Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Bag 72 : Demo provokasi



Teeet pengumuman..Visual Aydan akan di perlihatkan pas hari H. Jadi tetap tunggu kelanjutannya ya📸


...Happy Reading💓🔥...


...*******...


Arsyila, Aydan, dan Alzam berjalan bersama hendak menuju kantin.


"Van, Intan mana? kok gk masuk??". Tanya Arsyila pada Devan. Biasanya saat memasuki kelas ia akan langsung diserbu oleh Intan. Mengajaknya bercerita, dan bertanya padanya tentang pelajaran yang tidak dimengerti membuat Arsyila sejenak merindukan kebiasaan itu.


"Sakit". Jawab Devan.


"Eh ada apa tu kumpul-kumpul di madding???". Mata Alzam memicing melihat gerombolan siswa dan siswi yang saling berdesakan melihat informasi terkini yang terpajang disana.


"Liat yuk!". Ajak Arsyila.


"Misi-Misi". Alzam menyelip ditengah-tengah mereka hingga jalan sedikit terbuka dan maju ke deretan paling depan bersama bersama Arsyila, Devan dan Aydan.


Terpampang foto Intan dan Rehan disana dengan area wajah yang sudah ful oleh coretan-coretan.


(Intan lont*)


(Rehan Penjahat)


(Keluarga Intan dati sekolah ini!)


(Tidak menerima siswi yang berperingai seperti hewan).


"Hah apa-apaan ini???". Arsyila keheranan begitupun dengan Aydan.


Ada satu lagi tulisan cacian disana sepertinya itu dari salah seorang penggemar laki-laki Arsyila.


(Putri disekolah ini tidak boleh ada yang menyakiti. Saya ingin Intan dan Rehan segera keluar dari sekolah kita, tidak layak!).


"Kayaknya mereka masih dendam sama kejadian kemarin". Ujar Devan.


"Pasti ada yang memprovokasi mereka". Sahut Alzam.


"Ini maksudnya apa siii???". Aydan bingung.


"Nanti gue jelasin, gue yang tau kejadiannya". Devan.


Tak berselang lama, suara ricuh dari segerombolan siswa dan siswi mengalihkan atensi mereka semua.


"Keluarkan Intan dan Rehan dari sekolah ini!".


"Pencemaran nama baik".


Teriak mereka saling bersahutan hingga menuruni tangga nampaknya akan menuju ruangan guru.


"Van jelasin sekarang!". Arsyila sudah tidak sabaran. Devan menghela nafas panjang.


"Musibah kemaren, pas lo tenggelam..Intan yang dijadiin kambing hitam. tapi karna ingin nyelametin Intan, Rehan juga ikut mengaku salah, mendengar pengakuan dari Rehan itu mereka jadi makin yakin kalo Intan sama Rehan yang ngelakuin itu".


"Seinget aku...Aku disergap dari belakang".


"Gue tau, itu cuma rencana licik Sania...Dia sama genknya yang rencanain itu".


"Tapi kenapa Rehan gk jujur aja??". -Alzam.


"Lo tau kan Sania kyak apa?".


"Kalian ngomongin apa si???? Arsyila tenggelam? kenapa gue gk tau apa-apa?". Aydan sungguh tidak mengerti. Ia merasa sudah seperti orang bodoh ditengah-tengah mereka.


"Arsyila kemarin tenggelam dilaut pas acara ngecamp, itu semua ulah Sania and genk tapi Intan sama Rehan yang dijadiin kambing hitam...Gue gk bisa biarin ini, siapapun gk boleh nyakitin Intan!".


Setelah menjelaskan itu Devan pergi menyusul segerombolan siswa dan siswi yang pergi demo tadi.


"Van!". Alzam berlari mengejar Devan. Arsyila yang hendak mengikuti Alzam pun tak jadi akibat tangannya yang dicekal Aydan.


"Jelasin sama aku! kenapa kamu gk bilang kalo kamu pernah tenggelam?!". Mata Aydan memancarkan sorot amarah membuat Arsyila susah payah menelan ludahnya.


"A-Ay..."


"Ikut aku!". Aydan lalu menarik lengan Arsyila dan membawanya ke rootof.


"Aydan lepas". Arsyila berusaha melepaskan tangannya yang dicengkram kuat oleh Aydan. Aydan tak memperdulikannya, saat tiba di root of barulah ia menghempaskan tangan Arsyila dengan agak kasar. Tamat sudah. Akan terjadi badai besar diantara mereka.


