
...Part panjang🌝🌧...
...Happy reading💓🔥...
...*****...
Hari-Hari pun silih berganti namun Arsyila dan Aydan semakin dekat saja hingga siapapun yang melihat mereka mungkin akan langsung memberikan stempel pasangan gold.
Namun bukankan jika terlalu sering bersama bahkan tiada hari tanpa si dia akan mengurangi rasa rindu dan mungkin rasa penasaran di antara mereka pun sudah tidak ada lagi.
Begitulah yang dirasakan Aydan saat ini. Jika Arsyila yang setiap hari bertambah nyaman namun berbeda dengan Aydan yang merasa biasa saja, bahkan akhir-akhir ini ia merasa hari yang ia lewati sama saja. Tidak ada yang istimewa.
Pagi ini seperti biasa Aydan mengantar Arsyila menuju kelasnya terlebih dahulu. Namun anehnya..
Mengapa ia merasa hal yang dia lakukannya saat ini adalah sia-sia. Mengapa ia harus repot-repot mengantar Arsyila ke kelasnya setiap pagi? padahal Arsyila bukan anak kecil lagi. Pertanyaan Itu terus berputar dalam benak Aydan.
Hingga akhirnya mereka berdua pun berhenti di depan kelas dengan tulisan "X Agama I".
"Makasih ya Dan.." Arsyila tersenyum.
Aydan hanya mengangguk dengan senyum yang terlihat dipaksakan. Lalu pergi dari hadapan Arsyila dengan langkah gontai.
"Aydan kok mukanya kayak gk mood gitu.." Arsyila merasa aneh. "Mm dahlah mungkin dia masih capek". Arsyila berpositif thingking lalu setelahnya masuk me dalam kelas.
Beruntung..Tak lama, bel masuk berbunyi hingga para murid kembali ke tempat duduk masing-masing untuk menunggu guru datang.
"Arsyila ni buku tugas lo". Arsyila menghadap ke belakang dan melihat Ririn yang sedang membagi-bagikan buku tugas yang dikumpulkan kemarin.
"Makasih Rin". Arsyila mengambil buku tugasnya seraya tersenyum.
"Masama". Balas Ririn.
Saat hendak kembali menghadap depan, Arsyila tak sengaja melihat Intan yang duduk sendirian di kursi pojokan sambil membaca buku. Sedangkan teman-temannya bercanda ria di depannya. Ia seperti dikucilkan.
Arsyila sempat teringat dengan dirinya yang juga pernah ada di posisi itu. Sangat tidak enak, Arsyila jadi merasa sedikit kasihan pada Intan. Tak mau berlarut Arsyila akhirnya kembali menghadap depan dan memeriksa nilai tugasnya.
Namun tiba-tiba bayangan tubuh seseorang nampak mendekat ke arah Arsyila yang tak lain adalah Intan yang sudah mengambil duduk di samping Arsyila. Arsyila menoleh.
"Syil boleh ajarin gue gk?". Intan menyodorkan buku paket bertuliskan : Bimbingan Bahasa Arab II.
"Oh insya allah..Mau di ajarin bab berapa? jangan jauh-jauh ya soalnya aku belum baca hehe".
Intan tersenyum lega, beruntung Arsyila menerimanya dengan baik.
"Yang bab 3 aja".
"Oh ini..Kebetulan aku udah terjemahin qissohnya".
"Lo yang baca ya, biar gue dobit".
"Okey".
Disisi lain
"Lo kenapa loyo-loyo gitu?". Tanya Devan pada Aydan. Sejak tadi Aydan hanya sedikit berbicara dan lebih memilih menidurkan kepalanya di atas meja sembari menunggu guru datang.
"Tadi malam gue gadang".
Aydan beralasan. Padahal jelas-jelas dirinya tidur lebih awal daripada biasanya.
"Freecall kan lo". Sahut Alzam lalu terkekeh.
"Gk".
"Trus lo ngapain?". Tanya Devan lagi.
"Main game".
"Sejak kapan lo suka main game? biasanya lo lebih suka ngebucin". Sindir Devan.
"Gk tau".
Jawab Aydan singkat. Ia tak ingin memusingkan diri mencari alasan untuk menjawab rasa penasaran sahabatnya. Jangan sampai mereka berdua tau perasaan aneh yang Aydan rasakan saat ini karna ia tau betul kedua sahabatnya ini sangat menyayangi Arsyila.
"Lo lagi ada masalah sama Arsyila?". Devan mencoba menebak. Aydan hanya diam, tak tau harus menjawab apa.
"Bu guruuu..Bu guru".
