Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Bag 65 : Antara Cinta dan Ketulusan



...Rasanya ingin menyerah saja....


...Tapi aku ingat, ini sudah setengah jalan....


...~Razan F.A...


..._____...


...Happy Reading💓🔥...


...*****...


Ceklek


Pintu kamar Aydan terbuka bertepatan dengan Aydan yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Aydan sedikit syok lantas menyampirkan handuk kecil yang tadi ia pakai untuk mengeringkan rambutnya yang basah di pintu lemarinya.


Ia lalu berjalan ke arah dinding dan menarik cetakan foto yang terpajang dengan ukuran besar itu lalu merobeknya dan membuangnya ke tong sampah.


"Oh pantes kamar lo mendadak privat". Cibir Devan melihat poto gadis yang tak lain adalah "Tiara" mantan Aydan dulu. Gambar yang dia ambil saat lomba basket di sekolah Tiara tanpa sepengetahuan "Tiara". Ya! foto gadis yang Arsyila lihat saat video call dengan Aydan waktu itu adalah "Tiara".


"Udah Van..Jangan lagi". Alzam memperingati.


"Ngapain lo pada ke sini?". Tanya Aydan dengan nada pedas.


"Kita sih gk mau tapi terpaksa". Jawab Devan santai lalu duduk di kursi belajar Aydan.


"Oh".


Alzam yang melihat mereka seperti itu berdecak sambil menghela nafas panjang.


"Kita ke sini mau manggil lo karna Arsyila". Alzam menjelaskan dengan kepala dingin.


"Arsyila?". Beo Aydan dengan wajah heran.


"Iya, dia tadi nyariin lo. Lo beruntung karna Arsyila lupa sama kejadian tadi pagi".


Aydan diam sejenak sambil berfikir keras.


"Maksud lo...? Amnesia?". Aydan menebak.


"Yaaa kayak gitu deh, buru siap-siap Arsyila gk mau makan kalo lo belum datang".


Adu Alzam yang membuat hati Aydan semakin di hujam rasa bersalah. Tidak tahu saja Alzam jika Arsyila sedang menghabiskan banyak makanan di rumah sakit saat ini.


Aydan menggeleng lemas.


"Gk, gue gk bisa". Jawab Aydan lalu duduk di tepian kasur.


"Kenapa? apa perasaan lo udah beneran ilang? lo gk inget perjuangan lo dulu buat dapetin dia dan sekarang lo mau sia-siain gitu aja??".


Devan tak habis pikir. Namun Aydan menggeleng, menolak perkataan Devan tadi.


"Gue cuma malu ketemu sama dia, gue terlalu banyak nyakitin dia".


"Dia bakal lebih sakit hati lagi kalo lo gk mau temuin dia".


Aydan berfikir sejenak.


"Gue mau siap-siap, kalian tunggu di luar".


Ujar Aydan finish. Devan dan Alzam bernafas lega lalu beranjak keluar dari ruangan Aydan.


____________


Kini Razan sudah selesai menuntaskan panggilan alamnya dan akan kembali ke ruangan Arsyila, namun saat sudah tiba di depan ruangan Arsyila Razan menemukan Devan, Alzam, Intan dan Dheva berdiri mematung di sana tanpa ada yang bersuara seolah mereka seperti orang-orang yang tak saling mengenal.


"Kok kalian di luar? bukannya gue tadi nyuruh jagain Arsyila?". Heran Razan.


"Ada Aydan di dalem". Balas Dheva.


"Oo gitu". Razan tak terlalu mempermasalahkan. "Aldo sama Chika mana?".


"Biasaaa...Masalah rumah tangga".


"Hm". Razan bergumam lalu menengok jam tangannya yang sudah menunjukkan jam 5 lebih 42 menit.


"Kayaknya gue harus pulang".


"Gk mau nungguin Arsyila bang?". Tanya Devan.


"Gk perlu, kan udah ada Aydan". Razan tersenyum kecut. "Kalo gitu gue duluan assalamu'alaikum". Ujar Razan lalu pergi dari hadapan mereka dengan hati kecewa.


"Kasian Razan". Gumam Dheva yang dapat di dengar oleh orang sekitarnya.


"Gue malah kagum sama perjuangan bang Razan, di saat pepatah mengatakan ada saatnya manusia akan merasa lelah dia justru berjuang tanpa kata menyerah". Sahut Alzam.


"Mungkin belum saatnya". Balas Dheva.


