Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Bag 36 : Si paling posesif :)



...Up lagi nih.. Ada yang mau Author tambahin scane Devan ma Deva gk?/ Chika?, Kalo gk ada yang komen berarti gk usah ya😌...


...Happy Reading🕊...


...*****...


Hari ini adalah hari terakhir bagi para murid SMA Cakranegara melaksanakan pembelajaran semester ganjil karna mulai hari senin besok semua murid akan menghadapi ulangan semester sebagai bentuk evaluasi untuk mengukur kemampuan para siswa/i.


Namun seminggu terakhir ini murid-murid kebanyakan mendapat jam bebas karna para Guru sudah aktif mengadakan rapat dan membuat soal essay permata pelajaran sesuai yang diajarkan.


Yaa sengaja juga sih sebenarnya para guru tidak memasuki jam pelajaran masing-masing tentu itu atas intruksi kepala sekolah agar para murid mempunyai banyak waktu untuk persiapan menghadapi semester nanti.


Kalau tidak seperti itu takutnya nanti mereka ambil cuti sendiri lagi dan semena-mena tidak masuk sekolah. Belum tentu juga mereka mau belajar dirumah, paling ntar ikut keluyuran.


Kalau disekolah beda..Mau semalas apapun tapi kalo liat temen belajar, kita juga pasti ikut tergerak untuk ngelakuin hal yang sama apalagi disekitar kita dikelilingi kutu buku. Kecuali kalo orang yang hidupnya dibiarin gitu aja kek mayat hidup gk mau buat perubahan.


Bersiaplah untuk jadi bodoh sepanjang masa, habis-habisin duit buat biaya sekolah dan jadi beban keluarga! wkwk.


Seperti Arsyila yang saat ini sedang menjawab soal-soal dari LKS yang ia bawa.


"Alhamdulillah selesai, tinggal Matika! aisssh kenapa pulak Matika itu hari selasa". Keluh Arsyila pada mata pelajaran yang paling ia tak suka itu.


Harusnya sih di akhir biar bisa banyak belajar karena rumus dan materi matematika yang syulit diterima oleh otak, begitulah pemikiran Arsyila.


Padahal harusnya bersyukur karena Matika di awal jadi cepat plong belum tentu kan nanti sempat dipelajari karena harus mempelajari mapel yang sesuai dengan hari esoknya juga. Belum lagi Kalau hari akhir itu pikiran kita udah mulai santai karena mendekati hari kebebasan, nafsu belajar pun sudah mulai berkurang jadilah cap cip cup kembang ucup dimainkan.


Kalau kalian di hari terakhir gimana? atau udah lempar penghapus dari hari pertama? 😅 😆


Di tengah asyiknya mengerjakan soal sambil menggerutu Rifki datang dari arah luar dan menghampiri Arsyila.


"Arsyila". Panggilnya.


Arsila sedikit terkejut mendengar panggilan yang tiba-tiba itu, sudah dibilang Arsyila tu orangnya kagetan.


"Eh maaf". Ujar Rifki melihat ekspresi terkejut Arsyila.


"Ada apa Rif?". Tanya Arsyila bingung.


"Gini, jadi tadi gue keruang OSIS dipanggil bang Razan..Katanya OSIS punya group WA dan kita anggota baru belum masuk". Ujar Rifki menyampaikan amanah dari Razan.


"Terus?".


"Ya gue kesini mau minta nomer WA lo, sekalian minta bantuin kumpulin nomer temen-temen yang dari kelas sebelah".


"Oo gitu, lah ngapa harus dibantu Rif?". Bingung Arsyila padahal anggota OSIS yang bidang agama tidak terlalu banyak.


"Ck masak lo gk ngerti si, yang disebelah kan cewek semua". Ujar Rifki menatap datar Arsyila.


Sekilas info tentang Rifki walaupun dirinya terkadang blak-blakan tapi dia itu tidak terlalu suka berdekatan atau bahkan berbicara dengan perempuan kecuali Arsyila mungkin karna ia merasa Arsyila satu rumpun dengannya alias sama-sama lulusan pontren terlebih ia lebih dulu mengenal Arsyila walaupun lewat cerita.


"Oo gitu, langka banget". Ujar Arsyila sambil mangguk-mangguk.


"Langka apa?". Heran Rifki.


"Eh gk ada hehe, yuk". Ajak Arsyila.


