
...~Tidak perlu mengikat burung dalam sangkar, biarkan ia terbang bebas mencari sarang yang tepat~...
...-Happy Reading💓🔥-...
...*****...
Teeeeet Teeet Teet
Bel istirahat berbunyi.
"Syil mau barengan ngantin gk?". Ajak Rehan bersama Rani dan Jihan.
"Kalian duluan aja, nanggung tinggal satu soal". Ujar Arsyila sambil fokus mengerjakan tugas biologi yang akan dikumpulkan nanti saat pulang sekolah.
"Hm y udah kita duluan ya".
"Okey".
Beberapa menit setelahnya ia sudah selesai dengan kegiatannya membuat Arsyila bernafas lega.
"Alhamdulillah tinggal ngantin". Lega Arsyila lalu bangkit dari duduknya dan keluar dari kelas sendirian.
"Mau ke kantin ya Syil?". Sapa seorang siswi yang berjalan bersama dua orang temannya. Arsyila tidak mengenali wajah mereka namun Arsyila tau dari seragamnya mereka anak jurusan IPA 2.
"Iya, kenapa?".
"Makanan dikantin abis kita aja mau ke kantin kelas 10". Beritahu mereka ramah.
"Ooh gitu..Makasih ya". Ujar Arsyila tak lupa memberikan senyum.
"Sip".
Arsyila pun berjalan menuruni tangga seorang diri tanpa sahabatnya, dan tanpa Aydan. Sepertinya kelas Aydan sedang ada praktik di ruangan lab.
"Syiilll tungguin..." Aydan mengejar langkah Arsyila dari belakang, baru saja disebut🤦🏻sepertinya ia sedang bolos pelajaran.
Arsyila menoleh sebentar lalu merotasi matanya malas. Tanpa menghiraukan panggilan Aydan Ia terus berjalan menyusuri koridor.
"Eh itu Kak Tiara kan?". Bisik salah seorang siswi yang sedang memperhatikan Arsyila bersama dua orang temannya. Arsyila yang merasa dibicarakan pun menghentikan langkahnya untuk menguping.
"Seinget aku kk Tiara nggak punya tahi lalat di bawah hidung deh". Sahut salah seorang di antara mereka.
"Tiara?". Beo Arsyila.
"Eh itu kk Aydan nggak sih??". Tunjuk satunya lagi agak antusias melihat Aydan yang sudah berdiri dibelakang Arsyila.
"Eh iyayaa!".
Arsyila melihat ke arah pandang mereka, dan benar saja yang mereka maksud adalah Aydan. Aydan salah tingkah lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Sapa yuk!".
"Tapi gue masih ragu, kalau ternyata bukan kk Tiara gimana?? kk itu juga kelihatan lebih tinggi, putih, terus agak kurus..Kak Tiara kan lebih berisi".
"Ck. kita kan udah lama nggak ketemu kk Tiara zaman sekarang gk ada yang mustahil, kita juga dulu ketemunya bentar terus Kak Tiara pindah ke pesantren.
"Iya gue setuju sama Sinta. Ayok kita ke sana". Mereka pun berjalan mantap menuju Arsyila dan aydan yang sedang mematung.
"Hyy kk..Kak Tiara kan? kk Tiara makin cantik aja". Sapa Sinta langsung-langsungan.
Arsyila hanya tersenyum canggung bingung harus merespon apa berbeda dengan Aydan yang malah keringat dingin di belakangnya.
"Kak Tiara masih inget kita gk??". Sahut siswi yang bernama Vina. Arsyila masih bingung lalu menoleh ke arah Aydan yang sudah berdiri disampingnya.
"Kita salah orang apa gimana??". Bisik Sinta melihat respon Arsyila.
"Coba deh tanyain orang yang disamping kk ini, gk mungkin gue salah inget. Kak Aydan kan fames banget". Bisik Fauna.
"Mm kk, yang disamping kk itu...Kak Aydan bukan?". Tanya Sinta agak canggung.
~Mampus!
Aydan membatin.
"Iya ini Aydan, tapi...Tiara itu siapa ya?". Tanya Arsyila. Kentara sekali wajahnya yang bingung tak dibuat-buat.
"Eh..!" Vina melototkan bola matanya.
