Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Bag 52 : Arsyila milik Aydan seorang



...Edisi panjang😘...


...Hye semuanyaa...Apa kabar kalian??? Author harap kalian semua sehat ya, karna tulisan ini tidak ada apa-apanya tanpa support dari kalian. 🕊...


...Happy reading💓🔥...


...******...


Devan dan Arsyila kini sudah tiba didepan gedung apartemen pribadi milik Aydan. Arsyila pun keluar dari mobil Devan dengan wajah bingung.


"V-Van..Bukannya kita mau ke rumah sakit?? Lah k-kok ke tempat kayak gini??"


Tanya Arsyila yang tak tau nama tempat yang sekarang di lihatnya..


"Udah jangan banyak tanya..Ayok masuk".


Ajak Devan lalu berjalan terlebih dahulu. Arsyila hanya diam tak bergerak sedikitpun dari posisi berdirinya. Devan yang merasa aneh pun segera menengok ke belakang dan melihat Arsyila yang ternyata sudah tertinggal lima langkah dari jarak berdirinya.


"Aiissh".


Devan lalu berbalik kembali menghampiri Arsyila.


"Ngapa lo diem sii..Ayoo ikut masuk". Ajak Devan sekali lagi.


"Mm... Kita...Ngapain di dalem..??". Tanya Arsyila ragu-ragu.


"Katanya mau ketemu Aydan".


"Ta-Tapi kann...Aku mmm Van aku gk mau, kita pulang aja yuuk". Arsyila terlihat sedikit takut.


"Lah??".


"Biasanya kan kalo di dalem novel...Atau di film-film tu kan tempat kek gini biasanyaaa mm.."


"Hadeeh...Ini nih contoh korban fiksi! ini tu namanya apartemen bukan hotel".


Potong Devan mendengar kalimat Arsyila yang melamban..Sangat mudah menebak jalan pikir Arsyila saat ini.


"Ooo..Hehe, mm tapi kan bukannya kita mau liat Aydan? kenapa bawa aku kesini?".


Tanya Arsyila hari-hati agar tak menyinggung perasaan Devan.


"Aydan di dalem". Jawab Devan singkat.


"Hah??".


"Udah, jangan banyak tanya! ikut gue masuk".


Ujar Devan lu beranjak terlebih dahulu, Arsyila hanya menurut dan mengekori Devan dari belakang toh juga Devan gk mungkin ngelakuin hal buruk seperti apa yang ada dipikirannya tadi.


Mereka berduapun tiba diruang tamu apartemen milik Aydan. Devan kemudian mempersilahkan Arsyila duduk terlebih dahulu sementara ia akan menengok Aydan di kamarnya.


"Lo tunggu di sini, biar gue yang panggilin". Ujar Devan pada Arsyila.


"Bukannya Aydan sakit??". Bingung Arsyila.


"Dia masih mampu jalan ke sini".


Jawab Devan singkat lalu berjalan ke arah kamar Aydan.


Arsyila tak menanggapi ia malah mengalihkan perhatiannya pada sekitar ruangan apartemen yang di hiasi oleh poster-poster dari brand ternama sebagai pajangan dindingnya dengan desain yang dibuat unik namun menarik dimata Arsyila.


"Rapi dan terkesan mewah.."


Gumam Arsyila memperhatikan sekelilingnya.


Disisi lain


"Kenapa?".


Tanya Devan singkat sambil menunjuk tangan Aydan yang berdarah dengan dagunya. Aydan yang mendengar suara Devan dengan sigap bangkit dari duduknya lalu menghadap sahabatnya itu.


"Biasaa..Mukul tembok, untung bukan gue yang jadi sasaran".


Balas Alzam menanggapi pertanyaan Devan tadi. Aydan tak terlalu menghiraukan percakapan mereka karna yang ada dibenaknya sekarang ini hanyalah Arsyila.


"Arsyila mana? lo udah ketemu dia?".


Tanya Aydan antusias. Devan hanya menghela nafas melihat itu lalu setelahnya ia menjawab.


"Udah, di ruang tamu".


Jawab Devan singkat tanpa bertele-tele. Aydan yang mendengar berita menyenangkan itu tersenyum bahagia lalu dengan cepat kakinya melangkah hendak menuju ruang tamu namun dengan sigap Devan menghentingkannya.


"Eeh mau kemanaa lo??".


Tanya Devan sambil menahan bahu milik Aydan.


"Mau ketemu Arsyila".


