Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Bag 8: Sahabat Cogannya Arsyila



...sebelum membaca jangan lupa Triplenya yaa Guys...Like,Vote & Komen.💓...


...Gratiiis!! kok Gk bayar...


...Happy Reading💓...


...####...


"Syila!"


Panik Aydan yang juga tiba-tiba masuk kemudian menghampiri Arsyila yang sudah duduk entah kapan dalam keadaan wajah yang ia sembunyikan..Arsyila masih sesenggukan.


"Arsyila kenapa?!" Tanyanya pada kk kelasnya tadi..Mereka hanya mengendikkan bahu.


"Gk tau tiba-tiba aja gitu". Jawab salah seorang mereka. Aydan tidak perduli dan langsung duduk disamping meja Arsyila yang kosong.


"Syil lo kenapa?" Tanya Aydan lembut dengan kepala yang Ia rebahkan menghadap Arsyila seperti mengamati.


Arsyila makin menangis..Tidak tahukah para laki-laki jika perempuan itu sedang menangis mereka tidak suka ditanya?? karna mereka akan merasa iba pada diri sendiri. Begitulah salah satu fakta unik wanita.


Aydan panik ditempat. Ingin memeluk ia tidak berani karna Arsyila pasti tidak suka. Lalu bagaimana cara menenangkannya? Aydan bingung sendiri dibuatnya.


Reno yang melihat itu juga tidak tinggal diam, ia ikut menghampiri Arsyila.


"Arsyilaa??" Panggil Reno dari arah depan sambil berjongkok dengan lutut yang yang menempel dilantai. Sungguh pemandangan yang luar biasa dibujuk cogan depan samping wkwk.


"enak banget ya jadi Arsyila..banyak yang suka"


Sinis seorang siswi berbisik pada teman didekatnya.


"eleh palingan caper tuh!".


"kurang-kurangin Iri deh lo pada!".


Ujar siswa bernama Gani yang juga fans berat Arsyila.


"iuuuu sewot banget lo curik!".


Tak lama kegiatan gibah itu berlangsung Razan memasuki kelas yang ramai tersebut setelah mendengar laporan.


"Arsen! dan kalian juga, ikut gue ke ruang BK!" ujar Razan pada teman-temannya.


Sedikit tentang Razan yaa sekalipun menjadi Osis ataupun panutan Razan juga masuk dalam genk tanpa nama. Ya belum maksudnya, mereka belum memikirkan untuk menjadikan perkumpulan mereka genk resmi tidak seperti genk lain, karna Razan tidak mengizinkan ada genk disekolahnya. Jika ada nama pasti mereka akan jadi pusat perhatian nanti..


Bisa diamuk masa Razaan sama papanya wkwk.


Walaupun begitu genknya sudah berstruktur bahkan Razan yang paling mendominasi dalam jabatannya sebagai bendahara karna paling kaya tentunya dan itu tidak masalah bagi Razan karna tujuan perkumpulan mereka sendiri untuk membantu Razan terlebih Osis dalam acara-acara tahunan karna mereka tidak ingin terikat Organisasi. Malas. Oleh sebab itu mereka hanya membantu sekolah terlebih Razan..


Karna sebelum jadi Osis ia dan Arsen sudah saling mengenal dan seperti saudara hingga berteman dengan sahabat Arsen yang lain..Yaa walaupun begitu Razan tidak ikutan nakal.


Okey skip kita bahas ini nanti! langsung ke topik dulu.


"Eh Zan gk bisa gituu dong!!!! kita kan belum ngapa-ngapain" Bantah Arsen tak terima.


"Gue gk denger alasan! karna kalian juga penyebab keributan ini" Tegas Razan kemudian berlalu pergi.


"Ayok deh ikutin aja ntar si Razan ngamuk. Palingan hukumannya keliling lapangan". Ujar salah seorang dari mereka sambil menyikut lengan Arsen. Mereka kemudian keluar dari kelas tersebut.