"Tuh kan! kita salah orang, pasti ini pacar barunya Kak Aydan". Bisik Sinta agak panik.
"Hehe kita permisi dulu kak". tanpa menjawab pertanyaan Arsyila mereka bertiga langsung kabur. Arsyila yang melihat itu pun membalikkan badannya menghadap Aydan sambil menyilangkan kedua tangannya ke depan. Melihat tatapan mengintimidasi Arsyila itu Aydan hanya tersenyum canggung lalu menggaruk kembali tengkuknya yang tidak gatal.
"Tiara, siapa??".
Tanya Arsyila langsung membuat Aydan susah payah menelan salivannya.
"Ti..Ti..Tiara.." Aydan mendadak gagap.
"Siapaa??! jawab!. Tegas Arsyila sekali lagi.
"Ti..Tiara.....Mantan aku". Jujur Aydan lalu menunduk.
"Hm". Arsyila mangguk-mangguk. "Namanya cantik juga ya..Pasti orangnya cantik banget". Puji Arsyila yang malah membuat Aydan merinding.
"Cantikan kamu". Jawab Aydan terus terang.
"Oh..BTW Kenapa bisa putus?". Tanya Arsyila santai tanpa menampakkan raut kecemburuan sedikitpun entah bagaimana dengan hatinya.
Aydan diam sejenak..Ingatan di masa lalunya terulang kembali, saat-saat bersama Tiara hingga mereka berpisah. Jika boleh jujur Aydan tidak mungkin melupakan Tiara secepat itu namun bagaimanapun juga ada Arsyila yang harus ia pertahankan.
"Kenapa melamun??". Tanya Arsyila membuyarkan lamunan Aydan. Jelas sekali raut sedih yang ditampakkan Aydan saat kembali mengingat mantan kekasihnya itu.
"Maaf Syil, kayaknya aku belum bisa jelasin tentang masa lalu aku ke kamu". Ucap Aydan menatap bersalah ke arah Arsyila. "Tapi aku janji kok...Nanti Aku pasti bakal cerita sama kamu okey!". Lanjut Aydan cepat sembari meraih kedua tangan Arsyila.
Arsyila menarik kembali tangannya, ada sedikit kekecewaan dalam hatinya, mengapa sesulit itu Aydan membagi masa lalunya dengan Arsyila..Apa kisahnya terlalu menyakitkan? atau terlalu menyenangkan..Lantas jikalau menyenangkan kenapa bisa putus?.
"Gk perlu". Jawab Arsyila lalu berbalik dan berjalan meninggalkan Aydan.
Namun baru saja selangkah berjalan lagi-lagi ia dibuat berhenti, bukan karna Aydan melainkan dua orang laki-laki dihadapannya..Sepertinya mereka adalah murid baru.
Arsyila lalu melihat nametage mereka berdua yang satunya bernama depan Raditya dan satunya lagi bernama Jukiman.
"Haloo kk Arsyila...Ini pasti kak Arsyila kan??". Sapa siswa berparas tampan yang bernama Raditya.
"Kok tau?". Tanya Arsyila spontan.
"Anjayy lo! pagi-pagi gombal..Jangan terhasut kak, dia ini predator". Syirik si Jukiman.
"Gk doong...Kalo seandainya cewek gue kak Arsyila, bakal gue jaga sepenuh hati hingga titik darah penghabisan!".
Ujar Raditya lebuy. Ingatkan mereka ada Aydan dibelakang Arsyila yang sedang menahan api cemburu. Tidak tahu saja mereka manusia possesife itu sudah bersiap-siap meninju jika saja tidak ada Arsyila.
"Hadeh..Kalian ini, inget umur". Gurau Arsyila lalu terkekeh kecil.
"Zaman sekarang lagi trend-trendnya brondong kk jadi umur gk ngaruh bagi kita, toh juga muka gue lebih dewasa dibanding kk ya kan Juki". Ujar Raditya masih menggombal sambil menyenggol tangan Juki.
Benar juga yang dikatakan Raditya zaman sekarang sulit membedakan brondong yang beda 2/3 tahun. Wajah kakel emang kadang lebih muda dibandingkan teman kelas sendiri malah tubuh brondong jaman now juga lebih tinggi dibandingkan anak 2003 ke atas (cowok).
