
...Happy Reading💓🔥...
...*****...
Malam ini seperti yang direncanakan tadi siang Arsyila, Razan dan Yana benar-benar pergi ke pasar malam tentu saja atas izin Hera.
"Kak beli escream dulu yuuk!". Antusias Yana lantas menarik tangan Arsyila menuju paman tukang escream yang ada di tengah lapangan.
"Eeeehhh stop stop!". Razan menghadang jalan mereka dengan tubuh jenjangnya.
"Siapa yang kasih kalian beli escream ha? gk ada makan escream malem-malem. Gk boleh!". Tegas Razan sambil berkacak pinggang.
"Yaaah kok gk boleh sihh". Keluh Yana.
"Gk bagus, cari makanan yang lain aja!". Perintah Razan.
"Huh! ya udah kalo gitu kita beli cilok aja gimana?". Tanya Yana namun dengan nada suara yang terdengar kesal.
"Nah itu baru abang setuju". Balas Razan.
"Hmm ya udah kita berdua mau beli ciloknya dulu, abang mending nyari tempat duduk sana suuuh". Yana mengusir.
"Gk! Kalian gk boleh pergi berdua, di sini banyak cowok nakal". Razan melarang.
"Haissh semua gk bolehh". Yana memanyunkan bibirnya kesal.
~Yana tertekan nggak ya punya abang kayak kk Razan.
Arsyila membatin.
"Kalo kalian kenapa-napa siapa yang tanggung jawab?". Ujar Razan.
"Ck yaya bawel banget, ya udah si ikut aja". Balas Yana lalu melewati Razan. Arsyila yang melihat interaksi kakak beradik itu hanya geleng-geleng kepala lalu mengikuti langkah Yana.
"Bang pesen cilok 20.000". Pinta Yana saat sudah tiba di depan gerobak cilok yang ditunjuk tadi.
"Eh". Ujar Arsyila spontan diiringi wajah terkejut.
"Kenapa kak?". Bingung Yana yang melihat itu.
"Banyak". Jawab Arsyila singkat.
"Hehe bakal abis kook". Ujar Yana mantap.
"Hm". Arsyila bergumam lalu mengalihkan pandanganya melihat keadaan sekitarnya yang sangat ramai.
Tak sengaja matanya menangkap Razan yang sedang duduk menunggu sambil mendongak menatap wahana biang lala diatasnya diiringi senyuman kecil.
"Kak..Ciloknya mau ragi pedes apa manis?". Tanya Yana mengejutkan Arsyila hingga atensinya teralihkan.
"Pedes".
"Oh okey..Bang pedes ya semuanya". Pinta Yana pada sang penjual cilok.
"Baik neng".
"Kak Syila mau naik itu ya?". Tunjuk Yana pada bianglala di atasnya, namun Arsyila hanya menggeleng.
"Kak Arsyila kalo sama yang lain terserah deh mau kk berubah jadi es batu kek es doger, tapi kalo sama aku jangan ya...Kakak tau sendiri kan kesabaran aku tu bagaikan tisu dibelah tujuh". Ujar Yana sambil tersenyum sampai matanya menyipit.
Arsyila hanya bisa menghela nafas mendengar itu, ia tahu betul Yana bukanlah gadis yang sabaran. Emosinya mudah berubah-ubah dan kadang ngomel-ngomel tidak jelas jika hatinya di senggol sedikit saja.
"Kakak kalo ada masalah jangan sungkan-sungkan ya buat cerita...Jangan suka mendem ntar takutnya meledak". Ujar Yana lagi dan Arsyila hanya mengangguk.
"Nih neng ciloknya". Ujar penjual tersebut lalu memberikan satu kantong plastik berisikan cilok pada Yana.
"Makasih bang". Ucap Yana sopan.
"Oghey"..
"Yuk kak, bang Razan mana?". Tanya Yana lalu dibalas tunjukan dagu dari Arsyila. Mereka berdua pun berjalan menghampiri Razan.
"Duduk dimana?".
