
...Happy Reading ๐๐ฅ...
...BTW Happy new year ya smuanya๐...
...(diketik 1 januari)...
...*****...
...~Jika memang hujan itu masalah buatmu, mestinya kamu menghadapinya langsung, bukan malah menghindarinya dengan memakai payung. Kamu tidak akan menikmati hidup jika terus lari dari hujan~...
..._...
Arsyila berdiri melamun di balkon depan kelasnya sambil menonton kelas lain yang sedang olahraga di lapangan. Langit pun terlihat mendung hingga membuat hati Arsyila diselimuti perasaan damai.
Akhir-Akhir ini Arsyila nampak murung, ia juga lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar, berlatih mengerjakan soal-soal semester tahun kemarin dari pada bermain.
Tanpa sengaja matanya menangkap Razan dan Kayla yang sedang berbincang dipinggir lapangan, namun Arsyila mulai nampak tak perduli meski hatinya seringkali memberikan reaksi yang berbeda.
Ia pun memilih masuk kedalam kelas untuk kembali duduk bersama buku-bukunya.
Panggilan kepada Princess Arsyila supaya segera menuju ruangan OSIS karna ada yang perlu dibicarakan.
Suara seseorang dari balik micropon mengalihkan atensi Arsyila.
"Eyaaak Princess gk tuh".
"Berasa sekolah dikerajaan".
Seru sebagian murid yang mendengar pengumuman itu. Arsyila menghela nafas lalu beranjak keluar dari kelas.
Banyak pasang mata yang memperhatikan Arsyila saat dirinya berjalan menyusuri koridor namun Arsyila memilih menunduk.
Setibanya diruangan OSIS, Arsyila tidak melihat satu orang pun disana.
"Hm pasti diruangan kk Razan". Gumam Arsyila lalu berjalan ke samping. Dan benar saja, disana sudah ada Razan, Aldo, Chika, Dheva, Kayla dan juga Yana.
~Lah? pada ngapain??
Arsyila membatin.
"Sini Syill". Panggil Kayla sambil menepuk sebelah tempat duduknya yang kosong. Arsyila pun menurut lalu berjalan ke arah Kayla dan duduk disampingnya.
"Karna Arsyila udah dateng kita pergi dulu ya". -Chika.
Razan mengangguk lalu Chika dkk pun keluar dari sana.
"Aku juga. Kak aku duluan ya". Ujar Yana namun matanya ke arah Kayla.
"Kak Syil". Pamit Yana juga pada Arsyila lalu keluar dari ruangan tersebut.
~Dih aku dibelakaingin.
"Bang. Kayaknya aku juga mau balik kelas". Kayla ikut-ikutan, ia jadi merasa tak enak dengan Arsyila.
"Eh lo diem disini". Razan menahan tangan Kayla dengan menarik telapak tangannya.
Arsyila melototkan matanya tak percaya, setaunya Razan tidak akan sembarangan menyentuh gadis yang bukan mahrohmnya tanpa lapis apalagi jika gadis hijab sepertinya dan juga Kayla. Namun lihatlah sekarang, Razan menyentuh tangan Kayla?? dengan sengaja pulak. huh!.
Arsyila mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Mm kk, a-aku.." Kayla mendadak gugup.
"Gk usah ngebantah! diem disamping gue". Tegas Razan.
"Hoaaam". Arsyila pura-pura menguap.
"Kalian nyuruh aku kesini buat liat drama CLBK kalian ya? inget Kayl kamu dah punya Hamam". Peringat Arsyila lalu memutar bola matanya malas. Kadang ia merasa jengkel dengan Kayla, bagaimanapun juga sahabatnya itu sudah menikah dan tidak sepantasnya berlaku seperti itu.
Bertepatan sekali, Hamam langsung muncul dan masuk ke dalam ruangan Razan dengan wajah seperti menahan amarah.
"Ikut aku!". Hamam sedikit membentak lalu menyeret paksa tangan Kayla keluar dari ruangan Razan.
"Baguslah Hamam dateng". Lega Arsyila. "Btw ada urusan apa manggil aku? kalo gk penting mending aku balik kelas aja, buang-buang waktu". Arsyila menatap datar ke arah Razan.
"Oh, gue cuma mau kasih tau lo tentang video promosi kemarin. Kata bokap gue, viewsnya udah tembus 5M dan SMA kita sekarang makin terkenal dan sudah hampir 2000 siswa yang sudah mendaftarkan diri disekolah ini tidak termasuk siswi".
"Oo baguslah, terus?". Balas Arsyila sekenanya.
"Mm sebagai ucapan terimakasihnya, bokap gue ngundang lo di acara ulang tahun perusahaan yang akan berlangsung pada malam selasa besok. Lo... Mau hadir kan?".
