Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Bag 60 : Don't Cry:(



...~Aku hanya manusia biasa namun diperlakukan layaknya bisa menanggung semuanya....~...


Sudah tiga hari ini Adhira dirawat di rumah sakit dan sedang mengalami fase koma.


Kesehariannya, Arsyila hanya memasak untuk orang-orang yang menjaga Adhira termasuk keluarga besarnya pun kumpul di sana lalu setelahnya diam di rumah melakukan hal yang ia bisa lakukan sendiri.


Hanya di rumah artinya Arsyila juga tidak pergi ke sekolah selama tiga hari ini, dengan alasan menjaga Adhira yang sakit.


Karna bosan berbaring di kamar, Arsyila akhirnya turun ke bawah untuk mengganjal perutnya yang terasa lapar.


Ia pun menuruni tangga dengan langkah gontai, namun atensinya teralihkan saat mendengar suara pintu yang di ketuk dari arah luar.


"Sebentar". Sahut Arsyila malas-malasan. Dengan segera ia berjalan mendekat ke arah sumber suara.


"Kak Razan!".


Arsyila terkejut saat membuka pintu dan menemukan Razan yang sudah berdiri tegap menunggunya. Tiba-Tiba Razan menyodorkan sebuah kertas yang dibungkus amplop kepada Arsyila. Dahi Arsyila berkerut pertanda bingung.


"Ha? ini apa?".


"Surat peringatan karna lo udah absen selama tiga hari berturut-turut.


"Tapi kan aku udah izin!". Arsyila membela diri.


"Izin tidak di terima kecuali kalo lo sendiri yang sakit".


Darah Arsyila mendidih seketika. Mengapa pulak pagi-pagi begini ia harus di datangi oleh manusia paling menyebalkan seperti Razan.


"Nih ambil". Razan memaksa.


Arsyila pun mengambil kertas itu dengan kasar lalu membukanya. Mata Arsyila melotoot membaca pemberitahuan yang tertulis di sana.


"Wahhh parah paraah..Ini pasti kk Razan yang ngetik ya!". Arsyila menatap garang ke arah Razan.


"Iya lah..Knp? lo gk terima?".


"Ya jelas lah! masak iya cuma bolos tiga hari ancamannya di Dis dari sekolah? peraturan macam apa ini?!".


Arsyila berkacak pinggang. Ia terlihat sangat kesal membuat Razan menyeringai puas. Memang itulah tujuan Razan kesini, untuk membuat pertengkaran dengan Arsyila. Sedari kemarin ia merasa kesepian karna tidak pernah lagi mendengar suara ngegas Arsyila jadi ia berinisiatif untuk membuat surat palsu dan mengunjungi Arsyila.


"Ya bisaa aja sih kan sekolah, sekolah gw".


"Aiish oke! besok sy pindah, ke pondok pesantren sekalian biar gk ketemu manusia modelan kamu".


Arsyila terlanjur emosi, belum lagi efek PMS yang membuat amarahnya makin menggebu-gebu.


"Gk semudah itu..Surat kepindahan saya yang pegang". Jawab Razan santai. Andaikan Arsyila laki-laki mungkin saat ini ia sudah membaku hantam orang yang ada dihadapannya ini.


"Mau kk Razan apaan sih!!".


"Saya mau masuk". Balas Razan santai lalu menyelonong masuk dan mendudukkan dirinya disofa ruang tamu dengan tampang tak berdosa. Arsyila sampai menganga melihat tingkah absurd Razan itu.


Ya Allah punya ketos gini amat sih!! iii Pengen tak cabik-cabik mukanya.


-Batin arsyila.


"Jangan donnnng...Ntar gw gk ganteng lagi". Sahut Razan seolah dapat mendengar kata hati Arsyila.


"Ish aku lupa kalo dia cenayang". Gerutu Arsyila lalu melangkah ke dapur. Razan yang mendengar itu terkekeh kecil.


"Gk perlu repot-repot bik... Air putih aja". Razan sedikit berteriak lalu cikikikan.


"Eh iyayaa dia siapa pakek di jamu segala".


Langkah Arsyila berhenti tepat di ambang pintu dapur. Iya pun kembali ke sofa dan duduk di samping Razan yang sedang memakan biskuit yang tersedia di meja tamu dengan tidak sofannya.


"Mau?". Tawar Razan. Arsyila hanya menggeleng.


"Ayok, makan aja..Gk usah malu-malu, anggap aja rumah sendiri".


Razan lalu menggeser toples biskuit itu ke hadapan Arsyila, berlagak seperti tuan rumah.


"Dih! rumah aku juga".


"Hahay, ada gk ya tamu modelan gw".


