Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Bag 79 ; Menunggu:)



...Happy Reading💓🔥...


...*****...


Sudah hampir dua minggu lebih Arsyila tertidur dengan damai. Bahkan tidak ada tanda-tanda dirinya akan membuka mata. Kadang nafas Arsyila sempat berhenti namun kembali berdetak seperti ditarik ulur, membuat Razan semakin merasa gelisah.


Radit yang mengetahui putrinya koma pun marah besar hingga memarahi Hera habis-habisan. Ia pun meminta izin pada pihak rumah sakit agar memindahkan putrinya itu ke rumah sakit besar yang ada di China agar dia bisa memantau Arsyila secara langsung. Karna tidak mungkin Radit meninggalkan pekerjaannya dan proyek yang ditawari para pembisinis disana yang ada perusahannya akan bangkrut dan pulang sia-sia.


Namun tentu Razan tidak setuju, dengan bantuan papanya dan bujukan dari Razan akhirnya Radit sedikit luluh dan mempercayakan sepenuhnya pada pihak rumah sakit. Dia hanya bisa memantau kondisi Arsyila dari kejauhan dan bertanya kondisi Arsyila lewat Razan karna hubungannya dengan Hera sedikit runyam.


Aydan?


Sejak Farah membawanya pulang ia bahkan sama sekali tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi.


Hera pun sudah tau mengenai hal ini begitupun dengan trauma yang Arsyila punya. Ia benar-benar terpukul, rasa kesal dan kecewa menyelimuti hatinya hingga kadang Hera tidak bisa tidur nyenyak bahkan selalu mengawasi Arsyila, memastikan jantung putrinya itu terus berdetak.


Tak jauh berbeda dengan Razan..Kini ia hanya duduk merenung di ruangan Andika dengan tatapan kosong seperti mayat hidup.


"Oy Zan, gk capek apa lu tiap hari kek gitu mulu kesurupan baru tau rasa lo". Cibir Andhika yang gagal fokus melakukan pekerjaannya karna melihat Razan seperti itu sejak dua minggu terakhir ini.


"Arsyila kapan sadarnya..Gue udah usaha buat jaga dia biar dia gk depresi dan jantungnya tetap aman kayak kata lu. Tapi ternyata percuma, dia memang udah ditakdirin nanggung ini semua". Ujar Razan ngambang.


"Itu udah kehendak Allah Zan, kita sebagai hamba hanya bisa ikhtiar dan tawakal". Andika menasihati.


"Tapi ini terlalu berat buat dia jalanin, dia itu cewek Dik".


"Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya".


Mendengar ceramah Andhika membuat Razan hanya bisa menghela nafas pasrah, namun tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan ada sebuah pesan masuk. Dahi Razan mengernyit membaca rangkaian pesan tersebut lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku dan segera bangkit dari duduknya.


"Eeh Zannn mau kemana????". Tanya Andhika keheranan.


"Ke luar bentar, ada urusan". Razan menoleh sekilas lalu beranjak pergi.


"Lah tu bocaahh".


____________


"Ada apa lo kemari??". Tanya Razan dengan wajah dingin.


"Gue cuma mau tau keadaan Arsyila".


"Cih. Setelah apa yang lo perbuat dan sekarang lo sok-sokan perduli??". Razan menatap sinis orang didepannya.


"Gue masih sayang sama Arsyila".


Razan mengambil nafas dalam-dalam mencoba meredam emosi yang tertimbun entah sejak kapan.


"Aydan....Aydan, lo gk ada jeranya ya, lo pikir Arsyila bakal mau nerima lo lagi ha??".


Ya! orang yang sedang berhadapan dengan Razan adalah Aydan, tadi ia nekat ke rumah sakit dan pergi tanpa sepengetahuan Farah dan suaminya. Padahal semua akses sudah ditutup termasuk fasilitas yang diberikan Herman agar Aydan tidak bisa menemui Arsyila, namun begitulah Aydan selalu punya seribu cara untuk menggapai apa yang ia mau.


