
...Happy Reading💓🔥...
...******...
Hari senin sudah tiba..
Dan hari ini adalah hari pertama bagi Arsyila menjalani ujian semester dengan makul bahasa inggris dan ipa sebagai permulaan.
Kini Arsyila sudah melewati pergantian jam, dengan teliti Arsyila mengerjakan soal demi soal yang ia baca.
"Alhamdulillah yang keluar udah aku pelajari semua". Gumam Arsyila melihat deretan soal tersebut. Sedangkan Silvia nampak kebingungan.
"Haduhh nyesel gk ngulang tadi malem, mana soalnya gk sama lagi sama yang di ajarin pas les". Silvia menggerutu.
Tak lama Arsyila pun sudah selesai menjawab semua soal, ia sangat yakin dengan jawabannya lalu menjadi orang pertama yang mengumpulkan.
"Wiihhhhh". Seru sebagian siswa yng melihat itu, padahal ulangan baru saja berlangsung sekitar 20 menitan.
"Hust diam semuanya, Arsyila boleh pulang". Ujar pak Vian yang menjadi pengawas di kelas Xl Agama 1.
Arsyila kembali ke mejanya untuk mengambil bolpoin dan papan ujian lalu berjalan keluar kelas setelah bersalaman dengan pak Vian.
"Waahh gk boleh dibiarin ini! gue gk boleh kalah sama Arsyila". Ujar Silvia lalu menjawab soal tersebut dengan cepat-cepat tanpa mengoreksi terlebih dahulu.
"Hadeeh.." Kayla geleng-geleng kepala. Ia sempat mendengar gumaman Silvia karna posisi duduknya yang berada tepat di depan meja yang ditempati Silvia.
______
Arsyila menyusuri koridor sekolah sambil membuka pesan yang dikirimkan Razan tadi pagi. Ia tak sempat membaca dikarenakan bel lebih dulu berbunyi.
KK Razan💓📝
Pulang ujian tunggu di rumah yah💕
Arsyila membaca pesan tersebut sambil senyum-senyum sendiri...
^^^Okey😙^^^
"Berasa udah nikah ya bund, punya rumah bersama". Komentar Arsyila melihat pesan Razan.
Arsyila pun bergegas keluar dari gedung sekolah, dilihatnya langit yang sudah mendung menandakan hujan akan melampiaskan airnya ke bumi dengan segera. Dan sekarang hujan mulai turun secara perlahan.
"Duh gerimis". Gumam Arsyila lalu berlari kecil ke arah belakang sekolah sambil memayungi kepalanya dengan papan ujian.
Ceklek
Pintu langsung terbuka. Kebiasaan Razan yang tak pernah mengunci pintu.
Suasana rumah Razan masih sepi itu berarti Razan belum pulang ujian. Arsyila pun memilih untuk menunggu saja di sofa ruang tamu sambil menyalakan televisi.
Sepuluh menit terlewat dan hujan semakin deras merambas lantai depan rumah Razan hingga Arsyila bergegas menutup pintu untuk menghalau hujan masuk ke dalam.
Tok Tok Tok
Gedoran keras dari luar pintu membuat atensi Arsyila teralihkan.
"Syill bukaainn". Teriak Razan dari luar.
"Sebentar". Sahut Arsyila lalu membuka pintu.
"Kak Razaan!". Arsyila terkejut melihat Razan yang sudah basah kuyup dan warna bibirnya berubah pucat.
Tanpa dipersilahkan Razan segera masuk dan menidurkan dirinya di sofa, kepalanya terasa sangat berat. Arsyila kembali menutup pintu lalu mendekati Razan.
"Kak...Kakak gk papa? bentar ya aku ambilin handuk". Khawatir Arsyila lalu berjalan cepat ke ruangan Razan.
"Ini kak, kk bangun dulu ya". Pinta Arsyila lalu membantu Razan menggapai posisi duduk.
