
Di sekolah
Arsyila sudah duduk manis dibangkunya mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung.
Dia sangat bersyukur..Akhirnya ia bisa menghirup udara segar setelah kepindahan Nia kekursi belakang kemarin.
Ditengah kefokusannya memperhatikan tiba-tiba sesuatu mengganjal diperutnya menyebabkan Arsyila harus segera ke toilet untuk menuntaskan kebutuhannya.
"Pak izin ke kebelakang".
Ujar Arsyila ragu-ragu.
"Oh iya silahkan".
Arsyila segera keluar dari kelas berjalan cepat menuju kamar mandi.
Selang beberapa menit Arsyila sudah selesai dengan kegiatannya.
"Alhamdulillah".
Ujarnya ketika sudah keluar dari dalam toilet, dengan gerak cepat Arsyila merapikan hijabnya agar tidak terlalu lama melewati pelajaran dikelasnya.
Brakkk
Pintu kamar mandi di dobrak dengan kasar membuat Arsyila tersedak nafasnya sendiri karna terkejut.
"Astaghfirullahal'adzim".
Arsyila berucap pelan sembari mengelus dadanya sabar.
"Cih si paling Istighfar".
Sindir Angel yang datang bersama antek-anteknya.
"Tia kunci pintu!".
Perintah Angel dan di angguki Tia.
"Haa? kalian mau ngapain?". Bingung Arsyila.
Angel mendekat kemudian menarik kasar kerudung Arsyila hingga membuatnya mendongak.
"Gk usah sok gk tau deh loh!" Bentak Angel.
Arsyila yang merasa kewalahan menarik jilbabnya sekuat tenaga dan menghentak kasar tangan Angel.
Lalu dengan santai kembali menghadap cermin memperbaiki jilbabnya yang sudah meletoy bin lusuh itu.
Angel menggeram kesal melihat keberaniian Arsyila, mungkin diantara yang lain hanya Arsyila korban labraknya yang tidak menampakkan wajah takut sama sekali.
"Gk tau apa benerin jilbab tu bisa ampe satu jam". Gerutu Arsyila.
"Bilang Apa lo!".
Angel menarik kasar bahu Arsyila supaya menghadapnya.
"Berani lo hah! jadi adek kelas aja belagu".
Kini Eline menimpali sembari mengapai tangan kiri Arsyila supaya tidak bisa bergerak.
"Tia! pegang tangan kanannya!".
Perintah Eline pada Tia yang hanya menonton aksi kedua temannya dengan ekspresi tegang. Dia tidak pernah melakukan ini sebelumnya karna baru bergabung dengan Angel.
Tia mengangguk pasrah dan ikut menyekap Arsyila.
"Kalian mau ngapain?".
Arsyila berinsut mundur berusaha memberontak.
Plak !
Satu tamparan mendarat dipipi mulus Arsyila.
"Berani-beraninya lo deketin Reno setelah pengagum setia lo itu pergi.. Gue bad girl disekolah ini siapapun yang bermasalah sama gue gk akan gue kasih lepas. ngerti lo!"
Ujar Angel sambil mecengkram kuat rahang milik Arsyila.
Arsyila hanya bisa pasrah lagipula ia tidak akan bisa melawan..
Pipinya terasa sangat panas karna tamparan tadi belum lagi rahangnya yang terasa perih dengan kuku tajam Angel yang tembus menancap pipinya.
ya Tuhan ini jelmaan Famvire kah
Batin Arsyila kelewat santai.
"Nngh Awssh lepppawas kak".
Arsyila mengerang berusaha mengeluarkan suaranya.
Angel melepaskan cengkramannya dengan kasar dan tersenyum smrik ketika melihat goresan di pipi Arsyila yang berdarah karna kukunya.
"Lepasin dia".
Pintanya pada dua sahabatnya melihat Arsyila yang sudah mulai melemah tak lagi membrontak.
"Aku gk pernah deketin kk Reno".
"Cih! lo kan yang ngajak Reno pulang bareng kemarin?!".
"Gk kk..Kak Reno yang maksa".
"Mana ada maling mau ngaku!". Sahut Eline memanas-manasi.
"Dasar Cewek Gatel!".
Craaakk!
Tubuh Arsyila terhempas membentur kaca besar yang ada dibelakangnya hingga membuat cermin itu retak dan menjatuhkan serpihan-serpihan kecil.
"Awsh".
Arsyila meringis merasakan sakit dibagian punggungnya karna dorongan kasar yang diberikan Angel.
