Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Bag 17 : TUGAS OSIS



Happy Reading🥀


****


"Oh oke bang"


"Lo ngerti kan maksud gw?"


Tanya Razan sambil menunjuk Arsyila dengan dagunya yang berarti alasan ia membawa Arsyila.


"Iya bang! kalo gw kan masih junior..Mana berani juga gue ke kelas atas apalagi temen-temen lo" Cengir Rifki.


"Okey bagus kalo gitu..Gue duluan".


Ujar Razan lalu mengajak Arsyila yang menatapnya seperti anak hilang karna kebingungan.


Mereka kemudian berjalan menyusuri koridor setelah mendapat anggukan dari Rifkiy tadi.


"Kak Razaan ini maksudnya apa??" Tanya Arsyila sedikit mendongak menatap Razan.


"Ngebantu lo jalanin tugas Osis"


Jawab Razan tanpa menoleh.


"Haa?? trus knp kita jalannya beda jalur gini? kenapa gk ke Musholla aku kan tugasnya disana?". Protes Arsyila dengan kalimat yang panjang..


"Kok lo jadi banyak omong?".


Heran Razan kemudian menoleh sebentar ke arah Arsyila.


Arsyila diam namun ikut berfikir..Dia sendiri bingung kenapa ketika bersama Razan dia selalu kelepasan begini? bahkan dari awal bertemu padahal Razan tidak secerewet Aydan.


"Oh iya ya kok bisa" Gumam Arsyila namun masih dapat didengar Razan.


"Lo kan emang aslinya gitu sifat cuek lo itu cuman topeng".


Ujar Razan namun pandangannya lurus kedepan.


"K-Kak Razan tau dari mana??" Heran Arsyila menatap Razan. Jika sudah tau begini bukan hal yang tidak mungkin lagi bagi Razan mengetahui tentang Arsyila termasuk trauma dimasa kecilnya.


"Gue kan Pisikiater".


Jawab Razan mengasal kemudian terkekeh kecil.


"Aishhh kk Razan orang serius juga" Arsyila cemberut.


"Jangan terlalu serius Syil nggak semua orang yang terlihat serius itu tulus". Ujar Razan random.


"Klo itu sih aku tau..Muka-mukanya kk Razan juga termasuk tu". Sahut Arsyila yang sudah kelewat kesal dari tadi tanpa memperdulikan arti dari perkataan Razan.


"Cih siapa bilang coba? haha".


Razan tertawa gaje dan itu semakin membuat Arsyila menatapnya kesal.


"Kak Razaannnnn ish kita mau kemana siih?? ini kita udah diujung koridor loh!" Bentak Arsyila sambil mengerucutkan bibirnya menatap garang Razan.


"Eh iyaya?".


Razan menoleh sekitar dan benar saja mereka sudah berada di ujung koridor melewati tangga yang akan menuju ke kelasnya.


Razan keasikan berceloteh sampai tidak sadar kalau ia melewati tujuannya.


"Eh iye ye" Arsyila mengikuti gaya bicara Razan dengan menggepengkan bibirnya.


"Hehe ya udah yuk naik".


"Aish".


Arsyila hanya menurut malas sekali rasanya berbicara banyak pada Razan.


Bahkan mulai sekarang Arsyila sudah berjanji pada diri sendiri akan menghitung setiap kata yang keluar dari bibirnya ketika berbicara dengan Razan.


"Ayok ikut masuk!".


Ajak Razan ketika mereka sudah tiba didepan pintu kelasnya yaitu XI IPA.


Aryila mencondongkan sedikit kepalanya ke dalam kelas itu sebentar. Ternyata masih banyak orang, yang pasti itu adalah genknya Razan.


Dua diantaranya sedang mengobrol alias ngerumpi dan yang lain sedang tiduran diatas meja dan ada juga yang dikursi.


"K-Kak Razan..Itu temen-temennya lagi pada halangan yak?". Tanya Arsyila menatap polos Razan.


"Hahaha ngada-ngada lo! itu alasan gue ngajak lo kesini" Jawab Razan.


"Maksudnya?" Bingung Arsyila.


"Mereka itu temen-temen gw tapi kalo cuma gue yang ngajak sholat mereka banyak alasan! nah siapa tau kalo lo yang nyuruh, mereka malu and mau ke Musholla" Jelas Razan.


"Dih pemanfaatan" Sinis Arsyila namun hanya dibalas kekehan oleh Razan.


