
...Hay para readers setianya author😌 Semoga kalian semua tetep sehat ya....
...Happy reading💓🔥...
...*****...
Pagi ini Arsyila sudah siap dengan setelan seragam sekolahnya dan beranjak keluar kamar sambil menenteng papan ujian dan perlengkapan lainnya tanpa membawa tas.
"Eh tadi aja bunda mau panggil".
Ujar Hera yang sudah di pertengahan tangga saat melihat Arsyila di tangga teratas.
"Hadeeeh kan Syila bisa turun sendiri bund.."
"Ntar kamu turunnya lama, tuh Aydannya dah dateng". Beritahu Hera.
"Ya udah gih kamu turun sana bunda mau siap-siap dulu".
"Iya bund".
"Inget, jangan lupa sarapan!". Peringat Hera kemudian turun kembali saat mendapat anggukan dari Arsyila.
"Perasaan aku gk ada janji deh sama Aydan". Gumam Arsyila sambil menuruni anak tangga satu persatu.
"Dan". Panggil Arsyila saat menemukan Aydan diruang tamu. Aydan sontak menoleh lalu membalas sapaan itu dengan senyuman.
"Sarapan dulu gih sana kata tante kamu belum sarapan". Ujar Aydan saat Arsyila berjalan mendekatinya.
"Kamu gk papa nungguin?".
"Iya tuan putri sana sarapan". Ujar Aydan seraya tersenyum.
Arsyila mengangguk lalu beranjak menuju dapur menyusul Adhira yang sedang sarapan sambil membaca buku.
Arsyila menggeser kursi meja makan lalu duduk dan mengisi piringnya dengan nasi dan lauk. Ia makan dalam keaadaan hening..Tak ada percakapan di antara mereka hingga Adhira lebih dulu menyelesaikan makanannya.
"Duluan kak".
Ujar Adhira masih sopan seperti biasa walaupun ia tau Arsyila tak akan memberi respon. Adhira pun kemudian pergi dari hadapan Arsyila.
Tak berselang lama, Arsyila juga sudah selesai dengan sarapannya lalu menyusul Aydan ke ruang tamu.
"Udah?". Tanya Aydan melihat Arsyila yang sudah kembali.
"Udah, yuk jalan". Ajak Arsyila.
"Salaman dulu sama tante".
"Hehe iya".
Bertepatan dengan itu Hera keluar dari kamarnya.
"Bun kita mau jalan".
"Oh iyaiya kalian hati-hati di jalan ya". Ujar Hera sambil menerima uluran tangan dari Arsyila dan Aydan.
"Iya bund".. "Assalamu'alaikum". Ujar mereka bersamaan.
"Wa'alaikumussaalam".
________
"Tumben kamu dateng gk ngasih tau dulu". Ujar Arsyila saat sedang berjalan di samping Aydan melewati pekarangan rumahnya.
"Hehe biar suprise".
"Tapi aku gk kaget wle". Arsyila mengejek.
"Kamu mah gk seru".Aydan pura-pura ngambek.
"Hehe bilang aja kamu kangen". Arsyila tersenyum mengejek.
"Eh kok tau".
"Nebak aja si haha".
"Huh! ya si emang aku kangen lagian kamunya aku tunggu loh ampe jam 10 tapi gk online-online". Keluh Aydan sambil membukakan Arsyila pintu mobilnya.
"Kan aku belajar..Hehe".
"Iyaya aku maklumin". Balas Aydan sambil mengitari depan mobilnya kemudian masuk menyusul Arsyila.
Setelah beberapa menit terlewat mereka pun akhirnya sudah sampai di depan gerbang sekolah. Aydan kemudian menggiring mobilnya menuju parkiran.
Arsyila dan Aydan keluar bersamaan. Namun hal itu sudah biasa bagi para murid di sana hingga mereka berdua tak terlalu menjadi pusat perhatian seperti hari sebelumnya.
Lain halnya dengan segerombolan siswi penggosip yang tampil kembali yang keberadaannya tak terlalu jauh dari area parkiran. Siapa lagi kalo bukan Sania and genk dan satu personil tambahan yaitu Nia yang sudah bergabung dengan mereka entah sejak kapan.
"Dah valid sih ni mereka pacaran".
Ungkit Rehan pada isu yang pernah sempat viral kemarin.
"Gue setuju!".
Intan ikutan nimbrung.