Reno dan Aydan tetap standby membujuk Arsyila hingga seorang siswi yang bernama Nia mulai mendekat ke arah mereka.


"Biar gue yang nenangin..Ini urusan cewek, lo pada balik kelas aja". Pinta Nia yang kemudian diangguki oleh mereka berdua.


"Ya udah" Pasrah Aydan lalu bangkit. Sebelum itu ia menoleh ke arah Arsyila yang sedang menelungkupkan kepalanya dimeja.


"Syill nangisnya jangan lama2 ya" Ujar Aydan kemudian beranjak pergi dari sana begitupun dengan Reno yang hanya menatap Arsyila sudah tidak tau harus berkata apa kemudian mengikuti Aydan yang sudah keluar kelas.


Nia yang melihat keadaan kembali stabil pun merasa lega karna para siswa/i yang tadi berkumpul sudah kembali ke kelas masing2.


Ia lalu mengambil duduk di samping Arsyila.


"Arsyila" Panggilnya sangat pelan.


"Tisu" Ucap Arsyila masih bertelungkup.


Nia pun mengambilkan Arsyila tisu yang ada di meja guru karna ia tidak punya.


"Nih Syil" Ujar Nia menyerahkan tisu tersebut.


"Makasih" Ucap Arsyila dengan suara yang sudah parau kemudian mengelap ingusnya dari bawah tanpa suara dan meletakkan tisu tersebut ke kolong meja.


Nah skarang kalian tau kan alasan Arsyila terus bertelungkup?:)


Arsyila menegakkan punggungnya, terlihat matanya yang sudah sembab..


"Lo kenapa tadi?" Tanya Nia bingung namun Arsyila diam saja..Tak lama kemudian Satria datang.


"Arsyil maaf ya karna gue lo jadi nangis..Tapi knp lo yang nangis?" Tanya Satria keheranan tapi tak dapat jawaban.


"Oooo ge tau!!! pasti lo gk tega kan gue dipukul? iya kan iyaaa??" Gr Satria.


"Eh sepupu Alieennn! pede banget lo" Judes Nia mendengar penuturan Satria ingin rasanya ia muntah seketika kalo tidak ingat tempat.


"Yeeee si Romlah iri bilang bu!" Satria menimpali.


Nia menggapai seragam Satria hendak adu mekanik. Arsyila geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua teman kelasnya yang ia belum tau namanya kecuali Satria karna ia sempat mendengar Arsen tadi meneriaki namanya.


Walaupun sekelas Arsyila tidak dekat bahkan berkenalan sekalipun namun ia sendiri bingung kenapa semua orang mengenalinya bahkan tidak ada yang tidak tau Arsyila di sekolah ini.


"Aku mau ke kamar mandi dulu..Kalian lanjut berantem aja" Ujar Arsyila santai sambil berjalan keluar dengan kepala yang menunduk..Malu juga nanti kalo semua orang melihat matanya yang sudah bengkak.


"Hah?" Cengo Nia dan Satria saling pandang


bukannya dilerai Arsyila malah mendukung.


"Okelah Gas!" Ujar Nia kembali menarik rambut Satria yang dibalas pasrah Satria dengan berusaha melepaskan tangan Nia. Tidak mungkin kan dia ikut menarik-narik rambut Nia ala-ala berantemnya cewek bisa dikira bencong dia nanti.


Arsyila berjalan menyusuri Koridor masih khusuk menunduk.


Bugh


"Aduh!!" Ringis Arsyila refleks memejamkan mata sambil memegang dahinya yang terasa pusing ketika menabrak benda keras seperti dinding.


Aduh masak gue nabrak lagi sih -batin Arsyila.


Dulu dia juga pernah menabrak pilar Musholla di MTSnya karna keasikan menunduk..Ia pernah mendengar ceramah menundukkan pandangan yang salah dia artikan karna masih pemula alhasil dia menabrak pilar.