Suara ribut murid-murid di kelas itu melihat kedatangan Guru Biologi di jam pertama mereka.
Aydan bernafas lega, akhirnya ia selamat dari pertanyaan Devan dan tidak perlu merepotkan dirinya untuk menjawab.
"Baik anak-anak silahkan berdoa dulu, ibu mau keluar sebentar".
Anak IPA 1 pun serentak berdoa namun berbeda dengan Alzam yang malah menyusun ide jahilnya.
"Van, Dan..Bolos yuk!". Ajak Alzam.
Fasalnya ia tidak suka dengan pelajaran Biologi apalagi gurunya itu sangat suka menyuruhnya maju menjawab soal.
"Gila lo! ntar kalo kita dihukum gimana?". -Devan.
"Ya paling cuma keliling lapangan".
"Iya kalo gk ketahuan OSIS, kalo diliat sama Razan gimana??".
"Lo tenang ajaaaa ntar gue sogok pake Arsyila". Alzam refleks menutup mulutnya melihat tatapan tajam yang diberikan Aydan.
Sisi posesif dalam diri Aydan masih melekat ternyata.
"Hehe becanda". Cengir Alzam.
Alzam tak sengaja melihat jendela yang terbuka dari balik punggung Aydan biasanya jendela itu terkunci rapat. Sepertinya ada murid nakal yang sengaja bolos lewat sana dan membuka paksa jendela tersebut karna kelas IPA 1 yang paling dekat dengan jalan.
"Nahhh itu jendela!". Heboh Alzam saking senangnya. Semua murid di kelas itu menoleh ke arahnya.
"Begooook". Devan menyumpel mulut Alzam dengan robekan kertas.
"Hffft fuihhh". Alzam mengeluarkan kertas tersebut dari mulutnya. "Temen laknat!".
"Lagian ngapain si kita bolos, ini sekolah mahal Zam...Kamar mandinya aja kek hotel mending bolos ke sana aja daripada sia-siain badan buat dihukum". Ustadz Devan berfatwa.
"Ooo kita nongkrongnya di kamar mandi gituu??". Kesal Alzam.
"Bisa si, kalau mau buang air kan bisa langsung di tempat".
"Anjeeer".
"Ayok sebelum buk Guru datang".
Aydan tiba-tiba berdiri membuat kedua sahabatnya mendongak menatapnya.
"Kemana?". Heran Alzam.
"Bolos, gue lagi gk mood belajar".
"Ke kamar mandi, lo serius?". Kaget Devan yang mengira Aydan menyetujui usulannya.
"Ck lewat jendela".
Balas Aydan lalu membelakangi keduanya dan berjalan menuju jendela dekat tembok.
"Wanjjay tuh bocah ternyata diem-diem". Alzam geleng-geleng kepala lantas mengikuti Aydan disusul Devan namun sebelumnya ia harus menyuap teman kelasnya terlebih dahulu.
"Guyss awas ya kalo ada yang ngelaporrr, inget yang kicep bakal ada traktiran dari Aydan!".
"Gue lagi..Gue lagi". Gerutu Aydan, ia selalu di jadikan bahan suapan oleh Alzam.
"Yeeees!".
"Siip"
"Ok Broo bila perlu bolos aja tiap hari biar gue gk bawa uang jajan". Dll.
"Ayok cepet Dan manjat!". Seru Alzam.
Baru saja sebelah kaki Aydan menggapai kayu vertikal dari jendela tersebut, tiba-tiba suara teriakan dari Buk Ratna mengagetkan mereka bertiga.
"Heh! mau kemana kalian?!".
Alzam yang sedang menopang tubuh Aydan pun spontan melepas tangannya hingga membuat Aydan tersungkur ke lantai dan sontak membuat murid-murid di kelas itu menertawai mereka.
Buk Ratna berjalan mendekat ke arah mereka lalu menjewer telinga Devan dan Alzam yang masih berdiri sambil menggiringnya menuju ke depan. Aydan pun ikut berdiri sambil mengusap-usap bokongnya yang terasa sakit mengikuti orang-orang di hadapannya.
"Nah kalian bertiga berdiri di sini sampai jam saya habis!". Perintah buk Ratna pada Devan dkk yang sudah berdiri mematung sambil mengangkat sebelah kakinya di depan papan tulis.
"Baik buuk". Jawab mereka pasrah.
______________
Bel pulang berbunyi..
Arsyila berjalan sendiri menuju parkiran, namun di tengah perjalanan HP nya bergetar pertanda ada massage masuk.
From : Aydan Rabbaniy💬
Syil gue ada kelas basket sekarang lo bisa pulang sendiri kan?.
