
...SIAP UNTUK ENDING???...
...Happy Reading💓🔥...
...*****...
Tak terasa semester ganjil tahun ini sangat cepat berlalu dan kini para murid SMA Cakranegara tinggal melihat hasil dari jerih payah mereka.
Begitupun dengan Arsyila, tak disangka kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil. Ia berhasil mendapatkan peringkat pertama dan mengalahkan Silvia.
Sorakan demi sorakan terlantun untuknya saat Arsyila mulai bangun dan berjalan ke depan mengambil raport dan hadiah yang di siapkan wali kelas untuk para murid berperestasi yang meraih juara 1-3.
Kayla ikut senang, malah dia yang lebih antusias memberikan tepuk tangan untuk Arsyila.
"Gue terlalu ngeremehin". Gumam Silvia lalu menghela nafas panjang.
Arsyila mendekte wajah teman kelasnya satu persatu berharap bisa menemani mereka hingga hari kelulusan nanti.
"Arsyila, selamat ya". Ucap buk Dewi wali kelas mereka yang baru.
"Makasih buk". Arsyila tersenyum ramah sambil berpamitan lalu keluar dari kelas.
Bibir Arsyila tak henti-hentinya tersenyum, ia tak sabar untuk sampai di rumah melihat bagaimana reaksi Hera nanti. Namun tunggu ada satu hal lagi yang membuat jantung Arsyila kembali berdebar...
Kalian ingat? pernikahan Razan dan Arsyila tinggal menghitung hari loh! tadi malam Radit mengabarkan pada Arsyila bahwa ia tidak bisa pulang hari ini untuk mengurus rencana kelanjutan perjodohan mereka karna pekerjaan mendadak hingga ia menunda penerbangan dan akan pulang besok padahal Arsyila tak mengharap pernikahan ini berlangsung cepat, membayangkan dirinya seatap dengan Razan saja membuat Arsyila keringat dingin.
Namun Arsyila tak terlalu memikirkan itu, yang terpenting impiannya sudah terwujud yaitu mendapat peringkat 1 di kelas. Ia melupakan bebannya sebentar untuk membayangkan bagaimana wajah bahagia Hera nanti seperti dimana bundanya itu sangat antusias melihat kemenangan Adhira.
Dengan senyum yang mengembang Arsyila berjalan menyusuri koridor, ia bahkan tak menghiraukan panggilan Kayla yang ada di belakangnya karena asyik berkhayal.
Lamunan Arsyila buyar kala melihat Razan yang sedang melintas tak jauh di depannya sepertinya Razan hendak berjalan menuju ruangan pribadi miliknya.
Arsyila hendak memanggil Razan, namun tiba-tiba suaranya tercekat..
"K-Kak...." Arsyila menghentikan langkahnya.
Rasa sakit yang baru-baru ini menghinggapi tubuhnya kini datang lagi dan rasanya bahkan lebih sakit dari sebelumnya. Dadanya terasa dihantam sesuatu yang sangat besar.
"Arsyila?!" kamu kenapa?". Tanya Kayla saat sudah berhasil mengejar langkah Arsyila diikuti Hamam.
Kayla makin dibuat panik melihat Arsyila yang nampak kesulitan bernafas. Razan yang jaraknya tak jauh dari sana pun menoleh, telinganya sangat tajam saat mendengar nama Arsyila disebut.
Melihat Arsyila yang seperti itu, Razan segera berlari menghampiri Arsyila.
"Sayang kamu kenapa???". Razan sangat cemas saat ini.
Para murid yang sudah berada diluar kelas hanya bisa mematung di tempat, ada juga yang saling tanya satu sama lain.
Begitupun dengan Devan dan Alzam, mereka yang tadinya sempat bercanda terpaksa berhenti untuk menyaksikan kejadian yang ada di depan mereka.
"Van? Arsyila kenapa???". -Alzam.
"Gk tau kayaknya dia kambuh!".
Arsyila tak dapat mengendalikan kesadarannya hingga akhirnya jatuh ke pelukan Razan.
"SYIIILLL!!!!!". Razan langsung membopong Arsyila keluar untuk membawanya ke rumah sakit diikuti Kayla.
"Gawat! ayok Van kita ikut". Alzam menepuk bahu milik Devan, rupanya meski mereka sudah tak akrab seperti dulu namun rasa perduli itu masih ada.
~Gue harus kasih tau Aydan!.
Batin Devan lalu mengikuti Alzam yang tengah berlari mengikuti Razan.
_________________
Arvaqie Hospital..
"Arsyila....." Razan tak henti-hentinya memukul dinding yang ada di depannya.
