
Happy Reading💓🔥
******
Sesuai dengan rencana Arsyila kemarin ia pun benar-benar pergi ke rumah neneknya setelah meminta izin pada Hera dan Hera pula yang mengantarkan Arsyila ke sana.
"Kamu baik-baik di sini ya..Jangan ngerepotin nenek okey".
Pesan Hera pada Arsyila setelah mengobrol sebentar dengan orang tuanya dan hendak pulang.
"Iya bund". Jawab Arsyila sembari tersenyum bahagia.
"Kalo gitu bunda pulang dulu..Buk, Pak..Hera pulang Assalamu'alaikum".
Pamit Hera menyalami tangan kedua orang tuanya kemudian melenggang pergi.
"Wa'alaikumussaalam".
"Nenek yeyy..Akhirnya Syila bisa main lagi ke sini".
Arsyila memeluk erat neneknya melepaskan kerinduan yang ia pendam sejak lama. Badrul kakeknya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Arsyila yang tak pernah berubah sejak dulu..Manja, dan selalu terlihat seperti anak kecil di mata mereka.
"Ya sudah ayok masuk, sudah lama kamu tidak main-main kesini..Nenek buatin kulek mau??".
"Mauuu..Syila bantu ya nek". Mohon Arsyila.
"Ayok ikut nenek ke dapur".
"Kek..Kakek tunggu kulek nya jadi aja yaa buatan Syila sama nenek pasti enak.." Ujar Arsyila sambil tersenyum bangga.
"Haha iya..Kakek tunggu di ruang tamu ya".
Badrul mengelus lembut kepala Arsyila yang tertutup jilbab polos berwarna abu tua itu.
Masih sangat lekat di ingatannya bagaimana Arsyila mengadu pada neneknya dulu kala Badrul kelepasan memarahi cucunya itu karna keasyikan main game karna tidak kontras sekali bagi badrul melihat perempuan bermain game apalagi Arsyila yang sulit di panggil jika sudah memiringkan handponnya dan tak menghiraukan sekitar..Itu terjadi saat Arsyila masih bersekolah dasar namun untung saja setelah mondok ia ada sedikit perubahan.
"Siap kek".
Arsyila memberi tanda hormat dengan tangannya lalu pergi ke dapur bersama neneknya.
Disisi lain..
"Lo kenapa Dan..Kek orang kesambet aja tiba-tiba kalem, gk cocok sumpah".
Komentar Devan melihat wajah lesu Aydan, kali ini mereka sedang berada di rumah Alzam rencananya papa nya Alzam berniat membawa mereka ber-tiga liburan bersama ke bali mumpung mereka ada libur panjang dan papanya Alzam ada cuti.
"Tau nih si curut..Orang mau liburan tu bahagiaa nih beda kek orang baru ketimpa musibah".
Sahut Alzam sambil menutup kopernya yang berisi pakaian mereka ber-tiga. Maklumlah cowok perlengkapannya dikit gk pake ribet mau kemana-mana gk kayak cewek mana pake tas, pake koper, tas selempang baru tuh cukup kadang kresek pula masih di tenteng:)
"Arsyila gk online udah dua hari". Adu Aydan dengan suara lemas.
"Ooo pannnteees".
Jawab Devan dan Alzam bersamaan.
"Galau nih loh ceritanya". Ujar Devan sambil terkekeh mengejek.
"Ya iya laah padahal dia udah janji bakal hubungin gue tapi manaa?? awas aja besok kalo dia on, gue marahin abis-abisan". Kesal Aydan.
"Wkwkwkwk".
Devan dan Alzam malah menertawai Aydan, temen laknat emang:)
"Kan ada nomer biasa begok gk mesti lewat WA juga". Beritahu Devan.
"Gk nyambung". Jawab Aydan masih kesal.
"Kalian semua udah siap?".
Tanya Hendra papanya Alzam tiba-tiba datang dari arah belakang yang sontak membuat atensi mereka ber-tiga teralihkan.
"Udah Om".
"Udah pa".
"Ya udah sekarang kita berangkat..Ma barangnya udah siap kan? biar papa masukin di mobil". Tanya Hendra pada istrinya.
"Udah pa".