Arsyila sempat terkejut membaca pesan yang dikirimkan Aydan. Tidak biasanya Aydan memintanya pulang sendirian, kalaupun ia sedang ada kelas..Arsyila akan tetap diminta menunggu di mobil. Namun tunggu..
"Bukannya jadwal kelasnya Aydan besok ya?". Seingatnya Aydan punya jadwal di hari sabtu yaitu besok sore. Arsyila lalu mengetikkan balasan.
Bukannya jadwalnya besok?
Tak lama Aydan menjawab pesan Arsyila.
💬Itu beda, ini latihan buat pemantepan tim basket sama pak Vian
Oh iya..Kamu semangat mainnya💓
💬Makasih😊
"Kok aku ngerasa ada yang aneh ya?..Hm mungkin perasaan aku aja".
Gumam Arsyila lalu lanjut berjalan, ia harus tetap berfikir positif agar hatinya tetap aman.
"Loh Syil??".
Sapa Alzam yang sedang menggiring motornya keluar dari parkiran dengan Devan yang berada di jok belakang. Ia pun menghentikan motornya kala melihat perawakan Arsyila yang kebetulan berjalan sejalur dengannya.
"Katanya ada kelas basket". Jawab Arsyila jujur.
"Hah??". Devan dan Alzam saling pandang.
"Kelas basket apaan??". Heran Alzam.
"Lah kok kalian gk tauu? bukannya Aydan lagi ada latihan sama pak Vian? tuh mobilnya masih ada". Tunjuk Arsyila pada mobil milik Aydan yang masih terparkir rapi.
Perasaan tadi si Aydan pamit duluan karna mau jemput Arsyila deh
Batin Alzam.
Tanpa mereka sadari orang yang sedang mereka bicarakan saat ini yaitu Aydan ternyata sedang bersembunyi di balik tiang. Sejak tadi ia mengintip Arsyila dan memastikannya sudah benar-benar pulang. Entah, saat ini perasaannya semakin tak karuan. Jadi ia berfikir mungkin dengan tidak pulang bersama kali ini akan membuat perasaannya normal seperti biasa.
Namun saat melihat wajah kebingungan mereka Aydan terpaksa keluar dari persembunyiannya dan menghampiri mereka bertiga.
"Sorry telat, tadi gue abis ke toilet". Ujar Aydan bertujuan menghilangkan kecurigaan sahabatnya lalu menarik Arsyila untuk masuk ke dalam mobil. Arsyila makin dibuat bingung namun tetap mengikuti langkah Aydan yang menyeretnya.
"Terus maksud Arsyila main basket tadi apa??". Devan bertanya pada Alzam.
"Mungkin Arsyila lupa kalik, dahlah bodo amat urusan mereka". Ujar Alzam lalu menyalakan kembali motornya dan keluar dari area parkiran.
"Bukannya kamu lagi ada kelas? tapi kok Devan sama Alzam gk tau?". Tanya Arsyila saat mereka sudah berada di dalam mobil. Ia sengaja bertanya seperti itu untuk mendengar alasan-alasan Aydan berikutnya.
"Mm tadi pak Vian bilang kalo latihannya cancel".
"Oh".
"Iya".
Hening.
Percakapan mereka berhenti sampai sana hingga jarak mereka dengan area sekolah pun sudah lumayan jauh.
Kini yang ada hanyalah bunyi kendaraan yang mengisi telinga masing-masing. Entah karna Aydan yang malas berbicara atau Arsyila yang tidak tau mau membahas apa.
"Dan, pinjem HP". Ujar Arsyila memecah keheningan ia tiba-tiba merasa overthingking. Perkataan Alzam yang mengatakan Aydan selingkuh waktu lalu pun kembali ia ingat padahal jelas-jelas waktu itu Alzam sedang bercanda.
"Ambil aja, aku lagi nyetir". Jawab Aydan namun pandangannya masih lurus ke depan.
Arsyila lalu menggapai ponsel Aydan lalu menyalakan layarnya, namun ada yang aneh..Ponsel Aydan memiliki sandi. Tidak biasanya manusia mageran seperti Aydan mau repot-repot membuka kunci layar bahkan ponsel Arsyila pun sampai saat ini tidak memakai sandi ataupun pola karna larangan dari Aydan.
"Dan..Kok kamu make pola, tumben?".
"Iya, soalnya Alzam suka kepo sama chat kita makanya aku lock". Aydan beralasan dengan menjadikan Alzam sebagai kambing hitam.
"Oh kirain.."
