Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Bag 34 : Mulai mencari tahu



...Hye guys sesuai janji Author Up lagi nih.. Jangan lupa kasi Like and Votenya ya biar Author semangat❤🔥...


...Happy Reading🕊...


...*****...


Masih dihari yang sama namun dengan sudut pandang yang berbeda.


Di sekolah


"Zan gk pergi nganter absen kah?". Tanya Aldo pada Razan yang malah sibuk mengetik pekerjaannya dilaptop yang sekarang ini sedang berada diruangan khusus miliknya itu.


"Gk, lo aja". Balas Razan tanpa menoleh.


"Lah tumben banget lo, biasanya juga paling semangat tuh". Sindir Aldo pada Razan.


"Dia gk masuk". Balas Razan singkat.


"Ha? darimana lo tau?".


"Insting aja". Balasnya lagi.


"Dih si paling insting ". Julid Aldo.


"Cek aja sono". Tantang Razan tanpa menoleh.


"Awas ye kalo dia masuk.."


"Iye cepet ntar keburu bel masuk"


"Oke".


Aldo kemudian berjalan keluar dari ruangan tersebut dan menjalankan tugasnya untuk membagikan absen ke masing-masing kelas.


Beberapa menit berlalu Aldo sudah selesai dengan kegiatannya dan kembali ke ruangan Razan dengan wajah kusut.


"Zan capek! Huh". Keluh Aldo lalu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa yang tersedia disana.


"Haha baru aja segitu". Ejek Razan.


"Lo bayangin aja tuh gue sendirian nganterin absen ke semua kelas dari lantai satu sampai tiga! pegel njjir".


"Gk papa kali Do olahraga pagi". Ujar Razan sambil lanjut mengetik.


"Dih mending ya nganter absen bisa bikin perut gue kotak-kotak biar jadi idaman cewek. Lah ini? nambah keringat iya".


"Haha kebanyakan ngeluh lo Do".


"Dahlah mulai besok mending lo suruh ketua kelas aja yang ngambil sendiri biar gk semua serba OSIS".


"Kalo yang ngambil ketua kelas yang ada gue ketemunya ama Rifki dong gk dapet liat dia". Ujar Razan sambil terkekeh kecil.


"Buseeet lo ngorbanin temen cuma demi kepentingan lo sendiri ya ternyata. Sejak kapan lo bisa bucin kek gitu Zan?". Heran Aldo menatap temannya itu.


"Sejak ada dia". Jawab Razan sambil senyum-senyum sendiri.


"Njiir kesambet apa lo". Aldo melebarkan matanya sambil geleng-geleng kepala.


Mungkin baginya ini adalah hal langka yang terjadi pada Razan..Razan yang awalnya tidak terlalu perduli tentang perempuan dan sangat cuek walaupun banyak yang menyukainya namun sekarang justru sebaliknya, Razan seperti anak baru gede pada umumnya yang sedang kasmaran.


"Wkwkwk hust jangan kasih tau siapa-siapa ya Do, gue berani gini cuma didepen lo doang". Razan mengangkat kepalanya menatap Aldo dengan jari telunjuk yang ia letakkan dibibirnya yang dimonyongkan.


"Ckck cuma gue yang tau sisi gelap lo".


"Hahaha hadeh, lo sendiri kenapa masih jomblo Do, karna perut lo yang datar yak?". Ledek Razan sambil lanjut mengetik.


"Enak aje lo! perut six pack mudah dibentuk kalik tapi ya gitulah percuma aja karna cewek zaman sekarang lebih suka brondong". Ujar Aldo membuat Razan yang tadinya sibuk sendiri jadi mengalihkan atensinya pada Aldo.


"Siapa tuh yang lo sindir? setau gue cuma temen kelas kita deh yang tipenya emang gk ngotak mm yang paling dominan sih dua sijolii itu". Sebut Razan yang tertuju pada Chika dan Deva.


"Apa jangan-jangan...."


"Mmm bukan temen kelas!". Potong Aldo cepat.


"Eh bener kata lo Arsyila gk masuk..Keren banget si insting lo". Puji Aldo mengalihkan pembahasan.


"Iya doong itu namanya ikatan batin". Ujar Razan mengikuti alur pembicaraan Aldo.


