Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Bag 84 : Rasa yang Terluka



...Happy Reading...


...*****...


Sejak dinobatkan menjadi Princess High School beberapa hari yang lalu, Arsyila semakin fames disekolahnya. Bahkan murid cupu yang kerjaannya baca buku setiap harinya pun tidak ada yang tidak mengenal Arsyila.


Siang ini Arsyila bersama Kayla berjalan berdua menuju kantin sedangkan Intan dkk sudah lebih dulu pergi atas permintaan Arsyila, karna seperti biasa ia harus menyelesaikan target belajarnya baru ngantin.


"Arsyila.." Sapa siswi dari kelas lain sok ramah saat tak sengaja berpapasan dengan Arsyila. Arsyila hanya membalasnya dengan senyuman.


"Syil masa kata Hamam kita mirip si?". Tanya Kayla mengalihkan atensi Arsyila.


"Masa?". Tanya Arsyila pura-pura terkejut meski ia sudah tahu kebenaran fakta itu. Bukan satu atau dua orang yang mengklaim bahwa Kayla dan juga dirinya memang memiliki kemiripan bahkan seringkali mereka dikira bersaudara.


"Iya Syil, masa kamu gk ngerasa si?". Tanya Kayla.


"Mm gk tau". Jawab Arsyila lalu tersenyum garing.


Jangan lupakan penyebab hancurnya hubungan Arsyila dan Aydan karna apa🙃


"Hm". Gumam Kayla namun tiba-tiba perutnya seperti ada yang mengganjal.


"Syil..Kayaknya aku mau ke kamar mandi dulu deh". Ujar Kayla sambil cengiran.


"Oh ya udah, aku tungguin di kantin ya".


"Okey". Tanpa berlama-lama lagi Kayla langsung berlari kecil ke kamar mandi untuk menuntaskan panggilan alamnya.


Arsyila lalu melanjutkan langkahnya menuju kantin namun tiba-tiba sebuah tangan mencekal tangan miliknya yang tak lain berasal dari Sania. Tanpa kata ia pun menyeret tubuh Arsyila menuju lorong yang agak sepi.


"Dasar cewek centil!". Bentak Sania lalu mendorong tubuh Arsyila ke dinding.


"Aaawww". Ringis Arsyila.


"Gue udah gk tahan ya sama kelakuan lo! udah lama gue diemin tapi kayaknya lo makin ngelunjak".


"Maksud lo apaa?!!". Arsyila ikut ngejos, ia bukanlah Arsyila yang dulu. Mulai sekarang ia tidak boleh membiarkan orang lain menyakitinya dan ia tidak boleh terlihat lemah dihadapan siapapun.


Plakk


Tiba-Tiba Sania menampar wajahnya hingga menghadap samping.


"Udah berani lo ya?! semua cowok yang fames lo gebet, lo sengaja caper kan biar dapet popularitas??".


Mata Arsyila berapi-api, entah mengapa emosinya sangat cepat meningkat hingga membuatnya seperti orang yang ngos-ngosan.


"Lo ya kenapa gk bosen-bosennya cari masalah sama gue? kalo iri ya saingin bukannya main labrak. Lagian buat apa caper? lo tu yang caper sekolah kok kek tante-tante". Sindir Arsyila.


"Anj*". Sania hendak menamparnya kembali namun Arsyila dengan gesit menangkis serangan itu.


"Cuma cewek lemah yang membiarkan tubuhnya disakiti orang lain, dan gue gk termasuk". Ujar Arsyila dengan tajam lalu menghempas tangan milik Sania.


Ia pun berjalan di lorong dengan perasaan kesal, tamparan diwajahnya pun masih membekas. Sudahlah moodnya makan dikantin sudah hilang, ia berniat kembali ke kelas tidak perduli jika nanti Kayla mencarinya.


Namun bertepatan dengan itu, Razan yang baru keluar dari kantin bersama genk-genkannya pun melihat Arsyila. Ia mengernyitkan dahi melihat sebelah wajah Arsyila yang memerah meski menunduk namun bekas tamparan itu cukup jelas.


"Arsyila". Gumamnya lalu mengejar langkah Arsyila.


"Eh tuh bocah mau kemana??". Heran Chika.


"Syil! lo kenapa?". Razan menahan pergelangan tangan Arsyila hingga membuat langkahnya terpaksa berhenti. Ia pun berbalik menghadap Razan.


"Pipi lo kenapa???". Razan terkejut.


"Bukan urusan kamu! lepas". Tegas Arsyila lalu menarik kembali tangannya dari genggaman Razan, namun Razan kembali menahannya.