"Coba liat diri lo di kaca dulu..Kira-Kira Arsyila bakal ngenal lo gk? muka udah kek pengemis jalanan gitu mau ketemu Arsyila. Mandi dulu sonoo! bau preman lo masih nempel".


Sindir Devan melihat wajah kusut Aydan apalagi bauk alkohol dan rokok yang tadi dinikmatinya masih tercium ditubuhnya.


"Ck lama!!". Aydan membantah.


"Ya udah, pergi sono! kalo Arsyila minta pulang ya jangan salahin gue".


Peringat Devan lalu nenurunkan tangannya dan mempersilahkan Aydan untuk keluar.


"Ckck gk kebayang sih kalo Arsyila makin menjauhh apalagi tau kalo orang yang dia suka selama inii ternyata.."


Alzam ikut mengompori dengan kalimatnya yang sengaja ia putus.


Aydan yang merasa tersindir pun berdecak lalu berbalik arah menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya. Kalau dipikir-pikir perkataan kedua sahabatnya tadi memang masuk akal dan Aydan tak dapat membantah itu jadi lebih baik ia mengikuti saran dari mereka, ia tak ingin Arsyila nantinya ilfil karna tau perbuatannya tadi.


"Huh". Devan dan Alzam menghela nafas lega.


"Heh". Devan menatap garang Alzam.


"Kenapa lo? hah heh hah heh".


"Ck Gue suruh apa tadi haa?? kenapa pas gue udah balik Aydan masih urak-urakan kek gitu".


Introgasi Devan sambil mengangkat dagunya dan meletakkan kedua tangannya dipinggang.


"Ooo heheee....Ya lo bayangin aja tuh anak tiba-tiba ngamuk gk jelas mana berani gue suruh mandi". Alzam beralasan.


"Hadeh. Kalo gitu hukuman buat lo, tunggu Aydan sampe selesai mandi. Gue mau ke Arsyila bentar kasian dia sendirian nunggu".


Perintah Devan lalu beranjak keluar meninggalkan Alzam yang terbengong-bengong masih mencerna perkatannya.


"Eeh dasar curut! sekate-kate looo main nyuruh orang aja!!". Teriak Alzam dari dalam kamar Aydan namun Devan tak menghiraukan.


"Aiiih perasaan gue muluk deh yang paling terzholimi diantara mereka..Astagfirullah sabar Zam sabarr".


Ujar Alzam dramatis lalu mengambil duduk dipinggiran ranjang sambil memainkan handponnya.


Tak membutuhkan waktu lama Aydan pun sudah selesai dari ritual mandinya, ia lalu keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah fresh dan hanya menggunakan handuk yang di lilit dipinggangnya.


Aydan sedikit terkejut kala melihat Alzam yang masih stay di kamarnya..


"Ngapa lo masih disini Zam?". Heran Aydan pada Alzam yang tengah sibuk rebahan sambil scroll tiktok.


"Disuruh Devan". Sahut Alzam tanpa menoleh.


"Hah?? ngapain?".


"Katanya nungguin lo mandi".


Balas Alzam yang membuat Aydan semakin bingung. Alzam sendiri yang baru selesai melontarkan kalimatnya diam sejenak seperti sedang berfikir alias nge-lag. Beberapa detik setelahnya ia tersadar lantas melebarkan matanya kemudian segera menggapai posisi duduk.


"Laaah ngapain gue nungguin lo mandi! gabut bet njiir".


"Emang! baru nyadar lo?".


Balas Aydan sambil memilih baju kaos lengan panjang yang ada di lemarinya. Kalo bukan karna akan bertemu Arsyila mana mau dirinya memakai kaos dengan lengan tertutup yang pasti akan membuat badannya tambah gerah.


"Awas aja tuh bocah sekarang".


Alzam lalu berjalan cepat keluar dari kamar Aydan untuk memarahi Devan. Aydan yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala kemudian segera memasang pakaiannya tak sabar ingin bertemu Arsyila.


Setelah dirasa penampilannya sudah pas Aydan pun keluar dari kamarnya hingga saat tiba di ruang tamu ia langsung disambut dengan wajah cantik Arsyila yang tengah bercanda tawa dengan kedua sahabatnya.


Aydan tersenyum bahagia..Bahkan perasaannya saat ini sangat sulit untuk ia deskripsikan sendiri.


"Arsyilaaa".


Panggil Aydan yang sontak membuat Arsyila menoleh bahkan Devan dan Alzam pun ikut menoleh ke arahnya. Arsyila berdiri menyambut Aydan dengan wajah datar namun entah dengan hatinya mungkin berekspresi lain.


