
...Happy Reading💓🔥...
...****...
...Terkadang kita terlalu fokus mengharapkan orang yang tidak pasti hingga engkau lupa dengan seseorang yang menunggumu tuk kembali....
..._...
"Ada urusan apa Van?"
Tanya Arsyila saat Devan sudah menghentikan langkahnya di lorong dekat kamar mandi.
"Hehe gk..Tadi gue mau ajak lo ke kantin".
"Hadehh kirain apa..Terus kenapa tadi kek orang panik gitu".
Heran Arsyila saat tadi dirinya di ajak berlari oleh Devan.
"Mmmm biar cepet sampe, soalnya gue laper banget". Bohong Devan.
"Emang kamu belum sarapan?".
"Belum".
"Hadeh..Ya udah yuk ke kantin, keseringan bareng ke kantin jadi gk bisa sendiri tuh". Sindir Arsyila lalu terkekeh kecil.
"Hehe yuk".
Mereka pun hendak melangkahkan kaki menuju kantin namun tiba-tiba langkah mereka terpaksa berhenti kala terdengar suara ricuh yang berasal dari dalam kamar mandi. Arsyila dan Devan menajamkan pendengaran mereka.
"Kamu denger kan Van?". Tanya Arsyila pada Devan. Devan mengangguk lalu mengajak Arsyila mendekat ke arah sumber suara.
"Suaranya kayak gk asing". Gumam Arsyila yang sudah menguping didepan pintu.
Plaak
"Ini balesan bagi orang yang udah berani berkhianat sama gue".
Arsyila dan Devan menutup mulut mendengar suara tamparan yang terus berulang dari sebelah pihak.
"Buka gk Syil??". Tanya Devan meminta persetujuan Arsyila karna satu tangannya sudah menggapai gagang pintu. Arsyila mengangguk antusias.
Ceklek
Pintu terbuka menampakkan dua orang siswi yang tak lain adalah Sania dan Intan yang terlihat sudah kacau. Bahkan rambutnya sudah terlihat seperti tidak pernah disisir beberapa bulan.
"Intan". Kaget Arsyila lalu mendekat ke arah mereka disusul Devan. Intan hanya menunduk enggan menoleh ke arah Arsyil dan Devan.
"Ck". Sania berdecak lalu hendak pergi namun Devan lebih dulu menahan tangannya.
"Mau kemana lo ha??!".
"Ck lepas gk!". Sania berusaha melepaskan cengkraman tangan Devan.
"Lo harus tanggung jawab sama perbuatan lo Sania!! lo gk bosen hah buat ulah terus?!".
"Tanggung jawab? seandainya dia gk ikut campur sama urusan gue, gue gk akan cari gara-gara!".
"Cih! lo kan emang selalu gitu. Ngebuliy, ngelabrak dan nindas orang yang lebih lemah dari lo cuma karna iri dan gk mampu lo sandingin, iya kan??". Devan terkekeh sinis.
"Tau apa lo tentang hidup gue?!". Amarah Sania semakin memuncak.
"Gue tau, lo penjahat yang tidak bertanggung jawab!". Devan mengungkit masa lalu.
"Hahaha ya! gue penjahat, lo masih inget ternyata, dan gue akan tetap lo cap jahat ya kan? walaupun gue ngebela diri? hahaha jadi lo tau kan sekarang kenapa gue gk berubah? karna percuma! orang jahat akan tetap dipandang jahat".
Sania tertawa garing lalu setelahnya menghempas kasar tangan Devan dan keluar dari kamar mandi meninggalkan Devan yang terdiam. Sedangkan Arsyil dan Intan yang bingung dengan pembahasan mereka.
Arsyila tak ambil pusing, ia langsung menolehkan kepalanya melihat Intan yang masih merunduk.
"Intan kamu gk papa kan?".
Intan hanya menggeleng.
Arsyila lalu melihat ke bawah menulusuri lantai seperti sedang mencari sesuatu.
"Nahh! ketemu". Arsyila lalu mengambil ikat rambut kecil milik Intan yang terjatuh karna jambakan Sania tadi.
"Devan..Boleh minta tolong gk?".
Devan mengangkat kedua alisnya.
"Hehe..Beliin sisir di kantin".
"Emang ada?". Bingung Devan.
"Mungkin..Kalo gk ada, ya pinjemin di bibik". Arsyila cengiran. Devan memberi tatapan datar namun tetap menurut. Ia lalu keluar dari kamar mandi menuju kantin untuk mencari sisir.
"Makasih Syil". Intan akhirnya berani mengangkat kepalanya. Mungkin tadi ia malu dilihat Devan dalam keadaan seperti ini, berantakan.