"Bang udah, tangan kamu udah berdarah". Kayla mencoba menghentikan aksi Razan.
"Gue brens*k! Gue pecundanng! Gue gagal jagain lo Syil hiks".
Racau Razan sambil mengamuk. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membiarkan Arsyila kambuh, namun melihat wajah kesakitan Arsyila tadi, rasanya Razan ingin lenyap saat ini juga.
"Zan! tahan diri lo! Syila bakal baik-baik aja kok percaya sama gue". Aldo menahan tangan Razan yang hendak menghantam kembali tangannya ke tembok.
Ia tadi sempat mendengar gosip-gosip para murid saat ia melewati koridor bersama Chika dan Devha jadi dia menyusul kemari.
"Iya Zan, berhenti salahin diri lo sendiri! ini memang taqdir, lo udah berusaha jagain Arsyila sebaik mungkin".
Dheva dan yang lainnya hanya bisa menatap kasihan ke arah Razan.
"Sayang Arsyila mana?". Jasmin tiba-tiba datang dengan masih menggunakan pakaian kantoran, ia tadi mendapat telpon dari Razan dan langsung bergegas kesini tanpa mengganti pakaian.
"Mamaa...Hiks". Razan menangis tersedu-sedu sambil memeluk tubuh Jasmin.
Semua yang ada disana dibuat menganga...Razan yang biasanya tegas, Razan yang dingin dan cuek kini seperti anak kecil yang sedang mengadu pada ibunya hanya karna Arsyila.
"Hust...Gk boleh nangis". Jasmin menenangkan sambil mengelus bahu lebar putranya.
"Razan gk mau kehilangan Arsyila maaa hiks".
"Syila gk akan ninggalin kamu sayang".
"Zam...Baru kali ini gue liat bang Razan kayak gitu?". Devan menyenggol lengan Alzam.
"Samaa...."
Tiba-Tiba dokter keluar bersama banyak perawat namun bukan untuk memberi kabar melainkan untuk memindahkan Arsyila ke ruangan ICU.
"Dok! calon istri saya mau dibawa kemana???". Razan dengan wajah yang sulit ditebak.
"Mohon bersabar tuan, kami akan berusaha sebaik mungkin. Permisi". Ucap Dokter tersebut sekedar untuk menghormati Razan.
"ARRGGGGHHH". Razan mencengkram rambutnya sendiri lalu kembali menghantam tembok didepannya.
Jasmin meraih tubuh putranya dan kembali menenangkan.
"Udah telpon bunda???". Tanya Jasmin dan dibalas gelengan dari Razan.
Jasmin pun segera menelpon Hera dan untungnya langsung diangkat.
"Hallo Assalamu'alaikum..Hera kamu dimana?".
"Wa'alaikumussaalam...Lagi di sekolah, kenapa?".
"Arsyila masuk rumah sakit".
Hera diam sebentar, sepertinya ia masih terkejut.
"Saya segera kesana".
Jawab Hera lalu menutup telponnya sepihak. Jasmin menghembuskan nafas kasar.
Di pojok sana, Ada Kayla yang menangis terisak di dalam pelukan suaminya.
"Hamam...Arsyila sahabat aku satu-satunya, aku gk mau kehilangan dia". Ucap Kayla was-was.
"Kamu lama-lama kayak bang Razan deh pikirannya ngacok. Arsyila bakal baik-baik aja kok, kita bantu doa aja ya". Hamam menenangkan namun justru tangis Kayla makin pecah.
"Kak Kayla, kk Syilanya mana????". Yana datang bersama Radit.
"ICU". Hamam yang menjawab.
Yana mematung. Ia lalu melihat kondisi Razan yang sudah terlihat kacau, wajah-wajah orang disekitarnya juga nampak bersimpati..
Perlahan tapi pasti air mata itu mengalir keluar dari pelupuk matanya.
"Kamu jangan sedih ya, kita bisa bantu kk Arsyila pake Do'a". Ucap Radit sambil merangkul Yana.
"Dit jangan pulang ya, temenin aku jaga kk Arsyila". Pinta Yana karna hanya Radit yang masih kokoh diantara orang-orang terdekatnya.
Radit tersenyum simpul.
"Iya".
Devan tak mau berlama dalam kondisi ini, tanpa aba-aba ia pun branjak keluar dari area rumah sakit. Alzam hendak menyusul langkah sahabatnya namun sebelum itu ia terlebih dahulu menghampiri Devha.
"Dev, mau ikut aku pulang atau dijemput?".
Dheva menghela nafas pelan..