"Di sana aja yuk mumpung kosong". Ajak Razan saat melihat tikar kosong yang ada di samping penjual siomay, Yana dan Arsyila hanya menurut saja lalu mengekori Razan dari belakang.
Saat sudah sampai mereka pun duduk ala lesahan dengan posisi melingkar.
"Bang minumnya mana?". Tanya Yana.
"Bingung mau beliin kalian minuman apa". Jawab Razan jujur.
"Huh! punya abang gini banget. Kak Syil tunggu sini bentar ya mau beli minum dulu". Ujar Yana lalu bangkit dan beranjak untuk membeli air putih disekitar mereka.
Hingga kini tersisa Arsyila dan Razan berdua yang saling menatap canggung. Lebih tepatnya sih Razan, kalau Arsyila tidak terlalu.
"Lo seneng?". Razan memulai topik.
"Biasa aja". Jawab Arsyila seadanya.
"Oh".
Ngomong apalagi ya?
Razan memembatin.
"Lo..Suka makan coklat kan?". Tanya Razan yang kebingungan mencari topik.
"Hm".
"Sama gue juga". Arsyila hanya diam tak menanggapi.
**** bodoh!
Razan mengumpati dirinya sendiri dalam hati.
Hingga tak lama di tengah keterdiaman mereka Yana sudah kembali dengan membawa dua botol air minum, takutnya gk habis:).
"Bang setelah makan ciloknya aku sama kk Arsyila mau main komedi putar, kk Syila mau kan?". Tanya Yana dengan mata yang memelas.
"Up to you".
"Berasa jaga anak". Gumam Razan.
Yana yang mendengar kk nya menggerutu pun hanya terkekeh kecil.
"Ini ciloknya ragi kacang ya kayaknya enak.."
Ujar Razan lalu memakan cilok itu lebih dulu. Namun Baru saja mulai mengunyah ekspresi Razan langsung berubah kecut dengan mata yang melebar.
"AH PEDESSS!! Air hu hah". Razan membuka tutup botol air di depannya dengan tergesa-gesa. Bahkan kini wajahnya sudah sangat merah.
"Kenapa??". Tanya Arsyila keheranan sambil mengunyah santai ciloknya.
"Astagaaa! aku lupa kalo abang gk bisa makan pedes!". Yana menepuk jidatnya kala teringat. Bisa-Bisanya ia tidak memisahkan yang ragi biasa untuk Razan.
"Gk pedes kok". -Arsyila.
"Iya kalo dibibir kita, kalo bibirnya bang Razan beda, maksimal cabenya satu".
"Ooo". Arsyila hanya mangguk-mangguk.
"Dek kamu jahat banget sii!!". Kesal Razan.
"I-Iyaa maaf...Abisnya abang si gk nanya dulu langsung comot gitu aja". Cibir Yana.
"Kan yang ada cuma ini, gimana si". Razan cemberut.
"Iyaa ya maaf, mau dibeliin yang baru kah? atau adek siramin ciloknya gitu biar saosnya ilang?".
"Gk usah". Ketus Razan.
"Ya udah huh!". Yana bodo amat lalu kembali memakan ciloknya.
"Cepet abisin". Perintah Razan lalu mengotak-atik ponselnya sok sibuk. Sesekali Razan senyam-senyum menahan tawa kala melihat candaan yang dilontarkan Aldo di group dan itupun tak lepas dari pandangan Arsyila.
Dia senyumin apa?
-Arsyila membatin..
"Kak Syila aaa". Yana menyodorkan satu tusuk cilok ke depan mulut Arsyila. Mendengar itu Arsyila langsung membuka mulutnya namun matanya masih menatap Razan.
"A-A ituu.. Mm komedi putar". Arsyila mendadak gagap. Razan menaiki sebelah alisnya lalu menoleh ke arah belakang dan benar saja komedi putar yang Arsyila maksud tidak berada jauh dari tempat mereka duduk.
"Ooo". Yana mangguk-mangguk.
"Makanya cepetan abisin ciloknya terus kita kesana". Ujar Razan lalu tersenyum sekilas.
