Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Bag 54 : Masa bodoh



...Gk bisa berkata-kata...Intinya maaf😔...


...Happy Reading💓🔥...


...*****...


Pagi yang cerah namun tak secerah kondisi hati Arsyila saat ini.


Bagaimana tidak?


Tadi malam Hera mendatangi kamarnya hanya sekedar untuk memberi siraman rohani atas perilakunya yang kurang sopan kemarin, ia merasa terpojokkan. Padahal jikalau dipikir-pikir itu bukanlah sepenuhnya kesalahan Arsyila. Jika saja tamu terhormat itu tidak membuat dirinya emosi tentu Arsyila tak mungkin bersikap demikian.


Belum lagi pesan Aydan yang tadi malam memberitahu Arsyila bahwa dirinya ada panggilan dadakan dari pak Vian untuk mengikuti lomba basket di sekolah tetangga menggantikan Bastian yang katanya sakit. Jadi Arsyila akan sekolah tanpa Aydan hari ini. Benar-Benar hari yang menyebalkan!.


"Apess apess! sungguh hari yang buruk".


Keluh Arsyila sembari mengapai tas ranselnya yang tergeletak di kasur. Ia pun kemudian keluar dari kamarnya dan menuruni tangga dengan mood yang bisa dibilang sangat buruk.


"Arsyilaaa sarapan dulu nak".


Panggil Hera dari dapur saat melihat Arsyila yang berjalan lurus ke arah pintu utama tanpa menoleh ke arahnya. Pasalnya Arsyila berencana akan sarapan dikantin, malas sekali rasanya bergabung dengan Hera apalagi melihat Adhira, yang ada moodnya bisa hancur.


Arsyila tau ini bukanlah hal yang sopan, tapi entah mengapa saat ini ia rasanya hampa dan tak perduli apa-apa lagi yang terpenting adalah ia masih mampu berjalan walaupun tanpa semangat itu saja sudah cukup.


"Huhh seandainya mati gk dosa, aku lebih milih mati daripada hidup dalam kenyataan yang pahit". Keluh Arsyila meratapi nasibnya.


"Eeh..Tapi kalo aku mati, belum tentu masuk syurga! boro-boro masuk syurga kalo dicemplungin ke neraka gimanaa???".


Arsyila menggerutu sepanjang perjalanan melewati pekarangan rumahnya hingga saat sudah tiba di pinggir jalan, ia jadi bingung. Tak tahu harus berbuat apa. Pasalnya ia sedang merajuk pada Hera, mana mungkin ia menunggu Hera selesai sarapan dan pura-pura fine. Kan gk estetoot gituuu.


"Naik taksi gk bisa, Dahlah jalan kaki aja! paling jarak rumah ke sekolah 20 menit doang".


Pasrah Arsyila, lagipula ia tak terlalu khawatir perihal terlambat nantinya karna hari ini ada perlombaan bulu tangkis di sekolah Arsyila secara bergilir, jikalau Aydan berlomba disekolah tetangga maka sekolah Cakranegara juga dijadikan tempat lomba yang berlangsung sekitar satu minggu.


Tanpa pikir panjang Arsyila melangkahkan kakinya menyusuri jalan raya itu. Ya! beginilah Arsyila kalau sudah moodnya dibuat kacau mau menelusuri sungai nil pun rasanya tak masalah asalkan berjalan-jalan melihat wajah dunia sendirian walaupun tanpa tujuan.


Arsyila menengok jam ditangannya, tak terasa ia sudah berjalan selama 27 menit lamanya setelah melewati gunung, rimba, seribu pengkolan dan trotoar seperti cerita sekolahnya orang tua di zaman dulu:). Namun bukannya sampai ia malah merasa melihat pepohonan asing dipandangannya sekarang, setaunya ia tak pernah melewati tempat ini.


"Duh gue kan gk tau jalan ke sekolah".


Arsyila merutuki kebodohannya sendiri. Walaupun berkali-kali melihat jalan yang sering ia lalui saat pergi ataupun pulang sekolah, namun ia tak terlalu memperhatikan rutenya, hanya sekedar lewat bahkan nama jalan yang dilaluinya saja ia tak hafal.


Sudah dibikin repot ngafalin rumus Matika, ya kalik repotin diri ngafal jalan😏.. Tapi buktinya Arsyila ngafal gk ngafal tetep Repot. Nyasar kan sekarang🙂


"Aduuh aku harus gimana nih, apa balik lagi ya?? tapi nanggung".


