
...Happy Reading💓🔥...
...*****...
Malam ini Arsyila sudah siap dengan setelan gamis panjangnya yang berwarna hitam dipadukan dengan jilbab pasmina yang berwarna coklat. Sangat contras dengan kulit putih cerahnya. Tak lupa ia juga mengenakan tas selempang kulit berwarna coklat ala-ala gadis kondangan.
(Anggap aja suasananya malem..Gk ada latar lain😒).
Memang sederhana. Namun terkesan elegan jika Arsyila yang memakainya. Pokoknya ia harus tampil cantik di moment terpenting sahabatnya ini.
Tin Tin Tin
Suara klakson mobil dari arah luar gerbang rumahnya. Jemputannya pasti sudah datang.
Arsyila lalu keluar ke arah balkon dan benar saja ada Chika yang sudah menunggunya di bawah bersama Aldo.
"Kaaak". Arsyila memanggil Aldo dari atas sambil melambaikan tangannya di udara. Aldo yang mendengar suara Arsyila langsung menoleh ke arah atas.
"Tunggu bentaaar". Pinta Arsyila sedikit berteriak dan di angguki Aldo. Arsyila pun segera turun ke lantai bawah dengan tergupuh-gupuh tak enak membuat dua kk kelasnya itu menunggu.
"Bund..Arsyila pergi dulu ya". Pamit Arsyila lalu menyalami tangan bundanya, Hera cuek saat Arsyila meraih tangannya begitupun matanya yang hanya tertuju pada telivisi.
Arsyila menghela nafasnya pelan, lalu segera keluar menghampiri Aldo dan Chika.
"Maaf ya kak lama nunggu".
Bukannya menjawab Aldo malah diam menatap Arsyila dengan pandangan kagum.
Plak!
"Mau gue congkel mata lo!". Kesal Chika sambil menggeplak kepala milik Aldo.
"Eh sorry yank tadi khilaf". Balas Aldo lalu tersenyum canggung ke arah Chika. Arsyila yang memang otaknya lemot agaknya kurang mengerti sambil menatap bingung kedua kk kelasnya itu.
"Lah Syil, ayok masuk ngapain bengong". Suruh Chika.
"Oh iya kak". Arsyila lalu menempatkan dirinya di jok belakang.
Seharusnya malam ini ia akan berangkat bersama Aydan, namun Arsyila menolak keras dengan alasan masih kesal dengannya. Untungnya Chika mau ditebengin meski harus menjadi syaiton diantara dua kk kelasnya itu.
20 menit perjalanan akhirnya mereka tiba di depan gedung mewah yang sudah dihias seindah mungkin.
Begitupun dengan para tamu yang terlihat ramai di dalam sana dengan menggunakan pakai mewah masing-masing. Bagaimana tidak? semua yang hadir adalah orang-orang dikalangan pembisnis sedangkan sisanya teman dekat yang bertunangan, sengaja agar tidak terlalu banyak yang tau.
Arsyila dan Chika masuk ke dalam dengan bergandengan tangan sedangkan Aldo mengekor dari belakang seperti seorang bodyguard. Memang paling beda pasangan yang satu ini.
Baru saja memasuki pintu utama semua atensi sudah tertuju pada Arsyila seperti seorang tokoh utama dalam sebuah Novel.
"Anjayy cakep bener".
"Masya Allah.."
"Pengen gue milikin tapi keburu sadar kalo gue burik".
Bisik-Bisik para anak bangsawan saat melihat Arsyila. Arsyila makin memperkuat genggaman tangannya di tangan milik Chika.
"K-Kak...Orang-Orang ini kenapa?". Bingung Arsyila dan di balas kekehan kecil dari Chika.
"Cantik lo terlalu overdosis sampai yang lain gk kebagian".
"Haa??". Arsyila ngelag sebentar. Apa Chika sedang memuji atau membahas makanan hingga perlu di bagi-bagi?. Melihat raut bingung Arsyila membuat Chika menghela nafas sejenak.
"Mereka kagum sama kecantikan lo".
Blush
Pipi Arsyila memerah.
"Kok Syila malu ya kak".
"Hihi udah gk usah dihirauin, eh itu Razan samperin yuk!".
Ajak Chika melihat Razan yang sepertinya sedang berbincang-bincang dengan sesama bangsawannya, disampingnya ada Yana yang terlihat menekuk wajahnya. Tidak Heran jika Yana ikut karna papanya merupakan pembisnis kelas atas.
{~Setelan pakaian formal milik Razan.}
"Assalamualaikum akhi-akhi". Sapa Aldo random dan dibalas geplakan dari Chika.
"Bisa normal dikit gk?!.." Chika berbisik dan dibalas cengiran khas Aldo.
"Kak Arsyila!". Mata Yana berbinar-binar dan langsung saja menerjang tubuh Arsyila.
