Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Bag 39 : Rasa yang sulit diungkapkan



Arsyila dan Aydan sudah tiba didepan pintu Showcase cooler yang memajang minuman-minuman segar dari balik pintunya yang berkaca.


"Dan.. Kira-kira bunda mau minuman apa ya?". Tanya Arsyila meminta pendapat.


"Mmm emang biasanya apa?". Tanya Aydan balik.


"Kayaknya sih bunda apa-apa deh".


"Kok kayaknya". Aydan keheranan.


"Ya...Aku jarang liat bunda minum minuman dingin selain air putih yang dikulkas". Jawab Arsyila apa adanya.


"Hm.. Ya udah kalo gitu pilih yang mana aja yang penting ada label halalnya". Ujar Aydan memberi saran.


"Ya udah deh". Arsyila kemudian mengambil salah satu minuman dingin rasa jeruk yang terlihat sangat menyegarkan dimatanya.


"Arsyila". Sapa seseorang dari balik punggung Arsyila.


Arsyila bahkan Aydan ikut membalikkan badannya menghadap sumber suara.


"Kk Razan?". Kaget Arsyila dan spontan melepaskan rangkulan tangannya dari Aydan. Mood Aydan jadi berubah drastis. Kesal, cemburu menjadi satu.


"Oh benar ternyata, tadi gue cuma mastiin". Ujar Razan seraya tersenyum tanpa memperdulikan raut wajah Aydan yang tidak mengenakkan.


"O-oh..Kak Razan ngapain disini?". Tanya Arsyila agak canggung.


"Nih, beli perlengkapan buat besok". Tunjuk Razan pada belanjaannya yang ia jinjing sebentar lalu menurunkannya.


"Emang besok ada agenda apa?". Tanya Arsyila yang malah nyambung berbicara dengan Razan hingga Aydan yang ada di dekatnya jadi panas sendiri.


"Kan bes-


"Sayaanng..Kok tangannya dilepas sih". Ujar Aydan memotong ucapan Razan sambil menggapai tangan Arsyila dan melingkarkannya kembali ke tangannya.


Arsyila hanya mengikuti pergerakan Aydan dengan mata yang melotot. Ia kemudian menarik kembali tangannya namun Aydan menahannya.


"Dan...Maluuu". Greget Arsyila sambil mendongakkan sedikit kepalanya menatap Aydan memohon.


"Tadi kamu sendiri yang mau". Balas Aydan santai, niatnya sih mau manas-manasin Razan.


Ekhem.


Razan berdekhem. Entah kenapa hatinya sedikit terasa nyilu melihat hal itu walaupun ia tahu Aydan hanya berniat membuatnya cemburu.


"Ya udah Syil kalau gitu gue duluan ya, udah mau magrib nih". Ujar Razan pura-pura menengok jam di tangannya.


"Assalam'ualaikum". Pamit Razan seraya tersenyum walaupun hatinya bertolak belakang.


"Wa'alaikumussaalam warohmatulloh". Jawab Arsyila dengan raut tak enak.


Razan kemudian melirik sekilas tangan Arsyila dan Aydan lalu pergi dari hadapan mereka.


"Cih". Aydan berdecih.


"Dan..Kamu sengaja kan kayak tadi". Introgasi Arsyila menatap manik mata Aydan yang ikut menatapnya.


"Iya..Kenapa? jangan bilang kamu takut dia cemburu". Aydan lebih nyolot.


"Apaan sih! orang kk Razan gk suka". Balas Arsyila lau mengalihkan pandangannya ke arah lain karna kesal.


"Ooh gk suka? terus ngapain malu?". Tanya Aydan lagi.


"Walaupun bukan kk Razan juga aku bakal lakuin hal yang sama". Arsyila membela diri.


"Cih alessan". Judes Aydan memutar matanya kesamping. Bukan hanya hatinya yang panas namun badannya juga ikutan gerah.


"Ck kamu kenapa si sensi banget sama kk Razan?". Heran Arsyila kembali menatap Aydan.


