
...~Aku bisa karna tuntutan bukan karna tuntunan...~...
..."Senja tak pernah menolak langit saat sore telah tiba, meskipun ia berubah menjadi kelabu."...
...______...
...Happy Reading💓🔥...
...*****...
Malam ini adalah malam yang paling menyenangkan bagi Arsyila seumur hidupnya.
Suasana yang ramai dengan para siswa yang sibuk mengumpulkan ranting-ranting kecil untuk memeriahkan Agenda malam ini serta suara-suara siswi yang malah sibuk berghosip.
Seperti Arsyila dan Intan sekarang ini yang sedang berghosip berdua di dalam tenda karna temannya yang lain sedang bercanda ria di luar.
"Orang tua lo pasti bangga karna liat nilai lo yang meningkat". Ujar Intan menyambungkan cerita Arsyila sebelumnya.
Ya kali ini Intan dan Arsyila sedang berbincang seputar pelajaran dan pengalaman yang mereka lalui. Begitulah topik pembicaraan mereka kadang khilaf kadang pula tobat😌
"Hm tapi menurut aku sih belum karna belum nyampe peringkat 1".
"Ya ampuun Syilll bisa ngalahin Rifki aja lo udah hebat banget, gue aja masuk 10 besar udah ngerasa bangga".
"Tapi bunda maunya aku juara 1".
Ujar Arsyila, memang mengetahui Arsyila yang juara 2 membuat Hera terlihat senang namun entah kemarin Hera kembali mengatakan *tinggal sedikit lagi bisa juara 1* itu menandakan Hera menolak peringkat yang di gapai Arsyila secara halus.
"Lo ngerasa tertekan gk?". Tanya Intan menebak. Arsyila menggeleng.
"Itu udah kewajiban aku buat banggain bunda, setidaknya jika bukan materi aku mau membalas semua kebaikannya dengan prestasi sebelum aku kehilangan kesempatan itu, meski itu belum cukup". Arsyila terlihat sedih.
"Lo gk akan bisa kehilangan kesempatan itu Syil, gue yakin itu".
"Aamiin.. Semoga tuhan masih berbaik hati hingga aku bisa wujudin itu semua sebelum akhirnya aku gk bisa gapai itu lagi".
"Maksud lo??".
"Hehe suatu saat kamu bakal ngerti". Ujar Arsyila, tersirat makna yang dalam dari perkataannya itu.
"Huh! lo mah sukanya gituu".
"GUYSS SEMUANYA YANG ADA DI TENDA SILAHKAN KELUAR KITA KUMPUUL".
Terdengar seperti suara Arsen yang memberikan komando karna Razan sedang sibuk menyiapkan tempat untuk agenda malam ini bersama teman-temannya yang lain.
Arsyila dan Intan yang mendengar seruan itu segera keluar dari tenda untuk ikut berkumpul.
Acara pun di mulai, banyak keseruan yang mereka lewati..Mulai dari mengelilingi api unggun sambil tertawa bahagia ada pula yang menampilkan komedi dan kegiatan seru lainnya hingga tak terasa acara pun selesai alias acara bebas.
Kini Devan, Alzam, Intan dan Arsyila masih setia di posisi duduk mereka sambil menunggu jagung bakarnya di depan api unggun, ya! itu di dapatkan dari anggota OSIS yang sengaja menyiapkan itu semua. Bukan hanya jagung, ubi serta beberapa bungkus sosis dengan ukuran jumbo pun ada.
"Zam! lo niupnya pelan-pelan dong cemong nih muka gue!". Keluh Devan saat abu dari kayu bakar itu menerpa wajahnya akibat tiupan sangkakala dari Alzam.
"Kalo pelan-pelan apinya mana bisa gede begok!".
Arsyila dan Intan yang melihat perdebatan kecil mereka jadi terkekeh kecil.
"Ada-Ada aja nih bocah dua". Ujar Intan sambil geleng-geleng kepala.
