muncul.
Melewati sedikit perbincangan akhirnya moment yang di tunggu-tunggu tiba.
Semua atensi hanya terfokus pada langit yang sudah berwarna keemasan dengan sinar matahari yang cantik membuat sebuah karang yang nampak bolong ini lebih menawan. Belum lagi gerakan ombak yang tenang membuat hati orang-orang yang melihatnya ikut terbawa suasana.
(Ilustrasi sunrise di pantai..meski ini bukan Mandalika tapi mirip2 kok😁).
"Waahh...Subhanallah".
Sesaat Arsyila terkagum-kagum dengan pemandangan langit yang indah itu lalu setelahnya melihat gelombang ombak yang menyapu ujung jari kakinya yang sudah tidak terhalang sepatu lagi. Sangat sejuk.
"Kebiasaan healing di Mall, andaikan gue tau healing terbaik liat pemandangan gini bisa bikin hati fresh gue bakal tiap hari ke pantai, danau, bukit, lembah". Ujar Intan random.
"Aku ikut yaa". Arsyila cengiran.
"Iyaa dong kan kita bestiee". Intan merangkul pundak Arsyila.
"Eh iya kah?? Syila baru nyadar". Oo gini ternyata rasanya punya sahabat cewek. Arsyila melanjutkan dalam hati. Arsyila baru mengerti kalo berbestian itu harus ada yang mengakui terlebih dahulu baru bisa jadi sahabat kalau tidak ya tetap saja namanya teman meski dekat.
"Berarti lo nganggep gue apa kemarin??". Intan pura-pura memasang wajah garang.
"Temen". Jawab Arsyila polos sambil cengiran.
"Huh! mulai sekarang lo sahabat gue oke!". Intan sedikit melirik Rehan yang sedang melihat ke arah mereka dengan wajah kesal. Sepertinya Intan sengaja ingin membuat Rehan cemburu. Berbeda dengan Arlina yang malah sibuk selfie dan memotret keindahan langit sunrise itu.
"Okey!". Girang Arsyila.
Langit yang gelap kini sudah sepenuhnya terang hingga menampakkan awan putih di sertai warna biru langit karna pancaran yang berasal dari sinar matahari yang mencapai atmosfer bumi dan tersebar ke segala arah oleh semua gas dan partikel di udara yang dimilikinya.
"Udah panas..Kita balik ke temen-temen yuk!". Ajak Intan.
"Eh mereka mau ngapain tuhh??". Rehan melihat ke arah sebagian siswa dan siswi yang sedang berbaris dengan satu orang yang menjadi pengomando yaitu Razan. Ada Arsen and genk juga berbaris di paling depan terlihat seperti akan memperagakan sesuatu dan diikuti oleh yang lainnya.
Meski Aydan tidak ada bukan berarti Razan akan mengambil banyak kesempatan untuk mendekati Arsyila karna bagaimanapun ia masih memiliki tanggung jawab besar terhadap masyarakatnya jadi mau tidak mau ia harus menyingkirkan masalah pribadinya itu. Padahal jika dipikir-pikir ia bisa saja mengajak Arsyila melihat sunrise dan keindahan pantai bersama..Bukankah itu menyenangkan?
"Mereka mau senam deh keknya". Jawab Arlina melihat sebuah speaker yang ada di depan murid-murid itu.
"Oh iyaaa..Ikut yuk!". Rehan terlihat bersemangat.
"Yuuuk!!".
Mereka pun mulai berjalan mendekat ke arah kumpulnya teman-teman yang lain. Arlina melihat ke arah samping dan dengan samar mengacungkan jempol seolah memberi isyarat pada orang-orang yang sedang bersembunyi di balik bebatuan besar itu dengan mengatakan "posisi aman".
Rehan yang melihat itu sedikit was-was dan kadang melirik ke belakang menengok Arsyila yang sedang asyik mendengarkan cerita keseharian Intan.
"Jangan coba-coba ngerusak rencana yang di buat Sania kalo lo gk mau kena imbasnya". Bisik Arlina pada Rehan membuat Rehan tak berani lagi menengok ke arah Arsyila yang berada 5 langkah di belakanganya.
