
...Happy Readingππ₯...
...*****...
Pagi ini disekolah, semua murid berkumpul dilapangan atas perintah Razan tanpa terkecuali. Di depan sudah ada Razan, Aldo dan anggota inti daripada OSIS lainnya.
"Guys kenapa kita dikumpulin?? tumben banget?".
"Gk tau..Muka bang Razan serem banget lagi".
"Pasti ada masalah besar".
"Merinding cuyyyy".
"Ada bagi-bagi sembako kah??".
Begitulah bisik-bisik para murid yang ada dibarisan belakang, sedangkan yang berbaris didepan hanya menundukkan kepala karna tak kuasa menatap wajah suram milik Razan.
"Siapa yang matiin Arsyila lampu tadi malam?!". Tanya Razan to the point. Semua diam dan saling menatap satu sama lain.
"Kita dikumpulin cuma karna masalah yang semalam?". Gio geleng-geleng kepala.
"Heboh bet njirr sampe seantreo sekolah kena jemur dilapangan". Timpal Pian ikut berbisik.
"Berani bener orang yang udah ngusilin Arsyila. Gk takut apa nasibnya sama kek Angel".
"Majuuu!!!! atau gue yang nyeret kalian ke sini". Perintah Razan, sebenarnya ia sudah tahu pelakunya dengan bantuan cctv yang sengaja dipasang di lorong kamar mandi. Hanya saja ia ingin pelakunya jujur sendiri.
"Mati gue!!..San gimana doong??? gue takut". Wajah Nia sudah pucat pasi. Lain halnya dengan Sania yang malah santai seperti tak pernah melakukan kesalahan.
"Ya maju aja si, kan lo yang matiin lampunya bukan gue". Sania terkekeh sinis.
"Hah??! tapi kan lo yang nyuruh!". Nia tanpa sadar meninggikan suaranya hingga membuat Sania memberinya tatapan tajam saat semua mata tertuju pada mereka. Sudah pasti mereka yang akan menjadi tersangka sekarang.
"Sania dan Nia maju ke depan!". Tegas Razan lalu mereka berdua pun terpaksa menurut. Nia menundukkan kepalanya dalam-dalam.. Rasa takut dan malu bercampur menjadi satu.
"Kalian tau kan apa hukumannya kalau berani ganggu Arsyila?". Razan dengan tatapan mengintimidasi.
"Sorry ya gue gk ikut-ikutan, yang salah di sini tu cuma Nia bukan gue". Ujar Sania membuat Nia terkejut dan menggelengkan kepalanya.
"Bohong! lo gk boleh gitu San, kita berdua yang punya rencana jadi kita berdua juga harus nanggung konsekuensinya". Jujur Nia tanpa sadar telah mengakui kesalahannya.
"Hah?? berdua? yang dari idenya kan lo, lo yang ngasih tau gue kelemahan Arsyila dan lo juga yang maksa gue buat ikut ngejebak Arsyila dikamar mandi".
Sania membolak balikan fakta padahal kenyataannya dialah yang mempunyai ide dan memaksa Nia karna Nia sedikit tak tega.
"Lo???". Nia melebarkan matanya.
"Sudah selesai?". Tanya Razan sambil bersidekap dada. "By the way, gue gk perduli siapapun yang paling unggul di antara kalian berdua. Kalian lupa gue pernah bilang apa sebelumnya? gue udah baik hati kasih kesempatan terakhir tapi kalian malah kembali berulah. So? silahkan angkat kaki dari sekolah ini, orang tua kalian akan datang untuk menjemput sekitar jam.... 09:00". Razan melihat sekilas ke arah jam yang bertengger di tangannya.
"Hah??? langsung di DO coy!".
"Mampus!".
"Princess sekolah di ganggu, Princenya yang angkat tangan".
"Ampun dah, kapok gue suka ngegoshipin Arsyila".
"Kak...Please maafin gue, gue janji gk akan ganggu Arsyila lagi". Nia berlutut sambil memegang tangan Razan. Ia menangis tersedu-sedu, orang tuanya pasti marah besar.
"****! lepas". Razan menarik tangannya lalu mundur dua langkah dari hadapan Nia.
