
...Jangan lupa siapkan tisu dan popcorn karna ini adalah momen terharu saking bahagianya💓...
...Enjoy Reading💓🔥...
...*****...
Elusan lembut dikepalanya membangunkan Razan yang kini setengah tertidur..Siapa lagi kalo bukan Arsyila.
Razan membuka matanya dan refleks menghadap atas, nampak wajah manis Arsyila yang tengah tersenyum ke arahnya dalam posisi duduk.
"Syil udah bangun?!". Antusias Razan dan langsung duduk tegak.
"Udah, dari tadi.."
Razan berdiri lalu duduk di atas brangkar Arsyila dengan posisi berhadapan tak lain atas tuntunan hati nuraninya.
Perlahan tangan Arsyila naik ke atas kepalanya dan mengelus lembut surai hitam milik Razan dengan senyuman yang tak pernah pudar dari wajah cantiknya. Tanpa dipandu air mata Razan menintik begitu saja, meski ia dapat melihat Arsyila di depannya namun rasa rindu itu masih tersemat untuk Arsyila.
"Kenapa kk nangis? Kan kita udah ketemu?".
Ucap Arsyila yang tak dimengerti Razan..Ketemu? maksudnya?. Namun tanpa berfikir mulutnya langsung menjawab..
"Aku kangen Syil, aku gk mau kehilangan kamu". Razan terisak.
Arsyila menarik tubuh kekar Razan ke dalam pelukannya. Entah mengapa hati Razan rasanya pedih sekali, ia semakin menangis hebat.
"Maafin Syila ya kk, selama ini Syila udah banyak ngerepotin kk..Makasih juga karna udah mau jaga Syila yang cengeng, Syila yang manja dan selalu buat kk malu...Dan terakhir Syila minta sama kk, jangan tangisi Syila ya karna dimanapun Syila berada Syila akan tetap sayang sama kk. Kak Razan adalah cinta pertama dan terakhir untuk Syila, tetap bahagia ya......My baby boy".
Ucap Arsyila dengan tenang sambil mengelus punggung Razan dengan penuh kasih sayang.
Razan tak sanggup berkata-kata lagi, lidahnya terasa kelu.
Perlahan tangan Arsyila mulai bergerak lamban dan akhirnya berhenti membuat Razan seketika panik lalu memanggil Arsyila, karna tak mendapat sahutan Razan pun akhirnya melepas pelukannya untuk melihat wajah Arsyila.
Razan terkejut melihat mata Arsyila yang sudah tertutup dalam damai dengan senyum kecil yang masih menempel di wajahnya.
"Syiil..Syill!! SYIILLLL".
Ctak!
Razan ngos-ngosan...Ia ternyata baru saja bangun dari mimpi buruknya. Namun mengapa itu terasa nyata?? degup jantung Razan berdebar kencang.
Ya! saking asyiknya menatap foto Arsyila selepas mandi tadi, Razan sampai tak sadar jika dirinya terlelap mungkin karna tubuhnya terlalu lelah.
Dengan perasaan campur aduk Razan segera ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan menunaikan sholat isya karna jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, tak lupa ia juga mengqada' sholat magribnya yang terlewat.
Setelah selesai menunaikan kewajibannya, Razan segera turun ke lantai bawah. Bayangan wajah Arsyila masih jelas di memory kepalanya hingga perasaan gelisah itu muncul lagi.
"Eh Razan..Hampir aja mama mau manggil kamu". Sapa Jasmin kebetulan ia sedang berdiri di ruang tamu dan baru saja selesai bertelpon dengan seseorang.
"Gimana keadaan Arsyila ma??". Razan seperti orang yang linglung. Kepalanya juga sedikit pusing karna efek tidur dari sore-magrib tadi.
"Arsyila kritis.." Jawab Jasmin ragu-ragu.
Clooosss....
Hati Razan makin dibuat tak menentu.
Tanpa kata Razan langsung berlari keluar rumah dan segera memasuki mobilnya tanpa menghiraukan panggilan dari Jasmin.
Razan menyetir mobilnya dengan brutal, ia sampai tak fokus dengan jalan didepannya. Pandangannya pun terhalang oleh genangan air yang memenuhi pelupuk matanya. Tak da kata patuh aturan bagi Razan saat ini hingga lampu yang masih berwarna merah pun ia terobos.