"Kamu inget aku pernah bilang apa? Jaauhiin Razaan!". Ujar Aydan menekan kalimat terakhirnya. Arsyila menghela nafasnya kasar.


"Alasannya karna kamu ngira kk Razan suka aku?". Tanya Arsyila dengan wajah kesal.


"Kok kamu kayak keberatan gitu? aku jadi curiga". Introgasi Aydan lalu tersenyum miring.


"Apaa sih Dann..Jangan mulai deh!". Emosi Arsyila ikut tersulut.


"Terserah kamu..Mulai sekarang aku gk perduli terserah mau kamu pacaran kek sama dia terserah!".


Balas Aydan lalu melepaskan lingkaran tangan Arsyila dari lengannya, sepertinya emosinya sudah tak bisa dikontrol jika sudah berkaitan dengan Razan.


Arsyila yang melihat itu hanya bengong, perasaanya jadi tidak karuan ingin rasanya ia meledak menumpahkan kekesalannya melihat tingkah kekanakan Aydan sedari tadi tapi ia tahan mengingat sekarang mereka lagi ditempat umum.


Eh..Tempat umum? berarti..


"Mbak, mas mohon maaf sebaiknya urusan keluarganya diselesaikan dirumah saja gk enak diliat banyak orang". Tegur ibu-ibu itu pengertian saat melewati mereka sambil mendorong troli belanjaannya.


Arsyila dan Aydan yang sejak tadi sibuk sendiri mulai melihat sekitar dan benar saja, sudah banyak pasang mata yang sedang menyaksikan drama mereka. Bahkan pembeli yang sedang memilih sayuran segar pun ikut menonton. Gabut sekali ya :).


Arsyila dan Aydan tersenyum kikuk.


"Oh i-iya buk, maklum baru nikah". Ujar Aydan membuat Arsyila melebarkan bola matanya lalu mendongakkan kepalanya sebentar menatap Aydan.


"Oh pantes toh!". Sahut ibu-ibu tersebut yang dengan mudahnya percaya.


"Ya udah buk kami pamit dulu, maafin saya dan istri saya sudah membuat keributan". Ujar Aydan lalu tersenyum kikuk ke arah penonton yang bisa ditangkap oleh matanya.


"Ayok sayang". Ajak Aydan lalu menggapai tangan Arsyila dan melingkarkannya kembali ditangannya. Arsyila menganga, ia makin dibuat tak percaya dengan tingkah random Aydan ini.


Aydan lalu pergi sambil mendorong troli belanjaannya menuju kasir bersama Arsyila disampingnya terlihat sangat harmonis seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


"Ada lagi mas?". Tanya mbak kasir pada Aydan sambil menghitung belanjaan mereka, biasalah ala-ala pegawai Alfa dan Indomart.


Aish mbaknya cerewet banget sih, kalo udah kesini berarti udah gk ada!


Kesal Aydan dalam hati, inilah hal yang paling tidak disukai Aydan saat berbelanja di Alfa, Kan Aydan orangnya irit ngomong kecuali sama Arsyila dan orang terdekatnya😌.


"Gk ada mbak". Arsyila yang menjawab.


"Mau ditambah dengan mie sedap varian terbaru mas atau yang lain, sedang ada diskon". Tanya mbak kasir itu lagi sambil memegang sekilas makanan yang dimaksud.


"Gk ada mbak, cepet!". Judes Aydan yang sudah kesal lebih dulu.


"Aydan gk boleh.." Tegur Arsyila halus.


"Hus diem!". Sepertinya kemarahan Aydan yang tadi masih berlanjut. Arsyila langsung kicep dibuatnya. Padahal baru saja dibuat baper karna diakuin istri eh malah dibuat badmood lagi.


Ingin rasanya Arsyila menangis dengan perubahan sikap Aydan ini apalagi nada bicaranya yang sangat tidak bersahabat ditelinga Arsyila. Sejujurnya ia tak bisa dibentak, hatinya sedikit terasa nyeri tapi ia berusaha menahannya.