"Eh temen-temen aku mau ke kk Chika sama kk Dev dulu ya, kayaknya seru". Ujar Arsyila saat tak sengaja melihat Aldo, Deva, dan Chika sedang duduk melingkari api unggun sambil menyanyi bersama dengan Razan sebagai gitarisnya. Maklum Razan bisa di bilang multitalent selain berbakat di pelajaran ia juga mahir memainkan gitar, suaranya pun tak kalah merdu.
"Kak Chika apa yang di sebelahnya.." Rayu Intan menunjuk Razan.
"Aish awas kamu ya Tan!". Arsyila hendak mencubit kecil lengan milik Intan.
"Vann". Intan bersembunyi di balik punggung Devan.
"Van Awaas!!". Arsyila mencoba meraih lengannya membuat Devan yang di uyek-uyek merasa kewalahan.
"Zam bantuin Zammm". Pinta Devan pada Alzam namun bukannya membantu menghentikan tikus dan kucing itu Alzam malah menertawai Devan.
"Naah! kena kamuu".
"Ammpuuun".
"Gk! Gk ada ampunan". Arsyila mengambil gaya seperti mencekik. Tiba-Tiba ide jahil terlintas di kepala Intan.
"Bangg Razaaan!". Intan memanggil Razan membuat Razan beserta ke-tiga temannya menoleh.
"Aisssh kenapa di panggil". Arsyila jadi salting.
Alis Razan tertukik ke bawah pertanda bingung, namun karna tak mendapat respon yang jelas ia pun kembali dengan kegiatannya tadi tak menghiraukan aktifitas Arsyila dan Intan.
"Hehe sorry biar lo gk jadi cekik gue, kan gk estetik gitu kalo gue matinya di pantai". Balas Intan garing.
"Uuuu intan lebayyy".
"Syil.." . Panggilan seseorang dari balik punggung Arsyila mengalihkan atensi Arsyila dan teman-teman yang ada di sekitarnya.
Arsyila mengerutkan dahi kala melihat Arsen dan beberapa temannya datang menghampirinya.
"Iya kak". Balas Arsyila sopan lalu ikut berdiri.
"Main api unggun sama kita yuk!". Ajak Reza.
"Ha??". Arsyila nampak bingung.
"Mumpung Aydan lagi gk ada bisa dong kita PDKT". Cetus Rivan ceplak ceplos.
"Eeh! enak aja lo, kan lo pada katanya mau nemenin gue". Arsen tak terima.
"Gk doong kita tetep saingan Sen". Sahut Reza.
Ternyata genk nya Arsen masih saja memperebutkan Arsyila. Kecuali Kinan dan Doni karna mereka sudah mempunyai pacar begitupun dengan mantan dejavu Arsyila "Reno" yang sudah berpacaran dengan Tia. Oleh sebab itu ia sudah tidak mengejar Arsyila lagi meski kadang-kadang masih saja gamon:).
"Siapa yang saingan??". Razan tiba-tiba datang dengan menenteng gitar yang tadi ia pegang.
"Uasss-taaga Sen!". Suara Reza sedikit berbisik sambil menutup wajahnya dengan tangan dan memalingkannya ke belakang di dekat telinga milik Arsen. "Gue lupa di sini ada Razan".
"Loo sih Sen! kan kena nih kita". Ujar Rivan memojokan Arsen.
"Laaah???? kok gue". Mereka masih berbisik-bisik tetangga dengan ekspresi seperti menahan berak.
"Ini nih si Arsen katanya mau saingan ama lo Zan". Adu Reza mengompori.
Arsyila yang mendengar itu semakin di buat bingung. Devan, Alzam, dan Intan yang sejak tadi menonton drama mereka dengan mendongak seperti anak hilang pun satu persatu mulai ikut berdiri.
"Bener Sen?". Tanya Razan pada Arsen.