Tak disangka...Dua buah mobil dari arah samping kiri menabrak mobilnya secara beruntun dan....
BRAAKKK
_______________
Kriinggg....Kriinngg...Kriiinngg
Suara deringan posel di tangan Jasmin mengalihkan atensi sang pemilik ponsel.
"Telpon dari siapa ma?".
Tanya Yana, mereka berdua hendak menuju pintu untuk menyusul Razan ke rumah sakit. Sedangkan Cakra masih berada diluar kota dan ia berencana untuk pulang besok sama seperti Radit.
"Dari bang Razan". Jawab Jasmin namun entah mengapa ia merasakan firasat buruk. Jasmin pun segera mengangkat panggilan di telponnya.
"Hallo apa ini dengan ibuk Jasmin??". Tanya seseorang dari seberang sana tanpa salam pembuka.
"Iya ini saya, tapi bukannya ini nomor anak saya??". Jasmin keheranan.
"Iya benar, anak ibuk kecelakaan dan saat ini sedang dilarikan ke rumah sakit, nama rumah sakitnya Arvaqie Hospital".
Pranng...
Ponsel Jasmin jatuh ke lantai mendengar berita tersebut...Tak jauh berbeda dengan Yana yang sedang berdiri mematung sambil menutup mulutnya tak percaya.
"Kita ke rumah sakit sekarang!". Jasmin berjalan cepat ke arah garasi untuk mengambil mobil diikuti Yana.
*****
Di Rumah Sakit...
Razan yang tadinya menghuni ruangan IGD kini dipindahkan ke ruangan ICU bukan karna kondisinya yang sudah stabil melainkan kondisinya yang terlanjur kritis.
Jasmin menangis tersedu-sedu di dalam pelukan putrinya.
Baik dari keluarga Arsyila maupun Razan sama-sama menunggu di luar karna letak ruangan Razan dan Arsyila yang bersebelahan.
Berita tentang Arsyila yang kritis sudah tersebar di media sosial bermula dari story Instagram Kayla dan genknya Razan yang meminta bantuan Do'a untuk kesembuhan Arsyia hingga banyak dari teman karib Arsyila yang tak berhalangan datang ke rumah sakit untuk menjenguk termasuk Intan dkk dan juga...Nia, tak perduli jika ini adalah area terbatas tamu.
Belum lagi berita baru tentang kecelakaan Razan kini sangat cepat menyebar apalagi tadi ia sempat masuk berita dan membuat gempar media sosial SMA Cakranegara bahkan sekolah yang lain ikut berapresiasi.
Andhika yang ikut memeriksa Razan di dalam tiba-tiba membuka pintu membuat Jasmin dan yang lainnya mendekat.
"Tante, Yana dan semua yang merasa sahabatnya Razan...Ikut saya masuk ke dalam". Ucap Andhika lalu kembali masuk.
Hampir semua yang mendengar permintaan Andhika itu berfikiran yang sama...Tanpa basa-basi mereka semua yang merasa terpanggil masuk ke dalam menemui Razan.
Nampak Razan yang tengah berusaha tersenyum melihat kedatangan mereka.
"Razan kamu sudah sadar? Apanya yang sakit sayang?". Serbu Jasmin dengan air mata yang masih mengalir deras dari pelupuk matanya.
Razan menggeleng lemah....
"Razan gk rasain sakit apa-apa ma". Jawab Razan terdengar sangat damai.
"Sen.." Panggil Razan pada Arsen lalu mendekte nama teman-temannya satu persatu seolah memberitahu mereka bahwa ia akan selalu mengingat nama-nama itu.
"Reza, Kinan, Rivan, Doni, Reno". Razan melihat wajah teman-temannya satu persatu.
"Makasih udah mau jadi temen-temen gue dan selalu support gue dari belakang, gue bangga punya temen hebat kayak kalian.." Razan tersenyum kecil.
"Lo becandanya gk seru Zan ah! belum aja hari kelulusan udah ucapin makasih-makasih segala". Gurau Arsen untuk menghibur dirinya sendiri sambil mengelap kasar air matanya yang menintik entah sejak kapan...
