Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Bag 30 : Rapat OSIS



...Hye Hyeee Author balik lagi hihi..Sorry ya lama ngilangnya🙏🏻 Thank you buat yang udah Support & kasih like..❤ Lope lopee🕊...


...******...


"Yok Syil!". Ajak Razan kemudian bangkit dari duduknya.


"Lah kemana?". Bingung Arsyila.


"Ke sebelah, kan kita mau rapat".


"Bukannya disini?".


"Gk. Ini ruangan khusus Razan". Aldo yang menjawab.


Oh ketua OSIS punya ruangan sendiri toh. Batin Arsyila.


"Yok ah! kelamaan mikir lo". Sindir Razan kemudian menyeret Arsyila untuk keluar dari ruangan tersebut bersama Aldo.


Setibanya diruang Osis..


Aldo dan Razan mengambil tempat di depan sedangkan Arsyila sudah siap di kursi dengan meja Panjang yang memang disediakan untuk para anggota OSIS.


Tak sampai menunggu lama akhirnya anak OSIS dari berbagai kelas sedikit demi sedikit memasuki ruangan tersebut.


"Arsyilaa". Sapa Chika ketika baru tiba bersama Deva dan berjalan ke arah Arsyila.


"Eh kk Chika, kk Dev". Arsyila ikut tersenyum pada Deva dan Chika yang sudah mengambil duduk disamping kanannya.


"Udah sehat kah?". Tanya Deva basa-basi.


"Alhamdulillah". Balas Arsyila.


"Oh baguslah kalo gitu". Ujar Deva lalu tersenyum.


"Eh Arsyilaa disini lo ternyata, capek gw nyariin dikelas". Rifki datang-datang langsung menyerbu Arsyila.


"Hehe". Arsyila hanya membalasnya dengan cengiran namun ekspresinya kembali datar kala melihat Nia diambang pintu yang baru tiba bersama Arlina setelah Rifki dkk. Arsyila membuang muka ke arah Chika.


Nia dan Arlina mengambil duduk di dikursi paling ujung atas keinginan Nia tentunya kalau Arlina sih nurut-nurut aja.


Hal itupun tak luput dari pandangan Chika dan Deva.


"Lo gk nyaman ada Nia disini?". Tanya Chika mulai biasa.


"Gk". Jawab Arsyila apa adanya.


Deva hanya cekikikan melihat ekspresi kesal Arsyila serta jawaban polosnya tanpa sensor.


"Lo bisa minta Razan buat ganti dia". Chika menyarankan.


"Iya tuh, apapun buat Arsyila kalo kata Razan mah!". Sahut Deva.


"Hah? emang iya kk Razan ngomong gitu?". Tanya Arsyila bingung, setaunya Razan sangat suka membuatnya kesal.


Chika menyikut lengan Deva seraya membisikkan sesuatu...


"Dev! ini kan rahasia kita bertiga. Lo mau kita didepak sama Razan?!".


"Hehe sorry keceplosan". Cengir Deva


"Kalian ngomongin apa si?? kok bisik-bisik?". Arsyila ikut mendekat ke arah mereka.


"Syilaa" Suara seseorang yang sangat familiar ditelinganya mengalihkan atensinya, bahkan bukan hanya Arsyila..Tapi semua orang yang sudah berkumpul disana.


"Devan?" Bingung Arsyila melihat kedatangan kedua sahabatnya.


"Hy Syilaa". Sapa Alzam kemudian hendak mengambil duduk disamping kiri Arsyila yang kosong. Arsyila hanya cengo dibuatnya.


"Gue disitu Zam". Ujar Devan sambil menarik seragam Alzam agar bisa duduk disamping Arsyila.


"Gw!". Alzam tak mau kalah, ia berusaha mempertahankan posisinya.


"GW!!"


"gw duluan Van!"


Mereka saling berebut tempat tanpa memperdulikan atensi semua orang yang sedang menonton kegiatan mereka.


Chika kemudian bangkit dari duduknya dan mendekat kearah Devan dan Alzam.


"Eeh ehh kalian gk malu apa jadi pusat perhatian?". Tegur Chika menengahi.


Devan dan Alzam menghentikan aktifitas nya kemudian melihat sekitar, dan benar saja pandangan semua orang tertuju pada mereka.


Alzam pun duduk dengan gerakan slowmo disamping Arsyila dan diikuti Devan yang sudah mengalah. Arsyila hanya geleng-geleng kepala melihat itu, begitupun dengan Chika lalu kembali duduk disamping kanan Arsyila.


