Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Bg 37 : What's wrong with Devan?



...Hye hye para pacar Virtual masih semangat gk ni bacanya?🤓..Makasih ya buat yang udah dukung❤🔥...


...Happy Reading🕊...


...*****...


"Okey!". Jawab Arsyila sambil membentuk tanda oke dengan jarinya.


"Ih gemesin banget siih.. Jadi pengen bungkus". Ujar Aydan yang tak bosan-bosanya melihat sisi imut Arsyila sambil mengelus pelan kepalanya dengan penuh kasih sayang..


Kayak malika aja🙃


"Aku kalo sama kamu kayak adek kakak". Arsyila cemberut mengomentari Aydan yang sangat senang sekali mengelus kepalanya seperti seorang bocil.


"Hahaha". Aydan terkekeh geli.


"Sini bukunya aku cariin soal yang sulit". Ujar Arsyila lalu mengambil LKS yang dipegang Aydan.


"Cari aja sayang tu LKS udah aku tamatin". Jawab Aydan bangga sembari terkekeh kecil.


"Ish sombong banget". Komentar Arsyila sambil membalik lembar bukunya.


"Nah ini ketemu! ayo cobak kamu kerjain". Tunjuk Arsyila pada soal materi trigonometri yang sangat memusingkan di matanya.


"Oh ini mah kacang!". Ujar Aydan kemudian mengerjakan soal tersebut dengan lancar seperti sudah sangat profesional. Arsyila menganga dibuatnya.


"Nih!". Aydan menyerahkan jawabannya pada Arsyila dengan bangga. Arsyila masih tidak percaya, ia kemudian mencocokkannya dengan kunci jawaban yang terdapat dihalaman paling belakang.


"Iih kok bener..kok kamu jenius banget sih". Puji Arsyila menatap jawaban Aydan.


"Udah dibilangin kok ngeyel".


"Bukan gitu, tapi kamu jawabnya kayak gk mikir". Ujar Arsyila polos, Aydan terkekeh mendengar ucapan itu.


"Ini nih coba kamu kerjain! hurufnya kek angka china-china gitu..Pusing aku". Keluh Arsyila menunjuk soal tersebut dan menyerahkannya pada Aydan.


Yang Arsyila maksud



begitulah kira-kira ilustrasi bahasa china yang dimaksud Arsyila :)


Aydan menepuk jidatnya.


"Ini nih! kalo kebanyakan nonton drama China". Aydan menoyor pelan kepala Arsyila.


"Ish Aydaan gk boleh noyor kepala!". Kesal Arsyila memegang kepalanya.


"Oo maaf-maaf.. Cup cup". Bujuk Aydan sambil mengelus pelan kepala Arsyila yang ia toyor tadi.


"Dah lah kesel sama kamu". Arsyila mengerucutkan bibirnya.


"Maca cii.. Ututu". Aydan makin menjadi.


"Mm nanti pulang sekolah mau dibeliin apa? eskrim atau coklat?". Sebut Aydan pada dua makanan perubah mood Arsyila itu.


"Mmmm". Arsyila nampak berfikir seolah lupa dengan kekesalannya tadi. Aydan jadi menahan tawanya sangat mudah merubah mood Arsyila.


"Aku mau escream cornetto". Pinta Arsyila dengan mata berbinar-binar.


"Haha iyaya ntar pulang sekolah kita beli ya". Ujar Aydan sambil tersenyum manis.


"Yeeee". Arsyila bertepuk tangan riang seperti anak kecil.


"Hadeh.. Gimana mau memperlakukan kamu kayak orang dewasa, orang kamunya aja kayak anak kecil gini". Ujar Aydan sambil geleng-geleng kepala.


"Hehe". cengir Arsyila.


"Ini kamu ngerti gk?". Tunjuk Aydan pada jawaban yang ia tulis tadi. Arsyila menggeleng polos.


"Deketan sini aku jelasin". Arsyila menurut.


Aydan pun mulai memaparkan materi itu secara gampang-gampangnya agar Arsyila mudah mengerti.


________


Disisi lain..


"Van! Aydan mana?". Tanya Alzam saat sudah bangun dari tidurnya sambil menepuk-nepuk badan Devan agar ikut bangun.


"Engghh gk tau, gue mau tidur!". Kesal Devan lalu melanjutkan tidurnya yang terusik.


"Ck bangun oi! udah jam 10!". Alzam mengguyel-guyel badan milik Devan.


