
...Hellow pacar virtual Author😍 masih semangat gk nih bacanya? jangan lupa kasih Vote yaak!...
...Happy reading❤...
...*****...
"Eh Do! tungguin gue dong..Gue gk bisa nyebrang". Rengek Chika sambil menarik baju kaos Aldo yang hendak berjalan terlebih dahulu. Ya! sekarang ini mereka sedang berada di pinggir jalan untuk menyebrang menuju kios yang letaknya diseberang jalan sana.
"Aishh cepet pegang tangan gue!". Pinta Aldo lalu menyodorkan tangannya. Dengan gerak cepat Chika menerima uluran tangan Aldo dan menggenggamnya erat.
Mereka pun menyebrang bersama hingga sampai ke tujuan.
"Assalamu'alaikum Buk ada lakban besar yang bening?". Tanya Aldo pada pedagang kaki lima yang terlihat sedang sibuk menggoreng tempe.
"Oh iya ada bentar dek saya ambilkan". Jawab pedagang tersebut.
"Ini dek".
"Makasih buk". Ujar Aldo kemudian pergi dari sana diikuti Chika .
"Itu aja kan Do?". Tanya Chika yang berjalan disamping Aldo.
"Iya". Jawabnya singkat.
Entah lakban tersebut yang licin atau Aldo yang tidak fokus hingga membuat benda tersebut menggelinding di sekitar pinggiran jalan.
"Eh". Aldo kemudian berlari kecil mengikuti arah bergelindingnya lakban tersebut hingga lakbannya berhenti menggelinding.
"Aldo cepet nyebrang mumpung sepi!". Ujar Chika sedikit berteriak pada Aldo yang sedang merunduk mengambil lakbannya yang terjatuh.
"Ish lama!". Gerutu Chika. "Hm mending gue duluan aja kalik ya? lagi sepi juga". Ujar Chika lalu melangkahkan kakinya diatas aspal yang belum terdapat tanda-tanda kendaraan akan melintas.
"Aishh tuh bocah main ninggalin aja". Gerutu Aldo lalu menyusul langkah Chika.
Namun diluar prediksi sebuah mobil Dam pengangkut pasir melaju dari arah kanan jalan membuat Aldo melebarkan matanya kemudian menolehkan kepalanya ke arah Chika yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat berdirinya.
"Chika!". Teriak Aldo pada Chika yang belum sampai ke tengah jalan namun searah dengan mobil Dam tersebut.
Chika yang mendengar suara mobil sudah akan mendekat itu pun refleks menolehkan kepalanya. Ia rasanya tak bisa berfikir jernih walaupun hanya bergerak mundur bahkan sekedar berteriak saja tenggorokannya terasa tercekat.
(Bukan Sinetron ikan terbang ya guys🙃 Ini Dam nya lumayan mau deket loh bukan dari ratusan kilo).
Chika memejamkan matanya pasrah namun tanpa ia duga tarikan kencang dari tangan seseorang membuat badan Chika setengah berputar mundur hingga yang dirasakannya hanyalah hembusan angin yang kencang dari Dam yang melintas dari balik punggungnya dan saat itu pula kepalanya membentur dada bidang seseorang yang tak lain adalah Aldo.
"Huuh hampiiir!". Lega Aldo disertai hembusan nafas kasar yang keluar dari rongga hidungnya.
"Aldo?". Chika mendongakkan kepalanya menatap Aldo yang sedang mengatur nafasnya.
"Lo gk papa?". Tanya Aldo dengan raut wajah Khawatir sambil memegang kedua lengan milik Chika.
Astagaa Aldo kok bisa jadi ganteng gini si kalo lagi panik..Apa gue diguna-guna ya?.
-Batin Chika yang malah memperhatikan Aldo.
"Chik.." Aldo menepuk pelan pipi chuby milik Chika untuk menyadarkannya yang terlihat bengong.
"E-eh". Gagap Chika kala tersadar kemudian menarik sebelah tangannya yang tadi spontan merangkul pinggang Aldo.
"Lo gk papa kan?". Tanya Aldo sekali lagi.
"Iyah gue gk papa". Balas Chika melihat arah lain karna salting.
"Makanya jangan sok-sokan nyebrang kalo lo gk bisa". Ujar Aldo yang terdengar kesal.
"I-iyaa gue kan gk tau..Tadinya sepi". Jawab Chika jujur.
"Salah lo juga gk nungguin gue, kualat kan lo main ninggali aja!". Aldo masih kesal.
