Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Eps 90 : Pergi hilang dan Lupakan..



...Ini eps yang kalian tunggu-tunggu! setelah ini bisa di skip🙂.....


...Sekedar Informasi Aydan akan tetap kawal sampe ending tapi jangan berharap lebih ya🙏🏻...


...yang kemarin bukan ending tapi chapter kelanjutan yang kejebak hujan ya guys, kalo lupa bisa dibaca lagi gk mungkin kan agendanya dilewatin dan langsung loncat ke chapter ini. Udah jangan d tebak endingnya biar gk nyesel...


...☺...


...Ikuti alurnya & Enjoy your Reading💓🔥...


...*****...


Siang ini Arsyila tengah berjalan dikoridor bersama Yana dan juga Kayla karna hari ini tidak ada pelajaran sebab guru-guru sedang rapat. Jadi Yana berinisiatif untuk menemui Arsyila ke kelasnya untuk di ajak ngantin bersama.


"Kak Syila mau ikut nonton gk nanti?". Tanya Yana memulai pembicaraan.


"Nonton apa?". Tanya Arsyila yang tidak tau apa-apa.


"Lah kamu gk denger tadi pengumuman di kelas?". -Kayla.


"Kan aku ke kamar mandi". Jawab Arsyila dengan wajah malas.


"Oh iyaya hehe".


"Mau gk mau harus ikut, katanya Daniel si wajib".


"Emang acara apaan si? dimana?". Arsyila masih bingung.


"Nanti malem ada persembahan dari kelas XI Ipa, kata bang Razan semua wajib hadir tanpa terkecuali ya berarti disekolah dong!".


"Persembahan apa?". Tanya Arsyila penasaran.


"Gk tau, tapi aku tadi sempet denger gosip dari temen-temen katanya nanti ada boyband gituuu... Terus abis itu kita bakal makan-makan". Beritahu Yana.


"Hah iya kah? seru doong!!". Sahut Kayla.


"Aaaaa gk sabar nonton".


"Gk sabar makaaann-makannn". Girang Arsyila dan mereka pun berpelukan ria.


______________


Tepat pada malam harinya, sesuai yang diumumkan tadi disekolah semua siswa dan siswi hadir di lapangan untuk menonton pertunjukan malam ini.


Benar saja seperti yang dikatakan Yana tadi, malam ini akan ada konser dilihat dari panggung yang sudah dilengkapi dengan gitar dan perlengkapan musik lainnya.


Tapi siapa yang akan tampil? hal itu masih menjadi Rahasi.


"Syil". Sapa Kayla yang baru tiba di lapangan bersama Hamam.


"Eh baru dateng". Arsyila menyalami tangan Kayla.


"Hehe iya, acaranya belum mulai kan?".


"Belum, eh aku mau ke kamar mandi bentar ya! kebelet pipis hehe". -Arsyila berbisik ditelinga Kayla.


"Oh mau aku temenin?". Tawar Kayla.


"Gk usah".


"Oh ya udah, aku sama Hamam nunggu disini ya".


"Okey". Balas Arsyila lalu berjalan cepat menuju kamar mandi yang letaknya tak jauh dari area konser. Sania dan Nia yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Arsyila pun tersenyum miring lalu mengikuti Arsyila dari belakang.


Hingga mereka berdua berdiri di depan pintu kamar mandi yang ditempati Arsyila.


"Lo yakin itu kelemahan Arsyila?". Tanya Sania yang masih ragu.


"Ck. Gue udah pernah sahabatan sama dia". Sahabat abal-abal ygy;)


"Ya udah langsung aja!". Perintah Sania.


"Lo aja.. Gue kan udah kasih ide".


"Lo mau ngelawan??". Sania menatap tajam Nia.


"Tapi g-gue...."


"Cepeet.." Sania mendorong tubuh Nia menuju saklar lampu yang tepat berada di depan pintu kamar mandi yang dimasuki Arsyila.


_


Arsyila yang baru selesai dengan kegiatannya pun bernafas lega lalu membuka hijabnya untuk mengambil air wudhu. Memang sudah menjadi kebiasaanya karna Arsyila merasa tidak nyaman jika beraktifitas dalam keadaan berhadas kecuali lagi men:(.


Namun saat dirinya akan membuka tutup keran, lampu ruangan itu tiba-tiba menggelap beserta lampu yang diluar juga ikut padam membuat Arsyila panik setengah mati.