"Aydan juga sering, persis kayak kak Razan nggak ada sopan-sopannya".


Razan terdiam. Mengapa pula Arsyila harus melibatkan nama aydan di saat ada dirinya.


Melihat keterdiaman Razan membuat Arsyila sedikit merasa tidak enak. Mungkin Razan tersinggung pikirnya.


"Mm maaf kak tadi aku cuma bercanda".


"Iya gk papa, Gue cuman nggak suka di sama-samain sama Aydan". Razan berkata jujur.


"Oo kirain karena aku ngatain nggak sopan".


"Huh! itu mah udah biasa kali lo ngata-ngatain gue".


"Hehe".


"BTW mengenai Aydan, gimana hubungan lo sama dia? kok gue jarang lihat kalian berdua samaan?".


"Hm. Entah, aku off wa 3 hari aja nggak pernah dicari". Ekspresi Arsyila tiba-tiba berubah.


"Oh". Razan tidak mau bertanya terlalu dalam namun justru Arsyila yang malah melanjutkan ceritanya.


"Aku terkadang bingung sama Aydan. Dia kayak ingin lepas tapi masih maksa buat terikat. Aydan kayak nyembunyiin sesuatu dari Aku..Hmm biasanya kalau dia cemburu atau apa dia selalu konfirm, tapi sekarang semakin hari aku merasa dia ngejauh dengan cara perlahan. Apa semua laki-laki kayak gitu ya?".


Arsyila menoleh ke arah Razan.


Razan yang sedari tadi menyimak curhatan Arsyila jadi melebarkan matanya mendengar kalimat yang sering keluar dari mulut sejuta wanita itu.


"Ehh! enak aja gue pengecualian ya". Razan tak terima.


"Tapi rata-rata cowok gitu".


"Yaa kan semua cowok belum lo coba. Enak aja main hakim gitu, denger ya! SEMUA COWOK GK SAMA. TITIK". Razan menekan tiap huruf dari kalimat yang diucapkannya.


"Semua cowok sama!".


"Coba deh lo pacaran sama gue akan gue jaga lo sepenuh hati dan jiwa".


"Tetap aja Aydan juga dulu pernah bilang gitu".


Aydan Bangs* emang lo! gara-gara lo gue ikut keseret


-batin Razan penuh kesal.


"Huh! Dasar cewek".


"Wleeee". Arsyila menjulurkan lidahnya. Razan hanya diam tak ingin membalas lagi, toh juga tetap kalah.


"Yaaah kalah, berarti bener dong cowok itu gitu semua. Manis di awal doang!".


"Ck. Syil denger gue". Razan mode serius cheek๐ŸŒ


"Masing-Masing cowok punya prinsip berbeda dalam mencintai cewek yang dia suka. Perasaan cowok memang berbanding terbalik dengan wanita kebanyakan cowok 99% rasa sukanya di awal sedangkan cewek awal-awal masih 10% sampai kadang tuh cowok mati-matian ngorbanin materi bahkan perasaannya sendiri biar dapetin hati cewek itu hingga sepenuhnya. Ketika tujuannya sudah tercapai yang di mana perasaan cewek udah dia dapetin 100% perasaan cowok bakal menurun drastis hingga Tertinggal 10% karena cewek kalau udah cinta banget mereka akan mudah baper dan tidak mungkin untuk berpaling karena 100% udah milik tuh cowok nggak ada lagi rasa penasaran dan takut ceweknya pergi, jadi dia akan mencari percobaan yang lain untuk mengisi persenan yang kosong sebelumnya".


Arsyila terpekur mendengar siraman rohani yang diucapkan Razan. Setiap bait Kalimat yang diucapkannya seolah menyindir Arsyila saat ini.


Apa itu yang sedang dirasakan Aydan?.


Arsyila membatin.


Tanpa sadar Arsyila meminitikkan air matanya membuat Razan merasa tak tega.


"Gue gk bilang semua cowok gitu Syil, Karna gue sendiri pun masih setia dengan orang yang gue suka sampai saat ini bahkan makin lama perasaan gue ke dia semakinnn..."


"Iya kah??". Arsyila langsung menoleh. "Kak Razan ada suka sama cewek? siapa??".


"Cieee lo kepo ya? haha ada deh".


Tidak tau saja Arsyila jika orang yang dimaksud Razan adalah dirinya.


"Ish kok kk Razan main rahasia-rahasiaan siih".


"Rahasia doong biar pro!".


"Aiih".


Tiba-Tiba langkah kaki seseorang terdengar memasuki pintu utama yang masih terbuka lebar. Razan dan Arsyila menoleh bersamaan.


"Ooooh pantesan! di telpon-telpon gk angkat ternyata ckck".