"Sahabatnya masuk OSIS, lo gk bakal bisa deket lagi sama Arsyila". Bisik Aldo pada Razan yang diam menatap Arsyila dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Mereka itu cuma penghias, bukan penghalang buat gue dapetin dia". Sahut Razan kemudian tersenyum kecil.


"Gw salut sama lo Zan! semangat bro, gue selalu dukung lo". Ujar Aldo sambil menepuk pelan bahu Razan.


"Thanks Do".


-


"Kalian sejak kapan masuk OSIS?" Tanya Arsyila menatap heran Alzam dan Devan.


"Sejak kemarin". Jawab Alzam sambil cengiran.


"Kok bisa?"


"Kemarin gw yang nyari anggota karna anggota PMR banyak yang kurang trus mereka tu yang paling antusias". Chika yang menjawab, sambil menunjuk Devan dan Alzam dengan dagunya.


"Gimana gk antusias, suami lo tu pake ngancem-ngancem segala!" Gerutu Devan.


"Hahaha suami?" Arsyila terkekeh mendengar sebutan itu tentu saja Arsyila tau orang yang mereka maksud adalah Aydan.


"Iya tu si Aydan!" Alzam menimpali.


"Kok bisa, emang kalian diancam apa?". Tanya Arsyila penasaran.


"Khem oke Guys kita mulai rapatnya yang masih ngoceh harap diam dulu!". Perintah Aldo yang sudah mengerti raut wajah Razan. Sejak tadi ia hanya menyimak kegiatan para anggota OSIS sambil menunggu segelintir murid yang belum tiba sesekali melirik Razan yang sejak tadi mencuri pandang ke arah Arsyila.


"Sudah lengkap kan?? Coba yang merasa jadi ketua cek dulu anggotanya". Pinta Aldo.


"Sudah". Jawab mereka kompak.


"Okey kalo gitu-


"Do..Suruh tu yang cowok sama cewek pisah duduknya". Bisik Razan pada Aldo.


"Oh oke-oke". Aldo mengangguk mengerti.


"Okey kita akan mulai rapatnya. Tapi sebelum itu coba yang cowok duduknya dideretan kursi sebelah kanan, dan yang cewek disebelah kiri dan sesuai ang-


"Gk usah" Potong Razan.


"Kok gk usah Zan?, kan biasanya gitu.." Tanya Aldo penasaran dengan ikut berbisik.


"Gue gk mau Arsyila kenapa-napa". Jawab Razan berbisik ditelinga Aldo.


"Oh iya" Aldo mengerti.


Senang sekali ya punya teman kek Aldo, pengertian banget:)


"Okelah yang cowok langsung pindah kesebelah kanan!". Perintah Aldo dan langsung diikuti oleh para anggota OSIS yang laki-laki yang sejak tadi menunggu lanjutan dari perkataannya.


"Aish kok pindah sih". Gerutu Alzam sambil ikut bangkit bersama yang lain.


"Dah lah ngikut aja". Nasihat Devan sambil ikut berdiri.


"Bye Syil"


"Yee kayak mau pindah sekolah aja ni orang dua!" Sinis Deva pada Devan dan Alzam. Mereka hanya balas cengiran dan beranjak kederetan kursi sebelah kanan.


"Lo kalok sama mereka pasti gk pernah setres ya Syil? wkwk". Ujar Chika sambil terkekeh kecil.


"Hihi iya kak mereka tu kocak banget tau..Apalagi Alzam".


"Kalo gitu gue mau yang Alzam dong, dia jomblo kan Syil?" Tanya Chika dengan mata yang berbinar-binar.


"Dih kayak mau beli barang aja lo" Sindir Deva.


"Nah si Deva sama Devan..Eh kok cocok?!" Antusias Chika yang menyadari nama mereka hampir sama tak memperdulikan sinisan Deva tadi.


"Ogah lah lu aja deh. Devan tu agak cuek mending gw Alzam lo nya Devan!". Tawar Deva.


"Eh gk! gw yang Alzam". Chika tak terima.


"Yaa ampunn"..Arsyila hanya geleng-geleng kepala melihat Deva dan Chika yang masih menpermasalahkan perkara Devan dan Alzam.


"Semuanya perhatikan depan!" Perintah Aldo mengambil atensi semua anggota OSIS yang ada disana.


