
...List reading favorite kalian😚...
...Siap???...
...Happy Reading💓🔥...
...*****...
"Kayl.." Panggil Hamam saat menghampiri bangku yang diduduki Arsyila dan Kayla. Melihat keberadaan Hamam membuat keduanya serentak menoleh.
"Gk ke kantin?". Tanya Hamam lembut.
"Kamu duluan aja ya..Aku mau keliling liat area sekolah ditemenin Arsyila". Jawab Kayla.
"Hm ya udah mau nitip apa? biar aku beliin".
"Samain aja, kan selera kita sama". Kayla tersenyum manis.
Hamam hanya tersenyum sebagai jawaban lalu mengelus sebentar kepala Kayla yang tertutup hijab dan pergi menuju kantin. Arsyila yang sejak tadi menyimak di buat cengo.
"Kayla! tadi itu pacar kamu??". Serbu Arsyila.
"Bukan pacar tapi lebih dari ituu". Kayla terkekeh kecil.
"Haa?? maksudnya?".
"Ssut..Jangan kasih tau siapa-siapa ya!.." Arsyila mengangguk antusias. Kayla lalu mendekat ke arahnya dan berbisik. "Aku sama hamam udah nikah".
Arsyila melebarkan bola matanya sambil menutup mulutnya yang sempat terbuka.
"Sejak kapan Kayl??? Kok bisa??". Tanya Arsyila tak percaya.
"Baru kemarin kok pas semester 2..Kebetulan papa aku sama papanya Hamam sahabat deket jadi kita di jodohin deh..Keluarga aku juga pada ngedukung buat nikah muda karna bisnis, apalagi papanya Hamam..Takut aku di ambil orang dan gk bisa sama anaknya hihihi". Kayla terkekeh geli.
"Oo gitu berarti kk Haris didahuluin dong".
"Hehe iya, soalnya abang Haris gk mau dijodohin mm kayaknya tamat SMA ini dia bakal nikah sama pacarnya deh".
"Mmmm". Arsyila mangguk-mangguk.
"Syil gk ikut ngantin?". Intan tiba-tiba datang menghampiri Arsyila bersama Rehan,Jihan, Rani, dan juga Arlina. Sepertinya group mereka sudah kembali ke jalan yang benar:)
"Aku puasa". Arsyila tersenyum ramah.
"Oh ya udah..Eh kita belum kenalan, salken nama aku Intan". Intan mengulurkan tangannya ke arah Kayla lalu dibalas tak kalah ramah olehnya.
"Kayla". Kayla memperkenalkan diri. Begitupun dengan yang lain secara bergantian.
"Ya udah kita mau ke kantin dulu ya..Bye Syil, Kayla".
"Iya.." Jawab Arsyila dan Kayla bersamaan.
"Temen kelas kamu ramah-ramah ya Syil.." ~Kayla.
"Ya gitu.." Arsyila tersenyum tanpa arti sambil membatin ~Butuh proses~.
"Tapi kamu harus hati-hati sama Sania". Arsyila sedikit berbisik.
"Siapa nama gitu?". Tanya Kayla bingung. Arsyila lalu mengkode dengan mata dan Kayla refleks menghadap ke belakang tempat dimana Nia dan Sania duduk bertepatan dengan itu Sania juga tengah memperhatikannya.
"Mukanya kayak gk asing..Tapi dimana ya?". Gumam Kayla saat beradu mata dengan Sania.
"Kayl..Jangan di tatap lama-lama ntar ketauan digosipin".
"Eh iyaya". Kayla tersadar lalu kembali menghadap depan.
"Ya udah yuk keluar ntar keburu bel lagii".
"Yuk!".
______________
"Huh! capek juga ya ternyata tapi seruuu". Ujar Kayla saat sudah mengelilingi taman dan beberapa tempat lain di sekolahnya. Maklum terlalu luas jadi tidak bisa di kunjungi satu persatu.
Kini mereka berdua sedang berjalan di pertengahan koridor bersiap kembali ke kelasnya karna waktu istirahat sudah akan berakhir. Namun bertepatan dengan itu dari kejauhan Arsyila melihat Aydan, sepertinya mereka akan berpapasan. Buru-Buru Arsyila mengajak Kayla berbalik untuk bersembunyi namun Kayla menahannya.
"Syil kamu kenapa si kayak liat hantu gitu?? bel masuk tinggal bentar, kamu mau kemana?". Tanya Kayla keheranan.
Arsyila menghela nafas...
"Kamu liat orang itu". Arsyila menunjuk Aydan yang tengah berjalan sendiri. Kayla pun melihat Aydan lalu mengangguk.
