Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Bag 35 : Ku ceritakan sebagian kisah pahit itu.



...Pengalaman mengajarkanku bahwa didikan yang terlalu keras dimasa kecil akan sangat berdampak pada mental seorang anak ketika ia sudah tumbuh dewasa, salah satunya adalah - TRAUMA....


...~Aryila Audhiva Janea...


...*****...


Langit disore hari ini sedang diselimuti awan tebal hingga membuat gadis yang sedang duduk termenung dibawah naungan pohon besar sambil memandangi damainya air sungai itu merasakan sedikit ketenangan.


Sekelebat bayangan yang sering menggangu pikirannya tiba-tiba kembali menghampiri.


~


"Bun...Syila gk mau nonton kartun". Rengek seorang bocah yang masih berusia 7 tahun itu.


"Syila jangan cerewet! nanti bunda kurung kayak kemarin mau?!". Tegas Wanita yang nampak masih terlihat muda itu sambil memegang kepalanya yang berdenyut dengan kedua tangannya.


Arsyila kecil tetap mengikuti egonya karna memang itu adalah qodratnya seperti..Ingin diperhatikan, jika tidak ia akan tetap merengek.


"Syila gk suka nonton wayang itu...Syila mau kartun!". Rengek bocah itu sambil menarik-narik pakaian bundanya yang kusut dengan tangan mungilnya.


Hera yang merasakan kepalanya semakin berdenyut ditambah lagi Arsyila kecil yang keras kepala membuat emosinya makin naik.


"Sini kamu!". Dengan kasar Hera menarik tangan Arsyila dan menyeretnya menuju sebuah ruangan kosong didalam rumahnya.


"Maafin Syila bund..Syila gk mau disana, Syila takut hiks". Arsyila meronta mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Hera yang lebih besar darinya. Namun tetap saja tak bisa, tenaganya tak sebanding.


Hera tak perduli, ia kemudian membuka pintu ruangan yang hampa nan gelap itu yang hanya dihuni oleh sebuah sofa yang tak terpakai dan memasukkan Arsyila ke dalam sana.


DAR!


Pintu ditutupnya keras dan dikunci dari luar.


"Bun..Buka! Syila takuuut". Arsyila terus menggedor-gedor pintu itu dengan keras hingga tangan mungilnya memerah yang warnanya disamarkan kegelapan.


Merasa percuma Arsyila akhirnya pasrah lalu menyandarkan tubuhnya di dinding dekat pintu sambil terus tersisak.


"Bunda jahat hiks". Ujarnya dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti. Arsyila kemudian melihat sekitar dan pandangannya tak sengaja tertuju pada bayangan yang terpantul ke arah kursi sofa dari celah ventilasi yang kecil itu..Semakin ia perhatikan bayangan itu semakin jelas membuat imaginasi kanak-kanaknya makin liar.


"Aaa monster". Teriaknya kemudian menelungkupkan kepalanya kedalam lipatan tangannya yang ditumpu oleh kakinya dengan kondisi tubuh yang sudah basah dengan keringat.


Sayup-sayup ia mendengar suara gaduh dari arah luar seperti suara orang yang sedang bertengkar.


"Aku mau nikah sama dia!". Teriak seseorang laki-laki dari seberang sana lewat volume telpon yang diperbesar.


"Mas sadar! kamu diguna-guna..Aku istri kamu, dia itu asisten kamu! dia udah tua!!".


"Apa kamu bilang?! jangan pernah berani hina dia!, pokoknya kamu harus setuju dengan keputusan saya atau saya akan tetap menikah disini!".


"Mas pulang! inget sama komitmen yang kamu buat kenapa kamu tega berkhianat". Suara wanita itu sudah mulai serak dan air matanya pun ikut mengucur deras.


"Saya tidak perduli!".


"Okey!". Terdengar helaan nafas yang berat dari wanita itu.


"Kalau kamu masih bersi keras untuk menikahi dia dan dalam dua minggu ini kamu tidak pulang ke Indonesia..Kita cerai !".


TUT..


Telpon dimatikannya sepihak.


"Bundaa". Bengong Arsyila kecil menegakkan kepalanya kembali ketika mendengar suara yang tersaring jelas ditelinganya itu.