"Iya sii..Tapi gue lebih cocok sama kk Arsyila dibanding lo". Jawab Jukiman dengan percaya diri.
"Enak aja! gue dong..Dari segi nama aja -Raditya dan Arsyila..Lebih cocok! lah lu?? Arsyila dan Jukiman! ngerusak keturunan anjayy". Raditya mengejek.
Arsyila yang humornya receh pun terpancing dengan lelucon mereka lalu ikut terkekeh sambil menutup mulutnya.
"Aishh!". Nafas Aydan menggebu, ingin sekali rasanya menghajar duo adkel gesrek didepannya ini.
"Sialan lo!". Jukiman memukul bahu Raditya karna salting. Arsyila hanya geleng-geleng kepala lalu menengok jam ditangannya. Waktu istirahat tersisa 7 menit dan Arsyila masih belum sampai kantin. Ia hampir lupa dengan tujuan awalnya.
"Mm aku duluan ya..Mau ke kantin ntar bel masuk bunyi lagi". Ujar Arsyila sopan.
"Eh kak samaan aja gimana????". Tawar Raditya.
Arsyila berfikir sejenak. Aydan sudah tidak tahan lagi lalu maju dan menggandeng tangan Arsyila posesif sebelum mendengar persetujuan gadis polosnya ini.
Arsyila tanpa sadar membuka mulutnya dengan mata yang melebar lalu menoleh ke arah Aydan yang sedang menatap garang kedua adkelnya itu.
"Eh??". Raditya dan Jukiman tak kalah terkejut.
"Itu siapa kak??". Tanya Jukiman menunjuk Aydan.
"Bukan siapa-siapa". Jawab Arsyila yang masih kesal dengan Aydan lalu melepas tautan tangan mereka membuat Aydan menggeram menahan amarah.
"Syil!". Aydan sedikit membentak namun Arsyila tak perduli.
"Arsyila cewek gue! seantreo sekolah juga tau kalo dia milik gue". Aku Aydan.
"Nyenyenye". Arsyila menggepengkan bibirnya yang justru makin terlihat imut bagi Raditya dan Juki.
"Potek hati gue Dit". Keluh Juki sambil menepuk-nepuk kecil bahu milik Raditya.
"Sabar Juk...Kita gk boleh kalah sama nih kakel, ya walaupun dia ganteng si". Raditya meneliti paras Aydan dari atas sampai bawah. "Tapi! zaman sekarang brondong tetep jadi pemenangnya..." Ujar Raditya pantang menyerah.
"Ya! gimana kk Arsyila??? mau berondong yang lebih awet atau sama yang kadaluarsa???" Sahut Juki.
"Kalian!". Aydan hendak maju memukul wajah Jukiman dan Raditya namun Arsyila dengan cekatan mencegahnya.
"Ay udah!..Mereka masih baru". Arsyila menahan lengan Aydan.
"Tapi mereka mau ngambil kamu dari aku!". Balas Aydan dengan wajah yang sudah memerah, matanya juga sudah berair.
"Aish..Gk ada yang mau ngambil.." Jawab Arsyila merasa tak tega. Ia lalu menghela nafas panjang. "Adek-Adek lebih baik kalian pergi dulu ya..Dia ini cemburuan bahkan bisa aja bunuh orang".
Raditya dan Jukiman meneguk ludahnya susah payah lalu beringsut mundur kala melihat kilatan amarah dari Aydan.
"I-Iya kk kita pergi dulu ya". Pamit Jukiman.
"Bye kk Arsyila muach". Raditya memberikan kiss jarak jauh lalu kabur bersama Juki.
"Udaah...Gk usah dikejar. Kamu ini cepet banget kepancing emosi". Arsyila menahan Aydan yang hendak mengejar Raditya.
"Kalo tadi kamu tertarik sama mereka gimanaa???".
"Huh!. Mana mungkin, kamu kira hati aku kayak balon bisa terbang bebas gitu aja..Lain kali kamu harus bisa nahan emosi kamu biar gk kelepasan kayak tadi. Kamu kalo udah emosi suka gk sadar diri, bukan hanya nyakitin fisik tapi juga hati...Tadi pas di rootof aku bilang apa?? renungin kesalahan kamu, tapi sampai sekarang kamu masih aja ngelakuin hal yang sama. Jauhin aku untuk sementara waktu sampai kamu bener-bener sadar atau aku sendiri yang akan menjauh". Peringat Arsyila lalu pergi dari hadapan Aydan.
