
...Happy Reading💓🔥...
...*****...
Sesuai janji Razan tadi pagi, sore ini ia benar-benar menjemput Arsyila dan mengajak Arsyila mengunjungi hospital yang sudah dihibahkan untuknya yaitu Arvaqie Hospital.
Saat mereka berdua memasuki gedung besar itu semua perawat yang ada disana langsung menyambut mereka dengan hormat seperti biasa saat Razan datang kesana.
"Cie tuan muda". Goda Arsyila.
"Hmmm". Razan bergumam panjang.
"Diluar mendadak kulkas ya gitu ya". Ejek Arsyila.
"Hust..Cukup sama lo aja gue bobroknya". Razan berbisik.
"Xixixi". Arsyila terkekeh geli.
"Eh Zan.." Sapa Andhika yang kebetulan berpapasan dengan mereka sambil menyalami tangan Razan.
"Gimana?". Tanya Razan sambil memberi kode.
"Ngobrolnya nanti aja, gue lagi ada job". Andhika berbisik.
"Saya akan menemui anda nanti".
"Oke". Balas Razan lalu membiarkan Andhika menjalankan tugasnya.
Arsyila yang melihat interaksi mereka dibuat keheranan. Sangat berbeda dari yang ia lihat sebelumnya.
"Formal banget". Komentar Arsyila.
"Emang gitu aturannya dari papa". Razan sedikit berbisik.
"Oh..." Arsyila mangguk-mangguk.
"Ya udah yuk ke ruangan gue".
"Hm.." Arsyila menurut.
Setibanya diruangan Razan Arsyila disambut dengan pemandangan Cakra yang sedang duduk berbincang bersama seorang perempuan yang terlihat masih SMA namun stylenya seperti anak kuliahan.
"Assalamualaikum pa". Sapa Razan sambil bersalaman sedangkan Arsyila hanya melempar senyum.
"Waalaikumussalam duduk". Perintah Cakra.
"Razan ini Siska, Dokter baru disini". Ujar Cakra memperkenalkan.
"Hm". Jawab Razan dingin seperti biasa.
"Kenalin saya Siska". Siska mengulurkan tangannya ke hadapan Razan. Arsyila yang melihat itu merasa sedikit tak nyaman.
"Razan". Jawab Razan tanpa membalas uluran tangan gadis itu.
"Kak gk boleh". Arsyila berbisik.
"Tangan gue masih bersegel, cuma lo yang boleh pegang". Balas Razan ikut berbisik.
"Aishh". Arsyila salting dengan wajah yang sudah merah merona.
"O-Oh..Oke". Jawab Siska terbata. Cakra yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Sifat dinginnya memang sudah menurun ke putranya itu.
"Yang disebelahnya s-siapa?".
"Arsyila.." Jawab Arsyila sendiri lalu berjabat tangan dengan Siska.
"Salam kenal Arsyila".
"Juga". Arsyila tersenyum manis.
"Kalo gitu saya mau pamit dulu, ada urusan penting dikantor. Siska, kalau mau tanya-tanya kamu bisa berdiskusi dengan Razan atau....Andhika kan ada". Pamit Cakra lalu tersenyum sambil bangkit dari duduknya.
Siska yang mendengar itu tersenyum malu-malu.
"Hehe iya om- eh pak".
Ooh ini yang dimaksud kk Razan tadi, dih katanya pen akrab tapi dinginnya ampun dah!
"Hati-Hati pa.." Razan menyalami tangan ayahnya.
"Hati-Hati om.." -Arsyila.
"Pasti kamu dipaksa ikut kan sama Razan?". Ujar Cakra sambil terkekeh.
"Maybe.." Jawab Arsyila lalu melirik Razan.
"Haha anak om emang gitu, maklumin ya..Kalo gk diturutin suka ngadu sama mamanya".
"Paa". Tegur Razan dengan wajah datar.
"Haha ya udah papa pergi dulu ya Assalamualaikum".
"Waalaikumussalam".
"Huuu anak mami". Ejek Arsyila saat Cakra sudah pergi.
"Nyenyenye".