Arsyila berfikir sejenak lantas menjawab;
"Boleh, tapi untuk apa berterimakasih? aku kan cuma take vidio bukan kasih prestasi jadi menurut aku gk ada yang perlu di kasih penghargaan".
"Ya kalo bukan karna lo sekolah gue gk akan berkembang sepesat ini, dikomenan aja lebih banyak yang nanyain lo. Bahkan karna itu papa gue makin disegani dikalangan pembisnis kelas atas".
"Ooo". Arsyila mangguk-mangguk.
Entahlah ia sebenarnya tidak mengerti dengan yang dikatakan Razan mengenai dunia bisnis, baginya ia tidak pernah melakukan hal yang spesial, namun karna tak ingin terlihat terlalu goblok akhirnya Arsyila mengiyakan saja.
"Jadi...Lo mau dateng kan?".
"Demi pak Cakra". Jawab Arsyila dengan nada malas. Razan pun tersenyum kecil.
"Okey besok malem gue jemput ke rumah lo".
"Hm". Arsyila bergumam. "Kak Razan cuma nyampain itu kan?".
"Iya".
"Kalo gitu aku mau langsung balik ke kelas. Assalamu'alaikum". Ujar Arsyila sembari bangkit dari duduknya.
"Syil.." Panggil Razan membuat Arsyila kembali menoleh ke arahnya.
"Apa lo gk ada perasaan kesel sama gue?". Tanya Razan dengan sarat makna yang dalam.
"Selalu". Jawab Arsyila singkat lalu bergegas keluar dari ruangan Razan.
_____________
Kegiatan ajar mengajar sudah selesai dan waktunya kembali ke rumah masing-masing..
Namun, suasana kali ini berbeda. Hujan di luar sangat lebat hingga banyak para siswa yang menunggu jemputan sambil menikmati angin sepoi-sepoi dari balkon sekolah mereka.
"Syil, aku sama Hamam mau pulang duluan. Kamu mau ikut?". Tanya Kayla yang baru selesai memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
"Gk usah, aku nunggu bunda aja". Arsyila berbohong, padahal tadi pagi Hera pernah memberitahunya bahwa hari ini bundanya itu tak bisa menjemputnya karna akan pulang terlambat kerumah.
"Oh ya udah, aku duluan ya assalamu'alaikum". Ujar Kayla lalu menyusul Hamam yang sudah dahulu keluar dari kelas.
"Wa'alaikumussalam warohmatulloh".
Karna bosan Arsyila pun memilih keluar dari kelas hanya untuk menikmati deraian hujan lewat balkon, namun karna dirasanya para murid yang sedari tadi berdiri di balkon sudah turun ke bawah ia pun bergegas kembali ke kelas untuk mengambil tasnya dan ikut turun.
Hingga dirinya tiba diparkiran, Arsyila masih melihat beberapa siswa/i menunggu disana, ia pun dengan sedikit berlari kecil melewati guyuran hujan itu dan ikut menunggu bersama yang lain.
"Guys aku pulang dulu ya". Ujar salah seorang diantara mereka saat jemputannya datang.
"Okey". Tersisalah tinggal 4 orang dan Arsyila masih duduk tenang. Hingga tak lama satu persatu dari mereka mulai pergi hingga Arsyila tertinggal sendirian.
Arsyila menghela nafas..
"Kapan hujannya reda.." Gumamnya.
Jika diwaktu lain ia mungkin tidak akan ingin hujan ini berakhir namun untuk kali ini Arsyila merasa gelisah takut-takut jika hujannya tidak kunjung reda sampai magrib sedangkan dirinya mati kedinginan diparkiran:(.
"Syil.." Panggil seseorang yang sudah berdiri disamping Arsyila hingga ia dibuat sedikit terkejut.
"Kak Razan". Gumam Arsyila. Karna asyik melamun ia sampai tak sadar tentang kedatangan Razan.
"Lo ngapain masih disini?".
"Nunggu". Jawab Arsyila singkat sambil menatap rintikan hujan didepannya.
"Ooo kayaknya hujannya bakal awet". Ujar Razan basa-basi lalu mengambil duduk disamping Arsyila.
"Hm".
"Kenapa ya orang-orang pada suka hujan? sampai-sampai dibuat kata mutiara". Razan membuka topik pembicaraan.
"Emang kk Razan gk suka hujan?" Arsyila menoleh sekilas ke arahnya.
"Gue gk suka basah".
"Saat hujan, hati akan merasakan kedamaian karna setelah panas ia datang untuk meneduhkan". Arsyila mengambil jeda membuat Razan kembali menatapnya dengan seksama, bahkan matanya tak berpindah sedikitpun dari wajah cantik Arsyila.
