Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Bag 33 : failed therapy on the first day



...Author bakal usahain trus update biar para readers tercinta aku gk kecewa walaupun sibuk banget😇. Makasih supportnya jangan lupa Like and Vote yak❤❤🔥...


...******...


Jam 6:00


Deringan alarm membangunkan Arsyila, belum lagi suara gedoran pintu dari arah luar membuat Arsyila yang masih bergelut dengan selimutnya jadi terperanjat dari tidurnya.


Tok Tok Tokk


"Arsyila bangun sayangg!! ini udah jam 6 entar kamu telat loh".


Suara Hera dari depan kamar membangunkan Arsyila.


"Aishh masih pagi bund!!!". Sahut Arsyila dari dalam kamarnya.


"Astagaaa hari ini kamu Apel". Peringat Hera lagi sambil menggedor pintu Arsyila kembali.


Arsyila melebarkan bola matanya.. Ia mendadak panik.


"Astaga iya! kok aku bisa lupaa". Arsyila menepuk jidatnya.


"Iyaa bund!! Arsyila mandi". Ujarnya sedikit berteriak kemudian segera turun dari kasurnya dan berlari kecil menuju kamar mandi.


"Hadehh anak ini bisa-bisanya lupa hari". Hera geleng-geleng kepala dibuatnya.


Tak berselang lama Arsyila sudah selesai membersihkan diri kemudian meraih ponselnya selagi badannya belum kering untuk menengok jam.


Saat layar handponnya sudah terbuka, tertera..


5 missed call from Aydan


💌: Syil, bangunnn aku jemput sekarang jam setengah 7.


Arsyila menepuk jidatnya setelah teringat bahwa hari ini ia dan Aydan akan izin untuk tidak bersekolah.


"Ya ampuun kenapa jadi linglung gini yak". Komentar Arsyila pada dirinya sendiri.


Arsyila kemudian menekan ikon panggilan dikontak Aydan. Beberapa detik menunggu akhirnya panggilannya terhubung.


"Halo Assalamualaikum".


"Wa'alaikumussaalam wr wb..Ada apa Syill? udah siap?".


"Hmm belum, aku ketiduran baru selesai mandi ni".


"It's okay gk pp kok, sana pake seragamnya aku tunggu ntar diruang tamu".


"Kok seragam sih Dan?".


"Emang kamu mau tante Hera curiga?".


"Oh iyaya hehe".


"Ya udah sana cepet siap-siap".


"Okey..Aku matiin ***-


"Gk usah!.. biarin aja sambil telponan, aku udah mau jalan ni".


"Oh oke deh".


Arsyila segera berjalan menuju rak pakaiannya untuk mengambil seragam yang digantung disana.


Sat set sat set


Arsyila akhirnya selesai dengan kegiatannya dan tak lupa menggunakan sedikit liptin sebagai akhir dari riasannya agar bibirnya tak terlihat pucat.


"Aydan aku udah siap". Lapor Arsyila.


Tidak ada jawaban, yang terdengar hanyalah suara bising motor yang berlalu lalang di jalan raya dari seberang sana. Arsyila memilih duduk-duduk dipinggiran kasur menunggu Aydan bersuara.


Tok tok tokk


"Arsyilaa ayok cepetan nak! ini Adhira sama Bunda bisa terlambat loh".


"Eh lupa". Arsyila berlari kecil menuju pintu dan membukanya perlahan.


"Bunda duluan aja..Aku udah minta Aydan buat jemput". Ujar Arsyila sambil cengiran.


"Hadeh ngapain ngerepotin orang..Kasian dong Aydannya bolak-balik".


"Gk Bun..Aydan juga belum berangkat biar sekalian gitu, ntar kalo bunda yang anterin bunda juga yang telat". Alibi Arsyila mengingat jarak antara sekolahnya dengan tempat mengajar Hera berbeda jalur. Jadi akan memakan waktu banyak nantinya.


"Oh gitu ya udah..Bunda jalan duluan ya".