"Aisshh lo ganggu banget Siih". Devan mengamuk lalu duduk tegap jika tidak seperti itu Alzam tidak akan berhenti mengganggunya.


"Hehe". Alzam cengiran, Temen gk ada ahlak emang si Alzam mah😑


"Lo mau apa sekarang hah!". Devan masih sensi maklumlah baru bangun tidur ditambah lagi wajah Alzam yang sangat mengesalkan baginya membuat emosinya bertambah berkali-kali lipat.


"Jangan marah-marah kalik Van lo kayak cewek lagi PMS aja". Ledek Alzam.


"Ck, Anj* emang!". Bahasa kebun Devan akhirnya keluar juga :).


"Astaghfirulloh Devan". Alzam mengusap dadanya pelan seolah Devan saat ini adalah pendosa.


"Dalam sebuah hadist mengatakan: Sesungguhnya Celakalah bagi setiap pengumpat atau pencaci, baik dengan ucapan atau isyarat, dan demikian pula pencela dengan menampilkan keburukan orang lain untuk menghinakannya".


Lanjut ustadz Alzam mendekte status yang ia baca dari WA temannya tadi malam, niat sekali dirinya sampai menghafal itu hanya untuk membuat temannya kena mental.


"Preeet! sok ustadz lo, mending kalam hikmah lo bener. Itu kan ayat Al-qur'an begok! bukan hadist". Ujar Devan lalu menoyor kepala Alzam karna kelewat kesal.


"Eh masak?". Cengo Alzam.


"Huuu sok-sokan jadi Da'i muka lo tu kek preman jalanan". Judes Devan yang sudah tidak bisa mengontrol emosi.


Alzam yang mendengar cercaan itu spontan mengelus dadanya sabar.


"Astaghfirullah Dev-


"Udah dahh jangan ceramah lagi pusing gue!". Marah Devan kemudian bangkit dari duduknya untuk menghirup udara segar diluar, bisa sesak nafas dia lama-lama berada didekat Alzam.


"Dih ngambek". Ledek Alzam namun Devan tak menghiraukan.


"Assalamualaikum". Sapa Chika tiba-tiba memasuki kelas X IPA itu bersama Deva.


Devan spontan duduk kembali, entah kenapa ia jadi mendadak gugup ketika Chika dan Deva malah mendekat ke arahnya dan alzam.


"Wih ada kk Chika, mantep nih". Gumam Alzam.


"Ada apa kak?". Tanya Alzam tersenyum manis pada Chika yang sudah sampai didepan mejanya.


Deva dan Devan sempat saling melirik namun Devan lebih dulu membuang muka..Gengsi brey🤙🏻.


Dih sok banget! -Batin Deva.


"Oh ini gue mau minta nomer lo sam-


"Gk usah repot-repot kalik kk sampe nyari gue ke kelas, biar gue duluan ntar yang ngechat". Potong Alzam yang sudah terlanjur ke-pdan.


"Mmm tapi.." Chika jadi tak merasa enak jika harus berkata jujur. Deva menghela nafas kemudian menggantikan Chika bicara.


"Alzam..Kita kesini mau minta nomer lo sama Devan mau di masukin ke group OSIS". Jelas Deva yang langsung mendapat senggolan lengan dari Chika.


"Dev..Kok lo jujur siih...Gue jadi malu njirr". Bisik Chika ditelinga Deva.


"Biar cepet kelar". Jawab Deva ikut berbisik.


Devan yang mendengar itu berusaha menahan tawanya namun tak bisa.. Jadilah ia terbahak-bahak.


"Eh Zam makanya gk usah ke-pdan lo! malu banget gk tuh". Ledek Devan sambil menertawai Alzam.


"Diem lo suw!". Kesal Alzam sambil tersenyum kikuk pada Chika.


"Mm gk pp Zam ntar gw yang chat lo duluan, sekarang tulis nomer lo sekalian nomer Devan". Ujar Chika berusaha menyambung perkataan Alzam agar tak terlalu malu.


"Oh o-okey Van minta kertas!". Alzam salah tingkah.


"Nih". Devan merobek pertengahan kertas bukunya yang terletak di atas meja. Alzam pun mulai mengisi kertas tersebut dengan nomornya dan nomor Devan yang sudah ia hafal.


"Nih nomernya". Alzam menyerahkan kertas itu pada Chika.


"Makasih Zam". Chika tersenyum manis.