"Xixixi Eh...Siska kelas berapa?". Tanya Arsyila dengan wajah polos sambil berjalan mendekat ke arah Siska. Ia juga merasa tidak nyaman melihat Siska yang hanya berdiri mematung memperhatikan dirinya dan juga Razan, jadi ia sebisa mungkin mengakrabkan diri.
"G-Gue dah lulus kuliah.."
"Ohh tua'an kamu dong ya, maaf y tadi aku manggilnya gk sopan kamu si mukanya childies gitu".
"Hehe iya gk papa". Siska tersenyum ramah.
"Syil gue ke kamar mandi bentar ya. Lo ngobrol aja dulu sama Siska". -Razan.
Arsyila mengangguk sebagai jawaban.
"Lo pacarnya Razan ya?". Tanya Siska sambil mengajak Arsyila kembali duduk.
"Bukan, mm cuma deket aja".
"Oh..Kirain". Siska mangguk-mangguk.
"Btw Razan keren banget ya masih SMA tapi udah jadi CEO". Puji Siska sembari menelisik ruangan Razan. Arsyila hanya diam tak tahu harus merespon apa.
"Lo beruntung banget Syil, Gue kira modelan es kek Razan gk bakal mau deket ama cewek tapi pas liat lo gue gk kaget pantes aja Razan langsung suka gue aja yang cewek demen liat lo". Jujur Siska. Wajah Arsyila memang penuh dengan aura positif walaupun kadang keliatan jutek si.
"Hihi emang kk Siska tau kk Razan darimana?".
"Siapa yang gk tau Razan? udah kaya ganteng lagi! temen gue juga banyak yang naksir walaupun dia brondong, ih gk kebayang kalo dia masuk perkuliahan nanti". Antusias Siska.
Arsyila ikut membayangkan...Bagaimana outfit Razan dan rambut tebalnya yang dibiarkan terurai ke samping, tas disebelah pundak...Huh! pasti sangat tampan. Tapi...Tunggu! bagaimana Arsyila bisa menjamin ia akan selalu bisa berdampingan dengan Razan? pasti gadis kampus yang pakaiannya terbuka lebih nenggiurkan pikir Arsyila.
"Kenapa...Kamu jadi sedih Syil?". Tanya Siska yang menyadari perubahan raut wajah Arsyila.
"Saingan aku banyak dong". Arsyila mulai insekyur.
"Eh, haha... Syil-Syil cewek secantik kamu bisa-bisanya takut disaingin".
"Ya cewek cantik kan banyak, style mereka juga pasti jauh lebih keren".
"Tapi men-"
"Assalamu'alaikum". Andhika tiba-tiba masuk hingga percakapan mereka terputus.
"Wa'alaikumussaalam.."
"Udah selesai nugasnya?". Tanya Siska lalu ikut berdiri begitupun dengan Arsyila.
"Iya, Razan mana?".
"Ada apa? kangen lo?". Jawab Razan yang sudah selesai dengan panggilan alamnya lalu berjalan mendekat ke arah mereka.
"Dih! pala lo kangen".
Dringg
Ponsel Siska tiba-tiba berbunyi, hingga semua atensi teralih padanya.
"Hehe sorry, izin angkat panggilan dulu ya". Pinta Siska merasa tak enakan lalu diangguki mereka bertiga.
"Ini Arsyila kan ya, makin cantik aja sekarang". Rayu Andhika membuat Razan tergerak untuk menggeplak kepalanya.
"Inget! lo udah mau tunangan...Tobat lo". Cibir Razan mengingat sahabatnya yang super playboy ini.
"Hehe".
"Mm maaf ya semuanya kayaknya saya gk bisa lama disini, ada urusan penting". Siska kembali dengan wajah tak enak.
"Urusan apa yang??". -Andhika.
"Mmm jemput Nara disekolah, papa sama mama lagi ada meeting mendadak jadi gk bisa jemput".
"Oh aku anterin ya, lain kali minta Nara dibeliin mobil biar gk ngerepotin kamu terus apalagi mulai sekarang kamu udah jadi Dokter".
Sekilas info, Nara itu adiknya Siska ya guys...Masih kelas 10:)
"Iya, nanti".
"Ya udah... Zan, Syil gue sama Siska duluan ya sorry gk bisa ngobrol lama bareng kalian".