"Iya bun, hati-hati dijalan". Ujar Arsyila kemudian menyalami tangan Hera.


"Assalamu'alaikum"


Suara seseorang dari arah pintu utama.


"Nah tuh Aydan". Beritahu Arsyila.


"Ya udah kalo gitu, kamu cepet turun sarapan jangan buat orang lama nunggu".


"Sip Bun".


Hera kemudian menuruni tangga dan bergegas untuk berangkat ke sekolah bersama Adhira.


Begitupun dengan Arsyila yang hanya mengambil ponselnya dikasur dan ikut turun kebawah.


"Udah sarapan?". Tanya Aydan yang sudah mengambil duduk dikursi ruang tamu saat Arsyila baru nyampe bawah.


"Belum". Jawab Arsyila apa adanya.


"Ya udah gih sana sarapan aku tunggu disini". Perintah Aydan kemudian mengambil remot dan menyalakan televisi. Berasa rumah sendiri ya bund😌


"Kamu gk papa nunggu?".


"Iya sayaaang..Sampai danau toba mengering pun kanda siap menunggu". Ujar Aydan bergurau.


Arsyila hanya balas tersenyum kemudian berjalan menuju dapur.


"Hadeeh gemes banget cewek gw, jadi pengen makan". Gumam Aydan garing.


_________


Kini Aydan dan Arsyila sudah tiba di tempat yang dituju yaitu Jasmine Hospital tempat Dr. Maharani berada.


"Ayok masuk". Ajak Aydan kemudian menarik sebelah tangan Arsyila yang tertutup seragam.


Arsyila hanya menurut dan mengekori langkah Aydan dari belakang.


"Assalamualaikum". Ucap Aydan dan Arsyila bersamaan saat sudah berada didepan ruangan Dr. Rani yang sedikit terbuka itu.


"Wa'alaikumussaalam warohamutulloh". Jawab Dr. Rani menjeda sejenak aktifitasnya yang sedang mengobrol dengan seorang wanita yang terlihat lebih muda darinya.


"Eh Arsyilaa". Girang Dr. Rani kemudian berjalan mendekat ke arah Arsyila.


"Aduhh tante kangen banget nihh" Ujar tante Rani lagi lalu memeluk Arsyila sebentar.


"Arsyila juga". Ungkap Arsyila dan tersenyum manis saat pelukan mereka sudah terlepas.


"Gimana tidurnya kemarin-marin?"


"Alhamdulillah tan".


"Alhamdulillah baguslah kalo gitu, oh iya ini kenalin sahabat tante Dr. Ema, dia yang akan bantu proses terapi kamu nanti". Tunjuk Dr. Rani pada sahabatnya itu.


"Hallo Dok". Sapa Arsyila pada Dr. Ema tak lupa menyalami tangannya dengan sopan.


Kok psikolognya cakep bener, jadi insekyur gw jadi pasiennya.


Batin Arsyila pada wanita cantik dihadapannya ini yang terlihat masih lajang.


"Syil Dokternya cantik ya?". Bisik Aydan pada Arsyila yang telah selesai membatin.


"Awaass kalo kamu sampai suka, kita and!". Arsyila ikut berbisik sambil mencubit kecil perut Aydan bersamaan dengan kalimat ancamannya.


"Awww sakit yang". Aydan meringis mendapat cubitan maut dari Arsyila.


"Kenalin nama sy Ema Nayla Putri". Dr. Ema menyodorkan tangannya pada Arsyila.


"Namanya bagus". Arsyila menyambut uluran tangan Dr. Ema.


"Dokter udah nikah apa belum?". Tanya Aydan menyambung ucapan Arsyila.


"Hehe belum. Masih fokus bahagian orang tua dulu". Jawab Dr. Ema sambil tersenyum simpul.


"Yes". Ujar Aydan dengan suara sedikit berbisik.


"Dokter kayaknya temen sy mau nyalon". Ujar Arsyila memancing.


Temen


Batin Aydan.