"Ya udah kalo gitu kita pergi dulu, Asalamualaikum". Ujar Chika kemudian keluar dari kelas tersebut bersama Deva.


Namun sebelum itu Deva sempat melirik Devan yang menghadap arah lain, seperti enggan untuk melihatnya. Deva hanya menghela nafas entah kenapa hatinya sedikit terasa...Nyilu.


Setelah Deva pergi barulah Devan menolehkan kepalanya melihat Deva hingga tak terlihat lagi di ambang pintu.


"Hadeh..Chika senyum aja bikin teler". Ujar Alzam sambil geleng-geleng kepala. Ia kemudian melirik Devan yang sedang melamun menatap pintu.


Plak


Alzam menggeplak bahu milik Devan hingga membuat sang empu terperanjat.


"Liatin apa lo? Deva?? orangnya dah pergi gk usah diliatin terus". Ujar Alzam menebak.


"Ck bisa gk si lo itu lembutan dikit jadi cowok? heran gw!". Kesal Devan kemudian bangkit dari duduknya dan keluar dari kelas tersebut meninggalkan Alzam yang bengong.


"Lah si udin jawab kek malah main pergi aja". Gerutu Alzam kemudian menyusul langkah Devan.


_________


"Huh akhirnya ketemu! coba deh kamu cek". Lega Arsyila saat sudah menyelesaikan soal yang diberikan Aydan sembari menyerahkan hasil oret-oretannya. Hanya dengan melihat Aydan bisa menentukan benar dan tidaknya.


"Gimana? bener gk?". Tanya Arsyila pada Aydan yang sedang tersenyum kecil memperhatikan jawabannya.


"Gk sia-sia aku ngajarin kamu, ternyata cepet banget fahamnya". Balas Aydan.


"Yey! iya dong siapa dulu gurunya". Ujar Arsyila memuji Aydan.


"Haha kamu bisa aja".


Drrrt Drrttt


Suara getaran ponsel milik Aydan mengganggu aktifitas mereka.


"Ck! siapa sih?". Kesal Aydan kemudian menggapai ponselnya yang tergeletak di samping tempat duduknya.


Tertera kontak Devan dilayar.


"Siapa?". Tanya Arsyila penasaran.


"Devan". Jawab Aydan singkat.


"Mmm, angkat aja siapa tau ada yang penting". Pinta Arsyila pada Aydan yang hanya menatap ponselnya tanpa menggeser tombol hijau sampai panggilan masuk datang lagi.


"Ck". Aydan pun dengan ogah-ogahan mengangkat telponnya.


"Woy dan lagi dimana lo?". Sapa Devan dari seberang sana tanpa salam.


"Rooftop, kenapa? ganggu aja lo".


"Udah jam istirahat marko! turun!". Perintah Devan.


"Teruuuuss???".


"Ya ngantin begok! lo gk makan? atau mau diet".


"Aisssh lo berdua aja ma Alzam gue males".


"Ck, lo pasti lagi sama Arsyila kan? lo gk kasih anak orang makan?".


Tanya Devan menebak mana mungkin manusia bucin satu itu mau sendiri tanpa Arsyila.


"Oh iya ya, lo duluan aja ntar gue nyusul".


"Gue udah dikantin, cepet elah males gue berdua ama Alzam".


Paksa Devan karna saat ini moodnya sangat buruk melihat orang yang sudah mengganggu tidur nyenyaknya dikelas tadi yang sedang bermain game tak menghiraukan pengaduan Devan.


"Iye, bilang aja lo kangen make nyari alasan lagi lo". Gurau Aydan.


"Ck, gue tunggu dikantin gk pake lama!".


Tut


Telpon dimatikan oleh Devan, sepertinya moodnya memang sedang sangat buruk.


"Lah si Devan tumben sensi banget, lagi PMS kah?". Heran Aydan.


"Haha mungkin lagi kesel ama Alzam Dan, kan mereka emang suka berantem". Tebak Arsyila yang ternyata benar.


"Haha iya kayaknya..Ya udah yuk kita turun". Ajak Aydan.


"Iya, temenin aku naruh buku dikelas dulu ya.." Pinta Arsyila sambil merapikan bukunya.


"Siap tuan putri". Jawab Aydan tersenyum simpul.


"Yuk!". Antusias Arsyila saat sudah selesai merapikan bukunya dan turun kelantai bawah bersama Aydan.


Setibanya dikantin..


