Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Eps 88 : Kembali Untuk Pergi



...Happy Reading💓🔥...


...*****...


Sudah satu bulan berlalu dan kini Arsyila sudah mulai terbiasa tanpa kehadiran Aydan, sejauh itu pun ia tak pernah lagi memikirkan Aydan dimulai sejak dirinya terbangun dari koma. Ia juga sama sekali tak terpengaruh saat mendengar para fans Aydan dengan terang-terangan mengaku menjadi gebetan bahkan pacar barunya Aydan. Arsyila benar-benar tak perduli..


Pagi ini Arsyila dan Kayla serta beberapa murid yang lainnya sedang berdiri di balkon sembari melihat lapangan menyaksikan beberapa murid laki-laki yang tengah dijemur karna ketahuan merokok di area sekolah.


Namun suara ricuh daripada siswi yang sedang berdiri di ujung mengalihkan atensi mereka.


"Itu pada kenapa?? kok teriak-teriak histeris gitu? emang sekolah kita lagi kedatangan artis ya?". Tanya Kayla.


Arsyila yang penasaran pun mengajak Kayla ke koridor paling ujung yang dimana para murid bisa melihat area parkiran dari atas.


Sesampainya disana....


"Wih gilaaa Aydan comeback!".


"Makin ganteng anjir".


"Gue kira Aydan pindah".


"Gue denger-denger sih dia cuti".


"Brarti dia bakal sekolah di sini lagi doong!".


Arsyila hanya menatap datar ke arah bawah, entah mengapa ia tak merasakan apapun lagi saat melihat Aydan.. Tak seperti dulu.


Tanpa sepatah kata, Arsyila berbalik hendak kembali menuju kelasnya. Ia tak mau pembicaran siswi tadi merambat hingga berlanjut membicarakan hubungannya dengan Aydan.


"Syill tunggu!!!!". Panggil Kayla lalu mengejar langkah Arsyila.


Aydan yang baru turun dari mobilnya pun dapat mendengar teriakan Kayla dari bawah, ia spontan mendongak dan langsung saja mendapat sorakan centil dari para siswi yang melihatnya.


Tak mau berlama menjadi pusat tontonan, Aydan segera melangkah masuk ke dalam gedung sekolah setelah merapikan jaketnya biar lebih cool. Ya! Aydan kesekolah memang tak mengenakan seragam. Namun bukannya beranjak menaiki tangga menuju kelasnya, ia langsung pergi menuju ruangan OSIS untuk menemui seseorang.


"Assalamu'alaikum".


Sapa Aydan saat sudah sampai di ambang pintu. Tanpa dipersilahkan, dirinya langsung berjalan menghampiri Razan yang tengah menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan lalu duduk di sofa ruangan itu.


"Lo ngap-". Ucapan Razan terpotong saat ingatannya langsung menyambar. Bisa-Bisanya ia lupa kalau hari ini adalah hari pertama Aydan kembali kesekolah.


"Jumpa lagi bang". Ujar Aydan santai. Razan tak menanggapi, ia hanya menatap Aydan dengan tatapan penuh benci.


"Gimana hubungan lo sama Arsyila? apa ada perkembangan?". Aydan langsung to the point dan membalas tatapan Razan.


"Bukan urusan lo". Ketus Razan.


"Lo masih inget perjanjian kita kan?".


"Jangan mimpi bisa ngambil dia dari gue!".


"Lo takut?".


Razan yang sudah tak suka dari awal dengan kedatangan Aydan pun sangat cepat terpancing emosi dan bergerak maju lalu meraih kaos Aydan yang tertutup jaket.


"Gue kesini mau penuhin janji, sesuai kesepakatan... Lo harus-


Bugh!


Razan memukul pipi tirus Aydan dari samping. Aydan tak membalas, ia malah tersenyum menanggapi itu.


"Setelah apa yang lo lakuin, dan sekarang lo dengan gampangnya mau rebut dia dari gue?!". Razan dengan emosi yang meluap.


"Apa lo secinta itu sama Arsyila?".


"Bahkan lebih dari cinta yang lo punya! Gue suka Arsyila dari lama dan lo dengan gampangnya datang ngerampas dia cuma untuk disakiti dan setelah itu lo pergi ninggalin dia?! sekarang pas dia udah pulih lo mau ngambil dia lagi dari gue?!! dimana hati nurani lo ha?!".


Aydan tertegun mendengar suara lantang Razan yang tanpa sengaja telah mengakui perasaannya. Aydan bisa menilai sendiri bahwa Razan memang begitu tulus mencintai Arsyila.


"Okey kalo gitu gue yang ngalah".


Ujar Aydan pasti membuat Razan perlahan melepas kaos miliknya. Namun begitu, Razan tak mudah percaya.. Mana mungkin manusia seegois Aydan mau melepaskan Arsyila dengan mudah pikir Razan. Melihat keterdiaman Razan, Aydan pun kembali berbicara..


"Gue gk bercanda.." Ujar Aydan menghilangkan keraguan Razan. Razan pun tanpa dipandu mendudukkan dirinya disamping Aydan dengan jarak satu hasta:(


"Sebelumnya gue mau berterimakasih sama lo karna selama gue gk ada.. Lo jagain dia dengan sangat baik". Ucap Aydan memulai pembahasan.


"Bahkan saat dia masih sama lo, gue selalu ngawasin dia dari sikap lo yang kasar".


Aydan tersenyum tanpa arti.