Setelah sedikit bernostalgia Arsyila membuka matanya..eh kok dinding pake sepatu ya -batin Arsyila.


Kepalanya masih ngelag....


Hingga beberapa detik setelahnya ia sadar bahwa itu bukan dinding melainkan manusia.


Arsyila melebarkan bola matanya dan spontan menghadap Atas.


"Kk Razan" Refleks Arsyila menutup mulutnya tak percaya, sedangkan Razan hanya menatapnya datar.


"Lo kalo jalan liat depen! lagi nyari jangkrik lo"


Sinis Razan sedikit menyindir..


Ish kk razan ternyata julid juga ya?! nyesel gue sempet terpesona- Arsyila membatin mendengar nada pedes Razan.


"Aishhh bodo amat!" Ujar Arsyila kemudian melangkah cepat tak memperdulikan Razan..


"Eh tu anak gk mintaa maaf dulu kek?" Heran Razan yang melihat Arsyila sudah menjauh.


"Tapi unik juga sih". Sambungnya sambil terkekeh geli.


___________


Arsyila kembali ke kelasnya setelah dirasa sudah beres walaupun matanya masih sedikit bengkak. Ia terkejut kala melihat Nia yang masih stay disamping mejanya.


"Kamu ngapain masih disini? bukannya tempat duduk kamu dibelakang?" Tanya Arsyila beruntun bukan bermaksud mengusir mengingat tempat duduk Nia yang semula tepat dibelakangnya.


"Hehe iya mulai sekarang aku duduk di sini!" Ujar Nia sambil tersenyum.


"Ren..minta tolong tas gue!" Pintanya pada Renata teman sebangkunya yang kerap dipanggil Ririn.


"Lo pindah?" Heran Ririn.


"Iya..Kasian Arsyila gk ada temen duduk yang dibelakang suruh maju aja!" Ujar Nia pada Ririn kemudian meletakkan tasnya dibelakang punggungnya.


"Tapi meja yang itu kotor" Ujar Arsyiila agar Nia tidak jadi disampingnya.


"Perkara meja doang..Gk masalah" Nia menimpali sambil tersenyum simpul menghadap Arsyila.


Sudahlah Arsyila kehabisan cara. Walaupun tidak nyaman dengan orang baru tapi Arsyila akan membiarkannya saja toh juga dia sendiri yang mau.


Walaupun wajah Nia meragukan untuk dicap sebagai temannya tapi dia tidak menunjukkan sisi jahat sama sekali atau carper dan lainnya..Sudahlah sudah kita lihat nanti saja.


Bel pulang berbunyi.


Karna para guru sedang rapat mereka jadi pulang lebih awal.


Arsyila mengambil ranselnya lalu disampirkan ke lengan sebelah kanannya dan berjalan keluar kelas diikuti Nia. Arsyila tidak terlalu perduli dengan Nia yang berjalan disampingnya seolah seperti teman dekat. Hmm sepertinya ia memang ingin dekat dengan Arsyila.


Hingga tiba dipintu kelas ia melihat Aydan yang sudah bersandar di tembok menatap langit-langit gedung sekolah menunggu Arsyila pastinya..


"Gue duluan syil" Ujar Nia merasa tidak enak kemudian melewati Aydan yang belum menyadari keberadaan mereka, Arsyila hanya mengangguk.


Arsyila kemudian mendekati Aydan sambil berdehem dan pura-pura melewati Aydan dengan gerakan slowmo.


Aydan yang tersadar dari lamunannya spontan menegakkan badannya dan menghadap kanan menarik lengan Arsyila yang tertutup seragam.


Aura Arsyila memang sangat kuat ya bestie:).


"Arsyilaaa" Rengek Aydan karna Arsyila melewatinya begitu saja. Arsyila hanya diam menatapnya.


"Aissssh harusnya gue lagi ngambekk ni!" Kesal Aydan menatap Arsyila namun arsyila masih diam.


