Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Bag 64 : Lupa?



...Seandainya cinta punya mata, maka dia akan melihat kamu siapa....


...Seandainya cinta punya telinga maka dia akan mendengar kamu menyapa....


...Namun sayangnya Cinta itu buta dan tuli....


...____...


...Happy Reading💓🔥...


...*****...


Sudah hampir 8 Jam terlewat namun Arsyila


belum juga sadar membuat Razan yang sejak tadi setia menunggunya di buat khawatir. Bahkan sedetik pun Razan tak berpindah dari kursi dekat brangkar Arsyila kecuali untuk menunaikan sholat Ashar itu pun ia laksanakan di dalam ruangan Arsyila membuat Chika, Deva dan Aldo menatapnya haru.


"Zan..Lo belum makan siang, makan dulu yuk ke kantin". Ajak Aldo karna sejak tadi Razan tidak pernah menyentuh makanan ataupun minuman.


Razan menggeleng lesu.


"Kalian aja, gue gk laper".


"Zan kesehatan lo juga penting, lo lupa kalo punya penyakit magh?".


"Gue gk perduli".


"Keras kepala". Cibir Chika.


Sejak tadi yang mereka lakukan hanya membujuk Razan agar mau memakan nasi walaupun itu hanya sesuap saja karna Razan memiliki riwayat penyakit magh yang hampir ke tahap kronis, ini di sebabkan ia sering melupakan kesehatan perutnya jika sudah bergelut di depan komputer untuk membantu meringankan pekerjaan Cakra.


"Zan gue mau keluar bentar ya bosen di dalem terus". Ujar Dheva dan hanya di balas anggukan dari Razan.


"Eh gue ikut!". Chika mengekori langkah Dheva.


"Zan Chika pergi, gue juga izin keluar ya?".


"Hm".


Aldo yang mendengar deheman Razan menghela nafasnya lalu keluar menyusul Chika dan Dheva.


"Syill lo gk laper apa? badan lo gk pegel ya tidur terus?". Razan berbicara sendiri.


Karna bosan, Razan pun menidurkan kepalanya dengan posisi menyamping di atas brangkar Arsyila.


Namun tiba-tiba..Jari telunjuk Arsyila sedikit bergerak membuat Razan yang hampir mengerjap melebarkan bola matanya lalu bangun dan melihat Arsyila yang seperti kesulitan membuka mata.


"Syiil.. Lo banguuun???". Razan kegirangan lalu segera meraih ponselnya dan menghubungi Andika.


Tak berselang lama Andika masuk ke ruangan itu bersama beberapa perawat lalu memeriksa kondisi Arsyila.


"Gimana Dik????".


Andika sedikit memberi senyum.


"Alhamdulillah gk separah tadi, kalau begitu saya keluar dulu agar tidak mengganggu".


Ujar Andika sambil mengedipkan sebelah matanya lalu keluar bersama para perawat yang tadi.


Setelah pintu tertutup Razan menolehkan kepalanya melihat Arsyila yang sedang menelisik ruangan serba putih itu dengan raut bingung.


"Aku dimana??". Tanya Arsyila yang masih terlihat berupaya mengenali ruangan yang ia tempati sekarang.


Razan lalu mendekat ke arah Arsyila dan duduk di tempatnya semula.


"Lo ada di rumah sakit".


"Rumah Sakit???".


Razan mengangguk sambil tersenyum. Namun tiba-tiba wajah bingung Arsyila berubah digantikan dengan wajah seperti menahan sakit membuat senyum Razan sirna.


"A-A...Leh-er akuu".


Ringis Arsyila sambil memegangi lehernya.


"Lo kenapa Syill??!!". Air muka Razan berubah panik.


"Sakiit. Ke-Cekik". Arsyila terlihat bersusah payah mengucapkan kalimatnya.


"Sabar sebentar! gue panggil dokter". Razan segera bangkit dari duduknya dengan detak jantung yang terus berpacu cepat, ia sungguh takut melihat keadaan Arsyila seperti itu.


Namun saat baru melangkahkan kakinya untuk mencari Andika ia dikejutkan dengan tawa nyaring dari belakang punggungnya yang tak lain berasal dari Arsyila. Razan spontan menoleh dan menemukan Arsyila yang sedang tertawa seperti mengejeknya.


"L-Lo??".


"Wleee". Arsyila menjulurkan lidahnya. "Panik gk tuuh".


"Lo tadi becanda?????".


"Hehe sorry, penasaran aja liat reaksinya kk Razan". Jawab Arsyila dengan polosnya.


"Gk lucu sumpah!". Razan geleng-geleng kepala sambil mencoba mengembalikan kondisi jantungnya yang tadi hampir ingin berhenti berdetak.


"Emang kk Razan tadi beneran panik??".


