
...Happy Reading💓🔥...
...*****...
Razan memasuki ruangan osis bersama Arsyila. Disana sudah ada Sania, Nia, Arlina, Rani, Rehan dan juga Jihan.
Ia lalu mengambil duduk didepan bersama pak Malik sedangkan Arsyila ikut berjajar dibarisan terdakwa di samping Rehan.
"Siapa yang mau menjelaskan terlebih dahulu". Razan memulai persidangan. Tidak ada yang berani menyahut, memang aura Razan sangat berbeda jika sudah menjalankan tugasnya sebagai ketua, dia akan menjadi sangat serius tidak ada yang namanya kenalan atau teman dekat. Semuanya sama.
"Rehan? apa ada yang mau disampaikan?". Tanya Razan namun Rehan hanya menunduk.
"Huh! saya dengar ada yang berencana berbuat jahat namun mengambing hitamkan orang lain, ada juga manusia bodoh bukannya mengakui kebenaran malah ikut menyeret diri sendiri kedalam masalah besar. Apa ada yang tersinggung dengan perkataan saya tadi?". Razan memancing sambil memainkan kuku jemarinya.
Sania menatap tajam Rehan seolah memberinya ancaman. Rehan kembali menunduk sambil memilin tangannya dibawah. Arsyila yang melihat itu hanya diam, biarkan Razan menjalani tugasnya dulu, jika nanti ia dimintai penjelasan barulah ia angkat bicara.
"Bukannya emang Rehan sama Intan yang berencana jahat ya? Rehan sendiri yang mengakui perbuatannya..Aku, Rani, dan Sania juga ngeliat kok".
"Apa yang kalian lihat?". Tanya Razan.
"Sania ngomooong.." Nia berbisik. Ia bingung harus beralasan apa.
"Kenapa lo bawa-bawa guee??". Rani ikut berbisik, posisinya sekarang berada didekat Sania.
"Diem!". -Sania.
"Waktu itu abis liat sunrise kami berniat balik ke tenda trus gk sengaja liat Rehan sama Intan nyekap Arsyila dan bawa dia ke tengah laut, gue mau nolongin tapi keduluan kk Razan yang dateng".
"Benar begitu Rehan?". Rehan masih tidak menjawab.
"Arlina?".
Arlina yang disebut namanya menatap sekilas Sania, lalu ikut menundukkan kepalanya. Melihat mata elang Sania membuat nyalinya menciut.
"Jika ada yang berani nyelakain dia kalian tau kan konsekuesinya apa?". Razan menunjuk Arsyila dengan dagunya.
Seketika otak Arsyila nge-lag. Kalimat Razan masih belum bisa ia resapi. Berbeda dengan Arlina yang malah terlihat kecewa.
"Karna tidak ada yang mau menjelaskan lagi, maka pengakuan Sania akan saya anggap benar. Pak kira-kira hukuman apa yang pantas?". Razan memancing dengan sengaja bertanya pada pak Malik.
"Surat panggilan dan dikeluarkan dari sekolah".
"Sepertinya bagus. Rehan, Intan dan Arlina akan mendapatkan hukuman yang setara, kesalahan Arlina karna tidak membantu Arsyila.." Razan menjelaskan. "Sampai sini saya tutup, saya akan ke kantor untuk mengurus surat pemindahan kalian semoga masih ada sekolah kelas bawah yang mau menerima murid seperti kalian". Lanjut Razan lalu bangkit dari duduknya.
"Kak!..." Arlina menghentikan langkah Razan. Razan tersenyum miring. Tidak sia-sia ternyata aktingnya tadi.
Dilain sisi Arlina sangat takut pada kemarahan orang tuanya, bisa dibilang orang tuanya sangat keras dalam mendidik Arlina. Bagaimana nanti jika sampai orang tuanya mendapat surat panggilan? habislah riwayatnya..Mana ada sekolah yang mau menerima murid yang dicap mantan penjahat apalagi dikeluarkan dari sekolah ternama. Itu bukanlah masalah kecil. Bisa-Bisa setelah keluar ia akan menjadi pengangguran ...Huh sungguh situasi yang sulit.
"Saya beri waktu satu menit untuk berbicara".
"Kak bukan Rehan sama Intan yang salah". Arlina semakin merundukkan kepalanya, tangannya sudah keringat dingin. Sania terkejut, jantungnya berdebar kencang. Masalah besar jika Arlina berkata jujur.