Ya! kelemahan yang dimaksud Nia adalah Arsyila yang tidak menyukai gelap lebih tepatnya trauma..


"Aaaaaaaaa".


Arsyila spontan berteriak lalu mencari keberadaan gagang pintu. Bahkan kini suara detak jantungnya yang berpacu cepat bisa ia dengar dengan jelas ditelinganya.


"Tolong!!!". Teriak Arsyila dari dalam.


Beruntungnya, Yana yang baru tiba disekolah dengan diantar supir segera menuju lapangan dan langsung mencari Arsyila. Ia tidak berangkat bersama Razan, karna kk kandungnya itu tidak pulang ke rumah. Dan tepat sekali posisi berdirinya sekarang dekat dengan area kamar mandi.


"Suaranya kayak gk asing". Gumam Yana, lalu segera memasuki koridor kamar mandi dibantu senter dari ponselnya nya agar ia bisa melihat jalan.


"Tolooong hiks".


Arsyila menangis sesenggukan. Ia masih diselimuti kegelapan dan belum bisa menemukan jalan keluar alhasil ia hanya duduk meringkut sambil menenggelamkan kepalanya di lipatan kakinya, meremas kuat-kuat rok yang ia kenakan saking takutnya.


"Kak Arsyila!". Antusias Yana saat sudah mengenali sang pemilik suara itu lalu mempercepat langkahnya sambil mencari saklar lampu yang tergabung dalam satu aliran.


"Kak Syil, kk dimana???".


Arsyila seperti tuli karna yang sedang menguasainya saat ini hanyalah rasa takut dan cemas.


Untungnya Yana sudah menemukan saklar lampunya dan segera menyalakan lampu yang padam tadi. Suara isak tangis Arsyila makin terdengar jelas di telinganya. Tanpa basa basi Yana langsung membuka pintu yang ditempati Arsyila itu dan mendapati Arsyila yang masih duduk meringkut.


"Kak!". Panik Yana lalu menghampiri Arsyila.


"Kakak kenapa???".


Arsyila yang merasakan tubuhnya didekap seseorang pun langsung mengangkat kepalanya dan spontan memeluk Yana.


"Yanaaa kk takuut". Adu Arsyila.


"Kita ke ruangan kk Razan bentar ya, aku takut kk Syila kenapa-napa. Acara masih lama kok mulainya".


Arsyila hanya mengangguk lesu lalu berdiri dibantu Yana.


"Kakak pake dulu jilbabnya". Ujarnya sambil memasangkan Arsyila jilbab.


"Ayok kak.." Ia pun menuntun Arsyila keluar karna kondisi tubuh Arsyila yang masih bergetar.


"Na, ini Arsyila kenapa???". Heboh Kayla, ia tadi sempat mendengar suara ribut-ribut dari kamar mandi. Bukan hanya Kayla beberapa murid lainnya juga ikut penasaran dan menghampiri mereka.


"Gk tau kk, tadi ada yang usil keknya matiin kk Arsyila lampu pas dikamar mandi". Jawab Yana jujur.


"Ya ampuuun, ini juga salah aku kenapa tadi ngebiarin dia sendirian kesini". Kayla merasa bersalah.


"Kayaknya tadi gue liat Nia sama siapa mungkin pokoknya dia pake masker keluar dari kamar mandi, gue jadi curiga deh". Aku salah seorang siswi yang kebetulan hendak ke kamar mandi, tapi karna lampunya mati ia jadi cancel bertepatan dengan itu siswi tersebut melihat mereka berdua keluar dari sana.


"Pasti Sania! kan mereka satu genk". Sahut siswi yang lainnya.


"Kan pake masker, kita gk boleh asal tuduh". Gio menasihati.


"Mm nanti biar aku kasih tau kk Razan, sekarang aku mau bawa kk Syila ke dalem dulu biar dia gk gemeter lagi. Misi kk-kk".


"Na ikut..! Hamam kamu tungguin di lapangan ya ntar aku nyusul". Ujar Kayla lalu menyusul langkah Yana dan Arsyila setelah mendapat anggukan dari Hamam.


Setibanya di ruangan Razan.....


"Kak Razan". Panggil Yana membuat Razan yang sedang asyik memainkan jari didepan komputer menoleh ke arahnya. Mata Razan melebar melihat kondisi Arsyila lalu segera mendekat ke arah mereka.


"Arsyila kenapa???!". Tanya Razan dengan wajah khawatir.


