
...Happy Reading💓🔥...
...*****...
...~Tak perlu tergesa-gesa..Selama ada kesenangan mengapa harus menantikan kesedihan?~...
Arsyila menguilang-gulingkan badannya dikasur empuk miliknya karna gabut.
Sudah tiga hari berlalu namun pesan Aydan masih saja centang satu. Arsyila galau, ia jadi rindu dengan Aydan padahal mereka hanya berpisah selama satu minggu namun rasanya seperti satu bulan. Ya! 4 hari yang lalu Aydan sempat mengabari Arsyila sebentar-bentar hingga akhirnya menghilang tanpa kabar.
Arsyila lalu bangun dan berjalan ke arah jendela. Ia kemudian menyingkap tirai jendela kamarnya hingga menampakkan kondisi malam yang gelap disinari cahaya bulan dan lampu jalanan yang terlihat sudah usang.
🎶Oh angin titipkan padanya, ku cinta dia..
Tak kan ada yang lain..
Ku harap dirinya dapat mendengarnya
Apa yang kurasa tentang dirinya.🎶
Arsyila bernyanyi menikmati suaranya yang mengalunkan lagu kerinduan. Sungguh kegabutan yang tiada tara.
Lama berdiri di depan jendela, Arsyila akhirnya kembali ke kasurnya dan duduk di pinggiran.
"Huh". Arsyila membuang nafasnya kasar.
Krok..Krok
Kira-Kira begitulah bunyi perut Arsyila. Arsyila lalu berjalan dengan gontai keluar kamar menuju dapur untuk mengisi perutnya yang sudah lapar.
Saat tiba di dapur, Arsyila melihat Hera yang sedang mencuci piring di wastafel sambil menggerutu.
"Huh punya anak cewek tapi perilakunya kayak cowok, habis makan bukannya dicuci malah piringnya di diemin. Orang tua dijadiin babu".
Gerutu Hera, sepertinya 80% emak-emak pasti pernah mengeluarkan kalimat mengerikan itu. Arsyila geleng-geleng kepala lalu berjalan ke arah laci tempat "mie instan" di simpan. Sepertinya malam ini ia akan memilih mengisi perutnya dengan "mie instan" saja.
Namun sebelum itu ia harus menunggu Hera selesai mencuci piring terlebih dahulu, agar bisa mengambil air untuk memasak mie. Bukannya ia tak mau membantu Hera, tapi biasanya Hera akan marah-marah nanti jika Arsyila mendekat, dan harus kena ceramah. Ujung-Ujungnya Arsyila hanya diam mematung disamping Hera mendengar Hera membuka hadist sambil menyelesaikan cucian piring kotornya. Karna sedang malas di ceramahi jadi Arsyila lebih memilih diam saja di depan kompor.
Saat sudah selesai dengan kegiatannya Hera langsung meletakkan piring-piring bersih itu di rak piring. Ia lalu berbalik dan sedikit terkejut melihat Arsyila yang hanya diam berdiri sambil memainkan kuku jarinya.
"Yaaa ampun kirain jiin!". Kaget Hera membuat Arsyila langsung menoleh ke arahnya.
"Cantik gini dibilang mirip Jin". Ujar Arsyila lalu berjalan ke arah wastafel untuk mengisi air di panci.
"Lagian kamu ngapain matung di sana..Untung bunda gk lempar pake garpu".
Hera lalu duduk di kursi meja makan menonton kegiatan Arsyia.
"Hehe". Arsyila hanya cengiran lalu menyalakan kompor. Sambil menunggu airnya mendidih ia menyiapkan mangkuk dan mengiris-ngiris kecil bawang dan cabe merah agar mie nya lebih enak.
"Bunda Heran, kamu kok random banget ya..Kadang cuek, kadang tiba-tiba cerewet tak tertolong". Hera mengutarakan pikirannya.
"Tergantung mood aja bund". Jawab Arsyila sambil fokus dengan kegiatannya.