Sambil berjalan Arsyila teringat sesuatu..


"Eh Rif kok gk minta nomernya Nia sama Arlina dulu?". Tanya Arsyila, setaunya mereka juga Biro Agama di OSIS dan ada dikelas tadi.


"Oo tapi lo janji ya gk kasih tau siapa-siapa.."


"Insya allah, emang kenapa?".


"Kata bang Razan mereka akan diganti tapi nanti pas udah selesai semester ganjil".


"Lah kok bisa?". Tanya Arsyila heran.


"Mm kata bang Razan tadi Biro Agama dikelas kita kebanyakan, cukup lo aja yang ketua dan anggota lo dari kelas sebelah biar adil".


"Oo iya ya kan anggota kamu dikelas 4 orang ya?". Tanya Arsyila memastikan.


"Iya, nah makanya yang dari kelas sebelah nanti mau diambil tambahan 2 orang aja yang cewek".


"Oo iyaya faham".


"Lo duluan yang masuk". Ujar Rifki saat mereka sudah sampai dipintu kelas.


"Mm kita minta nomer yang anggota kemarin kan?". Tanya Arsyila ragu-ragu.


"Ya iyalah Syil kan yang baru belum dipilih". Jawab Rifki.


"Mmm". Arsyila menengok sebentar ke dalam dan ternyata penghuninya lebih banyak laki-laki .. Ada yang sedang main lempar kertas, baca buku dll.


"Mm Rif kok banyakan cowok ya?". Tanya Arsyila menatap Rifki seperti menimbang. Rifki pun ikut menengok kedalam.


"Hmm ya udah deh gue duluan yang masuk..Tapi nanti lo yang ngomong ya?". Pinta Rifki.


"Okey". Jawab Arsyila pasti.


Rifki mulai memasuki kelas tersebut disusul Arsyila, namun belum sempat Arsyila melangkahkan kakinya sebuah tangan kekar menahan pergelangan tangannya yang tertutup seragam hingga membuat Arsyila terpaksa berbalik badan.


"Aydan?". Cengo Arsyila melihat Aydan yang ada dihadapannya sedang menatapnya datar.


"Mau ngapain tadi? tadi tu siapa?". Tanya Aydan posesif.


"It-


"Arsyila aish lo kok diem didep-". Ucapan Rifki terpotong kala melihat siapa orang yang sedang bersama Arsyila. Tadi ia sudah akan sampai dimeja siswi yang menjadi anggota OSIS itu namun saat menengok sekitar, Arsyila tidak ada, jadilah ia menggerutu sambil keluar mencari Arsyila.


"Lo ngapain deketin Arsyila hah?!". Aydan mengambil ancang-ancang untuk menarik kerah seragam Rifki namun dengan gerak cepat Arsyila menghentikannya.


"Aydan..Jangan! ini tu Rifki ketua Biro Agama". Arsyila menjelaskan. Aydan menghirup nafasnya dalam-dalam mencoba tenang, kenapa pulak jika berkaitan dengan Arsyila ia tak bisa mengontrol diri.


"Sans bro sans.. Gue cuma lagi jalanin tugas sama dia, lo gk perlu cemburu". Ujar Rifki sambil memasukkan kedua tangannya disaku celana.


"Tugas apa?". Tanya Aydan namun menghadap Arsyila.


"Kita mau minta nomer anggota aku yang cewek buat dimasukin ke group OSIS tapi Rifki malu". Ujar Arsyila sejelas-jelasnya.


"Oh biar gue aja yang minta sama Arsyila lo tunggu disini!". Perintah Aydan membuat dua orang dihadapannya ini menatapnya heran.


Arsyila gk tertekan apa yak? -Batin Rifki.


"Iyain aja Rif ntar urusannya makin panjang". Beritahu Arsyila sambil menghela nafas.


"Oo ya udah baguslah kalo gitu..Yang penting gue bawa hasil ke ruangannya bang Razan".


"Tanggung jawab sekali". Gumam Arsyila yang dapat didengar Rifki dan Aydan.


"Ck". Aydan berdecak. Arsyila yang mendengar decakan itu jadi gelagapan sendiri, kebiasaan sekali Arsyila ini suka kelepasan😌


"Eh ayok kita masuk". Ujar Arsyila sambil cengiran.


"Ayok, kok diem". Ujar Aydan pada Arsyila yang hanya menatapnya.


"Kamu duluan".


