
...Happy Reading💓🔥...
...*****...
...~Lebih baik mengikhlaskan orang yang kita cintai bersama orang lain daripada terus bersama kita tapi dibuat terluka~...
..._...
Hujan perlahan mulai reda..
Sudah tiga puluh menit berlalu namun Razan tak kunjung kembali membuat Arsyila merasa sedikit khawatir. Arsyila bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah pintu utama.
"Aduhh.. Kak Razan mana siih". Ujar Arsyila sambil mondar-mandir di depan pintu. Ia pun meraih ponselnya yang ada diatas meja lalu mencari kontak Razan.
💬
Kak Razan dimana?
Setelah mengetikkan pesan tersebut Arsyila pun kembali duduk disofa dengan perasaan tak karuan.
"Mending aku cari keluar aja". Pikir Arsyila lalu berjalan keluar tak lupa ia menutup pintu terlebih dahulu.
Arsyila berfikir sejenak, mencari jalan yang akan ia lalu untuk mencari Razan namun tanpa sengaja matanya menangkap sebuah pintu yang agak terbuka dengan cahaya lampu yang keluar dari dalam. Ia juga mendengar ada suara ribut-ribut disana.
Arsyila pun berinisiatif menghampiri pintu kecil itu dan mengintip terlebih dahulu.
"Lah ini kan ruangan kantin". Ujar Arsyila melihat ruangan yang nampak tak asing tersebut kemudian masuk ke dalam membuat orang-orang yang ada disana diam sejenak karena terkejut melihat kedatangan Arsyila. Orang-Orang itu adalah Lilis, ibunya alias ibuk kantin serta pak satpam penjaga sekolahnya.
"Eh non Syila, belum pulang non???". Heran buk kantin yang bernama ibuk musdalifah itu.
"Mm tadi kejebak hujan buk". Balas Arsyila sambil mendudukkan dirinya dikursi kosong kantin.
"Loh dari tadi bapak ngeronde tapi gk liat non Syila disekitar sini". Aku pak Satpam, setaunya ia tadi tak melihat Arsyila disekitar sekolah.
"Hadehh kan teh Arsyila masuknya lewat pintu itu, jawabannya cuma satu". Timpal Lilis.
"Ooo iyaya". Pak met dan buk Mus menganggukkan kepala mengerti.
"Ciieee non Syila udah jadian yaa..." Ujar Musdalifah tiba-tiba hingga membuat Arsyila bingung.
"Huh akhirnya perjuangan den Razan berhasil juga, kasian tau non liat den Razan curhatin non Arsyila tiap dia mampir kesini. Tapi kok den Razan gk bilang ya?".
"Curhatin aku? maksudnya??". Arsyila jadi penasaran.
"Iya, waktu non Syila belum jadian, den Razan sering ngadu kesini nyari tips dari pak Met yang lebih pengalaman nih biar bisa dapetin non Syila, eh manjur juga ternyata. Siapa dulu doong! bang Met!". Ujar pak Met sambil memukul-mukul kecil dadanya bangga.
~Maksudnya?? jadi kk Razan... Naksir sama aku???. Heboh Arsyila dalam hati.
"Tapi masa sih berhasil?? aku aja yang cewek kalo di kasih hadiah boneka beruang gk mempan tuh.. Teh Arsyila dikasih boneka ya ma bang Razan?". Tanya Lilis tak percaya mengingat tips yang diberikan pak Met.
Arsyila menggeleng polos.
"Tuh kan!!".
"Terus non Arsyila ditembaknya kek gimana??". Tanya buk Musdalifah.
"Aku sama kk Razan gk pacaran.." Jujur Arsyila membuat tiga orang dihadapannya langsung kicep sambil saling melirik dengan tatapan canggung.
"Mati gw! bisa-bisa den Razan marah karna aibnya dibongkar". Pak Met bergumam.
"Mmm Kak Razan cerita apa aja sama kalian?? dia sering ceritain aku ya?". Arsyila penasaran.
"Mmm non Syila.. Tanya langsung aja sama den Razan hehe". Jawab pak Met takut-takut.