"Oke langsung saja kita buka rapat kita ini dengan sama-sama membaca Bismillah".


"Bismillahirrohmanirrohim".


"Dan selebihnya akan disampaikan oleh ketua kita sendiri yaitu saudara Razan, Dipersilahkan".


"Assalamualaikum wr wb".


"Wa'alaikumussaalam wr wb".


"Chik..Gw boleh jawab gk si?". Bisik Deva pada Chika.


"Kayak gk biasa aja lu denger salam! emang diagama lu kalo jawab salam bilang apa?" Tanya Chika balik. Deva nampak berfikir.


"Hadeh". Ujar Arsyila yang mendengar bisikan mereka.


"Disini saya mengajak kalian semua berkumpul untuk membahas tentang apa saja yang akan kita selenggarakan pada saat class meeting di akhir Semester Ganjil ini,karna semester akan berlangsung sebentar lagi maka mungkin kita akan sering mengadakan pertemuan jadi saya harap kalian bisa mengeluarkan pendapat dan ide yang bagus nantinya mungkinkah ada lomba-lomba yang seru dan baru supaya berbeda dengan tahun yang kemarin". Jelas Razan sangat panjang.


"Ada yang mau mengusulkan?" Kini Aldo yang mengambil alih bicara.


Banyak daripada siswa dan siswi yang ikut serta mengeluarkan pendapat mereka hingga menghasilkan beberapa ide baru dan dimusyawarahkan bersama.


"Oke disini saya sudah mengambil beberapa lomba yang bagus sesuai usulan kalian tadi tinggal kita tambah lomba untuk melatih bakat saja nanti mungkin dari Jurusan IPA, IPS, Agama kah nanti kita diskusikan lagi. Okey kita tutup pertemuan kita dengan sama-sama melafalkan Hamdalah".


"Alhamdulillahhirobbil'aalamiin"


"Sekian Assalamualaikum wr wb. Kalian boleh balik ke kelas masing-masing". Sambung Aldo.


Mereka pun mulai membubarkan diri setelah menjawab salam Aldo tadi dan beranjak keluar.


"Syil jangan lupa salamin yaa". Pinta Chika saat bangkit dari kursinya bersama Deva dan diikuti Arsyila.


"Haha iya kak".


"Kak Dev, sama Devan kan?" Tanya Arsyila ke arah Deva yang sedang mengerucutkan bibirnya.


"Gk. Gk mau huh". Sahut Deva.


Arsyila dan Chika hanya cekikikan..


"Syil yok ngantin". Ajak Devan menghampiri Arsyila karna bel istirahat sudah berbunyi lima menit yang lalu.


"Yok..Eh Zam sal-


"Duh Syill nantii". Chika membekap mulut Arsyila.


"Hehe iyaya". Arsyila cekikikan. Devan dan Alzam hanya menatap bingung ke arah mereka.


"Ya udah kita duluan ya kak..Atau kalian mau ikut?". Tanya Arsyila, barangkali mereka ingin ikut ke kantin kelas X, kan bisa tuh Pdkt an. Hadeh.. brondong-brondong😌


"Hehe gk Syil..Kita mau langsung balik kelas". Ujar Chika sambil merangkul pundak Deva.


"Oh ya udah..duluan ya, bye kk Chika,kk Dev".


Arsyila pun beranjak keluar bersama Devan dan Alzam.


"Dasar pala bocil". Ujar Razan tib-tiba menoyor kepala Chika dari arah belakang bersama Aldo disampingnya.


"Eh ini kepala. Marko!! lo kira bola main geplak-geplak aje". Chika menatap garang Razan.


"Oh kirain lo gk punya kepala". Ledek Aldo.


"Eh.. Sini gk lo Do!". Chika mengambil ancang-ancang untuk memukul Aldo namun Aldo segera bersembunyi dibelakang tubuh Razan.


"Eh eh ngapa jadi kalian yang berantem?". Ujar Deva bingung melihat aksi Chika yang berusaha memukul Aldo namun terhalang Razan. Alhasil mereka seperti main ciluk bak.


"Udah woy udaah" Pinta Razan yang sudah merasa kewalahan tubuhnya ditarik-tarik Aldo.


"Huh awasss aja lo Do nanti dikelas!". Gumam Deva sambil tersenyum smrik dan mengangkat satu kepalan tangannya.


"Gk takut Wlee" Sahut Aldo.


"Hadeh". Deva geleng-geleng kepala.