"Nah itu gebetan aku..Tapi kita lagi marahan jadi mau sembunyi". Arsyila terlihat sedikit panik.
"Hadeh...Kalo marahan gk usah saling menghindar ntar kegoda syaiton gatel. Yuklah aku temenin ke sana biar aku bantuin ngomong!". Kayla menarik tangan Arsyila hendak membawanya mendekat ke arah Aydan.
"Tapi..."
"Husst aku dah berpengalaman".
Dan benar saja Kayla dan Arsyila berjalan ke sana hingga kini mereka sudah tiba di hadapan Aydan..
"Kamu pacarnya Arsyila kan?". Tanya Kayla to the point. Namun Aydan nampak terkejut, raut wajahnya seketika berubah.
Aydan hanya diam menatap Kayla dengan pandangan yang sulit diartikan, tersirat makna kecewa, sedih yang bercampur menjadi satu, dan Arsyila dapat melihat itu.
"Syil..Ke-Kenapa dia natap aku kayak gitu?". Tanya Kayla kebingungan. Arsyila ikut memandang Aydan yang hanya fokus menatap Kayla. Ia juga bingung.
"Aydan..." Panggil Arsyila pelan namun Aydan sama sekali tak menghiraukannya seolah memang hanya ada Kayla disana.
"Tiara..." Satu kata lolos dari mulut Aydan membuat Arsyila semakin bingung.
"Tiara?? siapa?". Beo Kayla.
Tanpa aba-aba Aydan memeluk tubuh Kayla yang langsung saja membuat dua gadis itu melongo. Aydan menangis seolah menyalurkan kerinduannya yang sudah lama terpendam.
Deg!
Rasanya Arsyila ingin menghilang saat itu juga melihat orang yang dicintainya memeluk orang lain di hadapannya sendiri.
Namun satu hal yang Arsyila bisa tangkap..Ternyata Tiara yang Aydan sering sebut waktu lalu adalah Kayla. Dan orang yang selama ini selalu memicu perdebatan diantara mereka juga Kayla. Kenapa??? Kenapa harus Kayla, orang yang begitu sangat ia sayangi. Kenapa penulis taqdir harus membuat teka-teki yang begitu sulit ia terima?...Arsyila merasa sangat hancur sehancur-hancurnya hari ini.
"Aydan disi-". Ucapan Devan terpotong saat melihat adegan di depannya begitupun dengan Alzam.. Mereka berdua terlihat seperti mengejar langkah Aydan dari jalur yang sama.
"Tiara". Mata Alzam melebar. Matanya lalu berpindah melihat Arsyila yang sedang berdiri di tengah-tengah mereka dengan wajah yang sangat sulit diartikan.
Aydan lalu melepaskan pelukannya dan menyentuh kedua pundak Kayla yang sedang berdiri mematung. Otaknya masih mencerna apa yang sedang terjadi.
"Tiara..Kenapa lo ninggalin guee??! lo gk tau segimana frustasinya gue waktu lo gk ada".
"Ma-Maksudnya?? maaf mungkin kamu salah orang, aku Kayla".
"Gk Ra..Gue minta maaf karna waktu itu gue gk bisa nyelametin lo". Aydan menangis dihadapan Kayla, bahunya bahkan ikut bergetar.
"****!". Devan sudah geram lalu menarik seragam Aydan dari belakang dan membawanya ke root of diikuti Alzam.
Air mata Arsyila mengalir tanpa permisi, tanpa suara dan tanpa isakan. Dia hanya bisa menangis dalam diam meratapi nasibnya.
~Aku kira cinta itu anugrah..Namun mengapa disaat aku baru merasakannya diriku langsung dijatuhkan ke dalam jurang yang curam..
"Syil.." Panggil Kayla pelan, ia jadi merasa tidak enak. Jika tau begini Kayla akan memilih menghindar saja daripada menyakiti perasaan Arsyila yang sudah ia anggap saudara sendiri.
"Aku mau nyusul Aydan..". Ujar Arsyila dengan suara yang sudah bergetar lalu mengejar langkah Devan dari belakang.
______________
"Lo gila???!". Mata Devan berapi-api.
"Itu Tiara Van..." Suara Aydan terdengar parau.
"Terus kalo itu Tiara lo mau apa ha??! lo gk buta kan disana ada Arsyila?".
Aydan hanya diam sambil merunduk.
"Lo tau kan Arsyila punya trauma, apa lo gk mikir gimana perasaan dia ha?? dimana hati lo??!".
