Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Bag 76 : Kepindahanya..



...Bersiap......


...Happy Reading πŸ’“βœ¨...


...*****...


Malam ini Arsyila nampak begitu tak bersemangat..


Beberapa hari ini Arsyila dan Aydan benar-benar tidak bertegur sapa membuat Arsyila makin dirundung rasa galau.


Sudah berapa banyak spam chat yang dikirimkan Arsyila namun Aydan tak kunjung memberi balasan, begitupun di sekolah Aydan selalu menghindarinya..


Arsyila menghela nafas berat lalu melempar ponselnya ke sembarang arah karna kesal.


"Ck habis lagi!". Arsyila menggerutu melihat botol minumnya yang sudah kosong.


Dengan langkah gontai Arsyila menuruni satu persatu anak tangga untuk mengambil air gelas yang tadi ia simpan di kulkas siapa tau hatinya bisa ikut sedikit sejuk setelah meminum air dingin pikirnya.


Namun, saat sudah tiba di dapur ia melihat Adhira yang nampak kesal lalu memukul kecil galon air yang terlihat sudah kosong itu.


"Adhira kenapa?". Tanya Arsyila ramah, semenjak kepulangan Adhira dari rumah sakit ia mulai membiasakan diri untuk berinteraksi dengan adiknya itu meski awalnya kaku.


"Air habis kak". Keluh Adhira.


"Hmm". Arsyila lalu membuka pintu kulkas dan mengambil air gelas yang ia simpan di freezer.


"Nih..Minum aja aku gk haus". Arsyila menyodorkan minumannya pada Adhira.


"Makasih kak". Ucap Adhira sambil tersenyum lebar.


"Adhiraaa.." Panggil Hera dari ruang tamu.


"Iya buuund". Sahut Adhira ikut berteriak.


"Sama siapa disituuu???".


Adhira diam sejenak lalu menatap canggung kakaknya.


"Gk papa aku keluar duluan ya".


Ucap Arsyila sembari melontarkan senyum palsu lalu keluar dari dapur. Adhira yang mendengar itu hanya menghela nafas sedih lalu mengekori kknya dengan langkah gontai.


"Adhira sini nak..Ada oleh-oleh dari paman".


Panggil Hera lagi yang sedang duduk di ruang tamu bersama laki-laki paruh baya bernama Sofyan. Arsyila ingat pamannya itu kemarin sempat merantau di Malasyia oleh sebab itu mungkin pulangnya ia membawa oleh-oleh.


Arsyila refleks berhenti saat dirinya akan menaiki tangga sedangkan Adhira berada lima langkah di belakangnya. Ia menatap sekilas ke arah Adhira lalu bunda dan pamannya yang sedang duduk berhadapan di sofa.


Padahal tujuan ia turun ke lantai bawah adalah untuk mengambil air dingin di kulkas agar perasaannya ikut sejuk namun justru hatinya terasa semakin sesak. Memang semenjak Adhira pulang dari rumah sakit itu, Hera seperti menjaga jarak darinya dan membatasi Adhira berkomunikasi dengan Arsyila.


Belum lagi sewaktu menerima rapot milik Adhira, Hera melihat peringkat putri sulungnya itu menurun, ia sangat kecewa dan dari sana ia sudah mulai terang-terangan memberi larangan pada Arsyila agar menjauh dari Adhira karna Hera masih takut jika Arsyila akan mencelakai putri emasnya lagi meskipun kejadian lalu bukan sengaja dilakukan Arsyila.


Arsyila tak mau berfikir banyak lalu kembali melangkah dan menaiki tangga cepat-cepat.


"Eh itu Arsyila bukan??? Arsyila..!!". Panggil pamannya namun Arsyila enggan untuk menoleh, yang ia inginkan hanyalah cepat sampai kamar lalu tidur mengistirahatkan hati dan Pikirannya yang sudah begitu lelah.


"Dia ada ulangan harian besok". Hera berbohong.


Arsyila masih mendengar ucapan bundanya itu namun ia tak mau ambil pusing dan langsung berlari ke kamar untuk merebahkan dirinya di kasur.


"Kenapa manusia begitu jahat??". Racau Arsyila dengan air mata yang mulai mengucur deras membasahi pipinya.


