Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Eps 95 : Arvaqie



...Happy Reading๐Ÿ’“๐Ÿ”ฅ...


...*****...


Razan berjalan menghampiri mobilnya kemudian masuk ke dalam.


Disampingnya sudah ada Arsyila dan Kayla yang duduk dibelakang. Razan tak berbicara sama sekali, ia hanya menyalakan mobilnya dan menyetir dalam diam..Arsyila merasa sedikit aneh.


Melihat kecanggungan itu, Kayla pun memberanikan diri untuk bertanya.


"Bang, btw drama kita udah selesai kah?". Tanya Kayla ditengah keheningan mereka.


"Udah". Jawab Razan singkat.


"Drama apa?". Arsyila ikut nimbrung.


"Drama Kayla jadi mantan gue terus buat lo cemburu itu loh". Razan menambahi membuat Arsyila sedikit malu.


"Yes berhasil dong! pajak gue mana?". Kayla memajukan wajahnya hingga sejajar dengan mereka.


"Pajak apa si Kayl.." Ujar Arsyila sambil mendorong pelan tubuh Kayla hingga kembali duduk ditempat semula. Maklum efek salting.


"Kamu juga, ngapain mau disuruh gitu-gitu".


"Ya biar bang Razan yakin kalo kamu bisa cemburu, lagian aku bilangin dia gk percaya".


"Bukannya gk percaya, gue cuma mastiin kalo dia bisa suka sama orang lain selain...".


"Ck. Bisa jangan bahas itu lagi gk?". Lanjut Arsyila sambil menatap datar ke arah Razan.


"Kenapa? lo takut gamon?". Razan menoleh sekilas ke arahnya. Sepertinya Razan masih cemburu dengan yang ia lihat tadi.


"Kak Razan apaan si, kayak cewek aja suka ngungkit".


"Tersindir ya".


"Gk. Dahlah males debat".


"Dih".


"Gini nih kalo sama yang lebih tua, egois". Ketus Arsyila karna Razan tak mau mengalah.


"Ya udah, cari aja sono yang seumuran.. Balikan aja sekalian sama mantan terkasih lo itu".


"Nanti nangees". Sindir Arsyila.


"B aja".


"Oh".


"Y".


Hening....


Kayla yang sedari tadi menyimak hanya bisa geleng-geleng kepala melihat perdebatan mereka.


"Hadeh...Nasib jadi nyamuk". Keluh Kayla sembari menghela nafas panjang.


Tak lama mereka pun tiba disekolah.. Tanpa kata Arsyila langsung turun dari mobil Razan, ngambek guys:( udah tau lagi PMS malah dibikin badmood.


"Nah bang..Arsyila ngambeknya lama loh kalo lagi PMS". Kayla menakut-nakuti padahal kenyataannya tidak seperti itu.


Razan yang mendengar itu mendadak panik lalu mengejar langkah Arsyila membuat Kayla hanya bisa terkekeh geli.


"Syil.." Razan menahan tangan Arsyila yang hendak berjalan masuk ke dalam koridor sekolah.


"Apaan". Tanya Arsyila dengan nada ketus.


"Ikut ke rumah yuk!".


"Ngapain??". Arsyila keheranan.


"Temenin, gue males ngerjain tugas sendirian". Keluh Razan lalu menyeret Arsyila tanpa persetujuan.


"Eeh.." Kaget Arsyila lalu mengikuti langkah Razan. Percuma juga dia membantah, Razan pasti akan tetap memaksa.


Kini Arsyila sudah tiba dirumah Razan yang letaknya dibelakang sekolah. Karna tak dikunci Razan pun langsung mengajak Arsyila untuk masuk ke dalam dan menuntunnya untuk duduk di sofa ruang tamu.


"Syil kalo gk ketemu gue di sekolah, cari aja ke rumah ya..Anggap aja rumah sendiri". Ucap Razan lalu berjalan masuk ke kamarnya hendak mengambil sesuatu.