"It's okey". Jawab Razan singkat.
Mereka berdua pun pergi setelah berpamitan dengan Arsyila dan Razan.
"Kak aku mau liat-liat rumah sakit ini boleh ya?". Arsyila meminta izin pada Razan.
"Sama gue".
"Y-Ya..Udah kalo kk Razan mau".
Tanpa diminta Razan langsung berjalan terlebih dahulu lalu diikuti Arsyila.
Sambil berjalan, mata Arsyila tak pernah diam. Pandangannya menyapu sekeliling tempat yang ia lewati hingga tiba-tiba ia berhenti didepan sebuah poster yang mempertunjukkan sistem pernapasan manusia.
Razan yang melihat itu ikut berhenti lalu memperhatikan Arsyila yang ada di sampingnya.
"Kenapa??". Tanya Razan sedikit heran.
"Jantung merupakan organ vital yang berfungsi sebagai pemompa darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh. Berarti jika dia sudah tidak berfungsi maka manusia akan mati".
Razan diam, ia sudah mengerti alur pembicaraan Arsyila.
"Kak Razan...Apa aku bisa sembuh". Tanya Arsyila tanpa mengalihkan pandangannya. Mendengar itu Razan hanya tersenyum simpul.
"Bisa...Makanya lo harus rutin kontrol ke dokter dan jangan lupa minum obatnya yang rajin sebagai ikhtiar baru do'a".
Arsyila diam seperti sedang berfikir...
"Makasih ya kk..."
"Untuk?".
Arsyila mengangkat sedikit kepalanya menghadap Razan.
"Dari sekian banyak orang yang aku kenal, cuma kk Razan yang sepengertian ini..Cuma kk Razan yang bisa buat aku semangat jalanin hidup yang entah aku gk tau sampai mana akan bertahan. Makasih ya, Aku beruntung bisa kenal kk".
Razan hanya tersenyum sambil mengelus kecil pucuk kepala Arsyila.
"Lo gk perlu berterimakasih...Itu udah jadi tugas gue".
"Kak Razan.."
"Hm".
"Kenapa si kk seneng banget ngelus kepala aku?".
"Menurut lo?".
"Mmm karna aku kayak anak kecil".
"Bukan".
"Apa dong?".
"Karna gue takut di kepala lo ada pakunya".
"Hahaha lo kalo marah makin gemesin".
Ekhem
Razan spontan berdiri tegak dan menetralkan raut wajahnya kala beberapa perawat melintas didepan mereka. Sungguh aneh bukan?.
"Pffft- Kacian banget ketawanya unlimited disini". Ejek Arsyila.
"Gk pp, ntar juga bisa lagi asalkan bareng lo gue selalu happy".
"Dih dasar! murid pak met". Arsyila terkekeh geli.
"Eeh". Razan melebarkan matanya, habis sudah aibnya terbongkar. Arsyila yang melihat itu kembali terkekeh lalu lanjut berjalan.
"Kak.." Panggil Arsyila yang kembali menghentikan langkahnya.
"Hm".
Arsyila diam, namun matanya lurus menatap seorang anak kecil yang tengah duduk meringkut di kursi tunggu rumah sakit. Razan mengikuti arah pandang Arsyila.
"Kak, temenin aku kesana yuk". Pinta Arsyila, Razan hanya mengangguk meski ia sendiri bingung apa yang akan dilakukan Arsyila nanti.
"Kakak siapa?". Tanya anak kecil tersebut sambil mendongak saat Arsyila dan Razan sudah tiba dihadapannya.
"Aku Arsyila, kalau kamu?". Tanya Arsyila ramah, sedangkan Razan hanya diam mengamati.
"Aku Nabila, sini kk duduk". Pinta anak kecil yang bernama Nabila itu lalu menggeser tempat duduknya agar bisa ditempati Arsyila dan Razan.
"Makasih". Ujar Arsyila sembari mendudukkan dirinya begitupun dengan Razan yang mengambil duduk disamping nya.
"Kamu kelas berapa?". Tanya Arsyila basa basi.
"Aku kelas 5".
"Oo.." Arsyila mangguk-mangguk.