Razan menoleh dan sempat terkagum sebentar melihat wajah cantik Arsyila namun setelahnya kembali menghadap rekan bicaranya yang masih memperhatikan Arsyila tanpa mengerjap. Sepertinya cuma Razan yang normal🗿.
"Masya allah dua bidadari bersatu". Gumam cowok disebelahnya melihat Arsyila dan Yana.
"Dua-Duanya bakalan jadi binik gue". Balas Kinan. Ya! rekan bicara Razan adalah Kinan sedangkan yang disebelahnya adalah sepupunya.
Tak!!
"Jangan macem-macem lo". Peringat Razan.
"Hehe canda Zan". Balas Kinan sambil cengiran .
"Kak Syila makan kue di situ yuk!". Bisik Yana menunjuk beragam makanan yang tersedia di meja pojokan dengan isyarat mata.
"Boleh". Arsyila tersenyum manis. "Kak Chika aku mau main sama Yana aja ya".
"Oh oke". Balas Chika yang membuat Aldo senyum-senyum tidak jelas karna akhirnya bisa berduaan dengan kekasihnya itu.
"Bang! adek izin main sama kk Syila boleh ya?".
Razan menoleh ke arah adiknya itu lalu mengangguk tanda setuju tak lupa memberinya senyum.
*Manis banget*. Gumam Arsyila tanpa sadar.
"Eh!". Arsyila membekap mulutnya sendiri untung saja suaranya kecil, namun walaupun begitu Yana tetap dapat mendengarnya.
~Yes! ngaduin ini ke Bang Razan pasti dapat gaji gede".
Batin Yana sambil terkekeh samar lalu mengajak Arsyila ke stand makanan yang ditunjuk tadi.
"Waahh". Mata Yana berbinar-binar.
"Husstt..Dek, kita harus pura-pura estetik di sini". Arsyila berbisik.
"Huh! tapi Yana laper kak". Keluh Yana sembari mengusap-ngusap perutnya yang rata.
"Emang Abang kamu tadi nggak kasih makan?".
"Kata bang Razan aku disuruh ngabisin makanan yang ada di sini".
"Dasar! Abang semprul emang."
Arsyila melirik sinis ke arah Razan yang sialnya membuat Razan kepergok sedang mencuri pandang ke arahnya.
Namun bukannya memalingkan wajah Razan justru mengandu mata dengan Arsyila. Arsyila dengan tatapan benci sedangkan Razan dengan tatapan manis disertai senyuman.
"Kak.." Panggil Yana menyadarkan. Arsyila lalu spontan melepas kontak mata dengan Razan.
"Eh astagaaa!". Arsyila menepuk-nepuk kecil kepalanya bisa-bisanya ia terhipnotis dengan tatapan Razan.
"Yana laper kak.." Adu Yana sedikit merengek.
"Ya udah yuk kita ambil kuenya tapi elegan gitu yah". Ucap Arsyila dan diangguki Yana dengan senyum merona.
_______________
"Gara-Gara nungguin Papa sama Mama gue jadi ikutan telat kan". Gerutu Aydan yang sudah berdiri di pintu utama bersama Devan. Banyak sekali tatapan kagum dari para gadis bangsawan yang ada di sana termasuk Sania dan Nia namun Aydan tak menghiraukannya dan terus menggerutu.
Outfiit Aydan dan Devan malam ini ;
"Hahaha udah Dan! lu dari turun mobil ngomel-ngomel mulu dah Kayak emak yang liatin anaknya main HP". Devan mengejek.
"Diem lu ah!". Aydan tambah kesal.
Bertepatan dengan kedatangan mereka acara langsung dimulaikan. semua pasang mata hanya tertuju ke panggung untuk mendengarkan host menyampaikan beberapa rangkaian acara hingga pada saatnya acara yang ditunggu-tunggu tiba.
Dheva dan Alzam menaiki panggung...
Suara tepuk tangan dan teriakan meriah dari para audiens memenuhi ruangan yang besar nan megah itu.
"Lo Beneran gk papa Van?". Tanya Aydan menatap sendu sahabat satunya ini sambil meletakkan tangannya di sebelah bahu tegap milik Devan.
"Ck. Gue gk papa". Devan menoleh ke arah Aydan yang sedang menatapnya tak yakin lalu melanjutkan..
"Lagipula kalaupun bertahan kami tetap gk akan bisa bersatu, justru semakin lama kami akan saling menyakiti. Gue emang sayang sama Deva tapi gue nggak bisa ngambil dia dari Tuhannya begitupun sebaliknya. Agama kita beda...Dan juga Dheva berasal dari keluarga yang berada dan orang tuanya menginginkan yang terbaik, selama dia berada di tangan yang tepat gue ikhlas meskipun pada awalnya gue emang menentang dan bertanya kenapa harus Alzam? sahabat gue sendiri?? tapi lama-lama gue paham serta gue bersyukur karena Deva disatukan dengan Alzam orang yang benar-benar gue percaya bisa jaga dia. gue ikhlas....."
