Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Eps 94 : Maaf untuk Sania"_"



...Happy Reading💓🔥...


...*****...


Keesokan paginya disekolah..


Arsyila masuk ke dalam gedung sekolah dengan langkah terburu-buru, ia sudah tak sabar bertemu dengan Razan.


Saat berjalan dilorong, Arsyila merasa semua pasang mata tertuju padanya adapula yang lebih memilih menundukkan kepala seolah memberi hormat.


Arsyila tak ambil pusing, ia pun berjalan cepat menuju ruangan Razan, namun saat sudah sampai dipintu masuk ruangan itu ia berpapasan dengan Razan yang kebetulan ingin keluar. Arsyila pun menghentikan langkahnya lalu memberi Razan tatapan tajam.


"Eh Syil, udah sehat?". Razan tersenyum manis.


"Ke-Kenapa.." Tanya Razan ragu-ragu yang melihat Arsyila hanya diam menatapanya. Tiba-Tiba ia merasakan firasat buruk.


"Aku gk mau basa basi, sekarang kk Razan jujur sama aku! kenapa kk nge-Do temen-temen aku kemarin ha?!". Tanya Arsyila to the point sambil bersidekap dada.


-Udah gue tebak.


Batin Razan lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Ya karna mereka salah". Jawa Razan seadanya.


"Salah apa? Jangan bilang karna kejadian kemarin malem?". Arsyila mengintrogasi.


"Bukan itu juga, mereka emang pantes dikasih hukuman.. Gue banyak dapet laporan yang gk baik dari murid lain, kalo dibiarin mereka akan tetap semena-mena". Jelas Razan.


"Tapi kan gk harus nge-DO! liat sekarang, karna perbuatan kk Razan itu Sania...." Ucapan Arsyila terputus, matanya pun terlihat berkaca-kaca. Entahlah karna efek pms nya ini mood Arsyila sangat cepat berubah dan hatinya jadi lebih sensitif dari biasanya.


"Syil itu taqdir... Hidup dan mati udah jadi urusan tuhan, ya mungkin memang ajalnya sampai sana". Razan membela diri.


"Terserah kk Razan mau bilang apa, pokoknya mulai hari ini aku gk mau ketemu kk Razan lagi, titik!". Finish Arsyila lalu pergi dari hadapan Razan.


"Syil". Panggil Razan lalu menghela nafas pasrah. Menghadapi Arsyila yang seperti ini memang membutuhkan banyak kesabaran.


Arsyila berjalan di lorong dengan perasaan yng amat kesal sesekali ngedumelin Razan.


"Romantis banget ya bang Razan...Andaikan gue punya cowok kayak gitu".


"Asli sih ini kalau gue jadi kk Arsyila bakal salting brutal, jalan aja dikawal".


"Huhuu baper bangeet".


Mereka omongin apa si?. -Batin Arsyila mendengar bisikan para siswi tersebut lalu mengikuti arah pandang mereka yaitu ke arah belakang.


Razan berhenti sambil tersenyum garing. Melihat itu Arsyila hanya bisa menghela nafas panjang.


"Ngapain ikutin aku siiii". Arsyila dengan suara setengah berbisik.


"Gue gk tenang liat lo ngambek".


"Aissh..Terserah!". Kesal Arsyila lalu berbalik dan berjalan cepat-cepat menuju kelasnya. Razan mengendikkan bahu tak acuh lalu mengekori langkah Arsyila dari belakang.


Hingga saat tiba dikelas, Razan masih standby dibelakangnya membuat semua teman-teman Arsyila yang tadinya ribut langsung kicep dan memperhatikan gerak-gerik mereka berdua.


"Wiihh samaan nih ceritanya".


Goda Kayla pada Arsyila yang mengambil duduk disampingnya dengan wajah cemberut. Sedangkan Razan? ia malah mengkode siswi yang duduk dikursi depan untuk minggir hingga ia pun bisa duduk disana. Dengan tingkah randomnya, Razan pun membalik kursi tersebut hingga tepat berhadapan dengan Arsyila.


"Apaan nih?". Bingung Kayla melihat keanehan mereka berdua pagi ini. Arsyila yang nampak cemberut sedangkan Razan dengan wajah memelas.


"Kayl..." Panggil Razan sambil memberi kode mata.


"Ooo lagi marahan ya". Tebak Kayla.