"Ini juga peringatan buat yang lain! kalau ada yang berani ganggu Arsyila atau merusak kedamaian di sekolah ini, maka siap-siap untuk angkat kaki detik itu juga". Tegas Razan menghadap siswa/i yang ada didepannya lalu beranjak pergi dari sana menuju ruang BK.
"Sial!".
Sania mengumpat dalam hati, matilah riwayatnya hari ini. Orang tuanya sangat ganas jika menyangkut sekolah, namun jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam Sania merasa senang karna sebentar lagi hidupnya akan bebas dari tekanan.
"Ini semua gara-gara lo San!". Teriak Nia sambil menatap tajam Sania hingga mereka pun menjadi bahan tontonan.
"Bukannya lo yang minta bantuan ke gue?".
"Bantuan? bukanya selama ini gue yang selalu bantu lo buat balas dendam ke Arsyila??".
"Oh nyadar juga ya ternyata.." Sania terkekeh sinis. "Btw makasih ya, mungkin kalo gk ada lo gue akan sulit buat ngusik kehidupan Arsyila ya walaupun harus kena DO si tapi gk papa yang penting gue udah puas".
Plak
Suara tamparan di wajah Sania.
"Lo?!". Sania melotot.
"Dasar licik! gue nyesel temenan sama lo". Finish Nia lalu pergi dari sana.
"Udah bubar-bubar kembali ke kelas masing-masing!!!". Seru Aldo pada murid-murid yang masih menganga melihat Sania yang di tampar tadi.
Mereka semua pun bubar begitupun dengan Sania yang sudah bermuka masam, berjalan cepat menuju kelas sementara menunggu panggilan dari Razan.
____________
Di ruang BK.
Nia, Sania dan kedua orang tua mereka masing-masing sudah duduk rapi di dalam ditemani pak Malik serta Razan dan Cakra pun menyempatkan hadir atas permintaan dari putra kesayangannya itu.
"Maaf pak, buk.. Sesuai keputusan sekolah anak ibuk dan bapak sekalian terpaksa kami keluarkan karna sikap mereka sudah melewati batas dan mengganggu kenyamanan sekolah". Pak Malik mulai menjelaskan.
"Tapi pak. Apa yang telah anak kami lakukan sampai harus di DO???". Tanya Ibunya Nia, papanya tidak ikut karna sedang bekerja diluar negri.
"Mereka sudah mengganggu Putri disekolah ini, dan membuliy rekan sebayanya. Waktu lalu anak kalian hampir membuat Putri sekolah ini celaka dengan menenggelamkan dia di pantai dan tadi malam mereka kembali berulah. Saya rasa kesempatan yang sy berikan sudah habis, saya tidak ingin disekolah favorite ini ada murid yang tidak bermoral dan mencemarkan nama baik sekolah karna syarat masuk sekolah ini adalah harus menerima peraturan yang berlaku bukan berjalan sesuai keinginan sendiri". Kini Razan yang menjawab.
"Nia apa yang udah kamu lakukan ha? mama biayain kamu sekolah buat belajar bukan jadi anak liar! kamu gk kasian sama papa kamu yang sampe kerja ke luar negri cuma untuk sekolah kamuu??". Marah Cerliy ibunya Nia dengan wajah kecewa.
"Maaf ma..." Nia hanya bisa menundukkan kepala sambil menangis.
"Cakra? apa ini?? cuma karna Sania melakukan kesalahan pada Putri sekolah kalian, bukan berarti kalian bisa seenaknya dong ngeluarin anak saya!". Ujar Ayahnya Sania yang merasa tak terima.
"Iya Cakra, bukannya kita sahabat? lagipula gadis itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Sania, heran! kenapa bukan Sania yang menjadi Putri di sini dan malahan gadis kampung itu?". Sahut Endang.
"Stop! Jangan bandingkan gadis saya dengan putri anda yang tidak bermoral itu, jelas dia lebih baik dan lebih sempurna walaupun dia tidak sekaya anda tapi sekolah ini tidak akan apa-apanya jika bukan karna dia yang menjadi Princess". Razan menatap tajam dua pasutri itu.