"Ya ampuun kk demam!". Heboh Arsyila saat merasakan hawa tubuh Razan yang hangat. Razan hanya diam dalam keadaan mata yang tertutup. Ia sangat lemas.
Arsyila mengelap rambut Razan dengan handuk lalu seragam Razan yang sudah basah.
"Kakak ganti baju dulu ya....?? bajunya basah".
Razan menggeleng.
"Gue gk sanggup jalan". Balas Razan dengan lemas.
"Ya ampuun gimana dong". Arsyila menggigit jari-jarinya sambil berfikir keras.
Cling💡
"Tante Jasmin!". Seru Arsyila lalu dengan cepat menghubungi calon mertuanya itu. Panggilan langsung tersambung..
"Hallo sayang...Ada apa? tumben nelpon tante?". Tanya Jasmin dari seberang sana.
"Tante, tante bisa ke rumah kk Razan gk? kk Razan demam, terus seragamnya basah...Aku bingung ngobatinnya kek gimana di sini gk ada apa-apa, terus diluar lagi hujan". Jelas Arsyila panjang lebar.
"Astagaa pasti tuh anak abis kehujanan". Tebak Jasmin.
"Iya tan..."
"Hadeh, Razan emang gk bisa kena hujan dari kecil. Abis kena hujan pasti langsung demam, ya udah tunggu tante disana ya bentar lagi otw".
"Baik tante".
Tut
Panggilan terputus.
"Kalo tau dirinya gk bisa kena hujan harusnya minjem payung dulu ke kantin, jangan langsung terobos!". Arsyila memarahi Razan yang sudah tak berdaya.
"Dingiinnn". Rengek Razan.
"Tunggu! aku ambilin selimut dulu ya". Ujar Arsyila dan hendak bangkit dari duduknya namun Razan segera menahan.
"Gantiin baju". Pinta Razan manja membuat Arsyila melebarkan matanya.
"Tapi kk nanti aurora kk keliatan". Ujar Arsyila frontal.
"Gue pake singlet di dalem". Jawab Razan namun enggan membuka mata.
Arsyila menelan ludahnya dengan kasar lalu beranjak ke kamar Razan untuk memilih salah satu koleksi hodie warna hitam dari lemari Razan.
Arsyila lalu kembali ke sofa dan duduk disamping Razan seperti semula.
"Mm kk aku gantiin bajunya aja ya, kalo celanaa...Biar bunda aja gk pp?". Tanya Arsyila dengan polosnya. Andaikan Razan sedang sehat mungkin ia akan menelan Arsyila hidup-hidup.
"Baju aja". Balas Razan.
Ya masak celana juga Syiill!! gedeg gue:(
Perlahan tangan Arsyila mulai naik ke atas menuju kerah seragam milik Razan dengan tangan yang bergetar karna ini adalah pertama kalinya bagi Arsyila berada dalam situasi seperti ini.
"Kak, kk lepas sendiri aja ya kancingnya. A-Aku pasangin baju aja o-okey.." Arsyila kembali menurunkan tangannya namun Razan tanpa aba-aba menarik kembali tangan Arsyila dan menuntunnya untuk melepas kancing seragam tersebut satu persatu.
Arsyila hanya bisa pasrah sambil memejamkan matanya. Saat dirasa semua kancing sudah terlepas dengan bantuan mata batinnya Arsyila pun kembali membuka mata.
"Wow!". Terpampang lah roti sobek yang tercetak jelas dari dalam baju singlet yang menutupi bagian dada dan perut Razan.
"Kakak rajin olahraga ya?". Arsyila salah fokus, baru kali ini ia melihat bentuk roti sobek secara langsung.
"Hm, Syill dingin..." Razan kembali merengek.
"Eh iyaya.." Arsyila gelagapan karna sedang memperhatikan perut abstrak Razan.
Ia pun kemudian berdiri lalu mengangkat kepala Razan pelan-pelan hingga berhasil memasangkan baju tersebut di tubuh Razan.