Arsyila hanya mengangguk sebagai jawaban lalu merogoh ponselnya. Saat membuka group kelasnya, ia langsung ditampilkan dengan foto Sania serta ucapan duka dari para temannya. Sekalipun Sania sering membuat masalah namun itu hanya diperuntukkan untuk dirinya bukan yang lain dan Arsyila sudah sepenuhnya memaafkan Sania.


"Kenapa?". Tanya Razan melihat raut sendu Arsyila sambil berjalan mendekat dengan menenteng laptop ditangannya.


"Sania". Jawab Arsyila tanpa menoleh.


"Lo masih sedih ya?". Razan duduk disamping Arsyila sambil mengelus lembut pucuk kepalanya yang tertutup hijab.


"Hm..Walaupun dia sering ganggu aku tapi aku gk pernah dendam sama dia, aku malah pengen temenan sama Sania".


"Aneh lo, bisa-bisanya mau temenan sama orang yang anggep lo musuh".


"Karna aku tau, biasanya anak yang kayak gitu kurang perhatian dari orang tuanya...Temen aku dulu banyak yang kayak gitu. Kita gk tau latar belakang hidup orang tu kayak gimana, manusia memang berhak menilai tapi bukan berarti boleh merasa lebih baik. Pasti ada alasan mengapa seseorang melakukan itu".


Razan menatap kagum ke arah Arsyila. Ia merasa benar-benar telah mencintai orang yang tepat.


"Syil..." Panggil Razan pelan.


"Hm". Gumam Arsyila sambil menoleh ke arahnya.


"Nikahin lo sekarang boleh gk?".


"Eh". Arsyila melototkan matanya mendengar pembahasan Razan yang meracau.


"Merah banget". Sindir Razan melihat wajah Arsyila yang merah padam karna salting lalu mulai membuka laptopnya tanpa bertanggung jawab dengan perkataannya tadi.


Lima menit berlalu dan hanya ditemani keheningan. Razan yang sibuk mengerjakan tugas kantor dan Arsyila yang jadi penonton.


~Dasar buaya! udah dibikin baper malah dikacangin.


-Batin Arsyila lalu mengalihkan pandangannya ke segala arah. Arsyila jadi penasaran dengan pernak pernik yang ada diruangan itu. Karna gabut, Arsyila pun bangkit dari duduknya membuat Razan terkesiap dan mengira Arsyila akan keluar.


"Mau kemana?". Tanya Razan posesif.


"Liat-Liat rumah kamu".


"Oh.." Razan tersenyum sembari menghela nafas lega lalu kembali fokus pada kegiatannya.


"Foto kk Razan waktu kecil ganteng juga". Gumam Arsyila melihat foto Razan yang terpajang di dinding. Untungnya Razan tak mendengar, jika dengar mungkin ia akan salting.


Arsyila pun melanjutkan langkah dan tak sengaja matanya menangkap sebuah benda yang berserakan di atas nakas dekat pintu masuk dapur.


Arsyila berjalan ke arah sana lalu meraih kertas tersebut.


CEO OF ARVAQIE HOSPITAL


M. RAZAN FAREL ARVAQIE


Arsyila melebarkan matanya..Ia tak fokus dengan yang lain selain kata Arvaqie di akhir nama Razan.


"Arvaqie Hospital??". Gumam Arsyila mengingat nama rumah sakit internasional yang pernah ia tempati.


Bodoh! kenapa ia baru tahu nama panjang Razan?? Berarti "tuan muda" yang disebut perawat rumah sakit waktu itu adalah...


"Kaak..." Panggil Arsyila.


"Hm". Razan membalas dengan gumaman.


"Kenapa kk gk bilang.." Ucap Arsyila sambil memandangi kertas yang ia pegang.


"Ap-". Ucapan Razan terputus dan sedikit terkejut saat mengetahui maksud Arsyila. Huh! bisa-bisanya ia lupa menyimpan berkas tersebut dikamar.