Sapa seseorang tersebut tanpa salam yang tak lain adalah Bu'de Sarah yang datang seorang diri dengan menenteng termos kosong di tangannya.


"Ck titisan iblis datang". Gumam Arsyila.


Razan tak mengerti, namun mendengar gumaman Arsyila mampu membuat Razan menyimpulkan bahwa Arsyila tidak menyukai orang yang saat ini datang menjadi orang ketiga diantara mereka.


"Itu siapa?". Tanya Razan.


"Gk kenal". Jawab Arsyila tak acuh lalu memakan biskuit yang ada di hadapannya seolah tak menganggap keberadaan Sarah.


Julid Sarah lalu pergi ke dapur untuk mengisi termosnya dengan air panas.


Sebenarnya hati Arsyila sedikit nyeri mendengar itu, namun ia tak terlalu menghiraukannya. Di depan Razan ia harus terlihat kuat dan seolah tak perduli semuanya walau hatinya sangat ingin berteriak menumpahkan masalah yang sedang ia pendam.


~Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada memendam disaat air mata sudah tak mampu lagi untuk melampiaskan.


"Lo gk papa". Tanya Razan yang melihat perubahan air muka Arsyila.


"Udah biasa". Balas Arsyila lalu mengulum senyum munafiknya.


"Mm aku mau ambil eskrim aku dulu ya di kulkas..Ntar di ambil".


Ujar Arsyila lalu di angguki Razan.


Fasalnya seringkali Bu'denya itu mengambil makanan yang Arsyila simpan di kulkas atau laci tanpa meminta izin terlebih dahulu padanya begitupun dengan Jihan dan Rachel beserta cicitnya yang lain Mungkin emang keturunan kalik ya๐Ÿ˜‘.


Setibanya di dapur Arsyila langsung menyambar pintu kulkas dan hendak mengambil 2 es krim rasa coklat dan 1 buah yoghurt yang sudah beku.


"Cowok tadi siapa? Oh ini ya yang kamu kerjakan di rumah..Pantas aja gk pernah mau diem di rumah sakit".


Tangan arsyila berhenti di depan pintu freezer saat mendengar cemo'ohan Sarah yang sudah berdiri tepat di belakangnya. Hatinya terasa panas, padahal jelas-jelas uap dari dalam kulkas yang menerpa wajahnya sangat dingin namun itu sama sekali tidak berpengaruh di kulit Arsyila karena yang terasa hanyalah uap yang berasal dari dalam tubuhnya.


"Huh! kecil-kecil udah ngejalang, ini toh rupanya anak kalem yang dibangga-banggakan Hera?".


"******?". Beo Arsyila.


Baru pertama kali dalam hidupnya ia mendengar sebutan kotor itu tertuju untuknya. Amarah arsyila semakin memuncak, ia lalu berdiri dan menutup kasar pintu kulkas tersebut dan membalikkan badannya hingga berhadapan dengan Sarah. Sarah sempat terkejut dengan tindakan Arsyila tadi lalu beberapa detik setelahnya ia menormalkan kondisi wajahnya.


"Iya. Benarkan?? mana mungkin laki-laki dan perempuan di dalam rumah berduaan tanpa melakukan apa-apa". Sinis Sarah lagi.


Emosi Arsyila sudah tidak bisa ditahan lagi, tanpa aba-aba ia menggapai gagang cerek yang masih berada di atas api kompor yang menyala .


Bisa dibayangkan bagaimana panasnya gagang yang terbuat dari alumunium itu, belum lagi kondisi airnya yang sudah mendidih membuat Sarah yang melihat itu menelan paksa ludahnya sambil mengangkat kedua telapak tangannya dengan perasaan takut, takut jika Arsyila tiba-tiba menyembur wajahnya dengan air panas yang ada di dalamnya.


Namun justru Arsyila tidak merasakan apapun di tangannya karna amarah yang ia pendam jauh lebih menyakitkan daripada terkena air panas sekalipun.


"Ma-Mauu ngapai kamu??". Sarah bergerak mundur.


"Ulangi perkataan anda sekali lagi!".


Ujar Arsyila dengan lantang sambil menggenggam erat gagang cerek yang ada di tangannya sambil mendekat ke arah Sarah.


"A-Ar". Sarah terbata-bata, nyalinya menciut.


"Sepertinya jika saya menyipratkan air ini ke wajah anda mungkin anda bisa diam selama-lamanya".


"Ti--Ti-Tidak jangan gila Ar-Arsyila!".


Sarah melototkan matanya kala Arsyila mengangkat cerek tersebut bersiap membenarkan perkataanya tadi. Sepertinya saat ini Arsyila benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. Cerek sudah dalam posisi menungging dan Arsyila pun mulai mengayunkan cerek tersebut lalu..