"Trus kk Razan gimana? bukannya isunya dia juga suka sama Arsyila?".
Tanya Rehan lagi.
"Gk tau deh..Dahlah kita kan cuma figuran nunggu keputusan Author aja lah".
"Haha ya juga ya, yuk lah ke kelas!".
Ajak Rani dan diangguki Intan dan Rehan kecuali Sania dan Nia.
"Gue tetep gk terima, gue harus jadi tokoh utama dalam hidupnya Aydan". Gumam Nia dengan mata yang menatap penuh benci Arsyila.
Sania yang dapat mendengar itu tersenyum smrik. Bukannya panas mendengar Nia yang ingin mendapatkan Aydan Sania justru memperoleh ide cemerlang dari otak liciknya.
"Gue bisa bantu lo".
Ujar Sania seolah memberi tawaran pada Nia dan sontak membuat Nia melebarkan matanya.
"Maksud lo?". Tanya Nia dengan raut bingung.
"Gue bisa bantu lo dapetin Aydan".
Sania memperjelas kemudian menolehkan kepalanya ke arah Nia.
"Bu- bukannya lo juga suka Aydan?".
Nia semakin dibuat bingung.
"Heh". Sania tersenyum miring.
"Itu dulu..Tapi sekarang gue lebih tertarik buat ngehancurin orang yang paling di banggain di sekolah ini".
Ujar Sania sambil melihat punggung Arsyila yang sudah menjauh memasuki lorong sekolah bersama Aydan yang nampak bahagia bercanda tawa dengan Arsyila.
"Lo serius?". Tanya Nia ragu-ragu namun sedikit merasa senang mendengar tawaran Sania tadi.
"Gue gk suka main-main..Dan lo tau itu".
Ujar Sania menatap tajam Nia. Nia jadi bergidik ngeri dibuatnya, mungkin ini akan menjadi hari pertama baginya melihat sisi iblis Sania.
"Emang lo gk takut ntar kayak kk Angel?".
"Angel itu terlalu bodoh dan ceroboh..Lo santai aja kita bakal main rapi".
"Gue percaya sama lo".
Tunggu pembalasan gue Arsyila
-Batin Nia sambil tersenyum smrik.
"Cus masuk". Ajak Sania kemudian berjalan beriringan ke dalam gedung sekolah.
____________
Teeet Teeet Teet
Semua murid berhamburan keluar dari kelas saat mendengar suara bel masuk berbunyi untuk mengikuti acara baris-berbaris di lapangan sebelum memulai ujian semester seperti sekolah lain pada umumnya.
Begitupun dengan Arsyila yang sudah beranjak keluar dan melihat Aydan bersama dua sahabatnya yang sudah setia menunggu di ambang pintu.
"Yuk". Ajak Arsyila dan di balas senyum mereka.
Mereka berempat pun berjalan bersama menuju lapangan. Namun ada yang nampak berbeda hari ini di mata Arsyila, ia pun memperhatikan seksama seseorang yang berjalan di deretan paling pinggir di antara mereka sampai matanya menyipit.
"Lah...Si Devan kenapa senyum-senyum sendiri ya Dan?".
Tanya Arsyila berbisik kepada Aydan melihat Devan yang tengah menghadap depan namun dengan senyum yang menghiasi bibirnya tanpa berjeda.
Aydan pun menengok ke arah Devan, alisnya terangkat sebelah..Sungguh pemandangan yang aneh bagi Aydan. Ia kemudian menyikut lengan Alzam yang berada di sampingnya.
"Coba deh lo liat sebelah kiri lo". Pinta Aydan berbisik di telinga Alzam.
"Ap-.."
Aydan langsung memutar kepala Alzam untuk menoleh ke arah Devan yang berada di samping kirinya.
"Eh?". Kaget Alzam.
Plaaak
Dengan tidak sopannya si Alzam menggeplak bahu Devan.
"Aawww sakit lol!". Kesal Devan menatap Alzam.
"Lagiaaan lo, ngapain cobak senyum-senyum sendiri kek orang gila". Sindir Alzam.
"Bodo amaat..Yang penting gue bahagia!". Balas Devan tak kalah ngegas.
"Bahagia kenapa lo Van? tumben..Biasanya juga idup lo lurus terus".
Ujar Aydan sambil terkekeh.
"Anjir lo! eh denger ya–"
"Vaann!!".
Teriak Dheva dari arah belakang hingga ucapan Devan terpotong. Mereka ber-empat pun refleks menoleh ke arah sumber suara.