"Gue pengen bokap gue pulang..." Intan menerawang ke arah depan berharap keinginan untuk bertemu ayahnya segera terwujud hingga melewati bebatuan besar yang di lewati Arlina dan Rehan tadi dengan sedikit melamun.
Hap!
Pandangan Arsyila tiba-tiba menggelap dan seperti di tekan jemari seseorang serta mulutnya pun ikut dibekap. Setelah itu ia merasakan kedua tangannya di pegang dua orang, kiri dan kanan membuat Arsyila tak bisa memberontak dan membiarkan tubuhnya di seret hingga kakinya yang tadi menapak di darat mulai merasakan dinginnya air pantai dan semakin terasa ke atas hingga lututnya.
"Sampai sini aja..Dorong!". Seru salah seorang di antara mereka yang tak lain adalah Sania hingga Nia yang mendengar perintah itu mendorong tubuh Arsyila. Arsyila pun terhempas setelah dirasakannya dorongan keras itu menampar punggungnya hingga menyebabkan tubuhnya masuk ke dalam air pantai dan mengikuti gelombang pantai yang sedang surut itu.
BluBluBluBlu°°°°°
Suara gelembung air, Arsyila yang tak siap pun terpaksa meminum banyak air asin itu. Matanya terbuka menampilkan kondisi air yang jernih namun matanya dibuat perih. Arsyila mencoba menapak di pasir lagi namun sayangnya pasir itu hanya bisa digapai oleh ujung-ujung jarinya saja membuat ritme jantung Arsyila semakin berdetak tak karuan. Panik, takut, cemas bercampur menjadi satu.
Dengan tenaga yang tersisa Arsyila berusaha melompat agar bisa muncul di permukaan untuk meminta pertolongan.
"Oh ya..Lo gk kangen juga kah sama bokap lo? lo bilang kan bokap lo jarang pulang". Intan tak mendengar sahutan.
"Syil.." Masih tidak ada jawaban.
"Arsy- Panggil Intan sambil menengok ke sebelahnya tempat dimana Arsyila tadi berada. Intan syok saat tak mendapati Arsyila di sampingnya dan hanya melihat sepasang sepatu yang berserakan di pasir itu.
"Tol.." Kepala Arsyila kembali masuk ke dalam air..Dengan sekuat tenaga ia kembali menekan kakinya ke bawah agar bisa menyembul kembali ke permukaan.
"TOLOONG!!!...."
Intan melebarkan bola matanya melihat Arsyila yang susah payah mencapai permukaan air dengan kedua tangannya melambai ke atas.
"ARSYILAAA!!!!". Teriak Intan.
"Hann!!..Lo bisa berenang kan???". Intan mengguncang bahu milik Rehan.
"Gue gk bisaa Tan.." Ujar Rehan jujur dengan raut panik. "Arlina lo kan bisa berenang bantuin Arsyilaa please!!!".
Arlina menggeleng, hanya dia yang bisa berenang di antara mereka berdua namun perasaan tak tega dan takut akan ancaman Sania membuat Arlina ragu-ragu untuk menolong Arsyila.
"Maaf Han..Gue takut sama Sania".
"Lo lebih milih takut ancaman Sania daripada biarin nyawa orang lain dalam marabahaya?!!!".
Intan yang kepalang panik pun berlari dan hendak mencari Devan namun saat itupula Razan berlari dari arah yang berlawanan kemudian masuk ke dalam air laut itu untuk mencari Arsyila yang tadi sudah benar-benar tenggelam.
Untungnya Arsyila belum terlalu jauh di bawa ombak hingga Razan masih bisa melihat Arsyila di dalam air yang matanya hampir terpejam, sudah pasrah dengan taqdirnya.
Razan meraih pinggang Arsyila lalu membawanya ke permukaan...
Sayup-Sayup Arsyila melihat wajah Razan yang terlihat seperti anak laki-laki berumur 13 tahun yang tak lain adalah..
"Farell..."
Gumam Arsyila lalu menutup matanya karna sudah tidak mampu lagi untuk bernafas.