"Gk Zan gk..Kalo di bandingkan lo si kita kalah jauh ya gk??".
Tanya Arsen pada teman-temannya karna salting sambil menyenggol lengan milik Reza dan Rivan sebagai kode untuk segera pergi dari pada ketahuan Razan nanti karna berani mendekati Arsyila , bisa di cincang lah mereka sama si Razan.
"Iyaaa dong!". Jawab Rivan antusias.
"Kalo gitu kita pergi dulu Zan, hehe byeee". Ujar Arsen lalu mengajak teman-tenannya kabur
"Itu genk lo semua kan yak bang?". Tanya Devan melihat punggung Arsen dan teman-temannya yang sudah mulai menjauh.
"Iya". Jawab Razan singkat.
"Tapi kok gue lebih sering liat kk Razan main sama kk Aldo dkk?". Tanya Intan keheranan.
"Gue sih netral main sama siapa aja". Jawab Razan.
"Ooo gitu". mereka bertiga mangguk-mangguk kecuali Arsyila.
"Oh ya gue pinjem temen kalian ya, dari tadi gue perhatiin dia kayaknya mau nyusul temen-temen gue di sana ya kan?". Tebak Razan sambil menunjuk tempat kumpulnya tadi.
"Diem-Diem merhatiin ternyata ya kk". Ujar Intan lalu menyenggol lengan Arsyila.
"Apaan sii?". Bisik Arsyila salting.
"Gue pinjem ya?". Tanya Razan lalu menarik sebelah tangan Arsyila. Arsyila sedikit terkejut dan refleks menengok tangannya lalu tangan Razan yang membawanya untuk ikut bergabung bersama kk kelas tercintanya.
"Gk usah pinjem, ambil aja bang sekalian bawa pulang". Sahut Alzam sedikit berteriak ke arah Arsyila dan Razan yang belum terlalu jauh.
Plak
"Ditau Aydan tau rasa lo". Ujar Devan sambil menggeplak tengkuk milik Alzam.
"Cinta segitiga gk sih ini namanya?". Tanya Intan yang masih memperhatikan langkah Arsyila dan Razan.
"Gk si, menurut gue lebih mirip cinta jajar genjang".
"Buahaha ngakak! ngacok lo emang Zam".
"Tau nih Alzam, ada-ada aja hahaha". Intan ikut terkekeh.
Kini Razan kembali di tempat duduknya semula bersama Arsyila membuat Chika yang tadinya di dekat Razan pun bergeser untuk memberikan akses pada Arsyila agar bisa menempati posisinya.
"Kenapa Zan?". Tanya Aldo.
"Biasa, mereka lagi gabut".
"Hadeeh ada-ada aja emang temen lo".
"Hehe". Aldo cengiran.
"Syil besok pagi kita sundresan yaa". Ajak Chika tiba-tiba dengan mata yang sudah berbinar.
"Wihh boleh tuuh".
"Zan agenda kita besok pagi apa?". Tanya Chika memastikan agar rencananya tidak ada pantangan.
"Acara bebas". Balas Razan.
"Yes! berarti kita...." Ucapan Chika terpotong lalu menoleh ke arah Arsyila dan Dheva dengan mata berbinar-binar. "Sundresaaan!!!". Lanjut mereka bertiga kompak.
"Kita gk di ajak nih??". Aldo memasang wajah cemberut.
"No! only for girls". Balas Chika.
"Harusnya ya Chik, yang di ajak itu pacar kek! lo mah gk ada romantis-romantisnya". Keluh Aldo.
"Pfft". Razan hampir saja tertawa.
"Astagaa gue lupa!". Dheva menepuk jidatnya kala teringat sesuatu.
"Kenapa kk?". Tanya Arsyila.
"Gue kan besok udah ada janji". Dheva tersenyum tak enak.