Aydan lalu merentangkan kedua tangannya ke arah Arsyila dengan bibir yang tak henti-hentinya tersenyum.


Devan dan Alzam yang melihatnya semakin mendekat pun segera berdiri lalu menahan tangan Aydan kiri dan kanan. Arsyila hanya diam saja, tidak minggir ataupun memperingati Aydan karna ia tau dua sahabatnya ini pasti akan bergerak lebih cepat darinya.


"Eh..Eh..Mau ngapain lo ha??". -Devan.


"Tau nih bocah main nyosor aja".


Alzam ikut-ikutan.


"Ck lepas ah! kalian ganggu!!". Kesal Aydan.


"Eeeh terus lo mau meluk Arsyila gituu?? ooh gk bisaa". -Devan


"Inget batasan goblok!". -Alzam.


"Ck iyaya gk, lepasin!".


Aydan menatap datar kedua sahabatnya.


"Lepasin Zam".


Pinta Devan pada Alzam seraya melepas cengkaraman tangannya dari pundak tegap milik Aydan. Alzam menurut lalu kembali duduk di sofa paling ujung sebelah kiri sedangkan Devan sebelah kanan.


Aydan lalu menatap Arsyila yang sedang menatapnya dengan wajah datar lalu beberapa detik setelahnya Arsyila membuang muka.


"Arsyilaa..Kamu masih marah?".


Tanya Aydan memandang wajah Arsyila yang nampak tak bersahabat. Arsyila tak menanggapi, ia malah kembali duduk di tengah-tengah Devan dan Alzam lalu mengotak atik ponselnya sok sibuk seolah Aydan memang tak ada dihadapannya.


"Ck, Arsyila aku lagi ngomong".


Karna merasa diacuhkan Aydan pun merebut ponsel yang ada ditangan Arsyila. Namun bukannya marah Arsyila malah diam saja padahal yang Aydan ingin lihat adalah Arsyila yang akan memarahinya dan hal itu tak terjadi membuat perasaan Aydan semakin tak menentu. Arsyila mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil mengeluarkan jurus andalannya yaitu bersidekap dada.


"Arsyilaa..Kok kamu diem aja sii".


Aydan perlahan menekuk kedua lututnya lalu menempelkannya ke lantai sembari mendongak menghadap Arsyila memohon.


"Syil..Please maafin aku".


Aydan bersuara lemah membuat Arsyila merasa sedikit tak tega namun tentu saja egonya lebih tinggi.


Alzam yang melihat drama perbucinan di depannya itu hanya memasang wajah datar tak jauh berbeda dengan Devan yang juga sama-sama menjadi nyamuk.


Karna tak sanggup Devan pun mengajak Alzam keluar dengan memberinya kode mata.


"Ssut ssut Zam".


Panggil Devan dengan suara berbisik, Alzam yang mengerti pun bangkit dari duduknya mengikuti Devan yang sdah berdiri duluan.


"Syil kita berdua mau duduk-duduk di luar yak, sekalian mau beli baygon".


Ujar Alzam lalu berjalan keluar setelah mendapat anggukan dari arsyila.


"Awas lo macem-macem Dan! gue pantau dari luar".


Peringat Devan lalu mengekori langkah Alzam. Aydan hanya menatap datar sahabatnya itu lalu setelahnya kembali menghadap Arsyila.


"Sayaangg...Aku minta maaf tadi itu aku gk bisa nahan perasaan aku sendiri sampe emosi aku gk bisa kekontrol..Maaf ya pleasssee".


Aydan menyatukan kedua tangannya berharap Arsyila akan memaafkannya, namun arsyila masih diam.


Tanpa aba-aba Aydan memeluk kaki Arsyila yang terhalang rok sambil mengeluarkan isakan kecil yang dapat di dengar Arsyila.


Arsyila melebarkan matanya melihat tingkah Aydan yang diluar dugaannya itu.


"Aydaann...Astaghfirullah jangan kek gitu".


Arsyila memegang kedua pundak Aydan lalu berusaha menjauhkannya dari kakinya, sangat tak sopan sekali rasanya melihat laki-laki yang merendahkan dirinya seperti itu.


"Gk mauu..Maafin akuu hiks".


"Astagaaa kamu nangis?? Aydan cengeng banget ih".


Arsyila menggoyak-goyakkan bahu Aydan berusaha menyingkirkannya.


"Aydaann please lepas".