"Yuk ke mobil!". Ajak Hendra kemudian pergi lebih dulu.
"Cuuus".
Girang Devan dan Alzam bersamaan tak seperti Aydan yang malah terlihat tak bergairah.
_________
Hari telah berganti malam..
Tak terasa setelah melewati banyak canda tawa bersama nenek dan kakeknya kini Arsyila sudah duduk rapi beralaskan tikar untuk makan bersama mereka.
Walau sederhana namun Arsyila merasa bahagia..
Sejak Arsyila memberi kabar akan berkunjung kesini sehari sebelum ia datang mereka berdua izin libur bertani untuk sementara waktu hanya agar bisa menghabiskan waktu bersama cucu kesayangan mereka. Jadi Arsyila tak pernah merasa kesepian.
Mereka pun sudah selesai makan, dengan cekatan Arsyila membantu neneknya membereskan piring bekas makan mereka dan ia bawa ke tempat pencucian piring.
"Nek biar aku yang nyuci piringnya...Nenek masuk aja dulu". Pinta Arsyila.
"Ya sudah..Nenek bersihin tempat tidurnya dulu ya".
"Okey Nek". Arsyila tersenyum simpul.
Arsyila sudah selesai dengan acara mencuci piringnya, lalu membersihkan tangannya di sebuah gentong berukuran sedang yang terbuat dari tanah liat dengan pencahayaan lampu yang remang-remang membuat suasana zaman old nya makin terasa.
Arsyila lalu masuk ke dalam hendak meminta izin pada neneknya..
"Nek..Arsyila ke halaman bentar ya, entar Syila masuk".
Ujar Arsyila pada neneknya yang sedang menyapu teras rumah.
"Iya..Tapi jangan kemaleman ya gk baik". Peringat neneknya.
"Iya nek siip". Arsyila memberi tanda jempol.
Arsyila pun berjalan menuju halaman depan yang tak terlalu luas itu dengan cahaya bulan yang nampak sebagai penyinar suasana halaman gelap yang hanya mendapat sedikit percikan cahaya lampu dari jalanan yang sunyi.
Ia kemudian duduk..Mengamati langit yang luas nan indah lalu tanpa sadar bibirnya membentuk sebuah lengkungan senyum yang mampu membuat siapapun yang melihatnya ikut merasakan kebahagian yang sama.
Arsyila sedikit bernostalgia..Mengingat kisah masa kecilnya yang bahagia, saat bermain bersama anak-anak sesusianya dulu saat berkunjung kesini, baik itu teman dari pamannya yang entah darimana namun memperlakukan Arsyila kecil layaknya tuan putri namun sekarang seiring berjalannya waktu mereka juga ikut terbawa masa.
Kisah sedihnya di skip!:)
"Mereka pasti udah pada besar...Paman pergi merantau gk tau kapan pulangnya, Rat..Pendi, Eja..Almarhum Wir..(Alfatihah)...Aku kangen merekaaa".
"Bik Uci, Ika..Kemana kalian? Nisa? Novi? Kangen main kayak dulu..Kenapa kalian seperti orang asing sekarang".
Arsyila meracau sendiri mengingat nama-nama teman masa kecilnya yang sangat ia rindukan ada pula yang namanya terlupakan namun wajah mereka masih terbayang pekat di ingatannya..
Hatinya menangis namun matanya hanya menatap langit dengan sendu lalu menurunkan bola matanya menatap hamparan lapangan luas yang bisa ia lihat dari rumah neneknya yang terletak di gundukan teratas.
Karna rasa rindunya akan masa itu..Sampai ia tak sadar hatinya menyandungkan bait puisi acak-acakan..Sebagaimana perasaannya saat ini.
Mau denger??? Author bisa denger loh😌😅...Kira-kira beginilah bunyinya🤔
"*Dalam keheningan malam..Aku melihat kisah lama yang nampak nyata*.
*Hatiku sungguh rindu, namun tetap saja...Aku tak kan bisa kembali ke masa itu..Masa yang penuh kedamaian*.
*Aku menyesal karna sempat ingin tumbuh Dewasa..Hingga tanpa sadar aku telah kehilangan masa bahagia*.