"Udah...Kakak istirahat aja ya, aku mau cuci seragamnya bentar". Pinta Arsyila dan langsung mendapat gelengan keras dari Razan.
"Jangan kemana-mana". Ucap Razan sambil menduselkan dirinya di lengan Arsyila.
"Bentar aja.."
"Nggak mauuu.." Razan merengek.
Arsyila menghela nafas panjang...
Tok Tok Tok
"Nah itu pasti tante!". Antusias Arsyila mendengar suara pintu yang diketok.
"Aku buka pintunya dulu ya".
"Pintunya gk kekunci". Razan enggan melepas Arsyila.
"Tapi-".
Tiba-Tiba pintu dibuka sendiri oleh Jasmin. Arsyila spontan menjauhkan Razan dari tubuhnya.
"Maaf tante, aku tadi gk di kasi izin sama kk Razan buat buka pintunya". Aku Arsyila dengan jujur. Jasmin hanya tersenyum simpul mendengar itu.
"Iya gk pp, seragamnya?". Jasmin melirik seragam basah yang ada di tangan Arsyila.
"O-Oh ini tadi.."
"Razan yang buka sendiri ma". Ucap Razan dengan suara yang masih lemas.
"Iya tan, mm tante Syila mau cuci bajunya dulu ya...". Arsyila segera bangkit dari duduknya dan berjalan cepat menuju kamar mandi yang ada disamping dapur. Huh terlihat jelas kalau dirinya sedang salting.
"Dasar anak nakal". Jasmin menampar kecil wajah tirus milik putranya lalu memapah Razan menuju kamarnya. Razan tak berekspresi apapun namun sudah dipastikan hatinya masih bisa berdebar-debar.
Setibanya dikamar, Jasmin melepaskan celana milik Razan yang basah lalu menggantinya dengan celana janse panjang senada dengan warna hodienya, kalian jangan mikir yang aneh-aneh dulu...Razan pake celana pendek di dalam:).
"Ma Syila manaaa..." Razan merengek.
"Lagi cuciin kamu seragam".
"Sebentar lagi balik".
Dan benar saja, tak lama Arsyila sudah kembali dengan membawa baskom berisikan air hangat dan alat kompres.
"Nah ini Syila". Beritahu Jasmin membuat Arsyila mengernyitkan dahi karna bingung.
Razan perlahan membuka matanya walau agak sedikit susah.
"Ada apa tan?". Tanya Arsyila langsung.
"Ini, tadi Razan nyariin kamu".
"Ooo".
"Syil siniiii". Panggil Razan dan Arsyila pun berjalan mendekat ke arah kasurnya.
"Duduk". pinta Razan. Arsyila yang tak mengerti pun menurut saja lalu mendudukkan dirinya di samping kepala Razan yang tengah berbaring.
"Aku kompresin ya.."
"Gk usah, ma minta tolong ambilin sapu tangan di laci, tangan Razan dingin". Pinta Razan pada mamanya.
"Biar aku aja". Arsyila hendak bangkit namun ucapan Jasmin menghentikannya.
"Gk usah, tante lebih dekat".
Jasmin pun berbalik hadap dan membuka laci yang ada dibelakangnya. Sesuai permintaan Razan, Jasmin mengambil dua buah sapu tangan berwarna putih lalu memberikannya pada Razan.
"Makasih ma". Ucap Razan lalu memakainya sendiri.
Tanpa aba-aba Razan langsung meraih kedua tangan Arsyila lalu menggenggamnya erat-erat seolah tak ingin terlepas. Arsyila sedikit terkejut berbeda dengan Jasmin yang hanya bisa bernafas pasrah melihat kebucinan putranya.
"Kak lepas". Arsyila sedikit berbisik sambil menarik tangannya dari genggaman Razan, dasar Razan! tidak tau tempat sekali huh!:(
Razan melepas tangan kanan Arsyila namun tingkahnya makin di luar nalar, Razan dengan lancang memeluk Arsyila dari samping dengan satu tangannya yang bebas.
"Kakak....."