"Lo pikir Arsyila bakal mau nerima orang baru lagi? kalaupun nanti sadar, dia pasti bakal trauma buat buka hati lagi". Aydan membombardir Razan dengan membalik pertanyaan yang diberikannya.


Darah Razan seketika mendidih mendengar ucapan Aydan barusan, meski benar namun rasanya ia sungguh tak terima jika sampai hal itu terjadi.


"BANGS*!!". Razan hendak melayangkan pukulan ke wajah Aydan.


"Pukul aja, jika itu bisa membuat semuanya kembali seperti semula". Ucap Aydan dengan pandangan lurus ke depan.


Pukulan Razan berhenti di udara, ia pun mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar lalu menarik tangannya kembali.


"Terus mau lo apa?!". Tanya Razan dengan sedikit emosi.


"Gue tau lo suka sama Arsyila, tapi lo juga harus tau kalo gue itu egois...Gue gk bakal semudah itu buat ngelepas orang yang udah berhasil nempetin hati gue".


Razan menatap ke arah lain dengan nafas yang berhembus kacau. Melihat keterdiaman Razan, Aydan pun melanjutkan ucapannya.


"So gue kesini mau buat kesepakatan sama lo".


Razan menoleh ke arah Aydan dengan wajah datar.


"Apa?".


"Selama semester satu ini, gue bakal cuti dari sekolah dan ngejalanin hukuman dari orang tua gue, kesempatan lo buat deketin Arsyila pasti lebih banyak. Kalo selama semester ini Arsyila masih belum moveon dari gue dan nutup hati buat orang lain, lo harus jauhin Arsyila dan biarin gue milikin dia lagi. Tapi jikalau yang terjadi malah sebalikanya gue bisa apa?...Bagaimanapun juga gue gk bisa paksain hati Arsyila buat suka lagi sama gue dan kalau lo berhasil ngambil hatinya Arsyila gue yang bakal mundur, gimana? lo setuju?".


Razan terdiam..Sepertinya kali ini tawaran Aydan cukup bagus. Tapi, bagaimana kalau dia tidak bisa mengambil hati Arsyila? apa dia akan rela membiarkan Arsyila kembali disakiti Aydan? tentu saja jawabannya tidak.


Razan berfikir kembali, kalau dia menerima tawaran Aydan dan menang tentu saja ini sebuah keberuntungan karna dirinya tidak lagi memiliki saingan yang berat. Masalah hati biar tuhan yang atur pikir Razan lalu setelahnya mengambil keputusan yang pasti.


"Oke gue setuju!".


"Deal!". Aydan menyodorkan tanganya untuk membuat salam perjanjian namun Razan hanya melirik uluran tangan itu tak acuh lalu bangkit dari duduknya.


"Gue masuk dulu, sebaiknya lo pulang dan jadi anak yang taat". Razan dengan mulut pedasnya lalu pergi dari hadapan Aydan.


"Heh. Liat aja, Arsyila akan kembali jadi milik gue". Gumam Aydan lalu ikut pergi.


___________


Razan berjalan di lorong dengan wajah yang suram, kata-kata Aydan tadi masih berputar di benaknya.


Ia pun mempercepat langkahnya menuju ruangan Arsyila yang sudah dipindahkan ke ruangan VIP. Jadi yang bisa masuk sangat terbatas. Sebagian kerebat dekat Arsyila sudah kembali ke rumah masing-masing begitupun dengan nenek dan kakeknya namun setiap pagi neneknya akan selalu datang melihat cucu Kesayangannya itu bahkan menginap di rumah Hera yang letaknya lebih dekat dari rumah sakit.


Hera pun sudah izin untuk tidak mengajar selama dua minggu lebih untuk memantau kondisi Arsyila setiap pagi bersama ibunya itu dan pulang jam 3 sore, sedangkan Adhira tidak mungkin bisa ikut karna fulltime belajar.


Seperti sekarang ini, Razanlah yang leluasa menjaga Arsyila bahkan menginap dirumah sakit dan ikut meliburkan diri dari sekolah.