*Dewasa tak semenyenangkan yang di bayangkan pikiran kekanakanku*..
*Jika dulu aku yang selalu menangis karna mainanku tak sengaja dirusak*..
*Namun justru sekarang aku harus berusaha tegar melawan permainan dunia yang membuatku sesak*."
~**Suara hati Arsyila**~
Arsyila memandangi hamparan luas di depannya itu dengan senyum yang sudah redup.
"Arsyila".
Panggil neneknya dari arah belakang hingga membuat Arsyila terpaksa menoleh.
"Iya nek?".
Jawab Arsyila sopan lalu berdiri dan menghampiri neneknya.
"Ayok tidur..Ini sudah malam nenek tadi nungguin kamu tapi kamu gk balik-balik".
"Hehe iya nek..Tadi Syila liat bintang bagus banget". Adu Arsyila seperti anak kecil.
"Haha iya nenek tau..Kamu kan emang suka liat pemandangan malam tiap kesini".
Ujar neneknya mengingat kebiasaan Arsyila sedari dulu saat berkunjung ke kediamannya.
"Hehe iya nek..Yuk masuk". Ajak Arsyila lalu menggandeng tangan neneknya.
Saat sampai di depan teras..Nampak Badrul yang sedang menonton ceramah di tivi kecil yang ada di ruang tamu. Saat melihat Arsyila ia pun segera mematikan televisinya lalu menutup pintu tengah itu dan bersiap-siap untuk tidur.
Ya! sedari dulu Arsyila tak pernah tidur berpisah dengan nenek dan kakeknya entah itu Arsyila yang di tengah atau kadang di paling pinggir dekat neneknya dan Badrul yang memberi lalang dengan bantal guling.
Karna tempat tidur mereka pun bukan di sebuah kamar atau ruangan seperti orang lain, namun mereka biasa tidur di teras luar rumah yang hanya tertutup pagar. Jauh berbeda dengan rumah Arsyila yang bertembok full.
Namun Arsyila senang kadang terharu..
Bagaimana bisa nenek dan kakeknya tidur di tempat seperti ini dan tak kedinginan padahal angin malam sangat dingin sedangkan ia tidur di kamar dengan kasur empuk yang nyaman di tempati..
Arsyila sudah mengambil tempat di paling pinggir lalu menghadap neneknya dan bertanya..
"Nek..Nenek gk ada niatan gitu buat renovasi rumah? aku bisa mintain papa kok".
Ujar Arsyila polos.
"Hehe untuk apa renovasi rumah kalau rumah sederhana seperti ini saja sudah membuat nenek dan kakek kamu nyaman?".
Jawab neneknya sembari tersenyum hangat walau lampu sudah dimatikan namun Arsyila masih bisa melihat senyuman yang penuh kedamaian itu.
"Tapi kan nek..Apa nenek gk kedinginan tiap malem tidur disini terus?".
"Nenek mah sudah biasa..Tidur di sawah juga sering, kita sudah tua untuk apa rumah besar-besar..Toh entar kalo kita udah gk ada siapa yang akan menempati rumah mewah itu? lebih baik rumah sederhana seperti ini asalkan hidup kita nyaman".
Arsyila diam sebentar namun pikirannya hanya terpatok pada pertengahan kalimat neneknya.
"Nenek sama Kakek jangan tinggalin Arsyila ya..Arsyila sayang kalian".
Ujar Arsyila lalu memeluk neneknya.
"Do'ain nenek tetep sehat ya".
Badrul hanya diam mendengar percakapan antara cucunya dan istrinya itu sambil tersenyum kecil karna akhirnya mereka bisa berkumpul lagi namun ia juga sedikit terharu mendengar permintaan Arsyila tadi.
"Iya nek selalu".
*Ya allah semoga nenek dan kakek panjang umur dan sehat selalu..Aamiin*
\-Batin Arsyila.
*Puk puk puk*
Tak lama suara nafas Arsyila pun mulai berhembus teratur karna merasakan tepukan halus di punggungnya yang tak lain berasal dari neneknya.
Good night😴
...\*\*\*\*\*...
**Nama-Nama yang tercantum di atas bisa jadi karangan Author saja**..
**See you next Chapter👋🏻💓**