Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Bag 50 : Sisi gelap



...Happy Reading💓🔥...


...******...


"Arrrgh".


Aydan mengerang frustasi.


"Apa gue salah ngomong ya?? aish terlalu emosi jadi kelepasan gini kan!!".


Aydan melempar asal bantalnya ke pintu untuk melampiaskan amarahnya.


Ia pun kemudian menelpon Alzam dan Devan entah apa yang akan dilakukannya.


👤Devan


"Apaan lo nelpon-nelpon ganggu waktu istirahat gue aja lo ah!".


"Gue tunggu di rumah! gpl".


"Whaaat apaan lo enak aja..Gk ah lagi mager gue".


"Lo kesini atau gk bakal ke sini lagi, please lah gue lagi butuh temen".


"Aishh iyaya siapin jajan banyak-banyak".


"Ntar gue beliin cepet! ajak Alzam juga".


"Hadeeeh kambuh lagi loh? tunggu OTW gue sama Alzam ke sana".


Aydan kemudian mematikan sambungan telponnya.


"Arggh Anj*".


Aydan terus mengumpat sambil membuang barang-barang di sekitarnya.


Aydan lalu menggapai kunci mobilnya dan beranjak keluar dari kamar sambil mengotak-atik kembali kontak di ponselnya untuk mencari nomor seseorang.


Telpon terhubung


"Vodka kayak biasa , Dunhil 7 bungkus taruh di tempat biasa".


"Okey brey lima menit nyampe".


"Sip".


Tut


Telpon dimatikannya sepihak.


Tak lama kemudian Devan dan Alzam sudah tiba di rumah Aydan.


"Daan".


Suara Devan memenuhi ruang tamu namun tak ada jawaban dari Aydan.


"Zam coba lo panggil ke kamarnya, lagi mager gw". Suruh Devan lalu duduk nyender di sofa.


"Ehh kampret lo emang, udah ganggu waktu istirahat gue make nyuruh-nyuruh lagi". Omel Alzam.


"Aissh cepet sana jangan bnyak komen noh salahin Aydan".


"Ish".


Kesal Alzam namun tetap mengikuti perintah Devan sambil menggerutu.


"Lah?? si Aydan mana?".


Bingung Alzam saat membuka pintu kamar Aydan yang sudah berantakan..Vas mahal yang terpajang di jendela kamarnya pun sudah pecah berkeping-keping padahal Hera baru saja menggantinya dengan yang baru jangan di tanya soal harga yang pasti tak semahal ginjalmu🙃


"Vaaan!! Aydan gk ada".


Teriak Devan dari depan kamar Aydan.


"Periksa lagi Zam..Mungkin lagi di kamar mandi".


Perintah Devan lagi sambil mengunyah biskuit yang tersedia di meja ruang tamu.


Dengan segera Alzam menuju Bathroom milik Aydan namun kosong tak ada siapapun di sana hingga Alzam mencari di berbagai sudut ruangan namun sama saja ia tak menemukan Aydan. Alzam pun berlari keluar lalu menghampiri Devan yang sedang duduk santai.


"Woy nyet si Aydannya gk adaa".


Ujar Alzam sedikit ngegas.


"Lo kalo manggil orang yang sopan dikit napa". Kesal Devan mendengar panggilan dari Alzam.


"Ck bodo amat..Cepet lo telpon si Aydan tanyain dimana".


Ujar Alzam sedikit panik.


"Santai woy santai si Aydan gk bakal di culik kaliiik rempong banget sih lo".


Sindir Devan sambil mengeluarkan ponselnya dari saku jeans nya. Alzam hanya balas berdecak lalu mondar-mandir di depan Devan yang sedang mencoba menghubungi Aydan.


Setelah melewati dua panggilan akhirnya Aydan mengangkat telponnya.


"Halo Dann lo dimana?".


Tanya Devan tanpa basa-basi.


"Argh siapa?".


Jawab Aydan terdengar mengerang lalu setelahnya meracau tidak jelas.


"Anjiiir kambuh lagi kan lo..Aish Zam ayok!".


Devan kemudian mematikan sambungan telponnya, Alzam yang mengerti pun hanya mengekori Devan dari belakang dengan raut khawatir lalu mengunci pintu rumah Aydan setelah keluar..Untung saja Farah tidak sedang dirumah karna sedang menemani suaminya meeting dikantor jadi tidak ada yang tau kecuali mereka berdua.


Selang beberapa menit mereka pun akhirnya tiba di depan gedung apartemen pribadi milik Aydan.


"Aydan di dalam?".


Tanya Devan pada satpam yang berjaga di sana. Satpam itu hanya mengangguk sebagai balasan.


Tanpa basa-basi lagi mereka pun segera masuk ke dalam melewati pak satpam itu setelah mendapat kepastian.


Saat pintu terbuka Devan dan Alzam di sambut dengan bau asap rokok yang menyeruak ke dalam hidung mereka..Mereka berdua pun semakin masuk ke dalam dan menemukan botol-Botol yang sudah kosong bergelinding ke sembarang arah bahkan adapula yang sudah pecah dan berserakan di lantai.


Nampak Aydan yang sudah terlihat kacau sedang duduk di kursi dekat jendela memandangi pepohonan-pepohonan hijau yang menjulang tinggi di depan apartemennya yang terhalang balkon sambil menghisap rokoknya dalam-dalam bahkan mereka bisa melihat banyaknya sampah puntung rokok yang berserakan di sekitar Aydan.


Devan berjalan cepat ke arah Aydan dengan di buntuti Alzam dari arah belakang.


"Anj*!!!".