"Lalu?".
"Biar gue yang jelasin, gue akan tanggung konsekuensinya". Ujar Rehan, -mengapa harus takut? jika diam dalam kebenaran apa bedanya kita sama setan?- kata-kata intan kemarin masih berputar di ingatannya membuat Rehan makin percaya diri.
"Sebelum pergi ke pantai Nia sama Sania udah berencana nyelakain Arsyila".
-Mati gue!- Nia bergumam.
"Gue awalnya gk setuju tapi kalo gue gk nurut maka aib gue bakal dibongkar ke depan umum dan dijadikan celaan semua siswa/i di sini..Gue tau gue gk lahir dari keluarga terhormat ataupun kaya raya seperti kalian tapi apa anak yang lahir diluar nikah akan selalu dihakimi dan dijadikan aib besar? jika saja waktu didalam perut gue bisa milih, gue lebih baik gk lahir daripada hidup tapi penuh celaan. Maaf San gue harus jujur gue gk perduli jika nanti aib ini kesebar oleh salah seorang diantara kalian asalkan gue bisa merasa tenang jika sudah mengungkapkan kebenaran ini". Rehan menatap sendu ke arah depan dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Bohong! gue sama sekali gk rencanain apa-apa..Emang apa untungnya buat gue nyelakain Arsyila sampe segitunya?". Kilah Sania.
"Ada. Lo suka sama Aydan kan? kalo Arsyila gk ada, lo bakal mudah buat dapetin Aydan, begitupun dengan Nia". Balas Rehan.
"Lo!". Suara Nia tertahan.
"Benar begitu Sania?". Tatapan Razan penuh selidik.
Sania hanya diam dengan wajah kesal.
"Kak apa aku boleh bicara?". Arsyila membuka suara.
"Silahkan".
"Aku sebagai korban juga gk yakin kalo Intan dan Rehan ngelakuin itu, saat aku disergap Intan masih bicara di samping aku, begitupun dengan Rehan yang masih jauh didepan..Jadi gk masuk akal kalau mereka yang ngelakuin itu". Arsyila mengutarakan pendapatnya.
"Hm bener juga ya..Bagaiamana saudara Sania? apa ada alasan untuk menyanggah?". Tanya Razan seperti menantang.
"Aishh". Wajah Sania dan Nia pucat pasi disertai amarah yang menggebu. Tidak adalagi celah mereka untuk berbohong.
Melihat itu Razan tersenyum smrik lalu kembali duduk ditempatnya tadi.
"Kaak...Apa aku juga kena sanksi?". Tanya Jihan.
"Semua yang terlibat baik itu yang melakukan dan mengetahui rencana Sania..Apa selain kalian ada yang tau juga?".
Mereka serempak menggelengkan kepala.
"Sania, Rani dan juga Nia ini peringatan Pertama dan terakhir untuk kalian, selain itu tidak ada toleran. Saya beri dua pilihan bersihkan nama orang-orang yang lo tuduh atau...Keluar dari sekolah ini dengan cara yang tidak terhormat".
Mereka bertiga saling menatap satu sama lain.
"Gk! Gue gk mau dikeluarin dari sekolah ini, apalagi harus mencemarkan nama baik gue sendiri, ini semua salah Sania! gue cuma dipaksa". Ujar Rani sambil berdiri.
"Duduk". Titah Razan dengan wajah dingin. Rani pun menurut dengan masih merasa kesal.
"Saya meminta kalian untuk memilih, bukan mengajukan penolakan saya beri waktu tiga detik untuk menjawab. 1.. 2..
"Porsi pertama!". Jawab mereka kompak.
"Okey bagus, besok pastikan tidak ada celaan untuk Intan dan Rehan di sekolah ini dan bukan itu saja, kalian harus berjemur 1 jam sebelum masuk kelas berlaku selama satu bulan dan memakai seragam putih selama satu minggu dimulai dari besok supaya yang lain tau kalau kalian sedang dihukum".
"Kak Razan apa itu gk berlebihan??". Arsyila merasa sedikit iba. Bukannya tadi Razan memberikan satu pilihan? kenapa jadi beranak cucu begini??? Arsyila tak habis pikir.
"Sudah sewajarnya". Balas Razan seadanya.