"Lo liat muka gue kayak orang nyante??". Razan membalik pertanyaan Arsyila.


"Hehe kk Razan mau bangun, pegel". Keluh Arsyila.


Razan menghela nafas panjang.


"Lo ya, baru sadar langsung ngajak ribut". Cibir Razan sambil membantu Arsyila mencapai posisi duduk.


"Hehe..Btw kok aku bisa tiba-tiba ada di sini si??". Arsyila keheranan.


"Kan lo pingsan tadi di sekolah". Razan menjawab.


"HA?? PINGSAN??". Arsyila terkejut.


"Lah? lo gk inget?? udah lebih 8 jam lo pingsan".


"WHAT?!! 8 JAM??". Arsyila semakin di buat syok membuat Razan yang mendengar suara hebohnya menyumpal telinga.


"Lo mimpi apa si tadi?? pasti lo mimpi di kejar naruto makanya pen ngegas mulu". Razan mencibir.


"Huh!". Arsyila menghela nafas lalu menyandarkan punggungnya ke belakang.


"Nih minum..Siapa tau lo lagi konslet".


Razan menyodorkan air minum gelas ke hadapan Arsyila lalu tanpa basa basi Arsyila menyambar minuman itu dan meminumnya hingga tandas.


"Buseeet udah traveling ke gurun sahara lo". Komentar Razan sambil meletakkan gelas kosong itu kembali ke atas Nakas.


"Iya deh kek nya..Mm berarti ceritanya aku lagi sakit nih ya kk Razan?". Tanya Arsyila benar-benar seperti orang yang bingung.


"Bukan ceritanya tapi emang kenyataan..Hadehh".


"Assalamu'alaikum..Eh Arsyila, dah bangun?".


Alzam dan Devan datang dari arah pintu membuat senyum Arsyila semakin mengembang namun senyum itu tak bertahan lama.


"Aydannya mana? kok dia gk nengok aku". Arsyila terlihat lesu.


Razan yang mendengar itu dibuat terkejut begitupun dengan Devan dan Alzam yang saling pandang seolah menyalurkan dikira yang sama.


"Lo serius nyari Aydan Syil??".


Tanya Devan memastikan barangkali tadi ia salah dengar. Arsyila mengangguk.


"Katanya aku lagi sakit, tapi kok dia gk nungguin aku si? apa segitu marahnya ya Aydan sama aku sampai aku sakit pun dia gk perduli". Arsyila terlihat sedih.


"Bang??". Devan bertanya pada Razan seolah mengatakan "Arsyila kenapa?". Namun Razan hanya menggeleng, ia sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi pada Arsyila.


"Syil lo gk inget kejadian tadi pagi sama Aydan??". Tanya Alzam memastikan.


Razan semulanya akan memotong pertanyaan Alzam karna takut Arsyila kembali sakit hati namun ia mencancel ucapannya saat melihat respon Arsyila yang malah seperti orang bingung.


"Kejadian apa???". Dahi Arsyila mengkerut.


"Hah??!". Devan dan Alzam melebarkan matanya.


"Lo gk lagi bercanda kek tadi kan Syil???". Razan terlihat ragu-ragu.


"Becanda? gk kok, aku bener gk tau..Emang kenapa si?? seinget aku kemarin malem masih kerjain PR Qurdis terus tidur kok bangun-bangunnya langsung di Rumah sakit??".


Arsyila benar-benar seperti orang yang kebingungan membuat Razan sedikit merasa aneh.


Razan kemudian merogoh saku celananya untuk mencari kontak Andika hingga panggilan pun tersambung. Razan sedikit menjauh dari brangkar Arsyila.


"Halo Dok". Razan berbicara formal.


"Ada apa Zan??".


"Ada yang ingin saya tanyakan mengenai pasien".


"Ia silahkan ada keluhan apa?".


"Sepertinya ada yang aneh dengan pasien tadi Dok, mengapa ia seperti orang yang lupa ingatan? bahkan dia lupa dengan aktifitasnya tadi pagi".


"Oo mungkin saja dia masih di bawah pengaruh alam bawah sadarnya saat tertidur tadi apalagi waktunya cukup lama dan itu biasa terjadi".


"Oo baik terimakasih kalau begitu Dok".


Razan mematikan sambungan telponnya lalu berbalik menghadap Arsyila yang juga tengah menatapnya bingung. Walaupun telah mendapat informasi dari Andika namun mengapa ia merasa belum puas? seperti ada sesuatu yang mengganjal di hati Razan.


"Gimana bang?". Tanya Alzam saat berjalan mendekat ke arah mereka.


"Katanya ini hal biasa akibat kelamaan tidur".


"Mmm". Devan dan Alzam mangguk-mangguk.


"Baru tau gue Zam". Bisik Devan pada Alzam.


"Pengen gw coba deh, tidur dari pagi sampe sore biar gw bisa lupain Starla". Alzam.