"Jiakh dasar bucin lu! ya udah kalo gitu gue mau langsung balik kelas". Pamit Aldo kemudian keluar dari ruangan tersebut setelah mendapat persetujuan dari Razan.


Setelah keadaan sudah kembali hening, Razan meraih ponselnya dan menekan aplikasi telpon untuk menghubungi seseorang.


Tuut..Tuuut..Tuut


Tak berselang lama panggilan pun terhubung.


"Halo ini siapa ya?".


"Bisa saya minta data pasien untuk hari ini?".


"Maaf tapi dalam peraturan kedokteraan pasien mempunyai hak privasi yang harus dijaga, boleh tau ini dengan siapa?".


"Saya putra dari Nyonya Jasmine".


"Oh iya maaf tuan saya tidak tau, sesuai permintaan anda minggu lalu saya akan mengirimkan rekapan data pasiennnya sekarang".


"Tidak perlu semuanya, saya hanya meminta satu nama saja dan Diagnosa yang dialami itu saja".


"Oh iya baik tuan, atas nama siapa?".


"Arsyila Audhiva Janea".


"Saya carikan dulu".


"Ok".


"Arsyila Audhiva Janea terDiagnosa PTSD tapi ini masih dalam perkiraan dokter dan sedang dilaksanakan pemeriksaan kembali".


"Okey jika sudah selesai konfirmasikan segera".


"Baik tuan".


Tut.


Razan mematikan ponselnya secara sepihak.


"PTSD?". Bingung Razan mendengar penyakit yang ia baru dengar itu.


"Chika, dia pasti tau!". Ujar Razan mantap lalu segera keluar dari ruangan tersebut untuk menemui Chika di kelasnya.


Oh iya kalian belum tau ya mengenai Nyonya Jasmine?. Dia adalah mamanya Razan yang menjadi Direktur di RS. Jasmine Hospital satu-satunya tempat konsultasi jiwa terbesar dikota ini.


Keluarga Razan memang sangat kaya raya bahkan sudah terkenal dikalangan pengusaha besar hingga anggota keluarganya sendiri mempunyai label nama masing-masing di setiap tempat terkenal yang dibagi langsung oleh pak Cakra. Contohnya Saja Jasmine Hospital yang dipegang oleh Nyonya Jasmine ini belum lagi Aset milik Razan dan adik perempuannya.


_______


"Chik". Panggil Razan pada Chika yang sedang berghosip ria dengan Deva.


"Iyaa Zan?". Tanya Chika sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Gue mau bicara sama lo, tapi diluar".


"Lah tumben-tumbenan lo main privasi gini". Heran Deva.


"Ini masalah medis jadi gue cuma butuh Chika". Jelas Razan.


"Oh iyaya". Deva mengangguk mengerti.


"Dev gue keluar dulu, lo jangan kangen ya". Ujar Chika sambil terkekeh.


"Dih PD lu".


"Wkwk yok Zan". Ajak Chika pada Razan kemudian keluar dari kelas tersebut.


"Mereka mau kemana?". Tanya Aldo saat sudah mendudukan dirinya disamping Deva, sejak tadi ia memperhatikan kegiatan mereka dari kursi belakang sambil sesekali ikut merespon cerita Arsen dkk.


"Cie kepo". Ledek Deva.


"Dih gue kepo karna gue liat kalik, lo kok gk diajak?". Kilah Aldo.


"Razan mau nanya sesuatu sama Chika masalah kedokteran keknya, gue kan cuma asistennya Chika..Semua orang juga tau kalik kalo Chika tu udah kayak Dokter muda".


"Ooh gitu tapi kok main privasi si?". Bingung Aldo.


"Lah kita kan cuma temen Do, Razan juga punya hak pribadi yang gk semua orang boleh ikut campur". Jelas Deva yang tumben dewasa.


"Wiiih tumben banget otak lu normal Va". Puji Aldo yang malah seperti ledekan bagi Deva.


"Emang dasar lo ya! lagian lo sii ngapain cobak nanya-nanya kek gitu".


"Iya juga sih, iya juga ya?".


