Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Bag 46 : Failed



...Akan selalu ada pertolongan dari jalan yang tak kamu sangka🙃...


...*****...


Acara baris berbaris pun selesai dan saatnya memasuki kelas untuk mengikuti ujian akhir di semester ganjil ini.


Para murid pun membubarkan diri masing-masing. Ada yang jalan santai, berlari, bahkan main balap-balapan siapa cepat sampai kelas padahal mereka juga akan tetap sampai toh walaupun jalannya ngesot.


Tapi yaaa begitulah uniknya masa SMA😌


Begitupun dengan Arsyila yang kini sudah membalikkan badan siap melangkah menuju kelasnya namun belum sampai melangkah banyak ia tiba-tiba dikejutkan dengan benturan keras dari bahu seseorang yang tengah berlari melewatinya hingga membuat badannya sampai menyamping saking kerasnya tabrakan dari orang tersebut.


"Awww".


Ringis Arsyila merasakan nyeri yang langsung menjalar di sekitar tulang punggung yang kena tabrak tadi, sepertinya orang tersebut menggunakan tenaga dalam:)


"Aisshh nyebelin banget sih itu orang, nggak minta maaf lagi!".


Kesal Arsyila sambil mengusap-ngusap bahunya yang juga terasa sedikit nyeri.


Beberapa detik kemudian setelah usai dengan aksi ngomel-ngomelnya Arsyila mulai menyadari sesuatu sepertiii...Ada yang ganjal pikirnya. Ia pun refleks memeriksa kedua tangannya dengan mengikuti insting dan.... Zonk. Kartu ujian yang tadi ia pegang hilang entah ke mana.


Arsyila terbelalak.


"Hah kartunya mana?".


Bingung Arsyila kemudian mencari kartu itu di sekitaran lapangan tempatnya berdiri barangkali kartu tersebut jatuh pikirnya.


"Aduh..Jatuh dimana sih?". Arsyila jadi panik sendiri dibuatnya.


"Cari apa Syil?". tanya Razan mengejutkan Arsyila dari arah belakang.


"Eh..Ini kak kartu ujian aku hilang". Arsyila mengeluh.


"Hah? kok bisaa?". Bingung Razan.


"Gk tau...Tadi aku nggak sengaja ditabrak sama siapa mungkin aku nggak sempat lihat, teruuus mungkin akunya nggak sadar kartunya jatuh. Tapi kok nggak ada ya?". Heran Arsyila sambil menengok sekitaran lapangan.


"Siapa ya?".


Gumam Razan mendengar pengakuan Arsyila. Ia malah fokus memikirkan siapa pelakunya pastilah ini ada unsur kesengajaan dan sudah direncanakan sebelumnya-pikir Razan, tak seperti Arsyila yang sudah berpositif thinking duluan.


"Kak Razan..Gimana dong, masak aku nggak ikut ujian". Rengek Arsyila dengan wajah lesu.


"Ayok ikut gue ke kantor". Ajak Razan kemudian berjalan mendahului Arsyila.


"Eh?? aku mau di apain?". Kaget Arsyila.


"Ck buat laporan". Jawab Razan dengan wajah datar.


"Masa cuman kartu ilang langsung di laporin sih?! terus aku dihukum apaan?? kak razan jahat!". Arsyila mendadak kesal.


"Eh??". Cengo Razan.


Astagfirullah..Nih anak otaknya terbuat dari apa sih? bener-bener bikin emosi.


-Batin Razan.


"Lo gk di hukum. Cuma lapor aja kalau kartu lo ilang biar dibuatin lagi. Huh!". Ujar Razan sedikit ngegas lalu menghela nafasnya kasar.


"Ooo hehe aku nggak dimarahin kan?". Tanya Arsyila sambil cengiran.


"Gk! ada gue". Jawab Razan menatap datar Arsyila yang sedang tersenyum polos.


"Hadeeh..Cepet ikut gue".


Perintah Razan lalu melewati Arsyila. Terdengar suara helaan nafas yang keluar dari rongga hidung Arsyila. Lalu ia pun mengekori Razan dari belakang.


Disisi lain..


"Yes! rasain lo Arsyila".


Ujar Nia saat berhasil mengambil kartu ujian Arsyila. Mungkin karena sedang fokus pada bahunya yang ditabrak sampai Arsyila tak sadar kalau Nia mencomot kartu tersebut dari tangannya setelah adegan tabrakan yang sengaja dilakukan Sania tadi.


"Bagus kan sepak terjang gue hahaha". Sania tertawa puas.


"Lo emang nggak pernah gagal San." Sanjung Nia.


"Hahaha Gue udah terlatih kalik". Jawab Sania menyombongkan diri.


"Iyaya lo emang paling licik San wkwk". Ujar Nia ceplak ceplos dan di balas senyuman Devil Sania.


"Udah yuk balik kelas". Ajak Nia mengambil ancang-ancang untuk pergi.


"Eh bentarr.." Sania menghentikan langkah Nia.


"Kenapa??".


"Ikut gue!".


"Ha?".