"Tuhan..Apa kau terlalu menyayangiku hingga aku tak kau beri kesempatan untuk beristirahat?". Arsyila menengadahkan kepalanya ke atas melihat langit-langit kamarnya yang buram karna terhalang oleh genangan air di matanya.


Dada Arsyila tiba-tiba terasa sangat sesak disertai rasa nyeri membuat Arsyila kembali duduk tegap.


"Kenapa akhir-akhir ini dada aku sering sakit". Tanya Arsyila pada dirinya sendiri...


Ia lalu mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Dengan segera Arsyila mengambil laptop yang ada di nakasnya berniat mengalihkan pikirannya agar sedikit lebih tenang. Ia tidak boleh terlalu lama berlarut dalam kesedihan, ia tidak suka jika melihat dirinya yang tiba-tiba merasa lemah.


"Huh! saatnya nonton drakor, setelah ini baru baca novel yey!". Arsyila menyemangati dirinya sendiri.


Mungkin bagi sebagian orang berfikir penonton Drakor atau penggemar manusia fiksi hanyalah sampah bagi masyarakat..Yang kerjaannya hanya rebahan, dan tidak akan menggapai impian..


Namun satu hal yang mereka tidak tau, sekelompok orang seperti Arsyila akan lebih memilih keluar dari dunia mereka sendiri daripada terus memaksakan hati menerima kenyataan dan menyakiti orang lain..Dalam kata lain -pelampiasan-.


Dan orang lain tidak akan mengerti karna mereka tidak pernah merasakannya:)


Setelah menghabiskan beberapa episode Arsyila akhirnya merasa sedikit ngantuk padahal misi membaca novelnya belum dilaksanakan.


Singkat cerita, ia pun memejamkan matanya untuk tidur berharap saat terbangun nanti dunianya bisa cerah kembali.


_____________


Jam menunjukkan pukul 06:15 menit.


Arsyila sudah selesai dengan kegiatan riasannya dan segera turun ke bawah. Hari ini Arsyila sengaja berpuasa lagi agar ia tidak perlu sarapan di bawah bersama Hera dan Adhira.


Namun sayangnya Hera dan Adhira sedang duduk di ruang tamu..Disana terlihat Hera yang sedang membantu Adhira mengikat rambutnya. Padahal Adhira sudah besar -Pikir Arsyila.


Arsyila menghela nafas panjang, huh! niatnya pagi-pagi berangkat agar tidak bertemu Hera namun taqdir memang sulit di tebak.


Dengan pandangan lurus ke depan, Arsyila berjalan menuju pintu utama tanpa menyapa dua insan tadi..Entahlah kali ini ia akan di cap sebagai anak durhaka karna tidak bersalaman dengan Hera, Arsyila tidak perduli. Ia harus menjaga hatinya agar tetap stabil.


Namun dugaannya salah...Saat ia sudah akan keluar dari pintu besar rumahnya, lagi-lagi Arsyila harus mendengar perkataan Hera yang membuat air matanya kembali membendung.


"Fisik Adhira mungkin sudah sembuh tapi daya tangkapnya tidak akan kembali seperti dulu..Seandainya waktu itu bukan Adhira yang jatuh dari tangga mungkin saya akan sangat merasa bahagia". Ujar Hera dari arah belakang Arsyila.


Apa bunda menginginkan aku yang celaka?.


-Batin Arsyila merasa sedih.


Memang Adhira tidak sampai geger otak ataupun amnesia namun benturan di kepalanya waktu itu mengakibatkan Adhira menjadi lambat dalam berfikir dan agak sulit memahami penjelasan yang diberikan gurunya di sekolah. Yah walaupun dokter sempat berkata bahwa Adhira bisa pulih namun tetap saja Hera masih belum terima.


Tanpa menoleh ataupun menyahut Arsyila segera melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti agar segera sampai ke sekolah.


"Bund...Kenapa bunda selalu gituin kk Arsyila?". Tanya Adhira yang merasa iba pada kk nya.


"Dia yang udah buat kamu kayak gini Adhira..Bunda gk terima". Ujar Hera dengan tatapan penuh kecewa.