"Jangan mikir yang macem-macem..Lagian walaupun aku lock juga kamu bebas buka".
"Oh iyaya hehe..Terus password nya apa?".
"Vaine, pakek -V-".
"Kok lucu, pasti kamu asal-asalan tuh kasih sandi".
Ujar Arsyila sambil terkekeh. Ia mengira bahwa Aydan hanya mengarang, ia tidak tau kalau Vaine adalah kata yang di ambil dari bahasa prancis yang berarti 'Sia-Sia'.
Kunci terbuka menampakkan layar utama yang masih terpampang poto mereka berdua saat di Wahana Arvaqie sebagai wallpaper dekstop ponsel Aydan.
Arsyila tersenyum melihat foto itu lalu setelahnya membuka fitur Whatsapp.
Arsyila melihat ada beberapa chat dari cewek yang terlihat ingin pdkt dengan Aydan. Namun Aydan tak membalasnya, pesan-pesan itu malah ia arsipkan. Setelah puas melihat pesan-pesan di whatsapp ia beralih ke galeri dan ternyata cuma ada sedikit foto di sana.
Arsyila lalu membuka sekumpulan foto yang diberi nama 'My Girl' itu dan melihat beberapa fotonya di sana yang masih Aydan simpan.
Arsyila makin terbawa perasaan lalu menoleh ke arah Aydan sebentar sambil terus tersenyum.
"Kenapa senyum-senyum gitu?". Tanya Aydan ikut menoleh sekilas ke arah Arsyila.
Arsyila menggeleng lalu kembali melihat foto-foto yang Aydan simpan satu persatu.
Ia lalu membuka bagian foto yang diberi nama "My Family". Disana ada sedikit foto Aydan, Farah dan Herman itupun foto bersama. Arsyila tidak menggesernya ke bawah, ia mulai melihat foto-foto itu dari atas. Saat menggeser foto terakhir Arsyila sedikit terkejut dengan foto seorang gadis yang terlihat memakai seragam SMA dan memakai hijab seperti dirinya namun anehnya gadis itu terlihat familiar di mata Arsyila.
"Loh..Kok aku kayak kenal, ini kayak rupanya..
Aydan yang tak sengaja melihat ke arah ponselnya lantas melebarkan bola matanya. Dengan gerak cepat Aydan merebut ponsel itu dari tangan Arsyila lalu menghapus poto tersebut. Arsyila terkejut.
"Kok di ambil sih! siniin hp nya".
Arsyila berusaha menggapai ponsel Aydan.
"Gk ada yang penting Syil".
"Terus kalo gk penting kenapa handponnya di ambil? apa jangan-jangan cewek yang tadi selingkuhan kamu ya??!".
"Bukann, itu poto sepupu aku".
"Sepupu? sejak kapan? kok aku gk tau?". Tanya Arsyila beruntun.
"Sepupu jauh, gk semuanya kamu harus tau Syil..Masa iya nenek moyang aku kamu tau juga".
"Oo gituu ya, kalo gitu berhentiin mobilnya sekarang".
"Maksud kamu apaan si?".
"Stop! atau aku turun sendiri pake lompat". Sepertinya Arsyila benar-benar emosi, alasan Aydan sangat tidak masuk akal ia jadi yakin dengan perkataan Alzam waktu lalu.
Aydan akhirnya mengalah lalu menepikan mobilnya.
Arsyila mengelap air matanya yang sudah mengucur deras entah sejak kapan.
Ia pun tanpa aba-aba membuka pintu mobil saat merasakan mobil sudah benar-benar berhenti.
Namun Aydan denga gerak cepat meraih tangan Arsyila.
"Syill mau kemana, kita selesain bareng-bareng..Kamu salah faham".
Arsyila menoleh lalu menghempas kasar tangan Aydan.
"Salah faham apa?? alasan kamu gk masuk akal Dan! sepupu jauh darimana? terus kalo sepupu jauh kenapa pake kamu simpen segala potonya haa??!".
Aydan mengumpati dirinya dalam hati. Bisa-Bisanya ia tidak berfikir sampai sana. Padahal tujuan utamanya mengunci layar ponselnya agar Arsyila tidak bisa bebas membuka ponselnya namun sayangnya ia terlalu lalai.
"Itu poto SMA dia satu-satunya Syil, dia nitip kemarin soalnya hp nya mau di reset".
Laki-laki emang banyak akal namun insting wanita tetap tidak terkalahkan.
"Gk mungkin! terus kenapa tadi kamu keliatan panik gitu sampe ngehapus segala?". Arsyila masih tidak percaya.
Aydan diam tidak tau harus beralasan apalagi.