"Oh". Jawab Aydan singkat kemudian masuk terlebih dahulu.


"Huh". Arsyila menghembuskan nafasnya pelan membuat Rifki menahan tawa.


"Maklumin ya Rif". Bisik Arsyila saat melewati Rifki yang sedang berdiri dipinggir pintu.


"Hadeh ada-ada aja". Ujar Rifki sambil geleng-geleng kepala.


"Dan, malu". Suara Arsyila berbisik dari arah belakang Aydan.


Bagaimana tidak..Saat mereka memasuki kelas itu semua mata langsuh tertuju ke arah mereka. Para murid Agama II yang tadinya sedang asyik bermain jadi menghentikan aktifitas mereka sejenak kala melihat kedatangan dua primadona itu untuk melihat apa yang akan mereka lakukan. Tumben-tumbenan kan Aydan dan Arsyila mampir ke kelas mereka.


"Gk usah malu kan ada gw". Ujar Aydan dari arah depan tanpa menoleh.


"Hm".


"Yang mana?". Aydan merunduk dan ikut berbisik setelah mensejajarkan langkahnya dengan Arsyila.


"Mm yang itu". Tunjuk Arsyila saat menemukan wajah-wajah yang ia kenal. Mereka pun melangkah ke arah meja tengah tempat siswi itu berada. Dua siswi yang duduk berdampingan itu pun hanya saling menatap saat Arsyila mendekati meja mereka, seolah saling bertanya ada apa?.


Saat sudah tepat berdiri disamping meja siswi itu, Aydan langsung mengambil posisi berdiri dibelakang Arsyila untuk menjaga jarak.


"Mm Assalamualaikum". Sapa Arsyila pada mereka dan itupun tak luput dari pandangan murid yang ada disana.


"Wa-Wa'alaikumsalam". Jawab mereka kikuk.


"Kalian anggota OSIS bidang agama kan?". Tanya Arsyila.


"Iya..Ada apa? ada tugas kah?". Tanya salah seorang dari mereka fast respon.


"Oh iya! bentar gw catetin".


"Okey".


"Nay sebut nomer lu". Ujar Siswi dengan nametage Ayu Candana sambil menyenggol lengan temannya yang bernama Naya. Kebetulan sekali mereka duduk bersebelahan dan mendaftarkan diri bersama di OSIS maklumlah anak bestian.


"O85***********".


"Nih Syil". Ayu menyerahkan kertas yang berisikan nomernya dan Naya.


"Okey makasih ya". Ujar Arsyila sambil tersenyum simpul.


"Sama-sama".


Arsyila pun berbalik dan mengajak Aydan keluar dari kelas tersebut.


"Heran gw..langka banget gk si liat Arsyila gk dikawal Aydan?".


Ujar seorang siswa yang juga sedang memperhatikan Arsyila bersama Aydan.


"Cemburu lo?".


Sahut salah seorang temannya yang mendengar itu.


"Mau cemburu juga gk bisa buat gue dapetin Arsyila".


"Lo kurang usaha aja si, cobak kayak Aydan".


"Eh jangan lo samain lah si Anto sama Aydan.. Tergantung yang usaha lah kalo yang usahanya serba good cepet dapetnya oy".


Sahut teman satunya lagi ikut nimbrung yang terdengar seperti sebuah penistaan.


"Wkwkwk ya juga sih, muka lo kan pas-pasan To!".


"Njir temen biadab emang lo pada!".


Ujar siswa bernama Anto itu menatap kesal teman-temannya.


"Nih Rif nomernya". Arsyila menyerahkan kertas tersebut kepada Rifki yang sedang bersandar di dinding menunggu mereka sesuai perintah Aydan.


"Oh iya makasih ya Syil". Rifki menerima kertas itu sambil tersenyum ramah.


"Jangan senyam-senyum lo". Judes Aydan.


"Aydan ih". Arsyila mencubit kecil perut yang tertutup seragam itu merasa tak enak pada Rifki. Aydan hanya meringis kecil merasakan cubitan maut itu.


"Pfft". Rifki menahan tawa.


"Dan, lo jangan terlalu sensi gitu, kasian noh Arsyila kayaknya dia tertekan deh". Peringat Rifki yang langsung mendapat tatapan tajam dari Aydan.


"Syil gue duluan yak". Pamit Rifki lalu mempercepat jalannya takut diamuk masa oleh Aydan, Arsyila hanya balas mengangguk.