Angel melotot kaget tak menyangka dirinya akan kelewatan seperti ini begitu pula dengan Eline dan Tia yang ada dibelakangnya.
"Njel udah...Tia takut".
Ujar Tia gemetar menarik pelan lengan Angel.
"Kita keluar yuk!" Eline ketakutan.
Ia tidak mau sampai masuk ruang BK lagi gara-gara ulah Angel dan dimarahi orang tuanya.
"Gk! gue belum puas!".
"What! lo gila Njel?" Panik Tia.
"Terserah".
Perasaan cemas dan takut tiba-tiba menguasai Arsyila.
Degup jantungnya berdetak cepat.
"Aku kenapa??" Gumam Arsyila panik meremas dadanya yang nyilu.
Samar-samar ia melihat Angel mendekat ke arahnya hendak menghajarnya kembali namun..
Tiba-tiba darah segar mengalir dari hidungnya.
"Aaa".
Tia panik melihat Arsyila yang mimisan.
"Ken-
Ucapan Arsyila terpotong ketika melihat darah segar menintik dijilbab putihnya membuat pergerakan Angel terhenti dan ikut membuka mulutnya lebar.
Arsyila yang baru menyadari dengan gerak cepat membelai hidungnya dengan jari telunjuk kemudian memajukannya ke depan wajah.
Arsyila mematung.
"Darah?".
Arsyila menatap tak percaya gumpalan warna merah dijari telunjuknya.
Sejak kapan aku mimisan?
Selain ruangan hampa Arsyila juga takut melihat darah bahkan jika tangannya tergores sedikit saja dengan pisau ia akan berlari mencari Hera untuk segera menutup lukanya.
Dan sekarang darah segar terus mengucur pelan dari hidungnya tak bisa berhenti.
"Hiks daraahh..Bundaa".
Tubuh Arsyila kembali gemeteran, ia kemudian menelungkupkan kepalanya disisi lututnya yang terlipat.
Arsyila terus meraung dengan diselimuti perasaan cemas. Angel dan antek-anteknya dibuat panik.
"Tuh kan Njeell!!! apa gue bilang dr tadi. Lo selalu kek gini" Ujar Eline emosi.
"Yaaa mana gue tau kalo dia selemah ini".
"Kenapa lo nangis Tia?".
Heran Eline pada Tia yang sudah gemeteran.
"Tia takuuut".
"Ya udah yuk keluar!" ajak Angel buru-buru menarik kedua temannya.
Braaakkkk
Suara pintu di dorong kuat dari luar hingga pintu tersebut oleng.
Razan muncul bersama Aldo dibelakangnya, Angel and genk terkejut bukan main.
Tadi Razan sedang berkeliling seperti biasa menjalankan tugasnya bersama Aldo mengecek siswa yg bolos jam pelajaran.
Ketika melewati kamar mandi ia tak sengaja mendengar suara ricuh dari dalam sana hingga saat mendengar suara yang familiar baginya tanpa ragu Razan mendobrak keras pintu tersebut.
"Ra-Ra-Razan".
"Lo apain Arsyila hah?!!!".
Wajah Razan sudah merah padam.
Para murid yang letak kelasnya tak jauh dari kamar mandi menyerbu keluar kelas ada yang jam kosong bahkan yang sedang melaksanakan pembelajaran ikut berhamburan keluar saking penasarannya karna mendengarkan keributan diluar.
Dasar murid zaman sekarang!
"Jawab gue Angel!!!".
Angel tersentak, dia meremas kuat tangan Eline.
"Tadi Angel ngelabrak Arsyila dan dorong dia ke kaca".
Ujar Tia takut-takut dengan tangan yang bergetar.
"Tiaa!!!" -Angel.
"Gue sama Tia cuma nemenin".
Eline ikut-ikutan tidak mau terjerat masalah Angel.
Razan melihat kaca di belakang Arsyila lebih tepatnya atas kepalanya..
Razan syok.
"Banngst!!!!".
Baru pertama kalinya Razan mengeluarkan umpatan didepan banyak orang bahkan Aldo dibuat terkejut.
Apalagi melihat wajah Razan yang seperti ingin membaku hantam orang didepannya jika saja mereka bukan perempuan.
Razan segera menghampiri Arsyila yang sedang melungkup sesenggukan.
"Arsyila.."
Panggil Razan panik kemudian mengangkat kepala Arsyila.
Betapa terkejutnya Razan kala melihat jilbab putih bersih milik Arsyila sudah berubah warna bersimbah darah.
"Hikss".
Arsyila terus menangis sambil sedikit mendongakkan kepalanya membiarkan darah tersebut trus mengalir tanpa henti dengan mata yang ditutup.