"Emang apa hubungannya?" Tanya Arsyila kemudian.


"Mereka kan fans berat lo".


"Ohh gitu ya?" Arsyila manggut-manggut seolah sudah biasa mendengar kata itu.


"Ya udah lah! gass ketemu fans".


Arsyila mengembangkan senyum kemudian nyelonong masuk terlebih dahulu.


"Eh".


Kini Razan yang dibuat terkejut dengan tingkah random+unik Arsyila.


"Itu Arsyila bukan sih?".


Tanya Razan pada dirinya sendiri sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Assalamualaikum".


Sapa Arsyila ramah pada mereka disusul Razan dibelakangnya.


Dua orang yang tak lain adalah Reza dan Kevin yang sedang sejak tadi berbincang-bincang jadi melongo karna kedatangan Arsyila yang tiba-tiba.


"Sen Sen! Banguuun!" Reza menepuk-nepuk keras punggung Arsen yang sedang tidur di meja.


"Gempaaaa!!!".


Arsen terlonjak dari tidurnya sampai membuat tubuhnya bergelinding ke lantai.


"Awsss shhtt" Arsen mengerang kesakitan.


"Suu!!! kalo ngebanguniiin pelan-pelan dong! ngagetin aja" Kesal Arsen.


Semua teman Arsen juga ikut bangun karna mendengar keributan itu kecuali satu orang yang posisi tidurnya berada di paling pojok dengan menyatukan kursi berpisah itu sebagai alas tidurnya.


"Arsyila!" Kaget salah seorang diantara mereka yang juga baru bangun.


Arsen ikut menoleh ke arah belakang karna posisi duduknya yang membelakangi Arsyila.


"Astaghfirullah bidadariiii ngapain cobak siang-siang gini ke markas Devil".


Ujar Arsen ngawur.


"Pala lo tu Devil! untung aja lo ketuanya" Protes Kinan salah satu genknya yang juga baru bangun.


"Pfft-" Arsyila hampir tertawa lepas jika ia tidak ingat tempat saat ini.


"Neng Arsyila ngapain ke sini?" Tanya Reza ramah tamah.


"Nang neng nang neng" Sewot Kevin namun tak dihiraukan Reza.


"Mm ini kan udah waktu Zuhur ... Sholat jama'ah di Musholla yuk!" Ajak Arsyila sopan.


"Atau kalian halangan?" Sindir Arsyila secara halus.


"Eh nggak-nggak orang kita tadi lagi kailulloh ya gk Kin?".


Alibi Arsen menyebut kata agamis yang sempat dia dengar dari guru PAI nya.


"Eh iyaiya"


Jawab Kinan ikut-ikutan.


"Masak iya?" Gumam Reza sambil berfikir begitupula dengan Kevin.


"Hihi mana ada atuh kailullah waktu orang sholat gini" Sahut Arsyila.


"Eh ini udah selesai kailullohnya" Cengir Arsen kemudian bangkit untuk mengajak teman-temannya ke Musholla.


"Ayok ah bangun lo pada!".


Arsen menarik tangan teman-temannya untuk segera keluar dari kelas termasuk temannya yang masih loading mengumpulkan kesadaran mereka.


"Bye cantik".


Ujar Arsen dan Reza ketika melewati Arsyila dan Razan.


"Nah kan apa gue bilang".


Ujar Razan ketika mereka semua sudah keluar.


"Keren ya..Cuma modal ngomong doang mereka patuh mau jadi ketua Osis aja deh aku sekalian".


Ucap Arsyila dengan penuh percaya diri sambil menaik turunkan alisnya menghadap Razan


Arsyila sepertinya sudah mulai terbiasa dengan Razan bahkan lebih biasa ketika dia bersama Aydan.


Padahal tadi saja dia berjanji untuk menghitung setiap kata yang akan keluar dari mulutnya ketika berbicara dengan Razan.


tapii...Sepertinya tidak bisa😔


"Ayok aja..Enak loh jadi Ketos disini bisa ikut rapat sama Guru, berkunjung kesekolah lain, nganter absen ke semua kelas..Terakhir pulang dan-


"Gk jadi!".


Potong Arsyila mendengar semua tugas yang disebutkan Razan apalagi tugas yang terakhir tadi huhu tidak romaaa..


Razan terkekeh geli ia sudah yakin Arsyila akan bereaksi seperti itu.