"Tadi ada yang ngusilin dia kak". Adu Yana lalu mendudukkan Arsyila di sofa.


"Nih minum". Razan menyodorkan segelas air ke arah Arsyila dan langsung diteguk Arsyila hingga tandas.


"Arsyila diapain sampe gemeteran kayak gini??!".


"Arsyila trauma gelap, dari cerita yang aku denger kayaknya ada yang usil matiin Arsyila lampu pas dia lagi dikamar mandi".


Mendengar itu, Razan tanpa basa basi hendak keluar untuk mencari sang pelaku namun Arsyila dengan cepat mencegah langkah Razan.


"Kak, aku gk pp kok. Kalo kk Razan ambil tindakan sekarang yang ada acaranya bakal hancur". Arsyila memperingati, ia tak ingin masalah sepele ini menimbulkan kekacauan besar.


"Tapi-"


"Kak..." Arsyila hanya menatap dalam Razan, tatapan yang mampu membuat egonya runtuh. Razan pun menghela nafas dan tidak jadi mengambil tindakan.


"Okey mungkin gk sekarang, tapi besok pasti pelakunya bakal dapat hukuman yang setimpal".


"Kak Razan.."


"Gk boleh dibantah!". Tegas Razan dan dibalas anggukan dari Arsyila. Ia tak ingin berdebat lagipula sudah sepantasnya pelaku itu mendapatkan hukuman agar mereka jera.


"Hallo semuanya... Apa kabar malam ini??".


Suara Chika sebagai host terdengar dari luar lapangan menandakan acara sudah di mulai.


"Acara udah mulai, Syil kamu mau diem disini atau ikut?".


"Ak-"


"Kalau masih lemah gk usah". Potong Razan. Badan Arsyila sudah tak lagi gemetar namun ia terlihat lemas.


"Gk kok, aku udah baikan. Sia-Sia dong aku kesini tapi gk ikut nonton". Arsyila berusaha meyakinkan orang-orang disekitarnya.


"Kak Syila yakin?". Tanya Yana.


"Ih kalian terlalu berlebihan. Nih liat? aku udah bisa berdiri kan?". Ujar Arsyila sambil bangkit dari duduknya.


"Hm ya udah yuk kita nobar!". Seru Kayla.


"Yuukk!!".


"Bang Razan gk ikut??". -Yana.


"Ntar gue nyusul".


Sesampainya di lapangan...


"Di depan guys mumpung kosong". Ajak Kayla dan diikuti Arsyila dan Yana.


Seperti biasa para host akan mengoceh terlebih dahulu di atas panggung agar suasana lebih hidup namun para murid yang sudah sangat penasaran membalas itu dengan decakan.


"Woy cepetlah! lama amat lo pidato".


"Berasa lagi di mimbaar".


Seru sebagian siswa/i.


"Baik laah.. Sepertinya kalian sangat antusias ya dengan acara malam ini. Oke! langsung saja kita sambuut pemilik acara kita Aydaaaan dan kawan-kawan!!". Heboh Chika dari atas panggung.


"Hah?? Aydan??".


"Huhuuu Aydaaaaannnn".


"Aydan sarangheyooo".


Tak jauh berbeda dengan Arsyila yang saat ini berdiri mematung melihat Aydan yang berada tepat di depannya.


"Kenapa?". Gumam Arsyila dengan makna yang sulit diartikan.


Aydan mengambil duduk dikursi yang tersedia di atas panggung sambil memegang gitar. Pandangannya hanya lurus menatap Arsyila dan mulai menyanyikan lagu pertamanya.


Hingga saat sudah sampai di bagian reff, Aydan memejamkan mata, menyanyi dengan penuh penghayatan hingga ia tak sadar air matanya menetes di bait;


~Kau hancur kan diriku saat engkau pergi


Setelah kau patahkan sayap ini...


Hingga ku tak kan bisa tuk terbang tinggi lagi


Dan mencari bintang yang dapat menggantikanmu.


Sampai kini masih ku coba..


Tuk terbangun dari mimpiku


Dan buat ku tak sadar bahwa kau bukan lagi milikku..


Walau hati tak akan pernah


Dapat melupakan dirimu


Dan tiap tetes air mata


Yang jatuh kuatkan rinduku


Pada indah bayangmu canda tawamu


Pada indahnya duka dalam kenangan kita...