"Siapa bilang bukan urusan gue? jelas lo kenapa-napa gue yang tanggung jawab!".


"Tanggung jawab karna apa?? apa karna kamu ketua OSIS?? atau Prince disini? kamu gk ada hak buat tau urusan aku!". Arsyila dengan emosi yang berlipat ganda.


Semua murid yang tadinya berlalu lalang pun diam sejenak untuk menyaksikan drama siang ini.


Razan yang mendengar itu jadi terpancing emosi, sudah cukup Arsyila begini sekali-kali ia harus tegas agar hatinya tidak terlalu sakit.


"Gue berhak tau urusan lo bahkan tanpa jabatan. Gue kayak gini karna gue perduli sama lo tapi kenapa lo gk pernah hargain itu?? apa yang gue lakuin masih kurang?". Razan dengan wajah menahan emosi.


"Itu udah terlalu cukup dan melebihi batas kadar, kk Razan tau kan sesuatu yang berlebihan itu gk baik? kamu kira aku senang?? gk! aku risih tau gk".


Deg


Cukup sudah. Hati Razan hancur berkeping-keping. Ia tak menyangka jika orang yang selama ini diperjuangkannya mengatakan hal yang amat menyakitkan dari sebelumnya.


"Okey! fine kalo itu mau lo". Ujar Razan dengan sarat makna yang dalam lalu pergi dari hadapan Arsyila. Chika yang berdiri tak jauh dari sana pun menggeleng-gelengkan kepalanya, meski sekedar melihat namun ia sangat mengerti bagaimana sakitnya Razan.


Semua orang yang ada disana pun mulai berbisik membicarakan Arsyila.


"Oo gini ya kelakuan Princess High School".


"Panutan??? ini kah yang harus dipanut".


"Kasian kk Razan..."


"Lo udah keterlaluan Syil". Ujar Chika singkat lalu mengejar Razan diikuti Aldo dan Dheva.


Arsyila mematung, ia diam sejenak... Apa yang dilakukannya tadi salah? sepertinya tadi dirinya sedang dibawah kendali. Arsyila pun pergi menuju kelas untuk merenungkan kembali kesalahannya sambil menundukkan kepala menghindari tatapan murid yang menatapnya dengan pandangan yang berbeda-beda.


Dikelas Arsyila duduk sendirian, sepertinya Kayla masih di kantin menunggunya atau masih di kamar mandi? entahlah dia tak perduli. Ia pun kembali mengingat kejadian tadi.


"Aku kayaknya emang keterlaluan banget, gk seharusnya aku ngomong gitu sama kk Razan..Aku harus minta maaf". Ujar Arsyila yakin lalu keluar dari kelas untuk menemui Razan meski bel sudah berbunyi ia tak perduli.


Sesampainya di depan kelas Razan..


Nampak semua murid sudah berada di dalam kelas namun masih bermain-main sementara guru datang. Putri yang sedang menghapus papan pun dibuat menoleh saat dirasa ada bayangan seseorang didekat pintu.


"Arsyila? ngapain?". Bingung Putri lalu mendekat ke arah Arsyila.


"Siapa Put??". Tanya Kinan dari mejanya, namun Putri tak menjawab.


"Kamu ada perlu apa Syil?". Tanya Putri yang membuat Arsyila mendadak bisu tak tau harus menjawab apa.


Dheva yang penasaran pun ikut mendekat ke arah pintu.


"Arsyila?". Heran Dheva. "Lo ngapain disini??". Meski nada bicara Dheva biasa saja namun entah mengapa Arsyila merasa dimusuhi oleh teman-temannya Razan. Di waktu lain mungkin nada bicara itu terdengar biasa namun kali ini rasa bersalahnya membuat semua berbeda.


"Aku boleh ngomong sama kk Razan gk?". Tanya Arsyila ragu-ragu. Air muka Dheva langsung berubah, ia lalu melihat ke arah Razan yang sedang ditenangkan oleh Chika, Aldo dan teman-temannya yang lain. Solidaritas yang tinggi:)


"Maaf Syil.. Kali ini gue gk bisa bantuin lo kayaknya Razan lagi gk bisa diganggu". Dheva yang hatinya memang lembut jelas tak ikut menjudge Arsyila. Baginya posisi tengah-tengah lebih baik.