"Ayok kak! semangat tinggal lima biji".
"Udah kenyang".
"Yah gk adil, gini aja aku tiga kk Syila dua".
"Itu juga gk adil". Sahut Razan.
"Lah terus?? masa sama sepotong". Tanya Yana.
"Kasih abang satu".
"Lah kan abang gk suka pedes".
"Cari cara biar tuh cilok satu gk pedes, baru kita pergi". Tantang Razan.
"Ooh gampang!". Yana lalu menggapai botol aqua yang ada didepannya namun Razan menahannya.
"Eiiit! tanpa mubazzirin air". Razan menarik turunkan alisnya.
"Yaaah abang curang! mana gk bawa tisu lagi". Yana menggerutu.
Tanpa aba-aba Arsyila memasukkan cilok tersebut ke dalam mulutnya lalu menghisapnya hingga cilok tersebut kembali ke warnanya yang semula. Sepertinya akalnya refleks bekerja. Ia pun tanpa dipandu maju menghadap Razan lalu menyodorkan cilok tersebut ke depan mulut Razan dengan wajah polos.
Razan melototkan matanya begitupun dengan Yana.
"Ng..Nga-Ngapin??". Razan mendadak gugup.
"Makan". Pandu Arsyila. Yana pun spontan menepuk jidatnya melihat tingkah absurd kk kesayangannya itu.
"Ta-Tapi..."
"Bang cepet makan! gk ada cara lain, aku gk sabar niih pen naik komedi putar". Yana mengompori. Razan menelan ludahnya susah payah lalu terpaksa membuka mulutnya dan memakan cilok yang di sodorkan Arsyila.
"Yess! sekarang tinggal kita kk Syila". Yana dan Arsyila pun menghabiskan bagian mereka masing-masing seolah tidak terjadi apa-apa, tidak tau saja mereka jika Razan saat ini sedang berusaha menormalkan detak jantungnya yang tadi hampir copot.
"Bang! ayok". Ajak Yana dengan semangat 45 sambil menarik tangan Arsyila untuk berdiri.
"Eh. Iya.." Razan terasadar dari aksi mematungnya lalu ikut berdiri.
"Yuk!". Mereka bertiga pun berjalan beriringan menuju komedi putar yang dimaksud.
(Ilustrasi komedi putar yang dimaksud)
Sambil berjalan Razan kadang mencuri pandang ke arah Arsyila sambil membatin.
Mungkin gini gambarannya kalo Arsyila jadi istri gue besok.
Razan dengan percaya dirinya sambil tak henti-hentinya tersenyum mengingat kejadian tadi lalu setelahnya kembali fokus menghadap depan (focus berkhayal).
Drrt...
Ponsel Arsyila bergetar. Ia lalu menghentikan langkahnya dan melihat notifikasi yang tertera di layar menampilkan sebuah pesan masuk yang tak lain berasal dari Hera.
💬 : Bunda?
Nak lagi dimana? masih jalan-jalan kah? bunda titip basreng pedes boleh? entar uangnya bunda ganti.
^^^Nggih ^^^
Setelah mengetikkan balasan Arsyila kembali menghadap menghadap depan, namun ia bingung saat tak mendapati Razan dan Yana disampingnya. Mungkin tadi mereka tak menyadari Arsyila berhenti karna Yana sibuk dengan ponselnya begitupun dengan Razan yang sibuk menghayal.
"Mereka mana??".
Arsyila memutar kepalanya mencari keberadaan mereka lalu kembali bernafas lega saat melihat seorang perempuan dan laki-laki yang sedang berjalan beriringan menggunakan baju yang sama dengan yang dipakai Yana dan Razan tadi. Tidak salah lagi itu pasti Yana dan Razan pikir Arsyila.
Ia pun berlari kecil ke arah mereka lalu Arsyila dengan tingkah randomnya menautkan tangannya dengan orang yang disangka Yana itu agar tidak hilang lagi lalu ikut berjalan santai.
"M-Mbak..?" Tanya perempuan yang ada disampingnya sambil menghentikan langkahnya.
