
...Ketika kamu ingin menjadi yang terbaik namun taqdir mengatakan kamu harus melewati hal terburuk...
...~...
Waktu terus berlalu hingga tak terasa ujian yang kemarin menguras pikiran para murid di seluruh sekolah kini telah berakhir digantikan dengan perasaan yang penuh kelegaan karna akhirnya mereka akan mendapatkan hadiah berupa libur panjang setelah berhasil melewati masa pembelajaran selama 6 bulan lamanya.
Namun tunggu dulu..Bukankah Sebelum itu mereka harus menerima hasil jerih payahnya dulu kan?
Mungkin bagi murid biasa mereka akan santai saja melihat hasil rapotnya nanti entah itu dapat rangking terakhir pun tak masalah asalkan liburr. Berbeda dengan anak ambis di kelas yang takut jika membawa hasil mengecewakan saat pulang nantinya.
Tak jauh berbeda dengan Arsyila yang saat ini sedang menunggu wali kelasnya datang untuk membagikan mereka raport dengan hati yang deg-degan.
"Ya allah semoga Syila dapet juara 1 supaya bisa banggain bunda". Arsyila terus berdoa.
Kalau boleh jujur sebenarnya Arsyila tidak terlalu menginginkan juara atau apa lah yang membuat ia sampai terkenal pintar di sekolah.
Justru ia merasa semua itu beban..
Bagaimana nanti jika ia tak sesuai dengan yang orang katakan? harapkan? huh! namun Arsyila harus memaksakan diri untuk mencapai itu semua..Tiada lain hanya untuk Hera dan Radit setidaknya agar Arsyila merasa berguna untuk mereka.
Tak menunggu lama buk Astuti yang menjadi wali kelas mereka sudah tiba, ada yang merasa senang karna sebentar lagi pulang dan ada juga yang takut..Takut jika mendapat rangking di bawah ekspetasi.
"Assalamu'alaikum wr wb". Sapa buk Astuti.
"Wa'alaikumussaalam wr wb".
"Baik anak-anak tanpa banyak basa-basi ibuk akan membacakan rangking kalian..Yang di sebut namanya langsung maju dan boleh pulang".
"Horeeee".
"Iya buuk cepett".
Teriak sebagian murid dari arah belakang biasanya sih itu dari golongan murid yang ber-motto yang penting sekolah.
"Oke-oke tidak sabar libur ya kalian rupanya".
Ujar Buk Astuti lantas menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kecil.
"Iyaaa buuuk gk sabar rebahan". Jawab Arlina.
"Hadeh okelah ibuk bacakan, yang punya nama langsung maju ya".
Dag dig dug
Jantung Arsyila berpacu tak karuan.
"Juara satu diraih oleh Silvia Maulida".
"Hmm udah aku tebak.."
Gumam Arsyila. Pashalnya Silvia adalah murid paling ambis di kelas dan tidak terlalu bergaul kecuali dengan teman yang satu otak dengannya alias sama-sama pintar.
"Juara 2 diraih oleh..
"Kali ini semoga aku ya Allah".. Arsyila berdoa penuh harap.
"Diraih oleh Rifki Ariadi Saputra".
Suara tepuk tangan dari teman-teman rifki memeriahi kelas tersebut..
"Sudahlah..Aku gk mau pulang ntar". Gumam Arsyila dengan perasaan yang tidak enak.
Bagaimana mungkin Arsyila akan mendapat peringkat pertama di sekolah favorite ini? ini bukanlah seperti sekolahnya yang dulu yang berbasis pondok pesantren dan hanya fokus mempelajari ilmu Agama serta sedikit tambahan pelajaran umum melainkan ini adalah sekolah negri favorite yang sudah tentu isinya juga orang-orang pilihan dengan mata pelajaran Agama yang juga terbatas berbanding terbalik dengan bakat Arsyila. Karna bagaimana pun sekolahnya ini tetaplah sekolah negri hanya saja mata pelajaran Agamanya lebih unggul di bandingkan jurusan yang lain.
"Juara tiga diraih oleh Arsyila Audhiva Janea".
Suara ricuh dan tepuk tangan dari murid laki-laki menghiasi kelas tersebut yang tidak lain dari genknya Rifki dan beberapa penggemar Arsyila..Namun bukannya senang Arsyila malah seperti tidak bergairah.
Ia pun maju ke depan mengambil rapotnya dan menyalami tangan buk Astuti lalu keluar dari kelas tersebut.
"Huh..Gimana ini, bunda pasti kecewa karna aku gk dapet dua besar". Arsyila berjalan lesu di koridor.
"Daaaar"
Suara Aydan mengejutkan Arsyila.
"Aaaa"..."Issshhh Aydan usil banget siih". Ujar Arsyila sambil cemberut.
"Hahaha maaf-maaf..Lagian kamu sih mukanya lesu gitu kek gk pernah di nafkahin aja haha".
Aydan terkekeh sendiri sedangkan Arsyila semakin menatapnya kesal.