Jelas Devan meyakinkan sambil tersenyum memandang lurus ke arah depan menyaksikan Alzam yang sudah memakaikan cincin pertunangan di jari manis milik Dheva dan nampak pula senyum hangat yang menghiasi wajah cantik tunangannya itu.
Aydan hanya geleng-geleng kepala sambil berdecak kagum. Sahabatnya satu ini memang yang paling dewasa di antara mereka berdua.
"Mmm tapi lo beneran nggak sedih kan?". Tanya Aydan sekali lagi.
"Ck. Lo lebay banget sih harusnya kita tuh seneng dong karena sahabat kita nggak jomblo lagi. Tapiii.... "
"Tapi apa??". Tanya Aydan penasaran.
"Gue nggak bisa buliy dia lagi dong". Devan memasang wajah sedih.
"Yeeee! gue kira apaaan!". Kesal Aydan.
"Hahaha eh udah selesai tuh! samperin mereka yuk". Ajak Devan saat acara pertukaran cincin itu sudah usai.
"Lo yakin???". Tanya Aydan lagi. Orang posesif sepertinya memang sulit untuk dikasih paham, masih saja terlihat khawatir.
"Yakin lah! Daripada mikirin gue mending pikirin nasib lu sekarang, tuh lihat cewek lu lagi makan kue". Devan menunjuk Arsyila.
"Gue mau ke depan sama Intan, bye! selamat menjomblo". Ledek Devan lalu pergi menghampiri Intan.
"Aisssh". Aydan mendengus sebal lalu melihat Arsyila yang sedang asyik memakan kue bersama Yana.
"Coba aja gue baikan pasti sekarang udah bisa romantis-romantisan sama Arsyila ah!". Aydan cemberut.
"Kak, itu cowoknya kk kan?". Tunjuk Yana pada Aydan yang sedang melihat ke arah mereka. Arsyila mengikuti arah pandang Yana.
Deg!.
Mata mereka bertemu.
~Yaa ampun ganteng banget sih..Tahan gengsi Arsyila tahan...
Batin Arsyila melihat penampilan Aydan. Nampak Aydan tersenyum ke arahnya namun Arsyila pura-pura cuek membuat senyum Aydan kembali memudar.
"Dek kita ucapin selamat ke kk Deva yuk". Ajak Arsyila pada Yana agar terhindar dari Aydan.
"Yuk!". Sambut Yana antusias lalu meletakkan piring yang masih tersisa dua buah kue itu di atas meja.
Arsyila lalu menggandeng tangan Yana menuju depan panggung. Di sana sudah ada Devan dan Intan, Chika dan Aldo, Kinan and geng kecuali Arsen sang ketua karena ada kesibukan sendiri.
"Alzam.." Sapa Arsyila yang sontak membuat mereka semua menoleh.
"Selamat ya".
"Makasih Syil.. Makasih juga udah sempetin datang". Alzam tersenyum manis.
"Masama". Arsyila balas tersenyum.
"Kak Dev..Selamat ya". Arsyila menyalimi tangan Deva sambil cupika cupiki.
"Arsyila kita kapan?". Sahut Reza tiba-tiba dan dibalas tawa teman-temannya.
"Ngaca bro!". -Rivan.
"Kak, aku mau ke Kak Razan dulu ya..Kayaknya Papa manggil". Bisik Yana.
"Oh oke".
"Vha sini..Arsyila ayok ikut". Chika menarik tangan Arsyila dan Dheva sedikit menjauh dari teman-temannya.
"Vha! gue masih kesel sama lo, pokoknya lo hutang penjelasan sama kita!". Chika cemberut sambil bersidekap dada.
"Ya tuh kak..Syila juga kaget loh tadi pagi tiba-tiba dapet surat undangan".
Arsyila tidak menyangka jika Dheva dan Alzam sampai akan tunangan walaupun kadang ia sempat curiga dengan kedekatan mereka.
Dheva menghela nafas terlebih dahulu.
"Gue dijodohin". Jawab Dheva singkat tak mau membahas terlalu jauh.
"Apa?? kenapa lo gk bilang-bilang kalo di jodohin sama Alzam!". Pekik Chika. "Awalnya gue ikhlasin Alzam buat lo tapi gk untuk dinikahin juga..😖". Chika sedikit bergurau.
"Sengaja biar kalian gk heboh duluan hehe".
Elak Dheva. Sebenarnya ia hanya belum siap memberi tahu teman-temannya karna Dheva bukanlah tipe orang yang mudah membagi rahasia atau beban kepada orang lain..Itulah salah satu alasan Devan juga menyukainya. ~Dulu~
"Huh! dasar". Kesal Chika.