"Hah?". Adhira terbengong sebentar. Tunggu! apa tadi kata Hera? Arsyila melakukannya?. Untungnya Adhira masih ingat jelas kejadian waktu itu meski separuh dan ia juga ingat kecelakaan itu tidaklah di sengaja.


"Kenapa bunda bisa mikir kalo kk Arsyila yang buat Adhira jatuh???".


"Bunda liat sendiri dia berdiri di tangga paling atas pas adek jatuh..Pasti dia yang dorong adek kan?. Hera mulai terlihat ragu. Adhira menggeleng cepat.


"Bukan bund..Untung tuhan gk buat Adhira amnesia, apa ini alasan bunda gk bolehin Adhira deket sama kk???".


Hera terdiam lalu berfikir sejenak.


"Kejadian waktu itu hanya kecelakaan bund..Adhira jatuh sendiri karna ceroboh gk liat jalan, bukan salah kk Arsyila".


Hera tercengang mendengar penjelasan putrinya, Ternyata selama ini...


_______________


Arsyila berusaha tersenyum lalu mulai melangkahkan kakinya menyusuri koridor sendirian. Entah ini kebetulan atau tidak Arsyila tanpa sengaja melihat Aydan yang sudah terlebih dahulu tiba di sekolah dan berada tak jauh di depannya.


Mata Arsyila berbinar-binar lalu berlari kecil ke arah Aydan.


"Ay..." Arsyila menahan lengan milik Aydan hingga membuatnya terpaksa berhenti. Aydan menoleh lalu menatap datar Arsyila.


"Kenapa gk balas chat aku...Telpon aku juga gk kamu angkat". Arsyila nampak sedih.


"Lo gk penting". Balas Aydan cuek lalu melepas tangannya dan melanjutkan langkahnya. Namun Arsyila tak menyerah, ia kembali mengejar Aydan.


"Ay...Please maafin aku, waktu itu cuma kecelakaan dan kamu liat sendiri kan aku hampir jatuh..Aku sama sekali gk tau itu bakal kejadian".


"Gk perduli". Balas Aydan dingin.


"Ay..."


"Lo gk usah ngemis kaya gini, gk pantes. Bukannya lo sendiri yang nyuruh gue buat ngejauh? kenapa sekarang malah lo yang ngejar? nyesel?". Aydan terkekeh mengejek.


"Tapi aku gk bisa Dan...Aku gk bisa liat kamu jauh kayak gini". Arsyila merunduk dengan air mata yang kembali terbendung. Sepertinya berkata jujur membuat hatinya sedikit lega namun tetap saja perlakuan Aydan ini belum bisa mengurangi rasa sakit yang sedari kemarin ia pendam.


"Oh bagus kalo lo sadar..Tapi kayaknya gue lebih nyaman kek gini deh, kalo kemarin lo yang minta gue menjauh, sekarang bisa gk lo yang jauhin gue?". Pinta Aydan dengan sedikit penekanan.


Arsyila mendongakkan kepalanya menatap Aydan lalu menggeleng.


"Gk mauu...Please jangan jauhin aku lagi Ay, aku janji gk bakal lakuin hal yang buat kamu marah lagi.." Arsyila memohon.


"Terlambat". Ucap Aydan lalu pergi dari hadapan Arsyila.


Air mata Arsyila yang sudah membendung berhasil menitik, sikap Aydan tadi benar-benar membuatnya hancur belum lagi perkataan Hera tadi pagi yang membuatnya semakin merasa tidak dianggap dimata siapapun..


"Hahaha kasian..Rasain lo! siapa suruh jadi cewek kecentilan kena karma kan lo sekarang huhu". Ejek Sania saat melewati Arsyila yang masih berdiri mematung. Namun Arsyila tak menggubris perkatanya, dengan perasaan kacau Arsyila berjalan cepat menuju kelas agar terhindar dari para heaters dan sebagian murid yang menatapnya kasihan.


__


Tet Teeet Teeeeet


Bel masuk kelas berbunyi, semua murid pun masuk ke dalam kelas masing-masing.


"Anak-Anak..Kita kedatangan murid baru di sekolah ini, saya harap kalian bisa memperlakukan teman baru kalian dengan baik". Ujar buk Desi saat memasuki kelas bersama dua orang murid baru, yang satunya siswi berhijab dan satunya lagi siswa dengan wajah tampan membuat seisi kelas langsung heboh.