"Kamu masih deket sama Aydan?". Tanya Hera melainkan pembahasan.
"Masih".
"Tapi kok bunda gk pernah liat Aydan kesini lagi?".
"Dia ada lomba basket".
"Ooo".
"Bund". Sapa Adhira yang datang dari arah belakang Hera dengan membawa piring kotor ditangannya.
Dengan santai Adhira meletakkan piring bekas makanan itu di wastafel dan hendak pergi.
"Eeeeh eh, itu kenapa piring kotornya di diemin?!". Hera menatap garang Adhira.
"Hehe". Adhira cengiran lalu kembali ke wastafel dan mencuci piring kotornya. Setelah selesai ia tersenyum garing ke arah Hera yang masih menatapnya kemudian berjalan pelan menuju pintu keluar sambil cengar-cengir ke arah Hera dan berlari saat sudah sampai di depan pintu dapur.
"Hadeeeh tuh bocah kebiasaan". Ujar Hera sambil geleng-geleng kepala.
"Terlalu di manjain tuh bund. Coba aja didiknya kayak aku dulu pasti Adhira mandiri". Sahut Arsyila sambil mengaduk mie instannya.
"Nggak. Cukup kamu aja, bunda ngambil pelajaran dari kamu kalau ngedidik terlalu keras itu bisa ngaruh sama mental".
"Beruntung banget dia jadi anak kedua kalau anak pertama mah jadi percobaan, pelampiasan hahaha". Arsyila tertawa garing berbeda dengan hatinya yang membatin mengatakan -berarti kalau aku yang mentalnya rusak nggak papa ya.-
Hera ikut tertawa mendengar perkataan Arsyila tadi namun ia sedikit khawatir, takut jika Arsyila akan iri pada Adhira dan membuatnya semakin menjauhi adiknya itu.
"Tapi inget ya Syil, kelak kamu yang akan menggantikan posisi ayah dan bunda. Kalau bunda sama Ayah udah nggak ada cuman kamu yang jadi harapan, kamu yang akan jadi tulang punggung keluarga". Hera memperingati.
"Berarti aku di sekolahin cuman buat hidup Adhira bahagia ya".
Arsyila berujar santai. Hera yang mendengar itu sedikit terkejut.
"Dia adalah saudara kamu Arsyila. Karena kamu adalah anak pertama jadi kamu yang harus bertanggung jawab atas hidup adik kamu. Jika bukan kamu yang saudara kandungnya lantas pada siapa dia akan bergantung?".
"Kayaknya mienya udah mateng. Syila ke kamar dulu ya bund".
Ujar Arsyila tanpa menghiraukan perkataan bundanya tadi. Nasihat Hera seperti angin yang lewat begitu saja namun tidak di simpan di otaknya apalagi hatinya!.
Hera menatap kepergian putrinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Huh!". Arsyila meletakkan mangkuk mienya di atas meja belajarnya. Selera makannya tiba-tiba saja hilang. Ia kemudian menggapai handponnya berniat mengacau di group persahabatannya dengan Devan dan Alzam.
Namun Arsyila dibuat salfok dengan kontak Aydan yang tersematkan menampilkan centang dua namun belum terbaca. Arsyila pun merasa senang lalu mengklik kontak Aydan yang ternyata tidak sedang berada di whatsapp.
"Hah? tumben Aydan gk buka Wa dulu? biasanya kalo nyalain data mesti nyari aku". Gumam Arsyila yang terus memandangi room chatnya dengan Aydan.
Ia kemudian membuka groupnya persahabatannya untuk mencari Informasi.
Sahabat Untill Jannah💓🔥
___________________________
^^^@Devan @Alzam^^^
Devan : Oy
Alzam : Iya beb
"Huh untung aja mereka berdua On". Lega Arsyila.