"Kantin yuk". Ajak Aydan.


"Belum bel Dan.."


"Hari ini hari bebas..Dari kemarin juga gk belajar". Aydan masih ngotot.


"Gk deh..Aku belum laper, masih jam pertama nih".


"Terus kamu mau balik kelas gitu?".


"Mm i-iya, emangnya kenapa?". Jawab Arsyila gagap melihat ekspresi Aydan yang sudah berbeda.


"Yah..Padahal pengen sama kamu, bosen banget dikelas". Ujar Aydan apa adanya dengan kedua bahunya yang ikut turun.


"Devan sama Aydan emangnya kemana?".


"Pada tidur".


"Haa? ya ampun masih pagi padahal". Heran Arsyila.


"Tadi malem mereka gadang".


"Belajar?". Arsyila berposithif thingking.


"Main game". Jawab Aydan membuat Arsyila menepuk jidatnya.


"Hadeh".


"Terus gimana dong??". Aydan memelas.


"Mm gimana kalo kita belajar bareng". Ajak Arsyila, setidaknya agar mereka melakukan hal yang bermanfaat di jam kosong ini.


"Mm gk papa deh, asalkan sama kamu".


Arsyila tersenyum kecil.


"Yuk!". Ajak Arsyila kemudian berjalan terlebih dahulu diikuti Aydan.


"Belajarnya dikelas kamu?". Tanya Aydan dengan nada seperti keberatan.


"Mm emang kamu maunya dimana?". Tanya Arsyila balik.


"Jangan yang terlalu rame biar bisa fokus".


Aydan beralasan, ia sebenarnya hanya tak ingin banyak orang yang memperhatikan mereka nanti dan membuat Arsyila risih terlebih lagi di sana ada Nia, bisa kacau lah moodnya nanti..Bisa saja kan tuh anak caper dan membuat Arsyila ngambek sampe berhari-hari seperti waktu lalu.


"Mmmm". Arsyila nampak berfikir.


"Rooftop". Jawab Aydan cepat.


"Ide bagus!". Ujar Arsyila antusias, Aydan hanya balas tersenyum.


"Gue tunggu disini". Ujar Aydan saat mereka sudah sampai didepan kelas Arsyila.


"Okey aku ambil buku dulu".


Arsyila segera memasuki kelas untuk mengambil peralatan belajarnya. Saat hendak keluar ia tak sengaja melihat Nia yang sedang duduk dengan genknya Sania yang sedang menatapnya tak suka.


Oh udah akur toh ternyata.


Batin Arsyila melihat hal itu, setaunya Sania and genk tidak menyukai Nia tapi sekarang malah sebaliknya.


Arsyila tak terlalu memperdulikan itu, ia segera keluar membawa alat tulisnya dan menghampiri Aydan.


"Udah". Ujar Arsyila sambil tersenyum.


"Yuk!".


Mereka pun berjalan beriringan menuju lantai paling atas.


Sesampainya di rooftop..


"Duduk disana Syil". Tunjuk Aydan pada kursi panjang yang tersedia disana, Arsyila menurut.


"Kita mau pelajarin apa?". Tanya Aydan ke arah Arsyila yang sedang membolak-balik LKS nya.


"Mm Matika mau? tapi aku gk terlalu bisa". Ujar Arsyila jujur.


"Oh Matika, itu mah gampang! siniin LKS nya". Pinta Aydan pada Arsyila.


"Serius kamu bisa?". Mata Arsyila berbinar-binar.


"Aku pernah ikut olimpiade". Jawab Aydan sambil sibuk mencari contoh soal di LKS tersebut.


Walaupun Aydan bucin-bucin gini, jangan salah! kalau masalah menghitung mah gampang baginya, kalo di pelajaran Matika otaknya memang encer apalagi di Fisika dan IPA.


"Ihh kok aku gk tau siii". Ujar Arsyila antusias.


"Haha kan kita tumben belajar bareng". Jawab Aydan sambil terkekeh kecil.


"Hmm sering-sering dong belajarnya, nanti ajarin aku ya?". Pinta Arsyila menampilkan puppyeyes nya.


"Kapan?".


"Mm pulang sekolah!". Jawab Arsyila antusias.


"Berarti aku kerumah kamu ya.."


"Okey!". Jawab Arsyila sambil membentuk tanda oke dengan jarinya.


...******...