"Hihihi masih bocil...Saya tidak bertanggung jawab ya nantinya kalo kalian berantem". Ujar Dr. Ema yang mengerti keadaan sambil cekikikan.


"Berantem apa dok? orang kita cuma temen biasa, ya kan Dan?". Ujar Arsyila sambil tersenyum sok manis menghadap Aydan.


"Maaf Dok sy tadi cuma becanda hehe". Cengir Aydan garing tanpa menoleh ke arah Arsyila.


"Hahaha hadeh anak muda, umur segini lagi pada lucu-lucunya ya". Kekeh Dr. Ema sambil menutup mulutnya anggun.


"Emang Dokter umur berapa?". Tanya Arsyila.


"22". Jawab Dr. Ema singkat.


"Hehe iya sy masih kuliah ngejar S1". Jawab Dr. Ema sambil tersenyum manis.


"Mmm". Gumam Arsyila sambil mangguk-mangguk.


Ckck berprestasi sejak dini. -Batin Arsyila .


"Udah yok, ntar lagi perkenalannya soalnya Dr. Ema juga ada ada job diluar". Beritahu Dr. Rani.


"Yuk". Ajak Dr. Ema pada Arsyila.


Mereka pun pergi ke salah satu ruangan di dalam Hospital yang telah disediakan khusus untuk para pasien sesuai dengan kebutuhan mereka.


Dan kini Arsyila dan Dr. Ema sudah berdiri didepan pintu ruangan dengan pencahayaan yang tidak terlalu terang.


Walaupun ini adalah pagi hari namun berbeda lagi jikalau melewati lorong sunyi yang menjadi akses menuju ruangan yang akan dipakai Arsyila saat ini karna kondisinya yang seperti malam hari, untung saja Arsyila ditemani Dr. Ema jadi ia tidak terlalu merasa takut kecuali jika Dr. Ema tiba-tiba berubah menjadi Pamvire🙂.


"Dok ini ruangan apa?". Bingung Arsyila menatap Dr. Ema.


"Nanti kamu juga tau, kamu phobia gelap kan?". Tanya Dr. Ema memastikan karna kemarin ia hanya mendengar cerita yang disampaikan Dr. Rani.


"Hmm kayaknya". Jawab Arsyila, ia tidak terlalu mengerti tentang istilah phobia gelap, yang ia tau hanya dirinya mengalami PTSD seperti yang dikatakan DR. Rani.


"Ya udah sekarang kamu fokus ya, kamu hadep depan". Pinta Dr. Ema dan dituruti Arsyila.


"Tadi kamu berhasil melewati lorong yang agak remang itu dengan saya jadi ini adalah tahap terakhirnya. Arsyila ingat, disini ada saya, kamu tidak sendiri jadi jangan merasa takut".


Arsyila mengangguk namun ia jadi merasa cemas dengan penuturan Dr. Ema barusan sepertinya ia akan dihadapkan dengan situasi yang akan membuatnya takut nantinya.


"Dok apa didalam sana ada monster?". Tanya Arsyila ragu-ragu mengucapkan kalimat yang konyol itu.


"Hihi gk Arsyila gk ada apa-apa". Jawab Dr. Rani sambil terkekeh kecil.


"Hmm".


Perlahan pintu dibuka Dr. Ema menampakkan kondisi ruangan yang sangat gelap tanpa ada cahaya sedikitpun.


Deg..


Tubuh Arsyila mulai gemetar dengan jantung yang berdetak tak karuan. Matanya mulai memanas sebisa mungkin untuknya menahan tangis dihadapan Dr. Ema.


Sekelebat bayangan dimasa kecilnya mulai mengisi memory Arsyila dimana saat dirinya terkurung dalam ruangan gelap dengan sedikit pantulan cahaya yang hanya terpantul lewat atas ventilasi.


"Arsyila janga takut..Ada saya disini". Ujar Dr. Ema menenangkan Arsyila yang terlihat ketakutan.


"Arsyila?". Tanya Dr. Ema lagi melihat Arsyila yang hanya berdiri mematung melihat pemandangan didepannya sibuk dengan pikirannya sendiri alias bernostalgia.