"Ay!.."


"Kamu tau salah kamu apa?!".


"Ay aku minta maaf, aku gk bermaksud buat nyembunyiin kejadian itu dari kamu. Kejadian itu udah berlalu jadi aku pikir gk perlu diungkit lagi..Aku juga baik-baik aja kan?". Arsyila berusaha menjelaskan.


"Apa selama ini aku gk penting dalam hidup kamu?? kalo memang kamu ngerasa aku ini cowok kamu harusnya..Kamu gk akan rahasiain hal sekecil apapun dari aku Syil, apalagi ini, kamu hampir.....Arrgh! apa salahnya cerita??".


"Ay, aku cuma gk mau nambah beban pikiran kamu..Aku ngerti, kamu pasti bakal ngerasa bersalah banget kalo seandainya kamu tau aku dalam bahaya saat kamu gk lagi disamping aku".


Aydan memalingkan wajahnya, enggan menatap Arsyila.


"Ay.." Panggil Arsyila.


"Apa jangan-jangan pas kamu sakit waktu itu juga karna tenggelam?!".


Melihat keterdiaman Arsyila memudahkan Aydan untuk mengambil kesimpulan.


"Gue bahkan lebih ngerasa gk berguna kalo lo kayak gini". Gaya bahasa Aydan sudah berubah itu tandanya ia sudah diluar kendali.


"Ay..."


"Lo pembohong!".


Arsyila terdiam, saat dalam kondisi seperti ini ia lebih baik tidak banyak berkomentar..Biarkan emosi Aydan terluapkan baru bisa dibujuk.


"Gue makin lama makin ragu sama lo Syil..Apa bener lo cinta sama gue? atau selama ini hanya gue yang berjuang?".


Arsyila masih diam walau hatinya memberontak ingin mendebat Aydan.


"Setiap lo kasih alasan, gue selalu berusaha percaya meski gue gk yakin. Alasan lo semua itu basi tau gak?? apa pernah gue sembunyiin rahasia apapun dari lo? bahkan aktivitas dari bangun tidur pun lo tau semuanya".


Arsyila yang tadinya menunduk kembali mengangkat kepalanya, mendengar pertanyaan Aydan membuat ia berani untuk mengungkit rasa penasarannya yang sempat terkubur waktu lalu.


"Oh ya?". Arsyila menatap dalam manik mata milik Aydan.


"Apa masa lalu juga bukan hal yang rahasia?". Arsyila menyindir membuat Aydan terdiam sejenak.


"Jangan bawa-bawa dia, dia gk ada sangkut pautnya sama hal ini". Aydan memalingkan wajahnya.


"Kenapa?? apa aku gk boleh tau masa lalu kamu? bukannya kamu yang duluan bilang pasangan itu harus terbuka satu sama lain?".


"Tau dari siapa?".


"Gk penting tau darimana atau siapa..Tapi seharusnya sebelum membuka lembaran baru, pasangan juga harus saling mengenal agar saling memahami bukan?..Harusnya hal pertama yang aku tau dari kamu adalah itu. Apa aku satu-satunya cewek yang gk tau mantan cowoknya sendiri?? kenapa? aku awalnya gk mau ngungkit ini, tapi lama kelamaan sikap kamu makin gk rasional tau gk!".


"Bisa jangan bahas ini gk?? gue tau lo lagi cari masalah lain biar kita pisah kan??".


Deru nafas Arsyila makin menggebu.


Mulai lagi.


"Kalo emang lo risih sama gue bilang dari awal gue tau lo cuma nerima gue karna kasihan kan?? dari awal gue juga ngerasa kalo hubungan ini berjalan karna gue yang mati-matian berjuang! sedangkan lo??". Aydan terkekeh sinis.


"Aydan Rabbaniy! apa tadi kamu bilang??? berjuang mati-matian sendiri??? disaat kamu ngerasa bosen dan jauhin aku, apa pernah aku ninggalin kamu?? setiap kamu beralasan sibuk aku selalu mahamin kamu walaupun aku kadang ngerasa kesepian, bermasalah dan butuh pundak kamu untuk bersandar. Apa disaat itu kamu selalu ada??? jadi siapa yang sebenarnya berjuang, aku? atau kamu?".


"Lo kebanyakan ngungkit, disaat gue nyuruh lo ngejauhi Razan apa pernah lo nurut??? bahkan saat gue gk ada, lo main dibelakang sama dia".