"Iya atuh ntar takutnya kita salah-salah lagi". Sahut buk Mus. Arsyila hanya mengangguk kecil meski rasa penasarannya masih belum tuntas.
"Teh mau nginep disini kah?". Tanya Lilis melainkan pembahasan. Seketika Arsyila teringat tujuannya kemari, yaitu mencari Razan.
"Oh iya astaga lupa!". Arsyila menepuk keningnya saat teringat dan spontan berdiri membuat orang-orang disekitarnya jadi bingung.
"Kalian liat kk Razan gk?". Tanya Arsyila.
"Lah, emang tadi gk sama non Syila ya?".
"Tadi magrib emang ada, tapi pergi gk tau kemana... Katanya bentar tapi sampe sekarang belum balik". Arsyila mendengus kesal.
"Kangen ya..." Celetuk Lilis membuat buk Mus menjitak pelan kepala anaknya itu.
"Mmm aku mau cari kk Razan dulu ya". Arsyila salting sambil berjalan keluar kantin lewat pintu yang ia masuki tadi.
"Eeeh non tunggu". Buk Mus menghentikan langkah Arsyila.
"Ada apa bik?". Tanya Arsyila dengan wajah bingung.
"Mau cari den Razan kemana?".
"Aku juga bingung... Aku mau cek ke rumahnya dulu, siapa tau dia udah balik". Arsyila posthing:)
"Eh.. Dia gk bilang mau kemana gitu?".
"Nggak... Menurut aku kk Razan tadi lagi kesel sama aku makanya langsung pergi". Jawab Arsyila mengikuti instingnya.
"Oooo lagi ngambekan toh". Buk Mus mangguk-mangguk.
"Emang kenapa bik?".
"Biasanya den Razan kalau galau pergi ke taman depan. Coba non Arsyila cari disana, siapa tau ada". Tukas buk Mus, karna ia juga sering menemukan Razan disana sedang duduk melamun sehabis bercanda dengan mereka di kantin.
"Oooh gitu ya, okey makasih ya bik". Arsyila tersenyum sopan lalu berjalan ke tempat yang disarankan buk Mus.
Untung saja lampu jalan menuju taman itu cukup menyinari area yang dilewati Arsyila hingga dirinya tak terlalu takut. Namun saat akan sampai, hujan kembali turun memercik wajah Arsyila.
"Haduh... Gerimis lagi, kk Razan pasti kehujanan". Gumam Arsyila lalu mempercepat langkahnya dengan sedikit berlari.
Dan benar saja...
Sesampainya di taman ia melihat Razan yang sedang mendongakkan wajahnya menghadap atas membiarkan rintikan air hujan menerpa wajahnya yang halus bersamaan dengan turunnya air garam dari pelupuk matanya.
"Kak Razan". Gumam Arsyila lalu berjalan cepat ke arah Razan tak lupa ia menutup kepalanya dengan kepala hodie yang bergantung di belakang punggungnya.
"Kak... Kak Razan ngapain di sini???". Arsyila berdiri dihadapan Razan membuat Razan spontan membuka matanya.
"Arsyila..."
"Kak! ayok balik, ntar kk Razan sakit!". Arsyila meraih tangan Razan yang tertutup hodie namun Razan menahan dirinya agar tidak terseret.
"Lo duluan aja, gue masih mau disini". Ucap Razan lalu menutup kembali matanya menikmati butiran air hujan yang menusuk kulit wajahnya.
"Kak Razan! aku tau kk Razan lagi kesel sama aku, Walaupun aku gk tau kk Razan kesal karna apa.. Tapi kan bisa kasih tau baik-baik. Sekarang kita balik ya..." Arsyila membujuk dengan suara yang sengaja di besarkan karna suaranya dikalahkan hujan.
Razan membuka matanya dan menatap manik mata Arsyila lekat-lekat. Ia tak perduli dengan air yang masuk ke dalam matanya hingga membuat matanya perih.
"Gue gk suka liat lo nyerah... Gue benci saat lo ngucapin kalimat seolah lo bakal pergi ninggalin gue". Arsyila tertegun mendengar ucapan Razan, namun ia kembali dibuat bingung dengan kalimat Razan selanjutnya.