Arsyila terlihat bimbang.


"Untung aja hari ini gk belajar, bodo amat lah mau telat apa gk".


Pasrah Arsyila lalu lanjut berjalan, ia bahkan sudah tak perduli walaupun seandainya akan tersesat nantinya.


Belum sampai ia melangkah banyak tiba-tiba suara drum motor dari arah belakang mengejutkan Arsyila.


Druumm


Motor ninja dengan merek KLX berhenti tepat di samping Arsyila.


Arsyila melihat dua remaja yang menggunakan seragam yang sama dengannya hanya saja wajah mereka nampak lebih dewasa.


"Mau ke sekolah neng?? kok jalan sendiri? emang sekolahnya dimana?".


Tanya pemuda yang ada di jok depan menatap intens Arsyila.


Berasa di godain om-om pedo


Arsyila sempat-sempatnya membatin.


Arsyila tak menghiraukan mereka, ia malah berbalik lalu kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Namun belum sempat Arsyila melangkah, dengan lancangnya pemuda tersebut menarik lengan Arsyila.


Arsyila terkejut, ia kemudian menghentakkan tangannya lantas kembali melangkah namun lagi-lagi tangannya ditahan oleh pemuda tersebut di bantu oleh temannya yang ada dibelakang setelah turun dari motor.


Sungguh ini adalah pertama kali bagi Arsyila mendapatkan kejadian seperti ini, ia kira hal seperti ini hanya ada di film-film namun nyatanya salah justru ia sendiri yang mengalaminya.


Arsyila merasa benar-benar takut dan cemas saat ini, apalagi jalan yang ia lalui ini lumayan sepi. Namun sekuat mungkin dirinya tak menampakkan rasa takutnya agar mereka tak melangkah jauh.


"Lepas!!". Arsyila memberontak.


"Eh gk boleh gitu dong, kita kan niatnya baik mau kenalan". Sahut yang kedua.


"Gk ada orang kenalan kasar kek gini. Lepas!!".


"Kalo gk kasar, ntar lo nya ngelonjak. Ya gk?". Tanya pemuda yang pertama sambil mendekatkan wajahnya dengan wajah Arsyila.


"Cantik juga".


Ujar pemuda tersebut meneliti wajah mulus Arsyila dari dekat. Arsyila menahan nafasnya.


Mending ya muka cowok yang ada dihadapannya ini setara dengan Aydan atau turun dikit lah, kan masih enak dipandang. Tapi ini? jauh dibawah standar mana rela Arsyila jika..Argh pikirannya sudah kemana-mana saat ini. Siapapun juga akan berfikiran yang sama jikalau sudah dalam posisi seperti ini.


Ya allah...Bantu akuu Astaghfirullah 'adzimm, allohumma sholli 'ala muhammad.


Batin Arsyila mengucapkan lafadz-lafadz yang masih sempat ia ingat di kepalanya sambil terus memberontak.


"Pak Satpam!".


Teriak Arsyila mengalihkan atensi mereka, hingga saat mereka lengah dengan gerak cepat Arsyila menendang Jhoni milik kedua pemuda tersebut hingga tangan Arsyila spontan terlepas.


"Awssh!!. Woooy Jangan lari".


"Den! cepet naik".


Seru pemuda pertama pada temannya tadi yang sedang menahan sakit karna tendangan pamungkas Arsyila tadi. Mereka pun mengejar Arsyila menggunakan motor sedangkan Arsyila berlari sekuat tenaga, ia yakin jika sampai dirinya tertangkap kembali mereka bisa jadi akan lebih buas dari sebelumnya apalagi tadi ia sempat menyakiti Jhoni milik mereka.


"Hikss Bundaaa".


Arsyila berlari sambil menangis. Kakinya sudah terasa lemas. Ingatkan bahwa Arsyila mempunyai fisik yang lemah, ia sangat cepat merasakan lelah.


Sudahlah Arsyila sudah pasrah, ia sudah tak sanggup untuk berlari lagi bahkan dunia rasanya sudah terlihat kelabu di pandangannya. Seandainya ada Dam yang melintas di sekitar sana Arsyila akan lebih memilih berlari ke tengah daripada harus membiarkan dirinya menjadi mangsa.