Razan menggeleng.
"Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika ia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana menghentikan tetesan air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya". Ujar Arsyila lagi membuat Razan seperti kepercik butiran hidayah.
"Kadang aku iri sama awan..."
"Kenapa??".
"Saat dirinya sudah sangat menggelap, ia masih bisa menangis dan melampiaskan masalahnya ke bumi. Namun aku? bagaimana bisa menjadi seperti awan jika air mata sendiri sudah bosan dijadikan pelampiasan dan membiarkan hati menanggung bebannya sendiri".
"Syil..." Panggil Razan membuat Arsyila menoleh ke arahnya.
"Lo ada masalah??". Tanya Razan menebak.
Arsyila diam lalu kembali menghadap depan.
"Kak Razan bakal tau nanti".
Jawab Arsyila membuat Razan sedikit merenung. Ia tak ingin bertanya lebih biarlah taqdir yang memberitahunya nanti.
Lama diselimuti keheningan, Razan pun akhirnya menoleh ke arah Arsyila dan melihatnya sedikit menggigil karna hujan semakin lebat.
Razan berinisiatif membuka jas yang ia kenakan untuk menutup punggung Arsyila agar dinginnya sedikit berkurang. Meski menatap ke bawah namun Arsyila masih bisa melirik pergerakan Razan.
"Gk usah, kk pake aja jasnya. Ini bukan dunia sinetron ". Ujar Arsyila namun Razan tak menghiraukannya.
"Mau ini dunia fiksi sekalipun gue gk akan biarin lo sampe kenapa-napa, kalaupun gue gk bisa kasih lo kehangatan setidaknya jas ini bisa ngewakilin gue".
Arsyila hanya menghela nafas pasrah lalu membiarkan Razan melakukan apa yang dia mau. Namun rupanya Arsyila masih kedinginan hingga bibirnya ikut bergetar. Melihat itu, Razan jadi khawatir.
"Syil nunggu di mansion gue yuk, kayaknya hujannya bakal awet sampe magrib".
Arsyila diam, bahkan mulutnya seperti sulit untuk digerakkan. Melihat itu Razan jadi mengambil keputusan sepihak, bodo amat dengan persetujuan Arsyila.
Ia pun mulai mendekat ke arah Arsyila dan menuntun Arsyila untuk berdiri.
"Kita..Mau, kemana??". Tanya Arsyila dengan mulut sedikit bergetar.
"Lo ikut aja, ayoo".
Razan merangkul Arsyila dengan sebelah tangannya lalu berniat menerabas hujan didepannya untuk sampai ke tempat yang diinginkan. Arsyil terkejut, namun ia kembali mengingat ucapan Razan tadi..
"Tapi kk, kamu kan gk suka basah..." Arsyila sedikit mendongak ke arah Razan.
"Gk papa, ntar gue keringin pake handuk". Jawab Razan sekenanya lalu menggiring Arsyila menuju rumah pribadinya yang terletak di belakang sekolah dengan melewati taman.
Setibanya disana..
"Ayo masuk.." Ajak Razan pada Arsyila yang tengah memperhatikan rumah pribadi miliknya. Arsyila menurut saja meski seribu pertanyaan muncul dibenaknya.
"Lo duduk disini dulu ya..Gue ambilin handuk". Pinta Razan sambil menyalakan lampu yang ada ruangan itu beserta lampu teras karna hari sudah menjelang magrib.
Tak lama Razan pun keluar dari kamarnya dengan sudah mengganti pakaiannya sambil membawa sebuah handuk serta hodie hitam dengan ukuran jumbo ditangannya.
"Nih.. Ganti dulu seragamnya, kalo rok gue gk punya". Razan cengiran.
"Oh iya makasih kk, btw kamar mandinya dimana?".
"Di kamar gue, lo tenang aja gue bakal jaga batasan kok". Ucap Razan agar Arsyila tidak meragukannya.
"Hm". Arsyila bergumam lalu pergi untuk mengganti seragamnya yang agak basah.
Tak butuh waktu lama ia pun sudah selesai dengan kegiatannya dan kembali ke ruang tamu. Arsyila salfok dengan hodie hitam yang dikenakannya dan juga Razan, ternyata mereka couplean. Arsyila tak ambil hati, ia lalu mengambil duduk disofa sebelah kiri dua jarak disamping Razan.
Razan yang tadinya fokus bermain ponsel langsung menutup ponselnya lalu tersenyum kecil melihat hodie kebesaran yang dikenakan Arsyila.
"Mm kk Razan ini udah maghrib, kk udah solat?". Tanya Arsyila sengaja.