Devan yang melihat interaksi Dheva dan Alzam sedikit merasa cemburu namun ia segera menepis rasa itu karna ia cukup sadar diri, ia dan Dheva sangat jauh berbeda dan tidak akan pernah sejalan.


"Tan, lo gk pulang? ntar bokap lo nyariin". Devan berbicara pada Intan.


"Siapa yang perduli Van". Intan cengiran namun terlihat menyedihkan dimata Devan.


Intan dan Devan memiliki banyak kesamaan salah satunya tentang keluarga. Jika Devan merupakan anak Broken Home maka Intan juga sama namun bedanya Intan tinggal dengan ayahnya yang merupakan orang kaya raya namun tidak terlalu memperdulikan keseharian Intan karna terlalu sibuk dengan pekerjaannya.


Ayahnya jarang sekali pulang ke rumah dan ia hanya di temani para pembantu rumah tangga hingga Intan pun merasa hidup sendirian tak ada bedanya dengan anak yatim diluaran sana.


Menurut ayah Intan sendiri, asalkan kiriman bulanannya lancar maka Intan akan merasa bahagia namun kebanyakan orang tua lupa, selain materi anak juga butuh terhadap kasih sayang untuk memenuhi kebutuhan rohani mereka.


"Gue anterin ya? tinggal bentar magrib, gk bagus cewek keluyuran seginian". Peringat Devan.


"Mmmm..". Intan menoleh ragu-ragu ke arah Dheva yang sedang menatapnya kesal.


"Ck. Ayoook! gk usah perduliin siapa-siapa". Sindir Devan melihat ekspresi yang ditunjukkan Dheva lalu menarik tangan Intan untuk segera pergi dari sana.


Perasaan Dheva jadi tak karuan, hatinya sungguh sakit melihat Devan yang malah memilih Intan daripada dirinya.


"Lo juga harus pulang, ayok gue anterin".


Dheva menggeleng, air matanya hampir saja menetes.


"Lo jangan sedih, setiap manusia punya bagian masing-masing". Nasehat Alzam yang tumben-tumbenannya cosplay jadi ustadz.


"Gue gk sedih, gue cuma kesel sama diri gue sendiri karna udah jatuh cinta sama dia padahal jelas-jelas gue tau endingnya kalo gue gk bakal bisa sama dia". Genangan air mata yang sejak tadi tertahan menintik begitu saja.


"Udah..Itu semua bukan salah lo, cinta dan benci emang udah qodrat manusia". Alzam kembali memberikan kata-kata menenangkan lalu mengusap air mata itu membuat hati Dheva sedikit membaik.


"Kita pulang ya". Seru Alzam sekali lagi, Dheva mengangguk lalu berkata..


"Tapi papa gk marah kan gue pulang seginian? gue takut..." Adu Dheva.


"Tenang aja, biar gue yang bicara sama om Kevin".


Dheva tersenyum kecil lalu menerima ajakan Alzam untuk pulang bersamanya.


Tinggal lah sekarang dua orang yang sedang berada di dalam ruangan serba putih itu yang tak lain adalah Aydan dan Arsyila.


"Kamu masih marah ya sama aku??". Tanya Arsyila pada Aydan dengan wajah lesu lalu menundukkan kepalanya.."Maaf".


Aydan menggeleng.


"Aku yang harusnya minta maaf, aku sering ngasarin kamu".


"Kapan?? aku kan yang sering ngambek gk jelas dan lakuin hal yang buat kamu salah faham".


"Jangan di ungkit, nyesek gue ingetnya". Aydan melihat ke arah lain.


"Tuh kan kamu masih marah.."


Arsyila lalu berjalan merangkak ke arah Aydan yang sedang duduk di pinggiran brangkar kemudian duduk di samping Aydan dengan melipat kedua lututnya ke bawah (seperti duduk orang yang sholat) dan menyampingkan badannya menghadap Aydan.


Toet, Toet


Arsyila menarik narik pelan lengan kaos yang di kenakan Aydan seperti anak kecil yang menginginkan sesuatu.


"Maaf.." Arsyila memelas namun Aydan sama sekali tidak menggubrisnya.


Arsyila menghela nafasnya perlahan lalu mulai menjelaskan kejadian yang sebenarnya..


"Waktu itu aku gk tau kenapa bisa tiba-tiba ngelakuin hal itu. Yang aku Inget waktu itu aku hampir nyiram bu'de pake air panas". Aydan langsung menoleh ke arah Arsyila dengan wajah terkejut. Namun Arsyila tetap lanjut menjelaskan.