"Eh tinggal satu lagi tuh".


Tunjuk Razan pada seorang lagi yang masih tidur dipojokan.


Arsyila dan Aydan kemudian menghampiri siswa tersebut yang tak lain adalah..


"Kak Reno!" Kaget Arsyila.


Tak!


Namun nasib buruk menimpa Reno..Kepalanya malah terpantuk di meja putih nan polos tersebut..Sungguh sakit everybody apalagi bahan dasarnya terbuat dari kayu besi..Eh becandaa.


"Tuh kan! makanyaa jangan suka tidur pas orang lagi sholat..Mana tidurnya dikelas orang lagi".


Sindir Arsyila mengingat kalo Reno jurusan IPS


tapi ya wajar saja Reno kan satu genk dengan Arsen.


Razan hanya menonton dengan pikirannya yang entah kemana..Kenapa Arsyila bisa kenal Reno? pertanyaan itu yang berputar-putar di kepala Razan dan kenapa mereka terlihat sepertiii..Sudah saling mengenal?.


"Hehe ketiduran tadi" Cengir Reno.


"Ya udah sana ke Musholla" Suruh Arsyila pada Reno.


"Trus lo ngapain disini? sama..Razan".


Sambung Reno lagi menengok ke arah Razan yang ada dibelakang punggung Arsyila.


"Mau bangunin kamu..Sana cepet ke Musholla!" Pinta Arsyila sekali lagi.


Aiiibah sepertinya jantung Reno saat ini sedang tidak aman bestie..Mungkin bukan hanya kupu-kupu akan tetapi kaum lebah juga sepertinya ikut terbang di dalam sana.


"Okey mantan terindah..Bye muach".


Ujar Reno sambil memberikan kiss jarak jauh kepada Arsyila dan berlari keluar kelas karna salting.


"Haaa??" Razan semakin dibuat menganga.


"Mantan?".


Arsyila kemudian menengok ke arah Razan yang sedang menatapnya.


"Jangan dengerin kk dia cuma becanda".


Ujar Arsyila menjawab kebingungan Razan.


"Emang lo beneran punya mantan?".


Tanya Razan sambil berjalan mengikuti Arsyila keluar kelas.


"Gk kalo menurut aku".


"Ha maksudnya??".


"Orang bukan aku yang ditembak..Aishh susah jelasinnya".


"Ya tinggal jelasin aja". Ujar Razan menuntut.


"Haa??.


"Kk Razan kok kepoo! udah yuk ke Musholla ntar telat".


Ujar Arsyila lalu dengan spontan menarik lengan sebelah kanan Razan.


Arsyila tidak mau Razan sampai tau alasan dia berpacaran virtual dengan Reno bisa malu dia nanti huhu.


"Eh".


Razan yang ditarik terpaksa mengikut dengan matanya yang melotot melihat tangan Arsyila yang memegang tangannya yang tak berlapis karna lengan seragamnya yang hanya sebatas siku.


"Arsy-


"Apa sih kak!"


Ujar Arsyila sedikit ngegas namun tetap berjalan menghadap depan bagai emak-emak yang sedang menggerong anaknya untuk pulang ke rumah kalau terlalu lama bermain diluar.


Aduuuh gimana ya bilangnya -Batin Razan


Arsyila kalau mode judes begini bikin merinding😌


Untung saja koridor itu sedang sepi jadi tidak akan ada goship yang tidak-tidak nanti.


"Arsyila tangan gue".


Ujar Razan akhirnya memberanikan diri karna mereka sudah tiba dilantai satu.


"Ken-


Arsyila membuka mulutnya lebar dengan matanya yang melotot hampir keluar mungkin:) ketika ia melihat tangannya sendiri yang sedang menarik tangan Razan tanpa lapis kalau bahasa gaulnya siih bersentuhan Kulit ygy🤔.


Arsyila dengan spontan melepaskan tangannya.


"K-Kak Razan.. K-Kenapa gk bilaaang".


Arsyila ngegas dikalimat terakhirnya..Entah kenapa ketika bersama Razan bawaannya pengen ngegaaas mulu.


"Kan udah tadii..Tapi luunya ngomel trus kayak emak-emak" Sindir Razan ada benarnya.


"Y-yaa Aishhh udah ah aku duluan ke Musholla kk Razan jalan sendiri aja!".


"Lah".