"Iya, nanti gue kabarin". Jawab Chika.
Dheva mengangguk lalu berjalan mengikuti Alzam.
30 menit lebih sudah namun Dokter tak kunjung membawa kabar untuk mereka, kini Razan sudah duduk dikursi tunggu bersama yang lainnya. Ia sudah tak lagi menangis namun pikirannya hanya dipenuhi dengan nama Arsyila.
"Kalian pulang duluan aja, biar gue yang nunggu kayaknya Dokter masih lama". Ucap Razan yang terlihat agak tenang.
"Yana ikut jaga kk".
"Kamu lagi sakit Yana, kamu Istirahat aja di rumah biar mama sama Abang yang diem disini". Pinta Jasmin.
"Mama juga pulang, kasih Yana obat...Kasihan dia mama terlalu sibuk sampai gk ada waktu buat jagain Yana, untung masih ada Razan". Ucap Razan membuat Jasmin langsung kena mental.
"Ya udah mama pulang dulu, nanti mama kesini lagi ya". Jasmin mengelus rambut putranya sebentar lalu pulang bersama Yana dan Radit.
"Lo yakin sendiri?". Tanya Aldo.
"Iya". Jawab Razan singkat.
"Ya udah kita pulang dulu ya, kalo ada apa-apa kabarin kita". Ujar Chika dan diangguki Razan.
Mereka berdua pun pulang dengan terpaksa.
"Gk pulang?". Tanya Hamam pada istrinya, Kayla menggeleng.
"Ganti seragam dulu ya, besok masih dipake". Kayla menimbang-nimbang...
"Tapi nanti balik kesini lagi ya".
"Iya".
Kayla pun mengangguk setuju.
"Bang, gue sama Kayla pulang bentar mau ganti seragam". Hamam berpamitan.
Razan hanya membalas dengan anggukan kecil.
________________
Akhirnya Dokter sudah keluar dari ruangan Arsyila dan menyampaikan informasi yang tidak ingin Razan dengar.
Berita buruknya Arsyila mengalami "Gagal Jantung Stadium Akhir" dan kini sedang dalam keadaan koma.
Razan yang mendengar itu tak bisa menahan diri, semua barang yang ada disekitarnya menjadi bahan pelampiasan. Tidak ada satu orang pun yang berani menghentikan kegilaannya itu, Razan sudah benar-benar frustasi.
Untungnya tak lama dari itu Hera bersama Adhira datang tepat waktu dan terkejut melihat kekacauan yang dibuat Razan.
"Razan! kamu kenapa?? Razan hentikan!". Hera berteriak dari posisi berdirinya, namun Razan sama sekali tak menghiraukan.
Dengan berani Hera mendekat ke arahnya lalu menarik tangan Razan.
"Razan, hentikan! kamu mau rumah sakit ini hancur ha?".
Razan menghentikan kegiatannya lalu menjatuhkan lututnya ke lantai, air mata Razan tak henti-hentinya mengalir.
"Kasih tau bunda, kamu kenapa?? apa karna Arsyila kambuh?". Tanya Hera yang tak tahu apa-apa.
Razan tak menjawab. Rasa kesal, kecewa dan sedih bercampur menjadi satu.
"Razan tolong jawab bunda.." Hera menuntut.
"Apa kalo Razan kasih tau bunda bakal perduli sama Arsyila?". Razan mendongak menatap Hera.
"Ma-Maksudnya??". Hera tak mengerti.
Razan bangkit lalu berhadapan tepat dengan Hera.
"Bunda keterlaluan! seandainya bunda bisa merhatiin Arsyila sedikit aja, Razan yakin Arsyila gk bakal kayak gini!".
Razan terlanjur emosi, selama ini ia sudah banyak bersabar karna menghormati Hera sebagai calon mertuanya dan juga bunda Arsyila, walau terkadang ia sangat kesal saat melihat Arsyila yang diam-diam menangis di kelas. Hatinya sangat sakit melihat itu.
"Apa bunda pernah tanya keadaan Arsyila di rumah? apa bunda pernah perduli apa yang dia suka dan apa yang dia gk suka???. Arsyila bunda kasih lepas gitu aja seolah dia bisa melakukan itu semua sendiri. Dia hidup bersama keluarga yang sangat dia sayangi tapi kalian malah jadiin dia orang asing. Bunda tau? Arsyila mati-matian belajar biar bunda bisa merhatiin dia kayak Adhira tapi apa? bunda sama sekali gk pernah perduli sama dia, dan sekarang...Hiks".