Razan tersenyum bercampur haru...
"Aldo, Chika, Dheva....Kalian harus tetep akur ya, meskipun nanti gue udah gk ada jangan sampai persahabatan kalian pecah. Makasih udah mau ngehibur gue dengan candaan konyol kalian dan makasih juga karna kalian udah mau nemenin gue sejauh ini".
Aldo mengangguk, ia sudah tak bisa berkata-kata lagi...Cukup air mata yang jarang sekali ditumpahkan itu kini sebagai bukti kesedihannya yang teramat dalam. Razan sudah ia anggap saudaranya sendiri. Saat ia sulit mengungkapkan kegundahannya hanya Razan satu-satunya tempat ternyaman untuk bercerita.
Dheva dan Chika saling peluk satu sama lain sambil menangis sesenggukan..
Razan lalu beralih menatap adik satu-satunya yang tengah menunduk dan menangis dalam diam..
"Yana..." Panggil Razan pada adiknya namun Yana enggan mengangkat kepala.
"Yana..Liat kk". Pinta Razan sekali lagi dan Yana pun mengangkat kepalanya, terlihat matanya yang sudah sembab karena menangis.
"Jaga kesehatan kamu ya, kalo nanti kk udah gk ada siapa yang bakal manjain kamu? mama juga, jangan sampai lalai ngurus Yana, dia adik kesayangan aku satu-satunya".
Yana makin terisak mendengar wasiat kk nya itu.
"Iya sayang mama janji".
"Oh ya ma. Sampai in salam Razan ke papa ya.... Bilangin, kalo kerja harus ingat waktu jangan sampai kayak Razan. Razan sayang kalian". Razan tersenyum di akhir kalimatnya...
"Iya, mama juga sayang kamu..Sangat".
Tak ada yang berbicara lagi, semua orang hanya sibuk menangis sambil mengingat kenangan bersama Razan di memory mereka masing-masing.
"Iyaa?". Jawab Andika dengan suara yang bergetar. Mata Andhika kembali berkaca-kaca.
"Gue boleh minta tolong?".
"Apa aja buat lo Zan...Gue bakal lakuin".
"Di atas meja gue ada kertas, lo ambil ya dan tolong bantu gue laksanain isinya".
"Pasti Zan". Jawab Andhika tanpa ragu meski ia tak tahu isi dari kertas yang dimaksud Razan.
Razan tersenyum lalu beralih menatap Jasmin.
"Ma...Bantu Razan lafalin Syahadat boleh?". Pinta Razan dan semakin membuat orang-orang yang ada disekitarnya menangis histeris...
"Boleh.."
Dengan masih menangis Jasmin mendekat ke arah telinga Razan lalu menuntun Razan melafalkan kalimat syahadat sampai selesai.
Tak lama Razan pun menutup matanya dengan penuh kedamaian membuat Andhika dan yang lainnya menghela nafas pasrah dan saling memeluk satu sama lain hingga menangis sesenggukan..
Razan sudah mengejar janjinya...
Andhika berjalan keluar ruangan berniat menyampaikan kabar mengharukan ini kepada keluarga Hera dan yang lainnya namun bersamaan dengan itu pintu dari ruangan Arsyila terbuka, nampak wajah Dokter yang sulit untuk digambarkan.
"Gimana keadaan putri saya Dok?". Tanya Hera harap-harap cemas.
Arsen dan teman-temannya keluar saat mendengar suara Hera yang agak heboh begitupun dengan Yana kecuali Jasmin dan perawat yang ada disana.
"Dokter! Kenapa diemm????". Hera masih menuntut. Terdengar helaan nafas dari sang Dokter.
"Kami sudah berusaha semampu kami, namun sayangnya tuhan menginginkan hal lain. Maaf anak ibuk tidak bisa kami selamatkan...."
Runtuh sudah pertahanan Hera, tangisnya pecah seketika itu dan langsung menyerobot masuk ke dalam ruangan Arsyila diikuti Kayla dan yang lainnya...
Adira pun begitu, ia bahkan merasa lebih Terpukul daripada orang-orang yang ada disekitarnya.