"Gimana sama Arsyila tadi?". Tanya Razan pada Chika.


Mengenai perasaan Razan, bukan hal yang rahasia lagi bagi mereka bertiga mengetahuinya. Aldo yang sudah tau dari kali pertama Razan memperhatikan Arsyila dan Chika dan Deva yang sangat kepo dari kejadian di UKS waktu lalu hingga memaksa Aldo untuk menjawab karna hanya Aldo yang paling dekat dengan Razan. Walaupun Razan punya genk tapi ia tak asal memberitahukan rahasia hatinya pada orang lain kecuali jika orang itu sendiri yang mencari tahu. Aldo contohnya:)


Jadi yaa tidak apalah Chika dan Deva tau lagipula dua temannya ini adalah orang yang baik-baik walaupun agak ya gitulah, Razan juga tidak mungkin berkilah sudah jelas-jelas dirinya menampakkan rasa sukanya pada Arsyila didepan mereka. Toh juga kan mereka berdua terlihat dekat dengan Arsyila, kesempatan kan:)


"Ha gimana apanya maksud lo?" Bingung Chika.


"Iya nih si Razan ngomong kek orang kehabisan bahasa aja". Sinis Deva.


"Maksudnya tuu dia ada ngeluh gk sama kalian atau cerita apa kek?".


"Ooooo" Deva dan Chika ber Oh ria.


"Iyee". Jawab Razan menatap malas kedua temannya itu.


"Hehe gitu kek bilang". Ujar Deva cengiran.


"Ck".


"Woy cepet jawab! buat orang emosi aja nih curut dua". Suruh Aldo yang juga ikutan kesal.


"Ekhem-ekhem..Saran gue si lo ganti aja si Nia jadi anggotanya Arsyila". Ujar Chika yang mulai dengan mode serius.


"Ganti?". Beo Razan.


"Iya Zan..Tadi pas Nia masuk ruangan tu dia kayak gk nyaman gitu, bahkan dia sendiri yang bilang kalo gk suka" Sambung Deva.


"Langsung ngomong gk suka?". Tanya Aldo keheranan.


"Iya, dia anaknya emang kejujuran". Sahut Deva sambil cekikikan mengingat Arsyila yang tidak suka munafik jika tidak suka ya dia katakan, begitupula sebaliknya:)


Arsyila..Arsyila, lo sama aja kek dulu -Batin Razan.


"Buseeet jadi penasaran gw" Ujar Aldo mendengar pengakuan Deva.


"Jangan macem-macem lo Do!" Peringat Razan pada Aldo dengan wajah datar.


"Eh hehe canda Zan candaa". Ujar Aldo takut-takut sambil mengangkat jari telunjuk dan tengahnya.


"Wkwkwk udah tau disini ada khodamnya masih berani juga lo Do!" Ujar Chika.


"Lupa". Jawab Aldo.


"Jadi gimana Zan sama Nia?". Tanya Deva mulai serius lagi.


"Mm itu gampang, gantinya cari aja diangkatan kita dan bila perlu sebagian Biro Agama juga diganti biar dia gk tersinggung nanti dan gk bermasalah sama temen angkatannya ". Putus Razan bijak.


"Tapi kan Zan..Lo tau lah temen kita, yang anak Agama cuman sebelas orang dan itupun gk mau tu jadi OSIS dari dulu". Sanggah Aldo mengingat temannya yang lebih suka anteng menjadi murid biasa daripada ikut Organisasi sekolah yang hanya mengganggu waktu rebahan mereka😇.


"Kalo gitu Biro Agama buat tiga orang aja yang ceweknya, Arsyila dan kelas Agama-II ambil dua orang".


"Nah setuju tuh gw..Lagian kalo banyak-banyak juga ntar pada nganggur dipinggir Musholla". Sahut Aldo.


"Iya gw juga setuju!". -Deva.


"Okelah Fix berarti si Nia diganti". Ujar Chika.


"Iyaa dong!"


"Ya udah yuk ngantin! gw laper nih" Ujar Aldo sambil memegang perutnya yang sudah keroncongan.


"Razan teraktir, kan kita dah kasih info..Itu gk gratis looh". Cengir Deva.


"Huh ya udah yuk". Pasrah Razan toh juga uang nya takkan habis hanya untuk mentraktir mereka.


"Yeeee" Sorak mereka bertiga dan menyeret Razan keluar dari ruangan Osis tersebut untuk segera mengisi perut dikantin.


...*****...