Terlihat Dheva yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka dengan sedikit berlari kecil.
"Samaan yuk ke lapangan..Kayaknya barisan kita gk terlalu jauh deh kan sama jurusan".
Ujar Dheva saat sudah sampai di hadapan mereka dengan senyuman yang mengembang.
"Yuk!!.."
Semangat Devan menerima ajakan Dheva lalu menengok sekilas ke arah Arsyila dan kedua temannya.
"Guys gue duluan ya". Ujarnya lalu mengajak Dheva pergi.
"Bye Syila".
Dheva berdadah kemudian berjalan beriringan dengan Devan meninggalkan mereka bertiga yang sedang terbengong-bengong.
"What!!! waaah parah nih Devaan jangan-jangan emang beneran nih dia sama Dheva". Alzam geleng-geleng kepala.
"Pantesss dari tadi dia senyam senyum ternyata lagi kasmaran rupanya". Sahut Aydan.
"Hadeeeh ternyata emang bener ya..Cinta itu berpengaruh banget sama mood manusia".
Arsyila ikut nimbrung dengan pandangan yang masih fokus pada Dheva dan Devan yang sedang memilih posisi berbaris di paling belakang agar mereka bisa berkomunikasi walaupun berbeda kelas.
Ya! saat ini mereka sudah berada di pinggir lapangan.
"Kayak aku ya beb, yang selalu bahagia kalo di deket kamu jiiaakh".
Gombal Aydan sambil terkekeh kecil yang hampir membuat Alzam ingin muntah.
"Kresek mana kresek".
Ujar Alzam celingak-celinguk pura-pura mencari kresek sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Arsyila terkekeh geli melihat komuk Alzam yang lebih terlihat seperti orang yang sedang menahan berak.
"Wooiy cepet sini! orang udah pada baris".
Teriak Devan pada teman-temannya yang masih saja sibuk bercanda.
"Eh iyaya astaga...Ya udah Syil kita pencar dulu ya ntar ketemu lagi. Bye-bye sayangg muach".
Ujar Aydan lebuuy sambil memberi kiis jarak jauh dengan tangannya dan berlalu bersama Alzam yang sepertinya sudah benar-benar sudah akan muntaber(muntah berak) jika saja ia tidak ingat tempat:) menuju barisan kelasnya.
Arsyila hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah unik Aydan itu lalu berjalan menuju barisannya di kelas X Agama I yang letaknya di paling kiri dan tak jauh dari posisi berdirinya saat ini.
Tak lama kemudian semua murid pun sudah berkumpul di barisan sesuai kelas mereka dengan memegang kartu ujian masing-masing agar di perbolehkan masuk di ruangan nanti saat pemeriksaan berlangsung di depan kelas.
"Para ketua kelas silahkan siapkan barisannya terlebih dahulu sebelum kita mulai berdo'a". Perintah Razan dengan suara lantang.
Para ketua kelas pun maju di depan barisan kelasnya masing-masing.
"Siap gerak!".
"Lancang depan gerak!".
"Tegak gerak!".
Suara tegas daripada masing-masing ketua.
Arsyila yang sedang melakukan perintah pun tak sengaja menoleh ke samping mendapati Aydan yang tengah memperhatikannya dari posisi yang menonjol yaitu paling belakang.
Aydan yang ketahuan pun cengiran menatap Arsyila sambil menyilangkan jari jempol dan telunjuknya membentuk emot love.
Nampak juga Alzam yang terlihat geli sambil menurunkan tangan Aydan, namun Aydan melakukannya lagi hingga membuat Alzam jengkel dan menahan tangan Aydan kuat begitu terus sampai suara ketua kelasnya "Gio" yang melihat itu memarahi mereka dari arah depan hingga membuat Arsyila cekikikan sendiri menanggapi hal itu.
"Hadeeh ada-ada aja". Ujar Arsyila sambil geleng-geleng kepala.
Itupun tak lepas dari pengawasan dua manusia licik yaitu Nia dan Sania yang berjarak satu baris di depan Arsyila yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Arsyila.
"Lo inget kan rencana kita di kelas tadi?".
Bisik Sania pada Nia.
"Sip". Jawab Nia sembari tersenyum mengeluarkan senyum Devil nya.
...******...
Ada yang nunggu next chapternya gk?
Kasih komen donggg...Biar Author yakin karyanya di baca😔