Arsyila pernah mengalami kejadian ini sewaktu ia masih berumur 12 tahun pada acara perpisahan sekolahnya yang berlangsung di pantai dan dengan penglihatan yang buram Arsyila melihat wujud laki-laki itu kembali.
Razan kurang fokus dan tidak mendengar gumaman Arsyila karna saat ini yang ada dipikirannya hanyalah kembali ke daratan dan membawa Arsyila dalam keadaan selamat.
Saat sudah menapak di pasir Razan pun menggendong Arsyila dan membawanya ke pinggiran pantai yang jauh dari jangkauan air laut itu.
"Syil banguun!!!!". Razan menepuk-nepuk pipi tirus milik Arsyila.
Arlina, Rehan dan Intan yang tak jauh dari tempat Razan pun berlari kearahnya. Dapat mereka lihat wajah panik yang ditunjukkan Razan.
"Tan! kasih nafas buatan!!". Razan masih ingat batasan namun Intan malah membeo dengan wajah tak kalah panik.
"Ah kelamaan..Darurat!".
Razan mendekatkan wajahnya ke wajah ranum Arsyila lalu meniupkan oksigen dari mulutnya agar Arsyila bisa kembali bernafas.
Intan yang melihat itu menutup mulutnya tak percaya, begitupun dengan Arlina dan Rehan.
Ya! memang dalam kondisi seperti ini tidak terlalu di permasalahkan karna kalo tidak cepat di beri nafas buatan bisa-bisa hal berbahaya akan terjadi pada Arsyila namun tetap saja pemandangan ini terlalu wow untuk disaksikan.
Untungnya setelah moment langka itu terjadi baru para murid yang lain berdatangan ke arah mereka karna mendengar ada siswi yang tenggelam dan itu adalah Arsyila.
Ukhuk..Ukhuk Ukhuk..
Arsyila terbangun lalu memuntahkan air yang memenuhi saluran pernapasannya. Namun itu tak bertahan lama saat dirasanya kepalanya sangat pusing.
"Syil lo gk papa???". Tanya Razan yang masih terlihat cemas.
Jleb
Arsyila kembali jatuh tak sadarkan diri ke atas pangkuan Razan.
"Syilll!!!.."
Tanpa sepatah kata, Razan membopong Arsyila lalu membawanya ke tenda anak PMR yang sengaja di sediakan sekolah. Cukup raut wajahnya yang mampu menggambarkan bagaimana cemasnya Razan saat ini.
"Aishh gagal lagi!". Kesal Sania.
"Kok bisa sih kk Razan tau Arsyila tenggelam". Nia tak kalah geram.
Syukurlah. Batin Rani, agak lain emang:).
Sejujurnya ia tak ingin melakukan ini namun ancaman Sania lebih menyeramkan baginya. Jika sudah bermasalah dengan Sania siap-siap saja menanggung resiko.
"Gas cari kambing hitam!". Seru Sania lalu keluar dari persembunyiannya bersama dua sahabatnya.
Intan yang akan mengejar langkah Razan pun merasakan tangannya di cekal seseorang yang tak lain adalah..
"Sania! apa-apaan sih lo!". Bentak Intan lalu menghempas tangan milik Sania.
"Mau kabur kemana lo ha?!".
"Maksud loo??". Intan bingung.
"Elleh gk usah pura-pura deh lo! lo kan yang buat Arsyila tenggelam". Tuduh Sania membuat atensi para saswa/i yang masih di sana teralihkan padanya, mereka yang mendengar tuduhan itu terkejut sambil bertanya-bertanya. Terlebih Rehan, ia tak tau jika hal semacam ini juga akan direncanakan Sania.
"Gue liat sendiri lo yang terakhir jalan sama Arsyila ya kan???". Nia ikut-ikutan dengan ekspresi yang amat meyakinkan.
"Ha?? Intan ngelakuin itu?".
"Oh pantes si dia tiba-tiba ngedeketin Arsyila, ada udang di balik batu ternyata".
Begitulah kira-kira gosip di antara para siswa dan siswi yang dengan cepatnya percaya akan tuduhan Sania.
Tiba-Tiba Dheva maju lalu menampar wajah Intan sambil menatapnya tajam. Membuat keadaan para siswa dan siswi semakin ricuh hingga senyum miring terbit di ujung bibir tebal Sania.