Nia mengernyitkan dahinya sambil mengikuti langkah Sania dari belakang hingga langkah mereka berhenti di depan pintu toilet.


"Ha? toilet?". Nia cengo.


"Ayok masuk!".


"Ngapain San?". Nia semakin dibuat bingung.


"Jangan banyak tanya!".


Ujar Sania kemudian masuk terlebih dahulu. Nia hanya menurut dan ikut masuk menyusul Sania walaupun dalam hatinya masih sibuk bertanya-tanya.


"Mana kartunya?".


Sania menyodorkan tangannya saat mereka sudah berada di depan tong sampah yang ada di pojokan kamar mandi. Nia yang sudah mengerti pun langsung menyerahkan kartu tersebut pada Sania.


Sania merobek kartu Arsyila dengan tidak berperasaan sampai potongannya terbagi menjadi serpihan-serpihan kecil.


"Kenapa robeknya harus di sini?". Tanya Nia ragu-ragu.


"Karna gue make otak!". Jawab Sania singkat yang membuat Nia langsung kicep.


"Cus". Ajak Sania kemudian keluar dari kamar mandi itu diikuti Nia.


_________


"Huh! untung masih pemeriksaan".


Lega Nia saat sudah sampai di area depan kelasnya kala melihat dua orang siswa terakhir yang sedang diperiksa diambang pintu kelas.


"Tapi kok gk ada Arsyila ya?". Heran Sania.


"Mungkin masih di lapangan nyari kartunya". Sahut Nia lalu tersenyum miring.


"Haha iya juga".


Jawab Sania kemudian mendekat ke arah pengawas yang sedang berdiri di depan pintu bersama Nia.


"Kalian kenapa telat?!".


Tanya pak Brayen yang mendapat giliran mengawas di kelas mereka.


"Hehe..Udah ke toilet pak". Jawab Nia sambil cengiran.


"Cepet masuk!".


Nia dan Sania pun melangkah masuk namun...


"Eeeeh kartunya mana??". Tanya Pak Brayen saat teringat.


"Haddeh..Dari tadi kek ngomongnya". Gerutu Sania sambil mengangkat kartunya dan disusul Nia.


"Oke. Boleh masuk".


Sania memutar bola matanya malas lalu melangkah masuk beriringan dengan Nia.


"Kayaknya udah semua". Gumam pak Brayen lalu ikut masuk ke dalam kelas tersebut untuk memulai ujian.


"Kiy, Daniel..Minta tolong bagikan kertas ini ke teman-teman kamu".


Pinta pak Brayen pada Daniel dan Rifki yang ada di di kursi paling depan. Mereka berdua pun maju lalu mengambil lembar kertas yang di sodorkan pak Brayen dan membagikannya ke masing-masing meja siswa/i.


"Assalamu'alaikum".


"Lo masuk aja, biar gue yang ngomong sama pak Brayen". Suruh Razan pada Arsyila.


"Makasih kak". Arsyila tersenyum sebentar lalu beranjak menuju mejanya.


Terlihat Razan yang memasuki kelas tersebut kemudian berbicara sebentar pada pak Brayen dan keluar setelah mendapat anggukan.


"Aiiish kok bisa sih dia masuk kelas!". Kesal Nia yang melihat hal itu.


"Gue lupa kalo dia masih punya Razan".


Bisik Sania dengan memajukan wajahnya ke arah Nia yang sedang duduk tepat di depan mejanya.


"Gagal lagi!". Gerutu Nia dalam hati.


_________


Sesi pertama sudah akan selesai, sebagian murid yang sudah selesai menjawab pun menunggu di luar ruangan termasuk Arsyila sembari menunggu jam pelajaran ke-dua di mulai.


"Nia..Lo ada bawa contekan buat yang nanti gk?". Bisik Sania pada Nia yang ada di depannya.


"Ada..Kenapa?". Nia ikut berbisik.


"Serahin ke gue!".


"Hah?? maksud lo?? gue capek kerjainnya San..Ntar lo liat jawaban gue aja ya". Tawar Nia.


"Begok! gue mau kerjain Arsyila".


"Ha? gue gk ngerti".


"Lo gk perlu ngerti, sini cepet serahin".


Nia pun mengambil kertas contekan yang ia sembunyikan di dalam BH nya sambil merunduk.


"Iuuuw jorok banget loo". Sindir Sania yang melihat itu.


"Ini tempat paling aman!".


"Haddeh sini kertasnya".


Nia pun menyerahkan kertas tersebut pada Sania.


"Nia! Sania! lagi apa kalian? nyontek?!". Tegas pak Brayen dari tempat duduknya.


"Gk pak..Orang kita udah selesai kok". Nia beralasan padahal masih tersisa lima nomor lagi.


"Kalo sudah selesai langsung keluar! jangan malah diskusi di dalem". Ujar pak Brayen garang.


"Iya pak.." "Aduh Saan..Gue belum jadi". Nia meringis sambil berbisik ke arah Sania.


"Ya tinggal karang aja begok! apa susahnya".