Razan menutup laptopnya dan meletakkannya dimeja lalu menghampiri Arsyila yang nampak sedih.


"Kenapa kk gk bilang kalo rumah sakit besar itu punya kk Razan". Ujar Arsyila sambil merunduk.


"Harus ya?? lagian itu gk penting buat lo tau".


"Penting". Arsyila mengangkat kepalanya membuat Razan mengernyitkan dahi.


"Harusnya kk bilang dari awal biar aku mundur..Kak Razan gk pantes sama aku".


Razan menggeleng kuat.


"Itu alasannya gue gk mau kasih tau lo..Karna gue tau lo bakal ngomong gitu".


Arsyila diam sembari meremas ujung seragamnya agar bisa menahan diri untuk tidak menangis.


"Syil gk ada yang bisa gantiin posisi lo dihati gue dari dulu sampai sekarang..Asal lo tau, perasaan gue akan tetap sama sampai kapanpun". Ujar Razan yang terdengar sangat tulus.


"Husst....Gue gk mau dengar kalimat apapun lagi". Potong Razan. "Syil, look at me". Intrupsi Razan sambil meletakkan kedua tangannya di pundak Arsyila. Arsyila mengangkat kepalanya dengan ragu-ragu.


"Gue janji, apapun yang terjadi gue bakal selalu dampingin lo. Gue...Cuma punya Arsyila seorang, gk ada yang boleh ngambil gue dari lo". Razan meyakinkan.


"Kalo seandainya aku gk bisa dampingin kk gimana?". Arsyila nampak sedih.


"Maksudnya?? lo mau ninggalin gue??". Razan sedikit takut.


Arsyila spontan menggeleng.


"Umur kan gk ada yang tau".


"Gk, bahkan ajalpun gk bisa misahin gue sama lo".


"Kak Razan sesuka itu ya sama aku?".


"Lo tau jawabannya".


Mendengar itu Arsyila jadi sedikit was-was..


"Hm..Kak Razan aku boleh minta satu hal gk? tapi janji jangan marah.."


"Apa? kalo lo minta yang aneh-aneh gk bakal gue turutin".


"Mmm Gk jadi deh". Arsyila cengiran.


"Emang mau minta apa? bilang aja gk pp".


"Gk jadi aku dah tau jawabannya".


"Apa si? kok gue penasaran".


"Hehe...Mm kalo nanti aku minta kk Razan nyari yang lain mau gk?".


Wajah Razan langsung berubah drastis.


"Tuh kan, apa aku bilang".


"Lo kenapa si kayaknya pengen banget liat gue ngejauh..Apa selama ini lo risih ya sama sikap gue? jujur aja gk papa". Razan dengan nada kecewa.


"Ihh gk, aku becanda kok. Aku cuma gk mau kk Razan nolak orang lain demi cewek penyakitan kek aku".


"Ck gue gk suka denger kalimat itu". Wajah Razan menahan kesal.


"Terus sukanya apa?". Arsyila mencairkan pembahasan meski ia sudah menebak jawaban Razan.


"Suka denger lo bilang Miss you".


-Yah kepeleset. Batin Arsyila karna tebakannya salah.


"Ayok dong".


"Ayok apa??". Bingung Arsyila.


"Bilang I Miss you lagi".


"Gk ah males". Balas Arsyila lalu kembali duduk di sofa setelah meletakkan berkas yang ia pegang tadi ke atas nakas.


"Aaaa ayok lah". Rengek Razan dan ikut duduk disamping Arsyila.


"Ish apa si..Gk ah, kk Razan kayak anak kecil tau". Cibir Arsyila sambil memainkan ponselnya sok sibuk tak ingin terlihat salting.


"Ck". Razan berdecak sambil menghentikan-hentakkan kakinya dilantai.


~Kak Razan lagi dateng apanya si ih gemes banget pengen ku tendang!.