"Maafin duluuu". Rengek Aydan dengan masih menyembunyikan wajahnya di rok coklat muda yang dikenakan Arsyila.


Arsyila menghela nafas panjang.


"Iyaa..Aku maafin tapi lepasin".


Arsyila akhirnya luluh, sebenarnya Arsyila sudah memaafkan Aydan, tapi entah mengapa melihat Aydan yang kekanakan seperti ini membuat dirinya terlihat menggemaskan di mata Arsyila.


"Beneran?".


"Iyaa Aydan, ya udah lepasin".


Mendengar perkataan Arsyila membuat perasaan Aydan sedikit merasa lega. Ia lalu mengangkat wajahnya dan mendongak menatap Arsyila yang tengah memperhatikannya.


"Bangun".


Pinta Arsyila dengan sedikit memberi senyuman kecil. Aydan yang melihat respon Arsyila pun segera bangkit lalu mengambil duduk di samping Arsyila.


"Kamu beneran maafin aku kan?". Tanya Aydan yang terlihat masih ragu, takut-takut jika nanti Arsyila mengakalinya hanya karna ingin di lepas.


"Iya dimaafin".


Balas Arsyila pasti.


Aydan tersenyum lega lalu membuka kedua tangannya seperti hendak memeluk.


"Eeh eh kamu mau ngapain??".


Arsyila siap siaga dengan mengangkat kedua telapak tangannya isyarat stop.


"Mau peluk". Jawab Aydan tanpa beban.


"Gk! gk boleh Aydaan".


Peringat Arsyila sambil menggelengkan kepalanya sekilas.


"Kangeeen". Aydan terdengar merengek.


"Tetep gk boleh!".


"Hmm".


Aydan melenguh sambil memperosotkan punggungnya di sandaran sofa.


"Hadeeh..ing-".


Ucapan Arsyila terpotong saat matanya tak sengaja melihat tangan kiri Aydan yang tergores dan tidak ditambal sama sekali.


"Itu tangan kamu kenapa??".


Tanya Arsyila penasaran. Aydan langsung menyembunyikan tangannya dibalik punggung dengan posisi badan menghadap Arsyila.


"Kok tangannya di sembunyiinn?? sini liat". Arsyila mencoba meraih tangan Aydan.


"Gk ada apa-apa".


"Gk ada apa-apa tapi tangannya luka, sini liat".


Arsyila mencoba meraih tangan Aydan namun Aydan menghindar, Arsyila pun tak menyerah ia tetap bersikeras ingin melihat tangan Aydan memastikan kalau ia tak salah lihat hingga akhirnya Aydan kewalahan lalu dengan pasrah ia membiarkan Arsyila melihat tangannya.


"Aydaann!..Ini tangan kamu kenapa??". Arsyila sedikit Syok.


"Berantem sama tembok". Jawab Aydan apa adanya.


"Ck kamu kebiasaan deh suka ngamuk!". Arsyila ngomel-ngomel sendiri sambil memperhatikan tangan Aydan.


"Ya mau gimana lagi, cuman itu yang bisa aku jadiin pelampiasan".


Kalau yang selainnya kadang-kadang


Sambung Aydan lagi dalam hati.


"Huh! Gini nih cowok suka marah gk jelas, mukul tembok, berantem sok gantel banget padahal mah aslinya cengeng, iya kan?".


Tanya Arsyila lantas mengangkat kepalanya untuk melihat respon Aydan. Namun yang ia dapatkan hanyalah wajah Aydan yang tak henti-hentinya tersenyum karna sedari tadi dirinya memperhatikan kegiatan ngomel-ngomel Arsyila.


"Ish kok kamu senyum-senyum gitu? aku lagi marah ya!". Arsyila terdengar kesal.


"Kamu makin cantik kalo marah".


Jawab Aydan sambil terus memandang wajah cantik Arsyila tanpa berpaling sedikitpun. Arsyila yang dilihat seperti itu jadi salting sendiri dibuatnya namun ia berusaha menutupinya.


"Aissh ada kotak P3K gk?".


Tanya Arsyila dengan wajah biasa seperti tak terpengaruh dengan gombalan buaya milik Aydan.


"Tu".


Tunjuk Aydan pada kotak P3K yang ada di bufet samping televisi. Arsyila lalu mengambilnya dan segera mengobati Aydan.


Arsyila menuangkan betadine di atas kapas lalu mengaplikasikannya pelan-pelan di tangan Aydan. Aydan meringis merasakan punggung tangannya yang terasa sedikit perih. Ingett Sedikit!!!.