"Kalo kk ganteng itu namanya siapa kk?". Tanya Nabila malu-malu.
"Oh, panggil aja dia bang Razan". Arsyila memperkenalkan lalu menundukkan sedikit kepalanya agar bisa berbisik ditelinga Nabila.
"Dia cowoknya cuek, gk usah diajak ngomong ya". Bisik Arsyila sambil cengengesan membuat Razan yang ada disampingnya mendelik.
"Ooo tapi yang cuek itu menantang loh kk". Jawab Nabila ceplak ceplos.
"Eh.." Arsyila melebarkan mata. "Kamu masih kecil loh xixi".
"Tapi temen-temen Nabila udah punya pacar semua kk".
"Hadeh...Gk usah diikutin, kk aja tuh yang udah besar belum punya".
Ekhem...
Razan berdehem sambil pura-pura batuk.
"Terus yang disamping kk siapa?".
Arsyila menengok ke arah Razan.
"Mmm ka-"
"Suaminya". Jawab Razan dengan wajah tak berdosa. Arsyila pun melototkan matanya lalu menggeplak lengan Razan.
"Dia kk kelas aku disekolah".
~What!!! Sebatas itu???
Pekik Razan dalam hati.
"Oooo gitu, kk... Kalo Nabila besar nanti, Nabila mau dong jadi pacarnya kk". Ujar Nabila yang masih polos dengan pandangan tertuju ke arah Razan.
Razan mematung, kata-kata Nabila sama persis dengan permintaan seseorang dimasa kecilnya. Ia pun jadi flashback....
*********
"Kata papa, Farel gk dibolehin pacaran. Tunggu besar dulu".
"Tunggu Nea besar ya Rel. Kalo udah besar nanti Nea mau jadi pacar kamu, gk boleh ada yang dahuluin!".
"Haha iya..."
"Janji?". Tangan kelingking Nea terulur.
"Janji". Farel menautkan tangannya.
*********
Plak!
"Kak! iih...Melamunin apa si? kok senyum-senyum sendiri kek orang gila". Ujar Arsyila yang sedari tadi menggoyak tubuh Razan hingga Razan tersadar dari lamunannya.
"Eh, iya mau!". Antusias Razan yang masih terbawa suasana.
"Wahhh". Mata Nabila berbinar-binar sedangkan Arsyila mengerjapkan matanya berulang kali. Hahaha sepertinya mulai sekarang Arsyila akan bersaing dengan anak kecil.
"Ma-Maksudnya apa?. Arsyila cengo.
"Eh gk ada...Sorry tadi kurang fokus". Elak Razan saat sudah sadar sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Yaahhh padahal Nabila dah berharap loh". Nabila nampak kecewa.
"Nabila masih kecil, tunggu kamu besar dulu ya". Nasihat Arsyila.
~Pas!~ Batin Razan.
"Jangan, nanti pas besar kamu lupa..Mending sekarang aja". Sahut Razan tanpa sadar.
"Kak Razan apaan si! sesat tau". Kesal Arsyila.
"Heheee". Razan cengengesan.
"Oh ya Nabila, kamu ngapain disini? sendirian lagi". Tanya Arsyila.
Senyum yang tadinya merekah kini kembali memudar. Nabila menundukkan kepalanya.
"Nabila lagi nungguin Ayah".
"Emang Ayah kamu sakit apa?".
Nabila menggeleng.
"Ayah sering bawa aku kesini katanya buat cuci darah...Emang harus ya kk darahnya dibersihin?". Tanya Nabila dengan polosnya.
Razan dan Arsyila saling pandang.
"Kamu tiap minggu ya berarti kesininya?".
"Gk, sekali sebulan. Itu aja udah syukur, kata Ayah si biayanya mahal..Untung aja Nabila masih kecil, jadi gk perlu cuci darah hehe jadi beban Ayah gk banyak".
Razan menelan salivanya dengan susah payah.
"Kakak gk pernah cuci darah ya?". Tanya Nabila pada Arsyila. Arsyila menggeleng.
"Oh iya lupa! Kan kata Ayah khusus orang tua". Nabila menepuk jidatnya sendiri.