"Kan baru azan Syil".
"Hehe ngingetin aja.."
"Lo mau duluan atau gue??".
"Mmm.. Aku lagi.." Arsyila ragu-ragu menyebutnya.
"Oo gue ngerti". Razan langsung connect.
"Eh bentar... Lo udah ganti belum?? gk bocor kan? atau gue beliin? kantin deket kok dari sini". Tanya Razan antusias membuat Arsyila jadi sedikit malu hingga wajahnya memerah.
"Udah mau hari terakhir kk, nunggu bersih aja". Jawab Arsyila mencoba terlihat biasa saja.
"Oh baguslah.. Ntar kalo lo mau ganti bilang aja ya".
"Ih kk Razan malu". Arsyila menutup wajahnya, karna tak sanggup menyembunyikan rona merah dipipinya.
"Haha ngapain malu Syil, gue udah biasa kalik diperbudak sama Yana kalo dia lagi dapet". Razan geleng-geleng kepala.
~Adik laknat. Batin Arsyila.
"Hehe ya udah kk Razan solat dulu gih, waktu magrib singkat banget soalnya". Razan hanya tersenyum menanggapi itu lalu mulai bangkit dari posisi duduknya.
"Oke gue mau sholat dulu, lo jangan kabur ya... Tunggu gue disini".
"Iya kk, mau kabur kemana cobak". Arsyila tak habis pikir, ada-ada saja kk kelasnya satu ini. Razan pun segera beranjak ke kamarnya untuk menunaikan kewajibannya.
Saat sudah selesai, Razan pun kembali ke ruang tengah dan mendapati Arsyila yang sudah sibuk membaca buku LKS nya di atas karpet bulu yang tersedia di sana. Sepertinya belajar sudah menjadi hoby Arsyila.
"Belajar apa Syil?". Sapa Razan lalu mengambil duduk di atas sofa sedangkan Arsyila duduk dibawahnya.
"Bahasa Inggris".
"Maaf ya gue di atas, lo kenapa duduk dibawah?".
"Biar bisa nyandarin tangan dimeja kk".
"Hmm.."
"Oh ya kk, btw buat apa bangun rumah di sekolah??". Arsyila menuntaskan rasa penasarannya.
"Gue kalo ada tugas numpuk dari papa atau sekolah gue sering nginep di sini, kalo dirumah ada aja gangguannya".
"Ooo gangguan jin?". Tanya Arsyila dengan wajah tololnya.
"Bukan, salah satunya dari adik lo tuh si Yana, gue lagi istirahat aja usilnya minta ampun. Pintu kamar gue hampir roboh digedor-gedor sama dia kalo ada maunya".
"Adik kandung kk Razan". Timpal Arsyila.
"Adik lo juga".
"Ya udah deh adik kita". Jawab Arsyila mengalah lalu kembali membaca bukunya.
Razan yang mendengar itu jadi baper sendiri dibuatnya.
~Ada manfaatnya juga Yana hidup di muka bumi ini. -Batin Razan.
Lama diselimuti keheningan, Razan akhirnya kembali membuka suara.
"Syil lo gk ada niatan punya cowok gitu? atau.. Lo masih..." Razan terlihat ragu-ragu menucapkannya.
"Emang siapa yang mau sama cewek penyakitan kyk aku kk?". Potong Arsyila lalu menoleh sekilas ke arahnya. Nampak wajah Razan yang terlihat tidak suka saat Arsyila mengucapkan kalimat itu.
"Aku ngerasa gk pantes buat orang lain.." Sambung Arsyila. Razan hanya mendengarkan dalam diam.. Ingin sekali ia mengatakan "orang itu aku" pada Arsyila namun rasanya ini bukan waktu yang tepat.
"Disaat remaja pada umumnya sibuk bermain dan menghabiskan masa muda mereka dengan bercinta, aku justru mati-matian belajar untuk mencapai keinginan yang terbatas waktu"..."Kak, apa mungkin jantung ini bisa berdetak lebih lama?".
Tanya Arsyila mendongak wajah Razan yang tengah memperhatikannya. Razan membuang muka ke arah lain namun sangat jelas terlihat mata Razan yang sudah berkaca-kaca.
Hanya Arsyila satu-satunya penyebab dirinya menjadi laki-laki yang lemah dan mudah menangis. Hanya Arsyila..
Tanpa menjawab, Razan tiba-tiba berdiri membuat Arsyila menatapnya bingung.
"Gue mau keluar bentar". Ucap Razan lalu beranjak keluar melewati pintu utama rumahnya.
"Kak Razan kenapa??".
...*****...
See you next chapter๐๐ป๐๐ฅ
Sorry telas up๐