"Tahenn bentar juga sembuh, kalo gk di obatin ni nanti inveksi".


"Aah sakiit, perih bangett".


Rengek Aydan padahal mah rasanya seperti di gigit semut namun ya begitulah langka sekali kan melihat Arsyila perhatian seperti ini.


"Iya ya nih udah pelan..Yey selesai".


Lega Arsyila kala perbannya sudah terikat sempurna. Aydan ikut tersenyum melihat wajah ceria Arsyila, wajah yang selalu terbayang saat dirinya hendak memejamkan mata.


"Syil..Lo gk bosen sama tingkah childish gue?".


Tanya Aydan tiba-tiba dengan wajah serius. Arsyila balas menatap manik mata coklat milik Aydan.


"Kalo aku bosen..Mungkin sekarang aku udah ngejauh dari kamu dan mungkin gk perduli lagi mau kamu ngamuk kek terserah".


"Tuh kan berarti kemarin kamu bosen dong makanya ngejauh sampe gk ngasih kabar". Rajuk Aydan. Arsyila yang mendengar itu menghela nafasnya pelan.


"Aydan..Dengerin aku, dua minggu lalu aku bener-bener gk tau handpone aku dimana aku cari-cari tapi gk ketemuu eh pas pulang dari rumah nenek baru deh bunda nyodorin aku handponnya ternyata keselip di karpet bawah meja".


Arsyila mencoba menjelaskan kesalah fahaman yang terjadi di antara mereka terlebih Aydan.


"Aku takut Syil kamu beneran bosen terus ninggalin aku nanti..Aku gk sanggup kehilangan kamu".


Baru kali ini Arsyila mendengar nada seserius itu dari mulut Aydan. Arsyila tak ingin merusak suasana jadi ia hanya akan mengikuti alur pembicaraan Aydan mengungkapkan apa yang ia rasakan, jarang-jarang juga mereka membicarakan hubungan mereka seserius ini.


"Aku gk akan ninggalin kamu Aydan, kecuali jika memang tuhan menginginkan itu".


"Maksud kamu??".


"Kita gk tau dimasa depan apakah kita ditakdirkan bersama atau sebaliknya".


Arsyila menjelaskan..Memang benar bukan? segimanapun mereka saling cinta kalo tuhan berkehendak lain, kita bisa apa?.


"Gk! gk mau..Kalaupun seandainya jodoh aku orang lain Aydan bakal tetep cinta Arsyila bahkan kalaupun harus nunggu kamu jadi janda".


Arsyila yang mendengar pengakuan Aydan pun sontak tertawa membuat Aydan menatapnya tanpa berkedip. Arsyila yang merasa aneh diperhatikan seperti itu pun menghentikan tawanya lalu menggantinya dengan mimik serius.


"Mm kalo kamu..Pernah gk ngerasa bosen sama aku?". Tanya Arsyila balik.


"Orang bodoh mana yang bakal bosen punya cewek spek bidadari kek Arsyilaa??..Bahkan sedetik tanpa Arsyila tu hidup aku rasanya hambarr".


Balas Aydan hiperbola lalu terkekeh kecil.


"Hati-hati Dan..Suatu saat kita bakal di uji sama perkataan kita sendiri, mungkin memang sekarang kamu yakin bilang gitu..Tapi gk tau nanti, seiring berjalannya waktu-


"Aydan akan tetep cinta Arsyilaa, Sayang Arsyilaa dan Arsyilaa akan jadi satu-satunya di hidup Aydan yey!".


Antusias Aydan melanjutkan perkataan Arsyila yang sempat ia potong. Aydan sangat menyayangi Arsyila mana mungkin kan ia akan berpaling? Arsyila yang mendengar itu jadi tersipu malu.


"Ciee maluu". Goda Aydan sambil mencolek lengan Arsyila.


"Nggak..Malu apa cobaak". Arsyila menyangkal.


"Tu pipinya merah".


"Nggak!".


Arsyila menutup wajahnya dengan tangan menyembunyikan rona merah di Pipinya.


"Hahaha". Aydan geleng-geleng kepala melihat tingkah Arsyila yang selalu membuatnya candu.


"I LOVE YOU Arsyila".


"I LOVE ME TOO".


...*****...


Hyee para pacar virtualnya Author😢 jumpe lagii..Kangen banget tau ama kalian. doain Author ya biar urusannya cpt selesai, maaf kalo seandainya ada typo ini aja udah Author usahain buat Up 😔


See you next chapter👋🏻💓