Dengan hati-hati Razan membuka pintu ruangan Arsyila lalu masuk dengan wajah sendu. Di brangkar nampak tubuh Arsyila yang sedang berbaring dengan mata yang masih tertutup, Razan pun segera mendekat lalu duduk disamping Arsyila yang sedang tertidur pulas.


"Syil...Lo kapan sadar?? gue capek tau liat lo gini terusss". Keluh Razan seorang diri.


"Syil tau gk? tadi tu Aydan dateng terus katanya pengen ngambil lo lagii. Lo bener-bener goblok Syil kalo sampe mau balikan sama dia. Masa iya gue yang capek berjuang terus dia ambil enak doang! gue nunggu ampe jamuran terus lo malah milih orang lain, tega banget sih lo Syil!".


Razan melampiaskan kekesalannya yang belum tuntas tadi. Setiap keruangan Arsyila pasti dia akan curhat terlebih dahulu meski Arsyila tak dapat mendengarnya. Begitulah sisi lain Razan, kadang emang agak garing:).


Andaikan Arsyila sadar pasti saat ini dia sudah tertawa lepas melihat komuk Razan. Razan kembali memperhatikan wajah damai Arsyila, rasanya Arsyila terlihat mudah digapai jika dalam kondisi begini.


Namun tiba-tiba monitor ICU yang tadinya bersuara lambat mulai terdengar aneh ditelinga Razan, ia pun melihat layar monitor tersebut dan melebarkan matanya kala melihat angka HR yang mulai menurun. Razan pun segera meraih telpon genggam yang berada di atas nakas dan segera menghubungi Dokter.


Tak lama Dokter pun tiba dan mulai melakukan pemeriksaan, Razan tidak keluar dan malah ikut melihat melihat Arsyila yang sedang diperiksa.


Memang ini bukanlah kali pertama dia melihat Arsyila seperti ini namun tetap saja rasa takut dan khawatir tetap menghinggapi hatinya.


"Ya tuhan selamatkan Arsyila..." Gumam Razan sambil terus melafalkan do'a-do'a yang masih bisa ditangkap akalnya.


"Jantung pasien melemah, dan sempat mengalami henti nafas namun untungnya pasien masih bisa diselamatkan". Jelas Dokter senior. Razan ikut bernafas lega.


"Terima kasih Dok". Ucap Razan.


"Sama-Sama".


"Ngomong-Ngomong kapan Arsyila sadar? apa dia akan terus begini?". Tanya Razan dengan wajah panik bin pasrah. (bayangkan saja rupanya).


"Saya tidak tahu pasti, akan tetapi jika dilihat-lihat pasien sepertinya tidak ingin terbangun dan lebih memilih berada di alam bawah sadarnya karna dia tidak mendapat dorongan yang memaksanya untuk terbangun.."


"Kalau begitu saya permisi dulu.." Dokter tersebut sedikit menunduk seperti memberi hormat begitupun dengan beberapa perawat tadi lalu berjalan keluar ruangan meninggalkan Razan sendiri bersama Arsyila di dalam.


Razan kemudian kembali mendekat ke brangkar Arsyila dan mengelus pelan kepalanya yang masih tertutup hijab..


"Syil gue masih nunggu lo bangun, gue pergi solat dulu ya.." Ujar Razan saat mendengar azan magrib dikumandangkan lalu bergegas menunaikan kewajibannya.


____________


Malamnya Razan kembali melihat kondisi Arsyila, malam ini dia sudah bertekad untuk bergadang menjaga Arsyila.


"Syil, udah lama lo tiduran..Emangnya lo gk rindu ya berantem sama gue???". Tanya Razan pada angin:)


"Gue Farrel, pacar masa kecil lo..Walaupun kita gk jadian si tapi gue gk mau cuma lo anggap temen apalagi musuh bebuyutan lo, lo sih gk pekaan". Ujar Razan random.


Drrrt Drrrt Drrttt


Ponsel Razan bergetar tanda panggilan masuk karna nada deringnya sudah ia nonaktifkan. Tertera kontak Yana di layar.