"Janji?". Beo Arsyila. "Janji sama siapa kak??". Arsyila penasaran, bukannya Devan dan Dheva sudah tidak ada hubungan lagi?. Arsyila jadi bingung.
"Entar juga lo tau sendiri". Balas Razan sambil fokus pada petikan gitarnya. Sepertinya kalimat itu akan selalu menjadi kalimat andalan Razan yang selalu di dengar Arsyila saat ia bertanya.
"Ck. Bisa gk si kalo aku nanya kk Razan gk usah jawab". Arsyila terlihat kesal namun Razan tak menggubrisnya. Maklum Razan rada-rada cuek gituh.
Arsyila mendengus.
"Berarti cuma kita berdua ya Syil?". Tanya Chika pada Arsyila.
"Terus gue???". -Aldo.
"Tu sama Razan". Chika menunjuk Razan dengan dagunya.
"Dih ogah. Emang gue gey". Balas Razan tanpa menoleh.
"Mm kk Chika sama kk Aldo aja. Aku besok sama Intan.." Ujar Arsyila pengertian.
"Yaah tapi kan maunya sama lo..Ya udah deh gk papa, emang Intan gk sama Devan?". Chika terlihat biasa berbeda dengan Dheva yang langsung menghadap lain.
"Devan gk suka sundresan, dia lebih suka liat sunset". Arsyila menjelaskan.
"Lo tau kenapa orang lebih suka Senja dari pada fajar?". Razan menoleh sekilas ke arah Arsyila. Arsyila menggeleng polos.
"Karna Senja tak pernah menolak langit saat sore telah tiba, meskipun ia berubah menjadi kelabu dan Senja tau bagaimana ia pamitan dengan cara yang berkesan." Ucap Razan tanpa menoleh ke arahnya.
Arsyila yang mendengar itu sedikit terpekur.
"Lo mau nyerah Zan?". Tanya Aldo.
"Suatu saat manusia akan ada rasa lelah, gue gk mau buru-buru, biarkan rasa itu datang sendiri biar gue bisa kayak senja yang pergi dengan damai dan membiarkan langit menggelap dengan sendirinya". Ujar Razan lancar dengan sarat makna yang dalam lalu menoleh ke arah Arsyila.
Arsyila membuang muka ke arah lain. Jangan kira Arsyila tidak mengerti maksud perkataan Razan tadi, meski terlihat polos begini ia sebenarnya mengerti dan ia tau jika Razan sedang menyindirnya hanya saja Arsyila masih ragu karna Razan tidak pernah mengungkapkan perasaannya secara langsung tak seperti Aydan terlebih lagi Razan kerap menyebut nama "Nea" membuat Arsyila jadi dilanda keraguan.
"Ekhemm...Zan nyanyiin kita yuk!". Seru Chika menghangatkan suasana yang mendadak canggung itu.
"Tapi gue lagi galau...Lagu yang sad aja ya". Ujar Razan. Sepertinya Razan sedang kesambet jin pantai hingga membuatnya sedikit ceplak ceplos.
"Iya tu aja bagus, lagian malam-malam gini enaknya tuh denger lagu galau...Apalagi di tambah hembusan angin pantai behh". Deva menyahut.
"Oke deh". Balas Razan lalu mulai memetik girtanya.
Razan mulai menyanyikan lagu galau yang sehaluan dengan perasaannya saat ini sambil membayangkan gadis di masa kecilnya yang sangat mirip dengan Arsyila saat ini.