Mata Arsyila memanas namun berbanding terbalik dengan hati ya yang tidak bisa merasakan apapun lagi sepertinya cintanya benar-benar telah mati. Namun mengapa rasanya Arsyila ingin menangis?.


Semua mata tertuju pada Arsyila, sudah pasti mereka tahu kalau lagu itu memang dikhususkan untuk Arsyila.


"Syil kalo kamu emang gk kuat, kita pergi aja ya". Ajak Kayla namun Arsyila sama sekali tidak merespon. Matanya tengah beradu dengan manik mata Aydan yang sudah sembab karna genangan air tadi.


Aydan berlanjut menyanyikan lagu yang ke-dua dengan mata yang tak berpaling sedikit pun dari wajah cantik Arsyila. Kali ini ia membawakan lagu yang sangat sesuai dengan tema malam ini yaitu -permintaan maaf dan perpisahan.


Aydan mulai memetik gitarnya membuat sorakan penonton semakin ramai.


~Dunia hari ini begitu tak berarti


Tak berjalan cepat seolah tak peduli


Lambat laun ku bertahan dengan hari ini


Hari yang takkan pernah berakhir.


Semua telah berubah sejalan dengan waktu


Setiap detik berharga bagiku.


Waktu pun ingin kuubah


Tuk kembali tertawa


Aku hanya bisa menangis


Aku tak bisa


Maafkanlah diriku


Atas semua kesalahan yang kuperbuat


Selama ini kepada dirimu


Aku berjanji akan melepasmu


Dengan senyuman yang akan kau ingat


Dan kau kenang sampai mati


Selamanya....


Lupakanlah semua kenangan ini


Hancurkanlah semua mimpi-mimpi


Jangan pernah kembali


Dan takkan pernah kembali


Dan janganlah kau pernah berikan aku satu harapan


Dan karena ku ingin


Pergi hilang dan lupakan...


........


"Kenapa Aydan menyanyi seolah akan pergi?". Gumam Arsyila.


Aydan selesai dengan lagunya namun matanya hanya tertuju pada Arsyila yang juga tengah menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.


Arsyila tidak sanggup lagi menatap Aydan, tak ingin gagal melupakan. Ia pun membalikkan badannya dan hendak pergi namun..


"Arsyila".. Panggil Aydan dari atas panggung dengan mikrofon yang ia pegang hingga membuat semua pandangan tertuju pada Arsyila.


"I say I love you for the last time, dan thanks buat semuanya, maafin kalo seandainya gue ada salah". kalimat itu akhirnya terucap bersamaan dengan turunnya air mata yang sudah tidak sanggup untuk ditahan.


Arsyila kembali menghadap panggung namun terlambat, Aydan sudah turun setelah mengucapkan kata-kata yang amat menyakitkan itu begitupun dengan Alzam dan Devan yang ikut menyusul sahabatnya. Arsyila hanya diam mematung.. Ini terlalu mendadak bukan?.


Ekspresi penonton juga tak kalah terkejut dengan Arsyila, mereka menganga tak percaya bukan hanya karena ungkapan perasaan itu tapi kalimat terakhirnya..


"Aydan pindah??".


"Aydan mau kemana???".


"Aaaa cogan cakranegara berkurang dong!".


"Padahal gue udah mau gebet woy!".


"Si Arsyila gimana ya perasaannya udah move on gk tuh?".


Dan banyak lagi bisik-bisik para tetangga lainnya.


"Kak? kk Arsyila.." Yana menghampiri Arsyila yang hanya dia mematung namun air matanya tetap menitik. Yana melambaikan tangannya di depan wajah Arsyila hingga kesadarannya mulai kembali.


"Aydan... Aydan mana??".


"Udah tur-".


"Belum sempat Yana selesai bicara namun Arsyila sudah berlari ke belakang panggung mencari Aydan namun tak pula dijumpainya, ia sudah seperti orang gila. Tidak perduli dengan orang-orang yang memberikannya tatapan berbeda-beda ada yang puas melihat itu, dan adapula yang merasa iba.


"Syiil.." Devan menepuk pundak Arsyila dari belakang hingga membuatnya langsung berbalik hadap, melihat Devan dan Alzam yang sudah berdiri di hadapannya.


"Aydan mana?".


"Ikut kita, Aydan udah nunggu lo di rootof". Mereka pun berjalan ke arah yang ditujukan Alzam. Dan setibanya disana, Arsyila menemukan Aydan yang berdiri memunggungiya sambil menatap indahnya pemandangan malam kota dari atas.