Jawab Sania yang juga baru selesai mengarang di kertas lembar jawaban miliknya. Nia hanya pasrah lalu mengikuti arahan dari Sania tadi.


Sania pun bangkit lalu berjalan ke arah meja guru untuk mengumpulkan lembar jawabannya namun ia sedikit memperlambat jalannya saat melewati meja Arsyila yang kosong.


Dengan gerak cepat tangannya melempar kertas yang sudah di remas itu ke dalam kolong meja Arsyila kemudian kembali berjalan santai hingga dirinya tiba di depan pak Brayen yang sibuk pada ponselnya lalu keluar dari kelas tersebut sambil tersenyum miring.


_________


"Ayok semuanya masuk kita mulai ulangan untuk mata pelajaran yang ke-2". Perintah pak Brayen dari dalam kelas.


Semua murid pun berbondong-bondong masuk ke dalam kelas dan duduk rapi di meja masing-masing sambil menunggu lembar kertas dibagikan.


"Pak".


Sania tiba-tiba mengangkat tangan.


"Iya Sania, silahkan tapi jangan lama-lama". Respon pak Brayen yang mengira Sania akan izin ke toilet.


"Lah sy bukan mau ke toilet pak". Kesal Sania.


"Oo terus?". Alis pak Brayen menukik sebelah.


"Saya mau lapor pak".


"Lapor apa Sania?".


"Tadi saya liat Arsyila megang contekan pak di luar". Adu Sania mengarang cerita.


"Hah??".


Arsyila yang sedang khusyuk menjawab soal pun di buat kaget. Begitupun dengan para murid yang tadinya tenang menjadi sedikit heboh karna saling bertanya-tanya.


"Bohong pak".


Bela Arsyila pada dirinya sendiri, mana mau dia harga dirinya sampai jatuh hanya karna sesuatu yang memang tidak pernah ia lakukan.


Pak Brayen pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah meja Arsyila.


"Saya gk bohong pak, periksa aja di dalem mejanya". Ujar Sania percaya diri.


"Ha??".


Arsyila hendak memeriksa mejanya namun pak Brayen menghentikan pergerakannya.


"Arsyila berdiri!".


Pinta pak Brayen lalu dengan ragu-ragu Arsyila menurut untuk berdiri. Walaupun ia tidak berbohong namun tentu saja ada perasaan takut dalam dirinya.


"Minggir sebentar biar saya yang periksa".


Perintah pak Brayen pada Arsyila. Arsyila hanya menurut kemudian keluar dari lingkup mejanya.


Pak Brayen menengok kolong meja yang nampak kosong alias bersih dan tak ada satupun kertas bahkan sampah yang ada di sana. Ia juga menggarap kolong meja itu dengan tangannya namun tak mendapat apa-apa.


"Huh! Sania..Ini bukan forum candaan ya, tidak ada kertas di sini". Ujar Pak Brayen sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hah?!".


Sania terkejut lalu memeriksa sendiri kolong meja Arsyila dan benar saja..Kosong.


"Ck sia-sia gue ngerangkum". Nia berujar pasrah namun sedikit kesal juga sih sama Sania.


"LAH KOK GK ADA!". Heran Sania.


"Gk ada kan? hadehh buang-buang waktu saja kamu ini Sania".


"Maaf pak tapi saya tad-"


"Saya tidak perduli dengan laporan palsu kamu Sania, nanti pulang sekolah jangan langsung pulang. Keliling lapangan 10 kali sebagai hukuman karna sudah menuduh teman kamu, mengerti!".


"Haaaaa??".


Pak Brayen lalu kembali ke meja guru tak memperdulikan wajah Sania yang seperti ingin protes. Begitupun dengan Arsyila yang malah kembali duduk santai di mejanya tanpa mengucap sepatah kata pun.


"Makanya San jadi orang dikitin iri biar otak terbiasa mikir positif". Komentar Gian dari tempat duduknya.


"Huuuuuu". Serbu Alvin dan di ikuti yang lainnya.


Ternyata genk-genknnya Rifki bisa julid juga ya bestie🙃


"Ihhhhh". Kesal Sania sambil menghentik-hentakkan kakinya di lantai lalu kembali ke tempat duduknya.


"Kok bisa siih??". Tanya Sania pada dirinya sendiri.


"Gagal lagi ya San?". Nia seperti meremehkan padahal tadi saja ia memuji-muji Sania. Namun Sania tak menghiraukan itu.


"Awass aja! kalo sampe gue tau siapa yang udah bantuin Arsyila gue gk akan segan-segan buat kasih tuh orang pelajaran!". Ujar Sania sambil menggumpalkan kedua tangannya.


Bener-bener titisan iblis sih ni


-Batin Intan yang mendengar gumaman Sania itu.


"Udah San..Mending lo kerjain tuh soal ntar keburu waktu abis". Peringat Intan yang duduk bersebelahan dengannya.


Sania menghela nafasnya kasar lalu mulai menjawab soal-soal tersebut dengan menggunakan mata batinnya.


...*******...


See you next chapter👌🏻👋🏻


Boleh kasih kritik dan saran💓🔥