"Terus kk Razan datang dan langsung buang cerek yang aku pegang..Aku gk tau ngelampiasinnya kek gimana sampai-


Tiba-Tiba Aydan memeluk Arsyila membuat ceritanya terpotong. Arsyila terkejut sampai matanya melebar.


"Gue minta maaf". Pinta Aydan dari balik punggung Arsyila.


"Aydan gk boleeehh..."


Arsyila mencoba lepas dari dekapan Aydan.


(Mm kalo cowok yang duluan meluk cewek itu gk murahan ya ges? emang sih cowok selalu benar).


Aydan lalu melepaskan pelukannya.


"Maaf gw kelepasan". Ujar Aydan merasa tak enak, ia seringkali tak bisa mengontrol perasaannya hingga membuat ia melakukan hal di luar dugaan. Arsyila hanya diam menatapnya.


"Mm aku minta maaf". Ujar Aydan sekali lagi.


"Kan yang salah aku.."


"Kenapa? gk papa, kamu jujur aja aku gk marah kok". Pinta Arsyila lembut walaupun sebenarnya ia sudah tau jawabannya. Aydan pun semakin di rundung rasa bersalah.


"Jenuh". Satu kata yang cukup untuk menggambarkan semuanya.


"Maaf...Tapi itu kemarin, sekarang perasaan aku udah balik lagi". Aydan lalu mengangkat kepalanya menatap Arsyila. Arsyila hanya membalasnya dengan senyuman kecil, walaupun begitu Aydan bisa melihat ada ketulusan di sana.


"Aku ngerti kok, kan aku udah bilang sebelumnya kalau hati manusia berbolak-balik..Kamu sii percaya diri banget".


Arsyila cekikikan namun membuat Aydan merasa sangat malu.


"Hm". Aydan kembali menundukkan kepalanya.


Dengan perlahan tangan Arsyila tergerak untuk mencapai puncak kepala Aydan membuat Aydan kembali menatapanya. Ia lalu mengelus pelan rambut lebat milik Aydan sambil tersenyum hangat. Aydan hanya diam memperhatikan tingkah Arsyila sambil berfikir.. Mengapa bisa Arsyila sesabar itu?? ia bahkan masih bisa tersenyum padahal Aydan sudah menyakitinya berkali-kali.


"Kalau kamu ngerasa jenuh lagi, kasih tau ya...


Biar aku juga bisa ngerti dan gk ganggu kamu kalo emang kamu ngerasa risih". Aydan menggeleng dan hendak memotong ucapan Arsyila namun Arsyila lanjut berbicara. "Aku tau kok orang bosen itu kek gimana, kamu gk usah ngerasa bersalah gitu setidaknya kamu masih bisa cemburu itu tandanya kamu masih sayang sama aku". Arsyila cengiran.


Aydan menurunkan pelan tangan Arsyila dari kepalanya lalu menatap dalam Arsyila.


"Kalo sampai aku nyakitin kamu lagi, aku janji bakal pergi jauh dari hidup kamu".


"Kok kamu ngomong gituuu..." Arsyila terlihat sedih.


Karna aku gk yakin bisa bahagiain kamu Syil..


"Kamu jahat". Arsyila pun menangis.


"Jangan nangis dong...Aku makin merasa bersalah..Aku cuma ngomong gitu biar gk berani nyakitin kamu lagi".


Arsyila tak menggubrisnya, ia malah sibuk mengusap air matanya seperti anak kecil.


"Kamu kalo nangis makin gemeshin tau". Aydan mencoba menghibur. Namun Arsyila tidak berhenti menangis.


"Oh iya tante Hera tau gk ya kamu di rumah sakit? aku telponin ya.." Aydan pura-pura mengotak-atik ponselnya.


"Ih jangaann".


Arsyila langsung merebut ponsel milik Aydan. Ia tidak mau jika Hera sampai tau kalau dirinya juga masuk rumah sakit dan membuat keluarganya semakin repot nanti.


Beruntung Razan juga mengerti hingga dia yang mengorbankan waktunya untuk menjaga Arsyila sedari tadi dan melarang teman-temannya serta Devan dan Alzam untuk mengabari orang tua Arsyila.


"Makanya jangan nangis".


"Iya udah gk.."


"Itu masih netes".


Arsyila mengelap kembali air matanya.


"Udah".


"Nah gitu dong, kan makin manis apalagi kalo dikasih bonus senyum behh makin kelepek-kelepek deh". Aydan menarik turunkan alisnya menggoda Arsyila.


"Gk mauu.." Arsyila malah cemberut.