"Gue nunggu lo dari lama Nea. Tapi lo malah milih orang lain.. Dan sekarang gue harus nunggu lo lagi buat lupain mantan lo itu".
"Ha?". ~Nea??. Sambung Arsyila dalam hati.
~Milih orang lain, lupain mantan?? bukannya kk Razan mantannya ya? Berarti Kayla bukan Nea? issh Nea tu sebenernya siapa sii???.
Arsyila penasaran.
"Kak.. Mending kita balik sekarang yuk! aku takut kk Razan kerasukan jin taman". Ucap Arsyila lalu kembali menarik tangan Razan dan kali ini Razan tak menolak.
"Bentar..." Arsyila menaikkan kepala hodie milik Razan hingga menutupi kepalanya.
_______________
"Bentar ya aku ambilin handuk.." Ujar Arsyila setelah menuntun Razan untuk duduk di sofa ruang tamu.
Ia pun berjalan ke kamar Razan untuk mengambil handuk kecil guna mengeringkan hodie Razan yang terkena hujan tadi layaknya rumah sendiri.
"Nih... Aku ambil digantungan". Cengir Arsyila seraya menyerahkan handuk berwarna biru ke hadapan Razan. Razan hanya tersenyum kecil menanggapi itu, tumben-tumbenan Arsyila seperhatian ini.
"Makasih.."
"Hm, sama-sama".
"Lo mau pulang atau nginep di sini?". Tawar Razan.
"Mau pulang si.. Tapi diluar masih hujan deras".
"Nginep aja kalo gitu, besok subuh gue anterin".
Arsyila terkejut, ia nampak berfikir.. Berarti malam ini ia akan tidur dengan Razan dalam satu atap???.
"Lo bisa tidur di kamar gue, biar gue tidur disofa". Ujar Razan yang sudah menebak jalan pikir Arsyila.
"Ta-Tapi, ini kan rumahnya kk Razan. Masa iya aku yang jadi tamu tidur di dalam".
"Masa iya gue biarin lo yang cewek tidur di sofa. Cowok mah tidur dimana-mana aja bisa, lo harus tidur di tempat yang tertutup". Balas Razan mengerti.
Arsyila tersenyum kecil mendengar itu.
"Makasih".
"Berarti lo setuju kan nginep di sini?".
"Darurat.."
"Okey deh... Btw lo udah makan?".
"Mmm.. Belum, kk Razan udah? gimana kalo kita makan di kantin?". Usul Arsyila.
"Gk usah, gue mager". Tolak Razan sambil bersender di sofa.
"Atau aku beliin??".
"Tadi nyokab gue kesini buat nganterin makanan sama sayuran karna dua hari gue gk pulang rumah. Gue gk sempet cek tapi kayaknya banyak.. Coba lo cek".
Mata Arsyila berbinar-binar mendengar kata makanan.
"Kak Razan dimanjain banget ya.."
"Gue sih gk pengen, tapi tau lah nyokap gue selalu mandang gue kek bocah meski umur gue udah 19".
"19??".
"Gue telat masuk sekolah".
"Ooohh..."
"Ya udah gih sana ke dapur, gue mau rebahan bentar.. Pegel".
Arsyila pun langsung menurut dan berjalan ke arah dapur menggunakan naluri.
"Wah... Sayurannya masih seger-seger".
Lagi-Lagi mata Arsyila berbinar-binar melihat sayuran hijau yang tersimpan di kulkas dan sisanya dipenuhi oleh makanan instan dan eskream??
"Ih banyak bangettt". Arsyila mencomot satu escream coklat yang ada di freezeer.
"KAK RAZAN MINTA ICECREAMNYA YAAA". Teriak Arsyila dari arah dapur.
"AMBIL". Sahut Razan dari ruang tamu.
BTW Ice cream sebanyak itu adalah milik adiknya Yana, biasanya pulang sekolah Yana selalu mampir ke rumah Razan ini untuk mengemut icecreamnya. Dirumah, Jasmin selalu melarangnya karna Yana kerap kali mengadu silu gigi.