"Hallo Assalamu'alaikum bang Razan...Gimana keadaan kk Arsyila? udah siuman belum??". Sembur Yana langsung saat Razan mengangkat panggilannya.


"Belum". Jawab Razan singkat.


"Hmmm bang, adek kesana ya? mau liat kk Arsyila. Kak Kayla juga katanya mau ikut".


"Gk!". Tolak Razan.


Ya, semenjak Arsyila dipindahkan ke ruangan VIP ICU penjagaan Arsyila benar-benar ketat. Teman-Teman Arsyila yang ingin menjenguk saja tidak diberikan izin untuk melihat kondisinya.


"Ck! Abang jeleeekk". Kesal Yana.


"Bodo amat".


Tuuutt


Razan mematikan telponnya sepihak.


"Huh! ngapain ya..." Razan bingung harus melakukan apa.


"Mandangin wajah lo kalik ya...Kapan lagi kan bisa mandang lo lama-lama, kalo lo melek mah pasti udah kena tabok gue". Ucap Razan sembari terkekeh kecil.


Bosan dengan aktifitasnya Razan pun merogoh celananya untuk mengambil ponselnya lalu membuka aplikasi game cacing yang ada di sana.


"Nah main game gini kan asyik".


Mending ML atau FF kan ya guys..Ini mah Game cacing:(


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 2:36 menit, masih dengan posisi yang sama namun kini Razan sedang memainkan gamenya sambil rebahan di sofa yang letaknya dekat dengan posisi brangkar Arsyila.


Karna terlalu lama dipakai bermain game ponsel Razan jadi demam dan batrenya sudah sekarat. Ia pun berjalan menuju nakas untuk mencharger HP nya, namun samar-samar ia mendengar eluhan kecil dari mulut Arsyila membuat Razan dengan sigap berbalik lalu mendekat ke arahnya.


Bulu matanya yang lentik mulai bergerak membuat harapan Razan yang tadinya redup perlahan hidup.


"Syil...Lo udah bangun???".


Tanpa bertele-tele Razan pun segera memanggil Dokter tak terkecuali Andhika, dan untungnya Dokter tiba dengan cepat.


"Tuan, bisa menunggu diluar sebentar?? kami akan memberikan informasi mengenai pasien nanti. Mohon maaf atas kelancangannya". Ucap sang Dokter sesopan mungkin.


"Baik, saya menghargai profesi anda". Jawab Razan mengikuti saran Dokter lalu berjalan keluar.


"Udah bangun??". Andika datang dari ruangan kerjanya.


"Iya, Dik gue seneng banget.." Aku Razan dengan perasaan yang sulit digambarkan.


"Alhamdulillah..Apa kan gue bilang, makanya lu jangan ngeraguin taqdir tuhan". Sindir Andhika.


"Hehee". Razan hanya cengiran.


"Terus orang tuanya udah lo kabarin?".


"Besok pagi aja..Gk baik ganggu orang dijam tidur, kalo om Radit kayaknya bisa gue telpon langsung soalnya pasti jam segini masih kerja tapi tunggu kepastian dari Dokter dulu".


"Ooh ogeey".


Tak berselang lama Dokter pun keluar dari dalam ruangan Arsyila membuat Andhika dan Razan serentak menoleh.


"Gimana Dok???". Tanya Razan.


"Alhamdulillah, Pasien sudah benar-benar siuman. Tapi..." Ucapan sang Dokter berjeda.


"Tapi apa Dok???". Tanya Razan penasaran.


"Mengenai kondisi detak jantungnya masih seperti biasa, jadi pasien harus tetap diawasi".


"Baik Dok...Apa boleh saya masuk??". Razan tak sabaran.


"Silahkan".


"Dik! telpon om Radit". Razan menepuk kecil pundak Andhika lalu masuk seorang diri.


"Hadeeeehhh....Dasar bucin akut".


Cibir Andhika lalu segera melakukan perintah Razan.


...*****...


Guys di tempat kalian ujan angin gk si??? ini udah jam 00:25😲


DUUUH tangan pegel😭


See you next time guuuysss👋🏻🔥💓