"Totalnya tiga ratus dua puluh lima ribu". Ujar mbak kasir setelah menyelesaikan hitungannya.


"Nih". Aydan menyodorkan empat lembar kertas berwarna merah lalu beranjak pergi tanpa mengucap sepatah katapun.


"Mas kembaliannya?".


"Ambil aja". Jawab Aydan menoleh sekilas ke arah mbak kasir tersebut.


"Terimakasih". Ucap mbak kasir itu seraya tersenyum.


Aydan tak menghiraukannya lalu mengajak Arsyila menuju parkiran.


________


Arsyila dan Aydan sudah memasuki mobil. Ya! Aydan kali ini memakai mobil dengan alasan malas kena debu, belum lagi banci letoy yang mengganggu di area lalu lintas menuju jalan kerumah Arsyila hingga membuatnya risih jika harus memakai motor. Paling aman sih pakai mobil, maklumlah orkay mau pakai apapun juga bebas:).


Aydan melirik Arsyila yang hanya diam menatap area parkiran dari balik kaca mobilnya.


Ekhem


Dehem Aydan yang merasa tidak enak dengan suasana yang canggung itu. Ingin bicara tapi gengsinya lebih mendominasi kali ini.


"Jalan!". Pinta Arsyila dengan nada ketus tanpa menoleh. Aydan yang mendengar itu sedikit terkejut.


"Kok bicaranya judes gitu? Kamu marah?". tanya Aydan memastikan.


Arsyila hanya diam, malas sekali rasanya merespon pertanyaan tak bermakna itu.


"Syil". Aydan menyentuh lengan Arsyila.


"Jangan pegang!". ketusnya lagi Seraya menyingkirkan tangan Aydan.


"Lah?..Kok jadi kamu yang marah sih?". Heran Aydan menatap arsyila yang enggan menoleh ke arahnya. Arsyila tak merespon.


"Kamu selalu gini...Yang salah siapa yang ngambek siapa". Kesal Aydan.


"Jalan atau aku pulang jalan kaki?". Ancam Arsyila lalu menatap Aydan dengan mata yang sudah memerah seperti menahan tangis.


"Lah?". Bingung Aydan.


"Ish!".


Kesal Arsyila lalu mendorong pintu mobil yang ada di sampingnya untuk keluar namun belum sempat pintu itu terbuka Aydan dengan gerak cepat nenggapai gagangnya dan menekan child lock agar Arsyila tidak bisa keluar.


"Awas! aku mau keluar". Perintah Arsyila lalu mendorong tubuh Aydan.


"Gk!". Balas Aydan lebih nyolot lalu kembali duduk tegap setelah berhasil mengunci pintu mobilnya.


"Mau kamu apa sih?!". Bentak Arsyila dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


Aduh! bisa mati nih kalau Arsyila sampai nangis bisa-bisa dicincang gue sama tante Hera.


Batin Aydan melihat itu, ia jadi panik sendiri. Aydan lalu menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan.


"Kita pulang bareng". Ujar Aydan dengan nada suara yang dibuat lembut selembut mungkin agar Arsyila mau dibujuk. Entahlah ia sudah tidak perduli dengan egonya sendiri yang terpenting saat ini adalah berdamai dengan Arsyila agar hidupnya tenang.


"Gk! aku mau jalan kaki". Arsyila masih merajuk dengan bibirnya yang sudah melengkung kebawah dan air matanya yang sejak tadi terbendung menitik pelan.


Batin Aydan meratapi nasibnya.


"Sayang..Aku minta maaf ya walaupun aku nggak tahu salah aku di mana". Bujuk Aydan yang malah memancing emosi Arsyila.


"Salah kamu suka ngebentak! aku nggak suka!". Jujur Arsyila yang makin terisak. Kenapa pulak jika sudah dalam kondisi begini ia jadi cengeng.


Oooo karena yang tadi rupanya, pantas langsung kicep.


Batin Aydan mengingat kejadian di depan kasir tadi.