Razan tak mampu melanjutkan kata-katanya...Unek-Uneknya yang selama ini ia pendam berhasil tersampaikan yang seharusnya itu keluar dari mulut Arsyila sendiri. Meski Arsyila tak pernah berkata apa-apa namun Razan selalu memperhatikannya.
Hera mematung, air matanya tumpah begitu saja...Begitupun dengan Adhira, ia juga sadar yang dikatakan Razan tadi memang benar adanya..
"Arsy-Arsyila kenapa...?". Tanya Hera terbata-bata.
"Gagal jantung stadium akhir, bunda puas?". Tanya Razan dengan mata yang berkas-kaca lalu pergi dari hadapan Hera menuju ruangan Arsyila.
Deg!.
Hati Hera mencelos begitu saja mendengar pengakuan Razan.
Arsyila selalu terlihat baik-baik saja di depannya, tersenyum bahkan tertawa dengan Adhira...Bagaimana bisa Hera menyangka kalau itu akan terjadi pada Arsyila.
Sehabis Arsyila pulang kontrol, Hera selalu menanyakan bagaimana kesehatannya dan Arsyila selalu menjawab bahwa keadaannya semakin membaik namun Hera tidak tau selama ini ada luka dalam yang Arsyila sembunyikan dibalik senyumannya.
Hera merasa hancur sehancur-hancurnya...Ia merasa benar-benar gagal menjadi orang tua.
...___...
Sore hari di ruangan Arsyila..
Razan tengah duduk dikursi dekat brangkar Arsyila, menatap lekat-lekat wajah gadis yang telah menguasai hatinya selama ini.
"Syila bangun....Hiks". Razan menggoyak pelan tubuh Arsyila.
Sedang Hera dan Adhira berdiri tak jauh didekat Razan, rasa bersalah masih menghantui diri Hera.
"Bun Dhira ke toilet bentar.." Ucap Adhira lalu segera keluar dari ruangan tersebut, ia sebenarnya hanya ingin menghindar ke kamar mandi untuk melampiaskan tangisnya. Melihat kk nya yang tengah berbaring lemah di atas brangkar membuat Adhira merasa tak tega.
"Lo pembohong Syil! lo selalu bilang kalo lo baik-baik aja tapi nyatanya...? kenapa lo nutupin ini dari gue??". Razan terisak, sulit sekali baginya menerima kenyataan ini.
Tiba-Tiba Jasmin masuk ke dalam ruangan itu sendirian lalu mendekati putranya.
"Razan..Pulang sama mama ya, kamu belum makan dari tadi pagi". Jasmin membujuk, sebenarnya ia sudah sempat kesini tadi siang tiada lain untuk membujuk putranya agar mau menerima makanan.
"Gk ma...Razan gk laper". Tolak Razan namun pandangannya hanya tertuju pada Arsyila.
"Ingat kamu itu punya penyakit magh, Arsyila pasti marah besar kalo sampe dia tau kamu telat makan".
Razan diam...
"Kita pulang ya, biar bunda yang jagain Syilanya". Jasmin masih membujuk.
Sebenarnya bisa saja Jasmin membawakan makanan untuk putranya namun sudah pasti Razan menolak dan lagi Razan paling anti makan di rumah sakit.
"Iya Razan, kasih bunda waktu buat jaga Arsyila.." Hera memohon.
Razan menghela nafas panjang.
"Ya udah...Tapi setelah itu, Razan langsung balik".
"Iya.." Jasmin akhirnya bisa bernafas lega.
Sesampainya di rumah Razan langsung menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu sedangkan Jasmin menyiapkan makanan.
Tak lama Jasmin kembali dari dapur membawakan sepiring nasi goreng dihiasi telur mata sapi tak lupa segelas susu putih kesukan Razan.
"Aaaaa, buka mulutnya sayang". Intrupsi Jasmin namun Razan menggeleng.
"Razan mau disuapin sama Syila ma..."
Jasmin yang melihat itu sedikit terharu.
"Iya, nanti kalo Syila udah sembuh".
Razan pun terpaksa membuka mulutnya dan mengunyah makanan tersebut dengan tidak nafsu.
Setelah selesai makan Razan langsung izin ke kamarnya untuk mandi sebelum kembali ke rumah sakit.
Usai mandi Razan merasa segar namun ia sedikit letih karna berjam-jam duduk disamping brangkar Arsyila. Razan pun berjalan ke tepian ranjang sambil mengutak-atik ponselnya, membuka galeri untuk melihat foto Arsyila.
"I love you Arsyila, I promise to always be by your side wherever you go".
...*****...
See you next chapter👋🏻💓