"Lo kenapa Van? muka lo kusut gitu". Tanya Aydan melihat wajah cemberut Devan sambil menggeser kursi kosong disamping Alzam bersama Arsyila.


"Gue mau ke kasir dulu, kalian pesennya kayak biasa kan?". Tanya Devan pada tiga orang yang sedang menatapnya bingung. Tanpa menunggu jawaban Devan segera bangkit dan berjalan menuju kasir.


"Lah Devan kenapa? tumben gk kayak biasa". Heran Arsyila menatap Aydan dan Alzam meminta tanggapan.


"Lo tadi apain dia Zam?". Aydan mengintrogasi.


"Gue bangunin dia tidur, gue cuman kasian ntar badannya pegel tidur dimeja kek tadi". Aku Alzam jujur.


"Ooo emang cowok kalo tidurnya diganggu marahnya bisa ampe gitu ya?". Tanya Arsyila polos.


"Iya lah Syil..Untung aja Alzam gk dilempar tadi sama Devan". Jawab Aydan berlebihan.


"Tapi tadi dia sempet becanda deh malah ngeledek gw". Heran Alzam yang merasa aneh.


"Mungkin dia kesel banget". Ujar Arsyila sambil cengiraan.


"Ntahlah, pokonya lo harus minta maaf nanti Zam". Peringat Aydan.


"Hm". Gumam Alzam.


Tak berselang lama Devan datang membawa empat mangkok makanan dan empat gelas minuman favorite mereka masing-masing.


"Makasih Zam.."


Ujar Arsyila saat sudah mengambil pesanan yang disodorkan Devan. Devan hanya tersenyum sekilas menanggapi itu, dan berlanjut memberikan makanan milik Alzam dan Devan tanpa menghiraukan mereka yang sedang menatapnya bingung hingga kembali duduk dikursinya seperti semula dan menyantap baksonya acuh.


"Mmm Van..Gue minta maaf". Ujar Alzam sedikit canggung.


"Hm". Balas Devan sambil fokus dengan makanannya.


"Zam ntar aja dikelas.." Bisik Aydan pada Alzam.


"Mm kok hawanya beda ya". Arsyila mengipas-ngipasi dirinya dengan tangan mencoba mencairkan suasana karna sedari tadi Devan hanya diam tak seperti biasa begitupula dengan Alzam dan Aydan yang ikutan sepi.


"Gue gk marah sama lo Zam..Gue lagi gk mood aja". Jawab Devan sambil menoleh ke arah Alzam sekilas agar Alzam tak merasa bersalah.


"O-oh oke". Jawab Alzam gagap tanpa berkata-kata lagi pasalnya Devan kalau sudah dalam mood begini sangat susah untuk diajak bercanda dan ini sangat jarang terjadi.


"Udah-udah habisin makanannya ntar keburu bel pulang". Peringat Aydan karna seminggu terakhir ini mereka selalu pulang lebih awal.


Mereka pun menyantap makanannya masing-masing dengan suasana hening tak seperti biasa.


_____________


Sore ini Aydan sudah tiba didepan rumah Arsyila untuk belajar bersama sesuai janjinya tadi pagi di sekolah.


"Assalamualaikum". Ucap Aydan sambil mengetuk pelan pintu utama rumah Arsyila.


"Wa'alaikumussaalam..eh nak Aydan". Girang Hera saat sudah membuka pintu.


"Arsyilanya ada tan?". Tanya Aydan ramah setelah menyalami tangan Hera.


"Ada..Sebentar tante panggilin, kamu tunggu aja diruang tamu". Pinta Hera kemudian menaiki tangga untuk memanggil Arsyila.


Beberapa menit kemudian Arsyila sudah turun bersama Hera karna sejak tadi ia sudah siap jadi tinggal menunggu Aydan datang.


"Ya udah bunda tinggal dulu ya, ada kerjaan sekolah". Ujar Hera saat sudah sampai dibawah bersama Arsyila.


"Iya bun / Iya tan". Jawab Arsyila dan Aydan bersamaan.


Arsyila dan Aydan pun mengambil duduk dikarpet yang tersedia diruang tamu dengan alasan Arsyila lebih nyaman belajar dibawah dengan meja Sofa yang digunakan sebagai meja belajar mereka.


...*****...


Sampai disini dulu ya!..Tunggu kelanjutannya😍 See you next Chapter💌.


Kira" Devan kenapa ya?🤔