"Iyaya maaf..Ya udah yuk balik ke sekolah, kasian Razan nunggu". Ajak Chika.
"Pegang tangan gue!". Perintah Aldo tegas. Chika hanya menurut hingga mereka pun menyebrang bersama dengan Aldo yang siaga mengawasi sekitaran jalan.
_____________
"Lama banget". Sindir Razan menerima pesanannya dari Aldo.
"Yang penting baliknya selamet". Balas Aldo bernada kesal lantas menoleh ke arah Chika.
"Udah kalik Do..Marah mulu lo ntar cepet tua". Tegur Chika melihat wajah kusut Aldo.
"Selamet? maksudnya?". Beo Dheva.
"Gue tadi hampir ditabrak Dam, tapi untung aja Aldo gk kalah cepet". Akui Chika seraya tersenyum kikuk ke arah Aldo.
"Daaammm?!!!".
Kaget Dheva dan Razan bersamaan.
"Iya Dam..." Jawab Chika.
"Njir gk kebayang kalo sampe mah...Ya ampuun ngeriiii". Ujar Dheva sambil mendekap dirinya ala gaya merinding.
"Harus balas jasa sih lo Chik..Soalnya Aldo udah jadi pahlawan lo tadi". Ujar Razan dengan maksud lain.
"Balas jasa kek gimana?". Beo Chika.
"Jadi pacarnya Aldo ajaa kan mayan tuh Aldo juga masih jomblo...Kasian tau liat dia ngemis-ngemis di group". Usul Dheva sambil cekikikan.
"Naaaaaahhh bener tuh! gue setuju!". Sahut Razan antusias.
"Eh?". Aldo melebarkan bola matanya.
"Eh nggak-nggak...Gue gk doyan temen kelass". Tolak Chika.
"Hm iya juga sih kan kita selevel yak?". Dheva menyetujui.
"Hadeh kita kan sesama teman wajar aja lah saling tolong, lagipula gue ngemis gitu di group juga becanda kalik biar rame". Ujar Aldo dimulut namun hatinya berkata lain.
"Nah! ini nih baru temen!". Balas Chika sembari merangkul pundak Aldo yang lebih tinggi darinya. Alhasil Aldo dibuat sedikit merunduk.
"Hadeeh". Razan terlihat pasrah.
"Eh gimana? kita udah bagi-bagi tugas gk?". Tanya Chika setelah melepaskan rangkulannya.
"Udah..Lo ntar sama Aldo bersih-bersih di taman".
"Kok sama Aldo lagi?". Tanya Chika seperti menolak.
"Kan lo berdua telat". Jawab Razan padahal mah dia sendiri yang ngerancang.
"Terus Dheva?".
"Dheva sama Arsyila ntar bantu gue ngetik jadwal di ruangan OSIS biar ntar tinggal tempel". Jawab Razan.
"Padahal bisa sendiri..Ya tapi Razan lah namanya gk bisa ketinggalan si princessnya". Sindir Aldo.
"Trus gue ntar palingan jadi pajangan". Sahut Dheva sambil bersidekap dada.
"Hehe" Cengir Razan.
"Ooo okelah eh tapi bestienya Arsyila dimana? suami gue maksudnya si Alzam". Ujar Chika sambil cengiran.
"Cih suami..Dianggep kagak". Sewot Aldo spontan.
"Diem loo! sewot muluk". Sahut Chika yang tidak peka. Begitulah wanita kalau gk dinyatain langsung gk bakal ngerti🙃
"Mereka gue suruh nempel kartu ujian di kelas". Jawab Razan.
"Oh okelah".
"Yuk lah gess langsung kerja. Malu nih diliatin anak OSIS yang lagi bersih-bersih kitanya asyik ngerumpi". Ajak Dheva saat baru tersadar.
Saat ini mereka sedang berdiri di pinggir lapangan. Sehabis mengumumkan tugas tadi, Razan dan Dheva tak langsung pergi melainkan menunggu Arsyila yang sedang izin mengangkat panggilan. Dari siapa hayoook🙃
"Yuk lah! eh Va temenin gue bentar ke kamar mandi yuk". Pinta Chika pada Dheva.
"Oh ya sudah..Zan bentar ya kalo lo mau duluan juga gk papa gue masih tau jalan". Ujar Dheva kala menengok Razan.
"Pergi aja gue tungguin..Lagipula Arsyila belum balik". Jawab Razan.