Bahasa Razan sudah tidak bisa dikendalikan otaknya terasa mendidih melihat Arsyila dalam kondisi seperti ini.
Aldo mengangguk cepat kemudian menyeret Angel dkk.
"Dan kaliaaan cepet panggil PMR sekolah!!".
Perintah Razan tegas pada murid-murid yang sejak tadi berhimpit-himpitan ingin melihat kedalam.
Mereka bergidik ngeriii..Untuk pertama kalinya mereka melihat Razan semarah ini.
"Arsyilaa tahan".
"K Razaan sakit".
Rengek Arsyila masih dengan menutup matanya.
"Aku takut huhu".
Arsyila makin mengeraskan tangisnya perasaannya semakin tidak karuan..
Takut, cemas bercampur menjadi satu.
"Sabar Syilaa...Ada gue".
Mata Razan memanas.
Tanpa ia sadari air matanya menintik dengan sekali kerjapan.
"Woyy!! mana PMR Anj* cepett!".
Razan menoleh sekilas pada kerumunan murid-murid tersebut.
Jika saja dia nekat sudah sejak tadi dia membopong Arsyila, tapi Razan masih ingat Arsyila bukan gadis yang bisa sembarangan disentuh.
Tak lama Cika dan Deva senior PMR putri datang dengan tergesa-gesa.
Mereka tadi ada kelas dan terpaksa meminta izin karna laporan seorang siswa.
"Ada ap-... Astagaaa".
Cika membekap mulutnya melihat darah Arsyila.
"Devaaa cepet minta anggota yang lain buat ambi tandu" Pinta Chika panik.
"Razan awas dulu..Biar gue yang coba hentiin darahnya sebelum tandunya sampe".
"Kelamaan!!. Lo bopong aja kenapa pake tandu". Razan emosi.
"Gk bisa Razan..Ntar darahnya bececeran dilantai". Razan Akhirnya mengalah.
Cika kemudian mengambil alih Arsyiila.
"Arsyila jangan ngedongak".
Chika dengan pelan memposisikan kepala Arsyila dengan benar kemudian mengambil serbet dikotak P3 K yang ia bawa untuk mengelap darah dari hidung Arsyila.
Chika kemudian menjepit hidung tepat di bawah jembatan bertulang milik Arsyila melakukan teknik pengobatan yang sudah ia pelajari semampunya.
Darah dari hidung milik Arsyila sudah mulai surut mengalir lamban.
"Chika ayok tandunya udah dibawa".
Ujar Deva kemudian mengalungkan sebelah tangan Arsyila dibantu Chika.
Arsyila tetap merem tak perduli dengan kericuhan yang terjadi disekitarnya, tangis Arsyila pun mulai mereda karna perasaannya sudah mulai normal tidak sepanik tadi.
Arsyila dibopong ke ruangan UKS diikuti Razan dari belakangnya bersama anggota PMR yang lain.
"Kalian balik kelas aja..Biar Chika sama Deva yang urus".
Anggota PMR yang lain mengangguk kemudian pergi dari sana.
"Kalian semua juga buubarr!!".
Perintah Razan tegas tanpa bantahan.
Mereka yang masih menonton Arsyila dibopong menatap takut Razan dan berlari menuju kelas masing-masing.
Razan nempercepat jalannya menuju UKS menyusul Arsyila dengan wajah cemas.
"Awas lo Angel!".
Guman Razan terus menyumpah nyerapahi Angel sepanjang jalan hingga dirinya tiba dipintu UKS.
Ia kemudian melangkah masuk mendapati Chika yang sedang membantu Arsyila bernafas normal dengan tubuh yang lemah.
Darah Arsyila pun sudah tidak lagi keluar.
"Gimana Chik?".
Tanya Razan kemudian mengambil duduk di kursi sebelah ranjang Arsyila.
"Gk papa, tapi Zan menurut gue.."
"Apa?".
Tanya Razan penasaran melihat wajah ragu Chika menyampaikan perkataannya.
"Mm Arsyila kamu istirahat aja dulu" -Chika.
"Biar gue bantu".
Ujar Deva kemudian perlahan membantu Arsyila membaringkan badannya.
"Ck kenapa Chika?? lama banget lo ngomong".
Desak Razan tidak sabaran.
"Huh".
Chika menghela nafas pelan.
"Menurut gue Arsyila bukan hanya sakit diluar.." . Beritahu Chika yang sudah ahli dibidang ini apalagi ibunya seorang Dokter. Chika bisa dengan mudah menebak apa yang terjadi pada Arsyila.