"Yeeey!!". Girang Arsyila.
"Eh sekalian aja ya aku masakin sup buat kk Razan, dia pasti seneng". Ujar Arsyila lalu mengambil beberapa sayuran di kulkas dan mulai menjalankan profesi sebagai koki sementara sang suami eh Razan maksudnya sedang istirahat.
Disisi lain....
Disebuah kamar tidur yang cukup besar, ada tiga orang pemuda yang sedang berbicang seperti membicarakan sesuatu yang serius mereka adalah.. Aydan, Devan dan Alzam.
"Besok lo udah mulai sekolah, masa cuti lo kan udah selesai dan lo bisa ketemu Arsyila". Ujar Devan sembari menepuk kecil pundak milik Aydan.
Aydan menggeleng.
"Kenapa??? lo mau nyerah Dan?". Tanya Alzam dengan wajah terkejut.
"Gue ngerasa gk pantes buat Arsyila... Awalnya perjanjian gue sama Razan sampe Arsyila bisa suka sama dia.. Tapi lama-lama gue sadar kalo ternyata Razan bener-bener tulus dilihat dari cara dia memperlakukan Arsyila. Arsyila bakal lebih aman sama Razan dibanding gue".
Aydan mendongakkan kepalanya menahan air mata yang sudah membendung. Membayangkan Arsyila bersama orang lain saja rasanya tidak sanggup namun apa boleh buat?
`Lebih baik membiarkan orang yang kita cintai bersama orang lain daripada terus bersama kita tapi dibuat terluka`
"Terus sekarang lo mau apa? biarin dia sama Razan gitu?". Tanya Devan.
Sebenarnya ia juga kasihan melihat sahabatnya yang lebih pendiam akhir-akhir ini, yang Aydan lakukan hanyalah murung dan mengurung diri di kamar terlebih saat melihat video Razan dan Arsyila sebagai Prince dan Princess sekolah yang sedang viral-viralnya disosmed.
"Gue mau pindah". Ucap Aydan mantap. Mana mungkin ia masuk kembali ke dalam lingkup sekolah dan mengacaukan itu semua. Aydan masih punya hati nurani...
"Hah??". Devan dan Alzam dibuat menganga.
"Pinda ke SMA mana Dan??".
"Dan. Gue ngerti perasaan lo, tapi masa iya lo mau pisah dari kita??". Devan menatap Aydan tak percaya.
"Ke luar negri.. Sekalian bantu bisnis bokap gue di sana".
Aydan berucap seolah tidak ada beban saat mengatakan itu ia sudah memikirkan ini jauh-jauh hari. Aydan rasa ini keputusan yang tepat agar bisa melupakan Arsyila sekaligus masa lalunya yang sudah menjadi milik orang lain.
"Dan! jangan bercanda lo!". Devan menarik kerah kemeja yang dikenakan Aydan. Tidak! Aydan tidak boleh pergi. Mata devan sudah memanas.
"Van tenang Van!". Alzam melerai dengan melepaskan tangan Devan dari Aydan yang hanya menatap mereka sendu tanpa perlawanan.
"Sorry Van, Zam... Sekalipun gue nanti udah pergi, kalian bakal tetap jadi sahabat gue nggak ada yang bisa gantiin kalian".
Alzam dan Devan menyerbu Aydan kemudian saling merangkul, tanpa sadar Aydan menitikkan air matanya yang sudah terbendung sejak tadi.
"Gue tau Dan.. Ini sulit buat lo, gue yakin keputusan yang lo buat udah di pertimbangin sebelumnya dan semoga keputusan yang lo buat ini adalah yang terbaik". Ujar Alzam menyemangati.
"Apapun keputusan lo kita bakal selalu dukung lo Dan, maaf kalo selama ini gue gagal jadi sahabat yang baik buat lo". -Devan.
"Gue juga..."
"Thanks... You are my best friend forever".
...*****...
Jangan anggap ini selesai dulu bestie... Endingnya masih on going😎
Kira-Kira Arsyila bakal sama Razan atau kembali sama Aydan?!. Tebak aja😜
See you next chapter👋🏻💓