~Kok suaranya Yana agak beda ya?
Arsyila membatin. Ia pun perlahan menoleh dan betapa terkejutnya ia kala mendapati orang yang disampingnya bukanlah Yana dan Razan melainkan sepasang kekasih yang sedang berkencan.
"Eh..Ma-Maaf mbak, saya salah orang". Arsyila tersenyum canggung lalu melepaskan tautan tangannya.
"Hehe ya mbak gk papa". Balas perempuan tersebut lalu pergi sambil terkekeh geli.
"Aiisshh malunyaa". Arsyila memukul-mukul kecil kepalanya.
Arsyila lalu menengok sekitar untuk mencari keberadaan dua kakak beradik itu namun ia sama sekali tak mendapat petunjuk.
"Awww!". Arsyila sedikit menjerit kala bahunya sengaja ditabrak seseorang.
"Eh maaf mbak". Ujar laki-laki berhodie yang menabraknya tadi namun sebagian wajahnya tertutup masker hingga Arsyila tak bisa melihat wajahnya. Arsyila merasa sedikit janggal..
~Suaranya kayak gk asing..
Disisi lain..
"Waah bagus banget!". Riang Yana melihat komedi putar yang sudah ada dihadapannya lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. "Kak Syil-". Ucapan Yana terpotong kala ia menengok ke samping dan tidak mendapati Arsyila.
"Lah kak Syila manaa???". Pekik Yana lalu menelusuri keadaan sekitar dengan matanya. Mungkin karna terlalu ramai hingga dirinya tak sadar bahwa Arsyila sudah tidak ada disampingnya sedari tadi.
"Bang! kk Arsyila dimana???". Yana menyadarkan Razan dari lamunannya.
"Ha? Arsyila??". Razan sedikit bingung lalu ikut melihat sekitar.
"Lah bukannya tadi dia jalan sama kita??". Razan terlihat panik.
"Aku juga gk tau! duh gimana nih". Yana ikut khawatir.
"Sial!". Razan lalu kembali mencari Arsyila ke tempat semula dengan Yana yang mengekor dari belakang.
"Ck. Dimana siih!". Razan sudah sangat panik sambil menengok kiri dan kanan.
Hingga matanya tak sengaja tertuju pada seorang gadis yang sedang mendongak menatap laki-laki yang kepalanya tertutup hodie. Entah mengapa matanya menjadi panas melihat itu, ia pun berjalan cepat ke arah Arsyila.
"Syil". Razan menepuk pelan bahu milik Arsyila. Melihat kedatangan Razan laki-laki tersebut semakin menunduk namun sayangnya Razan masih bisa mengenal wajahnya.
"Maaf". Ujar laki-laki itu lagi lalu pergi dari hadapan mereka berdua.
"Kak Arsyila huh! kenapa bisa ketinggalan sii??". Yana datang-datang mengomel.
"Kita pulang sekarang!". Tegas Razan dengan raut muka yang sudah berubah. Entah ekspresi apa yang ditunjukkannya namun yang pasti itu sangat menyeramkan.
"Lahhh kok pulang si?". Yana tak terima.
"Gk ada bantahan!". Tolak Razan dengan masih menatap punggung laki-laki tadi yang sudah menjauh lalu berjalan mendahului mereka.
"Huh!". Yana menghela nafas kecewa lalu menengok ke arah Arsyila yang terlihat sedang berfikir.
"Yuk kak..Lain kali aja kita mainnya". Ujar Yana pasrah lalu menarik tangan Arsyila mengikuti langkah Razan.
"Temenin beliin bunda basreng". Bisik Arsyila pada Yana.
"Oh oke! aku juga kayaknya mau". Mata Yana berbinar-binar.
"Sip".
~Lo bakal jadi milik gue lagi Syil.
*Gumam seseorang tadi.
Sampai disini edisi malam ini, huh! siapa suruh si buat Razan cemburu kan jadinya cuma makan cilok:).
...*****...
See you next Chapter👋🏻💓🔥