Aydan yang menyadari komuk Arsyila mulai menghentikan tawanya digantikan dengan cengiran khasnya.
"Udah puas ketawanya?".
"Hehe udah".
Arsyila menatap datar Aydan lalu berbalik dan hendak pergi namun Aydan menahan tangan Arsyila.
"Eh sayang jangan ngambek donng kan aku tadi cuma becanda.." Mohon Aydan sok sedih.
"Mood aku lagi gk bagus..Jadi gk usah becanda".
"Iya maaf.."
Arsyila menghela nafasnya pelan.
"Yuk pulang". Ajak Aydan. Arsyila hanya mengangguk lesu dan mengekori Aydan dari belakang.
"Kamu rencana liburan kemana minggu ini?". Tanya Aydan memecah kesunyian.
"Hmm gk tau kayaknya aku akan mager atau liburan ke rumah nenek".
Jawab Arsyila sambil tersenyum kala menyebut nama neneknya.
"Yaaah gk bisa ketemu doong". Keluh Aydan.
"Kan ada HP Dan, bisa VC juga".
"Hmm tapi kan-"
"Aku kangen banget sama nenek...Dari kecil aku sering main kesana bahkan setiap libur semester tapi...Udah lama aku gk ngunjungin nenek sejak bunda sibuk hm apalagi Ayah".
Jawab Arsyila sendu dengan pandangan yang menerawang ke depan.
"Mm ya udah tapi kamu janji ya tetep hubungin aku". Jawab Aydan yang sudah mengerti.
"Iya..Aku pasti hubungin kamu". Arsyila tersenyum simpul.
~
Kini mereka berdua sudah sampai diparkiran yang sudah ramai dengan para murid yang juga sudah akan pulang..
"Silahkan masuk tuan putri".
Ujar Aydan sambil membukakan Arsyila pintu mobil seperti seorang pengawal.
"Aydan ish malu".
Arsyila spontan menepuk lengan kanan Aydan karna salting lalu cepat-cepat masuk mobil.
Yaah bagaimana tidak malu? para murid yang berada di sekitar parkiran itu diam-diam mencuri pandang ke arah mereka..Bahkan ada pulak yang dengan terang-terangan saat melihat Aydan menampilkan tingkah konyolnya.
Aydan terkekeh geli lalu ikut menyusul Arsyila ke dalam.
"Kita gk nunggu Devan sama Alzam kah?".
Tanya Arsyila pada Aydan yang sedang memasang safetybelt nya.
"Mm Devan katanya mau pulang sama Dheva tadi".
"Wihh ada kemajuan juga ya ternyata wkwk". Kekeh Arsyila.
Ooo ini kah yang di rahasiain kk Dhev waktu itu? hadehh bener kata kk Razan aku gk perlu repot-repot nyari tau, rahasianya mudah ketebak wkwk
-Batin Arsyila mengingat perkataan Razan sewaktu di ruangan OSIS minggu lalu.
"Hahaha iya padahal dia sendiri tuh yang ngata-ngatain Dheva yee malah kemakan omongan sendiri". Aydan ikut terkekeh.
"Haddeh, kalo Alzam?".
"Pasti mau ketemu kk Chika tuh hihi".
"Gk deh Syil kayaknya.."
"Haa? maksud kamu".
"Kayaknya Alzam baru PDKT sama cewek deh..Dia sempet nunjukin potonya tapi aku gk kenal". Aku Aydan.
"Yaaah...Terus kk Chika gimana dong??".
"Masih aja mikirin orang lain, cinta itu Allah yang ngatur gk usah repotin diri comblangin orang".
Peringat Aydan pada Arsyila yang sangat antusias menjodoh-jodohkan kedua sahabatnya dengan dua kakak kelas kesayangannya itu.
Setelah selesai menceramahi Arsyila, Aydan pun meletakkan raportnya terlebih dahulu di depan lalu mengambil ancang-ancang untuk menjalankan mobilnya.
"Hehe...Eh btw kamu rangking berapa??".
Tanya Arsyila melirik raport milik Aydan dan hendak mengambilnya.
"Kepo wleee".
Aydan lebih dulu menyambar rapot miliknya lalu menyembunyikannya ke samping.
"Ish Aydan pengen liaaat". Rengek Arsyila.
"Eittts raport kamu duluu".
"Nilai aku jelek..Gk mau".
"Gk perduli sih aku..Yang penting orangnya tetep cakep".
"Aisssh gk usah gombal sini raportnya liat".
Arsyila mencoba menggapai raport milik Aydan namun tak dapat-dapat hingga membuat Arsyila berhenti dan cemberut.
"Yeee ngambek".
Aydan menoel-noel lengan Arsyila.
"Yaa udah nih..Tapi serahin dulu raport kamu".
Karna penasaran Arsyila akhirnya mau menerima tawaran Aydan, toh juga nilainya gk jelek-jelek amat.
"Niih".
"Naaah gitu dong kan Adil". Ujar Aydan lalu menerima raport milik Arsyila.