"Sama bro, gue juga. Siapa tau bangun-bangun gue langsung gk kenal mukanya Dheva". Devan ikut-ikutan.


"Hehe gk bang, lagi bahas soal medis".


Jawab Devan asal.


"Hadeh". Razan geleng-geleng kepala.


Mereka pun kembali menengok ke arah Arsyila yang masih terlihat murung sambil memainkan kuku-kuku tangannya.


"Lo kenapa Syil?". Tanya Alzam keheranan.


Arsyila hanya menggeleng namun Razan sudah pasti bisa menebak alasan murungnya Arsyila.


"Lo masih mau ketemu Aydan?". Tanya Razan, meski hatinya tak Ridho menyebut nama Aydan namun ia harus bisa memahami Arsyila.


Arsyila mengangguk lesu.


"Zam cari Aydan sono". Pinta Devan.


"Berdua, gue males ketemu dia sendirian".


"Kalian gk boleh gitu. Mungkin aja tadi Aydan khilaf, bagaimanapun dia, tugas kalian jadi sahabatnya buat ngingetin bukannya ngejauhin".


Peringat Razan. Devan dan Alzam berdecak kagum bisa-bisa nya Razan tidak menganggap Aydan sebagai rivalnya harusnya yang Razan lakukan adalah menghasut kedua sahabat Aydan mumpung hubungannya merenggang namun justru Razan melakukan hal sebaliknya.


"Makasih nasihatnya bang, yuk Zam".


Mereka berdua pun keluar dari sana menyisakan Razan dan Arsyila di ruangan itu. Razan kembali menghela nafas panjang lalu duduk di kursi brangkar tadi.


"Lo gk laper??".


"Laper..Tapi nanti".


"Nanti apa? gue bisa pesenin lu sekarang kalo lo emang gk suka makanan Rumah Sakit".


"Nanti pas ada Aydan".


Hati Razan sedikit nyilu mendengarnya, apa Arsyila sesulit itu untuk peka dengan perasaan Razan?.


"Oh ya udah". Jawab Razan simple.


"Kak Razan nungguin aku dari kapan?". Tanya Arsyila.


"Dari pagi".


"Sendiri?".


"Chika, Aldo dan Dheva juga".


"Hmm trus mereka mana?".


"Arsyilaaa.." Dheva sedikit berlari ke arah Arsyila dengan Chika dan Aldo di belakangnya namun ada tambahan satu lagi, yaitu "Intan".


"Panjan umur". Gumam Arsyila.


"Lo udah siuman?". Tanya Dheva yang sudah berdiri di dekatnya.


"Gk kak masih tiduran". Jawab Arsyila sambil cengiran. Mereka yang ada di sana ikut terkekeh.


"Hahaha Lo sih Vha! gk liat apa lo matanya Arsyila melek pake nanya lagi". Cibir Aldo.


"Ya kan cuma basa basi".


"Nih kita bawa makanan pasti lo laper ya". Chika menyerahkan nasi dan ayam geprek yang mereka beli di seberang jalan raya tadi. Mata Arsyila berbinar dan langsung saja menyambar makanan yang di tawarkan Chika.


"Dih pas gue yang tawarin gk mau". Kesal Razan namun tak di hiraukan Arsyila.


"Nih Syil maaf ya gue cuma bawa yang sederhana".


Intan menyodorkan sekotak Donat yang diberi nama Donat Pazola ke hadapan Arsyila yaitu Donat yang sedang ngetren baru-baru ini karna rasanya yang enak dan berukuran jumbo.


"Wiiiihh". Arsyila kegirangan. "Mak-


"Jangan makan ini Syil..Terlalu manis ntar lo diabet". Dheva merebut kotak Donat itu dari tangan Arsyila.


"Vha gk boleh gitu..Ini masalah pribadi lo jangan dibawa ke tempat umum".


Peringat Chika dengan berbisik.


"Yaahh tapi kan aku mau itu". Arsyila sedikit merengek.


"Ya udah nih tapi jangan banyak-banyak ya.." Ujar Dheva lalu mengembalikan Donat itu pada Arsyila dan tak lupa memberi tatapan sinis pada Intan. Intan hanya menunduk.


"Yey!". Arsyila tak menghiraukan orang-orang di hadapannya. Setelah menerima Donat itu ia langsung membukanya dan melahap rakus Donat tersebut.


"Pelan-Pelan..Ntar lo keselek".


Razan memperingati lalu menyodorkan segelas air ke hadapan Arsyila.


"Enakk tauuu". Adu Arsyila pada Razan sambil mengunyah Donat nya.


"Hadeeh.." Razan mengusap pelan kepala Arsyila.


"Mulai dah nih..Hm kita semua bagaikan angin". Gerutu Aldo.