"Oooo jadi selama ini aku seburuk itu dipikiran kamu? tau begini kenapa aku harus repotin diri buat kasih penjelasan. Kamu kan emang lebih percaya orang lain dibanding cewek sendiri".


"Karna alasan lo basi! muak gue denger".


"Terserah, mau percaya atau gk mulai sekarang gk usah cari aku lagi!". Arsyila lama-lama muak juga dengan kondisi ini, matanya sudah memerah. Daripada terus berdebat lebih baik ia yang mengalah daripada menyiksa hatinya mendengarkan bentakan Aydan. Ia lalu berbalik dan hendak pergi.


"Tuh kan baru segini aja udah mau pisah.. Itu yang lo bilang cinta?".


Arsyila berbalik menghadap Aydan lagi, seandainya Aydan perempuan sudah pasti rambutnya akan kena jambak Arsyila saking geramnya.


"Kamu maunya apa siih?!".


"Pembuktian!". Jawab Aydan lalu mendekat ke arah Arsyila.


"Ma-Mau apa??". Arsyila perlahan berjalan mundur.


"Aay! kamu mau ngapain!". Arsyila mendorong kuat dada bidang milik Aydan, namun percuma saja karna tenaga Aydan lebih kuat.


Wajah Aydan makin mendekat hendak meraih sasarannya.


BUGH!!


"BAJINGAN!". Razan menggeram lalu kembali memberikan Aydan bogeman mentah.


"Kak udah.." Arsyila berupaya menghentikan Razan.


Pukulan Razan makin brutal hingga darah segar mengucur dari pelipis milik Aydan. Ia sama sekali tak memberikan Aydan kesempatan untuk menyerang balik.


"Kak udah!..Please jangan pukul Aydan lagi, dia lagi gk sadar".


Mendengar pembelaan Arsyila, membuat Razan menghentikan aksinya.


"Disaat kayak gini lo masih perduli sama dia???".


Razan menatap kesal ke arah Arsyila lalu tanpa sepatah kata ia pergi dari hadapannya.


"Bangun". Arsyila membantu Aydan berdiri namun dengan wajah tanpa ekspresi.


"Aku kasih kamu kesempatan buat ngerenungin kesalahan kamu, untuk saat ini jangan temui aku dulu".


Arsyila lalu pergi dari hadapan Aydan namun tangannya kembali dicekal.


"Syil...Maaf". Suara Aydan sudah melemah.


Arsyila hanya menatapnya dengan sorot kecewa lalu menarik kembali tangannya dan benar-benar pergi dari hadapan Aydan.


"Arrrgh!!".


__________


"Kak Razan tunggu!!".


Arsyila menggejar langkah jenjang Razan dikoridor menuju ruangan ketua osis.


"Kakinya panjang banget si!". Arsyila menggerutu lalu mempercepat langkahnya.


"Kak..." Arsyila berhasil meraih seragam putih milik Razan saat baru memasuki ruangan.


"Apa? gue lagi gk butuh penjelasan". Razan menarik kembali seragamnya lalu berjalan menuju singgasananya. Arsyila yang melihat wajah tak bersahabat Razan pun menghela nafas lalu duduk di sofa ruangan itu.


"Makasih udah bantu aku tadi, tapi kk Razan harusnya gk sampe mukul Aydan segitunya..Dia emang suka lepas kendali dan gk sadar sama apa yang dilakuin".


"Kalo kesini cuma buat ngebela cowok lo itu mending keluar deh, males gue denger. Kenapa gk gue biarin aja lo dicium tadi, pasti lo bakal seneng kan?". Razan sekilas memberikannya tatapan sinis lalu kembali sok fokus dengan komputer didepannya.


Arsyila melebarkan bola matanya.


"Siapa yang mau dicium??? enak aja! firstkiss aku cuma buat yang halal!". Balas Arsyila.


"Alesan, udah tau punya cowok modelan kek gitu masih aja dipertahenin". Razan menggerutu.


"Namanya juga cinta kak".


"Dih cinta lo tu gk lagi anugrah tapi musibah".


"Cinta itu buta kak".


"Ya bener, dibutakan Syaiton". Balas Razan dengan nada julid. Arsyila mengerucutkan bibirnya mendengar penuturan Razan.


"Bang Razaann min-"


Ucapan Yana terpotong kala melihat keberadaan Arsyila diruangan kk nya.