Razan tak perduli, ia dengan santainya kembali memejamkan mata dan tidur disamping pangkuan Arsyila.
Jasmin terkekeh geli melihat wajah Arsyila yang sudah merah menahan malu karna kelakuan putranya.
"Biarin aja sayang, dulu sebelum ada kamu dia juga gitu ke tante...Anaknya emang manja kalo lagi sakit. Tapi kayaknya sekarang posisi tante udah di ambil sama kamu hihi kamu yang sabar ya". Jasmin kembali terkekeh kecil.
Arsyila menghela nafas pasrah.
"Oh iya tante pulang duluan gk papa kan? ada urusan di kantor". Pamit Jasmin sambil bangkit dari duduknya. Ia sudah mempercayakan putranya pada Arsyila sepenuhnya.
"Gk papa tan, biar aku yang jagain kk Razan". Arsyila tersenyum ramah.
"Ya udah ini obatnya..Mmm Tapi kayaknya dia gk butuh obat deh". Jasmin seperti menimbang-nimbang.
"Butuh kok, mmm nanti biar Syila yang kasih minum". Ucap Arsyila sedikit salah tingkah.
"Oke, ini obatnya tante taruh di sini ya". Jasmin meletakkan obat tersebut di atas meja belajar Razan.
"Iya tante". Arsyila hendak bangkit untuk bersalaman namun ia sama sekali tak bisa bergerak karna ulah Razan.
Jasmin yang peka langsung mendekat dan terlebih dahulu mengulurkan tangannya lalu disambut baik oleh Arsyila.
"Tante pulang dulu ya Assalamu'alaikum". Pamit Jasmin lalu keluar dari ruangan Razan setelah mengelus sekilas pucuk kepala Arsyila.
"Wa'alaikumussaalam warohmatulloh".
Arsyila beralih menatap laki-laki yang kini sedang terlelap di sampingnya. Tangannya tergerak untuk mengelus rambut tebal milik Razan dengan penuh kasih sayang.
"Cepet sembuh ya". Ucap Arsyila dengan tangannya yang tak diam.
Lama diposisi itu, Arsyila merasa sedikit pegal, ia juga merasakan hembusan nafas Razan yang sudah mulai teratur itu menandakan Razan sudah benar-benar terlelap.
Dengan hati-hati Arsyila menyingkirkan tangan Razan lalu mengangkat tubuhnya dan mencapai posisi berdiri.
"Huh!". Arsyila akhirnya bisa bernafas lega.
Arsyila berjalan ke dapur. Sebelum Razan bangun ia berinisiatif untuk membuatkan Razan susu hangat dan juga memasak makanan instan yang ada di lemari es untuk mengganjal perutnya yang sudah berbunyi sedangkan Razan dibuatkan bubur.
Arsyila makan sebentar di dapur lalu setelah selesai ia pun membawa nampan berisikan susu hangat dan juga bubur untuk dibawa ke kamar Razan.
"Eh udah bangun ternyata.." Kaget Arsyila melihat Razan yang sedang duduk bersandar di bantal sambil menatapnya dengan wajah kesal.
"Kenapa ditinggalin.." Tanya Razan, matanya mengikuti pergerakan Arsyila.
"Aku tadi abis masak, kk makan dulu yah". Arsyila mendekat ke arah Razan lalu duduk disampingnya dengan nampan yang ia letakkan di atas paha.
"Suapin". Razan manja sekalii bestieee:)
"Iya, disuapin kok". Arsyila mengaduk-aduk buburnya terlebih dahulu lalu mengarahkannya ke mulut Razan.
"Aaaaa". Razan membuka mulut mendengar intruksi Arsyila itu.
"Enak". Puji Razan.
"Iy dooonng! siapa dulu yang masak..Arsyila gitu loh". Balas Arsyila dengan bangga.
"Istri idaman.."
"Hehe". Arsyila cengiran lalu kembali memberikan suapan untuk Razan.
"Nih susunya di minum".