"Apapun yang diputuskan oleh putra saya, akan saya ikuti. Mengenai bisnis kita, itu masalah pribadi dan tidak ada sangkut pautnya dengan sekolah. Siapapun yang bersalah maka akan tetap dihukum tanpa memandang anak siapa. Oh ya, Razan sudah saya jodohkan jadi berhenti berharap pada putra saya". Ujar Cakra mengetahui maksud mereka.
"Apaaa???!!!". Kaget Endang dan suaminya bersamaan lalu saling pandang. Razan yang melihat itu tersenyum miring, sedangkan yang lain hanya menjadi penonton karna tak mengerti dengan pembahasan mereka.
"Arrghh!". Papanya Sania sangat terlihat kesal lalu bangkit dan keluar dari ruangan itu.
"Ikut saya!". Bentak Endang pada putrinya lalu menyeret Sania keluar. Semua orang yang ada disana hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Pak kalau gitu kami pergi dulu, maaf atas perilaku putri sy sebelumnya... Permisi". Ujar Ibu dari Nia lalu ikut keluar dari sana.
"Makasih pa". Razan tersenyum ke arah Ayahnya.
"Apapun untuk putra kesayangan papa". Cakra ikut tersenyum.
"Kalau gitu papa mau langsung ke kantor, jam 11 ada meeting".
"Iya pa hati-hati".
Disisi lain...
"Memang anak gk ada guna! cuma disuruh ngambil hatinya Razan saja kamu tidak bisa!!". Endang menyentak kasar tangan putrinya itu.
"Ma! cukup!". Sania ikut berteriak diiringi nafas yang memburu. Terlihat jelas raut wajahnya yang nampak sudah lelah, entah beban apa yang selama ini ia tanggung sendiri dan kini waktunya ia melampiaskan semuanya.
"Kamu berani ya bentak saya!".
Plak!
Lagi-Lagi tamparan keras mendarat dipipinya hingga meninggalkan bekas kemerahan.
"Mama kenapa si jahat banget sama aku?? aku salah apa ma?! dari kecil mama gk pernah memperlakukan aku seperti anak pada umumnya. Yang kalian tau hanya uang! uang! dan uang! bahkan anak sendiri kalian jadikan alat untuk nenambahkan kekayaan kalian yang gk ada habisnya itu! ma?! apa harta kalian masih belum cukup? sampai kapan kalian akan kayak gini??? sadar ma! sadar!!!". Sania dengan emosi yang menggebu-gebu bahkan nafasnya sampai tersendat diiringi air mata yang sudah tumpah sedari tadi.
"Cih! Gk usah sok bijak! ingat ya! kamu, bukan anak saya jadi stop panggil saya mama. Kamu kira saya sudi ngasuh kamu?? kalau bukan karna papa kamu kaya, saya tidak akan nikah sama dia". Endang tersenyum miring.
Ya! Sania sudah piatu dari sejak ia lahir, ibunya meninggal waktu dirinya di lahirkan itulah sebabnya ayahnya tidak menyukai kehadirannya karna menganggap Sania lah yang telah memisahkan dirinya dari istri yang sangat ia cintai hingga pada saatnya ia menikah dengan Endang yang semulanya merupakan sekertaris pribadinya dan disanalah Sania mempunyai kk tiri laki-laki yang bernama Ardi, anak tunggal dari Endang.
"Dasar wanita gk tau diri! dasar jal*ng!".
Plak!
"Jaga mulut kamu ya! dasar anak pembawa sial!". Endang mengambil jeda lalu tiba-tiba terkekeh sinis. "Oh iya, pulang sekolah nanti langsung ambil barang-barang kamu dan keluar dari rumah sy karna ingat! semua warisan sudah diserahkan pada putra saya dan kamu tidak ada hak apapun lagi jadi...Selamat menjadi gelandangan Sania". Ujar Endang lalu pergi dari hadapan Sania menuju parkiran tempat suaminya menunggu.
"Hiks..." Sania menangis sejadi-jadinya sambil memegang sebelah pipinya yang terasa amat perih lalu berjalan meninggalkan area sekolah menuju suatu tempat yang selalu ia kunjungi kala merasa kesepian.
Kini Sania sudah tiba disana, lalu duduk bersimpuh di depan pusara Ibundanya yang bahkan ia tak pernah lihat wajahnya secara langsung. Tangis Sania kembali tumpah.. Rasa kesal, kecewa dan amarah bercampur menjadi satu.