"Kamu cuci muka dulu gih, bawa sabun muka gk?". Intan menggeleng. "Gk perlu Syil, basuh biasa aja". Jawab Intan lalu berjalan ke arah wastafel untuk membasuh wajahnya.
Arsyila hanya diam melihat pergerakan Intan. Ia tak ingin mengungkit kejadian tadi apalagi bertanya masalahnya biarkan orang lain yang bercerita karna dirinya tak terlalu ingin tahu urusan orang lain.
"Ya ampun..Rambut gue kok berantakan banget". Gerutu Intan menatap dirinya di cermin. Arsyila terkekeh kecil.
"Ooo pantes ya dari tadi kamu nunduk terus, malu diliat Devan kan?". Tanya Arsyila menebak.
"Hehe lo masih ingat ya??". Intan malu-malu.
"Xixixi".
Gue kira Arsyil judes gitu..Ramah juga anaknya
-Batin Intan. Ingat kah kalian alasan Intan tak menyukai Arsyila waktu lalu? ya! karna Arsyila cuek.
Tak lama, Devan sudah datang dengan membawa sebuah sisir berwarna pink ditangannya. Intan yang melihat kedatangan Devan spontan menundukkan kembali kepalanya.
"Nih!". Devan menyodorkan sisir itu pada Arsyila.
"Hehe makasih Devan.." Arsyila tersenyum sok manis.
"Ya".
"Btw ini sisirnya beli/minjem?".
"Minjem".
"Oh iyaya, ntar kita kembaliin ya pas ke kantin".
Arsyila lalu menyerahkan sisir pink itu pada Intan.
"Makasih". Intan masih menunduk. Arsyila yang mengerti pun mengajak Devan keluar membiarkan Intan menyisir rambutnya di dalam sendiri.
Setelah selesai merapikan dirinya seperti semula, Intan lalu keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Arsyila dan Devan yang masih menunggunya di depan pintu.
"Udah selesai?". Tanya Arsyila basa-basi sambil tersenyum.
"Udah". Jawab Intan sambil mengembalikan sisir itu pada Arsyila.
"Yuk Van..Intan mau ikut ke kantin gk?". Ajak Arsyila sepertinya sisi kutubnya sudah mencair 90%.
"Gk usah, gue mau ke lapangan aja nonton orang lomba". Balas Intan sopan.
"Oo ya udah kalo gitu, kamu hari-hati dijalan". Arsyila cengiran.
"Haha ya udah gue pergi duluan ya, makasih ya Syil..V-Van". Intan menatap sekilas Devan lu pergi dari hadapan mereka berdua.
"Kok Intan gagap gitu ya nyebut nama gue". Heran Devan.
Andaikan kamu tau Van, kalo Intan cinta mati sama kamu wkwk.
-Batin Arsyila.
"Entah". Arsyila mengendikkan bahunya pura-pura tidah tau. "Ya udah yuk! ke kantin, ini udah jam 10 lewat loh..Ntar kamu magh". Peringat Arsyila.
"Kok lo perhatian sih?".
Arsyila melototkan matanyaa..
"Van..Jangan-jangaan aku..Suka kamu lagi". Ujar Arsyila dramatis.
"Gk-Gk Syil...Gue gk sanggup dicincang Aydan". Devan ikutan berdrama. Sepertinya mereka sedang terkena virusnya Dylan 2022:).
"Tapi aku terlanjur perhatian Vaan huwaaa".
"Huwaaaa".
Mereka berdua heboh sendiri di lorong. Untung saja lorong sedang sepi jadi tidak ada yang melihat kegilaan mereka.
"Ehh stop Syill stoooop. Kok kita kayak gini yak??". Ujar Devan kala tersadar dengan tingkah absurd mereka.
"Iyaya.." Arsyila lalu menengok ke samping kiri dan kanan memastikan tak ada yang melihat tingkah mereka tadi.
"Huh! amannn.. Yuk lah ke kantin". Ajak Arsyila mengingat tujuan awalnya.
Arsyila dan Devan pun berjalan menuju ke kantin sambil bercanda ria. Tanpa Aydan dan Alzam yang mungkin sedang bucin di lapangan bersama gadis yang bersamanya waktu lalu.
Untungnya masih ada Arsyila yang mau menemani Devan ke kantin karna ia tak suka makan sendirian seperti jomblo ngenes nantinya karna hubungannya dan Dheva sedang renggang.
Sejatinya persahabatan itu akan tetap berjalan lancar selama tidak ada perasaan lebih yang menemani mereka.
...*****...
Huhuy udah mau nyampe konflik aja nih😍 gk sabar ya liat novel ini tamat?? Sabarrr Arsyila masih lama kok nemenin hari kalian, tak selama menunggu crushmu peka😌😆