"Arsyilaaaa ngomong ih!" Aydan mulai frustasi sambil berkacak pinggang mondar mandir dihadapan Arsyila memikirkan cara untuk membujuknya.


Arsyila terkekeh geli dalam hati. Puas rasanya menjahili Aydan seperti ini apalagi komuk Aydan yang sangat menggemaskan dimatanya.


Siapa suruh Aydan sok-sokan ngambek tanpa bertanya dulu alasan yang benar pada Arsyila, main nyimpulin seenaknya aja..Tidak tau Apa Arsyila uring-uringan seharian memikirkan Aydan yang tidak merespon chatnya. Rasain sekarang kan wkwk.


"Arsyilaaa" Sapa duo curut yang baru datang dari koridor Jurusan IPA.


"Eh Devan Alzam!" Girang Arsyila sambil berlari kecil ke arah mereka dan mengambil tempat di tengah..


"Ehh" Aydan melongo tak percaya dengan tingkah random Arsyila.


"Lah Syiill?? Kok kamu bisa gituuu" Heran Aydan. Arsyila menoleh ke arah Aydan yang menatapnya bingung.


"Aku tergantung kamu Aydan" Ujar Arsyila sambil berlalu pergi mengajak Devan dan Alzam yang ada disampingnya meninggalkan Aydan yang berdiri mematung memikirkan kalimat singkat Arsyila tadi.


"Eeh tungguuu!" Ujar Aydan sembari mengejar langkah mereka. Aishh dasar memang dia selalu ternistakan.


"Cih awas aja lo Arsyilaa, Aydan hanya akan jadi milik gue!!" Geram seseorang yang bersembunyi dibalik dinding memperhatikan kegiatan mereka sedari tadi.


___________


Mereka sudah tiba diparkiran dan masuk di mobil Aydan dengan Arsyila yang duduk dikursi dekat kemudi dan Alzam bersama Devan dibelakang...


Hari Ini Aydan sengaja membawa mobil karna motor duo curut itu alias Devan sedang mogok dan Alzam yang tukang nebeng.


Semua fasilitas Alzam dicabut orang tuanya karna ketahuan ikut balapan motor, untung saja ada Aydan si paling kaya diantara mereka yang pengertian.


Suasana di mobil jadi berwarna karna canda gurau mereka. Apalagi Alzam yang ceplak ceplos kalau ngelawak gak nanggung-nanggung.


"Zam kenapa gk ikut komedi sih?" Tanya Arsyila yang masih dengan sisa tawanya karna candaan Alzam tadi yang menceritakan pengalamannya di Sekolah Dasar ketika berlari gembira keliling lapangan karna rapotnya yang berwarna alias merah yang ia kira nilai istimewa.


"Mulanya gitu sih Syill, tapi kata ortu gue pekerjaan kayak gitu terlalu mulia gue cocoknya jadi pasien RSJ".


Mereka semua tertawa lepas hingga gelak tawa mereka membuat suasana dimobil menjadi hidup.


"Eh syil main ke rumah yuk!" Ajak Aydan membuat tawa mereka reda seketika.


"Aku gk bebas" Ujar Arsyila setelah menimbang nimbang..Memang benar Arsyil jarang sekali keluar jauh-jauh dari rumah apalagi ke rumah cowok. Paling jauh mungkin ke minimarket membeli cemilan-cemilan untuk menonton Dracinnya.


"Tapi mama mau liat lo katanya". Perkataan Aydan membuat Arsyila cengo..


hah mamanya Aydan Udah tau gue


-ujar Arsyila membatin.


Alzam dan Devan hanya menyimak dibelakang. Mereka tidak terkejut karna mereka sering melihat Aydan mengadukan Arsyila di mamanya apalagi ketika dia ngambekan kemarin..Biasaa cuy anak mama..


Mamanya jadi penasaran dengan rupa Arsyila yang membuat putranya tergila-gila.


"Ya ampun Syil pasti lo mikir Kenapa mamanya Aydan tau lo kan?" Tanya Devan menebak-nebak komuk Arsyila yang nampak terkejut kemudian terkekeh kecil.