Murka Devan lantas merebut paksa rokok yang ada di tangan Aydan dan membuangnya asal bahkan ia tak perduli saat tangannya terkena puntung rokok yang masih menyala itu karna saat ini tak ada yang lebih menyakitkan baginya ketika melihat temannya yang kacau seperti ini.


Walaupun terlihat bercanda di sosmed tadi dengan Arsyila namun tak bisa di pungkiri ia juga merasa was-was jika Aydan seperti ini lagi setelah kemarin ia juga melakukan hal yang sama namun untungnya Devan cepat menghentikannya. Dan sekarang? pemandangan yang tak di inginkannya terjadi lagi.


Devan lalu menarik kerah kemeja biru muda yang di kenakan Aydan dengan perasaan yang sulit di artikan. Aydan hanya mendongak menatap Devan dengan mata yang sudah memerah dan sayu terlihat seperti manusia yang sudah tak berdaya.


"Lo kira yang lo lakuin ini bener hahhh?!!!".


Suara Devan meninggi disertai nafas yang menggebu-gebu. Alzam yang melihat itu sedikit meringis, ia tak pernah melihat Devan semarah ini apalagi pada Aydan.


"Arsyilaaa hiks".


Bukannya menghiraukan perkataan Devan tadi Aydan justru terus meracau menyebut nama Arsyila, sepertinya ia sudah berada di bawah pengaruh Alkohol.


"Cuma gara-gara cewek lo jadi segila ini haah??! bahkan Arsyila pun ilfil liat lo kayak gini bang*at!!!".


"Van udah Van...Percuma lo lawan dia ngomong dia juga gk bakal denger".


Alzam mencoba menghentikan.


"Gue gk pernah ngerasa punya temen banci kek lo! jijik gue sumpah!".


Ujar Devan lalu menghempaskan kerah kemeja Aydan dengan kasar hingga kursi yang diduduki nya pun sedikit bergeser.


Devan lalu pergi keluar dari kamar Aydan yang sudah berantakan itu untuk meredam amarah dan rasa kasihannya yang bercampur menjadi satu. Alzam yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala.


"Bangun Dan".


Pinta Alzam sekedar jadi basa-basi karna percuma saja ia berbicara, Aydan tak kan menghiraukannya karna yang berputar-putar di pikiran Aydan saat ini adalah Arsyila..Dan satu nama lagi, entah namun ia hanya meracau dengan menyebut nama akhirannya..Ra.


Alzam yang samar-samar mendengar itu mencoba menajamkan telinganya..


"Raa..Arsyilaa jangan tinggalin gue".


Aydan terus meracau.


"Mungkin gue salah denger..Gk jelas lo ah".


Ujar Alzam yang tak dapat menangkap dengan jelas racauan Aydan sambil merangkul sebelah tangan Aydan lalu membaringkannya di kasur.


"Huh..Lo tu ya Dan ngerepotiin terus sifat lo tu kek bocil tau! cobak lo mikirnya sekali-kali positif, dewasa mungkin lo gk bakal kek gini..Gedek gue lama-lama".


Gerutu Alzam yang sudah berdiri dengan gaya cangkir lalu beranjak mengambil sapu lantai yang ada di pojok kamar untuk membersihkan sampah dan bekas-bekas pecahan botol yang berserakan di lantai dengan hati-hati.


Usai membersihkan kamar Aydan, Alzam pun langsung keluar menyusul Devan yang sedang duduk di kursi ruang tamu.


"Udah lo bersihin?".


Tanya Devan pada Alzam.


"Beres".


Jawab Alzam lalu ikut mendudukkan dirinya di samping Devan. Terdengar helaan nafas berat dari Devan.


"Kita harus gimana Van? kita gk bisa biarin Aydan kayak gini terus".


Alzam berkata serius.


"Huh..Lo tau sendiri kalo emosional Aydan itu tinggi dan pengendali dia saat ini cuma Arsyila, sedangkan Arsyila? lo tau sendiri anaknya kek gimana..Di bentak dikit aja mukanya langsung beda".


Jangan heran kalau Devan tau mengenai Arsyila yang tak bisa di bentak..Sudah di bilang Devan tu suka merhatiin orang diem-diem:)


"Ya juga sih terus gimana doong...Kalo di biarin terus kayak gini paru-paru tuh anak bisa rusak".


"Gue juga bingung Zam".


Devan mengacak-acak rambutnya prustasi.


"Apa gue telpon Arsyila aja ya..Jalan satu-satunya kan cuma Arsyila". Usul Alzam..


"Gila lo?! lo liat sendiri keadaan Aydan kek gimana..Bawa Arsyila kesini sama aja lo nyelakain dia".


"Yaaaa terus gimana dong??".


"Kita tunggu ampe Aydan bangun...".


"Terus?"


"Baru kita ajak Arsyila ke sini kalo dia bener-bener udah sadar..Kayaknya dia kangen banget sama Arsyila tapi cara dia ngungkapin aja yang salah".


"Tadi gue sempet denger dia ngeracau dari kalimatnya aja dia takut banget kehilangan Arsyila".


"Mungkin trauma".


"Menurut gue juga gitu".


"Dahlah gue mau tidur dulu..Ntar kalo si curut itu sadar..Lo bangunin gue ya".


Pinta Devan lalu merebahkan badannya di sofa.


"Eehh enak aja lo! terus gue nunggu kalian sama-sama bangun gitu kek satpam".


"Yaaa kan lo bisa sambilan main game".


Usul Devan sambil memejamkan matanya.


"Huh! ya sudah tapi pake HP lo ya, kuota gue sisa 2 GB".


Ujar Alzam lalu menggapai ponsel Devan yang tergeletak di atas meja.


"Dasar shulton kw". Sindir Devan.


"Wkwkwk".


...*******...