"Syil tinggal bentar kelas XII mau ujian, lebih baik biarin Razan fokus sama pelajarannya dulu, dari kemarin fokusnya terganggu sama lo makasih ya udah buat dia sadar gue sebagai temennya bener-bener berterimakasih banget sama lo". Ucap Putri sambil tersenyum, senyum yang bermakan buruk bagi Arsyila lalu setelahnya kembali ke bangkunya.


"Maaf Syil". Ucap Dheva lalu ikut menyusul Putri.


Arsyila sungguh merasa menyesal, sepertinya ia memang sudah tidak bisa dimaafkan. Ia pun kembali ke lantai dua dengan langkah gontai menuju kelasnya.


"Syiill!!! disini kamu ternyata, dari tadi dicariin". Serbu Kayla ia masih belum tau apa yang sedang terjadi.


Arsyila tak menjawab ia hanya melangkah dengan perasaan campur aduk. Namun tiba-tiba...


"Kamu kenapa Syil???". Tanya Kayla sedikit bingung saat melihat Arsyila yang sepertinya kesulitan bernafas lalu setelahnya mencengkram dadanya kuat.


"A-A'.."


"Buk! bantuin temen sy". Teriak Kayla saat melihat salah seorang guru perempuan yang baru saja tiba di tangga pertama.


"Dia kenapa??". Tanya guru tersebut saat sudah mendekat ke arah mereka.


"Kayaknya dia kambuh buk".


"Cepat panggil temen kamu yang lain, ibuk panggilkan dokter khusus sekolah dulu". Ujarnya.


Kayla pun bergerak cepat memanggil anak kelas Agama I yang letaknya paling dekat dari sana. Dan tak lama ia pun kembali bersama beberapa orang siswi dan segera membawa Arsyila ke UKS.


________________


"Masih sakit?". Tanya Kayla saat Arsyila baru saja selesai diperiksa. Arsyila hanya mengangguk lemah, badannya masih terasa pegal.


Tiba-Tiba Razan datang dari arah pintu dan langsung menghampiri mereka, melihat itu Kayla memberikan ruang untuk Razan dengan cara membiarkan mereka berdua sedangkan dirinya menunggu di luar.


"Kak Razaan..." Gumam Arsyila lalu mengambil posisi duduk.


"Kenapa lo bisa kambuh?". Tanya Razan dingin, tak seperti biasanya.


"Maaf.." Arsyila menunduk.


"Obat lo mana?".


Arsyila menunjuk nakas disampingnya dengan dagu, rasanya tangannya masih lemas untuk digerakkan. Razan pun mengambil pil yang ada didalam botol itu hingga membuat mata Arsyila melotot.


"K-Kak Razan...Gk nyuruh aku makan semua pilnya kan?". Tanya Arsyila ragu-ragu mengingat ancaman Razan beberapa hari yang lalu.


"Gk". Jawab Razan datar. "Minum!". Titahnya dan langsung dituruti Arsyila.


"Paiiit". Arsyila hampir mengeluarkan pil itu kembali namun Razan dengan sigap menyosor mulut Arsyila dengan air gelas yang sudah tersedia di atas nakas.


"Lain kali nurut kalo dikasih tau". Sindir Razan dan Arsyila hanya menunduk tak berani menatap manik mata Razan yang mendadak tajam.


"Gue udah berusaha buat gk perduli sama lo, tapi maaf gue belum bisa". Ujar Razan lalu berbalik dan segera pergi dari hadapan Arsyila.


"Kak Razan..." Panggil Arsyila membuat langkah Razan berhenti namun tanpa menoleh ke arahnya. "Maaf.." Sambung Arsyila.


"Pulang sekolah, tunggu gue diparkiran". Perintah Razan lalu keluar dari ruangan tersebut.


"Pasti aku mau dimarahin". Gumam Arsyila yang sudah lebih dulu overthingking.


"Syil tadi bang Razan ngapain?". Tanya Kayla saat kembali masuk ke dalam ruangan yang ditempatinya.


"Cuma nyuruh minum obat". Jawab Arsyila seadanya.


"Ooo".


___________


Suasana di mobil sangat hening. Baik Arsyila maupun Razan sama-sama diam tak ada yang membuka suara.


Ya! seperti yang diperintahkan Razan tadi Arsyila benar-benar menunggu Razan diparkiran dan berakhir pulang bersama.


Beberapa menit setelah mobil dijalankan mereka tetap diam. Namun karna merasa jenuh disertai rasa bersalah yang masih mengganjal dihati Arsyila ia pun jadi berani menyapa Razan terlebih dahulu.


"Kak..."


Razan hanya diam.