Padahal baru kemarin ia bisa merasakan kasih sayang Arsyila sebagai seorang kakak setelah sekian lama mereka hidup bagaikan orang asing.
Namun kini takdir berkata lain...Orang yang selalu nampak tegar di hadapannya kini sudah berbaring tak berdaya di atas brangkar, tangan yang selalu memberinya kehangatan kini sudah menjadi sedingin es.
Sekarang kasih sayang kedua orang tuanya akan menjadi milik Adira sepenuhnya, tidak ada lagi Arsyila... Tidak ada lagi keceriaan yang akan memenuhi rumah megah milik keluarga Radit Anderson.
Hera menatap putrinya lekat-lekat. Ia masih tak menyangka putri sulungnya akan pergi secepat ini. Rupanya kesempatan untuk berubah tidak ada lagi.
Andaikan Hera bisa memutar waktu ia ingin sekali menghabiskan harinya untuk mengobrol dengan Arsyila, melakukan banyak hal yang pernah tertunda. Namun sekarang, itu sudah mustahil. Bibir yang dulunya berwarna kemerahan kini sudah berubah pucat dan tertutup rapat.
~Memang benar seseorang akan sangat berarti jika mereka sudah tiada...~
Hera menangis sejadi-jadinya membuat Kayla tergerak untuk menenangkan meski ia sendiri masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. Rasanya kemarin saja ia bertemu dengan Arsyila dan langsung berteman baik namun rencana tuhan memang sulit ditebak.
Begitupun dengan Nia...
"Padahal gue belum minta maaf Syil, kenapa lo pergi secepat ini.." Gumam Nia dengan wajah sendu sambil menatap Arsyila untuk yang terakhir kalinya.
"Tante udah...Kasihan Arsyila, dia pasti ikut sedih.." Kayla mengusap-usap punggung Hera.
Tiba-Tiba Intan maju lalu mendekat ke arah Hera...
"Tante, ini surat dari Asyila. Dia titip ini satu bulan yang lalu...katanya suruh tunggu waktu yang tepat, dan mungkin hari ini adalah waktunya".
Hera mengambil surat tersebut dengan tangan yang bergetar lalu membuka isinya..
Teruntuk bunda ku tersayang💓
Bundaku tersayang...
Terima kasih ya udah mau jagain Arsyila sejauh ini..Maafin juga kalau Arsyila sering buat bunda kecewa.
Dari dulu bunda selalu ingin lihat Arsyila jadi yang terdepan dan Arsyila tahu itu semata-mata karena Bunda sayang banget sama Arsyila..
Oh ya, bunda lihat rapot Syila nanti ya! bunda pasti bangga walaupun Syila tahu kalau hasilnya nggak akan sebanding dengan Adira tapi Syila udah usaha keras loh Bun.. hehe.
Bunda jaga diri baik-baik ya see you💓
Arsyila sayang Bunda...
^^^Your Beloved Child^^^
^^^Arsyila💓^^^
Tubuh Hera melemas dan tak lama ia pun tumbang (Pingsan) dan segera dibopong keluar oleh Reno yang berada tepat di belakangnya.
Malam itu adalah malam mengharukan bagi semua warga rumah sakit karena meninggalnya sang pemimpin begitupun dengan media sosial yang langsung di buat gempar karena berita meninggalnya Prince dan Princess High School SMA Cakranegara sekaligus.....
Cakra yang melihat berita itu langsung memutuskan untuk pulang malam itu juga dan meninggalkan pekerjaannya begitupun dengan Radit, hatinya sangat hancur ia tak menyangka pertemuannya dengan Arsyila di bandara adalah pertemuan untuk yang terakhir kalinya dan air mata yang dikeluarkan Arsyila waktu itu adalah air mata perpisahan bukan perpisahan sementara melainkan untuk selamanya..
Di lain sisi...
Hari sudah berganti dan Aydan baru saja membuka sms yang dikirimkan Dhevan karna dari kemarin ia sangat sibuk membantu papanya di kantor. Ia pun sudah jarang bermain medsos semenjak perjodohan Arsyila memenuhi beranda instagramnya.