"Iya iya maaf...Aku nggak tau, maafin aku ya".


Ujar Aydan seraya mendekat. Arsyila masih diam dengan air mata yang terus mengalir.


"Udah dong..Jangan nangis ntar Bunda liat gimana?. Peringat Aydan sambil mengelap air mata Arsila dengan tisu yang tersedia di depannya.


"Kita akan pulang kalau kamu udah maafin aku, aku nggak mau pulang dalam keadaan kayak gini, kita harus damai dulu!". Lanjut Aydan yang tak mendapat respon sedari tadi.


"Kamu jahat!". Arsyila masih kesal.


"Apalagi?".


"Pokoknya kamu ngeseliiin!". Bentak Arsyila menghadap Aydan mengeluarkan segala keluh kesah di hatinya.


"Iyaya pokoknya yang jelek-jelek milik aku". Pasrah Aydan.


"Emang!".


"Udah dong...Masa masih ngambek sih? kan aku udah minta maaf". Aydan membujuk sambil tangannya mengelus pelan pucuk kepala Arsyila yang sedang menghadap ke luar jendela.


Pleaseee😭 ini Aydan kayak ngebujuk bocil! untung penyabarrrr (cuma sama arsyila doang sih biasanya juga dia yang ngamuk😅).


"Sayaang maaff..." Aydan memohon.


"Janji gk bakal ulangin lagi?". Akhirnya Arsyila mulai luluh.


Nah akhirnya! tanda-tanda nih. Yok Aydan pasti bisa!.


Aydan menyemangati diri sendiri.


"Iya janji!". Jawab Aydan yakin. Entahlah nantinya bagaimana yang terpenting sekarang adalah Arsyila luluh dulu.


"Beneran?". Tanya Arsyila sekali lagi.


Yaak sedikit lagii...


"Iyaa sayaaang...Demi boto ijo berubah warna jadi pink aku serius". Jawab Aydan random.


Membujuk Arsyila ternyata tak semudah membangun candi🙃.


"Okey! aku maafin".


Yesss!


"Huh!". Aydan mengusap dada sambil menghembuskan nafasnya lega.


"Ya udah kita pulang sekarang". Ujar Aydan dan diangguki Arsyila.


Aydan pun mulai menjalankan mobilnya untuk kembali kembali kerumah Arsyila.


"Assalamu'alaikum".


Ucap Arsyila saat sudah sampai bersama Aydan dirumahnya.


"BUNN". Panggil Arsyila dari ruang tamu.


"Oiii". Sahut Hera dari dalam kamarnya.


"Dan aku mau nganterin Bunda minumannya dulu ya.." Ujar Arsyila.


"Iya, jangan lupa balik". Aydan sedikit bercanda.


"Hm". Gumam Arsyila kemudian berjalan menuju kamar Hera.


"Huh!". Aydan membuang nafasnya kasar lalu mengambil duduk disofa ruang tamu sessekali melirik foto-foto keluarga Arsyila yang terpajang disana.


"Arsyila dari kecilnya udah cakep". Ujar Aydan meneliti foto masa kecil Arsyila yang terpajang di ditengah-tengah ruang tamu, tepat di atas pintu masuk.


"Aydan udah.." Girang Arsyila ketika sudah kembali dari kamar Hera.


"Oh iya.." Aydan lalu bangkit dari duduknya.


"Mm kayaknya aku harus pulang deh..Ini dah mau azan". Ujar Aydan mendengar suara orang tarhim dari masing-masing masjid yang saling bersahutan.


"Mm okey deh, tante gk marah kan kalo kamu pulang jam segini?". Tanya Arsyila ragu-ragu.


"Gk kok, aku kan cowok jadi bebas mau pulang kapan aja". Balas Aydan sambil cengiran.


"Hadeh..Ya udah deh kamu hati-hati di jalannya". Ujar Arsyila sambil tersenyum.


"Pulang Dan?". Tanya Hera tiba-tiba dari arah belakang. Arsyila dan Aydan menoleh.