"Cakep bener tuh cewek".


"Cantikan Arsyila".


"Ceweknya manis bet, Arsyila ada saingan wkwk".


"Pokoknya tuh cowok jadi gebetan gue, gk mau tau!".


"Apa mereka berdua pacaran yak??? kok masuknya samaan?.


Bisik-Bisik para murid di kelas itu melihat kedatangan mereka. Berbeda dengan Arsyila yang malah sibuk membaca novelnya yang sempat tertunda tadi malam, ia sama sekali tak perduli dengan suasana sekitar.


"Perkenalaaan.." Seru sebagian murid.


"Ayok nak silahkan perkenalkan diri kalian". Pinta buk Desi lalu duduk di meja guru dan bersiap untuk mendengarkan.


"Assalamu'alaikum wr wb, perkenalkan nama saya Hamam Abdurrahman senang berjumpa dengan kalian". Ucap Siswa baru bernama Hamam itu tak lupa meninggalkan senyum manis yang menampakkan lesung pipinya.


"Woooy!! cakep,manis,ganteng arggh pengen gue milikin". Histeris Arlina dan langsung saja mendapat sorakan dari para murid-murid yang ada di kelasnya.


"Hadeh kemarin aja tobat udah kambuh lagi". Cibir Intan yang duduk di samping Arlina.


"Hehe". Arlina cengiran.


"Kenalin nama aku Kayla Nadira, semoga bisa menjadi teman baik ya".


Arsyila yang tadinya fokus membaca buku seketika mematung, ia merasa tidak asing mendengar nama tersebut.


"Kayla..." Gumam Arsyila.


Refleks Arsyila melihat ke arah depan dan mendapati Kayla yang tengah tersenyum ke arahnya, seketika mata Arsyila berbinar-binar.


Kegundahan yang sejak tadi ia rasakan pun hilang entah kemana, hanya dengan melihat wajah Kayla hati Arsyila merasa sangat senang . Entah kenapa namun menurutnya wajah Kayla begitu memancarkan aura positif.


"Silahkan duduk, Hamam kamu bisa duduk di samping Putra, Putra angkat tangan". Pinta buk Desi agar Hamam tidak kebingungan. "Nah di situ".


"Baik buk". Balas Hamam lalu duduk di tempat yang kosong.


"Kayla kamu bisa duduk di samping Arsyila ya, dideretan kedua". Tunjuk buk Desi.


"Baik buk". Kayla tersenyum ramah lalu berjalan ke arah tempat duduk Arsyila.


"Jadi sulit milih gue". Gian bergumam saat melihat Kayla dan Arsyila yang sudah duduk berdua dan sama-sama mengenakan hijab.


"Preeett kayak mereka mau aja dipilih sama lo!". Timpal Huda dan disambut tawa para siswa yang duduk disekitar bangku mereka.


"Huh!".


_


"Kaylaa ih aku gk nyangka kita satu sekolah".


"Hehe kk Haris kasih tau aku kalo kamu sekolah disini, makanya deh aku pindah". Balas Kayla .


"Eh seriusan???".


"Iya, abisnya temen aku di SMA sana pada ngebosenin".


"Lah aku kira kamu pesantren".


"Hehe emang, kelas 10 semester dua aku pindah ke SMA tapi bosen terus pindah lagi deh". Kayla cengiran.


"Dasar! awas ya kalo kamu pindah lagi".


"Hehe gk kok, kan aku sekolah ke sini biar ketemu kamu".


"Wah sosweet".


"Wkwk eh husst!!..Buk Guru udah mulai ntar ketahuan ngomong kena hukum lagi, masak iya baru masuk langsung kena hukum". Kayla berbisik.


"Hihi iyaya".


Mereka berdua pun mulai mengikuti pelajaran bersama.


~Setidaknya hari ini aku merasa masalah ku akan sedikit teristirahatkan.


...*****...


Sorry ya kemarin gk up soalnya lagi sibuk persiapan buat UTS double di kampus doain ya smoga urusan nana lancar..Aamiin


See you next chapterπŸ‘‹πŸ»πŸ”₯πŸ’“