Suara langkah kaki mulai mendekat ke arah pintu ruangan tempat Arsyila berada, dan perlahan pintu itu mulai dibuka menampakkan Hera yang sedang menahan isakan tangisnya dengan mata yang sudah sembab.


"Bunda.." Panggil Arsyila dengan suara kecil.


Tanpa aba-aba Hera menarik pelan Arsyila dan menggendongnya seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya.


"Bunda kenapa?". Tanya Arsyila kecil dibalik pundak Hera. Hera hanya diam sambil terus terisak kecil.


~


Belum sempat ingatan itu menyelesaikan episodenya.. Ingatan lain menghampiri Arsyila kembali.


~


"Kamu ya kecil-kecil udah berani lawan orang tua!", kalo dibilangin tu nurut!".


"Bunda jangan!". Rengek Arsyila pada bundanya.


"Kamu harus dikasi pelajaran, sini!".


Byurrrr


Suara air disiram ke tubuh mungil gadis kecil itu dengan masih memakai pakaian bermainnya.


Pak de Rahmat yang rumahnya terletak di samping rumah Hera mendengar keributan itu karna pada saat itu rumah mereka belum terhalang tembok jadi suara Hera sangat jelas dari rumahnya. Ia kemudian menghampiri Hera, nampak jelas raut terkejutnya kala melihat Hera yang sedang berada dikamar mandi sedang merendam Arsyila didalam pemandian kecil.


"Astaghfirullah Hera.. Sudah! Arsyila masih kecil!". Pak de Rahmat memohon.


"Tapi ini anak harus dikasih pelajaran!". Ujar nya sambil terus mengguyur Arsyila.


"Hera Istigfar! ini hanya masalah kecil.. Jangan sampai kamu melampiaskan masalahmu pada anakmu! Arsyila masih kecil".


"Arsyila..Jangan masukin hati perbuatan bunda kamu tadi ya, bunda kamu cuma mau nenangin diri..Jadi jangan buat bunda marah ya".


Arsyila yang tidak mengerti hanya mengangguk patuh.


"Pak de ambilin handuk dulu ya".


~


Ingatan masa lalu itu terus terbayang dalam ingatan Arsyila. Perlahan air matanya mengalir pelan tanpa henti seiring memory pahit itu berputar.


"Kenapa harus aku?". Tangisnya makin menjadi, mencoba menepis ingatan itu namun tak bisa..Bayangannya makin nampak jelas. Walaupun kejadian itu sudah lama dan bahkan keadaan sudah baik-baik saja namun mengapa Arsyila baru mengingat kenangan itu sekarang?, bahkan dulu saat masih sekolah dasar ia tak terlalu memperdulikannya karna Hera sudah menjelaskannya pada Arsyila dan Arsyila pun memaklumi itu di saat dirinya sudah mulai memahami arti kehidupan di usia yang tak seharusnya anak-anak pada umumnya dapat memahami hal itu..


-Memang benar..Dewasa itu bukan tentang usia, namun tentang bagaimana kamu harus menyesuaikan diri dengan terpaksa.-


Tapi sekarang malah sebaliknya, ingatan itu justru menerobos datang tanpa diminta.


"Arsyila".


Aydan tiba-tiba datang dari arah belakang.


"Tadii aku cariin kerumah tapi kata tante Hera kamu pergi, untung aja ada google maps hehe". Ujar Aydan sambil terus melangkah ke arah Arsyila yang masih membelakanginya.


"Ck kok kamu ngacang-


"Arsyila..kamu kenapa?". Kaget Aydan yang sudah mengambil posisi setengah duduk disamping Arsyila.


"Arsyila kamu kenapa nangis?".. Tanya Aydan sangat lembut. Ingin rasanya menenangkan Arsyila dalam dekapannya namun itu tak mungkin karna Arsyila tentu tak menyukai itu.


Arsyila masih terisak, pandangannya masih lurus menghadap genangan air sungai yang damai itu namun pikirannya entah meracau kemana.


"Syila..Please jangan nangis, aku gk bisa liat kamu kek gini". Aydan jadi panik sendiri dibuatnya. Sungguh, ia tak bisa melihat perempuan menangis apalagi itu Arsyila tentu saja jiwa laki-lakinya meronta.


"Sayang.."