"Syil.." Panggil Aydan dengan suara yang sudah parau namun Arsyila tak memperdulikannya dan terus berjalan ke kantin sendiri.
Jujur saja Arsyila menyesal mengatakan kalimat itu pada Aydan meski tidak semua yang ia katakan adalah yang sebenarnya menjadi akibat kekesalannya.
Ia tidak terlalu mempermasalahkan keposesifan Aydan namun yang membuatnya sampai kesal begini adalah sejak Aydan menyebut nama "Tiara".
"Argh!". Aydan nengacak rambutnya frustasi tanpa memperdulikan tatapan murid-murid yang berlalu lalang disekitarnya. Lalu setelah itu kembali menuju kelas untuk merenungkan kesalahannya.
________________
"Kenapa lu??". Tanya Devan yang sedang duduk sambil menghisap permen dibangkunya saat melihat wajah kusut Aydan.
"Biasa". Jawab Aydan lesu lalu mendudukkan dirinya di samping Devan.
"Hadeh..Kalian ini tiada hari tanpa ribut, berarti lo tadi bolos praktek buat ngajak ribut lagi?". Ledek Devan sambil terkekeh.
"Ck. Coba lo pikir, Apa salah kalo gue kesel sama dia gara-gara ngerahasian masalahnya ke gue? gue kan cowoknya..Kalo Arsyila kenapa-napa, gue yang bakal ngerasa bersalah". Aydan menghela nafas kasar.
"Lo emang gk salah kalo kesel sama dia, lo bebas buat marah saat lo cemburu tapi cara lo aja yang salah. Lo tau sendiri kan Arsyila gk bisa dibentak lagipula gue yakin sepenuhnya kalo Arsyila ngelakuin itu karna sayang sama lo, gue sebagai cowok malah salut sama dia...Disaat semua cewek berfikir untuk selalu cerita masalahnya Arsyila malah sebaliknya, dia pendem sendiri karna tau lo juga punya beban sendiri yang harus lo tanggung".
"Tapi Van..Gue lebih suka Arsyila cerita semuanya..Akan lebih susah lagi kalo dia mendem dan buat...Argh gue gk sanggup kalo sampai dia trauma lagi". Aydan mengacak rambutnya frustasi membuat Devan tersenyum samar.
"Gue ngerti, kalo lo udah sayang banget sama 1 cewek bakal lo lindungin sebisa lo bahkan lebih dari diri lo sendiri, tapi Dan..Gue serius, jangan pernah nyia-nyiain Arsyila..Dia gadis polos dan hatinya juga mudah rapuh atau lo gk bakal dapetin hatinya lagi". Tutur Devan dengan wajah yang amat serius.
Aydan diam sejenak lalu menoleh sebentar ke arah Devan. "Pasti! thanks Van nasihatnya". Ujarnya sambil melempar senyum..
"Sans bro, we are friendship". Sambut Devan lalu menepuk kecil bahu Aydan tanda persahabatan dan kembali fokus mengemut permennya sambil menonton teman kelasnya yang sedang bermain.
"Van nanti malam, lo siap?". Ujar Aydan dengan sarat makna yang dalam. Devan menghembuskan nafas pelan lalu tersenyum singkat tanda ia baik-baik saja.
"Siap gk siap gue harus terima, lagipula gue juga udah punya Intan, dan dia cukup buat gue bahagia. Tidak perlu mengikat burung dalam sangkar, biarkan dia menemukan sarangnya sendiri". Ucap Devan lalu dibalas senyum kelegaan dari Aydan.
"Gue salut sama lo Van. Lo emang sahabat panutan kita". Aydan menepuk kecil pundak tegap milik Devan.
"Gue harap lo bener-bener manut ya". Devan malah meledek.
"Sial! hahaha". Umpat Aydan lalu disambut tawa Devan.
...******...
Kira-Kira nanti malam ada apa yaa????
See you next Chapter👋🏻🔥💓