"Arsyila ayo masuk". Ajak Dr. Ema kemudian menarik pelan tangan Arsyila.


"Ddd-dok". Arsyila menggeleng dengan matanya yang sudah mengeluarkan cairan bening yang sejak tadi ia tahan.


"Dok tutup pintunya please". Pinta Arsyila setelah tersadar kemudian dengan spontan memeluk Dr. Ema agar ia tak bisa melihat ruangan itu lagi.


"Arsyila janga takut..Ada saya". Ujar Dr. Ema lagi. Arsyila menggelengkan kepalanya.


"Arsyila takut sendiri disana hiks.." Arsyila terus menangis.


"Arsyila gk sendiri..Ada saya disini". Dr. Ema mengelus pelan punggung Arsyila yang masih sesenggukan.


"Tapi Syila takut, Dok please tutup pintunya.." Rengek Arsyila sambil mengeratkan pelukannya ditubuh Dr. Ema.


"Arsyilaa.."


"Dook hiks please tutup".


Dr. Ema akhirnya mengalah dan menggapai gagang pintu ruangan tersebut.


"Saya mau tutup..Tapi Arsyila harus janji setelah ini Arsyila harus cerita". Dr. Ema memberikan syarat dan diangguki Arsyila daripada harus berlama-lama dalam situasi seperti ini.


Dr. Ema pun menutup pintu itu kembali dan menghembuskan nafasnya pelan.


Arsyila yang merasa amanpun perlahan melepas pelukannya namun dengan kondisi tubuh yang masih bergetar.


"Kamu beneran gk mau coba masuk?". Tanya Dr. Ema sekali lagi. Arsyila menggeleng cepat.


"Ya udah yuk kita balik nanti sy akan pikirkan cara yang lain tapi inget kalo ada apa-apa kamu haru hubungi saya". Pinta Dr. Ema.


"Iya Dok". Jawab Arsyila.


"Sini tangannya". Pinta Dr. Ema.


Arsyila menyodorkan tangannya yang bergetar dengan gerakan slowmo. Dr. Ema kemudian menggenggam tangan Arsyila seraya mengelusnya pelan seolah menyalurkan kekuatan padanya dan entah bagaimana bisa kondisi Arsyila perlahan mulai stabil.


"Kok bisa?". Bingung Arsyila melihat reaksi tubuhnya sendiri.


"Apa yang kamu rasakan saat saya menggenggam tangan kamu?". Tanya Dr. Ema.


"Tenang". Jawab Arsyila tanpa pikir panjang.


"Kamu hanya butuh ketenangan dan beristirahat dari ingatan masa lalu kamu yang mengganggu Arsyila, kamu hanya cukup ditemani maka kamu akan bisa menghindari hal itu". Jelas Dr. Ema menebak apa yang dirasakan Arsyila.


Arsyila tersenyum kecut..


Teman? bahkan dirumahnya sendiri ia merasa kesepian. Tidak mungkin kan setiap waktu ia memanggil Aydan dan dua sahabatnya untuk menemani nya kala merasa kesepian.


Mereka juga punya kesibukan masing-masing lagipula Aydan, Devan dan Alzam tidak akan leluasa bermain kerumahnya karna perbedaan gender terutama saat malam hari bisa dicap yang tidak-tidak ia nantinya.


"Dok..Bisa beli temen di shopee gk?". Gurau Arsyila sambil cengiran, sungguh random sekali ya sifat Arsyila ini. Berbeda dengan Arsyila yang cengiran tidak jelas, Dr. Ema malah menatap dalam Arsyila memahami makna dari ucapannnya tadi.


"Kapan pun kamu butuh sy, sy selalu ada Arsyila.. Sy tidak terlalu sibuk jadi jangan pernah sungkan untuk bercerita". Ujar Dr. Ema beralasan padahal jadwalnya sangat padat tapi demi Arsyila ia akan berusaha meluangkan waktunya nanti.