"Yaaa gimana gk tau cobak si Aydan cepu banget tuh..Si paling anak mama" Sambung Alzam tanpa saring.


Aydan memalingkan wajahnya ke arah samping menahan malu menghadap motor-motor yang sedang menunggu lampu berubah hijau karna mereka sedang berhenti didepan lampu lalu lintas.


"Aydan ceri..tain aku ke mamanya?" Tanya Arsyila polos sambil menunjuk dirinya dengan gerakan Slowmotion.


Mereka berdua mengangguk kemudian menatap Aydan yang sedang menahan malu


mampus loo! batin Devan. Sangat puas melihat temannya menderita..Ciri-ciri teman laknat.


"Ihhhh Aydannn malu" Arsyila sedikit berteriak sambil menarik-narik seragam Aydan sembari mencubit kecil perut six'spaxnya yang tertutup seragam sehingga membuat Aydan kewalahan dan meringis kecil merasakan cubitan maut Arsyila. Alzam dan Devan tertawa puas melihat Aydan apalagi wajahnya yang terlihat pasrah sembari menangkis serangan poweranges Arsyilaa.


"Udah Syill udah kasian Aydan mukanya udah kayak korban kelindes truk". Devan mengasihani eh lebih tepatnya mengolok si iya wkwk.


Arsyila menghentikan Aksinya lalu menatap lurus ke depan sambil melipat tangan didepan dada, Aydan akhirnya menghembuskan nafas lega.


awas saja nanti si Duo curut bakal gue turunin ditengah jalan !. ujar Aydan dalam hati.


Tit!Tit


woy!jalan..macet niih


Tiitttttttt


woy!


Begitulah kira-kira suara dan teriakan para pengemudi yang melihat mobil milik Aydan yang belum juga bergerak padahal lampu sudah berubah warna menjadi hijau.


"Eh dan jalan cepet!" Ujar Alzam melihat Aydan yang menggosok-gosok telinganya.


"Iya pakk" Sahut Aydan sempat-sempatnya mencondongkan kepala nya keluar pintu mobil. Kemudian dengan segera melajukan mobilnya


karna keasikan mereka jadi tidak ingat kalo sedang berhenti di lampu merah.


__________


Arsyila tiba dirumahnya.


"Makasih ya Dan...dan kalian" Ujarnya sambil menoleh ke arah belakang..


"Iyaa masama Arsyila" Ujar mereka kompak sembari tersenyum sangat manis pada Arsyila.


"Jangan caper deh!" Sewot Aydan pada sahabatnya.


"Dih possesif bos wkwk" Tawa Alzam.


"Ya udah kalian hati-hati ya..Assalamualaikum"


Ujar Arsyila kemudian keluar dari Mobil.


"Wa'alaikumussaalam" Jawab mereka kompak.


"Duuh gelis pisan euy" Ujar Alzam dengan matanya mengikuti pergerakan Arsyila bermaksud mengompori Aydan.


"Gk panas" Jawab Aydan santai..Liat saja nanti apa yang akan dilakukan Aydan pada mereka.


"Byee Byeee! hati-hati" Ujar Arsyila dari luar mobil ketika mobil Aydan mulai meninggalkan area rumahnya dan dibalas dadah mereka..


Arsyila berbalik dan melangkah masuk ke dalam area rumahnya melewati pekarangan yang luas.


"Siapa Syila?" Tanya Hera yang sudah berdiri saja depan pintu utama.


"Eh" Kaget Arsyila refleks menutup mulut.


"Aydan" Jawab Arsyila singkat sembari menyalami tangan bundanya. Tidak mungkin ia menyebut tiga serangkai bisa dicap Tidak benar dia nanti, Itu yang ada dalam pikirannya.


Tak lama bersalaman Arsyila langsung masuk kedalam tidak ingin ditanya-tanya rempong oleh bundanya nanti.