Arsyila tak menanggapi, ia malah mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Hadeeh". Kayla geleng-geleng kepala.


"Woy Zan! ya ampun gue cari-cari di semua tempat pantes gk ada lagi ngapel ternyata". Heboh Aldo yang datang dengan wajah kesal tanpa perduli ini kelas siapa.


"Ck, rusuh banget lo". Cibir Razan namun tatapannya tak beralih sedikitpun dari wajah Arsyila.


"Kak Aldo bawa aja temennya sana..Ganggu pemandangan kelas tau". Ujar Arsyila membuat Razan menatap datar ke arahnya.


"Lo juga Syil, kita kan sekarang mau pergi". Jelas Aldo.


"Pergi kemana?". Bingung Arsyila.


"Ini nih ciri-ciri orang gk pernah buka group". Cibir Aldo.


"Berarti jas osis gk lo bawa?". Tanya Razan dan dibalas gelengan dari Arsyila.


"Emang kita mau kemana?".


"Kan layatan, lo gk mau ikut?". Beritahu Razan. Bodoh! Arsyila baru menyadari bahwa Razan sedari tadi mengenakan jas OSIS begitupun dengan anggota OSIS yang lain juga rata-rata mengenakan jas hitam persatuan mereka itu dikarenakan ada agenda hari ini.


"Oooo sorry gk sempet cek group". Arsyila tersenyum canggung.


"Hm ya udah ayok kita berangkat, yang lain udah pada nungguin dibawah". Ajak Aldo.


"Kak aku ikut ya, kalo Arsyila pergi aku sama siapa dong". Kayla dengan mata memelas.


"Hadeeh izin sama Hamam dulu sana".


"Dia gk masuk, pasti diizinin kok". Ujar Kayla mantap.


"Hm ya udah". Razan pun bangkit dari tempat duduknya lalu memanggil Rifki yang juga sudah siap untuk turun hanya saja ia terlihat ragu untuk mendahului Razan.


"Ayok Rif, ajak yang lain juga". Razan pun berjalan disamping Aldo diikuti rekan OSIS yang lain.


Sesampainya di lapangan, Razan bisa melihat sendiri sudah banyak anggota OSIS yang duduk menunggu kedatangannya.


"Ayok guys berangkat". Seru Aldo dan dipatuhi mereka.


"Kayl kita sama siapa? kamu bawa mobil?". Tanya Arsyila pada Kayla.


"Hedeeh ngapain repotin itu sih, kamu mah gk perlu nyari temen nebeng udah ada yang nungguin kalik, tuh". Tunjuk Kayla pada Razan yang sedang bersandar dipintu sambil menatap ke arah mereka.


Kayla pun menarik tangan Arsyila menuju mobil sport milik Razan untuk ikut nebeng.


"Bang aku ikut sama kamu yak?". Kayla meminta persetujuan.


"Ya masuk aja".


Ujar Razan lalu Kayla pun masuk kedalam mobil tersebut dengan wajah riang. Arsyila menghela nafas pelan lalu hendak ikut menyusul Kayla yang mengambil duduk dikursi penumpang namun tiba-tiba Razan menghadang jalan Arsyila dengan tangan kekar miliknya membuat Arsyila mengernyitkan dahi.


"Lo duduk di depan sama gue". Ucap Razan.


"Gk mau! Aku mau disamping Kayla". Tolak Arsyila.


"Gk boleh! lo harus temenin gue".


"Kak Razan apaan si, awass". Arsyila masih dengan nada kesal.


"No! pokoknya lo harus duduk deket gue". Razan memaksa.


"Nurut aja Syil, bang Razan orangnya keras kepala. Kalo gk diikutin gk bakal kelar urusannya". Jelas Kayla.


"Gk papa". Jawab Kayla sembari tersenyum.


Melihat itu Razan langsung menarik tangan Arsyila dan mempersilahkannya masuk ke dalam mobil.


"Dasar pemaksa". Cibir Arsyila.


Razan malah tersenyum membalas ucapan Arsyila lalu berjalan mengitari mobil hingga dirinya duduk manis disamping Arsyila.


"Zan cepet woy! ntar nasi kotaknya abis". Seru Aldo yang sudah geregetan dengan Razan. Ia dan juga rekan OSIS yang lain sudah menaiki kendaraan masing-masing dari tadi dan tinggal menunggu Razan yang menjadi ketua berjalan terlebih dahulu namun nyatanya mobil Razan sama sekali tak bergerak.