"Kok tau gue suka susu?". Tanya Razan sembari mengambil gelas tersebut dari tangan Arsyila.
"Nebak aja, sikap kk aja udah kayak anak kecil gitu ya kalik gk suka".
"Lo emang paling bisa". Puji Razan lalu meletakkan gelas tersebut di atas nampan yang ada di pangkuan Arsyila.
"Hehe...Udah baikan belum?".
"Udah". Razan tersenyum hangat.
"Eh tapi obatnya harus tetap diminum ya". Ucap Arsyila lalu hendak bangkit untuk mengambil obat yang diberikan Jasmine tadi.
"Gk usah, kalau gue minum obat nanti tenggorokan gue pahit. Gue udah mendingan kok".
"Kakak yakin?".
"Iya sayang...Khawatir banget".
Razan memang jarang mengucapkan kata manis itu namun sekali keluar bisa membuat hati Arsyila meleleh cuy!
"Ekhem...Oh iya, kk punya buku Sejarah kelas Xl gk?". Arsyila mengalihkan pembahasan.
"Buat apa?".
"Belajar lah kk masak buat bungkus gorengan".
"Haha iya juga sih, coba cari di rak buku gue masih lengkap kok". Ucap Razan dan Arsyila pun branjak mendekati jajaran buku yang ada di kamar Razan.
(Ilustrasi lemarinya).
Setelah menemukan apa yang ia cari Arsyila pun duduk di kursi belajar milik Razan berniat mengulang materi yang sudah ia pelajari sebelumnya.
"Lo gk bosen apa belajar terus? gue kira pas ulangan lo bakal santai". Heran Razan yang tengah memandang Arsyila dari posisinya.
"Kakak tau gk kenapa aku mati-matian belajar sampai saat ini?". Tanya Arsyila menyempatkan diri menatap Razan. Razan membalas dengan gelengan.
"Aku cuma mau dapet apresiasi dari bunda". Arsyila tersenyum kecut.
"Orang lain mungkin akan berfikir kalo aku pengen ngalahin Silvia yang pintarnya masya allah, tapi sebenarnya tujuan awal aku bukanlah itu....Gimana bisa aku menyaingi orang lain sedangkan saingan terbesar aku adalah adik aku sendiri".
Ujar Arsyila gamang.
"Kenapa gk kasih tau gue dari awal? lo gk perlu nguras tenaga kalo cuma niatnya pengen juara satu. Lo lupa ya kalo sekolah ini punya siapa?".
"Gk kak, Syila gk mau pake cara curang...Syila cuma pengen gapai sesuatu pake usaha sendiri meski ujungnya Syila tau kalo yang Syila perjuangkan itu hanyalah sebuah tuntutan bukan janji yang akan mendapat imbalan".
"Gue gk tau harus bantu lo kek gimana, tapi asalkan lo tau Syil...Ini juga salah satu alasan kenapa gue mau nikahin lo secepatnya. Karna gue gk mau liat lo senyum palsu tiap hari, gue mau lo bahagia".
Arsyila tak bisa membalas apa-apa lagi selain melontarkan senyum hangatnya.
"Aku belajar dulu ya, kk istirahat aja ntar aku bangunin kalo udah zuhur".
Razan menengok jam di tangannya.
"Udah jam 2". Beritahu Razan.
Arsyila melebarkan matanya. Ia lupa kalau diluar sedang hujan jadi wajar saja ia tak mendengar suara azan dikumandangkan.
"Astaga aku sholat dulu ya". Arsyila nampak tergesa-gesa.
"Terus gue???".
"Setelah aku gk pp kan? nanti aku bantuin ke kamar mandi".
Razan mengangguk sebagai jawaban lalu membiarkan Arsyila pergi mengambil wudhu dan menunaikan shalatnya.
"Yang wajib aja dijaga apalagi gue yang makruh". Gumam Razan sambil tersenyum garing.
...*****...
See you next chapter👋🏻💓
Gk sabar ending ya bestieeee😚