"Tap-"
"Mau dihukum juga?". Razan memotong sanggahan Arsyila.
"Hehe gk". Arsyila tersenyum canggung, sepertinya Razan memang memiliki dua muka, yang ini sangat menakutkan pikir Arsyila.
"Bagaimana, apa kalian sanggup?". Tanya Razan dan dibalas anggukan pasrah dari mereka bertiga.
"Bagus. Dan untuk yang lain hukuman kalian adalah diskor selama satu minggu dan keliling lapangan sebanyak 20x setiap pulang sekolah selama tiga hari berturut-turut jika satu hari saja sempat terlewat maka akan bertambah 2x lipat". Tegas Razan.
"Kak Razan...Ini terlalu berat gimana kalau mereka pingsan? abis sekolah capek terus disuruh lari 20x putaran??? kak Razan jangan gitu dong!". Kini Arsyila kembali menyanggah mengingat ukuran lapangannya yang sangat luas, orang lain yang dihukum kenapa dia yang keberatan?.
Pantes kk Razan suka sama Arsyila, dia bahkan masih perduli sama orang yang udah jahatin dia. -Batin Arlina menengok Arsyila.
"Iya kak...Bisa dikurangin gk?". Jihan memohon".
"Gk bisa".
"Kak Razan...10x aja udah capek, 10x aja ya??". Arsyila masih bernegosiasi.
Pencitraan. Gerutu Nia dalam hati.
"Gk ada, tetep 20x". Bantah Razan.
"10x. Please kk Razan please.." Arsyila menyatukan tangannya kedepan. Melihat itu Razan menghembuskan nafas pasrah, hatinya langsung melembut. Pak Malik yang melihat tingkah Arsyila pun hanya dapat menggelengkan kepalanya. Tidak ada yang pernah berani membantah Razan kecuali Arsyila.
"Oke! 10x". Pasrah Razan namun dengan wajah datar. Arsyila pun dapat bernafas lega.
"Makasih ya Syil". Ucap Rehan sambil memberikan senyum.
"Masama".
"Kalo gitu kalian bisa keluar". -Razan.
Sania dan Nia keluar terlebih dahulu dengan wajah kesal lalu disusul Jihan, Rani dan Rehan. Sedangkan Arlina dan Arsyila berjalan di paling belakang.
"Syil tunggu". Arlina menahan tangan Arsyila saat sudah sampai dilorong membuat Arsyila mengernyitkan dahinya.
"Gue minta maaf, harusnya waktu itu gue nolongin lo". Aku Arlina sembari menundukkan kepalanya.
"Gk pp Lin, lagian kejadian itu udah lewat kenapa diungkit lagi.." Balas Arsyila merasa tak enakan.
"Tapi tetep aja gue ngerasa bersalah..Seandainya kk Razan gk dateng mungkin..."
"Aih..Kamu ngomong apa sih, itu emang udah taqdir jangan nyalahin diri sendiri". Arlina masih menunduk, ia sadar perilakunya kemarin sangat tidak baik. Sebelumnya ia tidak pernah seperti ini namun karna rasa cemburu yang membutakannya membuat Arlina memandang sama antara perilaku baik dan buruk.
"Udah..Gk pp". Arsyila menepuk sekilas bahu milik Arlina.
"Makasih ya Syil, lo emang baik..Pantes kk Razan sayang banget sama lo".
"Ha?? apaan si Lin kamu sama aja kayak Intan, suka ngacok..Kak Razan tu partner berantem aku, sayang apanya huh!".
"Hadeh". Arlina hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum kecil. Dasar Arsyila bahkan gadis lain saja peka dengan sikap Razan terhadapnya mengapa otaknya sendiri begitu lemot.
"Yuk ke kelas ntar dapet alfa lagi..Eh bentarr..Berarti sekarang kita temenan kan??". Tanya Arsyila.
"Emang lo mau temenan sama orang jahat kayak gue". -Arlina.
"Jahat?? ah masa? orang kamunya manis gini".
"Untung lo cewek ya Syil".
"Ahaha ii geli...Yuk ah ke kelas". Arsyila lalu merangkul pundak Arlina dan berjalan menuju kelas bersama.
______________
Sampai sini dulu..Sisakan untuk chapter berikutnya😁
See you all💓✨👋🏻