Aryila terbelalak kala menelusuri isi raport itu dari atas sampai bawah.
"Kamu rangking satu Dan??? nilai kamuu?!! Ish kok pinter banget sih".
Arsyila menatap takjub raport dengan sampul berwarna dasar hijau gelap itu.
"Kamu juga kok Syil.." Sahut Aydan melihat nilai mapel Agama Arsyila yang di atas standar.
"Mana ada..Kalo aku pinter ya pasti tuh juara 1 kayak kamu".
Ujar Arsyila sambil menutup kembali raport milik Aydan dengan wajah lesu.
"Emang menurut kamu definisi pinter tu kayak gimana?".
"Ya kayak kamu..Mama kamu pasti bangga".
"Haha kamu salah besar Arsyilaa.." Aydan terkekeh lalu menjelaskan.
"Gini ya Syil..Jika kamu berfikir kalo pinter itu di ukur dari segi nilai maka kamu salah!..
Berapa banyak murid yang selalu rangking satu dikelas dari SD bahkan sampai dia kuliah dapet lulusan cumelaude. Tapi apa kamu yakin mereka setelah lulus langsung jadi orang sukses? berguna bagi masyarakat?".
Arsyila menggeleng polos.
"Kata yang membuat orang tua bangga itu sebenarnya hanya satu Syil..Sukses, hanya saja banyak dari orang tua itu berfikir kalau anaknya selalu unggul di kelas, bisa semuanya ntar ujung-ujungnya pasti jadi orang yang berhasil tanpa mereka tau prosesnya tu kayak gimana..Anaknya suka gk lakuin itu? Mereka bahagia gk? banyak tuh yang sampai nyontek, pake cara yang gk bener yang penting nilai mereka bagus dan orang tua mereka bahagia. Menurut kamu itu bener gk?".
Tanya Aydan pada Arsyila yang nampak merenung.
"Salah". Jawab Arsyila dengan pandangan lurus ke depan.
"Inget Syil setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing yang belum tentu orang lain juga punya..Faham?"
"Iya Dan...Makasih ya nasihatnya". Ujar Arsyila sembari tersenyum penuh arti.
"Iya". Aydan balas tersenyum sambil menatap dalam Arsyila.
Kenapa kamu mirip banget sama dia Syil? dia yang selalu ngadu kalo nilainya buruk dan takut-
"Arrrggh".
Aydan merenggut rambut kepalanya kala bayangan gadis di masa lalunya kembali terbayang dalam ingatannya.
"Kamu kenapa dan??". Heran Arsyila menatap Aydan.
"A-ah Gk ada..Aku tiba-tiba pusing tadi". Aydan tak tau harus menjawab apa.
"Haa?". Arsyila makin dibuat bingung.
Kok Aydan tiba-tiba aneh gini
-Batin Arsyila.
"Eh astagaa orang udah sepi kita belum pulang".
Ujar Aydan salting lalu mencondongkan kepalanya ke luar mobil menengok sekitaran parkiran yang tersisa segelintir murid saja, mungkin yang lain masih di dalem:)
Arsyila ikut mencondongkan kepalanya.
"Eh iyaya udah sepi..Kita kelamaan di mobil hihi".
"Hahaa iya, hadeeeh".
Ujar Aydan lalu menyalakan mobilnya dan melaju meninggalkan area sekolah.
______________
Setibanya di rumah..
"Assalamu'alaikum".
Arsyila membuka pintu rumahnya dengan ragu-ragu.
"Wa'alaikumussaalam".
Sambut Hera yang nampak berjalan tergesa-gesa dengan pakaian rapi seperti hendak keluar. Arsyila yang melihat itu jadi terheran-heran.
"Eh kamu udah pulang. Rangking berapa? coba bunda liat raportnya?".
Hera menyempatkan diri mengecek raport milik Arsyila dan dengan ragu-ragu Arsyila menyodorkan raport itu ke hadapannya.
Hera membukanya lalu melihat nilai Arsyila dari atas sampai bawah. Sempat Arsyila melihat raut kecewa dari Hera lalu setelahnya ia kembali tersenyum.
"Ini di mata pelajaran Matematika sama Bahasa nilai kamu lebih rendah..Yang lain bagus semua, tingkatkan lagi ya nak".
Ujar Hera mengelus sebentar kepala Arsyila lalu setelahnya melangkah keluar.
"Eh bunda mau kemana?".
Hera menoleh sebentar ke arah Arsyila.
"Bunda mau ke sekolahnya adek, kan sekarang dia juga lagi bagi raport..Doa'in ya adek kamu dapet juara satu".
Ucap Hera sembari tersenyum lalu berbalik untuk pergi.
Entah..Perkataan Hera tadi tak da yang menyakitkan maupun merendahkan bagi dirinya..Namun mengapa rasanya ada perasaan aneh yang menghinggapi hati Arsyila dan sulit untuk ia gambarkan sendiri.
"Aku gagal lagi".
Ujar Arsyila lalu beranjak ke kamarnya.
...*****...