^^^Mmm aku boleh nanya gk?^^^
Alzam : Nanya aja Syil tanpa muqoddimah mumpung Wa gue sepi😥
Devan : 🤣
^^^Mm Aydan masih lama gk si lombanya?^^^
Alzam : Cieee lo kangen ya😆
^^^Aku serius nanya😑^^^
Devan : Emang Aydan gk ngabarin lo Syil?
Alzam : Hehe. Bukannya Aydan udah selesai lomba ya?
^^^@Devan. Gk^^^
^^^Tapi kok dia gk pernah bales chat aku😭^^^
Devan : Mungkin masih capek Syil, dia mau istirahat dulu😌
^^^Hm iya juga ya, aku terlalu overthingking kyknya😁^^^
Alzam : Kalo Aydan selingkuh gimana?😳
^^^Kok Alzam ngomong gitu si😖^^^
Melihat jawaban Alzam membuat Arsyila kembali overthingking, ia pun meninggalkan room chatnya dengan kedua sahabatnya. Namun tiba-tiba sebuah panggilan masuk memenuhi layar ponsel Arsyila. Tertera kontak milik Aydan di sana.
Arsyila menatap layar ponselnya dengan mata yang berbinar-binar dan dengan segera mengangkat panggilan itu.
"Halo". Sapa Aydan dari seberang sana.
Arsyila tak bisa menahan perasaannya, mendengar suara Aydan saja mampu membuat hatinya meleleh.
"Ayyyyy!! kamu kemana aja sii, kangen tauuu".
Ungkap Arsyila blak-blakang tanpa muqoddimah terlebih dahulu sepertinya ia memang sangat merindukan Aydan hingga membuatnya meledak seperti ini.
"Hahaha..Cie udah berani ngomong gitu ya sekarang".
Sindir Aydan sambil terkekeh geli.
"Aissh lagian kamu sii...Emang masih lomba ya?? kok kamu ngilang".
"Iya maaf, dari kemarin aku gk pegang HP, HP nya rusak jadi aku perbaikin dulu".
"Oooh gitu ya". Arsyila mangguk-mangguk.
"Iya sayang..Kamu udah makan belum?".
Arsyila senyam senyum sendiri mendengar panggilan Aydan.
"Belum".
"Kok belum?". Tanya Aydan perhatian.
"Gk nafsu. Tadi sempet kena ceramah bunda".
Bukan hal yang langka lagi bagi Aydan mendengar curhatan Arsyila tentang ia dan bundanya. Jadi Aydan cukup mengerti.
"Oo gituu".
Kok Aydan responnya gitu si? biasanya dia bakal kepo. Apa dia udah bosen ya denger cerita aku?
-Batin Arsyila yang merasa aneh.
"Hm". Arsyila bergumam.
"Ya udah gih makan ntar lo sakit".
"Males".
"Kok males? mau gue suapin gk?".
Ihh masih pake lo Gueee
"Gk". Arsyila semakin dibuat kesal.
Aydan yang merasa ada yang tidak beres pun langsung mengubah status panggilan ke VC agar bisa melihat komuk Arsyila.
"Hallo cantiknya Aydan".
Wajah Aydan memenuh layar ponselnya. Arsyila tersenyum masam.
"Eehh kenapa mukanya kecut gitu".
"Gk tau". Arsyila menghadap arah lain.
"Liat sini coba. Sayang..Kenapa hm?".
"Kamu kalo bosen bilang". Ujar Arsyila dengan suara yang terdengar parau.
"Eeh kok kamu tiba-tiba bilang gitu?".
"Sikap kamu tuh udah beda, padahal baru satu minggu gk ketemu tapi kayak orang asing gitu".
Arsyila menangis dibalik kamera. Badannya digeser kesamping agar Aydan tak bisa melihatnya. Apa semua cewek juga begitu ya? ketika sudah selesai menyampaikan kata hatinya ia akan merasa terharu pada dirinya sendiri lalu setelahnya menangis:)
"Beda gimana?". Aydan memancing dan berpura-pura tidak peka.