"Ya udah kalok gk mau..Biar aku aja".


Aydan lalu mengarahkan kedua jari telunjuknya ke setiap sudut bibirnya lalu membuat lengkungan senyum.


"Manis gk??". Tanya Aydan sambil senyum-senyum garing.


"Mirip badut". Ledek Arsyila.


"Eh tega kamu ya!". Aydan lalu menggelitiki Arsyila membuat Arsyila merasa geli hingga tertawa lepas.


"Udahh geliii".


"Biarinnn rasain nih".


"Aydaaan haahahaa". Arsyila tertawa sampai air matanya ikut keluar.


"Minta maaf dulu".


"Iyaa..Haha maaf hahaha".


"Oke". Aydan lalu menghentikan aktifitasnya.


"Huh hah kamu ja'il banget ii". Arsyila menggeplak lengan milik Aydan.


"Hehe biar kamu ketawa".


Ceklek


"Permisi".


Ujar seorang Dokter yang tiba-tiba masuk.


Kali ini bukan Dr. Andika melainkan seorang Dokter yang terlihat lebih berumur. Dia adalah Dr. Faisal yaitu salah satu Dokter senior di rumah sakit ini.


Aydan yang melihat kedatangan Faisal pun sedikit menjauh dari brangkar Arsyila untuk memberi akses Dokter melakukan pemeriksaan.


Setelah beberapa menit melakukan pemeriksaan di bantu para perawat, Faisal akhirnya membuka suara.


"Alhamdulillah pasien bisa langsung pulang dan tidak perlu menjalani rawat inap karna kondisinya yang lumayan sudah membaik, tinggal minum obat yang diberikan nanti secara rutin ya". Pesan Dr. Faisal setelah menyampaikan kabar gembira itu.


"Baik Dok". Arsyila tersenyum ramah.


"Baik kalau begitu saya pergi dulu".


Aydan hanya menganggukkan kepalanya sopan sebagai balasan.


"Yaah kok pulang sih". Keluh Arsyila saat Faisal dkk sudah sampai di ambang pintu. Bukannya senang Arsyila malah terlihat murung.


"Lah emang kenapa?".


"Males, di rumah sepi". Adu Arsyila.


"Emang Adhira belum pulang dari rumah sakit?".


"Belum...Kayaknya besok".


"Oh gitu...Pulang ke rumah aku mau??". Ujarnya lalu terkekeh kecil.


"Mau sii tapi apa kata orang nanti kalo cewek main ke rumah cowok malem-malem".


"Ya gk papa, ini juga belum malem lagian di rumah juga ada mama, papa, sama Ailin..Aku gk sendiri".


"Hm tetep aja aku gk berani". Arsyila menolak secara halus. "Mengenai Ailin gimana kabarnya?".


"Baik kok, dia sering nyariin kamu loh".


"Iya kah?? hmmm kangen bangeet".


"Ayok makanya ke rumah".


Arsyila menggeleng.


"Ya udah gk papa, ntar deh kapan-kapan aku bawa Ailin main ke rumah kamu". Ujar Aydan lalu mengelus sekilas kepala Arsyila.


"Beneran??". Mata Arsyila berbicara-binar".


Aydan mengangguk sambil tersenyum.


"Yeeey".


"Berarti pulang dari sini aku langsung anter kamu ke rumah ya.."


"Iya". Arsyila mengangguk lesu.


Saat tiba di depan kasir rumah sakit


"Pasien atas nama Arsyila sudah boleh langsung pulang tanpa melakukan pembayaran".


"Haa???". Arsyila dan Aydan saling menatap kebingungan.


"Maksudnya apa ya Dok?".


"Semua biaya sudah di tanggung oleh tuan muda". Refleks kasir tersebut menutup mulutnya.


"Mm ma-maksud sy orangnya tidak ingin di sebut".


"Oh begitu, mm sampaikan terima kasih saya pada orang itu Dok".


"Baik mbak".


"Kalau begitu kami permisi dulu ya Assalamu'alaikum".


"Wa'alaikumussaalam".


"Tuan muda? Siapa ya??". Aydan masih berfikir keras hingga mereka pun pulang dalam keadaan bingung.


...*******...


Hallo semua, Tim Aydan maupun Tim Razan mohon bersabar ya bestie..Di sini mungkin banyak Scanenya Aydan yaah kayak katanya Alzam manusia punya bagiannya masing-masing tak terkecuali manusia fiksi😌


BTW Devan sama Dheva kenapa ya?🤔


Love you All💓🔥 See you next Chapter👋🏻