Arsyila membatin melihat tingkah absurd Razan itu.


Drrtt Drttt


Ponsel Razan bergetar menampilkan sebuah panggilan masuk dari Cakra. Ia pun menghentikan kegiatan gilanya dan meraih ponselnya yang tergeletak di meja.


"Halo". Sapa Razan sambil menjauh dari Arsyila.


"Apa semua cowok kalo nelpon suka gitu ya?". Gumam Arsyila lalu menyiapkan telinga untuk menguping.


"Ooh iya nanti Razan kesana"..


"^.......^"


"Seumuran Andhika ya berarti? cantik gk pa?".


"Haa??". Arsyila terkejut, kupingnya terasa panas. Apa tadi Razan sedang membahas seorang gadis dengan papa nya?. Arsyila menyimpulkan sendiri.


"Bagus kalo gitu, ntar Razan coba kenalan biar lebih akrab".


"^.........^"


"Haha okey pa, bye".


Tut


Sambungan terputus..


"Gila si Andhika". Gumam Razan lalu berbalik hadap.


"Eeeh". Ia terkejut kala menemukan Arsyila yang sudah berdiri dihadapannya sambil bersidekap dada.


"Ngomongin apa tadi?". Arsyila mengintrogasi.


"Oooh itu, papa tadi ngasih tau kalo di hospital ada dokter muda yang ngelamar, gue disuruh kesana". Jawab Razan jujur. Seketika wajah Arsyila berubah drastis menjadi suram.


"Cocok ya kalo sama-sama jadi Dokter". Gumam Arsyila. Maklum Arsyila orangnya insyekyuran cuy:)


"Nah!". Razan sudah menebak Arsyila akan berkata seperti itu.


"Jangan mikir yang aneh-aneh dulu".


"Tadi aku denger kok".


"Denger apa??".


"Dahlah males, udah jam 10 aku balik kelas dulu ya.. Pasti Kayla nyariin". Arsyila menengok sekilas ke arah jam tangannya dan berniat pergi.


"Ehh..Denger dulu".


"30 detik". Balas Arsyila sambil melainkan arah pandangnya. Razan menghela nafas panjang.


"Ya udah, jadi gini tadi pagi ada cewek yang ngelamar di hospital. Kebetulan dia seumuran sama Andhika, lo tau Andhika kan?".


Arsyila mengangguk polos. Ya jelas dia tau, selama ia dirawat dirumah sakit hanya wajah Andhika yang sering muncul dihadapannya daripada Dokter senior lainnya.


"Tuh cewek ternyata pacarnya Andhika dan papa baru tau, dia pacarannya diem-diem".


Arsyila mengernyitkan dahi, ia masih tak mengerti.


"Gimana ya jelasinnya". Razan garuk-garuk kepala. Fashalnya Arsyila juga belum mengetahui betul tentang Andhika siapa dikeluarga Razan dan sebagainya jadi sulit untuk dijelaskan.


"Mm intinya tuh Dokter baru pacarnya Andhika dan gue mau dikenalin, kayaknya mereka mau tunangan".


"Ohh". Arsyila mangguk-mangguk. Ia sedikit lega mendengar itu.


"Mau ikut?". Tawar Razan.


"Kemana?".


"Rumah sakit lah.. Biar gue ada temen".


"Mmm kan ada Yana".


"Gk ah, resek".


"Mmmm gimana ya". Arsyila terlihat berfikir.


"Gk mau juga gk pp". Razan dengan nada kecewa.


"Ya udah deh aku ikut, tapi jemput ya".


"Siaaaap". Razan memberi hormat sambil tersenyum manis.


...*****...


See you next Chapter๐Ÿ‘‹๐Ÿป๐Ÿ’“๐Ÿ”ฅ


Dicepetin gk y endingnya? hmm tunggu y guys


*Menurut kalian endingnya Syila bakal nikah gk y ma Razan? Semoga aja si***๐Ÿ™‚**