"Iya tan.." Jawab Aydan sambil menyalami tangan Hera.


"Ya udah kalo gitu hati-hati". Peringat Hera menepuk sebentar lengan Aydan.


"Okey tan..Kalo gitu saya pamit dulu Assalamu'alaikum". Ujar Aydan.


"Wa'alaikumussaalam warahmatullah".


"Eh Dan jajannya?". Arsyila baru teringat.


"Makan aja, kasih Adhira juga nanti".


"Oo okey".


"Ayok tan, Syil". Pamit Aydan sambil tersenyum kemudian pergi.


"Hadeh sopan banget calon mantu, ganteng lagi". Ujar Hera sengaja ingin menggoda Arsyila.


Belum tau si bunda kisah asin aku sama Aydan tadi kek gimana.


Arsyila membatin.


"Bun..Ayah nelpon". Beritahu Adhira yang datang dari arah kamarnya. Ya! si Adhira sudah pulang les ketika Aydan dan Arsyila sedang pergi.


"Mana?". Tanya Hera.


Adhira pun duduk di sofa diikuti Hera dan Arsyila yang ikut duduk disampinya dengan posisi Hera ditengah-tengah.


"Bunda yang pegang". Pinta Adhira kemudian menyerahkan handponnya pada Hera.


"Hallo mas apa kabar?". Sapa Hera seraya tersenyum.


"Baik, kalian apa kabar?". Tanya Radit dari seberang sana.


"Kami baik". Jawab Hera.


"Arsyila mana? tadi Ayah telpon gk diangkat?". Ujar Radit yang hanya melihat setengah wajah Arsyila karna tidak muat dikamera.


"Ini yah.." Hera memerongkan kamera itu ke wajah Arsyila.


Udah aku tebak..


-Batin Adhira.


"Anak Ayah apa kabar?". Tanya Radit.


"Baik yah". Jawab Arsyila seraya tersenyum.


"Tadi Ayah telpon kenapa gk diangkat?".


"Tadi Arsyila lupa bawa handphone yah abis ke Alfamart hehe". Cengir Arsyila berkata jujur.


"Hadeh..Ya udah nanti Ayah telpon lagi ya, masih ada proyek ini, tadi aja Ayah usahain buat nelpon kalian". Adu Radit.


"Iya yah..Ayah yang semangat kerjanya". Ucap Arsyila dan dibalas senyuman oleh Radit. Hera melirik sekilas ke arah Adhira yang hanya tersenyum kecut.


"Adhira gk mau kasih Ayah semangat?". Tanya Hera membuyarkan lamunan Adhira.


"Oh ya..Semangat yah". Ujar Adhira berusaha terlihat okey.


"Hm anak-anak Ayah ternyata udah pada besar". Ujar Radit melihat kedua putrinya yang sudah ia tinggalkan bertahun-tahun lamanya.


"Ya sudah Ayah mau lanjut kerja dulu ya..Assalamu'alaikum". Pamit Radit kemudian mematikan sambungan telponnya setelah mendapat jawaban salam.


"Bun..Adhira mau ke kamar dulu". Ucap Adhira dengan raut wajah yang terlihat berbeda dari sebelumnya namun Hera dapat mengerti itu.


"Iya nanti waktu makan malam bunda panggil". Jawab Hera sembari mengelus pelan surai hitam milik Adhira. Arsyila yang melihat itu merasa sedikit iri.


Bunda keliatannya sayang banget sama Adhira.. -Batin Arsyila.


"Arsyila juga Bund..Mau naik dulu". Ujar Arsyila kemudian bangkit dari duduknya tanpa menunggu balasan dari Hera.


Adhira juga ikut bangkit dan melangkah menuju kamarnya.


"Hadeh..Kapan yak Adhira sama Arsyila akur". Hera geleng-geleng kepala.


...******...


Nah Author yakin kalian pasti bisa ngambil kesimpulan dari masalah yang berkaitan dengan Adhira dan Arsyila ini kan, jadi gk perlu dipaparin lagi😌.