Arsyila membenturkan lututnya yang sudah lemas di pinggiran jalan. Namun tiba-tiba suara klakson mobil mengejutkan Arsyila.


"Arsyila ayook naik!".


Arsyila hanya menatap sayu mobil sport yang berwarna merah tersebut yang dikendarai oleh seseorang yang tak asing dipenglihatannya, ingin bangun namun kondisi tubuhnya sudah benar-benar lemas. Arsyila ingin memperjelas penglihatannya agar tau siapa orang itu, namun pandangannya keburu memudar dengan dunia yang terlihat seperti berputar. Semakin samaar..Daan..


JLEB


Pandangannya menggelap, Arsyila pingsan.


_______


"Aku dimana?".


Arsyila terbangun sambil memegang kepalanya yang terasa sedikit berdenyut.


Pemandangan pertama yang ia lihat adalah Chika dan Deva yang sudah duduk di samping brangkar seperti sedang menunggunya untuk terbangun.


"Eh Arsyila..Alhamdulillah lo udah sadar".


Chika nampak tersenyum.


"Dua jam lo pingsan Syill, ya ampun kita khawatir banget sama lo". -Deva.


Arsyila berusaha mencapai posisi duduk dengan bantuan Dheva dan Chika.


"Pingsan? aku pingsan?".


Tunjuk Arsyila pada dirinya sendiri setaunya ia tak pernah mengalami yang namanya pingsan seumur hidup kecuali di masa kecilnya dulu itupun sekali.


"Iya Syil, tadi Razan yang bawa lo kesini". Beritahu Deva.


"Ha?". Arsyila makin dibuat bingung.


Flash Back On


Razan tengah menyetir mobilnya menuju sekolah, hari ini ia harus segera ke sekolah karna ia akan menyambut peserta lomba yang akan bertanding di sekolahnya. Jadi ia harus mengambil jalan pintas agar segera sampai dan satu-satunya jalan yaitu jalan Cempaka, jalan yang dikenal angker karna rawan terjadinya kecelakaan hingga jarang para pengemudi memilih jalur ke arah sana.


Namun justru hal ini dimanfaatkan oleh anak-anak nakal yang menjadikannya tempat perkumpulan mereka saat bolos dari sekolah atau bahkan tempat mabuk-mabukan.


Razan menambah kecepatan mobilnya, hingga saat tiba di dekat Arsyila yang sudah berlutut ia segera memintanya masuk namun Arsyila terlanjur pingsan.


Razan panik, ia segera turun dari mobil dan menghampiri Arsyila.


"Syilaa..Arsyila bangun".


Razan menepuk-nepuk pelan wajah samping kanan Arsyila yang tertutup hijab.


Darahnya seketika mendidih saat melihat kondisi Arsyila seperti ini.


"Heh siapa lo!".


Suara laki-laki dari balik punggungnya yang tak lain adalah dua orang yang mengejar Arsyila tadi.


Razan langsung berbalik dan berdiri menghadap mereka, sudah siap untuk memberikan mereka bogeman mentahnya. Untung saja ia pernah belajar karate jadi ia tak perlu risau walaupun melawan dua orang sekaligus.


Razan mengepalkan kedua tangannya.


"Maju!". Seru Razan.


"Eh jangan!". Pemuda yang di kenal dengan nama Deni itu menghentikan pergerakan temannya yang hendak melawan Razan.


"Lo takut?!".


"Gk gitu Ken, emang lo gk tau tau siapa dia??". Deni sedikit berbisik.


"Emang siapa?".


"Itu Razan dongo! anak pak Cakra, ketua OSIS di SMA Cakranegara".


Pemuda yang kerap di panggil Ken itu melebarkan matanya saat mendengar pengakuan Deni. Ya! nama Razan sudah sangat familiar di sekolah SMA yang lain, bukan karna kekayaannya saja namun dari segi pembawaan ia di kenal tegas dan sangat buas jika dirinya merasa terganggu.


"Kita salah mangsa". Ken terlihat panik.


"Terus gimanaa?".


"Yaaaa...Kabuuuuur". Ken berlari terbirit-birit sambil menarik tangan Deni.


"Woy balik!". Teriak Razan. "Dasar! beraninya sama cewek". Gerutu Razan lalu berbalik menengok Arsyila yang sudah tergeletak tak berdaya di pinggiran jalan.


"Arsyilaa".