(Bacanya sambil dengerin musiknya sabi kali yak)
✨🎶Mengapakah kita selalu berjauh hati
Selalu sendiri dan terasa hati
Apakah kita tak sehaluan lagi
Berat bagiku berat bagiku
Apakah salahku kau buatku begini
Selalu sendiri tinggal sendiri
Cinta yang ku pinta kau balas dengan dusta
Berat bagiku
Melepaskanmu
Bukan mudah bagiku untuk melalui semua ini
Pabila kenangan kita mengusik jiwa dan hati
Kala malam tidurku tak lena mengenangkanmu
Ku cuba pertahankan
Separuh jiwaku hilang ikut terbang bersamamu
Episod cinta hitamku kini berulang kembali
Berulang kembali menguasai diriku ini
Oh Tuhan ku mahu yang terbaik
Terbaik buatku insan kerdil ini
Oh Tuhan noktahkan kehilangan ini
Munculkan dia dia terakhir buatku
Huuuu...🎶
Hati Arsyila berubah sendu mendengar lagu yang di nyanyikan Razan..Entah mengapa perasaan Arsyila tiba-tiba merasa tidak nyaman begini.
"Lo lagi nyindir Devha atau..." Chika tak meneruskan kalimat terakhirnya karna Razan pasti tidak suka jika nama Arsyila di sebut terang-terangan. Semua mata melihat ke arah pandang yang di tujukan Chika yaitu Dheva yang sedang memperhatikan Devan dan Intan yang sedang bercanda tawa di depan api unggun.
Namun di saat itu pula Alzam langsung menoleh ke arah mereka dan melihat Dheva. Dheva yang menyadari Alzam tengah melihatnya langsung mengalihkan atensinya ke arah lain.
Kek ada yang aneh
-Batin Arsyila.
Arsyila tak ambil pusing, ia lalu merangkul pundak Dheva pengertian.
"Kak Dheva masih gamon ya?". Tanya Arsyila terang-terangan. Dheva menggeleng.
"Gk, buat apa juga gue pertahenin..Dinding kita kuat banget". Balas Dheva sambil menatap kosong ke arah pasir yang ada di depannya.
"Kk Dheva yang sabar ya..Tuhan tau mana yang terbaik". Arsyila menasehati, meski singkat namun bisa mendamaikan hati yang mendengarnya.
"Makasih". Dheva lalu tersenyum ke arah Arsyila.
"Lo sih Zan..Lagu yang lain napa kan jadi banyak yang tersindir nih sama lagu lo". Ujar Chika.
"Gue tiba-tiba inget sama gadis kecil di masa lalu gue". Jawab Razan yang lagi-lagi membuat Arsyila penasaran. Razan tersenyum tanpa arti saat mengingat kenangan itu kembali.
"Nea ya kak?". Tanya Razan menebak. Razan mengangguk lalu menghela nafas panjang.
"Gue gk tau sekarang dia dimana atau mungkin dia di sekitar gue tapi dia pura-pura lupa?". Razan seperti memberi kode namun Arsyila beranggapan lain.
"Kalo kk Razan masih nyari orang yang ada di masa lalu, mending cari ampe ketemu! jangan malah bikin baper orang baru". Ucap Arsyila yang mendadak kesal lalu tanpa pamit ia pergi dari hadapan mereka untuk kembali menyusul para sahabatnya.
Mereka yang melihat kepergian Arsyila pun di buat bingung.
"Zan? lo tadi nyindir Arsyila ya??". Tanya Chika menebak namun Razan tak menjawab.
"Kok gue ngira kalo Arsyila tadi cemburu ya??? apa dia emang udah baper sama lo Zan??". Aldo ikut bertanya.
"Nah guee juga sepemikiran sama Aldo". Sahut Deva sambil mengangkat jari telunjuknya.
"Huh! terserah kalian, gue mau lanjut main gitar ". Balas Razan tak acuh.
"Huh!". Aldo, Chika dan Dheva pun menghembuskan nafas secara bersamaan.
...*****...
Hye semuanya semoga sehat selalu ya✨
Oh ya nana mau kasih info nih Visual Aydan, Razan sama Arsyila udah ada lohhh bisa di chek IG nya Arsyila yang baru ya💓
Btw ada yang mau join group WA gk?? yang mau bisa chat nana langsung atau bisa komen ya biar nanti nana yang confir!
See you next Chapter👋🏻💓🔥