"Ay.."


Panggil Arsyila hingga membuat Aydan berbalik badan diiringi dengan senyuman manis yang tak pernah berubah dari dulu. Ia senang karna Arsyila masih ingat dengan panggilan kesayangannya itu.


Terlihat matanya yang sudah memerah dengan tetesan air yang masih bergelayut di rahangnya.


Aydan pun mendekat hingga senyuman itu makin nampak jelas. Devan dan Alzam tanpa kata segera turun untuk memberikan Aydan ruang berbicara dengan Arsyila.


"Syil gu-gue..." Aydan terbata-bata, ia masih tak menyangka bisa berhadapan langsung dengan Arsyila meski ini untuk yang terakhir kalinya.


"Nyesel?". Tembak Arsyila dengan wajah datar. Tidak ada respon apapun yang diberikan hatinya kecuali terkejut.


"Maaf.. " Ucap Aydan namun Arsyila hanya diam.


"Tinggal dua hari lagi gue akan berangkat ke luar negri..Gue minta maaf kalau selama ini gue banyak nyakitin lo...." Aydan dengan wajah bersalah.


"Kenapa?". Arsyila menoleh ke arah lain.


"Karana gue masih sayang sama lo.. Gue gk rela liat lo sama orang lain, lebih baik gue yang pergi.."


"Orang lain? bahkan sekarang hati aku udah gk bisa nerima siapapun lagi karna kamu Ay".


Ucap Arsyila membuat Aydan seketika terdiam menatap dalam Arsyila.


"****!". Razan mengumpat, Ia sedari tadi menguping di pintu masuk rootof. Hatinya benar-benar teriris mendengar kalimat itu terucap langsung dari mulut Arsyila.


Karna tak ingin terluka terlalu jauh ia pun segera turun ke bawah dengan hati kecewa.


"Tapi maaf.." Ujar Arsyila terputus. "Mungkin aku udah ikhlasin semua yang terjadi namun untuk kembali... Sepertinya itu mustahil".


"Kenapa??? apa gk ada kesempatan lagi? Syil, gue masih cinta sama lo". Aydan meraih kedua tangan Arsyila namun Arsyila segera melepasnya.


"Gk Ay, prinsip aku..Satu orang hanya untuk satu masa. Sekali dia mengkhianati akan tetap menjadi penghianat....Masa lalu yang hancur sama halnya dengan membaca buku yang dimana alurnya akan tetap sama meski di baca berulang kali". Jelas Arsyila.


Aydan hanya menunduk tak sanggup menatap Arsyila, ia sudah benar-benar kehilangan Arsyila saat ini.


"Kalau seandainya kita gk bisa kembali kayak dulu... Apa gue tetep bisa jadi temen lo?". Tanya Aydan ragu-ragu.


Arsyila tersenyum kecil..


"Kalo temenan boleh.."


Aydan akhirnya bisa bernafas lega setidaknya dia bisa pergi dengan perasaan damai.


"Tapi inget! teman tetap teman statusnya gk bakal berubah".


"Huh! gue pasrah aja lah yang penting lo mau temenan sama gue itu aja udah syukur".


Suasana yang tadinya canggung kembali mencair.


"Syil, gue..."


"Apa?". Arsyila penasaran.


"Gue boleh peluk gk?".


"Tumben izin biasanya langsung-langsungan".


"Berarti boleh ya?". Aydan mendekat membuat Arsyila melototkan matanya.


"Emang gk pernah berubah ya nih anak! no no! bukan mahrom Ay". Arsyila memperingati dan dibalas cengiran oleh Aydan. Sebenarnya dia cuma mau bercanda pen liat ekspresi Arsyila aja.


"Hehe jadi kangen Arsyila yang dulu".


"Gk usah ngungkit". Cibir Arsyila.


"Hehe ya udah, kita turun yuk kayaknya sekarang lagi acara makan-makan gue juga mau pamit sama yang lain".


"Hm".


...*****...


Ceritanya udah punya ending tunggu aja ya, disini mungkin akan ada yang tersisihkan.. Kalau plotnya dirubah ntar jadi ngelantur. Mohon permaklumannya, aku cuma kasih tau aja buat pendukungnya Aydan biar nanti gk kesel pas ceritanya lanjut 😌🙏🏻


*Intinya jangan mendahului taqdir author**⛔*


Makasih buat yang udah support💓