"Oh oke..Ntar kalo lo mau duluan, duluan aja yaak!". Pinta Dheva. Tak enak rasanya membuat teman menunggu.
"Siip". Jawab Razan.
Dheva pun akhirnya pergi menemani Chika ke toilet.
"Lo suka kan sama dia?". Tanya Razan pada Aldo seraya menunjuk punggung Chika yang sudah menjauh dengan dagunya.
"Apaan sih gk! ngacok lo". Aldo mengelak.
"Kayak cewek lo Do! pake ngeles segalaa gue tau kalik". Balas Razan sambil bersidekap dada.
"Ck serah lo".
"Hadeeeh Aldo-Aldo..Kita itu temen jadi lo gk usah mendem gitu, kita juga senasib kalo lo lupa". Ujar Razan sambil terkekeh kecil.
"Ya kan cuman mastiin aja".
"Huuh!..Eh bentaaar". Aldo seperti teringat sesuatu.
"Oooo jangan bilang waktu lo nyuruh Chika buat gantiin Dheva tadiii...Itu cuman akal-akalan lo doang?". Tanya Aldo sedikit heboh.
"Hehe iya doong! nugas aja gue kasih berdua..Coba, kurang baik apalagi gue". Balas Razan menyombongkan diri.
"Dasar lo emang!". Sinis Aldo.
"Tapi lo seneng kan?". Tanya Razan sambil tersenyum meremehkan.
"Hehe iya juga si..Thank you Zan". Ujar Aldo sambil cengiran.
"Sans aja bro". Balas Razan sembari menepuk sebentar pundak Aldo.
"Eh Arsyila tuh". Beritahu Aldo kala melihat Arsyila yang sudah kembali dan berjalan mendekat ke arah mereka. Razan pun menoleh ke arah belakang untuk menengok Arsyila.
"Eh udah selesai?". Tanya Razan pada Arsyila saat sudah sampai dihadapannya.
"Udah..Maaf ya udah buat kalian nunggu, tadi bunda telpon". Jawab Arsyila jujur.
Oh gue kira si mahluk astral
-Batin Razan mengatai Aydan.
"Oh iya gk papa".
"Eh kk Dheva mana?". Tanya Arsyila yang tak melihat keberadaan Dheva.
"Tadi izin ke toilet, kita duluan aja ntar dia nyusul".
"Hm okey deh".
"Do kita duluan ya". Pamit Razan ketika hendak pergi dari hadapan Aldo bersama Arsyila.
"Okey sipp".
____________
"Hari senin IPA sama Bahasa Indonesia".
Dekte Arsyila pada mata pelajaran yang mendapat giliran pertama di ujian semester nanti dengan Razan yang sudah siap mengetiknya dilaptop.
"Teruus". Pinta Razan sambil fokus menghadap layar laptopnya.
"Selasa, Matika sama IPS".
"Teruss".
"Assalamu'alaikum". Sapa Dheva saat baru memasuki pintu ruangan OSIS alias ruangan khusus Razan yang terbuka itu.
Arsyila dan Razan spontan menoleh namun sedikit terkejut. Bukan karna Dheva yang datang dengan tiba-tiba itu. Tapi..
"Eh Astaghfirullah kan gue kristen!". Dheva refleks menutup mulutnya dengan sebelah tangan kala tersadar.
"Eh". Razan dan Arsyila semakin dibuat cengo.
Beberapa detik kemudian mereka berdua pun kompak tertawa kala melihat raut terkejut yang ditampilkan kembali oleh Dheva.
"Haduuh nih mulut kayaknya udah disetting deh!". Ujar Dheva sembari menepuk-nepuk pelan bibirnya.
"Haha Dheva-Dheva.." Razan geleng-geleng kepala. Dheva kemudian berjalan mendekat ke arah Arsyila dan Razan yang masih menertawainya.
"Udah kalik ketawanya ya ampunnn lebay banget deh kalian".
Sindir Dheva sembari menggeser kursi yang tersedia disamping Arsyila dengan posisi menghadap Razan seperti seorang tamu.
"Hahaha udah stop-stop..Huh hah". Razan mencoba meredakan tawanya.
"Huh..Hah". Arsyila ikut-ikutan.
"Udah". Ujar Arsyila kala tawanya sudah reda namun seperti tertahan.
"Haddeh...Btw kita mau kerjain apa nih?". Tanya Dheva.