Razan melongo melihat Arsyila yang berjalan meninggalkannya tentu karna Arsyila malu lebih tepatnya sih salting dari kalimatnya saja sudah gagap gitu wkwk.


"Arsyila..Arsyila lo gk ada bedanya sama yang dulu". Ujar Razan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya


________


"Arsyila kk Razan ngomong apa tadi?".


Tanya Nia penasaran ketika mereka sudah berada dikelas.


"Kenapa?".


Tanya Arsyila kemudian menoleh, dia sedikit risih jika ditanya soal privasi atau hal yang tidak perlu ia beritahu pada orang lain.


"Ya gk ada sih..Tapi gue cuma penasaran aja bisa-bisanya kk Razan sampe ngusir gitu emang penting banget ya?".


Julid Nia menyebut nama Razan.


"Cuman bantu tugas Osis aja tadi sama Rifki".


Alibi Arsyila tidak mungkin ia mengatakan sudah membantu Razan membangunkan teman-temannya untuk sholat.


Bisa-bisa si pendengar akan iri nanti mudah sekali situasi ini terbaca..Arsyila akan menghindari hal itu.


"Bantu apa?". Tanya Nia lagi kepo.


Teeet teeeet tettt


Bel pulang berbunyi.


Alhamdulillah untung pulang lebih awal- Syukur Arsyila dalam hati.


"Ya udah Nia aku pulang dulu yaa..Udah dijemput kayaknya".


Arsyila kemudian menyampirkan tasnya dibahu kemudian beranjak keluar kelas.


Tuuut tuuut tuuut


Panggilan telpon untuk bundanya belum juga terjawab. Arsyila jadi bimbang..Sekolah juga agak mulai sepi.


"Apa aku telpon Aydan aja ya".


Gumam Arsyila menimbang-nimbang


"Hmm malu ngerepotin..Nunggu taksi aja deh! bismillah".


"Siapa yang ngerepotin?".


Suara seseorang menghentikan langkah Arsyila.


"Aydan? Be-belum pulang?". Arsyila gelagapan.


"Nungguin Lo..Tapi kata Nia tadi lo udah pulang".


"Kamu ngapain ketemu Nia?".


Pikiran Arsyila sudah kemana-mana alias ngelantur.


"Kan gw udah ke kelas lo..Tumben cepet banget nyampe parkiran".


"Oh Iya..Kirain bunda jemput pagian". Jawab Arsyila canggung.


"Syill lain kali lo kalo butuh apa-apa telpon ajaa! kayak sama siapa aja".


Aydan terlihat kesal..Walaupun sudah lama dekat tapi Arsyila masih sungkan dengannya.


"Emang siapa?". Ujar Arsyila keceplosan.


Aydan mematung dengan jawaban sekaligus pertanyaan Arsyila.


Memang benar bukan mereka tidak ada hubungan apa-apa? lantas kenapa Aydan merasa ada sepercik pecahan kaca yang mengenai hatinya.


"Mm-mm maksud aku.."


"Gue ngerti Syill tapi gue belum siap denger jawaban lo..Gue juga gk mau kasih lo harapan dan ujungnya buat lo sakit hati..Gue gk mau nyakitin orang yang gue sayang Syil.. Kita jalanin aja ya?".


What alasan macam apa ini?


Kalau memang Aydan menyayangi Arsyila dan tidak ingin menyakitinya..Lalu untuk apa dia mendekat? bukankah sakit hati itu ditimbulkan oleh orang yang paling dekat dengan kita?


Arsyila bukannya meminta Aydan untuk menjadikan dirinya seorang kekasih..Arsyila hanya ingin kepastian bahkan menyatakan cinta saja tidak pernah. Ketahuilah kata sayang itu terlalu umum dan bisa dikatakan oleh semua orang.


Tanpa lo sadari..Gue udah berharap Dan!


Batin Arsyila namun tak dia utarakan.


"Dan gu-gue..Kak Razan!"


Panggil Arsyila yang kebetulan melihat Razan akan pulang..Arsyila sendiri terkejut kenapa ia refleks memanggil Razan mana suaranya tadi patah-patah lagi.


Razan menengok ke arah Arsyila dengan menukik sebelah Alisnya.


"Tunggu!".


"Dan aku pulangnya sama kk Razan aja ya?".


Tanpa menunggu jawaban, Arsyila langsung berlari ke arah Razan tak menghiraukan Aydan yang melihatnya bingung dengan wajah yang sudah memerah.


...*******...