"Maksud lo?".
Bingung Razan.
"Dari pengalaman gue jadi PMR dan praktik-praktik yang sering diajar sama nyokap gue, Arsyila kayaknya perlu periksa deh..Gue takut dia punya trauma, atau lo tau?".
Chika menatap sendu Arsyila yang sedang memejamkan matanya.
"Trauma?".
Beo Razan. Ia jadi ingat kejadian disekolah yang sudah lewat saat Arsyila mengadu takut padanya.
"Kayaknya..Gue bisa liat dari ketakutan yang Arsyila punya, tangannya juga gemetar gitu..Tapi gue gk brani jamin..Bisa juga kan karna baru pertama kali kayak gitu, gue cuma takut Arsyila sampai trauma sama kejadian barusan dan takut sama orang-orang".
Jelas Chika panjang lebar.
Apa kak Chika orang yang tepat buat gue cerita?
Batin Arsyila yang juga ikut mendengar itu tapi dia masih ragu. Sulit sekali bagi Arsyila mempercayakan apapun pada orang lain.
Mengenai kalimat terakhir Chika Arsyila kurang setuju..Karna sejauh ini Arsyila belum sampai pada tahap takut bertemu orang-orang walaupun ia sangat syok akan perlakuan Angel tadi..
Dilain sisi..Razan menggeram mendengar penuturan Chika. Hanya satu nama yang sedang berputar diotaknya yaitu Angel.
Tanpa sepatah kata Razan bangkit dari duduknya hendak menyusul Angel ke ruang BK.
"Kk Razann.."
Panggil Arsyila membuat Razan menghentikan langkahnya.
Arsyila perlahan membuka matanya.
"Iya Syill..Apanya yang masih sakit?".
Tanya Razan perhatian menundukkan kepalanya menatap Arsyila.
"Mau pulang.." Rengek Arsyila.
"Lo Istirahat aja dulu sini, gue mau urus Angel dulu Okey?".
Ujar Razan sambil mengusap-usap pelan kepala Arsyila yang tertutup hijab memperlakukan Arsyila layaknya seorang kekasih.
Dan itu tak luput dari dua orang yang berubah profesi menjadi nyamuk😐
Nasib jadi jomblo:) - Batin Chika.
Deva hanya melongo..Sudah bisa ditebak jika Razan menyukai Arsyila.
Deva menyikut lengan Chika yang ada disampingnya memberinya isyarat mata namun hanya dibalas hendikan bahu oleh Chika.
"Mauu pulaaang.." Arsyila terus merengek.
"ya udah". Akhirnya Razan mengalah.
"Deva bisa minta tolong?". Ujar Razan tiba-tiba.
"Apa Zan?".
"Ambilin jilbab putih di Koperasi. Ambil aja ntar gue yang bayar".
ya ampuun kok peka banget siih-
Batin Arsyila menatap takjub Razan. Razan balas menatap Arsyila sambil tersenyum.
Eh lupa..kan dia Cenayang aisshh hati, lo bisa diem gk sih!
Razan hanya geleng-geleng kepala melihat wajah cemberut Arsyila.
Bisa-Bisanya Arsyila berfikir Razan cenayang padahal Razan hanya menebak tatapan Arsyila tadi..Sangat mudah ditebak.
"Ukhuk uhuk"
Chika pura-pura batuk.
"Sejak kapan lo batukan?". Sindir Razan.
"Sejak barusan..Duh keselek gue..Biasa penyakit jomblo".
Balas Chika sambil memegang-megang tenggorokannya.
"Noh si Aldo".
"Dih gk doyan temen angkatan mending brondong ya gk Va?".
"Eh Deva mana??".
bingung Chika celingak celinguk.
Tak
Razan menjitak kepala Chika.
"Awshh sakit Jubedd!!".
Keluh Chika sambil menggosok-gosok keningnya.
"Lagian lu.. Kan Deva gue suruh ke Koperasi peak!".
"Oh iyaya hehe".
"Sok-sokan lu pengen brondong otak lu aja geser!..Mau ngurus anak lo?".
"Ehhh smelekete lo muka babyface gini masih cocok ama anak SD!. Asal lo tau".
Sinis Chika menatap Razan.
"Tapi otak lu!".
"Ish sewottan lu aah".
Arsyila cekikikan melihat perdebatan kecil didepannya.
Razan-Razan..Hobi sekali membuat orang kesal. Batin Arsyila.
...*****...
Tim Razan👋🏻 Tim Aydan👌🏻 Tim Reno☝🏻
See you next Chapter😘