"Makasih Dok". Jawab Arsyila lalu tersenyum simpul.


"Baiklah ayo kita kembali keruang kerja Dr. Rani". Ajak Dr. Ema dan disetujui Arsyila.


_____________


Di ruang kerja


"Arsyila". Antusias Aydan kemudian menghampiri Arsyila yang baru tiba bersama Dr. Ema.


"Gimana terapinya? lancar gk??". Tanya Aydan penasaran.


"Mmm". Gumam Arsyila.


"Aydan alangkah lebih baiknya jangan ditanya-tanya dulu, dia masih dalam masa pemulihan". Peringat Dr. Ema.


"Ooh Iyaa Dok maaf". Ucap Aydan.


"Mm Dok aku sama Aydan izin pulang dulu ya.." Ujar Arsyila.


"Eh kok cepet banget belum aja ngobrol-ngobrolnya". Jawab Dr. Rani.


"Lain kali aja tante..Aku mau istirahat dulu".


"Ya udah nanti dateng lagi ya terapinya sesuai jadwal yang tante kasih".


"Baik tan". Ujar Arsyila kemudian berpamitan dengan Dr. Rani terlebih dahulu diikuti Aydan.


"Oh Iya Arsyila..Jangan lupa kamu punya hutang cerita sama saya". Ujar Dr. Ema saat akan bersalaman dengan Arsyila.


"Hm iya Dok ntar aku pasti bakal cerita". Jawab Arsyila mana mungkin ia berani ingkar janji lagipula Dr. Ema dan Rani harus tau tentang traumanya ya walaupun penyebabnya sepele menurut orang namun sangat menyakitkan bagi Arsyila.


"Ya udah kalian hati-hati dijalan yak". Dr. Rani melambaikan tangannya.


"Iya tan Assalamu'alaikum". Pamit mereka kemudian keluar dari ruangan tersebut.


"Wa'alaikumussaalam".


"Gimana tadi sama terapinya?". Tanya Dr. Rani pada Dr. Ema.


"Aku boleh nggak si adopsi Arsyila jadi adek aku". Ujar Dr. Ema tiba-tiba dengan raut wajah yang sulit diartikan.


"Haha kamu ini ada-ada aja, emang kenapa?.


"Hm Arsyila gk mau banget masuk keruangan itu aku gk tau pasti Arsyila sebenarnya kenapa tapi aku mau tanya sama kamu apa dia ada orang tua?".


"Hmm ada tapi mereka sibuk kerja..Aydan pernah cerita kalo ibunya Arsyila jadi guru MI dan Ayahnya diluar negri". Jelas Dr. Rani.


"Saudara?".


"Dia punya tapi nggak terlalu dekat kata Aydan".


"Pantes". Gumam Dr. Ema.


"Kamu tau kan Ran aku juga pernah ngalamin trauma? aku merasa hal yang pernah aku alami itu gk jauh berbeda sama Arsyila dan aku masih bisa menyembuhkan itu hanya dengan melakukan komunikasi tapi Arsyila kayaknya.."


"Aku si mikirnya Arsyila Diagnosa PTSD ringan".


"Iya benar tapi bukan ringan lagi Ran.."


Dr. Rani terkejut mendengar penuturan sahabatnya itu.


"Jadi maksud kamu..."


"Iya Ran, kalo sampai metode terapi yang lain gk bisa terpaksa kita harus pakai cara terakhir".


"Obat-obatan?".


"Hm" Gumam Dr. Ema ... "Aku kasian sama dia Ran". Ujarnya dengan raut wajah yang terlihat sedih.


"Hm kita doain aja yang terbaik".


...******...


Maaf banget ya kalo kemarin Upnya lama..Jujur si kepikiran banget sama kalian dari kemariin karna gk dapet Up..BTW aku sibuk banget dikampus jadi harus pinter cari waktu luang. Tapi insya allah untuk hari kedepannya aku bakal usahain lagi buat up terus sampe tamat! Aamiin.


Thanks buat kalian yang udah dukung karya aku❤💌