"Ngetik jadwal kek biasa..Oh ya Va lo bantuin gue ngetik jadwal yang kelas X ya, biar gue yang kelas XI, kata pak Malik kemarin jadwalnya ada perubahan kalau yang kelas XII jadwalnya tetep".
Pinta Razan pada Dheva karna Dheva kalau dalam hal begini bisalah diandalkan yaaa walaupun otaknya kadang suka nge-lag gitu. Setidaknya jaringan untuk hal yang bermanfaat seperti ini berfungsi baik di otaknya:)
Kadang Dheva pula yang membantu Razan membuat laporan keuangan sekolah dan sebagainya di kala Jasmine tidak bisa membantunya saat sedang sibuk menjalankan tanggung jawabnya di sebuah hospital yang sudah di sematkan untuknya.
Oleh sebab itu tidak heran lagi jika melihat Chika dan Dheva bisa menjadi teman dekatnya Razan karna selain asyik mereka juga sangat membantu pekerjaannya.
"Okey deh Syil lo bantu bacain gue mapelnya ya". Pinta Dheva pada Arsyila.
"Eh nggak! Arsyila udah terlanjur ngebacain gue tadi". Bantah Razan.
"Hadeeh ya udah deh biar gue sendiri aja". Pasrah Dheva kemudian mengapai satu laptop lagi yang tersedia di depannya.
"Minta bantuan Dhevan aja kk Dhev". Arsyila menggoda Dheva.
"Huh! cowok jutek kek gitu cuma bisa buat sakit hati". Ujar Dheva menampakkan wajah kesal.
"Gk kok, Devan baik loh kadang lucu juga".
Arsyila mempromosikan Devan, tidak tau saja si Arsyila bagaimana Devan jika di depan Deva.
"Gk ah orangnya nyebelin".
"Tau darimana coba haha, hati-hati kk Dev ntar suka loh". Ledek Arsyila.
Udah suka kalik. -Batin Dheva.
"Syukur lo Va gue masih baik hati". Ujar Razan tiba-tiba.
"Ha maksudnya?". Bingung Arsyila.
"Ntar juga lo tau". Balas Razan.
"Dah lah yok lanjut kerja biar cepet selesai". Ajak Razan.
Arsyila hanya menurut tanpa protes sudahlah ia tak terlalu kepo nanti juga tahu sendiri seperti katanya Razan.
"Ini laptop siapa Zan?". Tanya Dheva sembari menekan tombol power.
"Aldo".
"Ayok Syil baca lagi". Pinta Razan pada Arsyila.
"Oh iya..Sampe mana tadi..Mmm".
"Hari rabu". Razan mengingatkan.
"Oh iya Rabu!...Mmm hari rabu Bahasa Inggris sama PKN".
"Loh kok ada potonya Chika". Kaget Dheva saat melihat poto Chika yang terpampang di layar utama laptopnya Aldo hingga membuat fokus Razan dan Arsyila teralihkan.
"Masa? coba aku liat". Ujar Arsyila penasaran.
Gawat niih! mati lo Aldo siapa suruh ceroboh.
-Batin Razan.
"Eh iya potonya kk Chika". Ujar Arsyila sedikit heboh.
"Mm mungkin iseng kalik". Razan beralasan.
"Gk! gk percaya gue masa iya Aldo sampe iseng gini. Kalo pake gambar mongkie sih baru gue percaya". Balas Dheva tak percaya.
Ngeles apalagi nih gue! haduhh maaf Aldo kali ini gue gk bisa bantu.
-Batin Razan yang sudah pasrah. Sejujurnya ia bukan tipe orang yang pandai mencari alasan.
"Zan..Lo pasti tau sesuatu kan?". Dheva menyipitkan matanya mengintrogasi Razan.
"Eh-eh kok malah curiga sama gue??". Tanya Razan takut-takut menatap Dheva.
"Kak Razaaan". Arsyila ikut mengintrogasi dengan mengikuti gaya Dheva. Jadilah Razan saat ini seperti mangsa yang akan diburu dua mahluk buas dihadapannya ini.
"Aisshh iyaya gue jujur tapi awas..Kalian berdua gk boleh kasih tau Chika ataupun Aldo kalo gue yang kasih tau!". Ancam Razan.
"Okey siap-siap...Cepet kasih tauu!". Dheva tak sabaran.
"Aldo suka sama Chika".
"Whaattt!!!!".
...*****...
Hanya sebuah Like dari kalian aja bisa buat Author nambah extra chapter loh😌, jangan males kasih like bila perlu komen juga ya sayang2 quh❤