"Gue gk bisa!". Aydan mengacak rambutnya frustasi. "Setiap gue liat Arsyila senyum, gue selalu inget dia. Dan sekarang dia satu sekolah sama kita, gimana bisa gue lupain dia?? arrgh!".
"Ooo jadi selama ini lo sampe ngejar-ngejar Arsyila karna dia mirip??". Alzam tak habis fikir.
"Anj*!". Umpat Devan yang sudah sangat geram lalu memberi bogeman mentah ke wajah Aydan.
Arsyila yang sedari tadi berdiri di pintu masuk root of pun dibuat mematung mendengar pengakuan Aydan..
Hatinya mencelos, jadi selama ini..Aydan tidak tulus??. Dia bersama Arsyila namun yang dibayangkan adalah orang lain, apa itu bisa dikatakan tulus?. Ingin rasanya Arsyila tertawa, menertawai kehidupannya yang sangat lucu.
Air mata itu kembali lolos dari pelupuk mata Arsyila untuk yang kesekian kalinya. Luka hatinya semakin menjadi, bahkan hari ini ia sudah benar-benar tidak percaya lagi dengan cinta..Hatinya sudah dibuat benar-benar mati rasa.
Orang yang selama ini mengajarkannya arti ketulusan...
Orang yang selama ini selalu menjadi penyemangat hidupnya hingga ia bisa bertahan sampai detik ini..
Dan satu-satunya orang yang sudah lancang membuka pintu hatinya kini justru menjadi penyebab utama Arsyila merasakan apa itu rasa sakitt yang sebenarnya.
Sudah cukup..Arsyila sudah tak mampu menahan semuanya. Ia pun pergi dari sana dengan perasaan kecewa..
~Bukannya luka selalu begitu?? datang dan pergi tanpa suara?~
Arsyila berjalan menyusuri lorong dengan kepala yang ditundukkan, ia sudah tak lagi menangis. Namun jangan salah Arsyila tidak menangis bukan karna baik-baik saja justru jauh di dalam lubuk hatinya ia memberontak.
Apa kalian tau?? menangis sedikit dapat meringankan masalah. Jikalau begitu kalian tau bukan bagaimana rasanya menahan sakit disaat air mata sudah tidak mampu berapresiasi lagi. Itulah yang dirasakan Arsyila saat ini.
Arsyila meremas ujung seragamnya, entah mengapa dadanya terasa begitu sesak dan sangat nyeri.
"Perasaan aku cuma punya PTSD deh, tapi kenapa jantung aku rasanya aaassh!! sakit bangett..." Rintih Arsyila kemudian menumpu tangannya di dinding koridor yang sudah sepi karna para siswa dan siswi sudah masuk ke dalam kelas dan melakukan aktifitas belajar. Satu tangannya berpindah meremas seragam bagian atasnya tempat rasa sakitnya berada.
Di ujung koridor, nampak Razan yang sedang patroli melihat para siswa yang bolos jam pelajaran. Bertepatan sekali matanya menangkap Arsyila yang terlihat sudah pucat.
"Syiiill!!". Panggil Razan cepat sambil berlari ke arah Arsyila yang sudah hampir tumbang kemudian menahan tubuhnya.
"Arsyila lo kenapa??". Panik Razan. "Arsyila dengerin gue!". Razan menepuk-nepuk garis jilbab Arsyila yang menempel di pipinya. Mata Asyila mengerjap-ngerjap dengan kondisi tubuh yang lemas.
"Kk Razan.." Panggil Arsyila, perlahan kesadarannya kembali.
"Iya ini gue Syil.." Razan sangat cemas. "Lo kenapa?? kita ke UKS ya??".
"Enggak kk..Assshh".
Arsyila mengerang merasakan sakit di ulu hatinya yang terasa semakin menjalar ke bagian tubuhnya yang lain. Arsyila semakin meremas dadanya yang tertutup hijab lantas menopang kembali tubuhnya ke dinding setelah melepas rangkulan Razan dari pundaknya.
Razan geram sendiri dengan Arsyila yng bersikeras tidak mau di bawa ke UKS.
"Arsyila jangan keras kepala!". Razan refleks membentak.
Arsyila tersentak kaget, dadanya makin terasa sesak..Jantungnya pun berdebar tidak beraturan.
"Pusing.." Arsyila memijit-mijit kepalanya yang tiba-tiba ikut berperan dengan wajah yang terlihat menahan sakit.
"Maaf Syil...tadi gue kelepasan ngebentak lo". Ujar Razan benar apa adanya.
"Kenapa kalian semua jahat???". Arsyila tiba-tiba menangis, pundaknya pun ikut bergetar.