"Cih! aku emang udah ngerasa dari awal kalo kamu cuma becanda, gk serius sama aku".
Arsyila lalu turun dari mobil membiarkan Aydan yang hanya diam menatapnya. Aydan panik lalu segera turun menyusul Arsyila. Baru kali ini ia melihat Arsyila semarah ini.
"Syil Syil please jangan kek gini, balik ke mobil ya". Bujuk Aydan saat berhasil menggapai lengan Arsyila. Untungnya mereka berhenti di jalan yang lumayan sepi.
"Lepas! aku pulang sendiri".
"Jangan gila Syil, rumah kamu masih jauh".
"Lebih gila lagi kalau aku sama kamu".
"Please lah Syil..Jangan kek anak kecil ginii". Aydan membujuk.
"Anak kecil???". Arsyila lalu tertawa garing, tawa yang menyeramkan di mata Aydan.
"Syil..Aku mohon please percaya sama aku".
"Apa yang harus aku percaya Dan?? udah jelas-jelas kamu nyimpen poto cewek di ponsel kamu siapa lagi kalo bukan selingkuhan kamu? sepupu? aku gk sebodoh itu Dan.
"Sy-
"Kalo memang kamu udah gk ada rasa, lepas aja Dan..Aku gk maksa kamu buat tetep tinggal. Buat apa kita sama-sama tapi hati kamu udah jadi milik orang lain?".
Arsyila diam sejenak untuk mengambil nafas, dadanya terasa sesak saat mengungkapkan kalimat itu. Ia memang tidak sungguh menginginkan itu, tapi jika sebelah pihak sudah tidak memiliki rasa yang sama lagi..Lantas untuk apa dipertahankan? ibarat menggenggam tangan yang sejatinya ingin di lepas.
Aydan yang mendengar itupun tanpa sadar meneteskan air matanya, pasalnya perkataan Arsyila barusan sangat mengena di hatinya. Ia tidak ingin melepas Arsyila dan perasaan tak ingin kehilangan itu pun masih ia rasakan.
Arsyila mengusap kasar air matanya, melihat Aydan yang hanya diam menatapnya membuat Arsyila melanjutkan perkataannya, melampiaskan apa yang ia rasa.
"Aku sayang sama kamu Dan, bahkan aku sering berfikir gimana kalau kamu sampai ninggalin aku apa aku akan sanggup?? sedangkan aku ngerasa kamu orang yang paling dekat dan paling ngertiin aku tapi nyatanya?? bahkan cuma kamu yang paling tau tentang aku tapi kamu sendiri yang buat aku ngerasa minder..Apa aku-
Grep
Ucapan Arsyila terpotong kala Aydan tiba-tiba mendekap tubuhnya. Arsyila syok.
"Gue sayang sama lo Syilll jangan ngomong gitu!! gue cuma bingung sama perasaan gue sendiri yang sering berubah. Gue gk mau lo pergi gue sayang looo".
Ujar Aydan histeris dengan air mata yang terus mengalir deras di pipi tirus miliknya. Arsyila tak terlalu dapat mencerna perkataan Aydan barusan karna masih syok dengan Aydan yang tiba-tiba mendekapnya.
"Dan..Lepas!". Arsyila mencoba melerai pelukan Aydan. Namun dekapan Aydan terasa semakin erat. Aydan sepertinya sudah kehilangan akal karna yang ia rasakan saat ini hanyalah rasa takut akan kehilangan Arsyila.
"Dan aku mohon..Lepas!".
"Jangan tinggalin aku Syiil hiks..Aku gk bohong sama kamu, kamu bisa tanya mama".
Mendengar nama 'mama' disebutkan membuat Arsyila berfikir kembali. Tidak mungkin kan Aydan akan sampai berani memintanya bertanya pada ibunya? pikir Arsyila. Namun satu hal yang ia tidak tahu bahwa Farah sudah tau semua tentang putranya dan bisa saja membantu Aydan berbohong agar Arsyila percaya kalau foto gadis yang ia lihat tadi adalah sepupu jauh Aydan.
"Okey kali ini aku percaya, tapi aku mohon lepasin".
Aydan yang mendengar itupun merasa sedikit lega lalu perlahan melepas pelukannya.
"Aku mau ngomong sama tante".
Aydan mengangguk antusias.
"Kita balik ke mobil ya?".
Arsyila mengangguk. Aydan yang melihat itu tersenyum senang lalu menarik tangan Arsyila menuju mobil.
...******...
Gimana-Gimanaa? kira-kira kisah mereka bakal berlanjut atau langsung berganti peran?? Xixixi😁