"Eh ada kk Syila".


"Yana sini..Peluuk". Arsyila merentangkan kedua tangannya. Yana yang mendengar itu hanya tersenyum simpul lalu duduk didekat Arsyila dan memeluk kk kesayangannya itu.


Berbeda dengan Razan yang melototkan matanya melihat kedua gadis didepannya. Bukannya baper ia malah merasa geli, pikirannya hanya tertuju pada satu kata yaitu "Lesbie". Sepertinya kebanyakan menonton tiktok membuatnya jadi overthingking.


"Kak Syila dari dulu emang gk pernah berubah ya..Ada masalah?". Tanya Yana pengertian.


"Hm". Arsyila hanya bergumam.


"Bisa gk si kalian gk usah mesra-mesraan gitu?? gue jadi su'udzon tau". Razan mengutarakan pikirannya.


"Haaa???". Kedua gadis dihadapannya menatapnya dongo lalu saling menatap satu sama lain setelah melepas pelukan mereka karna terkejut.


"Abang kamu kenapa?". Tanya Arsyila yang sedang melihat mereka dengan wajah geli.


"Abang akhir-akhir ini sering nonton tiktok orang vietanam kak..Jadi kalo liat hal yang kayak tadi dia nyangkanya kita Lesbiie". Adu Yana.


"Ha?? tapi menurut aku sih beda na".


"Emang menurut kk Syila apa??". Mereka masih bisik-bisik membuat Razan memicingkan matanya.


"Dia kurang belaian". "Hahahahaha". Mereka berdua tertawa lepas, jika Arsyila dan Yana sudah disatukan, maka sulit tertolong😌


"Dasar bocah-bocah ingusan!". Kesal Razan mendengar cemo'ohan mereka. Meski mereka berbisik namun suaranya sampai ke ketelinga Razan.


"Syiil!!".


Tiba-Tiba Devan datang dari arah pintu masuk dengan tergesa-gesa. Arsyila yang melihat kedatangan Devan pun berdiri begitupun dengan Yana.


"Ada apa Van? kok muka kamu panik gitu".


"Bantuin gue jadi saksinya Intan, murid-murid yang demo tadi nambah banyak ampe guru pada kewalahan. Mungkin kalo lo yang kesana mereka akan percaya".


"Gk semudah itu". Sahut Razan namun pandangannya masih fokus ke layar komputer.


"Maksudnya bang?". Devan kebingungan.


"Lo punya apa buat nutup mulut mereka?". Tanya Razan lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah mereka bertiga.


"Gue masih gk ngerti bang".


"Bang ngomongnya pake bahasa manusia". Komentar Yana membuat Razan berdecak.


"Mereka pasti disuruh, bukannya mereka seneng kalo Arsyila celaka? terus sekarang tiba-tiba demo seolah mereka perduli? masuk akal gk?".


"Ha??? astaga kk Syila, gk dulu gk sekarang masih aja banyak yang gk suka..Huhu kakak q". Yana kembali memeluk Arsyila dari samping.


"Ck. Jangan gituu". Razan menarik bahu milik Yana agar menjauh dari tubuh Arsyila.


"Aissshhs".


"Hm Lo ada benernya juga bang".


"Jelasin kejadian sebenarnya sama gue lo pasti tau kan?".


^.................^


Razan menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Devan lalu merogoh sakunya untuk mengambil ponsel, bertepatan dengan itu ponsel Razan berdering tertera kontak pak Malik selaku guru kesiswaan disana.


"Halo Zan! kamu dimana?? banyak murid ricuh depan kantor. Bapak tidak mengerti apa yang mereka maksud..Saya sudah panggilkan Rehan tapi dia malah serbu pake kertas bagaimana ini????". Suara pak Malik terdengar panik.


"Panggil Sania sama genknya termasuk Rehan juga, tunggu saya di ruang BK".


"Siap".


"Huh.." Razan menghela nafas.


"Arsyila ikut gue". Pinta Razan lalu berjalan terlebih dahulu.


"Gue?". Tanya Devan menunjuk diri sendiri.


"Gk perlu. Ayok Syil".


Arsyila mengangguk patuh lalu mengekori Razan dari belakang begitupun dengan Yana yang akan kembali ke kelasnya".


"Tunggu! ada hubungan apa lo sama Tiara?".


******


See you next chapter👋🏻💓