"Arsyilaaa!!!".


Razan berlari ke arah Arsyila dan melempar cerek yang hampir saja memuntahkan air yang ada di dalamnya itu hingga suara dentingan keras dari suara jatuh benda tersebut memenuhi ruangan.


Nafas Arsyila masih memburu menatap Sarah tanpa berpaling sedikitpun, Sarah yang melihat tatapan silet itu pun segera berlari keluar. Arsyila terlihat sungguh menyeramkan.


"Syil!".


Razan membalik badan Arsyila dengan kedua tangannya yang bertumpu di kedua bahu milik Arsyila hingga menghadapnya.


Arsyila hanya diam menatapnya tanpa protes dengan apa yang ia lakukan tadi. Namun perlahan tapi pasti air mata mulai berjatuhan dari pelupuk mata Arsyila yang sudah memerah tanpa mengucapkan sepatah katapun. Cukup air mata tersebut yang mampu menjelaskan bagaimana perasaan Arsyila saat ini.


"Jangan nangis Syil...Gue gk bisa".


Hati Razan ikut pedih melihat Arsyila seperti ini, jiwa laki-lakinya meronta. Ingin rasanya ia memeluk dan membawa Arsyila ke dalam dekapannya agar Arsyila sedikit merasa tenang namun ia tidak seberani itu..Ia masih mengingat batasannya.


Tangis Arsyila makin kencang hingga nafasnya pun iku tersenggal. Rasa haru dan emosi bercampur menjadi satu.


"Syi-"


Razan terkejut saat sebuah tangan sudah melingkar di pinggangnya yang tak lain berasal dari Arsyila. Dengan ragu-ragu Razan mengangkat tangan kanannya dan mengelus pelan kepala Arsyila yang tertutup hijab itu agar Arsyila merasa sedikit tenang.


"Gue kira...Lo gk mau dipeluk makanya gue diem aja".


Arsyila tak menggubris perkataan Razan, telinganya seolah tuli karna yang berputar dikepalanya saat ini hanyalah memory-memory pahit yang sudah berlalu secara acak.


"Syil lo sadar gk si kalo lo lagi apa?".


Razan sempat-sempatnya bercanda.


"Syil mau gue ajak ke wahana gk? di sana seru loh lo bisa main dan teriak sepuasnya".


Razan masih berbicara sendiri. Laki-Laki sepesies Razan memang unik ya๐Ÿ˜Œ disaat laki-laki lain bertanya mengenai topik permasalahan Razan justru sebaliknya ia sama sekali tak bertanya kenapa dan bagaimana.


"Syil I Love you".


Ujar Razan random.


Perlahan tangis Arsyila terdengar mereda.


Razan menutup mulutnya, kenapa kata-kata itu bisa keluar begitu saja.


Arsyila mengelap air matanya dan dengan perlahan melepas pelukannya.


"Mm lo-".


"Kak Razan bilang apa tadi?".


"Lo gk denger?".


Arsyila menggeleng.


Syukurlah


"Gue bilang, jangan nangis".


"Perasaan gk itu".


"Kan lo gk denger".


"Oh iyaya".


"Hadeh nangis bisa bikin otak lo blank juga ya ternyata".


"Hm".


"Lo udah mendingan?".


"Dikit".


"Huh..Baguslah lo kalo sedih unik ya".


"Maksudnya?".


"Kenapa lo gk sambil mukul gw, atau teriak-teriak gk jelas gitu buat pelampiasan..Kan cewek biasa gitu".


"Mager".


"Haa???".


Razan geleng-geleng kepala mendengar jawaban absurd dari Arsyila itu.


"Bentarr".


Razan salfok saat menghadap ke bawah dan melihat tangan Arsyila yang memerah. Dengan gerak cepat Razan meraih tangan Arsyila dan membalik punggung tangannya.


Nampak di telapak tangan Arsyila ada garis hatim bekas gagang cerek tadi serta dapat Razan lihat tangan itu sudah membengkak.


"Astagaaa tangan loo".


"Asshh- sakit".


Arsyila mulai merasakan perih di tangannya.


"Nah! mulai kerasa kan. Sok-Sokan megang benda panas". Ejek Razan.


"Ayok gue obatin di ruang tamu, ada kotak P3Knya kan?".


Arsyila mengangguk.


"Ya udah yuk".


Razan dan Arsyila berbalik hendak kembali ke ruang tamu namun betapa terkejutnya mereka saat melihat seseorang yang sudah berdiri mematung di ambang pintu memperhatikan kegiatan mereka sedari tadi.


"Aydan.."


...*****...


Sorry ya telat Up..Ada kendala


See you next chapter.๐Ÿ˜˜