Razan cengo, "Kalian???". Beo Razan heran.
"Huhu". Tangis Arsyila makin menjadi hingga sesenggukan.
Arsyila kemudian menatap lurus ke depan dan perlahan tangisnya pun mereda namun pandangannya menjadi kosong.
Razan yang melihat keterdiaman Arsyila dibuat makin bingung.
Seisi koridor nampak sepi dan sunyi, bahkan Arsyila tidak dapat mendengar suara apa-apa lagi membuat dirinya mendadak panik.
"Kak Razaann..." Panggil Arsyila lalu menoleh ke kiri dan kanan mencari keberadaan Razan tadi, namun tidak ada siapa-siapa. Hanya ada dirinya yang menempati koridor yang sepi itu. Arsyila sungguh takut.
Razan yang sedari tadi tak berpindah dari tempat berdirinya ikut cemas melihat Arsyila yang seperti orang linglung.
"Ini gue Syil.." Razan menahan kedua pundak Arsyila untuk nenyadarkannya namun Arsyila makin histeris dan tak merasakan kehadirannya.
"Syil jangan buat gue panik!!". Wajah Razan pucat pasi dengan air mata yang mengalir tanpa permisi.
"Kenapa gk ada orang?? kk Razan kemana?? Hiks". Arsyila kembali terisak.
"Arsyila kenapa???". Tiba-Tiba Aydan datang dan mengambil alih Arsyila dari Razan.
"Bang dia kenapa??". Tanya Devan ikut panik.
"Gue gk tau..Tadi gue lagi jaga kayak biasa terus gk sengaja liat Arsyila kayak gini". Jujur Razan..
"Jangan-Jangan...." Devan dan Alzam saling pandang seolah menyalurkan pikiran yang sama.
"Syil lo kenapa??". Aydan mengguncang bahu Arsyila. Sayup-Sayup Arsyila mendengar suara disekitarnya.
"Haa tolong! dimana kalian?? kenapa Syila ditinggalin sendiri hiks, kk Razaan dimanaa??".
"Syil ini guee, lo liat guee kan??". Aydan membawa wajah Arsyila agar menatapnya. Namun tetap saja Arsyila tak merasakan apa-apa.
Perlahan pandangan Arsyila mulai menggelap dan tiba-tiba...
Jleb
Arsyila jatuh pingsan..
"Arsyilaaa". Tanpa aba-aba Aydan menggendong tubuh Arsyila lalu membawanya ke rumah sakit terdekat.
Razan yang melihat itu hanya diam..Entah mengapa hatinya jadi ikut sakit, disatu disi karna kondisi Arsyila, dilain sisi juga karna Aydan yang dengan lancang mengambil Arsyila darinya.
"Bang ayo!.." Devan menepuk pelan bahu Razan. Razan hanya mengangguk lesu lalu mengekori Aydan dari belakang.
_______________
Sudah hampir satu jam mereka menunggu di luar namun Dokter belum juga selesai melakukan pemeriksaan.
Aydan sedari tadi hanya mondar-mandir di depan pintu, sedangkan Razan duduk termenung di kursi panjang depan ruangan Arsyila ditemani Alzam dan Devan dalam posisi berdiri sambil menyandarkan punggungnya di tembok.
"Ck. Kok belum ada tanda-tanda Dokter keluar sii". Gerutu Aydan dengan wajah panik.
"Ini semua gara-gara lo". Sahut Devan dengan tatapan lurus ke depan.
"Gue tau gue salah..Ini salah gue gk jelasin Arsyila dari awal".
"Emang lo mau jelasin dia apa? Ini semua gk akan terjadi kalo lo ikutin nasihat gue dari awal".
"Maafin gue". Aydan merasa sangat menyesal.
"Kalian lagi ngomongin apa si?? Arsyila sebenarnya kenapa?". Razan bingung.
"Lo tau kan bang murid baru yang pindah tadi pagi?". Tanya Devan.
"Iya..Gue tau, kenapa?". Tanya Razan penasaran.
"Itu mantannya Aydan, dan sampai sekarang Aydan belum moveon. Gue gk tau pasti kejadian yang sebenarnya di koridor tapi yang gue liat Aydan meluk tuh cewek..Gue males cerita lo tanya aja langsung sama Aydan". Ucap Devan terpotong karna terlanjur kesal.
"Tunggu...Maksud lo Kayla???". Razan nampak terkejut.
"Nama aslinya Tiara". Timpal Alzam.
"Jelasin gue!". Pinta Razan seperti mengetahui sesuatu.
...*****...
Tetap pantau ya Guys!
See you next Chapter💓✨👋🏻