Matanya melebar melihat kabar Arsyila yang koma buru-buru ia memesan tiket untuk kembali ke Indonesia namun sialnya penerbangan yang semulanya jam 10 : 20 di undur menjadi jam 14 : 35 karna ada kendala hingga ia akan tiba di Indonesia sekitar jam 15 : 30 karna peberbangan dari singapore ke Indonesia menghabiskan waktu 1 Jaman.
Saat tiba di Indonesia, ia pun langsung bergegas ke rumah sakit yang diberitahukan Devan kemarin.
Aydan mengernyitkan dahi melihat rumah sakit yang sudah dipenuhi oleh jendela bernuansa putih dan hampir semua perawat dan Dokter mengenakan pakaian serba hitam khas orang yang akan pergi melayat.. Aydan keheranan dan langsung bertanya pada salah seorang suster yang lewat didepannya. Suster itu nampak terburu-buru.
"Sus ruangan pasien atas nama Arsyila dimana ya?". Tanya Aydan..
"Mohon maaf, apa yang anda maksud pasien yang meninggal tadi malam?".
"Maksudnya??".
"Tadi malam rumah sakit dihebohkan dengan meninggalnya tuan muda pemilik rumah sakit ini bersamaan dengan calon tunangannya yang bernama Arsyila...Tidak ada pasien dengan nama Arsyila selain itu".
Aydan terkulai lemas, hatinya benar-benar seperti disayat pisau yang tumpul...menusuk secara perlahan namun sakitnya pasti.
Dengan tubuh lemas Aydan pun pergi menuju kuburan Arsyila setelah mendapat informasi dari suster yang tadi. Sesampainya disana ia melihat satu persatu orang yang memakai baju serba hitam sudah pulang tersisa keluarga Arsyila dan Razan yang sedang menangis di atas dua gundukan tanah tersebut..
"Kenapa kalian tega ninggalin Yana ha? Yana gk punya kk lagii hiks". Yana sudah seperti orang gila memeluk batu nisan milik kk nya dan juga Arsyila secara bergantian, orang-orang yang ada disekitarnya semakin terharu.
Disana juga ada Nabila yang sedang digendong Ayahnya. Wajah Rusdi nampak segar tak lusuh seperti kemarin. Nabila memberontak untuk turun namun Rusdi menahannya.
Terlihat Andhika mengeluarkan kertas dari dalam saku celananya....
SURAT PERNYATAAN SEBAGAI DONOR GINJAL
Nama : Razan Farel Arvaqie
Dengan ini bersedia dengan tulus ikhlas tanpa ada paksaan pihak manapun dan ingin menyumbangkan salah satu organ ginjal saya pada :
Nama : Rusdiawan
Melihat itu Andhika kembali meneteskan air mata, bagaimana bisa ia ditinggalkan teman sebaik Razan...
Lain halnya dengan Aydan..
Ia mematung, lidahnya terasa kelu walau hanya sekedar berkata-kata. Segala kenangan yang pernah ia lalui bersama Arsyila terlintas bagaikan layar televisi di hadapannya hingga tak terasa air matanya tumpah begitu saja bersamaan dengan guyuran air hujan yang turun membasahi tubuhnya seolah ikut berduka atas kepergian satu-satunya gadis yang ia cintai.....
Itulah Cinta...Kadangkala kita harus mengikhlaskan orang yang kita cintai meski bukan bersama kita.
"Dan terkadang Tuhan membuat kisah hidup kita berjalan dengan seseorang hanya untuk sebagai teman di suatu masa. Tapi tidak sebagai pasangan selamanya"
"Merelakan bukan berarti menyerah, tapi menyadari bahwa ada hal yang tidak bisa dipaksakan."
^Semangat Aydan💓👑^
Arsyila ; Setidaknya aku bersyukur karna sempat melihat wajah pasanganku didunia dan semoga dia adalah jodohku nanti...
Razan ; Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya Arsyila👋🏻
____________
Untuk penggemarnya Aydan jangan sedih ya..Aydannya kan masih hidup😌
Razan dan Arsyila juga bersama...
Makasih buat kalian yang selalu support hehe. Gk nyangka bisa nemanin kalian sejauh ini, Love you all💕👑
...💕*********💕...