"Apaan nasi kotak! otak lo isinya makanan mulu". Cibir Chika setelah memberikan Aldo cubitan mautnya.


"Hehe ampun by, becanda doang lagian tuh bocah kagak jalan-jalan dari tadi.. Geregetan gue".


"Hadeh.. tuh dah jalan". Tunjuk Chika lalu Aldo pun menyalakan mobilnya dan mengikuti Razan dari belakang bersama anggota OSIS yang lain.


Kini mereka sudah tiba depan pemakaman tempat Sania dimakamkan. Setelah memarkirkan kendaraan dengan rapi, mereka pun bersama-sama masuk ke dalam.


Bertepatan dengan itu, mereka berpapasan dengan warga yang datang untuk layatan namun Razan sama sekali tak melihat keberadaan Endang dan suaminya Bahkan saat anak mereka sudah tidak ada, mereka masih tak perduli.


Terkecuali seorang pemuda yang berdiam diri sambil menatap batu nisan yang menancap di atas gundukan tanah itu dengan air mata yang keluar dari pelupuk matanya...Pemuda tersebut adalah Ardi, kk tirinya Sania.


Meski statusnya sebagai kk Tiri, namun Ardi sangat menyayangi Sania layaknya adik sedarah karna ia sendiri sangat ingin memiliki adik perempuan dari kecil. Sania pun begitu, itulah sebabnya ia sama sekali tak membenci Endang karna ia menghargai Ardi. Namun mengapa kebersamaan itu harus berakhir begini? Ardi rasanya masih tak terima.


Razan dan rekan OSIS yang lain mendekat ke arahnya, tanpa menyapa. Mereka juga tidak tahu siapa dia kecuali...Razan.


"Guys kita baca yasin bentar ya". Intruksi Razan lalu mereka pun duduk mendoakan Sania. Ardi tak terganggu sama sekali, ia masih sibuk dengan kesedihannya sendiri.


Hingga tak lama mereka pun selesai dengan kegiatan masing-masing dan hendak pulang, Ardi pun nampak ikut berdiri.


"Dan!". Panggil Ardi yang sontak membuat Arsyila yang baru saja berdiri ikut menoleh ke arah belakang dan ternyata Aydan beserta Devan dan Alzam juga datang melayat padahal tadi Arsyila tak melihat keberadaan mereka.


Razan nampak waspada, meski Arsyila sudah memberitahu statusnya dengan Aydan namun tetap saja jika sudah bersangkutan dengan masa lalu Razan sangat posesif.


"Bang gk balik?". Tanya Kayla pada Razan.


"Kalian duluan aja ke mobil, mau nunggu semuanya pulang".


"Oh ya udah". Ucap Kayla lalu mengajak Arsyila pergi mengikuti yang lain. Namun saat berpapasan dengan mereka bertiga, Arsyila mendapat sapaan dari Aydan..


"Syil". Sapa Aydan sambil tersenyum manis.


"Eh Dan..Kalian kapan dateng?". Balas Arsyila tak kalah ramah.


"Tadi pas pertengahan".


"Oh gitu, aku kira kamu udah jalan ke singapore".


"Ntar sore langsung berangkat".


"Oh...Mm ya udah aku pulang duluan ya".


"Iya hati-hati". Ujar Aydan dan dibalas senyuman Arsyila. Senyuman yang masih sama seperti dulu..


Razan yang melihat itu mengepalkan kedua tangannya, mungkin ini yang Aydan rasakan dulu..Pikirnya. Namun tetap saja Razan lebih sakit karna Aydan sudah lebih dulu menjadi orang yang paling spesial dihati Arsyila daripada dirinya.


"Dan". Tegur Ardi membuat Aydan yang sedari tadi menatap punggung Arsyila menoleh ke arahnya.


"Cewek yang lo sapa tadi?". Tanya Ardi sepotong.


"Disebelahnya". Jawab Aydan yang sudah mengerti.


Mungkin karna sudah tak lama melihat Kayla jadi Ardi beranggapan bahwa gadis yang disapa Aydan tadi adalah Kayla mantan kekasihnya dulu. Lagipula Aydan sama sekali tak menghiraukan Kayla, meliriknya pun tidak! jadi siapapun yang melihat mereka akan beranggapan bahwa Aydan dan Kayla tidak ada hubungan apa-apa sebelumnya.