"Gue keluar bentar ya mau ke kamar mandi, jagain". Pesan Razan saat hendak keluar untuk buang air kecil.


"Sip2 gue jagain ampe halal". Aldo sedikit bergurau.


"Ooo bagoooss". Bukan Razan yang menjawab namun Chika yang kini sedang menatap garang Aldo sambil menjewer telinga miliknya..


"Hehe canda by". Aldo membentuk tanda cis dengan jarinya.


"Ba-By, Ba-By!". Ujar Chika garang.


"Gue keluar dulu ya". Pinta Razan pada Arsyila lalu keluar dari ruangan tersebut setelah mendapat anggukan dari Arsyila tanpa memperdulikan Aldo dan Chika yang sedang ribut.


"Cieeee kk Aldo sama kk Chika, berantem muluk, awas ya kalo sampe jadian aku ledekin mampus!".


"Udah jadian kali Syil, tapi gitu cara romantisnya beda". Balas Dheva lebih tepatnya mengejek. Semenjak Alzam tiba-tiba dekat dengan gadis lain membuat Chika merasa sedih di sana lah Aldo berperan.


Entah bagaimana bisa Aldo meluluhkan hati Chika.


"Nah kan ketinggalan info lagi huh!". Kesal Arsyila..


"Gue aja baru tau". Sahut Dheva.


"Hadeeh..Eh Intan sini duduk deket aku". Ajak Arsyila ia baru menyadari kalau sejak tadi ia mengacangi temannya itu hingga membuatnya sedikit merasa tidak enak. Semua mata langsung tertuju pada Intan.


"Bukannya Intan itu genk nya Sania yang sering gangguin Arsyila ya?". Bisik Aldo pada Chika.


"Gk tau dan gk mau tau!". Chika masih kesal pada Aldo.


"Yaah ngambekk! Vha, Syil gue keluar bentar ya mau bujuk nih bocah". Aldo lalu menyeret Chika dengan cara merangkul.


"Gk mau!". Chika memberontak namun Aldo tak perduli.


"Chika ikuuut! Bye Syil". Dheva menoleh sekilas ke arah Arsyila lalu berlari menyusul Chika dan Aldo. Mereka sampai lupa pesan Razan tadi.


"Hadehh tuh anak pada kelakuannya kayak anak SMP". Arsyila geleng-geleng kepala.


"Lo deket banget ya ama mereka?". Tanya Intan kini yang sudah berani menbuka suara lalu duduk di samping berangkar Arsyila.


"Banget..Hehe, oh ya maafin ya Intan kalo sikap mereka tadi agak cuek mungkin mereka masih ngira kalo kamu genknya Sania". Ujar Arsyila, walaupun terlihat acuh, namun ia sebenarnya memperhatikan tingkah orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Gk papa Syil, gue liat-liat juga mereka sebenarnya ramah".


"Hihi banget".


Di sisi lain..


"Tan ada Aydan gk?". Devan datang bersama Alzam ke rumah Aydan dan menemukan Farah yang sedang membersihkan ruang tamu.


"Ada di dalem".


"Oh oke tan".


Devan dan Alzam hendak berjalan menuju ruangan Aydan.


"Eh bentar! ngomong-ngomong tadi Aydan kenapa bolos dari sekolah??". Heran Farah yang membuat langkah mereka terhenti.


"Biasa tan ada problem ama Arsyila". Alzam beralasan.


"Ooo pantes! hadeh lama-lama tante nikahin juga ya mereka biar kalo berantem tante bisa pantau".


"Wkwk gk usah tan, kasian Arsyila". Ujar Devan membuat Farah mengernyitkan Dahi.


"Kok kasian?".


"Ya kasian ntar tiap hari bersihin kamarnya Aydan yang selalu berantakan". Alzam memberi penafsiran lain.


"Ya udah tan kita mau cari Aydan dulu, eh BTW tadi dia ngamuk gk?".


"Gk, tumben dia gk ngamuk nyampe kamar langsung tidur gk pernah keluar-keluar".


"Ha??". -Devan


"Tante yakin??".


"Yakinlah! orang kamarnya gk di kunci".


"Hm ya udah tan kita mau nyusul Aydan siapa tau sekarang dia lagi mencoba bunuh diri di kamarnya". Ujar Alzam lalu berlari menuju kamar Aydan karna takut sapu yang ada di tangan Farah akan menlayang ke wajahnya.


"Heh! bocah ingusan". Farah berkacak pinggang.


Devan hanya geleng-geleng kepala lalu menyusul Alzam.


...*******...


Ikuti saja alurnya Okey😌 Intinya Jangan mendahului taqdir Author biar gk kualat, ntar kau ku masukkan ke dalam dunia ini dan kujadikan ibuk kantin biar bisa liat cogan di sana atau gk jadi tukang pel sekolah.😒


See you guys🔥💓