"Gue bego' karena udah nyia-nyiain orang yang udah tulus sama gue demi masa lalu yang gk mungkin lagi gue milikin. Dan sekarang gue bener-bener hancur...Gue nyesel. Seandainya dari dulu gue fokus sama Arsyila mungkin sampai sekarang hubungan kami bakal baik-baik aja..."


Mata Aydan memanas, jujur sampai detik ini ia masih sangat merindukan Arsyila.


"Terlambat". Jawab Razan dengan ekspresi datar. Aydan menghela nafas berat.


"Bang, gue titip Arsyila sama lo". Razan yang mendengar itu langsung menoleh ke arah Aydan yang tengah fokus menatap lurus ke depan.


"Mungkin butuh waktu lama buat gue ngelupain Arsyila atau mungkin gk akan pernah.. Oleh sebab itu, gue udah mutusin buat pindah ke luar negri biar gue bisa jauh dan gk bisa lagi liat dia sama lo".


"Gue serius.. Kayaknya pembelajaran dari orang tua gue selama sebulan ini cukup buat gue merenung dan tambah dewasa". Aydan terkekeh kecil berbeda dengan sorot matanya yang terlihat sendu.


Razan hanya ikut tersenyum mendengar lelucon yang dilontarkan Aydan sebagai respon.


"Bang... Sebelum gue pergi, gue ada satu permintaan. Lo tenang aja, ini hanya sebatas permintaan maaf dan perpisahan untuk semuanya.."


"Apa?".


^.......…....……^


_______________


"Kamu lagi apa Syil??". Tanya Intan pada Arsyila yang dari tadi asyik menulis di bukunya. Saat dirasa tulisannya kurang rapi, ia kembali merobek tengah-tengah bukunya hingga buku kosong yang tadinya tebal menjadi tipis:)


"Syil mubazzir tau!". Kesal Intan yang merasa diabaikan sekalian menasihati Arsyila.


"Aku mau nulis sesuatu yang spesial, jadi harus rapih.." Balas Arsyila tanpa menoleh.


"Percuma aja si, orang polpen yang lo pake aja tintanya kek gitu". Tunjuk Intan pada bolpoin milik Arsyila.


"Hm iya juga ya".


Arsyila pun tanpa izin meraba kolong meja Kayla untuk mencari smallbag milik sahabatnya itu.


"Nah ketemu! Kayla pinjam ya..." Arsyila berbicara sendiri, padahal Kayla tidak ada didekatnya karna sedang pergi ke kamar mandi. "Iya ambil aja Syil". Jawabnya sendiri.


"Hadeeeh.. Nih bocah ada aja kelakuannya". Intan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah murni Arsyila.


"Hehe.. Eh kayaknya aku mau ganti kertas juga deh biar lebih estetik😁". Arsyila cengiran ke arah Intan.


"Udah gue tebak". Cibir Intan.


"Hehe... Kamu bawa buku diary gk?".


"Buat apa?".


"Minta lembarannya satu".


Intan hanya bisa menghela nafas lalu beranjak menuju mejanya untuk mengambil secarik kertas dengan hiasan gambar bunga dipinggirnya lalu setelahnya kembali ke meja Arsyila.


"Nih". Sodor Intan lalu kembali duduk di meja milik Kayla. Kalau jam kosong Intan memang sering main-main ke bangku Arsyila atau kadang Arsyila yang ikut bergabung dengan genknya kalau Kayla mah jangan ditanya... Patuh suami guys:)


"Hehe makacii". Arsyila tersenyum sok manis lalu melanjutkan kegiatan menulisnya, dan kali ini tidak boleh salah karna kertasnya unlimitid.


"Taraaa udah selesai". Girang Arsyila lalu melipat kertasnya menjadi bentuk dompet.


"Hadeh lo nulis surat cinta untuk siapa si?". Intan mulai curiga.


"Hehe aku titip ya Intan... Pokoknya nanti kalo udah waktunya kamu kasih surat ini ke orang yang aku tulis namanya di sampul surat itu Okey!". Pinta Arsyila sembari menyerahkan surat berlipat itu ke hadapan Intan.


Intan pun melirik nama yang ditujukan Arsyila..


"Kenapa gk lo kasih sendiri Syil? ya ampuun". Intan geleng-geleng kepala.


"Ck gk usah banyak komen! pokoknya surat itu harus kamu simpen baik-baik dan gk boleh dibaca, ini amanah ya".


"Huh! iyaya gue jaga.."


"Awas aja!".


"Iyaaa bawel banget ya ampuun".


"Hehe makasi Intan". Arsyila spontan memeluk Intan, Intan yang biasa dengan tingkah absurd Arsyila itu pun hanya menghela nafas.


"Syil nih ada titipan dari bang Razan".


Arlina tiba-tiba datang dengan membawa sebuah paper bag yang entah apa isinya. Arsyila yang penasaran pun hendak membuka paper bag tersebut namun Arlina mencegahnya.


"Kata bang Razan bukanya nanti pas di rumah".


"Ha??". Arsyila mengernyitkan dahi.


"Lo ultah Syil? kok gk bilang". -Intan.


"Masih lama kok".


"Terus?".


"Mana aku tau". Arsyila mengendikkan bahunya tak acuh lalu menyimpan paper bag tersebut ke dalam tasnya.


...*****...


Part selanjutnya akan menyusul..


Makasih dah nunggu😍😘


See you next chapter👋🏻💓🔥