"Nah kan balik lagi lu kek orang dungu". Komentar Aldo lalu bangkit dan kembali ke kursi belakang untuk ikut nimbrung bersama genk-genkannya Arsen.


"Eh? aishhh punya temen gini amat yak, gk ada yang gk julid". Gerutu Deva.


_________


"Mau nanya soal apa Zan?". Tanya Chika saat sudah duduk diruang OSIS bersama Razan.


"Lo tau gk apa itu PTSD ?". Tanya Razan memulai topik pembahasan.


"Mm gue pernah denger sih, bentar gue inget-inget dulu".


"P T S D.. Hmm". Gumam Chika sambil mengingat-ingat setaunya ia pernah mendengar ini dari ibunya.


"Oh iya! P T pasca trauma!". Antusias Chika sambil menjentikkan jarinya ketika berhasil mengingat sepotong arti dari kata yang ia bisa tangkap dalam otaknya.


"Pasca trauma? maksud lo???".


"Jadi kesimpulan yang dapat gue inget sii PTSD tu kayak jenis trauma gitu".


"Parah gk?". Tanya Razan penasaran.


"Kalo berat si bisa aja nyebapin kematian kalo yang terdiagnosa nekat bunuh diri". Jelas Chika lagi.


Deg.


Jantung Razan seperti berhenti berdetak seketika saat mendengar Chika menyebutkan kata -kematian-.


"Separah itu ya Chik?". Tanya Razan dengan raut wajah yang terlihat khawatir.


"Ya gitu..Emang kenapa Zan? lo kok kayak panik gitu?". Tanya Chika balik.


"Arsyila terDiagnosa PTSD ". Keluh Razan sambil menatap kosong ke arah lain.


Chika melebarkan bola matanya.


"Arsyila?". Ujar Chika sedikit terkejut.


"Iya.." Jawabnya sendu.


"Lo tau dari mana? lo jadi ajak dia konsultasi ke Dokter kan?".


"Bukan gue tapi sama Aydan".


"Ha? maksudnya? coba lo jelasin gue jadi penasaran niih ama cinta rumit kalian". Desak Chika yang sudah sangat antusias bak reporter.


"Huh..Gue tau itu saat Arsyila gk masuk minggu lalu bersamaan dengan itu gue juga denger kabar Aydan gk masuk dari Aldo so gue jadi penasaran".


"Truus??". Tanya Chika penasaran mendengar kelanjutan cerita Razan.


"Yaa gue rela bayar orang buat mata-matain rumahnya Arsyila".


"Anjayyy pengawasan anak sulton emang beda yak!". Chika berdecak kagum.


"Gue lagi serius niih.." Razan menatap datar Chika.


"Eh iyaya serius". Chika mengubah ekspresinya seserius mungkin.


"Trus gue dapet laporan kalo Arsyila pergi ke tempat pisikiater sama Aydan".


"Lo tau dia PTSD dari mana?".


"Ya gimana gk tau dia perginya ke RS milik nyokap gue". Jelas Razan.


"Maksud lo Jasmine Hospital?".


"Iya, emang dimana lagi tempat Pisikiater yang ada pelang RS nya". Tanya Razan balik.


"Kan cuma mastiin markoo".


"Truus trus".. Tanya Chika lagi.


"Besoknya gue datengin tuh rumah sakit buat mastiin tapi gue belum dapet info yang valid nah tadi pagi gue telpon lagi pihak RS nya dan ternyata ya gitu.. Tapi katanya masih perkiraan Arsyila masih dicek".


"Gk sih menurut aku Zan, kalo Pisikiater udah kasih perkiraan gitu, kemungkinan infonya udah valid cuma masih mastiin keraguan aja". Jelas Chika mengutarakan pendapatnya sesuai pengalamannya saat mengecek kondisi para murid yang sering ia periksa di UKS.


Inget gk pas Chika kasih saran ke Razan di UKS waktu lalu? ia sudah menebak jika Arsyila mengalami trauma dari tanda-tanda yang ia lihat hanya saja ia bukan Pisikiater dan tidak berhak untuk mendiagnosa barangkali perkiraannya salah, dan benar saja yang dialami Arsyila saat ini adalah trauma namun Chika sedikit terkejut mendengar hasil diagnosanya, ia tak menyangka jika Arsyila mengalami hal itu bukan trauma biasa seperti yang dibayangkan.