"Iiih udahlah males ngomong sama kamu".
"Oo ya udah". Jawab Aydan terdengar santai.
Arsyila hanya diam sambil menelungkupkan kepalanya dibantal, sudah malas berkata-kata lagi.
"Syil..Kok lo diem?".
Aydan mendengar isakan kecil yang tak lain berasal dari Arsyila. Bayangin aja, lagi kangen-kangennya eh malah dikerjain :)
"Lo nangis..Kok cengeng si?".
"Aku mau cari cowok lain aja! gk mau sama kamu..Jauh-Jauh sana".
Arsyila memberengut sambil mencoba mengapai ponselnya dan hendak mematikan sambungan telponnya dengan Aydan karna terlanjur kesal.
"Eeeh eh, jangan dimatiin..Aku tadi becandaa hahaha".
Heboh Aydan sambil memajukan wajahnya.
"Gk lucu!".
"Selamat anda kena praaank".
Aydan terkekeh. Namun tangis Arsyila makin menjadi.
"Yaah jangan nangis dong kan aku tadi cuma ngetes".
Arsyila hanya diam sambil mengusap air matanya seperti anak kecil.
"Kok kamu kalo dibuat nangis jadi makin gemesshin sii". Aydan geregetan.
"Cup cup..Sini cium duluuu". Aydan memajukan mulutnya ke kamera.
"Ngapain moncong gitu". Arsyila menggeplak layar ponselnya.
"Hahahaha".
Arsyila hanya diam menonton tingkah Aydan. Perasaan kesalnya tadi seketika hilang melihat tawa Aydan yang selalu membuatnya candu.
Sampai akhirnya Aydan tertawa hingga terbatuk-batuk membuat Arsyila mencibirnya
"Nah batuk kan..Ketawa aja terooos". Sindir Arsyila.
"Hehe..Aku ambil minum dulu ya bentar".
"Hm".
Aydan lalu pergi dari hadapan kamera hingga yang nampak hanya kondisi ruangan yang terlihat tapi..Namun tunggu..Seperti ada yang mengganjal di mata Arsyila saat pandangannya salfok pada dinding yang terpajang foto seseorang namun terlihat samar dikamera.
"Itu foto siapa?? kok kayak cewek? bukannya di kamar Aydan kemarin gk ada pajangan foto?".
Arsyila lalu memperjelas penglihatannya dengan memajukan wajahnya namun sia-sia foto itu terlalu jauh. Hingga saat mendengar ada suara langkah kaki yang akan mendekat dari seberang sana Arsyila spontan memundurkan wajahnya dan berekspresi normal seperti semula.
"Maaf ya lama..Abisnya air galon dikamar abis".
"Iya gk papa".
"Mm besok aku udah masuk sekolah lagi, mau berangkat bareng gk?".
Gk biasanya Aydan nanya, malahan dia bakal maksa. Apa ini prank juga ya?
"Syill..Kok kamu diem?".
"Terserah kamu aja". Arsyila tak mau ambil pusing apalagi kembali Overthingking:)
"Okey besok aku jemput ya".
"Iya".
"Ya udah gih kamu tidur dulu sana..Biar pagi bangunnya".
"Emang kamu mau ngapain?".
"Gk ada si, mau tidur juga".
"Oh ya udah kamu tidur duluan aja".
"Samaan".
"Hm oke deh kamu matiin aja VC nya".
"Kamu yang duluan".
"Hadeh..Ya udah sampai jumpa besok, good night. Tataaa". Arsyila melambaikan tangannya di kamera.
"Dadah..Muach".
"Haha aku matiin ya".
Tut
Panggilan akhirnya terputus.
"Huh gk sabar nunggu hari besok".
Ujar Arsyila lalu memejamkan matanya hingga akhirnya ia terlelap.
😴
...*****...
Tunggu kelanjutannya yaaaa...