"Maaaa Sania kangen mama, Sania capek hiks.....Gk ada yang ngarepin Sania hidup, bahkan papa lebih sayang anak orang lain dibanding putrinya sendiri ma.. Maaa Sania mau nyusul mama boleh ya?.."
Sani berbicara sendiri, lalu setelah bosan ia pun beranjak pergi dari sana tanpa tujuan yang jelas.
_____________
Malamnya, Arsyila pergi ke dapur untuk memasak air hangat agar sedikit meredakan rasa sakit diperutnya. Ia sendiri tidak tahu kejadian hot disekolah tadi karna dirinya tidak masuk sekolah di hari pertama uzurnya ini.
Karna gabut Arsyila pun berniat untuk menonton tv, disana juga sudah ada Adhira yang sedang menonton kartun boboboy sambil memakan cemilan.
"Dira belum tidur?". Tanya Arsyila pada adiknya itu. Ia dan Adhira sudah akrab sekarang tak seperti kemarin, kata Arsyila sih kesempatan tak datang dua kali jadi ia harus banyak bersosialisasi dengan adiknya ini.
"Belum kak, kayaknya aku insomania deh".
"Ha? Insomania?". Beo Arsyila sembari mengambil duduk di samping Adhira.
"Eh apa sih tu namanya yang sulit tidur". Adhira garuk-garuk kepala.
"Insomia".
"Iya! hehe". Antusias Adhira sambil cengiran lalu kembali melanjutkan tontonannya.
"Yaaaah sponsor".
"Sabarr".
Selamat malam permirsaa..
Sebuah kecelakaan yang terjadi di Jl. Hatta menewaskan seorang siswi yang masih mengenakan seragam SMA. Menurut informasi dari warga sekitar mobil yang dikendarai siswi tersebut menabrak mobil dam yang sedang mengangkut pasir dll...
"Innalillahi wa inna ilaihi rooji'un".
Ucap Arsyila dan Adhira bersamaan.
"Ya allah kasian banget.." Adhira dengan wajah simpati. Berbeda dengan Arsyila yang malah mencoba mengenali wajah gadis tersebut yang sedang ditampilkan di telivisi namun ditutupi oleh tubuh warga yang akan membopongnya hingga Arsyila sedikit kewalahan.
"Kayak kenal". Gumam Arsyila. Hingga beberapa saat tampilan berita itu akan selesai barulah Arsyila dapat melihat dengan jelas.
Arsyila terkejut dan spontan menutup mulutnya sambil menggelengkan kepala.
"Sania!".
"Temen kk?". Tanya Adhira dan Arsyila hanya membalasnya dengan anggukan. Ia pun langsung naik ke kemarnya untuk melihat informasi lebih luas lewat ponselnya.
Setelah menyalakan data ia segera membuka group instagram untuk melihat postingan sekolahnya dan benar saja berita terbaru Cakranegara malam ini menampilkan ucapan duka atas kepergian Sania namun saat menscrol ke bawah Arsyila melihat lagi berita update hari ini yaitu Sania dan Nia yang kena DO dari sekolah membuat Arsyila semakin terkejut.
"Di DO???" huh! ini pasti ulahnya kk Razan". Arsyila sungguh kesal setengah mati. Lalu ia pun membuka pesan whatsappnya untuk mencari kontak Razan namun sayangnya Razan sudah offline 5 jam yang lalu, sepertinya ia sangat sibuk.
"Ihhhh gk aktif lagi". Arsyila membanting ponselnya di kasur..
Malam ini perasaan Arsyila sangat kacau, ia tak menyangka semua ini akan terjadi begitu cepat terlebih saat melihat berita tadi hatinya ikut teriris karna kehilangan teman sebayanya meski mereka tak akur.
Arsyila merebahkan badannya dikasur untuk tidur namun matanya sangat sulit dipejamkan. Bagaimana tidak? perasaan dan pikirannya sedang berperang saat ini... Huh! Entahlah sepertinya Arsyila tidak tidur malam ini, ingin rasanya cepat-cepat pagi agar ia bisa bertemu dengan Razan dan memarahi ketua osisnya itu habis-habisan.
...*****...
Sorry up telat...ππ»π
Makasih yang udah nunggu, see youππ»π