"Aydan..Aku pengen mati hiks". Ujar Arsyila tiba-tiba saat baru menolehkan kepalanya menghadap Aydan. Aydan yang mendengar itu jadi syok, perasaannya jadi tidak karuan.


"Kamu ngomong apa si?". Ujar Aydan dengan wajah khawatir.


"Aku capek Dan.." Ujarnya lagi dengan air mata yang terus mengucur.


"Astaghfirullah kamu gk boleh gitu, emang kamu mau liat aku setres kalo kamu tinggalin?". Tanya Aydan sedikit bergurau agar Arsyila bisa stabil kembali. Untuk saat ini ia harus lebih bersikap dewasa dari Arsyila.


"Tapi semua orang jahat!". Arsyila terus menangis sampai memejamkan matanya menuntaskan air mata yang mengaburkan penglihatannya.


"Arsyila sayang..Liat aku sini". Pinta Aydan lembut sambil mengarahkan kepala Arsyila yang tertutup hijab dengan kedua tangannya untuk menghadapnya. Arsyila perlahan membuka matanya.


"Dengerin aku..Gk ada orang yang gk punya masalah, semua orang pasti punya..Tapi mereka mampu untuk bertahan karna mereka yakin mereka gk sendiri..Mereka yakin masih banyak orang yang lebih menderita dibandingkan mereka sendiri, masak iya sekarang kamu mau ngeluh gitu aja hm?. Aydan mencoba menenangkan.


"Hiks". Arsyila menangis tanpa menjawab.


"Cup cup..Udah gk usah nangis, inget setiap kamu sedih aku selalu ada buat kamu". Ujar Aydan sembari mengelus pelan kepala yang tertutup hijab itu dengan sebelah tangannya yang sengaja tak diturunkan.


"Kamu janji yaaa.." Pinta Arsyila dengan sedikit mendongak karna Aydan masih dalam posisi setengah duduk..Persis seperti anak kecil yang sedang dibujuk Ayahnya.


"Iya sayang..Udah dong jangan nangis, aku gk bisa...Aku peluk mau?". Tanya Aydan seperti mengancam. Arsyila spontan menggeleng, ia kemudian mengelap paksa air matanya dengan tangannya agar berhenti mengalir.


"Haha nah gitu dong, ini baru cewek gw". Ujar Aydan bangga. Ia kemudian teringat dengan sapu tangan yang masih berada disaku jaketnya yang lupa ia keluarkan sebagai persiapan saat mengajak Arsyila jalan-jalan minggu lalu.


"Eh lupa". Ujarnya kemudian mengeluarkan sapu tangan tersebut dan membantu Arsyila mengelap air matanya.


"Nih lap sendiri, ingusnya tu keluar". Ledek Aydan niat bercanda.


"Iih Aydan malu". Arsyila memukul pelan lengan kekar Aydan karna salting sambil mengambil alih sapu tangan tersebut dari tangan Aydan.


"Haha hadeh..Gemesh banget sih". Keluarlah sifat buayanya.


"Sekarang udah tenang kan?". Tanya Aydan.


"Makasih ya Dan". Ujar Arsyila sambil tersenyum.


"I'm always there for you and always want to see you happy". Ujar Aydan tersenyum simpul, meronalah pipi si Arsyila sekarang😂.


"Ya udah yuk sekarang kita pulang..Ntar ada buaya yang naik loh". Ujar Aydan melihat sungai didepan Arsyila.


"Mana ada..Kan buayanya kamu hahaha". Ledek Arsyila.


"Ih dasar! haha". Aydan jadi ikut tertawa dibuatnya.


"Yuk ah ini dah mau magrib ntar bunda nyariin loh". Ujar Aydan melihat langit yang akan berwarna orange.


"Yuk!". Ajak Arsyila lebih semangat.


Dan Jadilah mereka pulang bersama dalam keadaan yang ceria.


Namun tidak dengan seseorang yang sedari tadi memantau mereka dengan perasaan yang entah sulit untuk digambarkan..


"Harusnya gw yang ada disana buat ngehapus air mata itu.." Gumamnya sendu.


...*****...


Hello para pacar Virtual❤😁..Maaf ya kemarin gk up, Mikirin alur soalnya hehe biar kalian gk kecewa, alur aja gue pikirin apalagi yang baca😌..Jangan lupa kasih semangat dong.. Setidaknya Like dan komen💌