Devan yang melihat itu hanya diam seperti masih mencerna apa yang sedang terjadi.
"Oooo ini ya tujuan lo deketin Arsyila?! gue udah tebak sih, kan yang lo mau cuma Devan ya kan???". Intan dengan cepat menggeleng namun Dheva kembali menyambung perkataannya. "Heh. Dan setelah lo dapetin apa yang lo mau, lo dengan teganya mau nyingkirin Arsyila! ha??? biar apa? biar lo bisa seutuhnya milikin Devan ya kan??". "Jahat lo Intan!". Finish Dheva lalu mendorong dada milik Intan hingga membuatnya hampir terjungkur ke belakang jika saja tidak ada Rehan yang menopangnya. Dheva pun pergi darisana diikuti Alzam yang berjalan disampingnya sambil menenangkannya.
Bisik-Bisik para siswa/i makin menjadi membuat telinga Rehan makin memanas.
"STOOOP!!!!". Rehan dengan suara lantang membuat semua atensi langsung tertuju kepadanya. Rehan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan sebelum memulai berbicara.
"Intan gk salah! gue yang salah, gue yang ngajak Intan buat nyelakain Arsyila...Gue ngelakuin itu karna gue benci sama Arsyila jadi stop nyalahin Intan!". Rehan dengan nafas yang menggebu. Sepertinya Rehan ingin mengambil jalan aman dengan tetap menjadikan Intan tersangka dan dia pengomandonya, jika dia jujur bisa-bisa Sania tidak akan pernah membiarkannya hidup tenang.
"Rehan..Lo ngomong apa?". Intan sedikit terkejut dengan pernyataan Rehan namun Rehan hanya diam.
~Okey Rehan kerja yang bagus, ini jalan yang lo pilih dan lo harus nanggung sendiri akibatnya". Batin Sania.
"Kalian pada denger kann??? sekarang kalian tau kan siapa penjahat sebenarnya di sekolah kita?". Ujar Sania sambil menunjuk mereka berdua. "Huh ternyata senakal-nakalnya gue, masih ada yang lebih over". Sania terkekeh sinis lalu pergi dari hadapan mereka setelah misinya selesai.
"Huuu penjahat!".
"Dasar lon*"
Begitulah teriakan-teriakan para murid yang langsung mengecap buruk mereka berdua ada pula yang tega melempari mereka dengan pasir.
Namun Devan dengan segera menghalangi Intan dengan punggungnya sedangkan Rehan ditarik oleh Rani untuk dimintai penjelasan.
"Stop!!! kalo ada yang berani ngelempar lagi gue pastiin besok kaki lo patah disekolah". Ancam Devan dengan posisi masih membelakangi mereka. Mereka yang takut akan aura dingin Devan pun langsung menyudahi aksi tersebut.
"Bubar! Bubar!". Komando salah seorang dari mereka lalu keadaan pun kembali normal hanya tersisa Devan dan Intan yang sedang menangis.
"Van...Aku gk ngelakuin itu". Intan menggelengkan kepalanya sambil terisak.
Devan hanya tersenyum kecil lalu mendekap tubuh Intan agar Intan bisa lebih tenang. Sebenarnya Devan sempat mendengar perdebatan kecil antara Rehan dan Arlina tadi saat ia mencari Intan untuk memanggilnya sarapan bersama Arsyila hingga akhirnya ia menyadari Arsyila tenggelam dan ia hendak menolong Arsyila namun Razan sudah lebih dulu datang dari arah yang berlawanan dengannya.
"Gue tau..Lo gk usah nangis kao emang lo gk salah".
"Tapi Arsyila..." Intan mendongak menatap Devan.
"Arsyila gk secepat itu percaya sama omongan orang lain".
Intan merasa sedikit tenang lalu membalas pelukan Devan dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang milik kekasihnya itu.
"Makasih Van".
...*****...
Hallo semuanya maaf ya Upnya kemarin agak lama..Ada sedikit kendala hehe😁 Tetep support karya ini ya biar Authornya semangat💓
See you next Chapter👋🏻🔥💓