"Gue takut Chik". Ujar Razan sambil menghembuskan nafasnya kasar.


"Lo sayang banget ya sama dia?". Tanya Chika melihat raut wajah Razan yang tidak seperti biasanya.


"Lebih dari apapun". Jawab Razan tanpa pikir panjang.


Buset si Razan kalo bucin gk nanggung-nganggung yak ternyata


-Batin Chika yang malah ingin menertawai ekspresi Razan. Jika tadi Aldo yang menjadi saksi fenomena alam yang langka ini maka sekarang adalah Chika. Ia juga tak jauh berbeda dengan Aldo yang tidak menyangka jika Razan bisa bucin seperti ini pada perempuan.


"Hmm gue jadi penasaran sama Arsyila.. Dia trauma karna apa ya sampai PTSD gitu?". Gumam Chika.


Tiba-tiba Razan teringat sesuatu..


Apa iya karna hal itu? -Bati Razan saat mengingat kejadian masa lalu...


"Apa tenggelam juga bisa memicu hal itu?". Tanya Razan tiba-tiba.


"Bisa jadi si, tapi gk semua kejadian menakutkan bisa kita simpulkan buat orang langsung terDiagnosa PTSD bahkan kejadian tragis sekalipun yang bisa tentuin itu hanya Pisikiater". Jelas Chika.


"Hmm". Gumam Razan.


"Emang Arsyila pernah tenggelam?". Tanya Chika penasaran pasalnya Razan tidak mungkin kan tiba-tiba bertanya seperti itu tanpa ada sebab.


"Mm gk tau". Jawab Razan sambil menghendikkan bahu.


"Terus ngapain lo nanya kek gitu?". Tanya Chika.


"Gue dulu pernah tenggelam siapa tau gue juga PTSD tapi masalahnya gue gk trauma". Alibi Razan sambil cengiran.


"Hadeeh lemah banget si kalo sampe tenggelam bikin lo ampe trauma, gue potong tuh kelamin!". Ujar Chika tanpa saring.


"Njiir cewek gk si lo?". Tanya Razan sambil geleng-geleng kepala.


"Wkwkwk eh Zan inget ya gue tu cuma bisa malu kalo berhadapan sama adek kelas, CATET!". Tekan Chika pada kalimat terakhir nya.


"Emang konslet lu ya".


"Haha dah lah males liat muka lu lama-lama, gue mau balik kelas dulu, eh pak yayan gk masuk ya?". Tanya Chika pada Razan.


"Nggak deh keknya jam pertama kosong".


"Oh baguslah gue mau ngantin dulu ah ma Deva sambil gosip". Cengir Chika.


"Eh". Razan melebarkan matanya.


"Bye bye Razan". Ujarnya lau bangkit dan segera keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Razan sendiri tanpa menghiraukan ekspresi Razan.


"Chik gk boleh keluar kelas selama pembelajaran berlangsung". Teriak Razan dan masih dapat ditangkap Chika.


"Gk perduliii". Teriak Chika ikutan dari arah luar sambil terus berjalan.


"Ya ampun apa kelemahan semua ketua di muka bumi ini memang udah gini ya? dikelas lain kayak singa dikelas sendiri lepas tangan". Gerutu Razan meratapi nasibnya.


Deringan telpon mengalihkan atensi Razan, ia kemudian merogoh sakunya untuk mengambil handponnya yang bergetar. Dengan gerak cepat Razan mengangkat panggilan itu.


"Bagaimana?". Tanya Razan tanpa salam pembukaan.


"Pasien atas nama Arsyila Audiva Janea terDiagnosa PTSD, infonya sudah valid tuan".


"Baik, terimakasih atas bantuan anda".


"Baik tuan".


Tut


Razan mematikan panggilannya sepihak.


"Arsyila gue yakin, lo pasti bisa jalanin ini..Lo itu kuat. Mulai sekarang gue harus lebih mengawasi dia terutama dari Aydan". Gumam Razan yang entah apa maksud dibalik kalimat terakhirnya itu.


...********...


Kasih like dong🔥..


Jangan lupa komen dan follow Author ya💌