Arsyila cukup mengerti, apa yang dikatakan Nabila tadi hanyalah akalan dari Ayahnya agar Nabila tidak khawatir dan banyak tanya.
Ceklek.
Pintu ruangan dibuka, nampak seorang laki-laki tua yang berpenampilan sederhana keluar dari ruangan tersebut, sudah pasti itu adalah Ayahnya Nabila.
"Ayah udah selesai?". Tanya Nabila lalu menghampiri Ayahnya begitupula dengan Arsyila dan Razan.
"Alhamdulillah....Ini siapa nak". Tunjuk Ayahnya Nabila pada Arsyila dan Razan.
"Mereka temen baru Nabila yah".
Arsyila hanya balas tersenyum sedangkan Razan setia dengan wajah datarnya.
"Eh bukannya.."
Orang tua yang bernama Rusdi itu menunjuk Razan, ia seperti tak asing saat melihat wajah laki-laki yang sekarang ini berdiri tepat di belakang putrinya.
"Razan". Jawab Razan singkat.
"Astagaa maaf saya lupa, kamu yang punya rumah sakit ini kan?". Tanya Rusdi terus terang.
"Iya".
"Apa putri saya tadi melakukan kesalahan?". Tanya Rusdi takut-takut. Ia mengira mungkin Nabila tadi nakal sampai Razan datang menemui putrinya.
"Tidak".
Arsyila yang mendengar jawaban Razan jadi geregetan sendiri dibuatnya.
"Nabila gk lakuin kesalahan apa-apa kok pak, aku sama kk Razan tadi kebetulan aja ketemu sama dia". Jawab Arsyila sambil menginjak kaki Razan saking kesalnya hingga membuat Razan mengaduh kecil.
"Ooh begitu". Rusdi bernafas lega.
"Kalau begitu saya dan Nabila pulang dulu ya, permisi.." Rusdi menundukkan kepalanya dengan sopan lalu mengajak Nabila pergi.
"Dah kk Arsyila....Bang Razan". Nabila berdadah sambil menolehkan kepalanya ke belakang, sedang tangan yang satunya digenggam Rusdi.
"Dah.." Arsyila ikut berdadah.
"Hmmm....Satu sekali sebulan, kk bukannya kalo orang cuci darah itu dua kali seminggu ya?". Tanya Arsyila yang masih mengingat perkataan Nabila tadi.
"Mungkin dia berasal dari keluarga yang kurang mampu".
"Apa gk bahaya?..."
"Bahaya kalo sampe kronis".
"Trus gimana?".
"Ginjal kalau dah rusak ya harus diganti atau dalam bahasa medisnya si Transplantasi ginjal".
"Mm kalau dipikir-pikir aku mau donor ginjal boleh gk kk? kan ginjal aku ada dua". Pinta Arsyila dengan wajahnya yang nampak tolol dimata Razan.
Razan menatap datar ke arah Arsyila.
"Hehe gk jadi.." Cengir Arsyila melihat wajah Razan yang nampak menyeramkan.
"Biar gue yang urus pengobatannya, lo gk perlu ampe nyumbang ginjal". Sindir Razan.
"Beneraaaan..?" Mata Arsyila berbinar-binar.
"Iya". Razan tersenyum manis. Bahagia Arsyila sangat sederhana, cukup melihat orang lain terbantu ia akan merasa sangat senang.
"Aaaaa makaciii". Arsyila spontan memeluk Razan saking senangnya.
Deg Deg Deg
Jantung Razan berdisko dengan tubuh yang mematung.
"E-Eh...Maaf". Arsyila segera melepas pelukannya.
"A-Aku biasanya gitu ke Kayla mmm ma-maaf aku lupa kalau kk Razan cowok".
"Bisa diulangin gk". Jawab Razan frontal dengan mulut laknatnya.
"Eh". Mata Arsyila melotot lalu mencubit perut kecil Razan.
"Aaww, becanda..lepas Syil..Duh".
"Dasar buaya!". Ujar Arsyila lalu berjalan meninggalkan Razan.
"E-Eh Syiill......Tungguin".
...*****...
See you next chapter💓🔥
Hmmm gimana ya jelasinnya😖
Tunggu eps selanjutnya📝