"Mau ngomong apa bang?". Tanya Devan yang dari tadi diam disamping Aydan.


"Gue cuma mau ngejelasin kesalah fahaman yang terjadi dimasa lalu". Jawab Ardi dengan wajah sendu.


"Maksudnya?". Bingung Alzam.


"Tentang Sania, gue gk mau lo pada masih mikir yang gk-gk tentang alm. adik gue..."


Ada ketidak relaan saat ia menyebut gelar baru Sania...


"Langsung aja". Pinta Aydan.


"Sebenarnya yang buat Tiara kecelakaan dulu bukan Sania, itu hanyalah kesalah faham".


"Maksud???". Serbu mereka bertiga. Razan yang posisi berdirinya tak jauh dari mereka pun ikut terkejut, ia juga tahu dari cerita Aydan waktu lalu jadi pantas saja.


"Yang sebenarnya terjadi...."


*Flash back on*


"Huh kayaknya jalanan macet".


Keluh Sania lalu mengambil jalan yang agak jauh untuk pulang kerumah yaitu melewati jln. Cempaka yang terkenal sepi biasanya dipakai anak genk motor untuk balapan. Yah, daripada ngangtri lampu merah Sania lebih suka lewat sana meski akan lama sampai dirumah.


Namun saat dirinya tengah mengendara, tiba-tiba ia melihat sebuah mobil menyalip mobilnya dengan kecepatan penuh, Sania sedikit terkejut namun tak lama ia menyadari bahwa mobil tersebut nampak tak asing hingga tersadar kalau itu adalah mobil milik Tiara, saingannya dari sekolah sebelah.


"Brutal anj*r!". Umpat Sania lalu mengejar mobil Tiara.


"Tiaraaa!". Panggil Sania saat dirinya berhasil menyamai diri dengan Tiara namun Tiara sama sekali tak mendengar panggilannya. Sania bisa melihat wajah Tiara yang nampak lusuh.


"Raaa!!". Karna geregetan Sania pun menabrak-nabrak kecil mobil Tiara namun justru Tiara menjadi lebih panik.


Samar-Samar Sania melihat sebuah mobil juga tengah melaju dari arah depan. Karna takut Tiara kenapa-napa, Sania pun menggeser mobil Tiara dengan tabrakan kecil dari arah samping. Sania juga tidak mengerti apa yang dilakukannya ini karna terlalu panik.


Hingga saat mobil tersebut terlihat mendekat Tiara malah membelokkn stir mobilnya ke samping dan.....


*Flash back of*


"Jadi itu kejadian yang sebenarnya..." Gumam Aydan merasa bersalah. Ia sama sekali tak memberikan Sania kesempatan untuk menjelaskan waktu itu karna kebenciannya.


"Gue nyesel udah ngata-ngatain dia". Sesal Devan juga ikut-ikutan..Bayangan dirinya yang berdebat waktu lalu dengan Sania pun kembali teringat.


"Semua udah terjadi, minta maaf pun kayaknya udah gk bisa lagi. Kita doain aja yang terbaik buat Sania..." Peringat Alzam.


"Gue ngerti, wajar aja kalian gk suka sama dia..Karna Sania sering bikin rusuh kan?".


Mereka kompak menganggukkan kepala.


"Sebenarnya Sania itu baik..Tapi orang tua kita yang buat dia gitu, seandainya gk ada gue mungkin dia udah bunuh diri dari dulu". Ardi memasang wajah sedih.


"Maafin kita ya bang...Gue kira dia terlalu obsesi sama gue sampe dia mau nyelakain Tiara dulu.." Aydan berucap.


"Tiara udah cerita sama gue tentang lo, sebelum kejadian itu.. Dia udah curhat sama gue buat ngelepas lo sama Tiara dan janji gk bikin rusuh lagi, tapi karna orang-orang makin hujat dia..Dia makin menjadi dan membenarkan semua perkataan mereka tentang dirinya".


"Maaf bang..." Tak da kata yang mampu diucapkan Aydan selain itu.


"Gk pp, semua udah lewat.. Yang penting kalian udah tau cerita yang sebenarnya biar adik gue bisa pergi dengan tenang".


...*****...


See you next chapter...👋🏻🔥


Makasih supportnya💓