"Yana mana? kenapa dia gk pulang bareng kita?". Arsyila lebih dulu nenuntaskan kebingungannya. Bukankah seharusnya Yana akan pulang bersama Razan?.


"Gk masuk". Jawab Razan singkat.


"Oooh..Mm sakit?".


"Hm".


Hening.


Arsyila tak boleh lama-lama dalam situasi ini, bagaimanapun juga ia telah melakukan kesalahan dan sepatutnya meminta maaf.


"Kak Razan..Masalah yang tadi-".


"Gk usah dibahas". Potong Razan cepat.


"Tapi kk...Aku bener-bener nyesel, aku tadi cuma kepancing emosi jadi gk sengaja lampiasinnya ke kk Razan. Kak Razan, apa yang aku bilang tadi gk bener kok..Aku gk pernah risih sama kk. Aku cuma gk mau kalo orang lain sampe ngira aku beban lah...Caper".


Belum sampai Arsyila selesai bicara Razan sudah menghentikan mobilnya ditepian jalan. Pandangan Razan lurus menghadap depan, entah Arsyila jadi semakin dibuat bingung.


"Siapa yang jahatin lo?!". Tanya Razan datar.


Arsyila terkejut, bagaimana bisa Razan mendapat kesimpulan secepat itu.


~Aku harus jawab apa?


Arsyila membatin. Tidak mungkin ia jujur, bisa-bisa Razan akan mengeluarkan Sania dari sekolah mereka. Cukup Angel saja, Arsyila tak ingin ada siswi lain lagi yang dikeluarkan dari SMA favorite milik Razan bisa-bisa angka pengangguran akan meningkat🗿.


Melihat keterdiaman Arsyila, Razan tersenyum miring.


"Biar gue yang cari tau sendiri". Ujarnya singkat lalu hendak menyalakan mobilnya.


"Kak...Please jangan. Aku udah maafin orang itu, kk Razan jangan cari tau. Aku gk mau ada yang di sepak dari sekolah cuma gara-gara hal sepele". Balas Arsyila membuat pergerakan Razan berhenti.


"Sepele? apapun yang menyangkut tentang lo, gk ada yang sepele". Tegas Razan lalu menjalankan mobilnya.


Arsyila mematung..Ia masih belum conect dengan maksud perkataan Razan tadi. Lalu sebuah pertanyaan muncul dibenaknya.


"Kak Razan kenapa seperduli itu sama aku?". Tanya Arsyila menatap Razan yang hanya fokus menatap jalan.


~Karna gue sayang, gue cinta sama lo.


Razan membatin, namun tak ia utarakan. Baginya belum saatnya Arsyila mengetahui tentang perasaan ini, ia tak ingin jika nanti Arsyila tak menerima dan malah menjauhinya hingga akhirnya sama-sama canggung.


"Kak..." Panggil Arsyila lagi namun Razan hanya diam.


"Tadi malem Ayah nelpon, katanya minggu besok aku bakal pindah ke luar negri buat nemenin papa disana.. Kak Razan jangan khawatir, aku bakal baik-baik aja kok disana dan juga.. Beban kk Razan akan berkurang". Beritahu Arsyila dengan wajah sendu. Ia tidak berbohong, memang tadi malam Radit menelponnya dan mengatakan hal tersebut.


Raut muka Razan seketika berubah, meski dari samping namun Arsyila dapat melihat itu.


Tanpa kata Razan langsung meraih ponselnya dan mencari kontak Radit, satu panggilan lolos namun Razan tak menyerah hingga akhirnya tersambung pada panggilan kedua.


Arsyila melongo, apa yang Razan lakukan pikirnya. Entah mereka berbicara apa Arsyila tak mengerti namun yang pasti Radit terdengar menyetujui permintaan Razan. Dan tak lama sambungan pun terputus.


"Lo gk akan kemana-mana". Ujar Razan lalu menyimpan kembali ponselnya tanpa memperdulikan komuk Arsyila.


"Kak Razan, i miss you". Ujar Arsyila, entah bagaiamana bisa kalimat itu lolos begitu saja dari mulutnya.


Razan diam..Namun tak bisa dipungkiri senyuman kecil diam-diam terbit dari mulutnya.


~Gue gk tau lo beneran tulus ngucapin itu Syil, atau hanya buat ngebujuk gue. Tapi yang pasti gue seneng...


...*****...


Senyum-Senyum kan lo😏


Jangan seneng dulu part selanjutnya gue bikin mewek, fans Razan dan Aydan siap2!


Canda guys canda....Aku tidak sejahat itu😬