"Tapi ya..Gue masih gk nyangka kalo Alzam nonmuslim". Chika geleng-geleng kepala.
"Udah seratus kali lo ngomong gitu". Cibir Dheva.
"Aku juga loh kk Dev, padahal udah satu tahun+ sahabatan ama dia, awalnya aku ngira Alzam islam gara-gara sering baca istigfar dan buka hadist dho'if". Ujar Arsyila lalu terkekeh.
"Haha ya wajar kan sahabatnya islam semua".
Drrt Drrt
Tiba-Tiba ponsel Arsyila bergetar menampilkan sebuah pesan masuk dari Bundanya.
"Mm kak kayaknya aku mau pulang lebih awal deh..." Ujar Arsyila merasa tak enak.
"Eh kenapa???". -Dheva.
"Mm Bunda". Jawab Arsyila singkat yang langsung difahami Chika dan Devha.
"Oh gitu, ya udah gue anterin pake mobilnya Aldo ya..Gue kayaknya pulang nantian".
"Eh gk usah kk Chika..Aku bisa naik taksi kok".
"Emang lo berani?".
"Aku udah biasa kok". Bohong Arsyila. Padahal itu hanya sekali waktu ke rumah sakit menjenguk Adhira.
"Hmm y udah deh..Lo hati-hati ya". -Dheva.
"Iya..Gk pp kan kk aku pulang duluan?". Tanya Arsyila pada Dheva.
"Iya gk pp lagipula ini udah acara bebas".
"Hm ya udah Syila pulang dulu ya kak..Assalamualaikum".
"Wa'alaikumussaalam". -Chika.
"Nah itu dia cepet tumpahin!.." Bisik Sania pada Nia saat Arsyila akan melewati mereka.
Nia berjongkok lalu menumpahkan segelas sirup ke lantai hingga Arsyila yang sudah terlanjur melangkah tak bisa menyeimbangkan diri lantas terhuyung ke belakang.
"Aaaaaaa".
Teriak Arsyila saat setengah badannya sudah melengkung namun tiba-tiba sebuah tangan kekar menahan pinggangnya membuat tubuh Arsyila melayang.
"Kak Razan.." Gumam Arsyila saat pandangan mereka bertemu.
"Aiss gagal lagi". Kesal Sania.
Mereka melupakan satu fakta bahwa disekitar mereka tadi ada Razan yang sedang berbincang dengan rekan bisnis papanya membuat rencana mereka kembali gagal.
Semua mata tertuju pada Arsyila dan Razan, belum lagi -jas serta gamis- yang dikenakan mereka sangat serasi membuat mereka berdua semakin jadi pusat perhatian.
Beberapa saat dalam posisi itu, Arsyila akhirnya tersadar dan langsung menjauhkan tubuhnya dari Razan.
Ia lalu menengok sekitar hingga membuat dirinya merasa canggung. Tiba-Tiba nama Aydan berputar-putar di kepalanya membuat Arsyila di hinggapi rasa takut.
Refleks Arsyila mencari keberadaan Aydan hingga matanya terkunci pada manik mata Aydan yang sedang berdiri mematung dan menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Tanpa sepatah kata Aydan langsung beranjak keluar dari gedung mewah itu dengan perasaan campur aduk.
"Ay!". Panggil Arsyila dengan sedikit berteriak.
Ia mendadak panik lalu mengejar langkah Aydan tanpa memperdulikan wajah bingung dari orang-orang yang sedang menatapnya.
"Ay tunggu...! Please jangan salah faham". Arsyila menahan tangan Aydan yang akan membuka pintu mobil.
Aydan menyentak kasar tangan Arsyila lalu menghadapnya.
"Itu kan tujuan lo nyuruh gue buat jauhin lo? kali ini gue kecewa berat sama lo Syil". Mata Aydan sudah memerah.
"Ay..Gk gitu, please deng- Aw!".
Ucapan Arsyila terpotong kala Aydan kembali menepis kasar tangannya dengan sedikit mendorong tubunya hingga ia dibuat terhuyung jika saja tidak ada Devan yang sigap menopang tubuh Arsyila dari belakang.
Aydan tak perduli lalu masuk ke mobilnya dan menutup pintu dengan kencang meninggalkan Arsyila begitu saja.
"Hiks". Tanpa sadar air mata Arsyila menetes, tak pernah ia mendapati Aydan yang sekasar tadi.
"Lo gk papa?". Tanya Devan agak khawatir dan dibalas gelengan kepala oleh Arsyila.
"Aydan Van..hiks".
"Nanti biar gue yang bantu jelasin, lo tenang aja ya.." Devan mencoba meyakinkan. Namun Arsyila hanya diam sambil terus tersisak.
"Biar gue anter pulang".
...******...
See you next chapter👋🏻💓