Razan mencoba membangunkan Arsyila sekali lagi namun masih tak ada pergerakan. Dengan terpaksa Razan menggendong Arsyila ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Maaf Syil..Gue gk maksud lancang nyentuh lo".


Adu Razan pada Arsyila yang masih terpejam lalu setelahnya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Flash back Off


"Ck kenapa lo kasih tau begok. Kan Razan udah ngelarang kita".


Peringat Chika usai menyenggol lengan Dheva.


"Hehee lupa". Cengir Dheva.


"Kebiasaan lo!".


"Kalian pada bisikin apa si?". Arsyila merasa di kacangi.


"Arsyila udah sadar?".


Suara Razan yang tiba-tiba datang dari arah pintu mengalihkan atensi mereka bertiga.


"Udah". Sahut Chika.


"Chik, di cari sama Aldo tadi". Beritahu Razan.


"Ngapain?".


"Gk tau katanya ada yang mau di sampein".


"Gk ah males".


"Ntar nyesel loh Chik, cepet sana temuin kasian dia nunggu dari tadi". Peringat Razan.


"Ck". Chika berdecak lalu bangkit dari duduknya dengan ogah-ogahan.


"Hadeh". Dheva hanya geleng-geleng kepala.


"Emang kk Aldo sama kk Chika belum ada perkembangan ya?".


Tanya Arsyila menebak, mengingat Aldo yang menyukai Chika.


"Lah lo gk tau?...Oh iya kan belum di kasih tau".


Ujar Dheva.


"Dia yang nanya dia juga yang ngejawab". Cibir Razan.


"Kalian mah gitu, suka main rahasia-rahasian". Arsyila cemberut.


"Kan kita jarang ketemu Syil..Hehe".


"Iya juga si, emang kalian sibuk apa sampe jarang keliatan?".


"Ya kaan gue sibuk bantu Razan di kantor ngurus siswa/siswi yang pergi lomba..Hehe".


"Oooh, kenapa gitu gk sekalian jadian aja".


Kata-kata itu spontan keluar dari mulut Arsyila.


"Whaaat! oh noo Razan itu udah gue anggap saudara sendiri begitu pula sebaliknya, gimana kalo lo aja?". Dheva menawari balik.


Razan melototkan matanya ke arah Dheva, namun Dheva tak acuh.


"Mmm gimana ya..Kak Razan itu nyebelin ntar yang ada aku berantem terus tiap hari".


Ujar Arsyila sambil melirik Razan.


"Lo nya kalik yang nyebelin. Huuu". Razan tak terima.


"Kak Razan wleee".


"Lo!".


"Kak Razan!".


Dheva yang melihat perdebatan Arsyila dan Razan memijit kepalanya yang tiba-tiba pusing. Padahal niatnya ingin mencomblangi eh malah debat, harmonis sekali😌


"STOOP!!!!!". Dheva melerai. "Gue pernah denger kata pepatah, biasanya orang yang sering berantem dan saling ejek itu kelak berjodoh".


"Diih! ogah!". Sahut Arsyila dan Razan bersamaan. Namun berbeda dengan hati Razan yang malah mengaminkan.


"Ngambil darimana lo kata-kata mutiara kek gitu? pepatah mana cobaaak?? gabut banget tuh pepatah". Cibir Razan.


"Yee lo aja kalik yang kurang belajar". Dheva menimpali.


"Assalamu'alaikum".


Ucap Devan saat memasuki ruangan UKS ditemani Alzam disampingnya hingga Razan yang ingin mengelak ucapan Dheva jadi membatalkan ucapannya.


"Arsyilaaa".


Heboh Alzam memanggil Arsyila sambil mendekat ke arah Arsyila.


"Ciee kk Dhevv.." Goda Arsyila pada Dheva saat melihat kedatangan Devan. Dheva hanya diam, tak seperti biasanya ia malah terlihat gugup.


"Mm Syil, Zan gue keluar duluan ya". Pamit Dheva lalu bangkit. Ia sempat melirik Devan sekilas lalu setelahnya beranjak, namun belum sempat melangkah banyak Devan menarik pergelangan tangan milik Dheva.


"Vaa..Maaf". Ujar Devan, namun Dheva hanya menatapnya dengan wajah datar tersirat kekecewaan dibalik tatapannya itu.


"Gk untuk sekarang, lepas".


Pinta Dheva lalu menurunkan tangan Devan dan keluar dari UKS.